Senin, 02 Agustus 2010

Tempat Berguru Petani dan Peternak Sapi

Asal petani punya tekad kuat dan berani mengubah pola penggunaan pupuk dari anorganik ke organik, niscaya hasilnya jauh lebih memuaskan. selain ramah lingkungan, biaya pertanian yang menggunakan pupuk/pestisida organik jauh lebih hemat ketimbang menggunakan pupuk kimia. Subsidi pemerintah terhadap pengadaan pupuk akan berkurang.

DANTO PRAMONOSIDI

Lahir : Sukoharjo, 1 November 1952
Pendidikan :
- SD di Sukoharjo
- SMP di Sukoharjo
- SMA di Sukoharjo
- S-1 Fakultas Teknik Universitas Indonesia
- S-2 Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta
Istri : Endang Dwi Purwaning (54)
Anak : dr Argo Seto (29)
Organisasi :
- Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Jaringan Petani Organik Jateng
- Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sukoharjo
- Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan KTNA Provinsi Jateng
- Ketua Forum FEDEP (Forum for Economic Development and Employment Procurement)
Kabupaten Sukoharjo
- Wakil Ketua Himpunan Magister Lingkungan Surakarta

Oleh SONYA HELEN SINOMBOR

Bermodal tekad inilah, Danto Pramonosidi merintis pertanian organik, dipadukan dengan peternakan dan pembibitan sapi. Dari Peternakan sapi/lembu An-nuur di Sukoharjo, Jawa Tengah, yang dia bangun tahun 2001, danto mencoba mewujudkan impiannya melepaskan belenggu bahan kimia dari pertanian.
"tahun 1999 saya pensiun dini sebagai kontraktor di sebuah BUMN karena diminta orang tua pulang ke kampung.Mulai saat itu saya berpikir bagaimana meningkatkan sumber daya manusia pedesaan agar bisa sejahtera lahir dan batin," ujarnya.
Dia sempat terjun sendiri, berkutat di kandang sapi di lahan seluas 2.000 meter persegi, mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik dan urine sapi menjadi pestisida organik, lalu berkuliah untuk menambah ilmu tentang lingkungan.
Hasilnya tidak sia-sia. tahun 2005 Danto menemukan model peternakan sapi terpadu dengan pertanian dan sarat dengan kewirausahaan. tak hanya memproduksi pupuk dan pestisida organik, Danto juga memberikan contoh kepada peternak sapi cara mengelola kandang sapi yang bebas polusi.
Merasakan manfaat besar dari peternakan dan pertanian terpadu itu. Danto pun berbagi ilmu dengan para petani, peternak sapi, penyuluhpertnian, termasuk para mahasiswa.

Menularkan model

Sejak 2005 ia mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan (P4S) serta membuka program megang bagi petani dan mahasiswa. Berbagai pengalaman, mulai dari beternak sapi hingga ke pembibitan sapi, mengelola kotoran sapi padat dan cair menjadi pupuk dan pestisida, serta menggunakan pupuk dan pestisida organik ke lahan pertanian padi ssehingga menghasilkan produk pertanian organik, ditularkannya. Ia juga mengajarkan bagaimana kotoran sapi diolah menjadi biogas.
Dimulai dari kelompok tani di desanya, Danto menularkan model peternakan dan pertanian terpaadu hingga ke Kabupaten Sukoharjo. Ratusan petani berbagai kelompok tani dari Kabupaten Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Boyolali, Klaten, dan daerah-daerah lainnya di Jateng, Padang, dan Lombok, pernah magang di P4S.
"Biasanya mereka yang menentukan waktu magang.Materinya juga tergantung permintaan yang mau magang. Paling banyak pertanian dan peternakan. Ada juga yang tertarik kewirausahaan," ujarnya.
Didukung petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) di Sukoharjo serta sejumlah dosen di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Universitas Slamet Riyadi Surakarta, dan Universitas Islam Batik Surakarta, hingga kini Danto menyelenggarakan program magang dan pendidikan, memperkenalkan pupk dan pestisida organik, meyakinkan petani untuk beralih ke pertanian organik.

Kandang bebas polusi

Pada awal memulai peternakan sapi, kotoran sapi (letong) hanya ditumpuk dan dikumpulkan di kandang sehingga sering diprotes tetangga. Mengatasi polusi dari peternakan sapi, tahun 2002 Danto memutuskan kuliah di Program Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. dari sini dia mendapatkan ilmu beternak sapi yang ramah lingkungan.
Sejak tahun 2003 ia menerapkan pola peternakan dan pembibitan sapi dengan lingkungan yang bersih, bebas polusi. Hasilnya, dari 7 sapi betina, kini ia memiliki 42 ekor sapi.
Dia juga mulai mengolah kotoran sapi menjadi pupuk padat dan cair serta mengolah urine menjadi pestisida. Hasilnya digunakan di lahan sawah sekitar 1,9 hektar. "Saya mencoba pupuk dan pestisida organik di sawah sendiri. Menghilangkan sisa-sisa kimia memang tidak secepat itu. Untuk mencapai mutu panen yang sama dengan pupuk kimia, setidaknya harus melewati enam kali panen," ujarnya.
Berkat ketabahannya, lahan pertaniannya pun bebas dari bahan kimia. Beras organik di pasaran dijual sekitar Rp.8.000 per kilogram, sedangkan harga beras biasa hanya sekitar Rp.6.000 per kilogram.
Sejak tahun 2005 Danto mulai memperkenalkan model peternakan dan pertanian terpadu ini. Ia juga memproduksi pupuk organik dan pestisida cair, yang diberi nama Ursa Plus.
Untuk meyakinkan petani meninggalkan pupuk kimia dan beralih menggunakan pupuk dan pestisida organik, Danto bekerjasama dengan sejumlah kelompok tani di Sukoharjo menerapkan pertanian organik.
Awalnya memang tidak mudah mengajak petani beralih ke pupuk organik. Selama dua tahun lebih hanya beberapa petani yang tertarik menggunakan pupuk dan pestisida organik, itu pun belum seratus persen. naumn, Danto dan sejumlah pemimpin kelompok tani tak menyerah.
Petani terus diyakinkan walau membutuhkan waktu lima hingga enam kali panen untuk menghilangkan sisa-sisa kimia dari lahan pertanian. Alhasil, tahun 2008 petani mulai melirik pupuk organik. Kendati masih mencampur dengan pupuk kimia, sejumlah kelompok tani di Sukoharjo secara bertahap menggunakan pupuk dan pestisida organik. Pada masa tanam tahun 2009 beberapa petani yang pernah magang di tempatnya memutuskan berhenti menggunakan pupuk dan pestisida kimia.
Lebih dari lima tahun menggeluti peternakan dan pertanian terpadu membuatDanto memiliki impian "mengindonesiakan sapi". Model peternakan sapi terpadu ini kelak bisa mencukupi kebutuhan daging sapi di dalam negeri, dan bahkan bisa mengekspor sapi keluar negeri.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 13 NOVEMBER 2009

Suryatati, Sang Perempuan Wali Kota

Dengan runut ia menguraikan cita-citanya membangun Tanjung Pinang sebagai kota yang maju, sekaligus sebagai salah satu pusat kebangkitan budaya Melayu di Nusantara. Dengan santun, ia menguraikan kerumitan persoalan, termasuk dinamika politik lokal, yang tahun-tahun terakhir ini bak gelombang pasang.

BIO DATA

Nama : Dra. Hj. Suryatati A Manan
Lahir : Tanjung Pinang, 14 April 1953
Status : Ibu empat anak, nenek empat cucu
Pendidikan :
- Institut Ilmu Pemerintahan di jakarta (lulus, 1985),
- Akademi Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (1976)
Karier :
- PNS sejak tahun 1978
- Camat Tanjung Pinang Barat (1993-1995)
- Kepala Dispenda Kepulauan Riau (1995-1996)
- Wali Kota administratif Tanjung Pinang (1996-2001)
- Pejabat Wali Kota Tanjung Pinang (2001-2003)
- Wali Kota Tanjung Pinang pilihan DPRD (2003-2008), dan melalui Pilkada (2008-2013)
Aktivitas lain : Pembicara berbagai seminar, khususnya terkait dengan Bahasa Indonesia dan
Kebudayaan Melayu
Karya puisi dan pantun yang diterbitkan :
- Perempuan Walikota (2008)
- Surat untuk suami (2009)
- Perempuan dalam makna (2009) bersama penulis Martha Sinaga
Penghargaan :
- Pembina Bahasa dan sastra di Daaerah dari Departemen Pendidikan Nasional (2008)
- 'Empu Pantun' dari Museum Rekor Dunia Indonesia (2008)

Oleh MARIA HARTININGSIH

Seperti permukaan samudra yang tenang. Itulah sosok Suryatati A Manan (56), Wali Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. malam itu ia mengenakan kerudung tipis senada dengan kain dan baju panjangnya, khas busana perempuan Melayu.
Duduk menunggu di bagian yang menjorok kelaut di kawasan kelentang tua di Senggarang, pandangan Tatik, begitu dia disapa lurus menatap Kota tanjung Pinang dan Pulau Penyengat yang tampak berhadapan. Alunan tadarus samar dibawa angin. Bulan penuh, warnanya semburat jingga ketika bersenyawa dengan siraman cahaya lampu jalan.
Sebagai birokrat karier, tatik punya jam terbang tinggi mengurusi wilayah seluas 293,50 kilometer persegi itu. Ia kembali memimpin kota otonom Tanjung Pinang- menjadikannya satu dari dua perempuan walikota di Indonesia melalui mekanisme pemilihan langsung daerah pertama.
Selama 13 tahun di pucuk pimpinan sejak Tanjung Pinang menjadi kota administratif, ia membawa Tanjung Pinang ke peringkat cukup tinggi dalam Indeks Pembangunan Manusia Indonesia, dan mendapat berbagai penghargaan dari Pemerintah Pusat (termasuk lima kali penghargaan Adipura).
Namun, sumber daya manusia tetap menjadi keprihatinannya. "Kalaupun kita kaya, tetapi kualitas manusianya dalam arti luas tidak baik, semua akan habis," tegas Tatik.

Penuh tantangan

Meski mendapat dukungan penuh dari rakyat, ia dipilih oleh 84,25 persen warga, berbagai persoalan mengepungnya. Beberapa diantaranya merupakan persoalan lama, seperti soal infrastruktur, yang sebagian berada diluar kewenangannya.
Di sisi lain, mekanisme demokrasi (prosedural) belum menghasilkan oposisi yang konstruktif. Tak banyak yang paham bahwa substansi demokrasi adalah kepercayaan pada kemampuan sistem menyelenggarakan percakapan negosiasi diantara pandangan-pandangan yang berbeda dan tidak final.
Dalam kondisi seperti itu, prasangka mendapat tempat terhormat. Para patriarkh, atas nama "demokrasi" juga, tak segan melancarkan tuduhan dan penghinaan. tatik yang tak pernah membayangkan "hal-hal tak masuk akal" dalam politik tidak menanggapi debat di media massa. Ia memilih jalur hukum.
"Yang terjadi saat ini jauh sekali dari yang dituturkan Raja Ali haji dalam Gurindam dua belas," tutur Tatik.
Raja Ali Haji (1808-1873) adalah bangsawan Kerajaan Riau, cendekiawan, ahli sejarah, sastra, agama, 'Bapak bahasa Indonesia' yang dianugerahi gelar Pahlawan nasional tahun 2004.
Menurut Tatik, kemajuan Tanjung Pinang ditentukan oleh perubahan pola pikir dan cara pandang tentang kota itu. Namun, ketika dia mewujudkan gagasan untuk kembali menggelorakan pantun Melayu dan mencanangkan Tanjung Pinang sebagai 'Kota Gurindam, Negeri Pantun', orang menanggapi dengan skeptis , bahkan sinis.
"Ada yang bilang,'Walikota jago pantun, berpantun terus.. apalagi yang ndak dibuat Ibu tu...kan begini saja turis datang," Tatik mengutip komentar itu.
"kalau mau mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan, mana mungkin bergantung sama turis. Kita ingin pariwisata maju, tetapi harus berbasis budaya. Interaksi dengan masyarakat harus terpelihara,"
Ia ingin tanjung Pinang maju dan berbudaya. ia ciptakan kondisi agar seni dan budaya Melayu berkembang di sekolah dan komunitas. Ia membangun ruang agar sanggar seni bisa tampil. Ia memprakarsai pekan seni setiap tahun. Ia tahu perjalanan masih panjang, tetapi, "sekarang sanggar seni berkembang, ada gairah," ujarnya.
Meski pendapatan asli daerah naik delapan kali menjadi Rp.49 miliar, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dari Rp.157 miliar menjadi lebih Rp.400 miliar, dengan persoalan begitu banyak," Kalau kita mengeluarkan uang untuk hal-hal yang menyangkut kebudayaan, dianggap pemborosan,"
Padahal, banyak tapak sejarah Melayu di Nusantara harus di selamatkan, seperti situs Kesultanan Kota Piring yang kawasan cagar budayanya terisi rumah penduduk, atau situs Istana Kota Rebah yang sudah dijual ahli warisnya.
Meski begitu, bagi Tatik, kebudayaan tak hanya mencakup hal-hal yang tangible (seni, peninggalan lama, dan lain-lain), tetapi yang terutama yang intangible, khususnya moralitas yang terwujud dalam sikap dan tingkah laku. "Nilai-nilai filosofis budaya Melayu itu luar biasa. Melayu punya sifat Melayu, menjaga marwah, tetapi nyatanya..."
Ucapannya terpotong, tetapi terjelaskan dalam pantun yang ditulisnya tanggal 10 Januari 2008 : Di kota gurindam/ada pengantin tak berandam... Yang pandai membodoh-bodohi/yang bodoh memandai-mandai/yang lugu yang tertipu/yang licik dianggap cerdik.......

Dari bawah

Tatik memulai kariernya sebagai tenaga honorer di Kantor Bupati Kabupaten Riau, sebelum diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Bayangan tertinggi kariernya adalah menjadi sekretaris wilayah daerah.
Waktu kecil, cita-citanya berubah-ubah. "Mulanya mau jadi jadi guru. Ayah menyuruh saya jadi guru agama. Saya memilih SMA," kenangnya. Kemudian ia ingin menjadi dokter, tetapi ayahnya tak melepas bungsu dari dua putrinya itu ke Jawa. tatik juga sempat "kesasar" ke fakultas peternakan.
Keinginan jadi dokter "terwariskan" pada dua putrinya yang menyelesaikan studinya di fakultas kedokteran. Keinginan mengajar terwujud karena pernah jadi dosen paruh waktu.
Tatik suka membaca puisi dan pantun, tetapi baru menulis pada penghujung tahun 2006 setelah sang suami berpulang awal tahun itu.
Dalam heningnya, ia tuangkan berbagai fenomena melalui pantun dan puisi. Paradoks pun terjadi: Hiruk pikuk di luar terserap, tetapi tak menyentuh damai terdalam di ruang jiwanya...

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 15 OKTOBER 2009

Minggu, 01 Agustus 2010

Inovasi "Nakal" Eko Susilo

Eko Susilo sejatinya pengusaha camilan skala kecil di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Namun, lewat kenakalan idenya mengatasi "tembok" rintangan usaha, ia mendapat julukan baru sebagai inovator. Ia memodifikasi dan merancang alat-alat spesifik yang membuat kegiatan produksinya lebih efisien dan berkualitas.

EKO SUSILO
Lahir : 18 Desember 1962
Istri : Yustina Sukisworo (41)
Anak : Abel Jatayu Prakosa (18); David Permadi (12); Serafim Prasetya (6)
Pendidikan : STM Otomotif Leonardo, Klaten (1981)
Usaha : Pemilik UKM Sehati Salatiga, produsen camilan
Penghargaan : 10 besar LombaKreativitas Alat Tingkat Jateng tahun 2010

Oleh ANTONY LEE

Usaha pembuatan camilan Sehati milik Eko di Kecamatan Argomulyo, Salatiga, dirintis lewat camilan kacang bertepung, Juli 2006, dengan modal Rp.150.000. Kini usaha itu sudah berkembang dengan enam jenis produk, diantaranya kacang tanah bertepung, kedelai rasa keju, kedelai rasa bawang, kedelai rasa manis, dan kedelai rasa keripik. Produk ini sementara dipasarkan di Kota Salatiga dan Bali.
Ia kini mempekerjakan enam karyawan dengan omzet sekitar Rp.20 juta per bulan. Padahal, pada awalnya ia memulai usaha dengan menjajakan kacang telur dalam kemasan mini Rp.500 per bungkus dari warung ke warung. Lama-lama kacang produksi Eko itu disukai warga dan pesanan bertambah.
Hambatan pertama ditemuinya sebulan setelah memulai usaha. Kacang tepung miliknya hanya bisa bertahan sepekan karena minyak sisa penggorengan belum sepenuhnya kering. Selain itu, menggoreng kacangpun banyak menghabiskan minyak.
Untuk menggoreng 15 kilogram kacang, ia membutuhkan 2,5 kilogram minyak goreng.
Hal itu terjadi karena ia masih mengeringkan dengan metode manual, ditiriskan di nampan. Saat dia sedang putar otak mencari cara penirisan minyak yang lebih efisien, tiba-tiba muncul ide ketika ia melihat istrinya mengeringkan pakaian dengan menggunakan mesin cuci. Tanpa sepengetahuan istrinya, Eko memasukkan satu serok kacang tepung yang baru digoreng ke unit pengering di mesin cuci itu. Benar saja, dalam waktu satu menit minyak terpisah dari kacang tepung itu sehingga produknya bisa bertahan hingga lebih dari sebulan. Ia memanfaatkan gaya sentrifugal yang dihasilkan dari mesin pengering itu. Minyak goreng yang mengendap didasar mesin kemudian dialirkan keluar dari selang pembuangan.
"Setelah berhasil saya bersihkan mesin itu, baru laporan ke istri. Dia bilang ngawur (sembarangan), tetapi begitu lihat hasilnya dia jadi mendukung, ha-ha-ha," tuturnya yang ditemui di rumahnya di Kecamatan Argomulyo, beberapa waktu lalu.

Mesin cuci bekas

Eko meminta istrinya berhenti menggunakan unit pengeringan itu dan mensterilkannya. Selama beberapa pekan, ia menggunakan unit itu sebagai alat peniris minyak. Namun, lantaran digunakan untuk meniriskan kacang yang masih panas, mesin itupun rusak. Ia kemudian berburu mesin cuci bekas dan membeli timer serta pengering seharga Rp.125.000. Alat itu dimodifikasi dan dilapisinya dengan seng dibagian luar sebagai pelindung. Secara keseluruhan ia menghabiskan dana sekitar Rp.700.000,- untuk menghasilkan alat peniris minyak versinya itu.
"Baru belakangan ssaya tahu ada centryfuse (alat peniris minyak) yang dijual di pasaran, tetapi harganya mahal, sekitar Rp.4 juta per unit dengan kapasitas sama dengan yang saya modifikasi," tutr lulusan STM bidang otomotif itu.
Kenakalan berfikir Eko tidak selesai disana. Ia mengaku kerap bekerja mulai pukul 03.00 sampai pukul 08.00 untuk melumuri kacang dengan bumbu dan tepung. Ia pun bekerja hingga pukul 17.00 untuk menggoreng. Eko dan istrinya hanya mampu memproduksi sekitar 15 kilogram kacang. Dalam benaknya muncul pertanyaan, kapan dia bisa menjalani kehidupan sosial jika bekerja tidak efisien.
Eko lalu kembali bereksperimen dengan melihat sistem kerja mesin pengaduk semen. Dia meminta perajin logam di Tumang, Kabupaten Boyolali, membuat alat berbentuk seperti bola dari alumunium dengan bagian atas terbuka. Alat ini digunakan untuk melumuri bumbu kacang. Setelah itu, ia membuat dua alat lagi dari modifikasi mesin-mesin bekas, yakni alat melumuri tepung serta alat mengayak kacang. Tiga alat serangkai ini membuat seluruh proses hanya memakan waktu 40 menit, dari sebelumnya tiga jam.
Tidak berpuas diri, ia mencoba merancang sejenis sensor termometer yang dipadukan dengan sistem otomatisasi sehingga pekerjanya bisa dengan mudah mengetahui suhu ideal dan berapa lama bisa meninggalkan penggorengan untuk mengerjakan tugas lainnya.
"Saya coba alat ini malam-malam, takut ketahuan istri, eh, malah minyaknya tumpah semua. Saya coba lap semua untuk menghilangkan jejak, tetapi istri saya tetap tahu, karena masih ada sisa dibelakang kompor," ungkapnya.

Mitra UMKM

Salah satu kelebihan Eko, ia tak berniat mematenkan alat-alatnya. Ia juga membuka "dapurnya" untuk dilihat pengusaha kecil lain. Setidaknya dalam sebulan ada 3-4 pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mendatangi Eko. Ia juga bersedia membuatkan mesin serupa untuk digunakan pelaku UMKM sejenis dengan biaya pengganti ongkos pembuatan Rp.1,2 juta.
"Buat saya, UMKM itu boros ditenagakerja, sedangkan alat mahal. Oleh karena itu, harus bisa efisiensi dengan inovasi alat sendiri," tuturnya.
Inovasi alat ini diakui Eko bukan perkara mudah karena berkali-kali gagal. Ia sampai menjual mobil mazda tahun 1993 miliknya seharga Rp.17,5 juta untuk memodali alat-alat buatannya itu. Kenakalannya dalam eksperimen tidak terlepas dari pengalaman Eko selama lebih dari 20 tahun bekerja di bidang produksi diperusahaan ban, dan di percetakan di Tangerang, Banten, serta Salatiga. Saat dia memutuskan berhenti bekerja dan menjadi bos atas dirinya sendiri, bekal pengetahuan mekanik itu ternyata bisa dimanfaatkan.
Kegagalan inovasi tidak pernah membuat dia tertekan, tetapi pengalaman pahit di dapatnya di bidang pemasaran. Semula ia sempat memiliki agen di Yogyakarta, Magelang, dan Klaten. namun, ia justru harus menombok karena agen itu menerima barang dan membayarkan separuh, sehingga modalnya habis terserap. Enam bulan kemudian, ia memutuskan memusatkan usahanya di Salatiga dan Bali terlebih dahulu.
"Saya ini memimpikan ada cluster usaha kecil dan menengah camilan, dan sama-sama produksi untuk ekspor. Saya tidak berambisi sendirian maju untuk jadi perusahaan besar, tetapi bagaimana bisa bermitra dengan sesama UMKM," harapnya.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 2 AGUSTUS 2010



Rabu, 28 Juli 2010

Ma'ad, Teman "Curhat" Kaum Papa

Rendah hati, sanggup memberikan argumentasi, memiliki pengetahuan luas, adalah syarat bagi seorang petugas pekerja sosial masyarakat. Modal itu ditopang lagi oleh sifat genem alias suka bertanya, berdialog guna mengetahui dan memahami persoalan orang lain.

MA'AD
Lahir : 31 desember 1959
Istri : Rumisah (45)
Orang tua : Lalu Kamal - Denda Mawiah
Anak : Lailatul Wahyuni dan Hasiatillah (keduanya sudah menikah)
Pendidikan :
- SD tamat tahun 1973
- SMP tamat tahun 1976
- PGA tamat tahun 1980
-
Sarjana Muda IAIN Mataram tamat tahun 1996

Oleh KHAERUL ANWAR

Kesan itu segera muncul saat mengobrol dengan Ma'ad, warga Dusun Jagapati, Desa Dopang, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Dia sudah seperti teman kaum miskin mencurahkan isi hati (curhat)-nya. "Tugas pekerja sosial masyarakat (PSM) adalah memberikan penuluhan agar masyarakat tergerak motivasi dan partisipasinya dalam proses pembangunan, termasuk menjadikan masyarakat ataupun individu mandiri, berdaya secara ekonomi," katanya.
Memanfaatkan lahan tidur yang ditanami ubi jalar, vanili, dan lainnya aalah bentuk nyata pemberdayaan dan kemandirian itu.
Lingkungan sekitar tempat tinggalnya adalah media uji coba bagi Ma'ad untuk menerapkan syarat kepribadian yang dimilikinya. Desa Dopang terletak di dekat perbukitan yang dulunya lebat populasi kayunya. Perbukitan itu lambat laun menjadi gundul karena kayunya dibabat habis, mengakibatkan lahan tidur.
Penduduk sekitar yang rata-rata buruh tani hanya berharap penghasilan dari musim tanam petik padi dan palawija. Selebihnya mereka memburuh sebagai pekerja bangunan. Kondisi sosial ekonomi warga itu menimbulkan ekses sosial seperti pencurian ternak dan unggas piaraan penduduk.
Ma'ad juga melihat anak-anak keluarga tidak mampu yang hidup prihatin. "Jangankan beli baju, untuk memenuhi kebutuhan makan minum tiap hari saja orang tua mereka tidak mampu," ujar Ma'ad yang berprofesi sebagai guru agama Islam di SDN 2 Mambalan, Lombok Barat.
Dalam situasi demikian, Ketua Forum Komunikasi Pekerja sosial Masyarakat Lombok barat itu seperti menghadapi ujian sejati di kampunya, yang perilaku ataupun kebiasaan warganya cenderung malas, pasrah, dan pesimistis. "Saya juga dari keluarga miskin, bertahun-tahun jadi anak panti asuhan, tetapi dengan ketekunan dan ridha Tuhan, saya bisa jadi guru. Bapak-ibu pun bisa, asalkan mau bekerja keras," kata Ma'ad saat ditanya soal bagaimana menyuntik semangat masyarakat akar rumput.

Sisihkan gaji

Berbekal realitas empirik itu, tahun 1981-1982 Ma'ad mengajak warga memanfaatkan lahan tidur, kemudian tiap jengkal tanah ditanami agar menjadi lahan produktif. "Pokoknya, kami mau buat kebun jadi hutan dan hutan jadi kebun," ujarnya.
Tanaman yang dipilih, antara lain, adalah jambu mete, cokelat, ubi jalar, ketela pohon, dan tanaman umbi-umbian lainnya. Tanaman palawija ini diharapkan sebagai penghasilan tambahan.
"Kebiasaan warga disini, yang penting sudah ada beras, mereka agak tenang. Soal sayuran, banyak dedaunan yang bisa mereka petik," ungkap Ma'ad.
Pada areal tertentu, yang memiliki pohon pelindung, ditanami tanaman vanili dan jambu. Hal ini untuk mengajak masyarakat terbiasa melakukan diversifikasi tanaman, juga tanaman tahunan itu lebih tinggi nilai ekonomisnya dibanding padi.
Untuk memenuhi kebutuhan bibit vanili dan jambu mete, Ma'ad berkeliling ke beberapa kecamatan, dengan menggunakan ssepeda dayung. Bahkan dia rela menyisihkan sebagian gajinya untuk membeli bibit tanaman dan membelikan baju seragam bagi siswa. tahun 1981-1982 gaji Ma'ad Rp.14.000,- per bulan.
Lambat laun kehidupan ekonomi masyarakat mulai membaik, apalagi Ma'ad juga rajin mengunjungi instansi yang mengalokasi bantuan untuk kegiatan ekonomi produktif, diantaranya Dinas Sosial NTB. Atas dukungan dana dari dinas itu, Ma'ad mendirikan Koperasi Usaha Bersama (Kube) yang anggotanya antara lain, adalahpedagang bakulan, perajin meubeler, pemilik kios, dan peternak.
Bantuan dana itu digulirkan dari satu anggota kelompok ke kelompok lain. Agar distribusi dan pengguliran dana mencapai sasaran, Ma'ad rajin menyambangi, mengontrol anggota, ataupun kelompok penerima. Kontrol seperti ini ditempuh guna mempersempit gerak oknum provokator yang merayu dan memengaruhi anggota untuk membelanjakan dana itu bagi keperluan lain.
Kelompok pedagang bakulan, usaha meubeler, peternak, dan petani itu kini memiliki Kube. Dari 300 anggota koperasi itu, kini mendapat hasil keuntungan 50 kg beras per orang ditambah Rp.20.000, yang dibagikan saat bulan puasa atau menjelang Idul Fitri.
Kiprah Ma'ad agaknya tercium oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), yang tahun 2002 kemudian menyalurkan dana untuk kegiatan ekonomi produktif. Sebelumnya, pihak LSM itumenguji Ma'ad dengan bantuan Rp.5 juta. Pengguliran uang itu ditargetkan mencapai Rp.15 juta dalam tempo setahun.Dalam setahun ternyata dana itu berkembang menjadi Rp. 20 juta.

Dicibir

Bagi Ma'ad, menjadi petugas PSM adalah panggilan hati nurani yang merasa prihatin melihat kesusahan orang lain. Terlebih lagi kemiskinan menjadi bagian perjalanan hidupnya. Lahir di Dusun Beririjarak, Desa Karang Baru, Kecamatan Wanasabe, Lombok Timur, sejak usia tiga tahun Ma'ad ditinggal ayahnya, Lalu Kamal.
Karena tidak mampu, ibunya, Denda Mawiah, menyerahkan Ma'ad ke panti asuhan anak yatim di desanya. dari panti asuhan inilah dia merasakan beratnya beban hidup. Untuk itu, menyelesaikan sekolah setinggi-tingginya sesuai kemampuannya adalah cita-citanya. Tamat sekolah pendidikan guru agama, Ma'ad melamar jadi pegawai negeri sipil dan ditugaskan di desa tempatnya berdomisili saat ini.
Di tempat tugasnya inilah batin Ma'ad berhadapan dengan kondisi yang dialaminya semasa kecil. Untuk membantu warga yang kesusahan, terlebih dahulu ia memberdayakan mereka dari kebutuhan hidup sehari-hari.
hanya saja banyak tantangan yang harus dihadapi, selain ulah provokator tadi, dia juga harus menahan emosi atas cibiran ataupun kecurigaan kalangan tertentu. "Saya dibilang mau memperkaya diri sendiri dengan tameng membantu masyarakat," ujarnya. Respon negatif itu diacuhkannya ddan dijawab dengan perbuatan nyata yang menjadikan orang yang sinis dan mencibir itu "mati kutu".
Kalau kemudian Ma'ad meraih piagam penghargaan sebagai PSM terbaik tingkat nasional tahun 1996, agaknya tidak lepas dari totalitas dan perannya selaku teman "curahan hati (curhat)"kaum papa sampai saat ini.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 22 OKTOBER 2009


Selasa, 27 Juli 2010

Margaretha, Menghidupkan Danau Limboto

Margaretha Solang prihatin saat melihat banyak nelayan meninggalkan budidaya ikan nila di Danau Limboto, Kota Gorontalo, tahun 2005.
Keprihatinan itu kemudian justru mampu menambah nilai jual ikan nila dengan cara yang tak lazim.


MARGARETHA SOLANG
Lahir : Surabaya, 15 Maret 1968
Suami : John Ottay (45)
Anak :
- Christina (14)
- Yuswa (6)
- Beatrix (4)
Pendidikan :
- SD Negeri 364 Surabaya
- SMP Negeri 4 Surabaya
- SMA Negeri 6 Surabaya
- Program Sarjana Universitas Negeri Gorontalo, Jurusan Pendidikan Biologi, 1992
- Program Magister Fisiologi Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2000
Pencapaian :
- Penghargaan Fadel Muhammad Award dalam Kongres Inovasi Gorontalo untuk Indonesia,
2007
- Mengembangkan budidaya ikan nila untuk 150 nelayan di Danau Limboto, Gorontalo, 2006-
kini

Oleh ASWIN RIZAL HARAHAP

Rasa prihatin itu menggerakkannya untuk memulihkan budidaya ikan nila lewat teknik pemotongan sirip ekor yang ditemukannya pada 2003. Niat itu diutarakan Margaretha, dosen pada Jurusan Biologi Universitas Negeri Gorontalo, kepada Djunna Lamondo, ketua jurusannya.
Atas saran Djunna, ia lalu mengajukan proposal pengabdian masyarakat kepada Kementerian Pendidikan Nasional, setelah proposal disetujui Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi, Margaretha menerapkan hasil inovasinya itu. hasilnya, selain mempercepat pertumbuhan, juga menambah bobot ikan nila.
"Sirip ekor ikan merupakan titik tumpu pergerakan, dengan memotongsirip tegak lurus, pergerakan ikan dibatasi. Ini membuat asupan makanan tidak terbakar menjadi energi, tetapi menjadi daging," katanya tentang penerapan hasil inovasinya pada 2006.
Pertumbuhan dan penambahan berat daging yang pesat itu membuat nelayan bisa memanen ikan nila (yang telah dipotong sirip ekornya) setiap dua bulan sekali.
Teknik pemotongan sirip ekor mulanya dia terapkan diDesa Dembe yang berlokasi di sekitar Danau Limboto. dana bantuan Ditjen Pendidikan Tinggi sebesar Rp.49 juta digunakannya membuat empat jaring apung percontohan, masing-masing berukuran 6 meter x 6 meter dan berisi 1.500 bibit ikan.
Setelah ikan nila berusia sebulan, Margaretha ddan sejumlah mahasiswa jurusan biologi memotongi sirip ekor ikan nila. "Panjang sirip ekor yang dipotong tidak lebih dari 2 sentimeter agar ikan tidak terluka dan infeksi akibat terkena bagian tulangnya," ungkapnya.
Hasil pemotongan sirip ekor itu sudah tampak hasilnya 1-1,5 bulan kemudian. Inivasi ini sukses menambah nilai jual ikan nila. Kalau biasanya 1 kilogram ikan nila berisi enam ekor, kini jumlanya berkurang menjadi tiga ekor," tuturnya.

Menarik nelayan

Tujuan Margaretha menarik kembali perhatian nelayan di sekitar Danau Limboto berhasil,. Sejumlah nelayan mau mengikuti metode pembudidayaan ikan nila yang dia ajarkan. Pada periode 2007-2008, ia bisa mengajak 20 nelayan menerapkan metode pemotongan sirip ekor.
Menurut Harun (52), nelayan di Desa Dembe, teknik yang diajarkan Margaretha mengembalikan semangatnya berbudidaya ikan nila. Dari satu jaring apung ukuran 6meter x 6 meter dengan 1.500 ikan nila yang dikelolanya, harun bisa menghasilkan Rp.6.250.000,- atau naik dua kali lipat dibandingkan sebelum menerapkan teknik pemotongan sirip ekor.
Keuntungan nelyan bertambah karena Margaretha juga menciptakan pakan ikan nila alternatif. Pakan alternatif dengan mencampur ampas tahu, udang Danau Limboto, dan Konga (sejenis dedak) itu mengurangi biaya operasional nelayan. Pembuatan 50 kilogram pakan alternatif hanya membutuhkan Rp.250.000,- atau lebih hemat Rp.100.000,- dibandingkan harga 50 kg pelet yang biasanya digunakan nelayan.
Keberhasilannya "menghidupkan" kembali Danau Limboto mendapat apresiasi Pemerintahan Propinsi Gorontalo. Pada 2007, Gubernur Gorontalo (saat itu) Fadel Muhammad memberinya penghargaan dalam Kongres Inovasi Gorontalo untuk Indonesia. Inovasi Margaretha yang sederhana tetapi aplikatif ini, mengalahkan 52 karya inovatif lainnya.
baginya inovasi tak harus berbiaya mahal. Penemuan jauh lebih berharga apabila orisinal dan bisa diterapkan oleh masyarakat. "saya hanya berupaya memanfaatkan potensi perikanan di Propinsi Gorontalo," ujarnya.
Penghargaan itu kian memicu semangatnya untuk mengembangkan budidaya ikan nila di Danau Limboto. tahun lalu, metode pemotongan sirip ekor ikan nila itu dikembangkannya di Desa Iluta, masih di kawasan danau. Ia rutinmengunjungi desa yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Gorontalo itu setiap bulan.
Ia suka menumpang becak motor, angkutan umum yang dominan di Kota Gorontalo. Seringkali biaya pergi dan pulang ke lokasi ditanggungnya sendiri, mengingat keterbatasan dana penelitian dari kampus atau pemerintah pusat.
"Kadang saya mengajak mahasiswa yang tertarik mendalami metode ini," ujarnya.

Jaring apung

Kini sekitar 150 nelayan dari kedua desa itu telah mengembangkan metode temuan Margaretha itu. Danau seluas ssekita 3.000 hektar tersebut kembali dipenuhi ribuan jaring apung berukuran 6 meter x 6 meter.
Guna menyempurnakan metode ini, ia tengah mengkaji kemungkinan pembuatan alat untuk memotong sirip ekor.
Berbagai penelitian dilakukan Margaretha sejak 2001, setahun setelah ia meraih gelar magister fisiologi hewan di Universitas Gadjah Mada. Kala itu, ia melakukan dua penelitian sekaligus, yakni efek rambut buah jagung sebagai penurunan kadar glukosa dan efek akar lamtoro sebagai antifertilitas.
Namun, penelitian yang spesifik pada ikan nila baru dilakukan pada 2003. setelah pemotongan sirip ekor, Margaretha sempat menganalisis pengaruh detergen terhadap mentalitas ikan mas dan ikan nila serta penerapan teknik kastrasi untuk meningkatkan produksi ikan nila.
"Penelitian itu bukan semata-mata tuntutan pekerjaan, tetapi saya tertantang untuk menemukan hal baru," ungkap anak pasangan Jan Solang dan Supiah ini. Kecintaannya kepada ikan tak lepas dari hobi sang ayah memelihara ikan mas dan ikan nila di kampung halamannya di Manado, Sulawesi Utara.
Saat duduk dibangku SD, Margaretha sering mengikuti aktivitas sang ayah di kolam ikan. Ia kian menggemari mata pelajaran biologi dan memutuskan mendalami saat kuliah di Universitas Sam Ratulangi, Gorontalo (kini Universitas Negeri Gorontalo), tahun 1987.
Meski metode pemotongan sirip ekor cukup berhasil, Margaretha berharap peran pemerintah lebih besar. Sebab, dukungan pemerintah terhadap penyediaan para penyuluh untuk menggenjot produksi perikanan, masih minim.
"Peningkatan taraf hidup nelayan tidak bisa diembankan kepada akademisi semata. Pemerintah perlu meningkatkan peran pada bidang yang selama ini menjadi unggulan di Tanah Air," tuturnya.

Dikutip ddari KOMPAS, RABU, 28 JULI 2010

Senin, 26 Juli 2010

Sunarto, Memberdayakan Petani

Keprihatinan terhadap nasib petani yang selalu tak berdaya oleh cengkeraman tengkulak dan permainan harga pedagang membawa Sunarto Atmo Taryono, pegusaha sukses di Jakarta, kembali ke kampung, tepatnya ke Desa Ender, Pangenan, Cirebon, Jawa Barat.

SUNARTO ATMO TARYONO

Lahir : Cirebon, 23 Februari 1968
Istri : Hj Nani
Anak :
- Sunarsih (17)
- M. Fauzan (13)
- Mawaddah Tri Cahyaningrum (9)
Pendidikan :
- SD di Solo, 1979
- SMP di Solo, 1982
- SMA di Jakarta, 1985

Oleh M FAJAR MARTA

Perusahaan perikanan miliknya di Pluit, Jakarta yang beromzet Rp.1,5 triliun per tahun, ditinggalkannya. "Saya ibarat kembali memulai usaha dari nol. namun, saya merasa bergairah dan tenteram karena ini sesuai dengan hati dan keinginan," tutur Sunarto.
Di Desa Ender, dia mendirikan Koperasi Nusantara Jaya dengan modal awal dari hasil tabungan selama bekerja di Jakarta. Dibantu enam karyawan, ia memulai kerja kerasnya dengan mengajak para petani di daerah sekitar untuk bergabung dan membangun koperasi.
Awalnya sulit karena petani umumnya telah lama bekerja sasma dengan tengkulak. Meski tercekik tengkulak, petani enggan berubah.
Sunarto menyadari bahwa citra koperasi tak selalu baik karena dituding hanya menguntungkan pengurusnya. Ia membuat konsep koperasi simpan pinjam dipadukan dengan bengkel tani yang menyediakan jasa konsultasi dan penyuluhan teknis produksi. Ia melengkapi koperasi dengan menyediakan sarana produksi pertanian, seperti pupuk, obat-obatan,dan peralatan.
Sunarto merekrut para ahli lulusan perguruan tinggi sebagai tenaga penyuluh. Para petani yang selama ini tak pernah mendapatkan penyuluhan teknis produksi dari pemerintah seolah melepas dahaga. Petani tak hanya mendapat informasi tentang apa yang yang diperlukan untuk mengobati penyakit tanaman, tetapi juga pendampingan, mulai dari menggarap lahan, menanam bibit, hingga panen.
Petani diajari cara berproduksi secara modern dengan sistem usaha tani berbiaya rendah, efektif, efisien, dan menguntungkan.
"Semua jasa konsultasi dan pendampingan itu gratis. Kami tidak mau membebani petani. Kami hanya ingin mendorong usaha pertanian masyarakat yang mandiri, efisien, produktif, berdaya saing, ramah lingkungan, dan lestari," ujar Sunarto.
Sistem produksi yang diperkenalkan bengkel tani Nusantara Jaya itu langsung membuahkan hasil. Tanaman padi, bawang, dan jenis lainnya yang ditanam petani jarang terkena penyakit. Tingkat produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan panen sebelumnya.
"Para tenaga penyuluh kami selalu berkonsultasi dengan peneliti pertanian di perguruan tinggi. Mereka selalu update hasil riset pertanian terkini," tutur Sunarto.
Keberhasilan petani binaan Koperasi Nusantara Jaya pun menjadi pembicaraan di kalangan petani, bukan hanya di daerah sekitar, melainkan juga di daerah lain.
Dalam waktu singkat, para petani plasmabinaan Nusantara Jaya bertambah banyak. Hingga kini bergabung 900 petani dengan total luas lahan garapan sekitar 500 hektar. Para petani itu tersebar di sentra pertanian di Cirebon, Majalengka, Kuningan, dan Brebes.

Dukungan bank

Tonggak kemajuan Koperasi Nusantara Jaya makin memuncak pada April 2009, ketika koperasi itu mendapat dukungan PT Bank Bukopin Tbk. Bersama Bukopin, koperasi membentuk swamitra, jaringan lembaga keuangan mikro yang menjadi kepanjangan tangan Bukopin dalam menyalurkan kredit kecil dan mikro lewat koperasi.
Tak hanya mendapatkan pembiayaan murah untuk disalurkan kepada petani. Koperasi Nusantara Jaya juga mendapatkan dukungan memanfaatkan jaringan teknologi dan peningkatan sistem manajemen agar lebih profesional.
Modal awal dari Bukopin Rp.750 juta dapat dikembangkan Sunarto sehingga total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp.2,75 miliar untuk sekitar 400 petani. Ia berencana mengajukan tambahan pinjaman ke Bukopin, agar nantinya makin banyak petani yang berkesempatan mendapatkan modal usaha.
Sunarto menciptakan mekanisme pembiayaan yang relatif unik, berbeda dengan banyak koperasi lain. Mekanisme pembiayaan dibuat sedemikian rupa untuk menjamin petani memanfaatkan pinjaman tersebut secara benar sehingga panennya berhasil. Dengan demikian, pengembalian pinjaman dari petani akan lancar.
Pembiayaan usaha tani diberikan dalam bentuk bibit, pupuk,dan obat-obat pertanian. Jenis barang yang ditetapkan untuk dibiayai disesuaikan dengan komoditas yang ditanam dan luas tanam. Kebijakan ini dimaksudkan agar penyaluran pembiayaan tepat dan sesuai sasaran. Bila pembiayaan diberikan dalam bentuk uang, bukan tak mungkin uang itu dipakai untuk keperluan yang bersifat konsumtif. Jika pembiayaan tepat sasaran, diharapkan resiko kredit macet diminimalkan.
Sunarto menjelaskan, paling lambat dua minggu sebelum musim tanam, petani mengajukan rencana tanam yang meliputi lokasi lahan, luas tanam, dan jenis komoditas. Rencana usaha tani yang diajukan petani lalu dipelajari tim analis koperasi untuk ditentukan kelayakan dan nilai pembiayaannya.
Setelah rencana usaha tani disetujui, petani mendapatkan skema pembiayaan yang meliputi jenis dan waktu pengambilan barang, disesuaikan dengan waktu aplikasi. Selanjutnya, koperasi membuat order barang yang dibutuhkan ke penyuplai mitra koperasi.
Jatuh tempo pembayaran pinjaman dua minggu setelah panen. Jeda waktu itu memberi kesempatan petani menjual hasil panennya. Angsuran pengembalian pembiayaan dilakukan berkala, sesuai siklus tanam. Margin pembiayaan ditetapkan 6-8 persen persiklus tanam.
Kiprah swamitra Nusantara Jaya, menurut Sunarto, membuat banyak petani lepas dari jeratan tengkulak. Jika sebelumnya petani harus membayar bunga pinjaman sampai 500 persen per tahun kepada tengkulak, melalui swamitra petani hanya dikenakan bunga pasar.
Kendati demikian, hati Sunarto masih gelisah memikirkan nasib petani. hal itu karena ia belum bisa sepenuhnya menolong petani terhindar dari permainan harga pedagang. Ia masih kerap melihat petani binaannya harus menjual hasil panennya dengan harga sangat jatuh. Ia ingin hasil petani dijual dengan harga layak sehingga hidup mereka sejahtera.
Oleh karena itu, dia berencana mengajukan pinjaman untuk membangun gudang penampungan hasil panen berkapasitas 1.000 ton. Dengan adanya gudang, petani bisa menyimpan hasil panen dan menunda penjualan jika harga di pasar tengah jatuh. Hasil panen baru dijual jika harga di pasar sedang bagus.
Setelah menjalankan usahanya lebih dari setahun, Sunarto makin mantap mengembangkan koperasi dan membina para petani. Langkahnya melepaskan usaha di Jakarta tidak salah. Usaha yang digelutinya kini lebih banyak memberi kebahagiaan karena bermanfaat bagi banyak orang.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 27 JULI 2010

Minggu, 25 Juli 2010

Djoko, Katak, dan Kerusakan Lingkungan

Bagi sebagian orang,katak dankodok adalah hewan yang menjijikan karena kulitnya berlendir, bahkan ada yang beracun. Namun, bagi Djoko Tjahjono Iskandar, herpetolog atau peneliti reptil dan amfibi dari Institut Teknologi Bandung, katak adalah salah satu amfibi yang sexy dan khas.

Data Diri
Nama : Djoko Tjahjono Iskandar
Lahir : Bandung, 23 Agustus 1950
Anak : 2 orang
Pendidikan :
- Strata 1 Institut Teknologi Bandung, 1975
- Strata 2 Universite des Sciences et Technique du Languedoc Montpellier Perancis, 1981
- Strata 3 Universite des Sciences et Technique du Languedoc Monpellier Perancis, 1984
Penghargaan dan penelitian antara lain :
- Medali perak pengabdian 20 tahun dari Pemerintah Indonesia, 2003
- Medali perak pengabdian 25 tahun dari ITB, 2003
- Habibie Award dalam Ilmu Pengetahuan Dasar, 2005
- Kennedy Award Best Published Paper of The Yer with RM Brown dari The International
Society for the Study of Amphibian and Reptile, AS, 2001
- Penelitian Herpetofauna Sulawesi bersama Universitas Lausanne, Texas, Kansas, McMaster,
Berkeley dan South Australian Museum, 1989-kini
- Penelitian Herpetofauna Papua, antara lain bersama South Australian Museum dan Enesar,
1988-kini

Oleh CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Katak dengan warna kulitnya, cara hidup, hingga bentuknya yang beraneka ragam menjadi daya tarik tersendiri, bahkan, karena bisa hidup di air dan di darat, katak dapat digunakan untuk mengukur adanya kerusakan lingkungan hidup. Cacat atau hilangnya jenis katak tertentu bisa menjadi indikasi kerusakan lingkungan.
"Keaneka ragaman katak di Indonesia adalah surga bagi peneliti. Kini baru 400-500 spesies katak yang ditemukan di Indonesia. Kemungkinanbesar masih banyak katak yang menunggu ditemukan" katanya.
Djoko membuktikannya sendiri dengan menjelajah ke berbagai tempat di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, hinga Papua. Hasil penelitiannya antara lain 16 jenis baru katak, diakui sebagai kontribusi yang penting.
Oleh karena itu, para peneliti sing mengabadikan penemuan ini untuk menghormati dia, antara lain dengan menamakan temuannya sebagai Collocasiomya Iskandari (2000), Luperosaurus Iskandari (2003), Fejervarya Iskandari (2004), dan Draco Iskandari (2007).
Ia juga melakukan penelitian ilmiah pada beberapa katak khas Indonesia lainnya seperti katak tanpa paru-paru, yakni katak kepala pipih kalimantan (Barbaroula kalimantanensis)
Sempat mendeskrpsikan jenis itu pada 1978, Djoko berhasil menemukan kembali pada tahun 2007 di Taman Nasional Baka Bukit Raya, Kalimantan Barat.
Katak ini merupakan satu-satunya katak di dunia yang bernapas tanpa paru-paru, tetpi menggunakan kulit. Nenek moyangnya diyakini sudah ada sejak 50juta tahun lalu.
International Union for Conservation of Nature lalu memberikan perlindungan kepada katak kepala pipih sebagai atwa yang terancam punah. Diperkirakan jumlahnya terbatas dan merupakan endemik di Kalimantan.
Djoko juga menemukan katak unik lain di Sulawesi tahun 1989. Uniknya, katak yang hingga kini belum diberi nama itu tak bertelur, tetapi merupakan katak pertama di dunia yang melahirkan kecebong.

Minim informasi

Keahlian menemukan dan mendeskripsikan berbagai macam katak spesies baru itu tak didapat Djoko dengan mudah. Minimnya data membuat dia harus mengawali studi katak dari penduduk kampung hingga berkorespondensi dengan ahli katak terkemuka dunia.
Satu persatu peneliti katak dunia dia kirimi surat berisi pertanyaan dan penelitian tentang katak di Asia dan Indonesia. Peneliti hewan terkenal yang dihubunginya antara lain RF Inger.
"Jawabannya memakan waktu yang lama. Saat itu teknologi belum maju karena kami hanya memakai jasa pos. Namun, hati saya sangat senang karena data yang diberikan banyak dan lengkap" kata pengajar Sekoah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB ini.
Ia juga banyak belajar dari penduduk lokal. Salah satu pengalamannya ketika mencari katak di hutan Sulawesi tahun 1990-an. Sebagai orang baru di dunia katak, ia bersemangat masuk hutan hendak mencari katak pada siang hari, namun, hal itu justru mengundang tanya penduduk setempat.
Seorang penduduk mengatakan, mencari katak pada siang hari itu tindakan sia-sia. Waktu ideal mencari katak ternyata malam hari. Dia sadar, pengalamannya di dunia katak belum banyak.
Hal serupa dia alami ketika mencari katak kepala pipih di Kalimantan pada 2007. Ia buta tentang tempat tinggal dan cara hidup katak kepala pipih. Satu-satunya informasi adalahkatak yang pernah dibawa temannya, seorang ahli ikan, dari Kalimantan tahun 1978. Jadilah, hingga hari ke 10 ia belum menemukan si kepala pipih. Padahal, biasanya katak dengan informasi lengkap bisa ditemukan dengan segera. Baru pada hari ke 12, timnya menemukan 2 ekor katak kepala pipih yang hidup dibawah batu sekitar sungai. Namun, saat hendak diteliti dan dimasukan ke dalam ember, katak itu mati.
"Sampai mati dua ekor katak. Setelah di bedah, baru diketahui dia tak punya paru-paru. Katak itu ternyata bernapas menggunakan kulit," katanya.
Meski telah menemukan berbagai katak spesies baru, Djoko belum merasa puas. Ia yakin,masih banyak jenis katak lain dan belum pernah ditemukan di Indonesia.
Minimnya informasi itu adalah ironi. Sebab, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah spesies katak yang banyak, tetapi tak lebih dari 20 peneliti katak di negeri ini.
"Berbeda dengan negara-negara di eropa. Di tiap negara minimal ada seorang herpetolog. Data yang dimiliki sangat lengkap, dari nenek moyang katak hingga yang kini masih hidup. Padahal, di dataran eropa katak hanya sekitar 40 jenis," ujarnya.

Warisan dunia

Belajar dari pengalamanan itu, Djoko mulai rajin menulis buku dan publikasi di berbgai tempat. Hingga kini 68 publikasi internasional dan sembilan buku telah diterbitkan. Selain itu, 45 publikasi nasional dan 10 buku bisa dinikmati masyarakat.
Bahkan lebih dari 100 presentasi internasional dan nasional telah dia lakukan. Tempatnya pun macam-macam, dari ruang seminar internasional di Singapura hingga kebun binatang di Bandung.
Akan tetapi, menurut Djoko, usaha itu harus ditingkatkan, terutama dengan menambah jumlah peneliti katak. Meski tak berpotensi menambah pundi harta peneliti, peneliti katak adalah usaha pertanggungjawaban pada keaneka ragaman hayati Indonesia. Bahkan, mungkin suatu hari nanti ada kegunaan lain dari hasil penelitian berbagai katak tersebut.
Katak, diyakini Djoko, bisa dipublikasikan, baik sebagai lambang daerah atau taman nasional. Dia berharap setelah dikenal masyarakat, ekosistem dan keberlangsungan hidup katak bisa terjaga.
Selain itu, masih banyak kemungkinan yang bisa digali. Contohnya berbagai pertanyaan pada penelitian katak berkepala pipih.
"Dunia ini masih memiliki banyak ilmu yang belum digali. Tugas semua pihak adalah hadir di sana, mencari ide baru, lantas mengabarkannya kepada semua orang.Itulah inti dari hadirnya ilmu dalam masyarakat," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 24 MARET 2009