Minggu, 08 Mei 2011

Sudibyo Karsono dan Hidroponik Serius


SUDIBYO KARSONO


Lahir : Jakarta, 15 Mei 1933
Pendidikan : SMA B Semarang, 1954
Istri : Suciati (72)
Anak : Tetty Tresnawatie, Oni Suryani Candrawati, Trisakti Diana D, Rika Widayanti, Ragil Imam W
Riwayat Pekerjaan : Pernah mengajar di sekolah radio dan kursus elektronik di Bandung (1954-1962). Setelah itu ia ke Jakarta, menekuni radio dan pemancarnya. Ia pernah bekerja di perusahaan piringan hitam Irama. Setelah pensiun, ia bergabung dengan Parung Farm, mengembangkan hidroponik hingga kini.
Buku yang diterbitkan : "Hidroponik Skala Rumah Tangga" oleh Sudibyo Karsono, Sudarmodjo, Yos Sutiyoso

Sejak kecil, hobi Sudibyo Karsono, yang akrab dipanggil Pak Dibyo, memang elektronik. Hingga usia senja, dia tetap setia dengan utak-atik elektronik. Dia termasuk orang dibelakang layar berdirinya Radio Elshinta.

OLEH AMIR SODIKIN

Ketikamasuk masa pensiun, hobi utak-atik elektronik tetap mengikuti Dibyo dan selalu menggugahnya untuk membuat berbagai rekayasa yang aplikatif. Kali ini ia terapkan di bidang pertanian, tepatnya untuk tanaman hidroponik.
Dengan membuat sendiri sistemm penyiraman, Dibyo telah ikut berperan penting dalam mendirikan Parung Farm. Parung Farm adalah penghasil produk sayur-mayur hasil pertanian hidroponik yang kini merajai di berbagai swalayan wilayah Jabodetabek.
"Parung Farm berdiri tahun 2008. Tadinya ini eksperimen di lahan 100 meter persegi untuk menanam semua jenis tanaman skala kecil," katanya.
Tujuan awalnya untuk pelatihan, tetapi ternyata ada permintaan dari luar sekaligus utnuk membuktikan apakah hidroponik layak ditekuni atau tidak.
"Saya pengin tahu juga, hasilnya bisa dijual apa enggak," kata Dibyo. Maka, sejak itu Dibyo berssama saudaranya dan para pekerja Parung Farm serius menggarap hobi tersebut menjadi sesuatu yang menghasilkan.
Berlokasi di jalan Raya Parung-Bogor, Parung, Bogor, Jawa Barat, Parung Farm menjadi ajang pembuktian bahwa orang-orang kota bisa bercocok tanam di lahan terbatas dengan menggunakan hidroponik. Bahkan, bercocok tanam bisa menguntungkan asal memiliki teknik yang efektif.

Pengatur waktu

Sistem hidroponik di Parung Farm dikembangkan secara mandiri oleh para pekerjanya. Dibyo bertanggungjawab pada sistem pengairan yang kini sudah berjalan otomatis.
"Prinsipnya, saya senang tanaman tetapi malas menyiram, malas merawat. Maka, saya membuat semuanya otomatis, menggunakan timer," kata Dibyo. Jadi, urusan menyiram terjadwal otomatis dan tak bakal lupa.
"Dulu, mencari timer di pasaran yang siap diaplikasikan untuk tanaman dengan rentang waktu siram tiap lima menit tidak ada. Jadilah saya buat sendiri," kata Dibyo. Seperangkat alat hidroponik yang siap digunakan beserta timer rancangan Dibyo menjadi idola, terutama ibu-ibu rumah tangga.
"Waktu masih percobaan, saya taruh di halaman rumah saja sudah ditawar ibu-ibu," kata Dibyo. Kini peralatan yang sering disebut hidroponik kit, terdiri dari rangkaian pipa-pipa pralon, itu dijual dengan harga mulai dari Rp 600.000 hingga jutaan rupiah.
Dibyo sudah menghasilkan berbagai timer untuk sistem pengairan. "Saya juga membuat timer sentuh untuk pengamanan alat-alat pompa, timer pemukaan air agar air tak meluber, juga timer dengan sensor cahaya dan panas," katanya.
Butuh waktu lima tahun untuk menemukan bentuk kompak seperti saat ini. Hasil sayuran hidroponik dan timer buatan Dibyo menjadi komoditas yang dicari para pembeli, bahkan sampai luar Pulau Jawa.
"Pangsa pasarnya ternyata besar, tetapi kemampuan produksi kami kurang," katanya. Menurut Dibyo, siapa pun dan dimana pun, termasuk yang tak memiliki lahan, tetap bisa menggunakan hidroponik kit untuk bercocok tanam.
"Tak ada alasan lagi bagi orang kota untuk tidak menanam," kata Dibyo.

Penyiar radio

Kesetiaan pada dunia "utak-atik" sudak dilakoni Dibyo sejak dia masih anak-anak. Ketika muda, dia membuat pemancar radio. "Saya termasuk ikut mendirikan Elshinta, yang membuat pesawat pemancarnya saat masih di gelombang MW, tahun 1970 sampai 1980-an," cerita Dibyo.
Setelah dari Elshinta, saya membangun pemancar radio Suara Irama Indah. Ini radio FM generasi pertama di Indonesia," paparnya. Dibyo juga pernah menjadi penyiar bersama mantan Kepala Polri Hoegeng Iman Santoso.
Dari mana dia bisa mengenal Hoegeng? Ternyata kakaknya yang menjadi pendiri Radio Elshinta adalah teman dekat Hoegeng.
"Kakak saya, Mas Yos, Komodor Suyoso Karsono, itu yang tampil di TVRI dikenal sebagai Yos & The Hawaiian Seniors (sekitar tahun 1970-an). Pak Hoegeng ikut bermain di situ," kata Dibyo.
Begitu pensiun dari radio sebagai ahli pemancar dan merangkap penyiar, Dibyo kemudian berpindah ke tanaman. "Ketika pindah, saya berpikir, apa yang bisa saya kerjakan untuk tanaman di bidang elektronik ini," katanya.
Dari perjalanan hidup, ia menemukan satu perenungan, bahwa banyak temuan dan keputusan ditentukan oleh ketidaksengajaan. "Saya banyak menemukan prinsip-prinsip kerja atas dasar invention by accident," katanya.
Misalnya, sewaktu membuat timer tetapi gagal. Justru dari kesalahan itu, Dibyo bisa mengembangkannya menjadi timer sentuh untuk proteksi mesin agar tidak dicuri.

Berbagi ilmu

Siapa pun bisa membuat rangkaian hidroponik kit hingga sistem penyiraman otomatisnya jika mau. Bahkan, Pak Dibyo, bersama menantunya, Surya Arierama, siap mengajari. Seperti ketika dikunjungi Kompas, ia sedang mendampingi anak-anak praktik kerja lapangan yang belajar hidroponik.
Muntaqoh (16), Siti Qosiah (16), dan Susi Susmayanti (16) dengan tekun menyimak pelajaran demi pelajaran soal sistem hidroponik. Tak sekadar menanam, mereka juga belajar cara membuat berbagai model perangkat hidroponik.
Mereka adalah pelajar kelas XI Agrobisnis Produksi Pertanian Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Rangkas Bitung, Lebak, Banten. Mereka jauh-jauh datang ke Parung farm untuk belajar hidroponik. "Saya sudah bisa membuat berbagai model hidroponik, termasuk membuat timer-nya," kata Muntaqoh.
"Sekarang kami tahu cara menanam dengan menggunakan teknik aeroponik, mengenal substrat dengan media kerikil, arang sekam,
jelly, rockwool, juga DFT atau deep flow technique," kata Siti.
"Membuat DFT tingkat tiga dalam waktu tiga hari sudah jadi," kata Susi bersemangat
Semua teknik dan temuan itu tidak dirahasiakan karena prinsip Dibyo, semua ilmu diambil dari berbagai sumber. Karena itu, hampir setiap minggu selalu ada kunjungan wisatawan ke Parung Farm untuk sekadar wisata atau belajar hidroponik.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 9 MEI 2011

Kamis, 05 Mei 2011

Kecintaan Edy kepada Lingkungan


DATA DIRI

Nama : Edy Suharyanto
Lahir : Bantul, DI Yogyakarta, 4 September 1962
Istri : Istiannah Mahmudah (41)
Anak :
- Annisa Fitriana Islamiyati (13)
- Fauzul Islam Romadhon (9)
- M Rais Islam (5)
Pendidikan :
- SD Sorobayan Bantul
- SMP Negeri Sanden Bantul
- SMA Negeri Bantul
- Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, lulus 1987
- Magister Manajemen Agribisnis Universitas Pembangunan Nasional "Veteran"
Yogyakarta
Penghargaan : Juara I Kalpataru tingkat Provinsi DI Yogyakarta tahun 2009, untuk kategori Pembina Lingkungan

Lulus dari Jurusan Ilmu tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Edy Suharyanto malah terobsesi menjadi wartawan. Namun, ketika diterima sebagai pegawai negeri sipil, dia berusaha menikmatinya. Edy bahkan meraih penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi DI Yogyakarta tahun 2009.

Oleh ENY PRIHTIYANI

Sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sejak 1989, ia bertugas di Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemerintah Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.
Merasa sejalan dengan ilmu yang digelutinya di kampus, Edy dapat menikmati pekerjaannya. Ia kemudian menjadi Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul pada 2007.
Jabatan itu tak membuat dia terlena. justru Edy merasa mempunyai tanggung jawab untuk memaknai tugasnya itu.
Berkat campur tangannya di bidang pertanian, ia berhasil menyabet juara pertama penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi DI Yogyakarta tahun 2009 untuk kategori Pembina Lingkungan.
Salah satu gagasannya adalah pendirian pabrik petroganik di Bantul. pabrik hasil kerja sama Pemkab Bantul dengan PT Petrokimia Gresik ini mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik kemasan.
Pabriknya berlokasi di Desa Gadingharjo, Sanden, Bantul. Kapasitas produksinya sekitar 50 ton per bulan, diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan lokal Bantul, daerah yang sekitar 60 persen penduduknya adalah petani. Dengan memproduksi pupuk organik yang wujudnya mirip pupuk kimia tersebut, diharapkan penggunaan urea oleh petani Bantul berkurang.
"Ketergantungan petani terhadap urea membuat saya resah. Saya jadi terpikir untuk membuat pupuk organik, agar penggunaan urea berkurang. Selama ini petani enggan memakai pupuk organik karena merepotkan, kurang praktis. Untuk lahan 1 hektar, misalnya butuh satu ton pupuk. Jadi, kalau pupuk organik bisa dikemas seperti pupuk kimia, pasti pupuk organik pun diminati petani," tuturnya.
Dengan memanfaatkan kotoran sapi, lanjut Edy, pencemaran lingkungan pun berkurang. "Bila dibiarkan teronggok di sekitar kandang, kotoran sapi bisa menjadi sumber penyakit," katanya. Pemkab Bantul membeli kotoran sapi dari masyarakat seharga Rp 200 per kilogram, dalam kondisi kering.

Limbah pasar

Gagasan lain Edy yang juga bermanfaat bagi masyarakat adalah pengolahan limbah pasar tradisional menjadi pupuk kompos, meskipun baru sampah dari Pasar Bantul yang diolah. Tiap hari terkumpul 1 ton-2,5 ton sampah pasar, yang diolah menjadi sekitar 450 kilogram hingga 1 ton kompos.
Untuk mempermudah pengolahan sampah, pihaknya menyediakan 50 tong sampah besar di Pasar Bantul. Para pedagang mengisi tong-tong itu sesuai dengan jenis sampahnya.
Pengolahan sampah tersebut diserahkan kepada pihak ketiga. Pemkab Bantul hanya membeli kompos yang sudah jadi seharga Rp 400 per kg. Kompos itu dibagikan kepada petani sebagai subsidi. Sampai kini sudah diproduksi 200 ton kompos yang diolah oleh 23 kelompok warga.
Untuk masa depan, pengolahan sampah pasar akan diperluas ke Pasar Niten, Pasar Imogiri, dan Pasar Piyungan, DIY. Selain mendatangkan manfaat, pengolahan sampah pasar juga membuat suasana pasar lebih asri dan nyaman.
"Bayangkan kalau gundukan sampah memenuhi pasar. bau tak sedap jelas akan mengganggu kenyamanan pembeli. Mereka bisa jadi malas ke pasar tradisional," ujar penggemar masakan padang ini.
Mengolah kotoran dan sampah menjadi pupuk memang menjadi perhatiannya. Menurut Edy, ketergantungan petani pada pupuk kimia harus dikurangi secepat mungkin. Alasannya, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan membuat tingkat kesuburan tanah berkurang.
Selain itu, ketergantungan terhadap pupuk kimia juga kerap memicu konflik karena sering kali terjadi ketidaksamaan data kuota pupuk bersubsidi dengan kebutuhan nyata.
Edy menegaskan, fungsi pupuk organik bukan menggantikan pupuk kimia karena kandungan unsur haranya lebih kecil. Namun, pupuk organik berguna untuk mengembalikan struktur tanahyang tingkat kesuburannya menurun akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus dalam jangka panjang.

Pestisida nabati

Edy juga mengembangkan pestisida nabati. Beberapa jenis tanaman yang bisa dimanfaatkan antara lain tembakau, serai dapur, dan secang. Ada sembilan kelompok warga yang dia arahkan untuk memproduksi pestisida nabati, dengan target produksi sekitar 5.000 liter pada akhir tahun ini.
Katanya, kebanyakan petani selama ini relatif dimanjakan pestisida kimia. Padahal, penggunaan pestisida kimia secara berlebihan dan terus menerus itu justru menciptakan kekebalan bagi serangga dan hewan pengganggu tanaman lainnya.
"Semprotan pestisida kimia juga mencemari lingkungan," katanya.
Ruang lingkup yang menjadi perhatiannya tak berhenti sampai di sini. Mulai tahun 2005 dia juga turut menangani lingkungan di kawasan pesisir selatan. Setidaknya ada sekitar 1.100 hektar lahan yang tengah dikonservasi. Sebanyak 500 hektar di antaranya ditanami bibit pohon cemara laut dan akasia. Adapun sisanya dimanfaatkan untuk usaha tani produktif dengan sistem pengairan sumur renteng.
Upaya konservasi itu membuahkan hasil. Tiupan angin garam bisa dicegah masuk, dengan tanaman pangan dan hortikultura. Butiran pasir pun tak mencemari permukiman penduduk.

Sayuran organik

Kecintaan Edy terhadap lingkungan juga dibuktikan dengan mengajak warga menanam sayuran organik di polybag. Setidaknya ada sekitar 91.000 polybag yang disebar ke rumah penduduk di 34 desa di wilayah Bantul. Salah satunya di Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak.
Program budidaya sayuran organik melalui polybag mulai dikembangkan di Desa gilangharjo pada Juni 2008. Di Dusun Kauman ada tiga RT yang mengembangkannya, yakni RT 01, RT 03, dan RT 06. Setiap warga menanam 200, 150 dan 100 polybag.
Pengembangan penanaman dengan polybag ditempuh Edy untuk mengatasi keterbatasan lahan di kawasan tersebut. selama ini petani lebih suka memanfaatkan lahan pertanian untuk tanaman padi dan palawija.
"Kalau mereka menanam sayuran di polybag, otomatis kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat," katanya.
Sudah puaskah dia dengan segala kegiatan yang dilakukannya itu?.
"Sebagai PNS, tugas saya melayani masyarakat. Saya ingin petani-petani di Bantul bisa mengembangkan lahannya lebih profesional, agar nilai tambah yang mereka peroleh lebih besar," kata Edy yang tinggal di Dusun Nampan, Gadingsari, Sanden, Bantul, ini.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 22 JULI 2009

Rabu, 04 Mei 2011

Yasir, Melestarikan Mi Lethek di Bantul


DATA DIRI

Nama: Yasir Feri Ismatrada
Lahir : bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 6 Februari 1975
Alamat : Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul
Istri : Indri Istiyantun
Anak :
1. Ismet Al Malik (8)
2. Zaki Yasir (5)
Pendidikan :
- SD Muhammadiyah Ngupasan, Yogyakarta
- SMP Muhammadiyah 3 Wirobrajan, Yogyakarta
- SMA Muhammadiyah 3 Wirobrajan, Yogyakarta

Di rumah yang sederhana itu, sekitar 27 tenaga kerja menggantungkan nasib pada usaha mi lethek. Kenyataan itu membuat Yasir Feri Ismatrada tetap mempertahankan metode produksi tradisional. Meski memakai peralatan tradisional, kapasitas produksinya bisa mencapai 10 ton per bulan.

Oleh ENY PRIHTIYANI

Yasir Feri Ismatrada adalah warga Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia memulai usaha membuat mi sejak tahun 2002, meski mi lethek sebenarnya adalah usaha turun-temurun keluarga yang mulai diproduksi sejak tahun 1940-an. Tahun 1982 usaha tersebut sempat terhenti karena kesulitan ekonomi.
Setelah lama produksi mi lethek terhenti, Yasir mulai tergelitik untuk menggerakkan kembali usaha keluarganya. Ide itu muncul setelah dia mendengar informasi dari seorang dokter tentang khasiat singkong. Yasir pun teringat akan mi lethek produksi keluarganya yang dibuat dengan bahan dasar singkong.
"Penjelasan dokter itu membuat saya tergugah. Saya sekaligus merasa tertantang untuk mengembangkan kembali mi lethek. Saya yakin mi produksi saya bisa menguasai pasar karena rasanya berbeda dengan mi pada umumnya. Saya juga percaya khasiat singkong sangat baik untuk kesehatan tubuh," katanya.
Mi lethek terbuat dari bahan dasar tepung tapioka atau tepung singkong yang dicampur gaplek. Kedua bahan itu diaduk dengan menggunakan alat berbentuk silinder. Silinder tersebut digerakkan oleh tenaga sapi. Setelah bahan baku diaduk, dimasukkan ke tungku kukusan, lalu diaduk lagi untuk mengatur kadar airnya. Kemudian adonan tersebut dipres dan dikukus lagi. Proses terakhir berupa pencetakan dan penjemuran mi hingga kering.
Produk ini disebut mi lethek karena warna mi ini tidak secerah mi pada umumnya, yakni putih atau kuning. Warna mi ini butek atau keruh karena tidak menggunakan bahan pemutih, pewarna, atau pengawet. Lethek dalam bahasa Jawa artinya kotor.
Justru warna mi lethek benar-benar alami muncul dari proses produksi. Meski diolah secara tradisional, mi lethek bisa bertahan hingga tiga bulan apabila disimpan dalam ruangan yang tidak lembab.

Langganan Presiden

Konsumen awam yang melihat wujud mi lethek mungkin tidak akan tertarik karena tanpilannya memang kurang menarik. Namun, begitu tahu rasanya, banyak orang yang langsung ketagihan.
Di Bantul tidak banyak orang yang membuat mi lethek karena proses produksinya dinilai terlalu rumit. Bisa dikatakan hanya Yasir bersama pamannya yang memproduksi mi lethek.
Dalam satu bulan Yasir bisa memproduksi 10 ton mi lethek. Dari jumlah itu, 50 kilogram di antaranya dikirim ke Departemen Pertanian untuk disalurkan ke Cikeas, kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Bapak Presiden sudah menjadi pelanggan tetap saya. Selain Pak SBY, sejumlah pejabat juga menjadi pelanggan setia," cerita Yasir tentang sebagian penggemar mi letheknya.
Bisa menggaet presiden sebagai pelanggan tetap tidak membuat Yasir berpuas diri. Ia ingin dapat mengalahkan mi produksi pabrikan yang lebih banyak menggunakan terigu.
"Tepung terigu kan harus impor, sedangkan singkong tidak, ini produksi lokal. Terigu hanya menguntungkan penduduk di negara lain, sedangkan singkong bisa mengangkat derajat petani lokal," katanya.
Untuk mendapatkan 10 ton mi, Yasir membutuhkan sekitar 10,5 ton tepung tapioka dan 20 ton gaplek. Bahan-bahan itu diperolehnya dari para petani lokal di Bantul dan beberapa daerah di Indonesia.
"Untuk tapioka, yang paling bagus itu produksi Banjarnegara, sedangkan gaplek bisa saya beli di Gunung Kidul," tutur bapak dua anak ini.
Mi lethek dijual seharga Rp 6.600 per kilogram. Dalam sebulan Yasir bisa mengantongi laba bersih sekitar Rp 6 juta.
Selain kalangan istana, pelanggan tetapnya adalah para pedagang di pasar tradisional. Menurut dia, tingkat permintaan dan kapasitas produksi masih timpang. Banyak pelanggan yang tidak kebagian mi karena Yasir kesulitan menambah kapasitas produksi.
Penggunaan peralatan tradisional yang menggunakan tenaga manusia menjadi penyebab keterbatasan kapasitas produksi tersebut. Meski begitu, ia tak tertarik mengganti peralatannya dengan mesin pembuat mi modern. Selain akan mengurangi tenaga kerja, produksi lewat mesin juga berpengaruh terhadap rasa.
"Kalau saya ganti dengan mesin, tenaga kerja usaha ini akan kehilangan pekerjaan. Padahal, mereka sudah ikut mengembangkan usaha keluarga saya sejak awal. Peralihan pembuatan mi dari tangan ke mesin juga dikhawatirkan mengubah cita rasa mi," kata pria yang sempat mengikuti pelatihan pembuatan mi di Pabrik Tepung Sriboga ini.

Dari sang kakek

Usaha mi lethek keluarga Yasir berawal ketika sang kakek yang berasal dari tanah Arab bertemu dengan neneknya, perempuan keturunan China, di daerah Srandakan, Bantul. Ketika itu Srandakan dikenal sebagai kampung pecinan. Memasuki tahun 1940-an terjadi penggusuran dan pengusiran terhadap etnis Tionghoa di daerah tersebut. Beruntung keluarga Yasir bisa lolos.
Pasca penggusuran, keluarga Yasir mulai menata ekonomi mereka. Keahlian sang nenek yang terbiasa membuat mi sewaktu di daratan China pun dimanfaatkan.
"Saat itu banyak orang yang membuat mi dari campuran beras dan jagung. Untuk bisa bersaing, Nenek mencoba-coba membuat mi dari bahan singkong dan rasanya ternyata lebih enak," ujarnya.
Menurut Yasir, mengolah singkong menjadi mi berarti menambah nilai ekonomi singkong. Selama ini singkong selalu dianggap sebagai makanan ndeso yang sulit diadaptasi masyarakat perkotaan. Padahal, singkong bisa dikembangkan menjadi pangan alternatif selain beras.
Yasir berharap kebutuhan akan singkong pabriknya bisa dipenuhi lokal Bantul agar dampak positif usaha ini lebih terasa. Sayangnya, minat petani di bantul untuk menanam singkong bisa dikatakan tergolong rendah.
Petani hanya menanam singkong ini di lahan-lahan marjinal, seperti daerah pegunungan. Di Bantul ada lima kecamatan yang memiliki wilayah pegunungan, yakni Dlingo, Imogiri, Pajangan, Pundong, dan Piyungan.
Minimnya lahan yang dimanfaatkan untuk menanam singkong juga diperparah dengan rendahnya tingkat produktivitas.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, rata-rata produktivitas ketela di Bantul sekitar enam ton per hektar.
Padahal, angka itu masih bisa ditingkatkan sampai sekitar enam ton per hektar. Rendahnya produktivitas ketela itu karena petani cenderung membiarkan tanaman tersebut tumbuh begitu saja. Mereka tidak memberikan asupan pupuk sehingga produknya pun tidak maksimal.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 23 FEBRUARI 2009

Selasa, 03 Mei 2011

Johan Iskandar: Kerinduan kepada Burung Citarum


JOHAN ISKANDAR

Lahir : Purwakarta, 7 Agustus 1953
Pekerjaan : Dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Pascasarjana Universitas Padjadjaran, serta peneliti PPSDA/institute of Ecology, Universitas Padjadjaran
Istri : Budiawati Supangkat (52)
Anak :
- Oktarian Iskandar (20)
- Septabian Iskandar (17)
- Oktabrian Iskandar (16)

Aliran Sungai Citarum yang membelah wilayah delapan kota dan kabupaten di Jawa Barat sesungguhnya anugerah. Citarum tidak hanya menjadi sumber air bagi irigasi, tapi juga bagi pembangkit listrik, bahkan saluran pembuangan limbah bagi perusahaan nakal di sepanjang Citarum.

OLEH CORNELIUS HELMY

Sungai terpanjang di Jawa Barat beserta anak sungai menjadi rumah bagi 314 jenis burung.Namun, seiring hancurnya lingkungan Citarum mulai dari hulu hingga hilir, perlahan burung pun menjauhi sungai itu. Mereka mencari lingkungan yang mampu menopang hidup mereka.
"Citarum yang pernah jadi 'surga' kini menjadi tempat menyeramkan bagi burung," ujar ornitolog alias pakar ilmu burung, Johan Iskandar (57). Dia merasakan benar rasa rindu itu. Dahaganya terpuaskan saat melihat kembali kuntul kerbau dan blekok di Kota Bandung. Kedua burung itu dulu banyak terlihat di Citarum dan anak-anak sungainya. Namun, terdesak pembangunan, pencemaran air, dan aktivitas manusia lainnya, keberadaan kuntul kerbau dan blekok pun tak terlacak
Hingga sekitar beberapa tahun lalu, Johan mendapat kabar bahwa blekok (Ardeola speciosa) dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis) berkembang biak dengan baik di empat rupun bambu besar di Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung. Ratusan blekok dan kuntul kerbau hidup berbaur dengan masyarakat setempat yang tinggal di antara dua aliran sungai anak Citarum, Cinambo dan Cisaranten.
"Sore hari saat mereka pulang setelah mencari makan, adalah saat terindah," katanya.
Selain daya jelajah yang bisa mencapai lebih dari seratusan kilometer, khusus keberadaan kuntul kerbau sangat penting bagi ekosistem sawah. Mereka memakan hama serangga dan ulat yang rentan merusak tanaman padi. Namun, yang lebih penting, keberadaan kuntul adalah bukti masih sehatnya lingkungan di sekitar.
"Kehadiran mereka bisa jadi momentum wargaBandung melestarikan lingkungan ekosistem sungai yang kini ternoda oleh limbah berat dan sampah rumah tangga," kata Johan.

Pertemuan

Bagi Johan, Citarum dengan anak sungainya adalah tempat yang mempertemukannya dengan dunia burung. Secara tidak sengaja ia dimminta profesornya di Universitas Padjadjaran, Bandung, Prof Dr Ir Otto Soemarwoto, mendampingi mahasisw dari Universitas Wagenigen Belanda bernama Bastian van Helvoort, yang hendak melakukan penelitian burung di DAS Citarum tahun 1975. Bastian ingin mengisi kekosongan penelitian burung di Citarum yang dilakukan Hoogerwerf pada tahun 1948
Awalnya, Johan hanya menjadi pendamping Bastian untuk memenuhi keperluan sehari-hari, seperti menyediakan tempat tinggal atau berinteraksi dengan masyarakat setempat. Namun, pengetahuan masa kecil tentang burung ternyata memegang peranan penting bagi kepentingan penelitian Bastian.
Besar sebagai anak desa di Purwakarta memebrikan pengetahuan tentang bergam jenis burung hanya dari suara atau kekhasan tingkah lakunya. Ia biasanya memberikan nama daerah, suara, dan kriteria fisik dan kemudian dicocokan dengan buku lapangan mengenal jenis-jenis burung di alam milik Bastian.
Contohnya, burung gagak (Corvus enca), cipeuw (Aegithina tiphia), dan perkutut (Geopelia striata). Ada juga yang khas tingkah lakunya seperti manuk jantung (Arachnotera longirostra) dan manuk apung (Mirafra javanica).

Belum akrab

Di luar dugaan, Bastian terkesan dengan kemampuan Johan, Bastian lantas merekomendasikan Johan mendapatkan program kursus tentang Ekologi Burung (ornitolog) selama delapan bulan di Belanda pada tahun 1983/1984. Beragam jenis burung dari berbagai daerah, seperti di Wageningen, Leiden, dan Utrecht lantas ia data dan kenali aktivitasnya. Johan begitu terkesan dan dengan minat Belanda pada burung meski jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang Indonesia.
Pulang ke Indonesia tahun 1984, Ia menjadi satu dari sedikit ornitolog di Indonesia. Kiprahnya di Tanah Air dilanjutkan dengan mendata ratusan jenis burung di Citarum, Cimanuk, Citanduy, dan Ciliwung. Johan mengaku banyak belajar dari masyarakat setempat tentang ciri atau jenis kelamin burung yang diamatinya.
"Masyarakat di beberapa daerah mulai sadar benar dengan perlindungan burung. Mereka percaya, burung bisa memberikan banyak pertanda dalam kehidupan," katanya.
Akan tetapi, ia merasa terpukul saat tak kuasa berbuat maksimal melindungi populasi burung kowak malam (Nycticorax nycticorax) di Kota Bandung. Keberadaan mereka tidak diterima masyarakat yang tinggal di sekitar Kebun Binatang Bandung dan Institut Teknologi Bandung, yang notabene dekat dengan Sungai Cikapundung.
"Masyarakat terganggu denga kotoran yang bau. Bahkan, sempat ada yang mengusulkan agar burung itu ditembak sehingga lekas pergi ke tempat lain," katanya.
Agar niat buruk itu tidak terlaksana, dibantu beberapa rekan, Johan berusaha memindahkan kawanan yang jumlahnya mencapai 1.073 ekor dengan berbagai cara yang lebih bersahabat. Diantaranya, memasang jaring ditalikan di balon gas untuk menangkap burung kowak malam dewasa, memindahkan anaknya ke tempat lain, dan mengusirnya dengan bunyi riuh kaleng. Dana yang digunakan untuk membiayai kebanyakan berasal dari koceknya sendiri.
"Cara itu cukup efektif karena kawanan burung itu pindah ke daerah Pindad Kiaracondong dan Cibeureum, Kota Bandung. Namun, kabar terakhir, keberadaan mereka tidak terlacak," katanya.

Pelajaran

Hilangnya habitat burung kowak malam, menurut Johan, seharusnya memberikan pelajaran bagi pemerintah untuk mencari cara melindungi keberadaan hewan langka.
Salah satunya yang hingga kini tidak pernah terwujud adalah usulan perlindungan jenis burung berdasarkan familinya. Intinya, bila ada salah satu spesies dari famili tertentu sudah dilindungi, maka spesies lainnya otomatis dilindungi.
"Belum terlaksananya aturan itu justru menyuburkan penyelundupan burung. Di Papua, penyelundup kerap mengecat burung cenderawasih dengan warna hitam agar jenisnya tidak diketahui petugas pengawasan," katanya.
Perlindungan lain adalah penataan vegetasi tempat hidup burung. Salah satu contohnya adalah pencemaran di Citarum. Fakta itu, menimbulkan ancaman dari berbagai lini. Banyak burung terancam mati, cacat, dan sulit berkembang biak karena terpapar limbah berbahaya.
"Bila terus dibiarkan, besar kemungkinan kepunahan burung khas Citarum akan terjadi. Penyesalan tidak akan cukup ampuh membayar kerinduan pada kicauan burung liar," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 4 MEI 2011

Senin, 02 Mei 2011

Mochammad Memed: Membangun dengan Kearifan Lingkungan


MOCHAMMAD MEMED

Lahir : Bandung, 25 Mei 1937
Istri : Yati Harsiyati (69)
Anak :
- Ari Harmedi (45)
- Muhamad Wahyudi (44)
- Dewi Metyasari (41)
Pendidikan :
- S-1 ITB Jurusan Teknik Sipil Basah
- International Institute of Hydraulic Engineering (IHE), Belanda
Karier :
- Kepala Seksi Hidraulika Sungai di LPMA (1970)
- Kepala Sub Direktorat Hidraulika di LPMA (1984)
- Kepala balai Hidraulika di Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air
Balitbang Kementerian PU (1992)

Mochammad Memed (74) sedari kecil takjub pada bangunan-bangunan air yang diakrabinya di Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dalam pelarian keluarganya ke Majalaya untuk menghindari Jepang, Memed kecil menghabiskan waktu bersama teman-temannya berenang di saluran irigasi Cikaro yang airnya berasal dari Sungai Citarum.

OLEH RINI KUSTIASIH

Kelak di kemudian hari, Memed dikenal sebagai salah seorng ahli hidraulika di Tanah Air. Ia tidak hanya merancang saluran irigasi, tetapi juga mendesain ratusan bendung dan waduk yang manfaatnya luar biasa bagi bangsa.
Di usia pensiunnya, Memed masih semangat berbicara soal bangunan air, apalagi jika terkait dengan Citarum. Kerusakan lingkungan mulai dari hulu sampai hilir di Citarum akan berdampak langsung terhadap fungsi waduk dan bendung yang memanfaatkan air sungai terpanjang di Jabar itu.
"Kalau sedimentasi tak tertangani dan lumpur menumpuk di dasar danau, bagaimana jadinya kalau waduk-waduk itu sudah tidak mampu lagi menahan debit air dan erosi dari hulu. Jika salah satu waduk besar di Jabar (Saguling, Cirata, Jatiluhur) jebol, efeknya lebih dahsyat dari tsunami di Aceh. Ada ribuan hektar sawah dan jutaan orang tinggal di sana," kata Memed saat ditemui di rumahnya, Jalan Ir H Djuanda, bandung, akhir Maret.
Kekhawatiran Memed itu wajar mengingat kondisi ketiga waduk di Jabar yang kini kian memprihatinkan akibat pencemaran akibat pencemaran dan sedimentasi. Setiap tahun lebih dari 4 juta meter kubik lumpur masuk ke Citarum. Sebuah laporan penelitian yang dilakukan Universitas Padjadjaran juga menyebutkan, sungai itu setiap hari dialiri 11 ton tinja manusia. Tidak salah kiranya apabila ada sebutan bagi Citarum sebagai septic tank terpanjang di dunia.

Kurang perhatian

Memed yang juga mantan anggota Tim Peneliti Badan Peneltian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian (dulu departemen) Pekerjaan Umum (PU) yang membuat desain rancang bangun waduk, terutama untuk sistem pengambilan air (intake) dan penggelontoran air (spillway) mengatakan, selain daya dukung alam yang kian kurang, perawatan terhadap waduk juga minim.
Ia menyayangkan masih sedikitnya ahli sipil basah yang berkutat dengan rancang bangun ataupun sistem hidraulika waduk dan bangunan air lainnya. Seusai eranya, ia khawatir tidak ada lagi ahli dari kalangan muda di Indonesia yang mau mendalami soal bangunan air.
"Bangunan air, apapun itu, apakah waduk atau bendung, sangat krusial perannya, baik untuk irigasi, kelistrikan, air minum, maupun pengendalian banjir. Banyak bangunan air di daerah rusak dan belum mendapatkan perhatian," ujarnya.
Sistem pendidikan berdasarkan satuan kredit semester (SKS), menurut dia kurang mencukupi untuk membuat seorang mahasiswa menguasai ilmu hidraulika.
Memed yang kini masih aktif mengajar di Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, beberapa kali menguji mahasiswanya agar membuat desain bangunan jembatan sederhana dengan kondisi sungai, tingkat kemiringan, dan aspek alam lain yang telah ditetapkan sebelumnya. Kebanyakan mahasiswa, ujarnya, gagal melewati tes itu.
Pada masanya, Memed beruntung karena bisa berguru langsung kepada ahli sipil basah di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sempat mengenyam pendidikan dari sejumlah profesor asal Belanda. Guru-guru asal Belanda itu dikenal mumpuni soal bangunan air. Saat itu, Memed juga menerima pelajaran hidraulika langsung dari Prof Van Kregten, seorang warga Belanda.
masuk ke ITB tahun 1956 pada Jurusan Teknik Sipil basah, Memed dibimbing M Besari, asisten dosen dari Prof Ir R Soetedjo. Di era Orde Lama, Soetedjo menjabat Menteri Pekerjaan Umum. Memed dibimbing Besari yang amat telaten mengajari mahasiswanya. Bahkan, gurunya itu membuatkan model fisik khusus bagi setiap mahasiswa.
Tahun 1962, saat sebagai mahasiswa ITB , ia ditunjuk memimpin tim survei yang terdiri atas delapan mahasiswa sipil ITB. Survei dilakukan untuk keperluan penanganan banjir di Jabar Utara yang disebabkan meluapnya Sungai Cimanuk ke daerah irigasi Cilutung, Sindopraja, dan Cipelang. Banjir itu juga disebabkan luapan Citarum ke Karawang dan Bekasi.
Tugas itu diberikan oleh Lembaga Penyelidikan Masalah Air (LPMA) dari Direktorat Jenderal Pengairan. Dari survei itulah, Memed semakin mendalami soal sumber daya air dan lahan. Ia belajar praktik langsung dalam membuat rekayasa sipil keairan.
Setelah menyelesaikan studinya di ITB, tahun 1963 Memed menjadi peneliti di LPMA. Bersama sejumlah profesornya, ia aktif mengumpulkan data, informasi, dan masalah tentang sungai, danau, bendung, dan bangunan air irigasi.

600 bangunan air

Sejak 1970 Memed aktif dalam dunia bangunan air. bisa dibilang hampir semua bangunan air di masa Orde Baru tak lepas dari polesannya. Hingga pensiun sebagai Ahli Peneliti Utama Balitbang Kementerian PU, lebih dari 600 bangunan air ditanganinya, mulai dari identifikasi masalah, desain, perbaikan sistem hidraulik, renovasi, hingga pemugaran.
Ia, antara lain, menyempurnakan desain Bendung Krueng Aceh (Aceh), mendesain Bendung Kerasan (Pematang Siantar), merehabilitasi Curug Walahar (Purwakarta), mendesain Bendung Lomaya (Gorontalo), dan memperbaiki sistem intake Bendung Gumbassa (Sulawesi Tengah).
Selain dalam kondisi rusak, banyak pengelola waduk dan bendung yang tidak paham fungsi bangunan air. Untuk pengendalian banjir, misalnya, waduk amat berperan. "Sayangnya, kini daerah limpahan air waduk itu justru dibanguni permukiman sehingga saat muka air waduk belum kritis, spillway sudah dibuka. Pengelola waduk khawatir daerah tertentu akan banjir jika spillway telat dibuka. Padahal, daerah itu memang limpasan air," papar Memed.
Pendiri Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia ini juga menyayangkan adanya anggapan pembuatan bangunan air hanya berorientasi proyek. "Tujuannya bukanlah proyek. Air sungai sangat sayang jika dibiarkan langsung masuk ke laut. Sungai perlu dibendung agar manfaatnya bisa dinikmati masyarakat. Misalnya untuk irigasi, pariwisata, perikanan, dan kelistrikan. Jika tidak diolah, potensi sungai akan sia-sia," ujarnya.
Memed berprinsip, selama masih ada sisa usia, ia akan membaktikan diri bagi kemajuan dunia bangunan air di Indonesia.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 3 MEI 2011

Ki Enthus Susmono, Kreativitas Tiada Henti


DATA DIRI

Nama : Enthus Susmono
Lahir : Tegal, 21 Juni 1966
Istri :
- Romiyati (40), menikah 1990 dan bercerai 1995
- Nur Laelah (33), menikah 1997-kini
Anak :
- Firman Jindra Satria (18)
- Firman Haryo Susilo (15)
- Firman Nur Jannah (11)
- Firman Jafar Tantowi (5)
Penghargaan :
- Juara I Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri, 1988
- Dalang Terbaik se-Indonesia pada Festival Wayang Indonesia, 2005
- Gelar Doktor Honoris Causa bidang seni budaya dari International University
Missouri AS, Laguna College of Bussines and Arts, Calamba, Filipina, 2005
- Rekor MURI sebagai dalang terkreatif dengan kreasi jenis wayang terbanyak
(1.491 wayang), 2007
- Pemuda Award Bidang Seni dan Budaya dari DPD Hipmi Jateng, 2005

Dalang wayang kulit dan wayang golek asal Kabupaten Tegal, jawa Tengah, Ki Enthus Susmono, berusaha mengikuti persoalan yang dihadapi masyarakat. Kelebihannya berimprovisasi dan menciptakan kreasi wayang membuat dia diperhitungkan di dunia seni pewayangan.

Oleh SIWI NURBIAJANTI

Akhir Januari lalu, karya wayang terbarunya, wayang Rai Wong atau wayang berwajah orang, dipamerkan di Museum Rotterdam, Belanda. Pameran yang rencananya berlangsung selama enam bulan itu bertajuk Wayang SuperstarThe Theaterworld of Ki Enthus Susmono. Pameran ini menampilkan wayang kulit dan wayang golek karya Enthus yang dimiliki Museum Tropen.
Jumlah wayang yang dipamerkan sebanyak 57 buah, diantaranya wayang berwajah George Bush, Saddam Hussein, dan Osama Bin Laden. Seusai pameran Juli nanti, Enthus akan mementaskan wayang kulit Rai Wong dengan lakon Dewa Ruci di Amsterdam, Dohctrect, dan Paris.
Popularitas Enthus sebagai dalang tak diperoleh dengan mudah, meski darah seni sang ayah, Soemarjadiharja, yang berprofesi sebagai dalang wayang kulit dan wayang golek, mengalirinya.
Meskipun lahir dari keluarga dalang, Enthus tidak diizinkan oleh ayahnya menjadi dalang. "alasan ayah saya, dadi dalang kuwi abot sanggane (menjadi dalang itu berat bebannya)," kata Enthus.
Ketika itu dia tak begitu mengerti makna ucapan sang ayah. Seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami maksud sang ayah. Katanya, hal paling pokok yang sering terjadi pada dalang adalah manajemen keuangan yang salah. Dalang sering menggunakan manajemen ayam, yaitu langsung menghabiskan uang yang diperolehnya.
Oleh karena itulah, ayahnya tak ingin Enthus menjadi dalang. Dia diharapkan belajar sampai perguruan tinggi agar mempunyai bekal hidup cukup. Namun, sejak masih kecil ia justru sering mencuri kesempatan memainkan wayang milik ayahnya.

Disindir guru

Semangat Enthus untuk menggeluti dunia wayang terusik ketika ia disindir salah seorang gurunya. Saat itu ia duduk di bangku SMP Negeri 1 Tegal. Gurunya mengatakan, sebagai anak dalang kok dia tak bisa memainkan gending.
Merasa tertantang, ia lalu mengikuti kegiatan ekstra kurikuler karawitan. Enthus dibimbing gurunya, Prasetyo. Menurut dia, ilmu dari gurunya itu yang menjadi dasar kemahirannya memainkan gamelan dan mendalang.
"Bisa dikatakan, ilmu itu yang membuat saya bisa makan sampai sekarang," tuturnya.
Berkat latihan rutin karawitan, Enthus menjadi mahir memainkan kendang, hingga ia dijuluki teman-teman sebagai Enthus tukang kendang. Lulus SMP, ia bisa memainkan kendang untuk mengiringi tari Eko Prawiro.
Selepas SMPN 1 Tegal, ia melanjutkan belajar di SMAN 1 Tegal. Saat duduk di bangku SLTA inilah, ia mulai mendalang. Ini berawal dari acara lomba karya penegak pandega dalam kegiatan ekstra kurikuler pramuka.
Enthus mendalang menggunakan wayang dari batang pohon pisang dengan gamelan cangkem (suara mulut). Layar atau geber diikatkan pada tongkat pramuka yang dipegang teman-temannya.
"Lampu untuk penerangan dengan obor. Wayang yang dimainkan Punokawan," ceritanya.
Ternyata pentas sederhana itu mendapat sambutan para guru dan teman-temannya. Sejak saat itu ia sering diminta mendalang pada acara pramuka di sekolah-sekolah lain.
Melihat potensi Enthus dalam dunia pewayangan, salah seorang guru SMA-nya, Marwadi, mendatangi ayah Enthus untuk memintakan izin agar anak itu diperbolehkan mendalang. Dari sinilah hati ayahnya luluh, bahkan membuatkan geber kecil untuknya. Untuk latihan ia membuat wayang dari kertas yang diwarnai dengan cat air.
Saat lustrum V SMAN 1 Tegal pada 24 agustus 1983, Enthus diminta mendalang selama dua jam. Ketika itu sang ayah menyaksikan pementasannya. Setelah itu, tak hanya mengizinkan, ayahnya pun mewisuda Enthus sebagai dalang di hadapan warga setempat.
"Dia hanya berpesan agar saya memahami pakem kehidupan lebih dulu, sebelum belajar pakem wayang," katanya. Sejak itu, Enthus menjadi dalang yang sesungguhnya. Ia kerap diminta pentas di balai desa dan acara hajatan.

Ekonomi Keluarga

Februari 1984, Soemarjadiharja wafat dalam usia 55 tahun, karena sakit. Ketika itu Enthus duduk di kelas II SMA. Kepergian sang ayah mengakibatkan ekonomi keluarga itu terseok-seok.
Enthus pun mengambil alih peran sebagai kepala keluarga, untuk menghidupi ibu dan membiayai ssekolahnya. Ia juga harus menghidupi 11 anak pungut sang ayah. jadilah dia bersekolah pada pagi hari, dan malamnya mendalang untuk mendapat penghasilan.
Selepas SMA ia diterima di Jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Mengingat keterbatasan dana, kesempatan itu tak diambilnya. Ia juga mendaftar di Akabri, tapi tak diterima.
Memanfaatkan relasi sang ayah, Enthus terus mendalang.Ia pernah menjadi pembuat minuman di Akademi Seni dan Karawitan Indonesia (ASKI) Solo selama 1984-1986. Di sini pula ia belajar banyak hal dengan melihat bagaimana mahasiswanya berlatih.
"Di sini (ASKI), saya ketemu Pak Bambang Suwarno. Dia dosen yang mengajari saya menggambar," kenangnya.
Nama Enthus berkibar setelah dia memenangi Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri tahun 1988. Ia juga terus berkreasi mengembangkan berbagai jenis wayang sampai wayang Rai Wong.
Wayang Rai Wong dia buat untuk mengenalkan wayang klasik kepada orang yang baru mengenal wayang. Enthus mengakui, sebagai dalang ia tak terikat pakem sehingga dalam pementasan lebih sering menyesuaikan pada situasi dan suka memakai bahasa sehari-hari.
Hal itu dia lakukan sejak awal mendalang, mengingat banyak orang yang menjadi tanggungannya. "Jadi, wayang saya harus laku. Kalau ikut pakem, saya ada di urutan ke berapa?" tambahnya.
Namun, justru dari kondisi seperti itulah Enthus merasa lebih bebas bereksplorasi. Sanggar Satria Laras yang dikelolanya pun makin berkembang, dengan lebih dari 200 orang terlibat di dalamnya.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 27 FEBRUARI 2009

Minggu, 01 Mei 2011

Abas: Berdayakan Penganggur di Sektor Perkayuan


ABAS

Lahir : Demak, Jawa Tengah, 31 Desember 1960
Istri : Suryani (31)
Anak :
1. Yan Bastian (27)
2. Erik Bastian (24)
3. Hanifah (16)
4. Ayu Asyani (4)
Pendidikan :
1. SD Negeri 1 Demak
2. SMP Negeri 1 Slawi, Tegal
3. SMA Negeri 1 Tegal

Tutupnya belasan industri besar sektor perkayuan setelah penertiban pembalakan ilegal kayu di Kalimantan Barat berdampak pada terpuruknya perekonomian para mantan pekerjanya. Melalui budibudaya hortikultura yang dipeloporinya, Abas (51) memberi cakrawala baru mengenai peluang ekonomi bagi para penganggur sektor kayu di Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

OLEH AGUSTINUS HANDOKO

Interaksi Abas dengan para mantan pekerja kayu terjadi secara tidak sengaja. Awalnya dia prihatin dengan pasokan sayuran di Pontianak dan sebagian besar Kalimantan Barat yang masih mengandalkan Jawa. "Saya cari lokasi , dapat di Desa Korek, Kecamatan Sungai Ambawang," ujarnya.
Abas yang memilih keluar dari pekerjaannya sebagai konsultan di sebuah perusahaan di Sungai Ambawang pada tahun 2005 lalu memilih mencoba budidaya hortikultura. Sambil belajar otodidak dari sumber-sumber tertulis mengenai cara budidaya hortikultura, tentang berbagai jenis sayuran, Abas mencari lokasi yang potensial.
Abas memaklumi pencurian berbagai jenis sayuran yang ditanamnya di lahan seluas lebih kurang setengah hektar. Warga sekitar ketika itu memang lebih banyak menganggur sejak pabrik-pabrik pengolahan kayu tempat mereka bekerja gulung tikar.
"Saya tidak marah," katanya. Namun, Abas memiliki tekbik untuk mengambil hati warga. Sebelum diambil, Abas memanennya terlebih dahulu dan membagikannya kepada mereka. Langkah tersebut membuat warga senang dan malah saling mengingatkan agar tidak mencuri lagi.
Orang-orang sekitar inilah kemudian menjadi generasi pertama kalangan penganggur dari sektor kayu yang ingin belajar budidaya sayuran kepada Abas. "Begitu saya berhasil dalam satu musim tanam sayur, banyak tetangga sekitar yang ingin belajar," kata Abas.

Lahan menganggur

Ada belasan penganggur sektor kayu yang menjadi generasi pertama petani sayur didikan Abas di Sungai Ambawang. Setelah lumayan mahir membudidayakan sayur di lahan milik Abas, mereka kemudian membudidayakan sendiri. "Awalnya, sambil menanam di lahan sendiri, mereka masih saya minta kerja setengah hari di lahan saya supaya masih bisa konsultasi," ujar Abas.
Jenis sayuran yang paling cocok di budidayakan di Sungai Ambawang adalah cabai, kacang panjang, tomat, dan terung. Dari awalnya penanaman di lahan sekitar 100 meter persegi, para mantan pekerja kayu tersebut kemudian memperluas kawasan tanam. Ada yang sampai setengah hektar, bahkan satu hektar.
masalah baru "anak didik" Abas ialah soal modal seiring dengan makin luasnya lahan olah. Maklum, di Desa Korek yang dilintasi jalan trans-kalimantan itu masih banyak lahan menganggur.
Rupanya, gaung kemandirian sebagian penganggur sektor perkayuan di Desa Korek tersebut terdengar oleh penyuluh pertanian Kabupaten Pontianak. Ketiak itu Sungai Ambawang masih masuk wilayah Kabupaten Pontianak, sebelum kemudian menjadi salah satu kecamatan di kabupaten Kubu Raya yang mekar dari Pontianak pada tahun 2007.
Penyuluh pertanian yang menyambangi Abas lalu menawarkan ide untuk membentuk kelompok tani. "Saya setuju dengan jaminan kelompok tani itu tidak untuk kepentingan tertentu, murni untuk membina petani. Kami lalu membuat kelompok tani," kata Abas.
Ada beberapa kelompok tani yang kemudian bergabung di gabungan Kelompok Tani Sumber Makmur yang berpusat di tempat Abas. Gabungan kelomok tani ini mendapat dana stimulan sebesar Rp 100 juta disertai pendampingan intensif dari penyuluh pertanian. Bantuan itu dipakai untuk budidaya intensif di lahan yang dikelola bersama para anggota gapoktan.
Bantuan Rp 100 juta yang bergulir tahun 2008 hanya perlu waktu satu semester untuk berkembang menjadi Rp 160 juta. Meski demikian, bantuan yang Rp 100 juta tersebut tetap dimanfaat kan untuk budidaya intensif, sementara kapitalisasi modal sebesar Rp 60 juta digunakan untuk memodali sejumlah petani yang kekurangan modal.
Keberhasilan petani pemula di Sungai Ambawang tersebut akhirnya menarik perhatian Badan Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian. Pada tahun yang sama Badan Penyuluh Pertanian menunjuk gapoktan tersebut menjadi Pusat Pelatihan Pedesaan Swadaya (P4S) yang kemudian mendapat dana hibah kerja sama Jepang-Indonesia.
Dana hibah untuk P4S Mitra Mandiri Desa Korek tersebut dipakai untuk mendirikan asrama dan ruang belajar yang lengkap."Para petani pemula sangat antusias karena memang belum pernah mengikuti model pelatihan seperti itu," cerita Abas.

Sudah ratusan

P4S Mitra mandiri awalnya menampung 60 orang yang ingin belajar dan memperdalam pertanian sayur-mayur. Hingga tahun 2011 ini sudah ratusan orang yang belajar di P4S yang dipimpin Abas.
kini kondisi yang cukup mencolok di Desa Korek adalah terus berkurangnya jumlah penganggur, indikatornya, Abas mengaku sangat sult mendapatkan tenaga kerja untuk mengurus kebun sayurnya yang seluas tiga hektar. "Dulu banyak orang ingin kerja. Sekarang mereka sudah punya lahan sendiri. bahkan, banyak yang lebih berhasil dari saya. Saya justru senang, saya puas melihat mereka berhasil," tutur Abas.
Sambil mengurus kebun, Abas mendirikan toko pertanian di sekitar lahannya. Tak hanya menjual, dia juga memberi bimbingan dan bukti di lahannya jika ada pembeli yang bertanya. Kadang kala, stok benih yang disiapkan untuk kebun direlakan untuk dibeli masyarakat yang melihat keberhasilan komoditas di kebun milik Abas.
Abas juga tidak membatasi pembelian bagi para petani yang mampu. Ia mengijinkan sejumlah petani berutang, bahkan kini totalnya mencapai puluhan juta rupiah. namun, dengan syarat, mengikuti nasihatnya. "Kalau mereka gagal panen, saya juga yang rugi karena utang sulit dibayar. Para petani umumnya mendengarkan penjelasan saya dan rata-rata berhasil," ujar Abas.
Keberhasilan Abas memberdayakan para penganggur dari sektor kayu itu juga dijadikan model pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Kubu Raya. Mulai Maret 2011 Abas menjadi duta untuk setiap kecamatan di Kubu Raya.
Selain berhasil menggerakkan roda perekonomian masyarakat, upaya yang dipelopori Abas tersebut juga membuat pasokan sayuran di Pontianak stabil. maklum, pasokan dari Jawa sering terhambat cuaca. Kini berbagai jenis sayuran sudah lebih mudah diperoleh di Pontianak.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 2 MEI 2011