Minggu, 10 April 2011

Djuniawan Wanitarti: Melawan Arus Penolakan Sampah


DJUNIAWAN WANITARTI

Lahir : Madiun, Jawa Timur, 12 Juni 1966
Suami : Maryono (47)
Anak :
- Yuswo Pratomo Radityo Ramadhan (20)
- Satrio Seto Hastian Habibinanto (14)
Pencapaian : Mendirikan Bank Sampah Poklili
Organisasi :
- Kelompok Peduli Lingkungan
- Anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi)
- Gerakan Organisasi Wanita Se-Kota Depok (GOWD)

Tidak banyak orang seperti Djuniawan Wanitarti (44), melawan arus kebiasaan warga. Di kala orang menolak sampah di lingkungannya, dia malah mendirikan bank sampah. Bank tersebut tidak hanya menerima nasabah dengan tabungan beragam sampah, tetapi juga menyediakan pelatihan pengolahan sampah.

OLEH ANDY RIZA HIDAYAT

Lebih dari itu, kemunculan bank sampah ini memberikan dampak sosial yang luar biasa. Karena sampah, warga menjadi lebih hangat dan harmonis.
Motivasi Djuni-demikian panggilan akrabnya- mendirikan bank sampah adalah dorongan untuk mandiri. Ibu dua anak ini jengah melihat sampah yang dikelola begitu-begitu saja: dibuang di tempat sampah, menyebarkan bau busuk, lalu ditimbun ditempat pembuangan. Sebatas itukah kemampuan warga menghadapi sampah?
Djuni tidak percaya sampah hanya bisa dibuang. Pengolahan sampah sudah berjalan baik di sejumlah daerah di Indonesia, mengapa di Depok, JAwa Barat, tempatnya bermukim, tidak demikian. Dia mengajak warga setidaknya para tetangga satu RT di Perumahan Griya Lembah Depok, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok mengolah sampahnya sendiri.
Tanggal 16 Maret 2008 Djuni mendapatkan momentum. Dia memanfaatkan posisinya sebagai istri Maryono (47) , Ketua RT 3 RW 24 Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya. Pada pertemuan dengan warga, Djuni menyampaikan gagasan mengolah sampah secara mandiri.
Ajakan ini semula ditanggapi dingin. Sebagian tetangga Djuni tidak setuju karena mereka mengganggap sampah hanya membuat kotor sehingga harus cepat dibuang dari rumah. Djuni terus meyakinkan tetangganya. "Saya tahu, tidak semua warga mempunyai pemahaman yang sama soal sampah," tuturnya.
Agar tidak membebani, dia menawarkan warga menggunakan dana kas RT untuk membeli keranjang takakura, keranjang takakura adalah keranjang untuk mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos. Dengan keranjang itu, warg amulai membiasakan mengolah sampahnya sendiri.
Djuni menyempatkan keliling dan menanyakan seberapa banak sampah yang sudah diolah warga. bagi mereka yang memiliki tabungan sampah paling banyak, Djuni menyediakan hadiah pada akhir bulan. Dari kebiasaan ini muncul gagasan mendirikan bank sampah.
Pada 12 Maret 2010 Djuni dan sejumlah tetangganya mendeklarasikan pendirian Bank Sampah Poklili. Nama Poklili merupakan kependekan dari Kelompok Peduli Lingkungan. Pada deklarasi pendirian bank sampah itu, baru tercatat sepuluh nasabah, semua dari kalangan ibu.
Melalui bank tersebut, pengolahan sampah tidak hanya pada sampah organik, tetapi juga berkembang pada sampah nonorganik berupa plastik, kaleng, kain, botol, dan sejenisnya. Dengan kursus singkat,warga memperoleh keterampilan mengolah sampah menjadi barang kerajinan bernilai ekonomi.
Kegiatan yang semula berlangsung di tingkat RT berkembang ke seluruh perumahan. Kini jumlah nasabah aktif Bank Sampah Poklili sebanyak 80 orang. Para nasabah bank berkembang ke seluruh Perumahan Griya Lembah Depok, bahkan sebagian berasal dari kelurahan lain.

Menghasilkan

Aktivitas Bank Sampah Poklili menjadi sumber pendapatan sampingan bagi warga. Pendapatan itu berasal daari penjualan kerajinan berbahan sampah dengan keuntungan rata-rata Rp 300.000 per bulan. Pendapatan berikutnya berasal dari penjualan sampah kepada pengepul senilai Rp 500.000 per minggu. Uang ini dapat diambil nasabah sewaktu-waktu jika dibutuhkan.
Kegiatan pengolahan sampah semakin lama membuat hubungan sosial warg semakin erat dan kreatif. "Kami sekali waktu menggunakan dana tabungan sampah untuk rekreasi bersama keluarga masing-masing. Kami semua menjadi sayang dengan sampah," kata Djuni.
Saking sayangnya, para nasabah Bank Sampah Poklili menolak sampah mereka diangkut truk Dinas Kebersihan dan Pertamanan kota Depok. Para nasabah nyaris tidak membuang sampah dengan percuma. Semua sampah habis menjadi pupuk organik, barang kreatif bernilai ekonomi, atau jatuh ke tangan pengepul setelah disimpan di bank sampah.
Sementara ini aktivitas bank hanya buka pada hari Jumat. Mulai pukul 13.00 sampai menjelang petang, rumah Djuni yang menjadi "kantor" Bank Sampah Poklili di Perumahan Griya Lembah Depok ramai didatangi warga. Mereka membawa tabungan sampah masing-masing. Pengurus bank menimbang dan menaksir harganya, lalu dicatat di buku nasabah.
Sebagian warga mengasah keterampilan mengolah sampah di lantai dua Bank Sampah Poklili. Pada hari itu juga sejumlah pengepul sampah mendatangi bank untuk mengangkut pesanan. Sungguh menyenangkan berada di tengah-tengah mereka, melihat semangat warga mengolah sampah tanpa menunggu uluran lembaga formal.

Pengembangan

Djuni ingin mengembangkan bank tersebut menjadi lembaga profesional. Pada setiap kesempatan pertemuan organisasi yang diikutinya, dia mempresentasikan kegiatan Bank Sampah Poklili. Begitu pula ketika ada pameran produk kreatif, Djuni berusaha memasarkan hasil kerajinan warga.
Untuk menambah wawasan, para pengurus Bank Sampah Poklili secara berkala mengikuti pelatihan pengolahan sampah di Politeknik Negeri Jakarta.
Djuni dan pengurus bank sampah saat ini dalam proses mengenalkan nasabah dengan koperasi. Dari kegiatan pengolahan sampah itu, pengurus berencana membentuk koperasi karena sebenarnya kegiatan mereka sudah seperti koperasi. Jadi, uang hasil kegiatan bank sampah dapat diputar untuk kepentingan kesejahteraan warga.
Perlahan tetapi pasti, kampanye pengolahan sampah Bank Sampah Poklili mendapat respon positif masyarakat. Sejumlah kelompok masyarakat, siswa sekolah, dan kalangan pribadi mengunjungi tempat itu untuk melihat pengolahan sampah dari dekat. Djuni senang karena lebih banyak orang mengolah sampahnya secara mandiri, menurut dia, lebih baik.
Paling tidak kegiatan seperti ini membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung. Sebab, kata Djuni, kondisi TPA satu-satunya di Depok ini sudah hampir kelebihan kapasitas hingga perlu langkah kreatif warga.
Satu hal yang membuat Djuni bangga dengan kegiatan ini, pengolahan sampah dapat membuat manusia menjadi sosok kreatif.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 11 APRIL 2011.

Kamis, 07 April 2011

Nancy, Kesetiaan Kader KB


DATA DIRI

Nama : Nancy Nur
Lahir : Pinrang, 30 September 1950
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Kader KB dari 1984-kini
Suami : M Nur (62)
Anak :
- Evy (39)
- Erwin (38)
- Evendy (32)
- Erzad (25)
Cucu : 7 orang
Penghargaan :
- Penghargaan Pengelola Gerakan KB dan Keluarga Sejahtera Nasional, 1997
- Kader PKK Teladan Tingkat Kecamatan , 2006
- Juara I Lomba Posyandu Tingkat Kecamatan, 2006
- Penghargaan dari Ketua PKK Makassar sebagai Kader PKK selama 23 tahun, 2007
- Penghargaan dari Walikota Makassar sebagai Kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana
Desa Tingkat Kelurahan, 2007

Kesetiaan Nancy Nur mendatangi perempuan dari rumah ke rumah di perkampungan warga miskin untuk mengenalkan program Keluarga Berencana atau KB tak pernah surut . Sejak 1984 dia tak pernah absen menjadi kader KB, yang kini disebut Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa, di Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Nancy prihatin melihat ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya yang terus hamil, sementara anak mereka masih kecil, bahkan masih digendong. Perempuan dari keluarga miskin di Kelurahan Maccini Sombala umumnya warga pendatang dari daerah lain di Sulsel.
Mereka awam soal alat kontrasepsi yang bisa membantu menghentikan kelahiran anak. Mereka tak engenal istilah KB. Para ibu itu terus disibukkan dengan kehamilan dan kelahiran nyaris setiap tahun.
Bukan hal yang aneh jika satu pasangan memiliki anak sampai belasan orang. Padahal, kehidupan keluarga hanya ditopang dari penghasilan suami yang bekerja sebagai tukang becak atau buruh harian. Akibatnya, anak-anak yang terlahir dari keluarga miskin itu tidak terurus dan kurang gizi.
Nancy yang merasakan manfaat ikut ber-KB terpanggil mengajak perempuan dengan banyak anak untuk ikut ber-KB. Ia lalu turut aktif di posyandu di sekitar rumahnya agar bisa mendekati para ibu. Ternyata bukan pekerjaan mudah untuk mengajak para ibu ber-KB. Mereka takut dengan alat kontrasepsi dan tak didukung suami.
Tak jarang upaya Nancy mengajak perempuan ber-KB ditentang oleh suami mereka. Ia telan dengan sabar makian dari suami para perempuan yang coba dirangkulnya untuk ikut program KB gratis dari pemerintah setempat.
"Bukan hal aneh jika ada suami yang datang dan marah-marah sama saya. Dibilang, kenapa memang jika istri mereka melahirkan dan punya banyak anak? Yang kasih makan dan mengurusi mereka bukan saya atau orang lain. Si suami itu minta supaya saya tak ikut campur urusan rumah tangga mereka," cerita ibu empat anak itu.
Mendapat tentangan dari para suami, ia mencoba menjelaskan bahwa apa yang dia lakukan bukan melarang para istri melahirkan anak. Dengan ikut KB, pasangan bisa mengatur atau menjarangkan kelahiran anak. Lebih baik anak cukup besar dulu baru si ibu hamil lagi.
Selain itu, dia juga melibatkan lurah setempat untuk berbicara dengan kaum pria tentang manfaat ber-KB bagi kesejahteraan keluarga. Upaya ini terbilang berhasil. Setidaknya para suami membiarkan Nancy mengunjungi istri mereka di rumah.
Ia tak hanya mendatangi rumah warga saat ada safari KB untuk merangkul peserta KB baru. Kehadirannya di rumah warga juga untuk menjalin silaturahim sekaligus menjadi teman ngobrol para ibu.
Hubungan Nancy dengan para ibu semakin "cair". Ketika para istri mengeluhkan kesibukan dan kesulitan mereka melahirkan dan mengurus banyak anak yang selisih usianya tak jauh, nancy memakai kesempatan itu untuk bicara soal manfaat KB.
"Jika sudah ada yang berkeluh kesah soal banyak anak, saya mencontohkan tetangga yang punya anak sedikit atau ber-KB biar ibu itu tersadar. saya ajari ibu itu untuk membujuk suaminya agar mengizinkan mereka ber-KB. Sekarng, 70 persen perempuan di wilayah ini sudah pakai alat kontrasepsi,"ujarnya.

Tersentuh

Keterlibatan Nancy sebagai kader KB berawal dari kekaguman melihat sejumlah ibu di RW tempat tinggalnya yang membantu penimbangan anak balita tahun 1984. Ia tertarik ikut aktif dalam pelayanan kesehatan anak balita.
"Saya tanya-tanya gimana cara jadi kader posyandu. Sejak saat itu, saya rajin memerhatikan perkembangan anak balita dan mulai memperkenalkan KB kepada ibu-ibu," tuturnya.
hatinya tersentuh melihat banyak anak balita yang kurang terurus dan kurang gizi. Ketika dia mencoba menanyakan kondisi anak itu kepada sang ibu, hatinya makin miris. "Mereka menjawab, siapa yang tak ingin memberi makan enak untuk anaknya. Namun, mereka tak punya uang untuk beli makanan bergizi."
Fakta itu membuat dia makin gencar mempromosikan makanan bergizi yang murah. Untuk menjangkau semakin banyak ibu miskin agar membawa anak mereka ke posyandu, dia dan kader lain urunan membuat bubur kacang hijau.
Fokus Nancy lalu berubah tatkala melihat banyak ibu yang hamil, sementara anaknya masih digendong. Nancy kemudian mengenalkan alat kontrasepsi. Keseriusannya mengajak para ibu memakai alat kontrasepsi mendapat sambutan dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) setempat.
Dia diandalkan untuk mengajak para ibu ikut dalam pelayanan KB gratis dari pemerintah atau institusi lain. Awalnya, hanya beberapa ibu yang mau ikut KB.
"Ada juga ibu yang sudah mau ikut, tetapi begitu hari H, mereka sembunyi, enggak ada di rumah. Padahal, untuk mereka disediakan mobil jemputan dan tak bayar pemasangan alat kontrasepsi," ujarnya. Ia lalu meminta para ibu yang sudah ber-KB menceritakan positifnya KB kepada para tetangga.
Nancy selalu memantau kondisi ibu yang baru menggunakan alat KB. Jika ada keluhan seperti pusing atau pendarahan, ia antarkan mereka ke puskesmas. Tak jarang ia merogoh kocek sendiri untuk membiayai pengobatan para ibu atau anggota keluarganya. awalnya, mereka umumnya memilih pil. namun, karena lupa minum, banyak ibu yang hamil lagi.
Perlahan Nancy membujuk mereka untuk memakai implant, suntik, spiral, hingga tubektomi.
"Mereka malu jika diperiksa dokter. Namun, sekarang sudah banyak ibu yang memilih kontrasepsi mantap berjangka panjang."

Tetap bertahan

Meskipun banyak kaader KB yang berhenti karena merasa tak mendapat apa-apa, Nancy tetap bertahan. Keinginannya adalah semakin banyak pasangan yang bisa mengatur kelahiran anak agar mereka dapat berkonsentrasi meningkatkan kesejahteraan keluarga.
"Saya ingin para kaader KB itu diperhatikan pemerintah. Mereka dibutuhkan untuk mendukung suksesnya program KB di lapangan," kata Nancy yang mendapat insentif ssekitar Rp 150.000 per triwulan.
Masih ada satu keinginannya yang sampai kini belum terwujud. Dia berharap bisa mengajak pria di perkampungan miskin itu untuk ber-KB, terutama vasektomi. Pasalnya, ada ibu yang tak cocok denagn jenis alat kontrasepsi apa pun sehingga tak henti melahirkan.
"Inginnya ada satu pria saja yang mau vasektomi supaya menjadi contoh untuk kaum pria lainnya. namun, sampai sekarang belum ada yang mau," kata Nancy.
Nenek tujuh cucu ini sampai sekarang tak berhenti mendatangi rumah-rumah warga. Perkampungan miskin di Maccini Sombala yang diisi pendatang itu silih berganti warganya, tetapi mereka tetap membutuhkan Nancy untuk menyadarkan tentang manfaat ber-KB.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 26 JUNI 2009

Rabu, 06 April 2011

Adi Tri Wahyu: Posko Tetap Semangat


ADI TRI WAHYU

Lahir : Magelang, Jawa Tengah, 16 Mei 1981
Istri : Martina Sri Wahyu Aryani (29)
Anak :
- Bintang Wahyu Narendra (4)
- Bima Wahyu Clearesta (2)
Pendidikan : Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

Selama tiga bulan terakhir usaha jasa cuci kendaraan bermotor dan penjualan pulsa telepon seluler milik Adi Tri Wahyu di Dusun Kemiren, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, tutup. Tempat itu berubah menjadi lokasi kegiatan nonprofit karena dialihfungsikan sebagai bagian dari posko siaga banjir dingin "Tetap Semangat" yang dia pimpin.

OLEH REGINA RUKMORINI

Tempat mencuci kendaraan itu pun menjadi dapur umum. Ruang lainnya diisi perangkat komputer yang berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi dan pencarian bantuan korban lahar dingin lewat dunia maya.
Intensitas hujan yang tinggi dan bahaya banjir yang mengancam setiap saat membuat Adi, yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Dinas Pekerjaan Umum, Energi, dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang, merelakan hilangnya pendapatan dari usahanya.
"Bagaimanapun keberadaan posko masih dibutuhkan. Soal rezeki, biarlah Tuhan yang mengatur," ujar Adi yang kemudian terbiasa dengan keramaian aktivitas posko meski ini adalah pengalaman pertamanya terlibat dalam bencana alam sebagai relawan.
Keterlibatan adi berawal dari erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Pasca erupsi pertama pad Oktober 2010, dia bersama teman-teman di komunitas pencinta Vespa dari Yogyakarta memberikan sumbangan dan menggalang serta menyalurkan bantuan dari berbagai pihak untuk korban terdampak erupsi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Erupsi Gunung Merapi yang kian membahayakan membuat 700 warga Dusun Kemiren, termasuk Adi yang tinggal sekitar 17 kilometer (km) dari puncak Merapi, direkomendasikan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogakarta untuk segera mengungsi. Ketika itu, zona berbahaya ditetapkan BPPTK sekitar 20 km dari puncak Merapi.
Di tengah situasi mencekam saat erupsi besar pada 4 November 2010, Adi dan sejumlah warga mengumpulkan warga Dusun Kemiren untuk mengungsi ke Balai Desa Tersangede.
Setelah warga mulai berangkat ke Balai Desa Tersangede, Adi terus menyisir rumah-rumah serta memeriksa dan mengajak warga yang masih tertinggal untuk mengungsi. Penyisiran dia lakukan hingga 5 November 2010 sekitar pukul 03.30 WIB.
Situasi sedih dan mencemaskan karena dusunnya terkena dampak erupsi tak menyurutkan semangat Adi untuk terlibat sebagai relawan dan membantu korban lainnya. Setelah beberapa kali terjadi erupsi besar, Dusun Kemiren dikosongkan.
Namun, Adi dan sekitar 20 warga dusun lainnya malah mendirikan posko di rumah Adi. Sesuai dengan kondisi yang mereka alami, posko itu diberi nama Posko Relawan Juga Pengungsi Bencana Merapi "Tetap Semangat".
"Selain menampung dan menyalurkan bantuan, kami juga bertugas menjaga rumah-rumah di dusun yang ditinggalkan penghuninya," ujar Adi. Posko "Tetap Semangat" saat itu menjadi posko yang berlokasi paling dekat dengan Gunung Merapi.

Bantuan

Pada hari pertama mendirikan posko, Adi yang ssebelumnya sibuk menyalurkan bantuan untuk berbagai lokasi pengungsian, tidak lagi berpikir panjang ketika ada sebuah kelompok meminta informasi masyarakat daerah mana yang mendesak untuk diberi sumbangan.
"Saya langsung mengatakan agar sumbangan itu disalurkan ke Dusun Kemiren saja. Lha wong ternyata saya dan teman-teman yang biasa menyalurkan bantuan ternyata juga ketiban nasib jadi pengungsi," ujarnya. Bantuan pertama yang dia terima dari kelompok masyarakat di Temanggung itu kemudian disalurkan ke Balai Desa Tersangede.
Karena saat itu Balai Desa Tersangede belum terdaftar "resmi" sebagai lokasi pengungsian dan belum tersentuh bantuan pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang, Adi dan rekan-rekan di posko bekerja keras mencari sumbangan dari berbagai pihak. Kendati demikian, setiap kali mendapat bantuan, Adi dan rekan-rekannya selalu membagikan bantuan tersebut untuk para korban bencana, tidak hanya disalurkan kepada warga Dusun Kemiren. Dengan belajar berempati dan berbagi untuk orang lain, Adi yakin mereka justru tidak akan pernah kekurangan bantuan.
"Keyakinan saya ternyata betul. Setiap kali kami memberikan bantuan untuk warga lain, beberapa hari kemudian kami mendapat bantuan dua kali lipat lebih banyak dari bantuan yang telah disumbangkan," tutur Adi.
Dengan melimpahnya bantuan dan kesiapan mereka untuk selalu membantu, setiap hari posko "Tetap Semangat" didatangi tak kurang dari 10 orang. Para tamu itu berasal dari berbagai lokasi pengungsian yang berbeda-beda, dan semuanya meminta bantuan. Selain itu, posko juga berusaha memenuhi permohonan permintaan bantuan yang datang melalui pesan singkat (SMS) ke nomor telepon seluler Adi.
"Saya juga heran, entah dari mana mereka mengetahui nomor telepon saya," ujar Adi, yang berusaha memenuhi semua permintaan bantuan meski kadang tidak terwujud karena stok yang terbatas.

Lahar dingin

Karena situasi berangsur aman, pada akhir Desember 2010 warga Dusun Kemiren diizinkan kembali ke rumah masing-masing. Ketika itu, Adi sudah berpikir untuk membubarkan Posko Tetap Semangat. Namun, dengan munculnya bahaya sekunder berupa banjir lahar dingin,posko tetap didirikan atas kesepakatan warga.
"Kami hanya berganti nama menjadi posko siaga banjir lahar dingin "Tetap Semangat," katanya.
Menyikapi bencana yang datang kemudian, Adi menggugah kepedulian warga untuk menyumbang bagi para korban lahar dingin, yang sebagian diantaranya pernah melayani dan menampung mereka semasa terjadi bencana erupsi.
Dengan empati terdalam karena pernah merasakan jadi pengungsi, warga Dusun Kemiren kemudian bergotong royong mengumpulkan sumbangan, membantu evakuasi warga dan barang-barang, serta memasak makanan bagi para korban banjir lahar dingin di berbagai lokasi pengungsian.
Aktivitas di posko ini bisa dikatakan terus berjalan selama 24 jam. Setiap hari, Adi relatif baru tidur sekitar pukul 01.00 atau 02.00 WIB kemudian bangun dan berangkat kerja pada pukul 06.00 WIB. Namun, sesuai dengan nama posko tersebut, Adi selalu menyemangati diri sendiri dan teman-temannya untuk tetap bersemangat.
"Barangkali kami memang capek dan stres karena menghabiskan banyak energi di posko. Akan tetapi, kami harus tetap menularkan semangat ini kepada mereka, para korban lahar dingin. Mereka jelas lebih stres dan sedih dibandingkan dengan kami," ujar Adi, yang tetap mengerjakan tugasnya sebagai PNS.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 7 APRIL 2011

Selasa, 05 April 2011

Tasman, Penjaga Pegunungan Nipa-nipa


TASMAN

Lahir : Kendari, Sulawesi Tenggara, 6 April 1954
Pendidikan : Sekolah Pertanian Menengah Atas, Ujung Pandang (kini Makassar, Sulawesi Selatan)
Istri : Nursam (55)
Anak : Empat orang
Pekerjaan :
- Pegawai negeri sipil Dinas Perkebunan Provinsi Sultra di Kabupaten Konawe Utara, 1975
- PNS Dinas Perkebunan Provinsi Sultra di Kendari, 1982
- Kepala Unit Pelaksana Proyek Dinas Perkebunan Konawe Selatan, 1996-2010
Penghargaan :
- Kelompok Tani Teladan III Kota Kendari, 2009
- Kelompok Tani Teladan I Kota Kendari, 2010

Tepat 10 tahun silam, sebuah kebakaran besar melanda sebagian hutan lindung di Taman Hutan Raya Pegunungan Nipa-nipa, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Kebakaran itu menghanguskan areal hutan seluas lebih kurang 40 hektar.

OLEH MOHAMAD FINAL DAENG

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Secara tematis, areal yang hilang pun tidak cukup signifikan jika dibandingkan dengan luas total hutan Pegunungan Nipa-nipa yang mencapai sekitar 8.000 hektar itu.
Namun, di mata Tasman, warga yang bermukim di punggung Pegunungan Nipa-nipa, tepatnya di Alapae, Kelurahan Watu-watu, Kecamatan Kendari Barat, fakta itu tak membawa sedikit pun kelegaan. Bahkan, hatinya gundah karena meyakini bahwa kebakaran tersebut hanya mengawali sesuatu yang jauh lebih merusak, lama setelah kepulan asap menghilang.
Tak jauh dari areal yang terbakar tersebut, tersimpan harta yang berharga bagi warga di tiga rukun tetangga (RT) di Watu-watu, termasuk Alapae, kampung tempat Tasman tinggal. Harta itu berwujud mata air yang terletak di daerah aliran Sungai Lahundape. Sejak tahun 1994, mata air itu menjadi sumber air bersih satu-satunya bagi 80 keluarga di kawasan tersebut.
Maklum, permukiman tempat Tasman tinggal berada di punggung bukit yang terjal sehingga kecil sekali kemungkinannya untuk mendapatkan pasokan air tanah. Perusahaan daerah air minum setempat bahkan sudah lama menyerah untuk memasang jaringan air bersih di Watu-watu.
Mata air yang terletak 4,8 kilometer dari kampung di tengah hutan itulah yang menjadi solusi bagi kebutuhan air bersih warga Alapae dan sekitarnya. Pada 1994, dengan bantuan pengadaan pipa dari sebuah lembaga swadaya masyarakat dan pengelolaan swadaya masyarakat, air bersih dari mata air itu dialirkan ke permukiman.
Karena itulah, hilangnya vegetasi di sekitar mata air menjadi ancaman serius bagi kelestarian sumber air yang penting bagi warga setempat. Ini belum ;agi bahaya erosi dan tanah longsor yang siap mengintai warga kapan saja.
"Apalagi, sebelum kebakaran itu, hutan juga sudah banyak dibabat orang untuk diambil kayunya. Mereka menggunakan kayu untuk bangunan rumah sampai bahan bakar. Jadilah yang tersisa di hutan tinggal semak-semak," kata tasman.

Reboisasi

Berangkat dari kegelisahan itu dan modal profesinya ssebagai pegawai negeri sipil (PNS) Dinas Perkebunan Kabupaten Konawe Selatan, tahun 2002 Tasman memelopori penanaman kembali pohon di wilayah yang rusak tiu. Lelaki yang sejak 1995 diangkat sebagai Ketua Pengelola Air Bersih dari mata air tersebut mengajak warga lain menanam berbagai tanaman produktif. Mereka menanam berbagai jenis pohon, seperti durian, rambutan, kemiri, mahoni, cengkeh, jambu, pisang, dan nangka.
Tasman sengaja memilih pohon yang diharpkan bisa menambah penghasilan warga. Dengan demikian, selain menghijaukan kembali hutan yang gundul demi melindungi mata air, warga Alapae yang mayoritas dari kalangan ekonomi menengah bawah juga bisa memperoleh tambahan penghasilan.
"Setidaknya, saat pohon-pohon itu berbuah, warga bisa mendapatkan manfaatnya," kata Tasman.
Namun, karena Nipa-nipa masih menyandang status hutan lindung, upaya Tasman tidak berjalan mulus. Dia dan teman-temannya sempat mendapat hadangan aparat.
"Sering kali kami terpaksa 'kucing-kucingan' dengan petugas saat mengolah hutan," tutur lelaki lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas Makassar ini.
Tarik ulur berlangsung sekitar lima tahun. Dengan bantuan advokasi dan mediasi dari sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan serta pendekatan yang gencar disuarakan Tasman, akhirnya pemerintah daerah bersepakat untuk memberikan hak pengelolaan sebagian hutan kepada petani setempat.

Sejahtera

Sejak saat itu Tasman mendirikan kelompok tani yang diberi nama Kelompok Tani Pelestari Hutan (KTPH) Subur Makmur. Kelompok ini memiliki 29 anggota aktif dengan luas lahan yang dikelola mencapai 35,5 hektar. Di luar areal itu merupakan hutan lindung yangtak disentuh para petani.
Berkat usaha Tasman dan rekan-rekannya, sebagian wilayah hutan yang dulu gersang dan gundul, belakangan ini hijau dan lebat kembali dengan berbagai jenis pohon. Bahkan KTPH Subur Makmur berhasil menjadi kelompok yang memenangi penghargaan sebagai kelompok tani teladan Kota Kendari pada 2009 dan 2010. Kelompok tani ini juga tengah menggalakkan penanaman pohon kelapa untuk mencegah erosi.
Anggota KTPH Subur Makmur tidak hanya terdiri dari para petani. Mereka berasal dari berbagai profesi mulai tukang batu, tukang ojek, pegawai negeri, sampai pensiunan. Tasman mengatakan, sekarang anggota KTPH Subur Makmur bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp 5 juta per tahun dari panen berbagai hasil hutan yang mereka usahakan.
Selain mengolah dan menghijaukan hutan, keberadaan KTPH Subur Makmur juga membawa keuntungan lain bagi kelestarian hutan Nipa-nipa. Lewat upaya penghijauan tersebut, Pegunungan Nipa-nipa kembali menjadi benteng alam ekosistem Teluk Kendari yang berada di kakinya.
Para petani turut menjaga dan mengawasi hutan dari tangan-tangan mereka yang tak bertanggung jawab dan hendak merusak Pegunungan Nipa-nipa.
"Alhamdulillah, sejak kami mengelola hutan ini tidak ada lagi orang-orang yang melakukan penebangan liar," kata Tasman.
Di KTPH Subur Makmur, Tasman juga membentuk semacam koperasi untuk membiayai kebutuhan anggota dalam mengelola lahan, seperti pembelian bibit, pupuk, obat hama, dan berbagai peralatan lain yang mereka butuhkan.
Dengan adanya koperasi tersebut, petani bisa menyediakan sekitar 80 persen kebutuhan bibit mereka secara swadaya. Sisanya mereka peroleh dari bantuan pemerintah.
"Koperasi juga mampu meminjamkan uang jika ada anggota yang membutuhkan, misalnya untuk biaya pendidikan anak-anak anggota," ujar Tasman, kakek seorang cucu ini.
Kini, Tasman yang telah pensiun sebagai PNS sejak 2010 masih menyimpan impian untuk menjadikan lahan yang dikelola kelompoknya menjadi kawasan agrowisata.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 6 APRIL 2011

Senin, 04 April 2011

Jaya Ratha, Menguak Pengembaraan Penyu


BIODATA

Nama : I Made Jaya Ratha
Tempat, tanggal lahir : Tabanan, Bali, 5 April 1983
Tempat tinggal : Jalan Werkudara 30, Tabanan, bali
Pendidikan :
- SD Negeri 6 Delod Peken, Tabanan
- SMP Negeri 1 Tabanan
- SMU Negeri 1 Tabanan
- Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana Bali (2001-2008)
- Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Udayana Bali (2006-sekarang)
- Pada tahun 2007 memperoleh sertifikat Satellite Tracking Head Shell Turtles Specialist
dari WWF
Pengalaman pemasangan transmiter:
2007 : pada dua penyu hijau di Pulau Piai, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat; dua penyu hijau di Pulau Sangalaki, Kalimantan Timur; serta satu penyu sisik di Pantai Sekokang Sumbawa.
2008 : Pada empat penyu hijau di Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi, Jawa Timur; satu penyu lekang di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi; dan dua penyu lekang di Pantai Jamursba Medi, Sorong, Papua Barat.
2009 : pada satu penyu lekang di Pantai Jamursba Medi, Sorong.

Indonesia adalah "rumah" bagi enam dari tujuh spesies penyu dunia yang hidupnya berkelana tak mengenal batas di berbagai kedalaman lautan tropis dan subtropis. I Made Jaya Ratha, sosok dokter hewan lulusan Universitas Udayana, Bali. Menjatuhkan pilihan sebagai spesialis pemasangan transmiter pada penyu bercangkang yang menguak pengembaraan penyu-penyu itu melalui satelit.

Oleh NAWA TUNGGAL

"Selama ini hanya orang luar yang tertarik dengan hewan-hewan unik dan langka di Indonesia," kata Jaya, ketika ditemui seusai pemasangan transmiter penyu lekang di Pantai Jamursba Medi, Sorong, Papua Barat, akhir April 2009.
Semasa remaja, hati Jaya kerap tersentuh setiap kali melihat siaran keanekaragaman hayati di televisi. Ia mendapati bahwa selalu saja ahli-ahli asinglah yang mau menekuni dan bisa memaparkan kisah-kisahnya dengan menarik di televisi.
Termasuk saat yang paling menyentuh ketika itu ada cerita orangutan yang hidup di Indonesia justru dikisahkan oleh orang asing sebagai ahlinya. Dimanakah ahli-ahli Indonesia?
Pertanyaan itu mengendap cukup lama. Hingga Jaya lulus SMU Negeri 1 Tabanan, Bali, tahun 2001, tercambuk oleh pertanyaan ayahnya. Ayahnya menanyakan cita-cita yang diinginkan Jaya. Jaya menjawab, "Tidak punya cita-cita."
Sontak ayahnya pun berkata, "Orang tidak punya cita-cita tidak punya tujuan hidup."
Bagai petir pada siang bolong, kesadaran Jaya terlecut keras. Masa-masa lulus SMA adalah masa genting untuk menjatuhkan pilihan demi cita-cita, tetapi Jaya sama sekali tidak menyadarinya.
Jaya akhirnya mengungkapkan dalam hati ketertarikannya kepada aneka satwa. Sekaligus mengungkap keresahannya tentang minimnya ahli satwa dari negerinya sendiri.
Jaya pun memutuskan masuk Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. "Mulanya saya ingin menjadi ahli orangutan," kata Jaya, yang kini masih menjalani studi pada Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Udayana.

Mengenal penyu

Di Taman NAsional Meru Betiri, Banyuwangi, Jawa Timur, tersebutlah Pantai Sukamade. Kawasan itu menjadi pantai tempat bertelurnya penyu, paling banyak spesies penyu hijau, disusul penyu lekang dan penyu belimbing.
Di situlah Jaya pertama kali mengenal penyu, saat masih sebagai mahasiswa Universitas Udayana, pada tahun 2004. Selama lima bulan Jaya terlibat penyusuran Pantai Sukamade dan mengindentifikasi penyu yang dijumpainya. Saat paling sering penyu muncul adalah tengah malam hingga dini hari.
Jaya kemudian mengajukan proposal penelitian skripsinya berjudul "Identifikasi Bakteri Potensial Pathogen pada Penetasan Telur Penyu Hijau." Pengalaman meneliti penyu hijau di Sukamade berlanjut pada tahun berikutnya di Pantai Gili Trawangan, Lombok. Pengalaman ke Lombok ini disebutnya sebagai pengalaman pertama naik pesawat terbang.
Di Lombok, Jaya mendapat tugas pemasangan flipper tag atau logam penanda pada sirip penyu yang ditangkar komunitas masyarakat Gili Trawangan. Penyu-penyu yang diberi penanda itu akan dilepas setelah selesai ditangkar dan beranjak dewasa.
Pergelutan Jaya dengan penyu berlanjut ke Pulau Derawan, Kalimantan Timur, pada 2006. Di Derawan, Jaya bergabung dengan tim WWF, di antaranya terdapat spesialis pemasang transmiter penyu dari Belanda, Geoffrey Gearheart.
"Lagi-lagi ahlinya selalu orang bule," ujay Jaya.
Selama tiga bulan di Derawan, Jaya mengikuti "kursus" yang diberikan Gearheart. Pada akhirnya Jaya mendapat sertifikat spesialis pemasang transmiter penyu bercangkang. Keahlian memasang transmiter dipraktikkan Jaya pertama kali di Pulau Piai, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, pada 2007. Dia memasang transmiter pada dua penyu hijau.
Pemasangan transmiter oleh Jaya pada 27 April 2009 di Kawasan Pantai Jamursba Medi, Sorong, tepatnya di Pantai Batu Rumah, merupakan pemasangan ke-13. Penyu lekang yang diberi transmiter itu kemudian diberi nama Robeca.
Robeca memiliki lengkung karapas 68 sentimeter dengan bobot 70 kilogram. Selama transmiter itu tetap terpasang dan baterainya masih berfungsi hingga rata-rata sampai 18 bulan, pengembaraan Robeca terpantau melalui satelit.
Siapa pun dapat mengakses informasi pengembaraan Robeca saat ini dengan cara membuka situs internet: www.seaturtle.org/tracking/?project.id=391

Rumah penyu

Jaya menguak pengembaraan penyu dengan caranya sendiri. Kepada dunia, melalui internet, Jaya mengajak siapa pun yang tertarik mengikuti perjalanan penyu melintasi samudra. Robeca hingga akhir Juni 2009 lalu terpantau mengembara dari Sorong menuju Pantai Arafuru hingga perbatasan dengan Papua Niugini.
Pengembaraan penyu ini menarik. Data yang diperoleh WWF dari pemasangan transmiter pada penyu belimbing di Papua menunjukkan ada penyu yang melintas menyeberangi Samudra Pasifik hingga di Pantai California, Amerika Serikat. Kemudian penyu itu terpantau kembali lagi kearah Papua, meski di tengah Samudra Pasifik dalam perjalanannya selama 18 bulan baterai transmiternya habis.
Selain bertutur pengembaraan penyu ke belahan dunia lainnya, Jaya menandaskan, Indonesia paling ramah bagi spesies penyu di dunia. Ini terbukti enam dari tujuh spesies penyu di dunia memiliki "rumah" untuk bertelur di Indonesia.
Hingga saat ini enam daritujuh spesies penyu yang ada di dunia memilih bentangan pantai tropis Indonesia sebagai "rumah" untuk bertelur. Keenamnya meliputi penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu pipih (Natator depressus), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu belimbing (dermochelys coriacea). Penyu belimbing satu-satunya penyu tanpa cangkang dan memiliki tubuh terbesar dengan lengkung punggung bisa mencapai maksimal 2,4 meter dan bobot 1.000 kilogram atau lebih.
Satu spesies penyu dunia lain yang tidak pernah betah tinggal di wilayah Indonesia adalah penyu kempi (Lepidhocelys kempi).
Penyu kempi ini memilih "rumah" idamannya hanya di pantai Karibia.
Tidak hanya untuk spesies penyu, kini lebih banyak lagi dibutuhkan ahli dalam negeri yang peduli dan bisa bertutur tentang kekayaan alam Indonesia melalui media apa pun.
Seperti mengutip hasil penelitian Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, bekerja sama dengan Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization dan Murdoch University dari Australia pada 2000-2002, menyatakan perairan Indonesia sebagai habitat keanekaragaman hayati ikan hiu terbesar di dunia. "Jaya-Jaya" lainnya yang peduli pada masalah kelautan masih dinantikan.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 10 JULI 2009

Minggu, 03 April 2011

Nano-Ratna: Cinta 24 Jam


ROBERTUS RIANTIARNO

Lahir : Cirebon, 16 Juni 1949
Pendidikan :
- 1968-1970 Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)
- 1971 Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta
Aktivitas Seni :
- 1968 Bergabung dengan Teater Populer pimpinan Teguh Karya
- 1977 Mendirikan Teater Koma
- 1977-sekarang Menyutradarai dan menulis naskah ratusan pementasan Teater Koma

RATNA KARYA MADJID

Lahir : Manado, 23 April 1952
Pekerjaan : Aktris, Manajer Seni, dan Aktivis Teater
Aktivitas Seni :
- 1969 Bergbung dengan Teater Kecil pimpinan Arifin C Noor
- 1977 mendirikan Teater Koma
- 1996-2003 Ketua Dewan Kesenian Jakarta
- 1997-sekarang aktif di Forum Apresiasi Seni Pertunjukanyang didanai Ford Foundation

Kesetiaan dan kecintaan yang "keras kepala" adalah kunci rahasia eksisnya Teater Koma sampai kini. Tidak banyak kelompok teater di Indonesia yang mampu bertahan dan produktif mementaskan karya selama 34 tahun tanpa henti. OLEH ARYO WISANGGENI G DAN PUTU FAJAR ARCANA Perjalanan panjang yang diwarnai jatuh bangun itu disebut N Riantiarno sebagai "proses mengungkapkan rasa terima kasih kepada alam dan kehidupan". Itulah yang menjadi alasan seluruh awak Teater koma bertahan. Kecintaan kepada teater bukan sekadar keinginan untuk menghibur, melainkan sebuah penghayatan yang sublim atas keberlimpahan yang diberi alam kepada hidup.
Pengembaraan yang dilakoni Nano berkeliling Nusantara tahun 1975 seperti sebuah "kelahiran kedua". Pada tahun 1968, aktor kelahiran Cirebon, 6 Juni 1949, itu bergabung bersama Teater Populer yang didirikan mendiang Teguh Karya. Sejak 1970, ia membantu Teguh Karya memproduksi sejumlah film. Namun, ketika Teguh Karya semakin fokus membuat film, Nano justru merasa film bukan dunianya.
Ia memilih berkeliling Indonesia. Penelusurannya tas berbagai kesenian dan teater rakyat itu membawa Nano menginjak keringnya tanah kala kemarau menyengat Dompu , Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
"Para petani bawang di dompu yang sangat miskin bersenandung kepada alam, dengan diiringi kenong dan gendang, juga gesekan biola. Nyanyiannya bagus sekali. Mungkin mereka bertanya kenapa hujan tidak juga turun di Dompu?" kata Nano.
Peristiwa itu bergitu membekas di hati Nano. Para petani seperti tidak peduli, apakah dengan ritual sederhana itu lantas hujan turun menjadi berkah di daerah mereka yang tandus. "Tetapi itulah, setiap bentuk pertunjukan seni rakyat selalu hadir sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada alam," tambah Nano.
Apa yang Nano dapatkan dalam perjalanan selama setengah tahun itu lantas dipadukan dengan gaya teater modern. Dalil teater ala Stanislavsky yang dipelajarinya di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) Jakarta, ia lengkapi pengalaman saat bergumul dengan kesenian rakyat Cirebon sejak duduk di bangku SMA Negeri I dan II Cirebon ditambah kerja kreatifnya di Teater Populer. Boleh dikata dua anasir itulah yang menjadi elemen-elemen dasar pertunjukan Koma sampai kini.
"Setiap pertunjukan teater rakyat menggabungkan seni peran, musik, tarian, nyanyian, humor, kadang akrobat atau silat," ujar Nano. Teater Koma melebur seluruhnya ke dalam ssatu bentuk pertunjukan yang seolah "baru". "Ini teater rakyat sebenarnya," kata dia.

Kelahiran

Teater Koma dilahirkan 12 pekerja seni, termasuk Nano dan Ratna Karya Madjid. Perempuan kelahiran 23 April 1952, ini kemudian menjadi pendamping hidup Nano. Tak hanya berbagi peran di biduk rumah tangga, pasangan yang menikah Juli 1978 itu berbagi peran di "kapal besar" bernama Teater Koma. Nano menjadi sang kreator seni dan Ratna mengurus dapur produksi; mulai dari urusan mencari uang modal pentas, mengurus makan, poster, biaya properti, mencari sponsor, mengurus gedung, menjual tiket, dan hal-hal kecil lainnya.
Bersama para awak Teater Koma yang setia, pasangan itu merasakan getirnya represi rezim Orde Baru yang kerap melarng Teater Koma pentas. Sebut saja pentas Maaf, Maaf tahun 1978, Sam Pek Eng Tay tahun 1989, Suksesi tahun 1990, dan pementasan ulang Opera Kecoa tahun 1990.
Nano sadar sejak awal apa yang ia pentaskan berangkat dari persoalan sosial, bukan persoalan pribadi atau persoalan para awak Teater Koma. Oleh sebab itu, ia tahu persis resikonya ketika berhadapan dengan rezim yang otoriter.
"Ternyata ada yang marah ketika kami menyajikan 'foto' yang apa adanya, karena ia menyangka masalah yang dipanggungkan adalah masalah dirinya sendiri," tukas Nano.
Nyatanya, pelarangan demi pelarangan pentas yang mewarnai kerja kreatif Teater Koma tak menyurutkan minat orang menonton pementasan mereka. Ratna mengenang keanehan yang terjadi dalam setiap pertunjukan Teater Koma pada awal tahun 1980-an.
"Kita-kan tahu, penonton teater zaman itu biasanya orang yang itu-itu juga, seniman yang model baju apa adanya, pastinya bukan orang yang gemar memakai parfum. Tetapi pertunjukan Teater Koma pada tahun 1980-an menjadi fenomenal karena penonton pementasan kami justru orang kantoran yang wangi-wangi," ujar Ratna.
Represi yang dialami Teater Koma justru mencuatkan kegelisahan banyak orang tentang kebebasan berekspresi warga yang direnggut penguasa. "Masyarakat membutuhkan katarsis massal, lalumenonton Teater Koma untuk tertawa bersama, menertawakan persoalan kita yang tidak terselesaikan. Sebagian besar penonton bahkan tidak pernah meminta uang tiketnya dikembalikan karena pementasan kami dilarang rezim Soeharto," ujar Nano.
Dari sejumlah pelarangan pentas itu, pentas kedua Opera Kecoa tahun 1990 yang membekas di hati Ratna. "Akibat pelarangan itu, rencana pementasan Opera Kecoa di Tokyo, Osaka, Fukuoka, dan Hiroshima, Jepang batal semua. Berkahnya tetap ada, karena tahun 1992 Opera Kecoa justru dipentaskan oleh kelompok teater asal Australia, Belvoir Theatre. Waktu mereka mendengar pementasan kami dilarang, mereka malah datang. Setelah tahu isi naskahnya, mereka terheran-heran mengapa pertunjukan kami dilarang," kata Ratna sambil menunjuk poster besar pementasan Opera Kecoa di Sydney yang turut dipamerkan saat Teater Koma mementaskan lakon Sie Jin Kwie Kena Fitnah, 4-26 Maret 2011 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Utang pun jadi

Bukan hanya keberanian mengkritik yang membuat Teater Koma hidup terus. Di situ ada persoalan konsistensi dalam berkarya. Selama 34 tahun berkiprah di panggung teater Indonesia, tidak ada satu tahun pun yang dilewati Teater Koma tanpa pementasan. Padahal, para pemain Teater Koma tak terikat kontrak kerja, bekerja dengan pendapatan yang serba tidak pasti, namun loyal dalam ikatan paguyuban.
"Jangan sangka kami selalu punya uang untuk pentas. Kalau takut pentas karena tidak punya uang, pastilah Teater Koma sudah bubar dari dulu," kata Nano sembari menambahkan ia pernah berhutang pada rentenir untuk ongkos produksi.
Bagi Nano, berproses di Teater koma ibarat berkreasi di atas gerbong yang melintas di atas dua rel: artistik dan manajemen. "Gerbong kegiatan produksi ada di atas kedua rel itu. Ia menuju ke stasiun yang kita tuju. Hasil kegiatan kreatif tidak mungkin bisa ada jika tak ada manajemen. Saya tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tidak ada Ratna yang mengurus manajemen produksi pementasan Teater Koma," kata Nano.
Ratna tertawa menceritakan mengapa sang suami begitu produktif menghasilkan skenario film dan sinetron, seperti skenario film Jakarta-Jakarta yang meraih Piala Citra 1978 atau skenario sinetron Karina meraih Piala Vidia 1987. "Untuk bisa membuat satu pementasan, Mas Nano harus menulis dua skenario film. Hasil penjualan skenario film itu yang jadi modal biaya produksi kami," katanya.
"Saya yang mencari uangnya, Mas Nano yang menghabiskan uang itu. Selalu seperti itu," kata Ratna tertawa. Ratna mengaku sering kali mendebat Nano jika keinginannya menghabiskan banyak uang. Sutradara, kata Ratna, harus tetap dikontrol agar tidak "semena-mena" atas nama ekspresi. Padahal, itu akan menghabiskan banyak dana.
Sadar bisa bertahan karena dukungan penonton yang setia, Teater Koma mencoba loyal kepada penontonnya.Dimainkan dengan jurus manajemen apa pun, tiket Rp 75.000 (tiket terbanyak) hinga Rp 200.000 tidak akan menjadikan para awak Teater Koma yang terlibat produksi lebih dari tiga bulan kaya. Apalagi harga tiket hari kerja yang berkisar Rp 50.000 hingga Rp 150.000. Setiap hari tersedia 40 kursi tiket harga mahasiswa, Rp25.000.
"Kami sedih karena ada yang menilai Teater koma sudah komersial, sudah kaya. Padahal, harga tiket itu tidak sepenuhnya menutup biaya produksi kami," tutur Ratna.
Kenapa tidak menjual tiket lebih mahal dan memperpendek waktu pentas?
"Kami pernah mempertimbangkan untuk menjual tiket yang lebih mahal, sebagaimana pertunjukan lain yang menjual tiket Rp 1 juta. Namun, pilihan harga tiket adalah pilihan audiens penonton. Jika kami menjual tiket termurah Rp 100.000, atau lebih mahal, itu berarti kami sudah memilih audiens kami adalah kelas menengah atas. Kami ingin loyal kepada penonton kami dan akhirnya memilih tetap menjual tiket terbanyak dengan harga Rp 50.000," ujar Ratna.
Pertunjukan Teater Koma bisa tersaji karena ada sejumlah donatur yang mau merogoh kantong lebih dalam. "Buat orang yangtahu menghitung biaya produksi, mereka tahu kami tekor. Orang-orang seperti itulah yang justru mau membantu, dengan memberi uang Rp 2,5 juta untuk selembar tiket. Jadilah para donatur itu memberi subsidi silang buat penonton lain," ujar Ratna.
Nano mengakui tekor di akhir produksi jarang terjadi. "Honor selalu ada. Namun, apa yang didapat jauh dari cukup untuk menghargai proses kreatif para aktor kami. Jika orang bertanya mengapa kami bertahan 34 tahun dan tetap bisa pentas setiap tahun, ada tiga jawabannya. Penonton kami yang loyal, aktor dan pekerja seni Teater Koma yang loyaldan militan, dan para donatur kami," ujarnya.

Tak beranjak

Mengapa secara bentuk dan artistik sepertinya Koma tidak berubah? Tidak takut pada suatu hari anda ditinggalkan penonton?
"Apa persoalan yang mengemuka di masyarakat, itulah yang kami pentaskan, dan prosesnyatidak selalu sederhana. Proses kreatif naskah RSJ, misalnya, lahir dari premis saya bahwa dunia sudah menjadi rumah sakit jiwa yang besar, dan saya ada di dalam rumah sakit jiwa itu. Masalahnya, saya tidak tahu apakah saya ini pasien atau dokter," kata Nano. Obrolan kami ditelan suara musik dan lagu awak Koma yang sedang melakukan persiapan pentas hari ke 19 lakon Sie Jin Kwie Kena Fitnah.
Setengah berteriak Nano mengatakan, untuk menyusun naskahnya, semua anggota Teater Koma berkeliling rumah sakit jiwa di Indonesia, mengamati kehidupan di dalam rumah sakit. Nano kemudian bertugas menulis naskah berdasarkan pengamatan para awak Koma. Naskah setengah jadi lalu dipresentasikan, didiskusikan, ditulis ulang sampai menjadi naskah final.
"Yang penting dari sebuah naskah bukan reading, melainkan kesadaran para pemain mengapa naskah itu lahir dan mengapa sebuah naskah harus dipentaskan," ujar Nano soal pementasan RSJ pada November hingga Desember 1991 yang membuatnya diinterogasi tiga hari oleh aparat.
Perjalanan merefleksikan persoalan masyarakat selama 34 tahun menjadi sebuah seni pertunjukan membuat Nano tersadar bagaimana manusia selalu berkutat dalam tragedi dan ironi hidup yang sama. "Kalau mau dibandingkan, semua naskah teater semodern apapun berkutat dengan seluruh masalah yang yang telah diangkat dalam naskah teater para pujangga Yunani, mulai dari Euripedes, Aeschylus, Sophocles, dan Aristophanes. Konteks dan masalahnya tentu berbeda, ditentukan ruang dan waktunya dan perkembangan peradaban kita. Namun, semuanya seperti perulangan yang selalu ditulis ulang dalam berbagai bungkus persoalan," ujar Nano.
Lalu apa sih peran teater dalam kehidupan ini, kok Anda dan para awak Koma begitu setia?
Perjalanan 34 tahun itu juga membuat saya tersadar bangsa ini tak beranjak kemana-mana. Tubuhbangsa ini sakit. Selama 34 tahun Teater Koma masih memanggungkan persoalan tubuh masyarakat yang tetap sakit. Hanya fokus kami yang berubah-ubah, dari mata yang sakit, teinga yang sakit, hati yang sakit. Kita tidak pernah belajar dari pengalaman, tidak pernah belajar dari sejarah. Yang celaka, penguasa sejak zaman Soekarno sampai sekarang selalu menganggap rakyat bodoh dan dengan mudah membodohi rakyat. Padahal rakyat tahu, hanya saja silent majority selalu diam...........
Saya berakar dari teater rakyat, meramu semua yang saya pelajari. Perjalanan panjang teater rakyat pun dipengaruhi oleh banyak sumber kisah Mahabarata di Jawa misalnya, menghasilkan Semar, Gareng, Petruk, Bagong, yang tidak ada dalam kisah Mahabarata India. Kita mengambil, mengolah, dan menjadikan sesuatu kesenian itu menjadi milik kita sendiri. Bali tak pernah khawatir diambil keseniannya, karena jika dicontoh, yang mencontoh pun tidak akan menghasilkan kesenian Bali. Masyarakat yang memiliki tradisi yang kuat tidak pernah khawatir tentang pencurian kesenian. Namun, masyarakat yang rapuh selalu gaduh.
Awak Teater Koma datang dan pergi. Sejumlah aktor generasi pertama masih bertahan sampai kini. Loyalitas generasi pekerja seni tahun 1977 berbeda dibanding generasi kini. Menurut Nano, tetap harus ada orang-orang yang mencintai dunia teater selama 24 jam. hanya dengan begitu, teater sebagai refleksi dari kehidupan, dimana kita bisa menertawakan kegetiran dan mengejek ketololan, terus menerus bisa hidup....

Dikutip dari KOMPAS, MINGGU, 3 APRIL 2011

Roesdiyanto: Kelengkeng untuk Ketahanan Pangan


ROESDIYANTO

Lahir : Tulungagung, Jawa Timur, 17 Mei 1948
Istri : Purwaningsih (58)
Anak :
- Widiastuti (36)
- Dwi hartono (33)
- Dewi Sulistyorini (30)
- Bowo Raharjo (26)
- Dian Anggraeni (23)
Pendidikan : SD-SMA di Tulungagung
Pekerjaan : Kontraktor partikelir Pertamina, 1975-2008
Penghargaan : Petni Berprestasi Kabupaten Cirebon, 2007

Berawal dari kegelisahan karena sedikitnya buah-buahan lokal yang berkualitas baik, Roesdiyanto merintis tempat pembibitan kelengkeng dataran rendah di Cirebon, Jawa Barat. Sekalipun bibit itu berasal dari luar negeri, dia meyakini Indonesia mampu mengembangkan buah-buahan dengan kualitas impor.

OLEH RINI KUSTIASIH

Pada lahan bekas tebu di Desa Karangwareng, Kecamatan Karangwareng, Cirebon, keyakinan itu dia pertaruhkan. Tahun 2004 dia membeli 2 hektar lahan seharga Rp 120 juta di area persawahan yang didominasi tebu dan padi. Ia ingin mengembangkan bibit kelengkeng yang diperoleh dari kenalan di Majalengka dan Jakarta.
Upayanya tak mulus. "banyak orang mencela dan tak percaya kelengkeng bisa tumbuh di Cirebon yang tergolong dataran rendah. Padahal, ada kelengkeng jenis dataran rendah yang cepat berbuah, bahkan berbuah sepanjang tahun," kata Roesdiyanto, awal Maret lalu.
Kelengkeng (Euphoria longana) dikenal sebagai tanaman asal dataran tinggi. Di Indonesia jenis lokal tanaman ini dikembangkan di Ambarawa, Jawa Tengah. Namun, seiring dengan maraknya buah impor, termasuk kelengkeng dari Thailand dan China, varietas lokal semakin tergusur. Kelengkeng dataran tinggi memerlukan waktu sampai empat tahun untuk berbuah, sedangkan kelengkeng dataran rendah kurang dari dua tahun. Bentuk buah dan rasa kelengkeng dataran rendah pun tak jauh beda dan tak kalah nikmat dibandingkan dengan kelengkeng dataran tinggi. bahkan, menurut Roesdiyanto, kelengkeng dataran rendah lebih unggul karena rasanya lebih manis dan ukuran buahnya lebih besaar.

Empat jenis

Ada empat jenis kelengkeng dataran rendah yang dikembangkan Roesdiyanto, yakni kelengkeng pingpong, diamond, kristal, dan aroma durian. Menurut dia, ada yang menyebutkan bibit kelengkeng dataran rendah itu berasal Thailand, tetapi ada pula yang mengatakan dari Vietnam.
Terlepas dari asal bibit kelengkeng tersebut, varietas ini mampu bersaing dengan kelengkeng impor. Ukuran kelengkeng pingpong, misalnya, bisa dua kali lipat dari kelengkeng biasa. Rasanya yang manis dan daging buahnya yang lebih tebal menjadi incaran pencinta buah.
Kelengkeng diamond yang daging buahnya bening dan manis tak jauh berbeda dengan varietas dataran tinggi. Keunggulannya, buahnya rindang. Dari satu pohon bisa dipanen 30-40 kilogram buah per tahun. Jenis ini tak jauh berbeda dengan kelengkeng kristal. Bedanya, sirip daun kelengkeng kristal ada lima, sedangkan diamond empat. Produktivitaas keduajenis inipun relatif tinggi.
Adapun kelengkeng aroma durian berdaging putih dan bijinya kecil, seperti biji pepaya. Harga bibit kelengkeng jenis ini bisa lebih dari Rp 1 juta.
Untuk pembibitan, ia mengandalkan pencangkokan dengan media sabut kelapa. Dalam setahun bisa dihasilkan sampai 100 bibit dari satu pohon. Sebanyak 200 pohon kelengkeng milik Roesdiyanto bisa menghasilkan 20.000 bibit. Bibit itu, antara lain diminati pembeli dari Banten, Bandung, Cianjur, Jakarta, Lampung, Palembang, Medan, Bangka, dan Banyuwangi.
Harga bibit bervariasi, dari Rp 75.000 untuk tinggi 1,5 meter sampai Rp 4 juta per pohon untuk bibit siap panen. Dalam setahun kelengkeng dataran rendah bisa panen sampai tiga kali.
"Kelengkeng jenis ini cukup diberi pupuk organik, kotoran sapi atau kambing yang dihancurkan dan ditambah air, lalu disiramkan ke bagian akar. Lebih baik lagi kalau disiram dengan air cucian beras yang pertama kali," kata Roesdiyanto.

Perlu kemauan

Kelengkeng relatif jauh dari hama kecuali gangguan kelelawar saat musim panen. Untu k mencegah serbuan kelelawar, Roesdiyanto memasang jaring. Gangguan kecil, seperti telur belalang yang menempelpada daun kelengkeng, bisa disingkirkan.
"Menanam kelengkeng tidak susah asal ada kemauan," ujarnya.
Roesdiyanto juga mengembangkan pola pertanian tumpang sari. Di sela-sela tanaman kelengkeng yang tiap pohonnya berjarak 8 meter, ia menanam padi, bawang daun, cabai, dan kol, yang bernilai jual.
Kesuksesannya membibitkan kelengkeng membuat pemerintah setempat berencana menjadikan wilayah timur Cirebon sebagai sentra kelengkeng. Ia lalu mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan untuk melatih warga atau siswa yang ingin mengembangkan kelengkeng.
"Mereka yang mau belajar menanam atau membibitkan kelengkeng, saya gratiskan, termasuk untuk belajar metode tumpang sari," katanya.
Siswa sekolah yang datang ke kebunnya dipandu sejumlah staf belajar cara mencangkok dan merawat kelengkeng. Harapannya, mereka bisa menanam kelengkeng di rumah masing-masing. Setiap siswa diwajibkan menghasilkan dua cangkokan kelengkeng. Satu untuk siswa itu sendiri, sedangkan satu lagi untuk ditanam di sekolah.
"Sudah digratiskan pun kadang tak serius. Dulu dinas pertanian pernah mengajak warga belajar di sini. Tapi, yang datang malah orang-orang lanjut usia yang mengira akan diberi sumbangan," tutur Roesdiyanto.
Meski begitu, dia tak patah arang. Setiap bulan muridnya bertambah. Ada yang belajar untuk mengembangkan kelengkeng sebagai tanaman pekarangan rumah, ada pula yang untuk bisnis. Roesdiyanto tak mempersoalkan jika kemudian mereka jauh lebih sukses darinya.
"Salah seorang yang sukses itu Pak Kristianus di Cianjur. Dia punya lebih dari 300 pohon. Saya senang bila banyak petani buah dalam negeri sukses. Artinya, ketergantungan kita pada buah impor berkurang," ujarnya.
Roesdiyanto yakin Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dari negara lain untuk mengembangkan buah dan pangan secara umum. "Tanah kita subur, yang diperlukan hanya kemauan keras semua pihak."

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 4 APRIL 2011