Minggu, 15 Agustus 2010

Yuwono dan Eka, Pendiri Sekolah Alam

Pendidikan melalui sekolah adalah proses membangun sebuah peradaban. Tujuan itu jangan dicampur aduk dengan kepentingan bisnis untuk memungut uang sebanyak mungkin dari orangtua murid. Niat itulah yang membulatkan tekad pasangan Yuwono dan Nurbaiti Eka Sari untuk mendirikan Sekolah Alam Palembang.

BIODATA

Nama : Yuwono
Lahir : Trenggalek, 10 Oktober 1971
Pendidikaan :
- SD Negeri Palas Jaya, Lampung Selatan
- SMP Negeri Palas, Lampung Selatan
- SMA Negeri 2 Tanjung Karang
- Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, tamat 1996
- Master Bidang biomedik Fakultas Kedoktran UI, 2002
- Program doktor bidang ilmu kedokteran Fakultas Kedokteran Unpad, 2009

Nama : Nurbaiti Eka Sari
Lahir : Palembang, 30 September 1970
Pendidikan :
- SD Negeri Putri 137 Plaju, Palembang
- SMP Negeri 20 Plaju, Palembang
- SMA Yaktapenta 1 Plaju
- Fakultas MIPA Kimia Universitas Sriwijaya, 1994
Anak :
- Muhammad Jawad Yuwono (10)
- Imadul Aqil Yuwono (9)
- Mamduh Widad Yuwono (7)
- Afaf Mihlah Yuwono (4)

Oleh WISNU AJI DEWABRATA

Dengan modal awal Rp.10 juta pada 2005, mereka mendirikan Sekolah Alam Palembang, sekolah ini satu dari 12 sekolah alam di Indonesia yang direkomendasikan penggagasnya, Lendo Novo.
Ditemani istrinya, Eka, Yuwono mengatakan, ide mendirikan sekolah alam di Palembang muncul setelah ia menyekolahkan anaknya di Sekolah Alam Bandung. Dia merasa cocok dengan konsep sekolah alam ala Lendo Novo.
Ia menyekolahkan anaknya di Sekolah Alam Bandung saat kuliah S-3 ilmu kedokteran di Universitas Padjadjaran tahun 2004-2005. Selesai kuliah, Yuwono dan Eka kembali ke Palembang, tetapi di kota ini tak ada sekolah alam.
Mereka memutuskan mendirikan sekolah alam di Palembang karena tak ingin anaknya mendapat pendidikan seperti mereka dulu di sekolah umum.
"Pendidikan kita banyak yang mubazir. Semua pelajaran diajarkan, ibarat komputer hanya memenuhi memori tetapi tak pernah dibuka. Cara mendidiknya tak memunculkan potensi pribadi anak," kata Yuwono.
Yuwono, bercerita, sejak sekolah dasar ia selalu juara kelas, tetapi merasa ada yang salah dalam dunia pendidikan. Alasannya, murid punya potensi yang berbeda-beda, misalnya dalam bidang seni atau olahraga, tak hanya akademik.
Sementara sekolah alam adalah inklusif sebab kecerdasan tak sebatas kemampuan akademik. Sekolah di Indonesia umunya eksklusif, mengutamakan kemampuan akademik, sekolah seperti ini hanya cocok untuk anak pintar.
"Sekolah inklusif bisa menggali potensi anak. Tuhan memberikan banyak sekali potensi kepada manusia, tetapi masih sedikit yang tergali," katanya.
Eka menambahkan, sekolah alam mengutamakan kebebasan berekspresi dan berpendapat. Murid dilatih tak takut mengungkapkan pendapat, sebaliknya, di sekolah umum, murid umumnya tak punya kebebasan berekspresi dan dampaknya terbawa sampai dewasa.
"Saya yakin metode sekolah alam itu yang terbaik, tak mungkin saya menyekolahkan anak saya di sini," katanya.

Manajemen tradisional

Ketika dibuka tahun 2005, fasilitas Sekolah Alam Palembang masih terbatas. Lokasi pertama di kawasan Bukit Siguntang, dengan jumlah murid lima orang untuk tingkat Taman Bermain, TK A, TK B, dan kelas I SD, dengan empat guru. Tiga murid itu adalah anak Yuwono ditambah dua murid keponakannya.
Hanya tiga bulan di Bukit Siguntang, lokasi sekolah pindah ke Plaju. Di lokasi ini jumlah murid menjadi 10 orang. Pada Juli 2006, sekolah ini pindah ke Jalan Demang Lebar Daun dengan lahan seluas 1.300 meter persegi. Disini terdapat saung yang berfungsi sebagai ruang kelas sekaligus tempat bermain, kolam, dan lahan untuk belajar bercocok tanam serta beternak.
Jumlah murid pun meningkat menjadi 60 orang dan sampai kelas V SD. Kegiatan belajar didukung delapan fasilitator, dua asisten kelas, tiga guru bahasa dan seni, serta satu guru kegiatan luar ruang.
Di Sekolah Alam Palembang, Yuwono lebih fokus sebagai pembuat konsep dan Eka menjadi manajer. Sampai sekarang,untuk memenuhi kebutuhan operasional sekolah, suami-istri ini masih sering merogoh kocek pribadi.
"Setiap bulan kami nombok sekitar Rp.10 juta. namun, kami tak pernah merasa rugi karena pendidikan itu investasi untuk anak-anak. Ini investasi paling penting," ujar Yuwono yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Meski sering "tekor", pasangan ini gigih mengelola Sekolah ALam Palembang. "Murid Sekolah ALam Palembang justru sedih kalau sekolah libur. Mereka ingin ke sekolah meski lagi libur. Di sekolah, para murid membuat sendiri aturan yang harus mereka patuhi. jadi, tidak ada yang membuat mereka takut," kata Eka.
Disini murid terbiasa mengajukan pertanyaan kepada guru dan guru tak langsung menjawab, tetapi balik bertanya lagi kepada murid. Menurut Eka, murid bebas menjawab pertanyaan guru. Guru tak akan menyalahkan atau membenarkan jawaban murid karena dengan cara ini murid terbiasa berpikir. Prinsipnya, guru tak selalu benar.
Murid juga diajak menemukan jawaban melalui buku-buku di perpustakaan atau mendapatkan penjelasan langsung dari ahlinya. Sekolah alam tak menggunakan sistem buku paket. Semua buku dari berbagai penerbit dan penulis bisa digunakan. Lebih penting membuat murid mau membaca buku.
Eka menambahkan, dari modal awal Rp.10 juta, kini mereka punya modal Rp.500 juta untuk mengembangkan Sekolah Alam Palembang. Modal itu berasal dari para orangtua murid.

Membangun peradaban

Yuwono mengungkapkan, tujuan membangun sekolah alam bukan untuk mencari untung materi. Ia yakin, mendirikan sekolah alam tak akan rugi karena sekolah ini akan menghasilkan orang-orang yang luar biasa.
"Sekolah ini bertujuan membangun peradaban. Sekolah tak sekedar bisnis atau menghasilkan ijazah. Kami tak ingin mencetak antrean pelamarkerja, tetapi pencipta lapangan kerja," kata Yuwono.
"Roh" dari sekolah alam, katanya, adalah mengajarkan empat hal utama, yaitu akhlak yang bersifat universal, logika ilmu, kepemimpinan, dan kewirausahaan. Keempat hal ini diajarkan kepada para murid.
Yuwono dan Eka berencana menerima murid tingkat SMP dan SMA di Sekolah Alam Palembang. Mulai 2010, Sekolah Alam Palembang akan pindah ke lokasi baru di kawasan Karyajaya Km 15, Palembang, di tanah seluas 7 hektar.
Untuk tingkat SMP rencananya beroperasi dua tahun lagi, sedangkan tingkat SMA nya mulai dilangsungkan setelah semua murid sekolah alam untuk SMP lulus atau empat tahun lagi.
Masa sekolah SMP dan SMA di sekolah alam total empat tahun. Murid SMA akan menggunakan sistem program pilihan, yaitu teknologi komunikasi dan informasi, bioteknologi, serta perdagangan ritel.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 14 SEPTEMBER 2009

Kamis, 12 Agustus 2010

Menebar Motivasi Lewat Lukisan

"Bungah marang kang cinawis", bahagia dengan apa yang tersedia. Itulah tuntunan hidup yang melandasi keseharian Sabar Subadri. Ditengah keterbatasan fisik, ia menjalani hidup yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, lewat semangat yang ditularkan melalui lukisannya.

SABAR SUBADRI

lahir : Salatiga, 4 Januari 1979
Ayah : Subadri (60)
Ibu : Wiwit Rahayu
Kakak :
- Siti Romlah (34)
- Ibnu Muslim (32)
Pendidikan :
- SDN 2 Kalicacing
- SMPN 3 Salatiga
- SMAN 3 Salatiga
- Jurusan Sastra Inggris, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Satya Wacana Salatiga
Guru : Pelukis Rochmad, 1989-1997
Organisasi : Anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists

Oleh ANTONY LEE

Sabar terlahir dengan tubuh tak sempurna. Ia tak punya lengan. Alih-alih terpuruk dalam kesedihan dan kekecewaan, ia bersusah payah merintis jalan hidup sebagai pelukis. Keahlian itu yang membuatnya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pada Hari Internasional Penyandang Cacat, 2007.
Tahun 1989 Sabar terpilih menjadi anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA). Di Indonesia ada sembilan anggota AMFPA. Asosiasi itu menerima karya Sabar dan memberinya honor bulanan.
Sabar menyebut sejumlah nominal dalam mata uang franc Swiss. Jumlah itu belum termasuk royalti bila karyanya dicetak untuk kalender, kartu ucapan Natal, Lebaran, atau Tahun Baru. "Dari hasil itu saya bisa membuatkan rumah untuk orang tua, punya tabungan, kendaraan, dan koleksi buku-buku," tuturnya di Klaseman, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, Jawa Tengah.
Sebelum menempati rumah hasil keringat Sabar pertengahan 1990, mereka sekeluarga menempati rumah penjaga sekolah, ayahnya Subadri, bekerja sebagai penjaga sekolah di SMPN 3 Salatiga, dan ibunya berjualan di kantin sekolah.
Ratusan kary dihasilkan Sabar, puluhan diantaranya dicetak menjadi kartu ucapan atau kalender. Sebagian karya dia juga dipamerkan pada beberapa kesempatan di sejumlah negara Eropa.
Sabar banyak menghasilkan lukisan naturalis, sebagian besar tentang alam dan manusia, seperti dua lukisan yang paling disukainya, "Longing for My Wood" dan "Thanking for Life". Lukisan pertama berupa beberapa pohon besar dengan guratan sinar mentari, dan yang kedua menggambarkan dua perempuan tua menggendong barang dengan cahaya mentari keperakan.
Ide lukisan kadang dia dapatkan dari buku, interaksi langsung dengan alam, atau hasil berselancar di dunia maya. Gambaran pohon dalam lukisan "Longing for My Wood", misalnya, merupakan paduan antara pohon beringin yang ditemuinya di salah satu sudut Kota Salatiga dan gambar pohon yang diunduhnya dari dunia maya.

Dukungan keluarga

Anak bungsu dari tiga bersaudara itu bersyukur karena orangtua dan saudaranya bisa menerima kekurangan fisiknya. Mereka jeli melihat kebiasaan Sabar yang sejak usia tiga tahun mencoret-coret lantai dengan sisa kapur dari sekolah. Ayahnya mendorong Sabar mengikuti berbagai lomba.
Meskipun dalam lomba itu dia tak berhasil menjadi juara, keluarga tetap mendukungnya. Ia terus tekun belajar melukis dari tayangan televisi dan buku, sampai bisa memenangi sejumlah lomba menggambar.
"Saya berangkat dari bukan siapa-siapa, tak ada darah seni. kalau saja orang tua tidak menerima kondisi saya, tidak ada dukungan melukis, kami masih tinggal di rumah penjaga sekolah. Saya juga enggak bisa apa-apa, hanya diam dikamar," ungkapnya.
Sepucuk surat yang diterimanya dari AMFPA pada 1988 menjadi titik balik hidupnya. Asosiasi yang menaungi pelukis yang berkaryamenggunakan mulut atau kaki itumemberi dia beasiswa Rp.100.000 setiap tiga bulan, kemudian mengajak Sabar bergabung setahun berikutnya. Beasiswa itu cukup untuk membeli peralatan dan membayar guru melukis.
Setidaknya satu karya dihasilkan Sabar setiap bulan. Di ruang lukis itu dia banyak menghabiskan waktu. Jika sedang suntuk, ia bergeser menuju dua rak susun berisi sekitar 300 buku tentang seni, novel, atau spionase, atau menyambangi komputer terkoneksi internet.
Di luar semua kegiatannya itu, Sabar memilih terjun dalam komunitas akademis sekali sepekan. Sejak tahun 2000 ia menjadi mahasiswa Jurusan Sastra Inggris di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Satya Wacana, Salatiga. Ia mengaku tak terpikir untuk lulus dan memperoleh ijazah.
"Ijazahnya buat apa, saya bingung. jadi saya menikmati saja proses berpikir di kampus dan berada dalam komunitas itu," tuturnya.

Motivasi hidup

Perjalanan hidup dan lukisan, bagi Sabar, memiliki benang merah filosofi serupa. Dalam menjalani hidup, yang terpenting bagi dia, adalah prosesnya. Ia mengaku nyaris tidak menemui kendala berarti.
"Jadi, dengan apa yang ada dan tidak ada itulah , bagaimana saya bisa melewatinya. Hal itu penting dalam hidup saya sendiri. kalau orang lain bisa melihat (hal itu), ya syukur. Apalagi kalau orang lain bisa termotivasi karena itu, syukurlah," katanya.
Karena itu pula, Sabar menyisihkan waktunya untuk berbagi pengalaman dan memberi motivasi kepada orang lain. Ia sering berdemo melukis dan bertutur soal kisah hidupnya dihadapan anak-anak sampai orang dewasa.
Meski secara finansial mandiri, Sabar mengaku masih sangat membutuhkan orang lain. Dia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, seperti memasak atau mencuci. Di rumah, ia mengaku masih dibantu orangtua. namun, untuk uruan diluar rumah, ia dibantu sahabatnya yang berperan sebagai "asisten" meski tak mau menerima honor darinya.
Sabar bercerita, jalan hidupnya tak selalu mulus. saat akan melamar menjadi siswa sekolah dasar, misalnya, ia ditolak di beberapa sekolah yang kekurangan siswa dan bersedia menerimanya. Penolakan dalam hal berbeda pun dialaminya dalam asmara.
"Saya suka down kalau soal asmara. Saya sudah 'nembak' dan ditolak 14 kali. Nek golek wes kesel (kalau cari, sudah lelah), tapi aku butuh tangan lain dalam hidup ini," tuturnya sambil tersenyum.
Dalam perjalanan hidup dan berkarya, Sabar masih memiliki beberapa harapan. Dia ingin suatu ketika bisa menggelar pameran tunggal serta mencoba tantangan membuat lukisan dengan dimensi besar, berketinggian sekitar dua meter.
Kondisi itu bakal menyulitkan dia, tetapi juga menantangnya untuk terus berpikir keras, mencari cara bagaimana ia bisa menggapai bagian atas kanvas dengan keterbatasan fisiknya...

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 13 AGUSTUS 2010

Rabu, 11 Agustus 2010

Sago, Kekuasaan untuk Kedaulatan Pangan

Tawaran menjadi wali nagari menyadarkan Sago Indra bahwa ada kekuasaan yang bisa dipegangnya untukmengubah keadaan kampung halaman. Kini kekuasaan itu diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan pangan di Nagari Situjuah Gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Data diri

Nama : Sago Indra
Lahir : Situjuah Gadang, Sumatera Barat, 25 Oktober 1969
Istri : Aswira
Anak :
- Arefa
- Alam
Pendidikan : Sarjana Hukum Universitas Andalas

Oleh AGNES RITA SULISTYAWATY

Nagari-setingkat desa tempat kelahiran Sago merupakan daerah pertanian di Sumatera Barat. Pria yang sebelumnya aktif di berbagai lembaga swadaya masyarakat ini tidak pernah berambisi menjadi pemimpin di kampungnya.
Suatu ketika sejumlah orang tua datang dan memintanya mencalonkan diri sebagai wali nagari (setara kepala desa). Dia sempat menolak. " Lalu saya pikir-pikir, kalau ada kekuasaan tidak terbatas sebagai pemimpin di kampung mengapa tidak saya ambil. Menjadi wali nagari bisa membuat saya mengerjakan sesuatu yang riil untuk warga nagari," kenang Sago.
Tahun 2005 dia pun mendaftarkan diri sebagai kandidat wali nagari bersama tiga calon lain. Tidak ada kampanye yang dibuatnya, apalagi bagi-bagi uang untuk meraup suara. namun, saat pemungutan suara Sago meraih 1.200 suara dari 3.200 pemilih.
Sago memegang mandat sebagai wali nagari dengan warisan utang Rp.8 juta dan uang kas Rp.242.000. Dua tahun pertama urusan penataan organisasi menjadi fokus pekerjaannya.
Akhir tahun 2005 Sago merampungkan penyusunan rencana strategis Nagari Situjuah Gadang. Rencana itu didesain sebagai penuntun arah pembangunan nagari selama 25 tahun mendatang. Peraturan yang disepakati bersama pemuka di Situjuah Gadang itu berisi aneka hal, antara lain fokus pembangunan dan hubungan antara kelompok kepentingan di nagari. Salah satu arah yang disasar adalah mewujudkan kedaulatan pangan di nagari.
Dengan rencana yang begitu ketat, Sago berani menolak bantuan yang tidak sesuai dengan rencana strategis, salah satunya adalah pembangunan irigasi senilai Rp.200 juta -Rp.300 juta. Dia beralasan, pebangunan irigasi harus sesuai dengan rencana strategis nagari.
"Jika tidak sesuai, itu akan mengubah alur air. Adapun daya tahan instalasi irigasi hanya sekitar lima tahun," ucap Sago.
Pembangunan jalan juga diarahkan untuk membuka akses ke suatu lahan pertanian. Penyelarasan dana pembangunan dengan dunia pertanian disinkronkan dengan rencananya.
Dalam berbagai hal, kebijakan Sago kerap membuat pejabat di tingkat kabupaten bingung. Selain harus menyesuaikan dengan rencana strategis nagari, para pejabat juga sering diberi kejutan, antara lain ketika Sago menolak pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Waktu awal menjabat kemampuan masyarakat Situjuah Gadang membayar PBB masih rendah. PBB tidak bisa dibayarkan utuh. "Saya menolak melunasi PBB dengan uang nagari, seperti yang biasa dilakukan di nagari atau bahkan desa lain. Saya memilih memakai uang nagari untuk membangun nagari dan membayar PBB sesuai kemampuan masyarakat," ujar Sago.
Uang untuk membangun daerah sangat minim, lantaran sebagian besar porsi uang nagari sudah terserap untuk membayar honor pegawai. Sebagai contoh, dari Rp.125 juta uang nagari dari Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2008, hanya tersisa Rp. 9 juta untuk pembangunan desa selama setahun. Selebihnya habis untuk membayar gaji 14 petugas nagari.
Peningkatan ekonomi warga lewat kegiatan pertanian menjadi salah satu fokus Sago.

Fokus pertanian

Awal menjabat sesbagai wali nagari, Sago menghadapi petani yang miskin. Padahal, sekitar 80 persen dari total 1.481 kepala keluarga di Situjuah Gadang adalah petani.
"Mereka miskin secara ekonomi dan miskin pendidikan sehingga tidak mengetahui cara lain untuk bertani, selain yang mereka lakukan sehari-hari," ujar Sago mengenang tahun 2005 ketika pertama memangku jabatan itu.
Pendidikan menjadi pintu masuk bagi Sago untuk mengenalkan metode pertanian organik. Lahan-lahan pelbelajaran dibuat di nagari yang memiliki sekitar 1.200 hektar lahan pertanian. Setiap saat ada saja petani yang belajar metode bertani organik. Bertani organik mendapat tempat di sebagian petani Situjuah gadang, terlebih ketika pupuk kimia dan pestisida semakin langka dan mahal harganya.
Tahun 2008, Sago dan petani di Situjuah Gadang mendeklarasikan "nagari Organik", satu-satunya di di Sumatera Barat. Dalam skala nagari, Situjuah Gadang inilah yang berani memproklamasikan arah nagarinya.
Memang, ideologi pertanian organik tidak serta merta dipeluk oleh petani di nagari itu.
Hingga kini baru sekitar 20 persen petani di Situjuah gadang yang menggunakan metode organik. namun, deklarasi nagari organik membuat petani setempat mempunyai pilihan untuk memperbaiki kehidupan mereka.
Ada sejumlah kendala yang masih dihadapi Sago dalam memajukan pertanian nagari. Salah satunya adalah keterbatasan "pabrik" pupuk alias ternak yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk kandang.
Kotoran ternak yang semula diperlakukan sebagai limbah kini sudah menjadi komoditas perdagangan. "Kini sekarung kotoran sapi harganya antara Rp.7.000 sampai Rp.8.000 ucap Sago.
Beberapa kasus serupa tentang ketidak seimbangan pasokan dengan permintaan bahan baku dijumpai Sago, ketika menggulirkan sejumlah pilihan usaha bidang pertanian. " Memang masih banyak yang harus dibenahi," katanya.
Selain segala sesuatu yang berhubungan dengan tanah pertanian, Sago juga mendirikan Bank Petani, sebuah lembaga keuangan mikro agribisnis (LKMA). Bank yang resmi berdiri Desember 2008 ini dimulai dari donasi jejaring Sago. Bermodal awal Rp.20 juta, bank yang mengambil semangat koperasi kredit ini sudah mengumpulkan aset Rp.150 juta.
"Dulu masyarakat yang ekonominya pas-pas an harus berhutang ke bank atau rentenir yang menetapkan bunga tinggi demi mendapatkan uang Rp.200.000 atau Rp.300.000. Sekarang, kami menawarkan Bank Petani untuk pinjaman ssampai Rp.750.000. Peminjam bebas menentukan balas jasa atas pinjaman serta jangka waktu pengembalian," kata Sago.
Persoalan lain yang masih menjadi pekerjaan rumah Sago adalah melindungi tanah ulayat dengan peraturan nagari . Sago melihat peraturan agraria di Sumatera Barat masih melemahkan petani dan condong membela kepentingan investor.
tanah dengan mudah disewa investor dari luar, denganjangka waktu peminjaman sampai 95 tahun. Dengan waktu yang terlampau lama itu, petani jelas dirugikan. Mereka hanya bisa melihat tanah mereka ditanami aneka komoditas perkebunan.
"Memang seakan-akan adat menghambat masuknya investor. Namun, memang begitulah peran adat. Adat harus melindungi kepentingan masyarakat," papar Sago.
Semua ini dilakukan Sago demi mewujudkan mimpi besarnya: kedaulatan pangan bagi nagari yang dipimpinnya.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 2 OKTOBER 2009

Senin, 09 Agustus 2010

Upaya Menyelamatkan Gambut

Selama lebih dari 20 tahun, Suwido H Limin bersentuhan dengan gambut. Masa yang panjang itu membawa dia sampai pada kesimpulan, lahan gambut sebaiknya dibiarkan apa adanya, sebab untuk mengolah biayanya mahal. Selain itu, cegahlah upaya eksploitasi dan segera lakukan restorasi terhadap lahan gambut yang rusak.

SUWIDO H LIMIN

Lahir : 24 Mei 1955
Pendidikan :
- S-1 Agronomi Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, 1982
- S-2 Agronomi Institut Pertanian Bogor, 1992
-S-3 Manajemen Lahan Gambut Universitas Hokkaido, jepang, 2007
Pengalaman kerja antara lain :
- Dinas Pertanian Kalimantan Tengah, 1982-1984
- Dosen Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, 1984-kini

Oleh DEFRI WERDIONO
Di dunia gambut, nama Suwido H Limin tak asing lagi. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ini terus melakukan penelitian dan berbagai upaya penyelamatan gambut. Ia sering mmengeluarkan ide untuk perbaikan lingkungan, terutama lahan gambut.
Suwido juga merealisasikan gagasannya, seperti membuat Tim Serbu Api untuk mengatasi kebakaran lahan, membuat desain dam model "V" pada kanal lebar di gambut, dan mengajukan ide reboisasi lahan dengan sistem beli tanaman tumbuh.
Ide-ide Suwido menjadi pembicaraan di kalangan peneliti gambut karrena sebagian telah dipresentasikan dalam simposium internasional, mulai di Singapura, Malaysia, Jepang, Finlandia, Jerman, Belgia, sampai Australia. Bulan Oktober nanti, ia ke New Orleans, Amerika Serikat, mengikuti simposium tentang daerah lahan basah, termasuk lahan gambut.
Lahir di wilayah Daerah Aliran Sungai Kahayan membuat Suwido akrab dengan gambut. Gambut di Kalteng berkarakteristik khas. Salah satunya miskin pengayaan mineral karena daerahnya datar, luas, dan jauh dari pasang surut air laut yang memungkinkan menyusupnya mineral.
Ukuran ketebalan gambut juga bervariasi, dari beberapa sentimeter, yakni gambut di dekat pantai, hingga gambut dengan ketebalan 17,3 meter seperti yang ia temukan di daerah antara Mentaya dan Katingan. Dari sisi usia, gambut Kalimantan ada yang mencapai 9.600 tahun.
"Dari rangkaian penelitian, saya lihat gambut tebal bisa di budidayakan, tapi biayanya tinggi, butuh pemupukan dan sebagainya. Di satu sisi, kita belum hitung dampak negatif gambut setelah dieksploitasi, seperti gas," ujarnya.
Untuk memperkecil risiko itu,kita perlu mempertahankan gambut dengan keanekaragaman hayatinya. Jika gambut dipertahankan, tak ada risiko. Nilai ekonomisnya pun tetap ada dan berkelanjutan, seperti tanaman ramin dan jelutung.
Apalagi kondisi ekosistem kini berbeda dibanding puluhan tahun silam. Semua itu akibat kerusakan alam. Ini bisa dilihat, salah satunya, dari frekuensi bencana alam, termasuk didaerah asal Suwido. Dulu, rata-rata banjir hanya 3-4 kali setahun dan bisa diprediksi. Kini banjir bisa lebih dari 10 kali setahun.
Masalah gambut semakin pelik saat manusia masuk. Kebakaran lahan menjadi salah satu persoalan yang muncul. Suwido yakin, kebakaran disebabkan ulah manusia. Setiap terjadi kebakaran rata-rata 20-30 cm lapisan gambut musnah.
Salah satu kekeliruan memperlakukan gambut terjadi pada masa Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar. Ini berpengaruh terhadap terhadap hidrologi gambut. Pembuatan kanal-kanal panjang membuat permukaan lahan gambut menjadi kering dan mudah terbakar. Padahal, gambut memiliki sifat mengikat air. "Tetapi, seperti gambut di Sebangau, karena tak ada manusianya, tak ada kanal, jadi aman dari kebakaran meski kemarau panjang," ujarnya.

Kerja sama

Suwido mulai meneliti gambut untuk kepentingan studi pada 1988. Tahun 1993 ia bekerja sama dengan peneliti asing, selain juga ditugasi oleh Rektor Universitas Palangkaraya Amris Makmur berkaitan dengan rencana kerjasama penelitian gambutdengan Jack Rieley (Universitas Notingham, Inggris) dan Bambang Setiadi (BPPT).
Kerjasama itu disebut Kalimantan Peat Swamp Forest Research Project (KPSFRP), yang lalu menjadi Center for International Cooperation in Suitainable Management of Trofical Peatland (Cimptrop).
Dia juga menjadi salah satu motor berdirinya Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG)
Universitas Palangkaraya di Kereng Bangkirai, Sabangau. Lahan seluas 50.000 hektar itu dimanfaatkan sejak 1993 dan menjadi satu-satunya laboratorium alam untuk penelitian gambut tropis di Indonesia. Di sini pula ditemukan gambut berusia 9.600 tahun dengan ketebalan mencapai 17,3 meter.
Suwido pula yang menyampaikan konsep reboisasi sistem beli tanaman tumbuh dalam pertemuan bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Finlandia di Bali tahun 2008.
Dalam sistem itu, warga menanam pohon dan pemerintah memberi modal. Pemerintah membeli setiap tanaman hidup itu. Dengan begitu, persentase tanaman yang bertahan hidup di tanah reboisasi lebih besar karena warga memeliharanya.
Dari hasil uji coba tahun 2005, persentase tanaman yang tumbuh hingga setahun mencapai 80 persen. "Biaya sistem beli tanaman tumbuh itu Rp.15 juta per hektar setahun," ucap Suwido yang menyarankan tumbuhan lokal yang ditanam adalah seperti galam dan geronggang.

Tim Serbu Api

Tim Serbu Api pun konsep Suwido yang dilaksanakan hingga kini. Tahun 1997, ia membentuk tim ini dan intensif membinanya pada 2005. Tim ini lahir sewaktu terjadi kebakaran lahan akibat El Nino. Saat itu petugas hanya menyiram api dari pinggir jalan, lalu pulang.
Kalau hanya mengandalkan petugas seperti itu, tak efektif. Warga pun tak bisa ikut serta. Maka, Suwido membentuk tim ini, yang beranggotakan 30 orang. Kini terbentukl ima kelompok, antara lain di Tangkiling, Kalampangan, dan Kereng Bengkirai. Jika terjadi kebakaran, mereka bekerja bergantian selama 24 jam dan menginap dekat lokasi kebakaran.
Anggota Tim Serbu Api diberi jaminan karena tak mungkin pemerintah menggaji mereka. Sumber pendapatan bagi anggota bisa berupa kebun, kolam, atau sawah. "Bisa juga kios, tempat cuci mobil, atau bengkel. Jika ada kebakaran, sebagian anggota memadamkan api, yang lain bekerja di tempat usaha,"
Konsep Suwido lainnya adalah pembuatan dam model "V" pada 2004-2006. Dam ini berguna menjaga ketersediaan air di gambut tropis, yang saat kemarau biasanya surut karena airnya mengalir lewat kanal.
Kementerian Riset dan Teknologi lalu mengikuti jejaknya, dengan membangun sembilan dam di Kanal Kalampangan dan Kanal Taruna, bekas proyek PLG. "Dua minggu tak ada hujan biasanya air kering, gambut jadi mudah terbakar. Dengan dam, air bisa tertahan," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 10 AGUSTUS 2010

Minggu, 08 Agustus 2010

Asnawati, Pendidikan bagi Anak Tak Mampu

Anak-anak dari keluarga kurang mampu umumnya tidak mendapatkan perhatian penuh dari orangtua yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Minimnya perhatian ini membuat mereka terlambat berkembang.

ASNAWATI

Lahir : Pontianak. 10 Juni 1969
Pendidikan :
- SD Negeri I Pontianak
- SMP Negeri 10 Pontianak
- SMA Purnama Pontianak
Suami : Bujang Kariman
Anak :
- Dina Suci Lestari (21)
- Andri Darmawan (17)
- Rahmat Ariyanto (10)

oleh AGUSTINUS HANDOKO

Kenyataan itu ditemui Asnawati saat mengunjungi permukiman kumuh yang umumnya dihuni keluarga kurang mampu di Kota Pontianak Kalimantan Barat, tahun 2006.
"Tuntutan ekonomi memaksa banyak orangtua meninggalkan anak-anak mereka yang masih kecil untuk pergi bekerja, bahkan sampai seharian. Anak-anak ini sangat rentan dan pasti terlambat berkembang," katanya.
Setelah berhenti bekerja, Asnawati punya banyak waktu luang. "Saya mengunjungi tempat-tempat kumuh di Pontianak. Saya berpikir, siapa tahu tenaga ini bisa disumbangkan untuk orang lain," katanya.
Dari sekedar kegiatan mengisi waktu luang, dia justru menemukan fenomena anak-anak yang tidak mendapat perhatian di permukiman kumuh. Kondisi anak-anak itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Lingkaran setan kemiskinan tidak akan bisa terputus kalau anak-anak tidak mendapat perhatian penuh, apalagi dibidang pendidikan," tutur Asnawati.
Keprihatinan itu mendorong dia berpikir apa yang bisa dilakukannya guna membantu anak-anak tersebut. Bersama organisasi wanita yang diikutinya, Asnawati menyusun rencana untuk mendirikan lembaga pendidikan gratis bagi anak-anak itu. Sebab, hampir tidak mungkin memungut biaya dari orangtua mereka.
Pemikiran Asnawati disetujui. Mereka mulai menawarkan rencana itu kepada para orangtua sank-anak di Kelurhan Mariana, Kecamatan Pontianak Barat.
"Orangtua anak-anak itu menyambut baik rencana ini,. Kami membuat lembaga pendidikan anak usia dini di Camar, Kelurahan Mariana," ujarnya.
Asnawati memilih lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) karena berbagai pertimbangan. "Anak-anak berusia dibawah lima tahun itu dalam masa pertumbuhan yang paling bagus. Sangat disayangkan kalau pada masa itu mereka tumbuh tak terkontrol hanya karena minimnya perhatian orangtua," tuturnya.
Alasan lainnya adalah karena sudah adanya lembaga pendidikan yang lebih tinggi dari PAUD dipermukiman warga kurang mampu tersebut. "Untuk pendidikan formal, infrastrukturnya tidak persoalan. Jadi, setelah melalui berbagai pertimbangan, PAUD adalah pilihan paling tepat," ungkapnya.
Memulai rencana menyelenggarakan pendidikan gratis tanpa modal uang, Asnawati bertemu donatur yang mendukungnya membuka lembaga pendidikan itu pada 2007. "Kami menyelenggarakan pendidikan itu di sebuah rumah tanpa perlu membayar sewa. Itu modal awalnya," katanya.
Dibantu suaminya, Bujang Kariman, Asnawati mengisi ruang-ruang belajar di rumah itu. "Suami saya membuatkan meja dan kursi dari kayu-kayu yang tidak terpakai di rumah. Dia juga menyisihkan sebagian penghasilannya untuk aktivitas saya," tuturnya.

Tak membedakan

Dalam beberapa bulan sejak dibuka, ssekitar 40 anak datang dan mengikuti kegiatan di lembaga yang diberi nama PAUD Uswatun Hasanah itu.
"Walaupun kami berangkat dari organisasi wanita Islam, kami juga menerima anak-anak non muslim. Kami tidak membedakan anak-anak itu berasal dari agama dan etnis apa. Sejak awal, kami terbuka untuk siapapun karena pada dasarnya anak-anak dari keluarga mampu itu membutuhkan pendidikan dini. Siapapun dia," tutur Asnawati.
Jumlah anak didik yang relatif banyak membuat Asnawati meminta bantuan sejumlah sahabatnya untuk mencarikan tutor. "Saya hanya bisa memberikan uang saku Rp.50.000 per bulan untuk setiap tutor. jadi mereka (para tutor) bisa dikatakan benar-benar mengajar secara sukarela," katanya.
Selain itu, guna mengatasi persoalan terlalu sibuknya orangtua bekerja, Asnawati juga mengembangkan PAUD ini menjadi tempat penitipan anak. Menurut dia, anak-anak tetap memerlukan perhatian selepas mengikuti sesi pelajaran di PAUD.
"Ditempat penitipan, anak-anak bisa melakukan kegiatan positif dibandingkan jika bermain sendiri di luar sana, tanpa pengawasan," katanya.
Setahun kemudian, Asnawati membuka lagi tempat pendidikan serupa di Gang Meranti, Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Pontianak. Kondisi di tempat ini pun relatif tak berbeda dengan Kelurahan Mariana
"Banyak anak kurang mendapat perhatian karena orangtua mereka harus bekerja seharian dengan penghasilan yang relatif kecil. Apalagi orangtua saya pun mengizinkan kami menggunakan sebuah rumahnya untuk kegiatan ini," ujar Asnawati yang juga lahir dan dibesarkan di Gang Meranti.

Terpaksa iuran

Di kedua lembaga PAUD itu, Asnawati menyelenggarakan pendidikan gratis untuk anak-anak dari keluarga yang kurang mampu hingga 2009. Tidak hanya pelajaran, fasilitas belajar, seperti alat tulis pun diberikan kepada anak-anak itu.
Sayang seiring dengan semakin banyaknya anak-anak yang masuk lembaga PAUD itu, dana operasional mereka tidak lagi mencukupi. Di Gang Meranti saja tercatat sekitar 40 anak yang setiap hari datang.
"Daripada kegiatan ini ditutup, dengan berat hati kami lalu memungut iuran paling banyak Rp.5.000 per bulan dari orangtua anak-anak," ujar Asnawati yang menggunakan uang hasil iuran itu antara lain untuk membeli bahan pengajaran.
Kedua lembaga PAUD yang juga menjadi tempat penitipan anak itu, menurut Asnawati, setidaknya bisa menjadi jembatan bagi anak-anak kurng mampu agar mereka setara dengan anak lain. Hal itu dirasakan penting, terutama ketika mereka (terutama karena usianya) harus mengikuti pelajaran di sekolah dasar (SD).
"Kalau sebelum masuk SD tidak mendapatkan pendidikan yang layak, mereka akan selalu ketinggalan. Tetapi, setelah belajar disini, ketika masuk SD anak-anak dari permukiman kumuh dan dari keluarga kurang mampu itu tidak minder lagi. Mereka lebih percaya diri karena sudah bisa membaca dan menulis, sama dengan anak-anak yang lain," tutur Asnawati.
Kegigihan Asnawati telah membawa hasil. Berkat pendidikan di lembaga yang didirikannya itu, lebih dari 50 anak dari kawasan kumuh dan keluarga tidak mampu bisa belajar di sekolah dasar negeri.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 9 AGUSTUS 2010

Jumat, 06 Agustus 2010

Rahmat Priatna, Pemulia Domba Garut

Domba Garut adalah jenis domba warisan leluhur urang Sunda. Jenis domba kontes di Jawa Barat ini adalah hasil persilangan antara domba lokal, Afrika, dan Marino, pada tahun 1850-1860. Di dunia domba garut diakui sebagai salah satu jenis domba dengan postur paling besar. Domba ini mewarisi postur besar dari Marino, agresivitas dari Afrika, dan kelezatan daging dari domba lokal Jawa Barat.

RAHMAT PRIATNA

Lahir : Bandung, 4 Januari 1954
Alamat : Ciampea, Cimande, Bogor
Istri : Siti Rahwatini
Anak :
- Angga Gandara (29)
- Dewi Sekarmayang (24)
Pendidikan :
- SD Negeri Mohammad Thoha Bandung
- SMP Negeri 11 Bandung
- SMA Negeri 8/22 Belitung, Bandung
- Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran, Bandung
- Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Karier :
- Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran Bandung (1977-1981)
- Kementerian Negara Lingkungan Hidup (1981-1982)
- PT Pertamina (1982-2002)
- BPH Migas (2002-2008)

Oleh AGUSTINUS HANDOKO

Ddalam perkembangannya, sering terjadi perkawinan silang antara domba garut dengan domba jenis lainnya. Akibatnya, kualitas domba yang dihasilkan terus menurun, salah satu indikasinya adalah postur yang semakin kecil.
Atas kondisi itu, timbul keprihatinan dari sejumlah kalangan. Perlu diupayakan pemurnian kembali gen domba garut. Salah seorang dari sedikit kalangan yang tergerak untuk mengembalikan kemurnian gen domba garut adalah Rahmat Priatna.
"Bobot hidup domba garut yang asli bisa mencapai 60 kilogram per ekor pada usia satu tahun. Namun, bobot hidup domba lokal atau hasil perkawinan silang domba garut yang tidak murni lagi paling-paling hanya 30 kilogram," kata Rahmat.
Awal perkenalan Rahmat dengan domba garut dimulai tahun 2000 ketika ada warga yang hendak memelihara domba garut, tetapi tidak memiliki modal sama sekali. Bermodalkan lahan kosong yang dimilikinya di Ciampea, Cimande, Bogor, Rahmat lalu membelikan domba garut asli untuk warga tersebut.
"Awalnya saya beli 3 pejantan dan 11 betina.Ketiga domba jantan adalah legenda kontes di Jawa barat yang memang berasal dari keturunan yang bagus," kata Rahmat. Domba-domba jantan yang bernama Lipur, Dewa, dan Bagja itu dibeli dari seorang pemilik di garut, dengan harga Rp. 4 juta per ekor. Adapun setiap domba garut betina dibeli dengan harga Rp.1 juta-Rp.1,5 juta.
Ternyata warga yang meminta modal beternak itu tak sanggup melakukan budidaya dan mengembalikannya kepada Rahmat. "Daripada saya jual lagi, saya putuskan memelihara sendiri domba-domba itu," katanya.
Dengan memelihara sendiri domba menjelang masa pensiunnya dari sebuah badan usaha milik negara, Rahmat mengetahui seluk beluk domba garut. Dia mempelajrai sendiri teknik budidaya dari para pemilik dombar garut kontes. "Saya kemudian tahun, ternyata domba garut yang asli memang memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar bagi peternaknya. Domba garut yang tidak asli justru merugikan karena hasilnya tidak akan sesuai dengan jerih payah yang sudah dilakukan para peternak selama memelihara," kata Rahmat.
Melihat kenyataan itu, Rahmat lalu memulai proses pemurnian gen domba garut ketika memasuki masa pensiun pada tahun 2002. Waktu Rahmat kemudian tercurah seluruhnya untuk mempelajari dan mempraktikan pemurnian atau pemuliaan gen domba garut yang asli.
"Proses pemurnian dimulai dengan mengawinkan domba garut yang layak diduga memiliki gen bagus. Domba garut yang layak diduga memiliki gen bagus biasanya memiliki silsilah yang jelas," katanya.

Perkawinan murni

Domba garut yang ikut kontes biasanya memiliki catatan dengan bukti siapa indukannya. Proses perkawinan untuk pemurnian itu dilakukan hingga generasi keempat. Artinya, pada generasi kedua hingga keempat domba garut harus dikawinkan dengan pasangan yang kualitasnya bagus.
" Setelah generasi keempat gen domba garut sudah bagus secara permanen jika kemudian dikawinkan dengan domba garutlain yang asli," kata Rahmat.
Sama seperti manusia, domba juga dilarang kawin dengan domba lain yang memiliki hubungan darah karena akan menghasilkan gen yang jelek.
Dalam proses pemurnian itu, Rahmat mencatat dengan teliti silsilah keturunan dari Lipur, Dewa, dan Bagja, agar tidak terjadi perkawinan sedarah. "Ketiga keturunan dari pejantan itu saling saya kawinkan. Berdasarkan catatan yang saya miliki, tidak terjadi perkawinan sedarah sehingga kualitas domba yang dihasilkan setelah generasi keempat memang bagus," katanya.
Rahmat mengatakan, setelah mendapatkan domba garut dengan gen yang asli, budidaya menjadi sangat menguntungkan. Dari 14 domba garut yang dimurnikan itu, Rahmat membudidayakannya dengan sistem maro atau bagi hasil dengan peternak tradisional di Cimande, Kecamatan Cisaat, dan Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.
Awalnya dia mengajak peternak tradisional yang masih memelihara domba lokal atau domba garut yang tidak asli lagi. "Ternyata tidak sulit mengajak mereka memelihara domba garut asli. Setelah melihat bukti bahwa memelihara domba garut asli lebih menguntungkan, mereka percaya," kata Rahmat.
Rahmat memilih peternak tradisional yang umumnya tinggal tinggal di daerah pertanian. Beberapa peternak yang bermitra dengan Rahmat bahkan tinggal di kaki Gunung Gede Pangrango yang jauh dari dari pusat keramaian.
"Memelihara domba garut itu hanya perlu tiga hal :kemauan, rumput, dan air. Domba garut termasuk sangat tahan penyakit sehingga tidak perlu terlalu takut akan terserang penyakit yang mematikan," katanya.
Kalaupun terserang penyakit, tidak sulit mengobatinya. "obat-obatan tradisional sangat ampuh menyembuhkan penyakit yang menyerang domba garut. Buah pinang,misalnya manjur untuk mengobati cacingan atau daun serai untuk kutu kulit. Obat-obatan tradisional lain bisa diramu dari lengkuas atau daun cabai rawit," kata Rahmat.
tahun 2007 populasi domba garut asli milik Rahmat yang diternakan dengan sistem maro sudah mencapai 300 ekor. Jumlah itu berkurang 100 ekor pada tahun berikutnya karena dijual Rahmat menjelang Idul Adha.
Budidaya domba garut asli, kata rahmat, sangat menguntungkan dibandingkan dengan domba jenis lainnya. "Setiap delapan bulan domba garut betina bisa beranak dua.Ini amat menguntungkan para peternak yang hanya perlu mencari pakan sepulang dari bertani di sawah atau ladang. Domba bisa menjadi tabungan yang menguntungkan bagi mereka," kata Rahmat.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 28 OKTOBER 2009

Rabu, 04 Agustus 2010

Rahmat, "Dokter" Pelaras Nada Angklung

"kalau mau ambil foto saya, bolehlah, tetapi jangan ambil pisau saya," kata Ahmad Rosadi tertawa, sambil menyerut bambu di bengkel kerjanya, sentra industri Angklung Saung Udjo, Padasuka, Kelurahan Pasir Layung, Kecamatan Cibeunying, Bandung, Jawa Barat.

AHMAD ROSADI ALIAS RAHMAT

Lahir : Jakarta, 28 Agustus 1952
Alamat : Babakan Baru, Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Bandung
Istri : Elis Mintarsih (49)
Anak :
- Rizal Maulana (29)
- Fauzi Rimbawan (26)
- M Malik Andani (20)
- Taufik Hidayat (14)
Pendidikan :
- Sekolah Dasar, lulus tahun 1964
- SMP Kelas I tahun 1965

Oleh KHAERUL ANWAR dan GREGORIUS MAGNUS FINESSO

Di balik kelakar itu, Rahat, panggilan Ahmad Rosadi- menegaskan bahwa pisau serut adalah "nyawa" bagi rahmat dan para perajin angklung, untuk memotong dan memperhalus bambu bakal instrumen tersebut. Jika pisau diambil, hilang pula sumber nafkah mereka.
"Kalau sudah cocok (dengan pisau ini), dibeli dengan harga mahalpun saya tolak," ujar Rahmat, yang memiliki pisau serut "bermata", menyerupai sendok.
Saat menghadiri Kongres Kebudayaan Nasional 2008 di Jakarta, seseorang asal Papua menawar pisau yang dipakai Rahmat seharga Rp.500.000,- Tawaran itu serta merta ditolaknya.
Agaknya, pisau itu juga saksi sejarah yang menemani Rahmat sejak masih belajar membuat angklung hingga kini. Ia menjadi "dokter" pelaras nada angklung, karena keterampilannya sebagai penyetem angklung, pada dasawarsa 1990-an Rahmat kerap dipanggil grup kesenian angklung di Semrang, Yogyakarta, dan Salatiga, bahkan juga di Surabaya dan Pasuruan.
"Biasanya nada angklung baru normal setelah empat tahun. awalnya, Angklung mesti sering disetem sebab bambunya perlu beradaptasi dengan iklim," ungkap Rahmat. Dalam sehari, dia bisa membuat empat angklung siap pakai.

Proses panjang

Lelaki yang memiliki darah seni dari ayahnya-almarhum H Ahmad Djajadi, anggota Grup Samrah di Jakarta- itu belajar dari seorang tetangganya yang mahir membuat angklung.
Mang Udjo Ngalagena (almarhum), seniman legendaris kesenian angklung Sunda dan Daeng Sutigna (almarhum)yangmemelopori angklung diatonis, adalah guru yang sangat dihormati Rahmat.
Ilmu yang didapat dari para guru itu dia terapkan dalam karyanya. Tak pelak, banyak bambu yang terbuang karena salah potong atau tidak pas dengan nada yang diinginkan. Bahkan dalam proses belajar itu, "tangan saya sering luka dan terpaksa dijahit karena pisau sewaktu meraut bambu,"
Lambat laun, pengetahuan Rahmat bertambah, seperti ilmu mengenai semakin dekat jarak antarbuku sebuah bambu, semakin tinggi suara yang dihasilkan. Sebaliknya, kian jauh jarak antarbuku, kian rendah pula suara yang dihasilkan.
Pada tahun 1976, Rahmat, yang semula bekerja serabutan, mulai konsentrasi di sanggar kesenian Saung Angklung Udjo yang kini dpimpin Taufik Hidayat Udjo.
Menurut Direktur Operasional PT Saung Angklung Udjo, Satria Yanuar Angganasastra, produksi angklung sanggar itu mencapai 20.000 buah sebulan, dengan omzet sekitar Rp.2 miliar setahun. Alat musik tersebut juga diekspor ke Korea, Jepang, Thailand, Malaysia, kecuali untuk memenuhi permintaan dalam negeri.
Bisa dibayangkan kesibukan di sanggar tersebut, mulai dari petugas sanggar yang melayani hilir mudik wisatawan membeli cenderamata sampai kesibukan perajin pembuat angklung.
Ada suara parang dan gergaji yang beradu dengan bambu, denting suara angklung, dipadu suara rampak gendang, suling dan rebab. Tak ketinggalan lenggak lenggok tubuh remaja putra-putri yang tengah berlatih menari dan alunan kidung tatar Sunda, mengisi hari-hari di sanggar obyek wisata di Bandung tersebut.
Sentra tersebut menghidupi 300 perajin di sekitarnya, termasuk Rahmat. Meski perajin pada bagian kerja yang dia kuasai itu terbatas jumlahnya, justru disitulah rahmat punya pern penting, setidaknya menjaga kepercayaan konsumen agar produk angklung memenuhi standar kualitas ekpor.

Dipengaruhi rasa

Tugasnya memang penting, yakni sebagai penyelaras nada angklung. Rahmat mampu melahirkan produkyang patut dibanggakan. Kemampuannya terlihat di bengkel kerja itu. Di sebelah kursinya ada balira (atau kulintang) dan tuner elektrik sebagai pedoman pengukur nada. Meski sebenarnya, dia lebih mengandalkan pendengaran dan perasaan (feeling)-nya.
Tabung angklung akan dirautnya sampai selaras dengan indera pendengar dan "kata hatinya"
Kepekaan perasaan itu didapat Rahmat setelah selama 33 tahun lebih menekuni angklung. "yang paling enak membuat angklung itu seusai shalat subuh, pukul lima sampai pukul tujuh. dalam suasana batin tenang, pikiran jernih,dan lingkungan relatif sepi, nyetem sebentar saja langsung dapet," ucapnya seraya menepuk dada.
Karena saban hari menggeluti bunyi dan nada, Rahmat bisa menghapal di luar kepala nada suara tetangganya yang bicara, tanpa melihat wajah si pembicara. Hebatnya lagi, Rahmat tidak pernah belajar musik secara formal. Pendidikannya putus pada kelas I SMP.
Pengetahuan musik dia peroleh dari membaca buku kesenian, dan belajar dari orang lain. Pengetahuan membuat angklung yang susah didapat itu tidak membuat dia pelit menularkannya kepada teman sesama perajin.
"Modal saya adalah semangat dan keringat. Siapapun yangmau belajar, saya ajarkan. Kalaupun dari semangat dan keringat saya itu ada yang jadi terkenal, itu soal lain," ucapnya. dari menularkan ilmunya itu Rahmat justru memiliki banyak sahabat.
Dia enggan membeberkan manfaat ekonomi dari kerja kerasnya selama ini. Ia memberi ilustrasi, nafkah hariannya terpenuhi, juga bisa punya rumah. Tiga anaknya pun bisa bersekolah sampai perguruan tinggi, dan seorang di antaranya masih kelas II SMP.
Boleh dibilang keberadaan Rahmat di sanggar itu menyempurnakan teknis pembuatan angklung yang sudah dianggap sebagai pakem. Misalnya, menemukan titik simpul lubang tabung angklung, yang semula letaknya terlalu tinggi dan rendah sehingga suara yang dihasilkan masih fals.
Letak lubang titik simpul sekitar seperempat bagian dari panjang tabung diukur dari atas, yang juga berfungsi untuk menggantung kedua tabung angklung itu, digeser beberapa sentimeter sehingga melahirkan nada yang pas. Itu dia temukan setelahdua tahun menggeluti angklung.
Hampir separuh usia Rahmat habiskan untuk melestarikan alat musik warisan leluhur Sunda. Tak heran kalau rasa nasionalismenya terusik ketika produk budaya Tanah Air tersebut di klaim oleh bangsa lain.
Makanya, Rahmat ingin, "Orang-orang mau bermain angklung, memakai baju batik , sambil menyanyikan lagu 'Rasa Sayang-sayange', agar seni seni budaya kita tidak diakui oleh negara lain,"

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 10 NOVEMBER 2009