Selasa, 22 Maret 2011

Ernawati: Perajin Batik Mrico Bolong


ERNAWATI

Lahir : Magelang. 27 September 1976
Suami : Zainudin (42)
Anak :
- Erika Indah Puspita (15)
- Reza Dwi Anggraini (11)
Pendidikan terakhir : Sekolah Menengah Ekonomi Atas PGRI Sooko (1994)
Penghargaan :
- Juara I Lomba Desain Motif Batik ("Ayam Bekisar") dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur (2010)
- Juara 2 Kartini Award dari Surabaya Plaza Hotel (2008)
- Prasamya Kertanugraha kategori Wirausaha Perempuan dari Dinas Koperasi/UKM Provinsi
Jawa Timur (2008 dan 2009)

Tumpukan kain batik Mrico Bolong dengan pelbagai corak motif khas Mojokerto tertata rapi di etalase ruang tamu berukuran 3,5 x 2,5 meter. Etalase itu berada di rumah Ernawati (35), perajin batik Mrico Bolong di Kampung Surodinawan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

OLEH ABDUL LATIF

Bagi Ernawati, batik bukan hal baru. Sejak usia anak-anak, dia sudah mampu menorehkan canting di atas kain batik dengan motif Mrico Bolong.
Keterampilan sekaligus penguasaan membatik dia peroleh dari ibunya Ny Karmuah (60), yang dikenal sebagai perajin batik khas Mojokerto. Keterampilan membatik yang terasah sejak kecil itulah yang mendorong Ernawati mengembangkan usaha kecil batik Mrico Bolong di rumah tinggalnya.
"Sejak usia 9 tahun saya sudah bisa membatik. Saya pun sempat bekerja dan menjadi buruh, membatik di rumah Mak Maslukah," kata Ernawati, ibu dua anak.
Istri dari Zainudin (42) ini mulai mengembangkan kerajinan sekaligus membuka usaha kecil kerajinan batik Mrico Bolong khas Mojokerto tahun 1997 dengan modal Rp.500.000. Bersamaan dengan perkembangan usahanya, ia pun mengajak kaum ibu di kampungnya untuk menjadi pembatik sekaligus mitra kerja dalam pengembangan usaha kecil kerajinan batik Mrico Bolong khas Mojokerto.
"Sekarang ini ada lebih kurang 15 keluarga, khususnya ibu-ibu, yang menjadi mitra kerja usaha kecil-kecilan batik Mrico Bolong yang saya kembangkan," katanya. Sebelumnya, ernawati membekali mereka keterampilan membatik.
Motif batik Mrico Bolong yang menjadi dasar dari kekuatan sekaligus keunikan batik asal Mojokerto ini menjadi bagian dari kekayaan seni batik Nusantara. Motif batik Mrico Bolong bisa dipaduharmonikan dengan motif-motif batik apa pun.
"Motif batik Mrico Bolong itu saya kreasikan dengan motif-motif khas Majapahit. Sampai kini sudah lebih dari 40 motif batik Mrico Bolong yang saya ciptakan," kata Ernawati. Namun, baru sebagian saja yang dia patenkan. "Biaya mematenkan hak cipta relatif mahal," katanya.
Desain batik Mrico Mojo hasil ciptaan Ernawati yang sudah dipatenkan antara lain batik Mrico Bolong motif Sisik Gringsing. Mrico Bolong motif Lompong, Roro Renteng, Bunga Matahari, Pring Sedapur, Bata Ditata, Surya Majapahit, Lerek Kali, Buah Mojo, dan Sekar Jagad. Soal harga jual kain batik bervariasi, tergantung kualitas kain dan tingkat kesulitan membatik. Harga termurah Rp.350.000 dan termahal Rp.2,3 juta.
"Untuk mengerjakan batik Sekar Jagad khas Mojokerto membutuhkan waktu lebih kurang satu setengah bulan dan harganya Rp.2,3 juta. Kain batik Mrico Bolong motif Lompong harganya Rp.1,75 juta," kata Ernawati menjelaskan.

Memberdayakan perempuan

Dari usaha kecil kerajinan batik khas Mojokerto itulah Ernawati memberdayakan kaum perempuan dan memberikan sumber nafkah ibu-ibu rumah tangga di kampungnya.
Sejak usaha batik miliknya terus berkembang dengan omzet Rp.30 juta-Rp.40 juta per bulan, kini tak kurang 18 ibu dari 15 keluarga bergantung pada usaha kerajinan baik Mrico Bolong yang diusahakan Ernawati.
"Kalau kemampuan membatik mereka sangat baik dan tidak malas-malasan, mereka bisa mendapatkan penghasilan Rp.650.000 per bulan," katanya.
Ernawati mengeluhkan tingginya harga bahan baku kain batik saat ini. Padahal, katanya, harga kain batik sulit dinaikkan. Keadaan diperparah dengan banjir kain batik printing yang sangat murah.
"Harga bahan baku kain batik sangat mahal. Misalnya, kain primisima kualitas biasa Rp.585.000 per piece. Padahal, sebelumnya hanya Rp 350.000," ujar Ernawati.
Banjir batik printing di pasaran memukul perajin dan usaha kecil batik sebagaimana yang dirasakan Ernawati. "Harga kain batik printing yang hanya Rp.30.000 di pasaran menghancurkan usaha kecil batik tulis," katanya.
Hasil usaha kecil batik Mrico Bolong khas Mojokerto kreasi dan inovasi Ernawati memenuhi order pedagang batik Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Probolinggo, Madura, Bekasi, hingga Kalimantan.
"Beberapa hari lalu saya dapat telepon orderan dari Yogyakarta. Karena belum saya kenal, tidak saya penuhi," kata peraih penghargaan juara satu lomba desain batik atas karyanya, "Ayam Bekisar", tahun 2010 dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur ini.
Ernawati patut bangga dengan hasil kreativ-inovatifnya dalam mengembangkan batik Mrico Bolong di bumi Majapahit (Mojokerto).
Pasalnya, sejak tahun 2002 desain batik Mrico Bolong karyanya telah menjadi seragam wajib pegawai instansi pemerintah dan kantor-kantor dinas di wilayah kota dan kabupaten Mojokerto.
Kain batik ciptaan Ernawati menjadi bagian dari identitas masyarakat Mojokerto. Sebagai perajin sekaligus kreator dan inovator desain dan motof batik Mrico Bolong khas tanah Majapahit, Ernawati menyimpan obsesi besar untuk memasyarakatkan kain batik Mrico Bolong sebagaimana kain batik asal Yogyakarta, Solo, dan Madura yang lebih dahulu dikenal luas oleh Masyarakat.
Meski batik Mrico Bolong belum setenar batik dari daerah lainnya, Ernawati mengaku tidak patah arang. Dia terus berusaha menggapai obsesinya dengan mengikuti berbagai ajang pameran hasil kerajinan usaha kecil-menengah di Surabaya dan Jakarta.
"Kalau nanti keinginan saya punya show room batik Mrico Bolong di kota kelahiran saya sudah terwujud dan usaha ini berkembang pesat, baru saya berpikir untuk membuka cabang di kota-kota besar, seperti Surabaya dan jakarta," katanya.
Kini, Ernawati mengaku senang batik Mrico Bolong yang kaya motif diminati pembeli dari mancanegara.
"Sudah ada beberapa orang asing dari Jepang, Belanda, dan Australia yang membeli kain batik Mrico Bolong dan mereka datang ke rumah," katanya.
Ernawati amat berharap Pemerintah Kota dan Kabupaten Mojokerto ikut membantu memasyarakatkan dan mengenalkan batik Mrico Bolong.
"Saya sangat senang kalau pemerintah mau membantu mengenalkan batik Mrico Bolong yang saya kembangkan ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri," katanya.

dikutip dari KOMPAS, RABU, 23 MARET 2011

Senin, 21 Maret 2011

Ahmad Rapanie Igama: Menelusuri Jejak Samar Naskah Ulu


AHMAD RAPANIE IGAMA

Lahir : Jambang Tiga, Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, 23 Maret 1964
Istri : Dian Susilastri (44)
Anak :
- Tyasto Prima A (11)
- Tyastri Sunyaninda (9)
Pendidikan :
- SD Muhammadiyah No 2223 Samarinda
- SMP Negeri 3 Magelang
- SMA Negeri 3 Yogyakarta
- Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada
- Pascasarjana Sosiologi Pembangunan Sosial Universitas Indonesia
Pencapaian antara lain :
- Ahli Serat Ulu dan Aksara Kaganga
- Kepala Subbagian Tata Usaha Taman Wisata dan Budaya Kerajaan Sriwijaya

Menggali kembali naskah Ulu ibarat menelusuri jejak yang samar. Serat kuno peninggalan masyarakat bagian ulu Sungai Musi itu tercecer dalam masyarakat dan di luar negeri. Sering kali naskah beraksara Kaganga ditemukan dalam keadaan sepenggal-sepenggal hingga sulit diketahui isinya. Ketiadaan dana dan hilangnya generasi yang mampu membacanya ikut mempersulit upaya pemerhati serat Ulu dan aksara Kaganga Sumatera Selatan, Ahmad Rapanie Igama, untuk mendalaminya.

OLEH IRENE SARWINDANINGRUM

Rapanie, sapaannya, adalah salah satu dari sedikit orang Indonesia yang peduli pada aksara Kaganga atau aksara asli Sumatera bagian hulu Sungai Musi. Naskah Ulu ditulis dalam aksara Kaganga. Ia menjadi rujukan orang untuk mempelajari dan menelusuri aksara dan naskah yang nyaris punah itu.
Sejak 15 tahun lalu, lelaki yang telah menghasilkan beberapa karya sastra ini giat mempelajari aksara Kaganga dan naskah Ulu, meski tak ada imbalan untuk itu. Beberapa kali dia turut mengawal ekspedisi penelitian naskah Ulu yang diselenggarkan Balai Arkeologi Palembang kesejumlah daerah di Sumatera Selatan.
Berbagai kesulitan ditemui dalam penelusuran tersebut, mulai dari minimnya dana, kurangnya perhatian pemerintah, terputusnya generasi yang mampu membaca aksara Kaganga dan naskah Ulu, hingga keyakinan masyarakat yang membuat naskah Ulu tak dapat disentuh peneliti.
Berbagai kesulitan itu tak menghentikan niat Rapanie. Baginya, pencarian itu merupakan upaya "menengok" masa lalu guna membangun fondasi masa depan.
"Serat Ulu menyimpan kearifan lokal dan budaya Sumsel. Di sini tersimpan jati diri kita sebagai bangsa yang mulai kabur. Bangsa kita seperti bergerak tanpa akar identitas yang jelas. Akibatnya, kita sering gamang dan mudah terpengaruh budaya asing." katanya saat ditemui di kantornya, Taman Wisata dan Budaya Kerajaan Sriwijaya, Palembang.
Minatnya terhadap huruf dan naskah masyarakat asli Sumatera itu bermula tahun 1996. Ketika itu ia ditempatkan sebagai pamong budaya bidang filologi Museum Negeri Sumsel. Lulusan Satra Indonesia ini masih asing terhadap aksara Kaganga dan serat Ulu.
Meski lahir di Sumsel, ia tak pernah diajarai membaca aksara dan naskah asli masyarakatnya sendiri. hal yang umum terjadi di Sumsel. Rasa ingin tahunya tergelitik melihat beberapa koleksi serat Ulu di Museum Negeri Sumsel. Namun, tak satu pun orang yang dia temui di Sumsel dapat membacanya.
"Ada satu orang yang mengaku bisa membaca aksara Kaganga, tetapi, saat dia membaca serat Ulu, hasil pembacaannya berubah dari waktu ke waktu. Kata-katanya seolah tanpa makna. Dia bilang, serat itu buku mantra yang yang tak dimaksudkan bermakna. Saya sulit percaya karena setiap teks kuno pasti dibuat dengan makna tertentu dan biasanya merupakan ilmu yang dinilai layak ditularkan. Saya jadi bertekad mempelajarinya sendiri," katanya.
Rapanie lalu menyeberang batas provinsi untuk menemui pakar aksara Kaganga dari Bengkulu, Sarwit Sarwono. Dalam pertemuan itu, Sarwit meminjamkan hasil penelitiannya mengenai aksara Kaganga dan serat Ulu. Empat tahun mempelajari hasil penelitian tersebut, Rapanie bisa membaca aksara Kaganga, termasuk filologinya.
Minatnya menelusuri serat Ulu semakin besar . Dalam beberapa ekspedisi penelitian, ia dan tim ekspedisi serat Ulu Balai Arkeologi Palembang berhasil mendokumentasikan serat Ulu yang tersebar di masyarakat. Hasil dokumentasi berupa foto dan catatan ini dia pelajari.
Sebagian besar serat Ulu hanya dapat didokumentasikan karena minimnya dana untuk membeli dari pemiliknya. Selain itu, sebagian pemilik menganggapnya sebagai warisan keluarga atau sejenis azimat.
"Kalau dana ada, seharusnya serat-serat itu dibeli dari masyarakat sehingga pelestarian dan penelitian bisa dilakukan secara lebih baik," ucap Rapanie, yang menyesalkan minimnya perhatian pemerintah pada kelestarian serat Ulu. Aksara Kaganga juga jarang dikenalkan pada generasi muda.
Ia memperkirakan, setidaknya tiga generasi telah putus dari ingatan terhadap alfabet yang terdiri dari 28 aksara ini. Meski serat Ulu masih disimpan masyarakat, hampir semua pemiliknya tak bisa membaca serat-serat itu.
Naskah Ulu yang diperkirakan banyak ditulis antara 300-500 tahun lalu itu banyak yang rusak atau tercerai-berai karena dibagi sebagai warisan. "Oleh masyarakat, naskah ulu ini ada yang tak boleh disentuh, ada yang hanya dibuka di waktu tertentu, dan ada yang harus menyembelih kerbau dulu," tutur Rapanie.
Padahal, serat itu menyimpan ilmu praktis dan kearifan lokal. Beberapa serat berisi ilmu pengobatan, strategi berperang, dan ilmu agama. Naskah dari jenis kaghas (naskah di kulit kayu), gelumpai (di bilah bambu), buluh (di gelondongan bambu), dan naskah yang tertulis di tanduk seolah tak menjadi bagian sejarah Sumsel. Padahal, naskah ini relatif asli.
Berdasarkan sejarah, banyak pengaruh bangsa asing seperti India, Arab, China, dan Belanda di Sumsel. Namun, kekuasaan asing biasanya berpusat di hilir Sungai Musi. Di hulu Sungai Musi budaya asli masyarakat bertahan, yang salah satunya didokumentasikan dalam serat Ulu.
"Kaganga disebut beberapa ahli sebagai aksara proto-Sumatera yang dikembangkan masyarakat hulu Sungai Musi. Aksara yang bentuknya kotak-kotak ini digunakan sebagian masyarakat di Bengkulu, Sumsel, hingga Jambi," katanya.

Mengenalkan kembali

Upaya Rapanie memperkenalkan kembali naskah Ulu dituangkan dalam buku kompilasi cerita sejarah/purbakala Sumsel. Ia meyakini masih banyak ilmu praktis yang dituliskan dalam naskah Ulu. Pertengahan 2010, tim ekspedisi menemukan serat Ulu berisi diagram penanggalan, arah matahari, dan ilmu bercocok tanam.
Dari naskah di Museum Negeri Sumsel, ia mengetahui kuatnya multikulturalisme dalam masyarakat ratusan tahun lalu. Naskah beraksara Kaganga yang diperkirakan dari abad XVI itu berisi riwayat Nabi Muhammad SAW, dengan bahasa Jawa. Ini mencerminkan keberagaman budaya yang saling melengkapi, tanpa menghancurkan satu sama lain. Nilai ini dapat menguatkan toleransi bangsa yang semakin terkoyak.
"Saya menduga, ada naskah Ulu yang berisi ilmu bangunan karena dulu semua rumah adat menggunakan sistem bongkar pasang," katanya.
Kesulitan pelestarian semakin bertambah dengan minimnya ahli yang bisa membaca aksara Kaganga. Terasa ironis karena pelestarian dan penelitian naskah Ulu justru dilakukan negara lain. Di Belanda diduga ada 182 naskah yang telah diteliti ahli Belanda.
"Saat bangsa sendiri melupakan, bangsa lain melestarikan dan menelitinya," kata Rapanie.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 22 MARET 2011

Minggu, 20 Maret 2011

Nelvi dan Zulkifli: Pejuang Songket dari Padang


NELVI

Lahir : Pandai Sikek, Sumatera Barat, 25 Juni 1970
Pendidikan :
- SDN Pandai Sikek, Sumbar
- MTsN Koto Baru, Sumbar
- SMAN Padang Panjang, Sumbar
- IKIP Padang

ZULKIFLI

Lahir : Padang, Sumataer Barat, 16 Maret 1960
Pendidikan :
- SD Adabiah, Padang
- SMP Adabiah, Padang
- SMAN 1, Padang
- Jurusan Sastra Inggris, IKIP Padang, tak tamat
- Ekonomi, Universitas Andalas, Padang, tak tamat
- Antropologi, Universitas Andalas, Padang, lulus 1988
- Magister Manajemen, Universitas Negeri Padang, lulus 2006

Pasangan Nelvi dan Zulkifli adalah wirausaha mandiri yang tumbuh dari bawah tanpa gemerlap fasilitas apapun dari pemerintah atau kredit industri perbankan. Setelah berhasil, keduanya berbagi resep kesuksesan, bahkan modal, untuk mencetak sejumlah pengusaha mandiri baru.

OLEH INGKI RINALDI

Zulkifli kerap memberikan ceramah kewirausahaan, memotivasi orang untuk berusaha secara mandiri. Nelvi pun tak jarang menyambangi komunitas wirausaha baru disejumlah kabupaten di Smuatera Barat.
"Tak ada jalan instan dalam berwirausaha," kata Nelvi.
Semua itu dilakukan pasangan ini nyaris dalam "diam". Nelvi sering disangka pegawai toko oleh pelanggan yang hendak membeli kain tenun songket produksinya.
"Kadang saya ditanya, sudah berapa tahun kerja di sini? Ya saya jawab saja, baru dua bulan," selorohnya.
Selain tak sungkan membeberkan ssegala ihwal soal bisnis, mereka dengan senang hati juga menjadi "rahim" bagi lahirnya wirausaha baru.
Dengan modal belasan juta rupiah yang mereka gulirkan, mereka telah melahirkan sejumlah pengusaha baru yang mandiri.
Menurut Zulkifli, relatif sulitnya menumbuhkan wirausaha baru setidaknya disebabkan tak ada informasi yang memadai dari pemerintah soal peluang usaha. Selain itu, keinginan cepat kaya cenderung menjadi penyakit bagi sebagian wirausaha pemula.
"Untuk sukses dalam wirausaha setidaknya butuh waktu puluhan tahun," kata Zulkifli.
Nelvi mengenang masa puluhan tahun lalu saat memulai usaha di bidang pembuatan dan penjualan tenun songket, bordir, dan beragam penganan khas Minang. Sama seperti banyak saudara dan teman sebayanya, anak kedua dari lima bersaudara asal Nagari Pandai Sikek, KecamatanX Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, ini sejak kecil akrab dengan tenunan songket.
Nagari Pandai Sikek tempatnya ebrasal adalah salah satu penghasil tenun songket di Sumbar selain Nagari Silungkang Duo, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, yang diketahui menjadi muasal penyebaran industri kecil penghasil tenun songket.
Dulu, barang dagangannya kerap ditolak sejumlah toko di Kota Padang. Ia mengibaratkan tantangan itu seperti cemeti yang melecutnya untuk semakin maju.
"Banyak orang tak sabar dengan penolakan seperti itu. Namun, dalam berusaha, justru cobaan itu membuat kita lebih kuat," ujar Nelvi.

Kejelian

Sejak kuliah pada Jurusan Kimia IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang) tahun 1989, Nelvi sudah memulai usahanya. Ia menawarkan produksi tenun dari kampungnya ke sejumlah toko di Kota Padang. Ia juga mendesain beberapa motif tenun yang diproduksi di Nagari Pandai Sikek. Kreativitas dan kejelian dalam inovasi menjadi kata kunci lain bagi Nelvi selain kesabaran dan keuletan. Selain songket, ia juga memproduksi aksesoris, seperti dompet dan gantungan kunci. Awalnya,bahan untuk produksi sampingan itu ia ambil dari songket yang tak terpakai.
Tahun 1992, dia berhasil meyakinkan semua toko di Kota Padang. Bahkan, produknya mampu menembus gerai di bandara.
Tahun 1994, Nelvi lulus kuliah. Namun, karena sakit, dia tak lulus tes wawancara menjadi pegawai negeri sipil di Departemen Agama . Sejak itulah, Nelvi yang semula ingin menjadi guru semakin menekuni usahanya. Dia terus melakukan ekspansi, terutama setelah bertemu Zulkifli, pemilik toko yang lalu mempersuntingnya pada 1997.
Agak berbeda dengan Nelvi, Zulkifli mulai berwirausaha tahun 1978 dengan mengelola toko yang membeli kain tenun songket. "Dulu ada toko-toko lain yang menolak songketnya (Nelvi). Kalau saya, saya bilang bagus terus dan saya beli," seloroh Zulkifli.
Zulkifli menyebut keterlibatannya di dunia wirausaha sebagai peristiwa "tersesat ke jalan yang benar". Lelaki pemegang gelar magister manajemen dari Universitas Negeri Padang ini sempat menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Padang (1985-1987).
"Sekarang saya ingin melanjutkan lagi ke jenjang S-3," kata Zulkifli yang menolak diambil foto dirinya.
Ia menekankan, salah satu sifat yang juga mesti dimiliki wirausaha selain kesabaran dan daya tahan tinggi adalah keinginan untuk terus belajar. Di samping itu, mesti jelas tujuan dan fokusnya.
"Seperti naik taksi, kalau tidak ada tujuan, mana mau sopir taksi membawa kita, kan?" katanya.
Skala bisnis keduanya makin membesar dengan merambah bisnis penganan khas Minangkabau. Sistem bagi hasil yang adil diupayakan pasangan pengusaha ini dengan terlebih dulu membeli semua produk yang ada.
Seleksi pasar yang kemudian menentukan produk mana yang layak diteruskan untuk dijual dan produk mana yang harus menyingkir. Namun, untuk produk yang belum layak, mereka tetap berkenan memberikan masukan agaar menjadi lebih baik.
"Dulu, awalnya toko saya hanya berukuran 4 meter x 8 meter (32 meter persegi), sekarang menjadi 250 meter persegi," tutur Zulkifli.
tahun 2000, mereka membuka sebuah tempat usaha baru di kawasan Sei Beremas, Kota Padang. Sejumlah karyawan Pertamina yang kerap mampir di toko barunya itu lantas menawari mereka program binaan kewirausahaan.
Kini, mereka mengelola 3 tempat usaha di Kota Padang, 2 tempat usaha di Nagari Pandai Sikek, dan 1 tempat usaha di Kota Bukittinggi. Kejelian memanfaatkan peluang pasar dan menunda kesenangan adalah modal mereka berdua untuk bertahan dalam masa-masa sulit.
Saat industri pariwisata Sumbar dihajar gempa bumi pada 30 September 2009, misalnya, omzet bulanan pada salah satu toko mereka di Padang menurun drastis, dari sekitar Rp.300 juta menjadi hanya sekitar Rp.150 juta per bulan.
"Banyak pedagang yang mengeluh pendapatannya sekarang turun. Bagi kami, itu biasa saja dalam bisnis karena ada pasang surutnya," ujar Zulkifli.
Rahasia mereka bisa relatif mudah melewati masa-masa sulit ialah menerapkan pola hidup sederhana dan hanya mengonsumsi barang-barang yang benar-benar diperlukan. Silaturahim juga menjadi kunci sukses lain. Tanpa sungkan mereka turun langsung membantu membersihkan sekolah yang tak jauh dari tempat tinggal mereka sekarang.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 21 MARET 2011

Kamis, 17 Maret 2011

Komar, berterima Kasih kepada Bau


BIODATA

Nama : Komar Purnama
Lahir : Sumedang, Jawa Barat, 14 Maret 1966
Istri : Diah Ismawati
Anak :
- Ita Purnamasari
- Regina Intan Purnama
Pendidikan :
- Sekolah Dasar Negeri Haurngombong I, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang,
Jawa Barat.

Komar Purnama berterima kasih kepada bau. Karena bau, dia dan warga Desa Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, bisa memasak dengan kompor gas. Mereka pun tidak perlu khawatir bakal kegelapan saat aliran listrik mati karena ada genset berbahan bakar biogas yang siap menggantikannya.

Oleh DOTY DAMAYANTI

Kisahnya berawal ketika enam tahun lalu para tetangga protes atas bau kotoran sapi perah yang dipelihara Komar. "Saya jadi enggak enak hati sama mereka. Saya lalu mencoba mencari tahu bagaimana caranya supaya bau kotoran sapi itu bisa hilang," ujar Komar.
Rumah Komar berada di atas lahan yang ditinggikan. adapun kandang sapinya yang relatif terawat bersih ada di kolong rumah. Suara lenguhan sapi terdengar jelas dari teras dari atas teras kayu tempat penghuni rumah biasa berbincang.
Sampai suatu hari Komar menonton tayangan tentang pemanfaatan kotorn sapi untuk biogas di televisi. Dia merasa tertarik untuk mencobanya.
Waktu itu, tahun 2003, harga peralatan untuk membuat biogas sekitar Rp.1.5 juta, atau sama dengan harga seekor sapi. "Ini terlalu mahal buat saya," kata Komar.
Ia lalu memutar otak, mencoba membuat peralatan biogas sebagaimana yang ada di brosur yang didapat Komar, dengan menggunakan bahan-bahan bekas.
Konsep pembuatan biogas sebenarnya cukup sederhana. Gas metana dihasilkan dari kotoran sapi yang disimpan di dalam reaktor atau tempat penampungan. Tempat penampungan bisa terbuat dari beton atau plastik. Gas yang dihasilkan lalu dialirkan ke tempat penyimpanan.
Idealnya, tempat penyimpanan gas terbuat dari fiber. Namun, bahan plastik pun bisa digunakan. Dengan modifikasi bahan-bahan yang lebih sederhana itu, Komar hanya menghabiskan biaya Rp.450.000 untuk satu set peralatan biogas.
Setelah tiga bulan mencoba barulah dia berhasil. Kotoran sapi peliharaannya dapat menghasilkan biogas yang bisa dipakai untuk memasak. Kotoran sapi yang sebelumnya menjadi limbah itu tidak hanya hilang baunya, tetapi juga bisa bermanfaat.
Para tetangga yang tadinya protes atas bau kotoran sapinya sekarang ikut merasakan hasilnya. "Mereka yang enggak punya sapi sampai antre buat ngambil kotorannya, untuk diolah menjadi biogas," cerita Komar.

Bekerja serabutan

Belakangan ini di Desa Haurngombong ada sekitar 100 kepala keluarga yang sudah menggunakan biogas untuk memasak. "Kami sudah sejak empat tahun lalu tidak lagi 'mencium' bau minyak tanah," kata Komar sambil tertawa.
Padahal, Komar sebenarnya tidak punya latar belakang keahlian peternakan. Pendidikan formalnya sampai lulus sekolah dasar. Itu pun kini dia tidak lagi bisa menunjukkan ijazahnya karena tanda lulus SD itu turut hangus ketika rumah orangtuanya terbakar.
Pendidikan formal yang "minimal" membuat kesempatan kerjanya pun terbatas. Komar pernah bekerja serabutan, mulai dari menjadi buruh bangunan, pelayan toko, sampai sopir angkutan kota.
Namun, rasa ingin tahu dan keinginan yang besar untuk mengubah nasib mendorong ayah dua anak ini tak berhenti belajar. Melihat salah satu kerabatnya mampu membeli sapi melalui kredit dari bank, Komar turut tergerak untuk mencoba beternak sapi perah.
"Saya menumpang kredit sapi pada saudara, tahun 1993. Awalnya saya punya dua sapi, kemudian beranak pinak," ceritanya.
Pekerjaan memelihara sapi dilakukan Komar sembari tetap menjadi sopir mobil sewaan. Setelah beberapa tahun sapi miliknya bertambah menjadi lima ekor. Hewan peliharaannya itu lalu dia jual pada tahun 2001 untuk membeli mobil bak terbuka yang kemudian dia sewakan.

Relatif murah

Keberhasilan peralatan biogas dengan harga relatif murah bikinan Komar itu terdengar sampai ke Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung. Kerja sama pembinaan di antara kedua pihak kemudian disepakati pada 2006.
Lewat kerja sama itu Komar menjadi tahu lebih banyak tentang pemanfaatan biogas. Setidaknya dibutuhkan dua ekor sapi untuk menghasilkan kotoran dalam jumlah yang memadai agar produksi biogas stabil.
"Kalau gasnya mau stabil, minimal volume kotoran sapi di satu penampungan itu 5 meter kubik. Gas yang dihasilkan bisa menyalakan satu kompor selama 2-3 jam," jelasnya.
campuran pakan juga berpengaruh pada kualitas gas yang dihasilkan. Sapi yang pakannya diberi campuran ampas tahu dan konsentrat menghasilkan kotoran dengan kandungan metana lebih tinggi daripada sapi yang hanya makan rumput. Biogas yang dihasilkan pun lebih baik.
"Kalau untuk memasak, memang tidak terlalu terlihat perbedaannya. Tetapi, begitu dipakai untuk genset, hasilnya kelihatan lebih baik," katanya.
Ketika sapi peliharaan warga setempat semakin banyak, penggunaan biogas pun meluas tidak hanya untuk memasak. Gas berlebih itu sayang kalau tidak dimanfaatkan. Kebetulan suatu kali Komar bertemu seorang manajer di PT Perusahaan Listrik Negara wilayah distribusi Jawa Barat dan Banten. Dia lalu mendapat bantuan 10 genset.
Setiap genset rata-rata memiliki daya 450 watt. Genset itu dinyalakan pada malam hari atau ketika terjadi pemadaman listrik. "Lumayan, warga jadi bisa menghemat biaya listrik sampai setengah dari tagihan biasanya," katanya.
Komar telah memetik hasil manis dari usahanya. Di kandangnya ada 16 ekor sapi. Dari jumlah itu, delapan sapi milik dia, sedangkan sisanya adalah milik warga yang dititipkan kepadanya.
Ia juga tidak perlu lagi bersusah payah membersihkan kotoran sapi sendirian. Ada tiga pekerja yang mengurusnya. "Alhamdulillah, dulu saya bekerja pada orang, sekarang saya bisa mempekerjakan orang," ucapnya.
Hari-hari Komar belakangan ini disibukkan dengan membagi ilmu tentang penggunaan biogas di berbagai kota, seperti Semarang, Malang, sampai Pontianak. Ia baru saja kembali dari Malang, memberi pelatihan kepada kelompok peternak binaan PT Perusahaan Listrik Negara.
"Di Pontianak, potensi biogasnya luar biasa karena banyak lahan gambut. Ibaratnya, tinggal ngebor di bawah rumah, kita sudah dapat gas. Masalahnya, masyarakat khawatir terjadi kasus semburan lumpur seperti di Sidoarjo. Padahal bisa aman karena dalamnya tidak sampai 40 meter."
Biogas sebenarnya lebih efektif dipakai pada suhu ruangan diatas 30 derajat celsius. Menurut Komar, daerah pantai utara Jawa juga berpotensi untuk pengembangan biogas.
"Sayang masyarakat setempat tidak terbiasa mengandangkan sapi," kata pria yang suka memakai motor trail menjelajahi wilayah Sumedang sampai ke Bandung ini.
Komar mengaku masih menyimpan cita-cita memperluas penggunaan biogas. Kalau ada dana, dia ingin membikin konstruksi biogas yang bisa menampung 20 meter kubik-30 meter kubik kotoran sekaligus. Dengan kapasitas yang lebih besar, warga tidak perlu lagi mengambil kotoran sapi untuk disimpan di reaktor sendiri.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 2 JULI 2009

Ferry J Ngantung: Memadu Iridologi dengan Terapi Makan


FERRY J NGANTUNG

Lahir : Gorontalo, 18 Februari 1963
Istri : Fatmawati (41)
Anak : Noel (24)
Pendidikan :
- SD Matesah, Maesa, Gorontalo
- SMP Negeri 1 Gorontalo
- SMA Negeri 1 Gorontalo
- Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (1981-1987)
Pekerjaan :
- Ahli makanan pada International Dinning Center Port Klang, Malaysia (1994-1996)
- Pengelola Rumah Gizi "natural Green" (1996-sekarang)

Seiring kemajuan zaman, cara hidup manusia mempertahankan atau memulihkan kesehatan didukung teknologi makin lengkap. namun, Ferry J Ngantung (48) menyederhanakan dengan mengacu pada pedoman Hippocrates. Bapak Pengobatan pertama itulah yang memaklumkan pada tahun 431 sebelum Masehi, "Jadikanlah makanan sebagai obat".

OLEH NINA SUSILO DAN NAWA TUNGGAL

"Benahi dapur kita agar bisa hidup sehat," kata Ferry ketika ditemui di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.
Membenahi "dapur" yang disebut Ferry bukanlah dalam artian fisik. yang dimaksudkannya adalah meliputi cara menyediakan dan memilih bahan baku, lalu mengolah dan menyajikannya sebagai makanan yang menyehatkan tubuh.
"Pertahankan air alami dari setiap bahan makanan yang ingin diolah," ujar Ferry, mencontohkan salah satu cara terapi makan. Semua bahan makananpastilah mengandung air. Seperti air alami pada ikan, Ferry tidak menganjurkan pengolahan dengan cara menggorengnya hingga kering.
Ferry lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (IPB), tahun 1987. Pada tahun 1996 ia membuka usaha rumah terapi makan dengan label Rumah Gizi "Natural Green" di Surabaya.

Iridologi

Sebelum membuka usahanya, Ferry bekerja di International Dinning Center Port Klang, Malaysia. Di sana Ferry meraih keahlian di bidang khasiat makanan. Ia menjadi ahli makanan.
Ferry akhirnya memutuskan untuk berusaha sendiri atau berdikari di Tanah Air dan membuka Rumah Gizi pada tahun 1996. Beberapa bulan kemudian ia kembali ke Malaysia. Namun, kali ini tujuan Ferry hanya untuk belajar iridologi selama enam bulan.
Sepulangnya kemudian, Ferry memadukan pengetahuan iridologi dengan terapi makan. Iridologi ditemukan Ignatz von Peczely (1826-1911) dari Budapest, Hongaria.
Iridologi sebagai pengetahuan analis susunan iris mata yang menggambarkan kondisi organ tubuh. Tidak hanya organ pada tubuh manusia karena Peczely sendiri menemukan pengetahuan ini pada awalnya dari mata burung hantu.
Peczely pada usia 11 tahun pernah merawat burung hantu yang patah kakinya. ia memerhatikan, pada iris mata burung hantu itu terdapat garis hitam yang berangsur-angsur menghilang seiring masa kesembuhannya.
"Saya memanfaatkan iridologi sebagai petunjuk untuk terapi makan," kata Ferry
Ferry menjadikan iris mata ibarat layar data yang mungil. Layar data mungil yang menyediakan informasi kondisi tubuh seseorang.
Lebih jauh dari itu, Ferry memprihatinkan hal selama ini ketika orang sakit ingin menjadi lebih sehat sering diberi pantangan banyak jenis makanan. namun, ia tanpa diberi pengetahuan untuk memahami sebenarnya banyak makanan lainnya yang juga enak dan baik untuk dimakan.

Terus berkembang

Usaha Ferry didukung istrinya, Fatmawati (41). Usaha Rumah Gizi itu dapat diterima masyarakat. Ini terbukti hingga sekarang, sekitar 15 tahun, bisa bertahan dan usahanya masih terus berkembang.
Pada awal menjalankan usahanya di Surabaya, Ferry juga membeli lahan seluas 3.000 meter persegi di Pacet, Mojokerto. Lahan tersebut untuk menunjang produksi sayur-mayur bebas pestisida dan pupuk kimia. Sekarang lahannya bertambah luas menjadi lebih dari 10.000 meter persegi.
Tidak itu saja, di Pacet Ferry juga memelihara kambing. Saat ini dia memiliki sedikitnya 30 kambing untuk diambil susunya. Susu kambing kemudian diolah menjadi yoghurt.
Namun, dia memproduksi yoghurt tidak melulu berasal dari susu kambing miliknya. Petani di sekitar lahan yang dimiliki Ferry, bahkan sampai Trawas, Mojokerto, juga mendukung pemasokan susu kambing. Sedikitnya sampai 300 kambing milik para petani menyediakan susu untuk diolah menjadi yoghurt.
"Yoghurt dari susu kambing jarang menimbulkan alergi," kata Ferry.
Sumber karbohidrat rendah kalori juga menjadi perhatian Ferry. Untuk mendapatkan pasokan sumber karbohidrat rendah kalori tersebut, dia sudah mulai mengembangkan budidaya umbi-umbian.
"Sekarang ini beras menjadi makanan pokok yang selalu ditekan harganya supaya tetap murah dan terjangkau setiap lapisan masyarakat. Kalau dipertahankan demikian, kelak tidak akan ada lagi mengonsumsi umbi-umbian yang justru bisa menyehatkan," katanya.
Ferry menempatkan pedoman makanan sehat adalah obat dari Hippocrates disetiap brosur usahanya.Menjadi nyata disajikan di Rumah Gizi seperti penganan wingko labu, lumpia tuna, lemet pisang, atau klepon kurma.
Kemudian menu makan berat seperti sup saraf, sup persendian, lontong omega, atau tuna panggang. Ada minuman jus sayur dan buah.
Pedoman memasaknya adalah tanpa penyedap makanan, tanpa garam, tanpa gula, dan tanpa minyak goreng. Selain itu, proses memasak makanan tersebut juga harus mmempertahankan air alami bahan makanan sebanyak-banyaknya. Untuk mendapatkan rasa asin diperoleh dari rumput laut, sedangkan rasa manis dari buah-buahan.
Ferry juga mengenalkan istilah "MUSA" yang merupakan singkatan dari kata "murni, utuh, segar, dan alami". Istilah tersebut merupakan pedoman untuk memakan sesuatu supaya bermanfaat menjadi obat. Namun, itu harus disertai pengetahuan tentang jenis dan campuran yang tepat, pengolahan yang baik, waktu makan, dan teknik memakan dengan cara mengunyah sampai sehalus-halusnya.
"Sebelum menempuh terapi makan, terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan manfaat setiap jenis bahan makanan," kata Ferry.
Apa yang ditempuh Ferry memang dapat mengundang banyak perdebatan di antara praktisi kedokteran dan terapis kesehatan lainnya. Namun, Ferry memutuskan telah menjadi sosok setia yang mengawal dan mengamalkan pengetahuan kuno Bapak Pengobataan Hippocrates. Ia mengawal pengetahuan pengobatan yang dimaklumkan sekitar 2.500 tahun silam.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 18 MARET 2011

Rabu, 16 Maret 2011

Sidik Jari Ngurah dalam Museum


BIODATA

Nama : I Gusti Ngurah Gede Pemecutan
Lahir : Denpasar, Bali, 4 Juli 1936
Istri : Anak Agung Sagung Sayu Alit Puspawati
Anak :
- Anak Agung Sagun Meiliawati
- Anak Agung Ngurah Bagus Mahaputra
Penghargaan : Dharma Kusuma Madya dari Provinsi Bali

Tahun 1967 seorang pelukis mendatangi studio lukis I Gusti Ngurah Gede Pemecutan di Kuta, Bali. Mereka memutuskan untuk melukis bersama di kawasan pantai. Ngurah tiba-tiba marah karena si pelukis kelihatannya berbohong. Lukisan karya pelukis itu tak sebaik sketsa-sketsa yang ditunjukkan sebelumnya kepada Ngurah. Oleh PUTU FAJAR ARCANA Kemarahan itu rupanya berimbas buruk pula terhadap karya Ngurah Gede Pemecutan. Lukisan tari barisnya tidak berhasil sebagaimana yang dia inginkan.
"Dalam keadaan marah, kemudian saya rusak lukisan dengan jari-jari, lalu saya tinggalkan," tutur Ngurah, akhir Agustus 2009 di Denpasar.
Beberapa lama berselang, ketika ia bengong dalam studionya, lukisan tari baris itu tampak berbeda. "Saya malah ingat apa yang dilakukan Affandi dengan tangannya. Mulailah saya melukis dengan jari telunjuk," ceritanya.
Kebetulan Affandi dulu sering berkunjung ke rumah pelukis Bambang Sugeng, yang letaknya di depan rumah Ngurah di kawasan Tanjungbungkak, Denpasar.
"Saya sering mengintip mereka ketika ngobrol tentang bagaimana mereka melukis," ujar Ngurah.
Boleh dikata sejak "kecelakaan" karena marah itu, lahirlah lukisan-lukisan yang menggunakan teknik sidik jari. Lukisan-lukisan karya lelaki kelahiran 4 Juli 1936 ini sebenarnya termasuk dalam aliran pointilisme, gaya yang menyatukan titik-titik ssebagai elemen dasar membangun visualisasi.
Bedanya, jikasebagian besar penganut pointilisme menggunakan kuas untuk membentuk titik, Ngurah Gede Pemecutan secara konsisten menggunakan telunjuk. Pada bulatan-bulatan di bidang kanvas secara tidak sengaja tertempel sidik jari si pelukis.
"maka itu lukisan saya tidak bisa dipalsu," kata Ngurah, tertawa pelan.
Lukisan-lukisan sidik jari karya Ngurah pertama kali justru diapresiasi seorang wartawan dari Amerika Serikat yang kemudian menuliskannya dalam majalah terbitan negeri itu, Horizon. Majalah itulah yang membuat tergugah pihak konsulat AS di Surabaya.
"Tahun 1969 saya sudah memamerkan lukisan-lukisan sidik jari di Konsulat Amerika di Surabaya," kenang Ngurah.

Istimewa

Mungkin lantaran tak banyak memiliki pengikut, lukisan sidik jari temuan Ngurah Gede Pemecutn tak pernah mendapat porsi pembicaraan yang memadai dalam membeber sejarah seni rupa modern di Bali.
Sejarah itu selalu dimulai dari pembicaraan upaya-upaya Rudolf Bonnet dan Walter Spies dalam membentuk kelompok Pita Maha di Ubud tahun 1930-an, yang melahirkan gaya Ubud dan Batuan. Lalu, Arie Smit yang memperkenalkan Young Artist tahun 1960-an, dan meloncat pada lukisan-lukisan karya para anggota Sanggar Dewata yag dipelopori Nyoman Gunarsa tahun 1980-an. Tak ada sebabak pun menyinggung peran Ngurah Gede Pemecutan.
Ngurah ibarat seorang otodidak yang tak memiliki juru bicara. Oleh karena itu tak banyak yang berminat menekuni gaya melukisnya.Padahal, seniman ini pernah menjadi penata lukisan koleksi Istana Presiden Tampaksiring semasa Bung Karno.
Ia tidak berhenti pada temuan sidik jari sebagai teknik melukis, tetapi secara tegar mengumpulkan seluruh karyanyanya sejak di bangku SMP hingga kini dalam satu museum.
"Cita-cita membangun museum itu sudah sejak kecil. Saya cuma ingin museum jadi wahana untuk mengenal jejak peradaban, dan yang penting menjadi ruang ekspresi dari generasi ke generasi," tutur Ngurah.
Maka, tahun 1995 berdirilah Museum Lukisan Sidik Jari di atas tanah seluas 1.792 meter persegi di Jalan Hayam Wuruk, Tanjungbungkak, Denpasar.
Dalam museum ini dikoleksi 200 karya Ngurah Gede Pemecutan, berupa lukisan dan benda-benda kerajinan, termasuk peralatan melukis dari ijuk, bulu ayam, sampai kuas dalam pengertian terkini.
Museum ini juga menyimpan karya Ngurah Pemecutan sejak masa SMP tahun 1954 serta karya semasa ia menjadi ilustrator Mingguan Bintang Timur tahun 1959 di Malang, jawa Timur.
Selain rumah tinggal keluarga Ngurah Gede Pemecutan, di komplek ini juga terdapat wantilan, bangunan serba guna bergaya Bali, serta sebuah panggung terbuka.
Di situlah lelaki keturunan raja dari Puri Pemecutan Denpasar ini membangun simpul aktivitas budaya. Ia mengundang para guru untuk mengajar melukis dan menari bagi mereka yang berminat serta memberikan kepada siapa saja untuk menggunakan wantilan secara gratis.
"Silahkan dipakai pentas, seminar, pameran, atau kegiatan lain. Saya tak pernah meminta ongkos," ujarnya.
Keinginan Ngurah Gede Pemecutan sederhana. Di Indonesia museum selalu menjadi tempat menyimpan barang antik yang berdebu dan hanya sesekali dikunjungi.
"Saya ingin, selain museum, di sini juga ada aktivitas kebudayaan," kata Ngurah. Seluruh bangunan dan aktivitas kebudayaan di Museum Lukisan Sidik Jari dibiayai dari hasil penjualan lukisan.
"Seluruhnya saya bangun dan biayai dari hasil lukisan. Saya berpikir, hasildari kreativitas kebudayaan harus dikembalikan pada asal-muasalnya," ujar Ngurah Gede Pemecutan yang turut andil dalam penataan dan pengisian Museum Mandara Giri di Komplek Taman Budaya Denpasar.
Ngurah bahkan menjadi tim inti yang pertama-tama meletakkan dasar penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali tahun 1979 silam.
"Waktu itu Gubernur Bali, almarhum Pak Mantra (ProfDr Ida Bagus Mantra), minta saya menangani pameran kerajinan," katanya.
Kebetulan Ngurah Gede Pemecutan juga bekerja di Departemen Perindustrian yang mengurusi pengembangan kerajinan Bali. Dari tangannyalah kemudian meluncur desain-desain awal bentuk-bentuk kerajinan fungsional, seperti tempat tisu, tempat pensil, dan bingkai cermin. Berbagai bentuk desain kerajinan itu juga tersimpan rapi di museumnya.
Meski kini sudah berumur, Ngurah Gede Pemecutan seperti tak mau berhenti. Ia tetap melukis dan menuliskan kata-kata puisi jika malam-malam menjadi panjang, karena ia tidak bisa tidur.
Puisi-puisi itu dia pahatkan dalam lempeng-lempeng beton yang menyerupai prasasti, ditancapkan di areal kompleks museum. Pada penggalan puisi pertamanya, "Pengabdian", ia menuliskan, "...Hidup ini bagai mimpi/Sepintas lalu pergi//Tapi kuingin hidup ini berarti/Penuh isi dan abadi/Jangan harapkan balas budi...//
Di situlah Museum Lukisan Sidik Jari berdiri sebagai monumen hidup, yang mencatatkan perjalanan seorang tua yang tak lelah mencipta dan memberi segala yang dia miliki.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 7 SEPTEMBER 2009

Rosek Nursahid: Berjuang dari kaki Gunung Kawi


ROSEK NURSAHID

Lahir : Malang, 12 April 1971
Pendidikan :
- S-1 Biologi Universitas Brawijaya
Anak :
1. Nada Prinia
2. Chanakya Galerita
Pengalaman organisasi :
- Pendiri ProFauna Indonesia, 1994-kini
- Steering Committee Jaringan Pemantauan Perdagangan Hidupan Liar Indonesia, 2000-2002
- Pendiri dan Dewan Pembina Pusat Penyelamatan Satwa Petungsewu, 2001-2006
- Pendiri dan Pembina Petungsewu-Wildlife Education Center, 2003-kini
- Anggota International Primate Protection League (IPPL) Amerika Serikat

Di tengah cepatnya ritme gaya hidup masa kini dan kejaran kebutuhan sehari-hari, banyak orang merasa sulit meluangkan waktudan pikiran pada keberlangsungan masa depan satwa. bahkan, belitanbeban hidup justru menjadi pembenar bahwa satwa dan lingkungannya bisa dieksploitasi demi keberlangsungan hidup manusia.

OLEH DAHLIA IRAWATI

Pandangan itulah yang didobrak Rosek Nursahid, Direktur ProFauna Indonesia, lembaga non profit perlindungan satwa liar dan habitatnya di Indonesia yang sudah berkiprah sejak 15 tahun lalu. ProFauna selama ini aktif mengungkap kasus perdagangan dan eksploitasi satwa di Indonesia.
Aktivitas Profauna mendapat apresiasi dari Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA)-organisasi satwa tertua dan salah satu terbesar di dunia pada pertengahan September tahun lalu di kantor pusatnya di Inggris.
ProFauna mendapatkan penghargaan khusus bidang investigasi karena terus mengungkap praktik perdagangan ilegal satwa liar dan eksploitasi satwa di Indonesia sejak tahun 1994. Beberapa kasus penting yang pernah diungkap ProFauna adalah penyelundupan burung nuri ke luar negeri, perdagangan penyu di Bali, perdagangan harimau di Sumatera, dan mafia perdagangan orangutan di Jakarta.
"Pendirian ProFauna dilatarbelakangi fakta bahwa negara ini memiliki kekayaan satwa liar tertinggi di dunia sekaligus memiliki daftar terpanjang satwa yang terancam punah akibat kerusakan habitat dan eksploitasi berlebihan. Ini cukup memprihatinkan sebab kerusakan alam dan musnahnya satwa liar yang dilindungi akan berdampak pada kehidupan bangsa," ujar Rosek.
dengan keprihatinan itu, bersama sekitar 500.000 suporter atau anggota Profauna dari dalam dan luar negeri, termasuk beberapa artis, seperti Slank dan Melanie Subono, Rosek getol meneruskan jerit pilu satwa yang terancam musnah dari kaki Gunung Kawi di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, kabupaten malang, Jawa Timur.
Di Desa Petungsewu, ProFauna memiliki pusat pendidikan informal tentang pelestarian satwa dan alam Indonesiaa yang didirikan tahun 2003, yakni Petungsewu-Wildlife Education Center (P-WEC). Di sini terdapat pusat rehabilitasi satwa yang siap dilepasliarkan ke alam seusai disita.
Selain itu, P-WEC memiliki sejumlah program edukasi bagi masyarakat terkait alam dan satwa, seperti pengamatan burung di alam, tur di hutan untuk mengenal ekosistem hutan, dan mengenal ekosistem sungai.

Turun ke jalan

Di luar kegiatan yang bersifat edukasi, Rosek pun mengajak aktivis ProFauna untuk gencar melakukan aksi turun ke jalan guna berkampanye. Seruan perlindungan atas burung nuri dan kakatua maluku, harimau jawa, dan elang jawa merupakan agenda tetap. Ancaman alih fungsi lahan hutan di luar Jawa menjadi kebun sawit juga menjadi isu yang mereka kawal.
Bersama aktivis ProFauna dan P-WEC, Rosek menggandeng puluhan pondok pesantren untuk memberikan materi pandangan-pandangan Islam tentang satwa dan alam. Melalui berbagai pendekatan, dia berharap masyarakat Indonesia memiliki kesadaran lebih mengenai pentingnya kepedulian atas alam dan satwa.
Semua perjuangan Rosek itu pelan-pelan mulai menampakkan haasil. "Meski eksploitasi terhadap alam dan satwa selalu masih ada, setidaknya isu-isu alam dan satwa sudah diperhatikan banyak pihak. Kini kepedulian sejumlah tokoh dalam negeri terhadap pelestarian alam dan satwa juga mulai tumbuh. Kondisi ini tak seperti saat awal ProFauna dibentuk. Ketika itu dukungan relatif hanya dari luar negeri," ujarnya.
ProFauna terus berkembang dengan membuka kantor-kantor cabang di sejumlah daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bali, Maluku, dan Bengkulu. Bahkan, ProFauna pun memiliki perwakilan di luar negeri, yakni di Perancis, Inggris, dan Belanda.
"Bagi saya, semua kegiatan ProFauna adalah kerja sosial. Jika tidak ada orang Indonesia yang peduli lagi, lalu siapa yang akan peduli dengan alam dan lingkungan kita sendiri?" ujar Rosek.
Selain dibiayai lewat sumber dana dari para suporter, semua kebutuhan aktivitas sosial itu juga mengandalkan pemasukkan yang dilakukan ProFauna, seperti pelatihan dan pendidikan outbond dan program bird watching.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, Rosek bersama sang istri, Made Astuti, memiliki usaha yang jauh di luar bidang kesatwaan dan alam. Mereka menjadi supplier komputer di wilayah Jawa Timur, di samping berdagang komponen kendaraan bermotor.

Biologi

Kepedulian Rosek terhadap satwa dan alam sudah dimulai sejak ia berusia mda. Sebagai remaja yang suka bertualang, dia tumbuh dengan idealisme prolingkungan. Bahkan, dia kemudian memutuskan untuk kuliah di Jurusan Biologi Universitas Brawijaya, Malang.
Pilihan belajar Biologi disadarinya sebagai salah satu cara agar dia dapat lebih memahami dan belajar lebih mendalam tentang alam dan satwa. Namun, pendidikan akademik rupanya tidak cukup mampu mewadahi gairah muda Rosek. Itulah sebabnya mengapa kemudian dia juga memutuskan untuk menceburkan diri menjadi sukarelawan lingkungan.
Sebagai sukarelawan lingkungan, salah satu tugas Rosek adalah menemani dan mengantar para aktivis lingkungan dari luar negeri yang ingin meneliti persoalan lingkungan di Indonesia. "Tahun 1992 saya mengantar aktivis lingkungan asal Jerman untuk melihat langsung ke Pasar Pramuka di Jakarta sebagai pasar satwa terbesar kala itu," katanya.
Ironisnya, ketika itu di Pasar Pramuka ternyata banyak satwa langka yang diperjualbelikan dengan bebas. "Berangkat dari keprihatinan perdagangan satwa langka inilah saya dengan bantuan dari banyak pihak lalu mendirikan ProFauna," ujar Rosek.
Sejak saat itulah kampanye perlindungan satwa dan hutan lalu menjadi "makanan" sehari-hari bagi Rosek. Lewat ProFauna dia ingin mewujudkan mimpinya, yakni melihat hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan satwa.
Itulah ujung dari perjuangan Rosek, sesuatu yang sudah dijalaninya selama belasan tahun ini dan akan terus dia upayakan.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 17 MARET 2011