Kamis, 11 Agustus 2011

I Wayan Patut : Terumbu Karang untuk Anak-Cucu


I WAYAN PATUT

Lahir : Denpasar, 6 Juni 1971
Pendidikan :
- SD Negeri I Serangan
- SMP PGRI Serangan
- SMEA Negeri Denpasar
Istri : Ni Komang Agustini (25)
Anak :
- Ni Wayan Mahita (7)
- Ni Made Tania (2)
Kegiatan :
- Tenaga penjual ("sales") (1994-1997)
- Aktivis lingkungan (1998-2001)
- Ketua Kelompok Nelayan Karya Segara (2002-sekarang)
Penghargaan : Kalpataru kategori penyelamat lingkungan (2011)

Pulau Serangan, Denpasar, Bali, pernah menjadi "surga" bagi para pencongkel terumbu karang. I Wayan Patut tak dapat tinggal diam melihat kerusakan alam bawah laut di desanya bertambah parah. Berkat kegigihannya, kini tidak hanya terumbu karang yang terselamatkan, tetapi juga masa depan warga Pulau Serangan.

OLEH HERPIN DEWANTO

Sejak 1992, kondisi pantai di Pulau Serangan mulai rusak karena reklamasi. Pelan-pelan ekosistem laut di sekitar pulau yang berada di bali bagian selatan itu mulai terganggu. banyak terumbu karang rusak. Ikan-ikan mulai menghilang dan kehidupan ratusan nelayan di daerah itu semakin sulit.
"Masalahnya, nelayan tetp butuh uang. Maka, mereka mulai mengambil terumbu karang untuk dijual," kata Patut, awal Agustus lalu, di Denpasar.
Lebih dari 100 nelayan di tempat itu pun memiliki aktivitas baru. Mereka pergi ke laut dengan membawa linggis; menyelam dan mencongkel karang.
Penjualan terumbu karang itu sangat menguntungkan mereka. Dalam satu bulan, seorang nelayan dapat memperoleh hingga Rp 15 juta dari menjual batu-batu karang itu. Padahal, jika mengandalkan penangkapan ikan, separuhnya pun sangat sulit mereka dapatkan.
"Memang menguntungkan untuk jangka pendek. Namun, ke depan nelayan itu sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Anak dan cucu mereka sudah tidak dapat menikmati hasil laut," kata Patut.
Terumbu karang merupakan dasar kehidupan biota bawah laut sehingga kerusakan sekecil apapun sudah mengganggu keseimbangan ekosistem. Apabila terumbu karang rusak, ikan-ikan kecil tak dapat bersembunyi di antara karang. Akibatnya, ikan kecil sulit bertahan hidup, apalagi berkembang sampai dewasa.

Tantangan berat

Melihat kerusakan itu, Patut mulai merintis usaha penyelamatan terumbu karang pada 2002. Ia menyadari tantangannya berat karena harus berhadapan dengan ratusan nelayan yang masih ingin meraup keuntungan dari pengambilan terumbu karang.
Patut tak langsung mendekati para nelayan itu, tetapi anak-anak mereka. Ia membuat program pembelajaran bagi para pelajar di tempat tinggalnya di banjar kaja, Desa Serangan, Pulau Serangan, dengan materi khusus berupa cara menanam terumbu karang.
Anak-anak itu diajak membuat media untuk transplantasi terumbu karang dan menanamnya di dasar laut. Setiap terumbu karang yang di tanam juga dipasangi label plastik kecil bertuliskan nama anak yang ikut program itu. "harapannya, orangtua anak-anak itu batal mencongkel karang karena tahu yang menanam karang adalah anaknya sendiri," kata Patut.
Melalui program itu, lama-lama orangtua dari anak-anak itu mulai ikut memahami pentingnya terumbu karang. Situasi ini dimanfaatkan Patut dengan membentuk sebuah kelompok nelayan bernama "Karya Segara"yang fokus dalam bidang konservasi karang pada 2003.
Saat kelompok itu terbentuk, ada sekitar 48 nelayan yang bergabung. Namun, kemudian berkurang menjadi 36 nelayan. Kegiatan utama mereka adalah membudidayakan terumbu karang untuk ditanam kembali. Mereka yang keluar umumnya menilai kegiatan konservasi tidak memberikan keuntungan pasti.
Menyadari bahwa para nelayan masih sangat kekurangan, Patut sama sekali tidak melarang nelayan untuk tetap menambang terumbu karang. Namun, sebagian nelayan yang sudah berhenti kemudian diajak menangkap ikan hias di sekitar pantai untuk dijual. Hasil budidaya terumbu karang dan penangkapan ikan hias cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Paket wisata

Baru pada 2009 Patut mendapat ide untuk membuat program Terumbu Karang Asuh. Dalam kegiatan ini, dia mencari "Bapak Asuh", yaitu orang yang mau membeli terumbu karang dan menanamnya.
Program itu mendapat tanggapan positif dari kalanagan pemerintah dan swasta. Untuk menanam terumbu karang itu, setiap bapak asuh menyumbang Rp 2,5 juta kepada kelompok Karya Segara.
Patut dan rekan-rekannya kemudian melanjutkan program tersebut dengan membuat reef ball atau bola karang buatan lebih banyak lagi. Kerangka bola beton berongga dan berdiameter 60 sentimeter hingga 1 meter itu menjadi media tanam terumbu karang.
Satu paket reef ball dijual Rp 5 juta. Sampai saat ini sudah terjual sekitar 60 unit untuk kegiatan konservasi di Nusa Dua, Kabupaten Badung.
Tidak hanya itu, Kelompok Karya Segara juga bekerja sama dengan agen wisata untuk membuka paket wisata penanaman terumbu karang sejak 2010. Setiap bulan rata-rata ada 400 wisatawan yang berpartisipasi, sebagian besar berasal dari China.
Selain menanam terumbu karang, wisatawan juga dapat melepas kuda laut.
Juni 2011, upaya konservasi Patut dan Kelompok Karya Segara mendapat penghargaan berupa Kalpataru kategori penyelamat lingkungan yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dari total kerusakan area terumbu karang seluas 5 hektar di Pulau Serangan, pada kurun waktu 2003 hingga sekarang area terumbu karang yang sudah terselamatkan seluas 1,8 hektar. "Dengan melibatkan wisatawan, upaya rehabilitasi terumbu karang akan lebih cepat dan efektif," kata Patut.

Mantan "sales"

Alumnus SMEA Negeri Denpasar (1993) yang sempat menjadi sales itu sejak 1998 mulai bergabung dengan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan. Dari LSM itulah Patut mendapat banyak informasi mengenai terumbu karang dan mengenal banyak orang.
Informasi itulah yang ia tularkan kepada masyarakat di desanya. Sementara untuk membiayai berbagai program yang dibentuknya, Patut mengajukan sejumlah proposal permohonan donasi kepaa orang-orang yangia kenal selama aktif di LSM.
Karena memiliki jaringan yang luas, Patut sempat ditunjuk sebagai wakil dari nelayan untuk hadir dalam berbagai forum internasional, seperti di Afrika Selatan dan Jepang. Ia juga sering diminta menjadi fasilitator program konservasi terumbu karang di sejumlah daerah di Bali dan provinsi lain, seperti Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.
Meski demikian, Patut masih belum puas berkarya demi kelestarian lingkungan. Kini, ia sedang merancang program "Bank Sampah" di desanya. Dengan program tersebut, Patut berharap, tidak sekadar desanya bersih dari sampah, tetapi kesejahteraan warga juga meningkat berkat pengolahan sampah.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 12 AGUSTUS 2011

Rabu, 10 Agustus 2011

Sutrisno : Pejuang Kesejahteraan Petani


SUTRISNO

Lahir : Madiun, 1967
Istri : Karsiyatun, 1973
Anak :
- Anton Bakti N (10)
- Indra Dewi K (5)
Pendidikan :
- SD Sambirejo
- SMP Katolik Caruban
- Kejar Paket C (setara SLTA)

Kedelai hitam ("Glycine Soja") memiliki potensi bagus untuk dikembangkan di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Namun, tidak banyak petani yang membudidayakannya karena belum ada kepastian pasar dan jaminan harga. Cerita menjadi lain ketika Sutrisno berhasil mengambil ceruk pasar dan memberikan kepastian harga bagi petani.

OLEH RUNIK SRI ASTUTI

Tidak mudah membuat janji dengan Sutrisno. Sejak ia berhasil meyakinkan industri besar sebagai pasar bagi kedelai hitam tanaman petani di Madiun, penduduk Desa Sambirejo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, ini bisa dibilang memiliki kesibukan yang luar biasa sehingga nyaris menyita seluruh waktunya.
Sejak pagi hingga petang, Sutrisno berada di sawah, memantau perkembangan tanaman kedelai. Dari satu sawah, ia berpindah ke sawah yang lain. Begitu setiap hari, sepanjang hari. Pekerjaan yang menyita waktu seperti itu harap dimaklumi karena dia harus memantau kondisi tanaman kedelai di total luas areal tanam tidak kurang dari 147 hektar.
Hebatnya lagi, tanaman kedelai ratusan hektar itu tidak berada dalam satu lokasi, tetapi tersebar di puluhan desa di lima kecamatan di Kabupaten Madiun, yang potensial untuk kedelai, yakni Saradan, Gemarang, Balerejo, Jiwan, dan Pilang Kenceng.
Sutrisno tidak melulu bergerak pada siang hari. Saat sang surya mulai beranjak ke peraduan, di mana kebanyakan orang beristirahat atau bercengkerama dengan keluarga, ia malah berkeliling menyambangi kelompok petani penanam kedelai hitam. Para petani itu sedang mengadakan pertemuan untuk membicarkan tentang berbagai hal yang menyangkut tanaman kedelai ataupun hal lainnya.

Meyakinkan petani

Bagi dia, hanya pada malam hari para petani bisa diajak ngobrol gayeng (sepuasnya) setelah mereka berkutat seharian di ladang. Dengan mengumpulkan para petani, Ketua Kelompok Tani Margo Mulyo ini lebih leluasa menggali persoalan di lapangan. waktunya pun menjadi lebih efektif dan efisien mengingat ada ratusan petani di setiap kelompoknya.
Sebagai contoh, anggota Kelompok Tani Margo Mulyo saja 253 petani, dengan luar areal tanaman kedelai 92 hektar. Di kebanyakan daerah di Tanah Air, tidak terkecuali di Madiun, rata-rata kepemilikan sawah petani kurang dari 0,5 hektar. Belum lagi karakter sawah mereka tidak sama sehingga memerlukan penanganan yang berbeda. Ada sawah yang cukup irigasinya, ada yang tadah hujan, bahkan ada pula yang letaknya di tepian hutan.
Pada satu sisi, Sutrisno merasa bertanggung jawab membimbing para petani kedelai hitam karena dialah yang mengajak. Lebih dari setahun ia berjuang meyakinkan petani bahwa menanam kedelai hitam memiliki masa depan yang cerah.
akan tetapi, pada sisi lain, ia juga harus menunjukkan komitmennya terhaap industri besar yang siap menampung kedelai hitam petani. Peran seperti inilah yang tidak semua orang bisa melakukannya.
Apalagi, tuntutan perusahaan penampung kedelai tidak mudah. Mereka menerapkan pengawasan yang ketat, mulai dari bibit kedelai, teknik budidaya, hingga penanganan pascapanen. Sutrisno pun harus berupaya keras agar para petani mendapatkan hasil kedelai hitam yang benar-benar berkualitas.
Pada musim panen kedelai di bulan Oktober, kesibukan Ketua Gabungan Kelompok Tani Sambirejo ini biasanya semakin berlipat. Itu karena ia harus mengawasi proses panen kedelai hingga penyortiran yang masih dilakukan konvensional dan manual dengan mengandalkan tenaga manusia.
Tidak kurang dari 100 orang terlibat dalam proses sortir kedelai hitam. hampir semua tenaganya adalah ibu-ibu di Desa Sambirejo dan sekitarnya.Sebagian di antara meeka adalah para lanjut usia yang masih butuh uang, tetapi kalah bersaing di dunia kerja sektor informal, apalagi sektor formal.
Untuk mendapatkan 100 ton kedelai hitam pilihan, butuh waktu sortir 5-6 bulan. Jika pada 2011 ini Sutrisno ditargetkan mendapatkan 140 ton kedelai pilihan, bisa dipastikan proses sortir tidak akan selesai dalam delapan bulan. Itu artinya para ibu-ibu akan mendapatkan tambahan uang belanja selama delapan bulan.
"Orang miskin kalau diutangi (diberi pinjaman) Rp 1 juta malah gak dadi gawe (tidak jadi pekerjaan). Namun, kalau dikasih pekerjaan, meski dengan upah hanya Rp 5.000 per hari, jadi bumbu (bisa bantu kebutuhan dapur)," ujar pria yang mengandalkan ijazah kejar Paket C (setara sekolah menengah atas) ini.
Berkat kerja keras Sutrisno, kedelai hitam menjadi komoditas yang diminati petani karena memiliki nilai jual stabil tinggi, yakni Rp 5.200 per kilogram, jauh di atas harga kedelai biasa, Rp 4.000 per kg. Kedelai hitam juga menajdi primadona ketika pangsa pasarnya jelas, yakni memasok kebutuhan bahan baku kecap di PT Unilever Tbk.

Memutus setan kemiskinan

Apabila kedelai kualitas terbaik di setorkan ke industri besar, kedelai yang pecah diolah menjadi kopi susu kedelai. Kedelai yang tidak bisa diolah dijual sebagai pakan ternak. Lalu, tinten, atau kulit kedelai yang terbawa saat panen, diolah sebagai campuran pupuk organik.
Setidaknya ada lima usaha kreatif yang dirintis Sutrisno melalui wadah kelompok taninya, yakni usaha pembuatan bubuk kopi kedelai hitam, usaha pembuatan pupuk organik, usaha jual beli gabah, serta memberikan les gratis pelajaran matematika dan bahasa Inggris untuk anak-anak petani tidak mampu.
Kegiatan yang disebutkan terakhir itu dia rintis karena menyadari bahwa masa depan anak-anak petani adalah hal penting untuk memutus lingkaran setan kemiskinan. Sebagai anak petani miskin, ia merasakan betul mahalnya bangku pendidikan dan terbatasnya akses pendidikan bagi masyarakat di pedesaan.
Buah kerja keras Ketua Kelompok Tani Margomulyo, Desa Sambirejo, Kecamatan Saradan, kabupaten Madiun, ini pun mendapat apresiasi dari kalangan petani dan pemerintah.
Meski bukan tujuan utama, penghargaan demi penghargaan mulai mendatanginya.
Pada 16 Agustus tahun ini, dia diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan sebagai juara I nasional bidang pengembangan agrobisnis kedelai. Sutrisno pun berhasil mengantarkan Kelompok Tani Margomulyo sebagai juara pertama agrobisnis kedelai tingkat Jawa Timur dan Gabungan Kelompok Tani Desa Sambirejo menyabet juara pertama bidang pengembangan usaha agrobisnis pedesaan.
Desanya juga sering menjadi tujuan studi lapangan bagi petani dari sejumlah daerah Nusantara. Sejumlah perusahaan multinasional dan negara tetangga pun tidak ketinggalan. Setidaknya, Direktur Jenderal Keuangan Timor Leste pernah menimba ilmu di tempatnya. Bahkan, puluhan petani dari 12 negara, di antaranya Amerika Serikat, China, dan Hongkong juga sempat menginap di rumahnya.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 11 AGUSTUS 2011

Selasa, 09 Agustus 2011

Hasanain : Peraih Penghargaan Ramon Magsaysay


HASANAIN JUAINI

Lahir : 17 Agustus 1964
Istri : Hj Runiati Ilarti (43)
Anak :
- Akhwab Habiburrahman (22)
- Dzul Bashor (16)
- M Husni Zayyadi (11)
- Annatiya Maesun (4)
Pendidikan :
- Madrasah Ibditaiyah Nahdlatul Wathan, (NW), Narmada, lulus 1975
- Madrasah Tsanawiyah NW Narmada, 1978
- Killyatul Mu'allimin Al Islamiah Pondok Peantren Gontor, Jawa Timur, 1984
- Fakultas Hukum Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, Jakarta 1995
- Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Mataram, 2006
Pencapaian :
- Pendiri dan Ketua Ponpes Nurul Haramain Narmada, 1996-kini
- Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah kabupaten Lombok Barat, 2003-2008
- Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama NTB, 2007-kini
- Anggota Forum Kerja Sama Pondok Pesantren NTB, 2007-kini
- Ketua Forum Pendidikan Anak Usia Dini NTB, 2007-kini
- Sekjen Badan Amil Zakat NTB, 2010-kini
Penghargaan :
- Ashoka International Foundation Medal for Best Fellow in Religion and Women
Empowerment, 2003
- Piagam Pelestari Lingkungan dari Pemkab Lombok barat, 2004
- Maarif Award, 2008

"Saya tak melakukan apa-apa, hanya menjalankan hobi. Puluhan tahun saya melakukan apa yang diperlukan umat karena memang senang mengerjakannya," kata Hasanain Juaini, pendiri dan Ketua Pondok Pesantren Nurul Haramain, Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

OLEH KHAERUL ANWAR

Hasanain menambahkan, "Saya cepat terinspirasi pada apa yang saya lihat dan pikirkan. Kalau tak dikerjakan, saya merasa tersiksa, terbebani, dan tidak bisa tidur."
Kesenangan Hasanain itu tak hanya diejawantahkan dalam mendidik para santri, tetapi juga diimplementasikan pada masyarakat, seperti konservasi ladangdan kebun seputar kawasan hutan. Gerak-geriknya selama ini direkam Ramon Magsaysay Foundation Award (RMFA) yang sekaligus menominasikan dia meraih penghargaan.
"Saya sedang menyiapkan makalah yang akan disampaikan saat penganugerahan nanti," ujarnya.
Tahun 2011 ada enam peraih Ramon Magsaysay Award, yaitu satu yayasan, Alternative Indigenous Development Foundation dari Filipina; Nileema Misra dan Harish Hande dari India; Koul Panha dari Kamboja; serta Tri Mumpuni dan Hasanain dari Indonesia.
Hasanain dinilai berhasil menerobos pakem menara gading pondok pesantren (ponpes) dengan menggabungkan pendidikan teori dan praktik. Ia kreatif mempromosikan nilai-nilai kesetaraan jender, membangun kerukunan beragama dan pelestarian lingkungan di daerahnya.
Penghargaan itu akan diserahkan 31 Agustus nanti di Manila, Filipina. Dalam situs resminya, selama tahun 1957-2011, RMFA memberikan penghargaan kepada 290 individu/lembaga dari 22 negara Asia.
Bagi Hasanain, penghargaan itu tak pernah terlintas di pikirannya. Selama ini ia bekerja saja, mengingat begitu banyak persoalan sosial yang harus diatasi. Apalagi masyarakat di Pulau Lombok umumnya telanjur dimanjakan kesuburan tanah dan sumber daya alam sehingga suka bersikap mele molah doang (mau enaknya saja).
"Kita mau membangun rumah tinggal tebang pohon di hutan. Padahal, hitung-hitungan kasarnya, setiap individu telah mengutang (mengambil) kayu untuk membangun rumah dan perabotan lain sebanyak 127 batang. Maka, kewajiban setiap orng membayar utangnya itu dengan menanam kembali," katanya.
Guna mengubah sikap masyarakat itu, Hasanain menemui warga dan mengajak mereka berdialog. Ia membuka cakrawala berpikir mereka, bahkan memfasilitasinya dengan dana.
"Sesungguhnya, keinginan untuk memperbaiki sudah ada pada manusia itu sendiri," ujar pendiri ponpes yang bermula dari 50 santri pada 1996 ini.
Di Dusun Gunung Jahe, kawasan Hutan Sesaot, Lombok barat, misalnya, dia menyediakan 2.000 pohon bagi satu kepala keluarga, 5 sapi, dan 1.000 ayam. dengan kewajiban menanam lahan yang gundul dengan pohon yang disediakan itu, hasil pengembangannya sapi dan ayam tersebut sebagian besar diambil warga. Hasilnya, sekitar 36 hektar kawasan itu dihutankan kembali. Untuk warga di Dusun Batumulik, dia membuatkan demplot pembibitan tanaman. Warga diajari teknis pembibitan. Sedangkan sumber bibitnya dianakan dalam hutan. Secara gratis warga mendapatkan hasil perbanyakan bibit untuk ditanam lagi di ladang dan kebun mereka.

Satu kata dan perbuatan

Sebagai panutan yang bergelar tuan guru, Hasanain tak asal bicara. Ia menunjukkan kerjanya kepada 500 santri putri dan 400 santri putra.
"Sekarang sudah ada kontainer penampung sampah. Dulu sampah berserakan di areal pondok," ceritanya.Ketika itu sampah yang diproduksi ponpes mencapai satu ton per hari.
jadilah setiap hari Hasanain bertindak sebagai "kuda" penarik gerobak, diikuti para santri putri yang mendorong gerobak itu. Sampah dalam gerobak dibuang ke lokasi yang berjarak sekitar 1 kilometer dari ponpes. Kegiatan ini berlangsung selama dua tahun.
Dengan cara itu, Hasanain menunjukkan selarasnya perkataan dan perbuatan. Itu juga merupakan upayanya menanamkan rasa tanggungjawab, etos kerja, dan solidaritas kepada para santri bahwa apa yang ada di depan mata harus ditangani bersama, tak terkecuali perempuan.
"Jangan heran jika di sini ada santriwati yang nyopir traktor atau merakit software komputer dalam tempo sekitar 15 menit," ungkapnya mencontohkan tentang pendidikan jender yang tak sekadar teori di ponpesnya.
Sikap bertanggung jawab juga ditunjukkan Hasanain saat ia belajar tentang seluk beluk hutan di Cagayan de Oro, Filipna, atas undangan Xavier University pada 2007.
Dia juga tetap mendiktekan soal ujian bagi para santri. bahkan, saat menunaikan ibadah haji di Padang Arafah pun, ia tetap mengajar dengan perantara video.

Orangtua

Beragam aktivitas yang dijalani Hasanain tak lepas dari sosok almarhum orangtuanya. Ibunya, Hajjah Jahrah, adalah guru yang tetap mengajar dan mengunjungi majelis taklim meski badannya tak sehat setelah stroke.
Begitu pula ayahandanya, Haji Muhammad Djuani, nyaris tak pernah absen mengunjungi kelompok pengajian hingga ke berbagai pelosok desa di Pulau Lombok. Padahal, sang ayah harus beraktivitas di kursi roda setelah kakinya diamputasi dan ginjalnya tinggal satu.
Satunya perkataan dan perbuatan yang dicontohkan orangtuanya itu membuat Hasanain merasa malu kalau cuma hidup "berleha-leha".
Rasa malu itu pula yang mengisi benak Hasanain, warga pertama Nusa Tenggara Barat yang dinominasikan RMFA sebagai peraih Ramon Magsaysay Award, saat mendengar kabar tersebut."Rasanya masih ada orang lain yang lebih berhak daripada saya," kilahnya.
Namun, di sisi lain, penghargaan itu dianggapnya sebagai tantangan. "Penghargaan itu seakan melecut dan menyuruh saya bekerja lebih keras lagi," tuturnya.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 10 AGUSTUS 2011

Senin, 08 Agustus 2011

Berry Herlambang : Juragan "Servis" Jalur Pantura


BERRY HERLAMBANG

Lahir : Bandung, 13 September 1965
Istri : Amalia Agustina (43)
Anak :
- M Widan Kusuma Perdana (17)
- M Fahmi Mirza Ibrahim (14)
- M Daffa Lazuardi (6)
Pendidikan :
- SD sampai SMA di Bandung
- Kursus otomotif di Shizuoka, Jepang, 1986-1989
Penghargaan :
- Tokoh penyelenggara kursus nasional, 2008
- Penyedia kursus otomotif terbaik nasional, 2008
- Kursus berprestasi tingkat Nasional, 2006
- Kursus berprestasi tingkat Jawa Barat, 2006
Organisasi :
- Konsorsium otomotif Kemdiknas, 2006-kini
- Ketua perumus kurikulum teknik mengemudi, Kemdiknas, 2011
- Ketua Asosiasi Kursus Mengemudi Indonesia, 2011

Sejak tahun 2006, setiap menjelang Idul Fitri, Berry Herlambang membuka layanan gratis bagi pemudik yang menggunakan sepeda motor. Sebagian pemudik dari Jakarta yang melintasi jalur pantai utara Jawa Barat mengenang dia sebagai "pelepas dahaga" di tengah teriknya matahari jalur itu. Sembari menunggu sepeda motor mereka diperbaiki, para pemudik melepas penat sambil menikmati pijatan gratis.

OLEH RINI KUSTIASIH & NASRULLAH NARA

Itulah salah satu kiprah Berry Herlambang, pemilik dan pengelola Lembaga Pendiidikan Teknik Eka Jaya Berrindo di Cirebon, Jawa Barat. Ia tengah bersiap-siap membuka layanan gratis itu di Jalan (By Pass) HR Dharsono , Cirebon.
"Beberapa calon pemudik yang pernah kami layani sudah menelpon untuk memastikan apakah layanan gratis itu kembali dibuka," ujar Berry pekan lalu.
Sebanyak 15-20 pemuda yang dia siapan untuk misi sosialnya itu adalah para murid terbaik dari lembaga kursus yang diwarisinya dari sang ayah, Haji Eddy Wanili Hardjadinata (76). Sekitar 52 tahun silam, saat sang ayah mendirikan lembaga kursus itu, semangat ebrbagi dengan sesama selalu ditekankan.
"Berbagi" di sini berarti memberikan peluang kepada anak-anak dari kalangan kurang mampu untuk mengenyam kecakapan dan keterampilan otomotif. Pada tataran yang konkret dan kontekstual, kepada pemudik yang belum mampu pulang kampung dengan mobil, semangat "berbagi" itu diberikan lewat layanan perbaikn sepeda motor tanpa meminta bayaran.
"Berjalan sejauh ratusan kilometer pastilah mesin motor itu 'kelelahan' dan perlu dicek demi keselamatan perjalanan.Kami senang bisa membantu orang yang perlu pertolongan," ujar Berry.
Lewat lembaga pendidikan non formal yang dikelolanya, Berry menampung lulusan SMP-SMA untuk diberi bekal keterampilan. Uniknya, walau berstatus kursus, lembaga ini tak sekadar menekankan muatan praktis, tetapi juga memberikan wawasan teori seputar otomotif.
Berry juga menerima calon mekanik perempuan. Fatmawati (19), misalnya, karena tak punya biaya, ia mengikuti kejar paket C di Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon. Kondisi ayahnya yang sakit-sakitan lalu meninggal menjadikan Fatmawati tulang punggung keluarga.
"Senang bisa belajar soal rangka dan isi, juga kelistrikan dalam mesin motor dan mobil," ujar Fatmawati yang sempat bekerja di sebuah bengkel modifikasi mobil di Jakarta.
Untuk menjadi mekanik otomotif andal, peserta didiknya mengikuti empat tahapan. Mereka belajar teori dan praktik di kelas, lalu diminta bedah kasus alias langsung praktik memperbaiki motor atau mobil di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
sekalipun baru belajar, mereka tak bisa main-main sebab hasil kerja mereka dievaluasi."kalau pekerjaan mereka baik, pasti untung karena makin banyak pelanggan bakal ke rumah mereka,"kata Berry.
Setelah itu, peserta yang dinilai mumpuni dibuatkan tempat untuk membuka bengkel gratis selama waktu tertentu di kampungnya. Bengkel gratis bisa dibuka di masjid kampung, kantor desa, atau tanah lapang. Tujuannya, membangun sikap mandiri dan tanggung jawab mereka atas pekerjaan.
Tahap keempat, magang. Setiap calon mekanik harus magang kerja di bengkel swasta."Pada tiga tahapan sebelumnya mereka diajari mandiri dan menjadi manajer atas usahanya sendiri. Setelah itu, mereka diajari bagaimana bekerja pada orang lain," kata Berry.
Berbekal keterampilan otomotif, peserta kursus diharapkan berwirausaha. hingg akini, dalam usia 52 tahun Eka Jaya Berrindo sudah mencetak lebih dari 50.000 alumnus mekanik otomotif dan 150.000 alumnus teknik mengemudi.
Berry juga melatih korban gempa dan tsunami di Aceh agar bisa bangkit dengan keterampilan otomotif. Hal serupa dilakukannya untuk korban gempa di Pangandaran, Jawa Barat, dan Yogyakarta.
Pascabanjir melanda Jakarta tahun 2007, sejumlah pemuda Ibu Kota juga mengenyam pendidikan keterampilan ini. Oleh Kementerian Pendidikan Nasional, ia kerap dilibatkan untuk membekali kecakapan otomotif bagi anak-anak penghuni lembaga pemasyarakatan di sejumlah daerah.
Anak-anak dari keluarga miskin yang dulu dibimbingnya banyak yang membuka usaha bengkel sendiri. Misalnya, Iib Muhibah yang menjadi manajer pada showroom otomotif di Cirebon.

Indahnya berbagi

Jiwa sosial Berry sudah terbangun sejak masa kecil. ia mengenang ibunya, Henny Suwaendah, sebagai sosok yang diteladani.
"Saya menunggu Ibu pulang belanja, lalu membantunya membagikan sebagian barang dagangan (bahan pokok) kepada orang yang membutuhkan. Saat orang-orang menerima pemberian itu dan bergembira, saya ikut senang. Di situ saya merasakan indahnya berbagi," kata anak kelima dari enam bersaudara ini.
Aktivitas Berry di bidang otomotif tak lepas dari peran ayahnya, Eddy Wanili Hardjadinata. Usaha kursus mengemudi dan mekanik bidang otomotif dirintis ayahnya pada 1959 yang ditandai dengan pendirian Eka Jaya di Bandung. Cabang lain kemudian dibuka di Tasikmalaya (1971), Cirebon (1974), dan Garut (1985).
Berry yakin, kehidupan manusia tak pernah lepas dari transportasi. Prinsip itu terilhami oleh kutipan sebuah iklan otomotif: "Tidak semua anak bercita-cita menajdi diplomat. Tetapi setiap anak pasti memimpikan saatnya ia menjadi seorang pengemudi, tidak hanya seorang calon driver."
Di benaknya, selama sarana transportasi ada, selama itu pula diperlukan lembaga pendidikan yang membekali calon pengemudi, bagaimana berkendara dengan aman. Sebab, mengemudi bukan asal banting setir atau injak gas. Di sini diperlukan keterampilan, pengetahuan, sikap, dan kebiasaan berlalu lintas yang baik dan benar.
Fakta bahwa kecelakaan lalulintas sebagai salah satu "pembunuh masal" yang mengerikan di negeri ini mendorong Berry terus mengampanyekan standardisasi pendidikan mengemudi aman. Ia memandang standardisasi nasional mutlak agar tidak sembarang orang mengajarkan mengemudi dengan menjanjikan surat izin mengemudi (SIM). Ia menekankan prosesnya, bukan tujuan instan memperoleh SIM.

Kamis, 04 Agustus 2011

Ede Kadarusman : Mengembalikan Keunggulan Minyak Atsiri Garut


EDE KADARUSMAN

Lahir : Garut, 19 Agustus 1956
Istri : Iis Jubaedah (51)
Anak :
- Ahmad Nur Fathurudin (29)
- Iman Mutaqin (26)
- Nida Hamida (24)
- Ikhsan Taufik (22)
Pendidikan :
- SMA 1 garuta, lulus 1976
- Akademi Akuntansi Bandung, 1984
- Fakultas ekonomi Universitas Indonesia, 1987
Pencapaian :
- Ketua Asosiasi Minyak Atsiri Jawa Barat
- Anggota Dewan Atsiri Indonesia
- Ketua Koperasi Akar Wangi Garut

Minyak atsiri dari penyulingan vetiver bak emas cair bagi penduduk di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Teknik penanaman vetiver yang mudah, bebas hama, dan harga jual minyak atsiri yang tingi membuat banyak warga tertarik mengembangkannya. Minyak atsiri biasa digunakan perusahaan pembuat minyak wangi dan perisa makanan.

OLEH CORNELIUS HELMY

Menurut Ede Kadarusman, petani vetiver di Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten garut, terdapat 2.400 hektar lahan vetiver di Kabupaten Garut yang tersebar di Kecamatan Samarang, Bayongbong, Leles, Cilawu, dan Kecamatan Pasirwangi. Namun, yang tertanami hanya 1.700 hektar.
Dengan lahan seluas itu, Kabupaten garut menyuplai 50 ton-60 ton minyak atsiri per tahun bagi dunia dari total kebutuhan 250 ton per tahun. Ekspor sudah dilakukan ke Jerman, Perancis, India, Srilanka. Jumlah itu hanya kalah dari Haiti yang menghasilkan 100 ton minyak atsiri per tahun.
Dengan perhitungan tersebut, ada 90 ton-100 ton permintaan minyak atsiri dunia belum teerpenuhi."Celah itu yang tengah saya dan teman-teman petani vetiver di Garut coba rintis," kata Ede, yang juga Ketua Koperasi Akar Wangi Garut.
Ede bukan generasi pertama petani vetiver di Garut. Dia adalah cicit Haji Tasdiq, pribumi pionir penyulingan vetiver di Desa Sukakarya, bekerja sama dengan tuan tanah Belanda bernama Mr Haag, sejak tahun 1918. Saat itu, minyak vetiver dijual kepada tuan dan nyonya Belanda yang sengaja singgah di Garut.
"saking raminya, bahkan di sini sempat ada hotel untuk orang eropa. Tetapi sayang, bangunannya sudah hancur akibat agresi militer tahun 1947. Kini yang tersisa tinggal sedikit fondasinya," katanya.
Agresi militer Belanda juga menghancurkan bekas pabrik penyulingan dan berimbas pada hengkangnya mayoritas orang Eropa dari Garut. Akibatnya, bisnis penyuingan pun surut. Baru tiga tahun kemudian, Tasdiq kembali memulai usaha penyulingan dengan ketel buatan penyulingan sederhana yang dibuat sendiri.
"Perlahan, dengan berbagai penyempurnaan, mulai banyak warga menanam kembali minyak vetiver yang memicu tumbuhnya penyulingan di sekitarnya. Kualitas pun terjaga dilihat dari harganya yang tinggi. Kini 1 kilogram minyak vetiver dijual rata-rata di atas Rp 1 juta," kata Ede.

Petani alpa

Keuntungan besar, cerita Ede, pernah membuat petani lupa. Perlahan, keberadaan vetiver diperas tanpa henti. Perhatian pada kesuburan tanah dan kualitasnya dikesampingkan. Akibatnya, kualitas penyulingan vetiver menurun.
Bentuk alpa itu terlihat dari pola tanam yang tidak menggunakan pengukuran jarak tanam yang tepat. Mayoritas petani sembarangan menanam vetiver dengan membuat jarak terlalu dekat antartanaman. Akibatnya, pertumbuhan vetiver tidak maksimal. akar menjadi pendek dan hanya bisa dimanfaatkan sedikit untuk disuling.
Selain itu, petani juga menggunakan pupuk kimia dengan pertimbangan praktis. Akibatnya, tanah terkikis kesuburannya karena tidak kuat menahan kerasnya unsur kimia dari pupuk.
"Panen juga tidak dilakukan sesuai waktu ideal. Petani ingin mnedapatkan untung lebih cepat sehingga memanen vetiver kurang dari 12 bulan," kata Ede.
Selain itu, dengan alasan hemat bahan bakar, tingkat pemanasan penyulingan pun diperbesar. Dari idealnya 2 bar menjadi 5 bar. Di satu sisi cara itu bisa menghemat bahan bakar dan waktu.
Bila dipanaskan 2 bar, dibutuhkan 450 liter solar atau oli bekas untuk menyuling 1 ton akar kering vetiver. Waktu yang dibutuhkan sekitar 20 jam. Sementara dengan menggunakan pemanasan 5 bar, hanya dibutuhkan 350 liter solar atau oli bekas untuk menyuling 1 ton akar kering vetiver. Waktu yang dibutuhkan pun sekitar delapan jam lebih cepat.
Akan tetapi, harga minyak penyulingan 5 bar biasanya jauh lebih murah karena berbau gosong dan keruh. Harga jualnya sekitar Rp 1,2 juta per kilogram. Sementara hasil penyulingan 2 bar jauh lebih mahal, yakni Rp 1,7 juta per kilogram, karena hasilnya lebih jernih.
Kondisi seperti itu mendorong Ede mengajak petani kembali pada pola tanam berbasis warisan ilmu petani zaman dulu. Tak mudah memang, sempat muncul suara penolakan. "Kalau sudah ada cara yang mudah, mengapa harus diganti dengan yang rumit?" tutur Ede menirukan ucapan warga saat itu.

Organik

Ede tak menyerah. Di lahan seluas 20 hektar, ia mempraktikkan sendiri metode tanam yang benar. Ia memperhitungkan jarak antartanaman, sekitar 60 x 40 sentimeter.Tujuannya, memberikan kesempatan pada akar vetiver utuk berkembang biak.
Hasilnya, ia mendapatkan akar yang lebih panjang, sekitar 7 ton kering dengan panjang 50 sentimeter-1 meter. "Hasli ini masih jauh dari vetiver di Thailand yang akarnya mampu mencapai 2 meter," katanya.
Ede juga konsisten hanya menggunakan pupuk organik. Bahan-bahannya dari kotoran kambing atau pembusukan daun vetiver dan akar vetiver penyulingan. Pemupukan dilakukan rutin dan terjadwal, antara pukul 07.00 dan 12.00
Selain pola tanam, untuk meningkatkan penjualan di luar negeri, ia mulai mengembangkan metode penanaman organik demi mendapatkan sertifikasi dari The Institute for Marketology, yang berbasis di Swiss, sejak Juli 2011.
Ede bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia dan lembaga Swiss Contact mengembangkan metode yang diklaim pertama dilakukan di Indonesia. Cara itu diyakini akan meningkatkan kualitas vetiver dan harga jual minyak atsiri di Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Uni Eropa. Tahap pertama, penanaman organik dilakukan pada lahan vetiver seluas 5 hektar.
"Sebenarnya teknis di lapangan sama dengan yang sudah biasa dilakukan petani. Selain penggunaan kompos dan bahan alami, ada pengaturan jarak tanam dan pemilihan bibit. Namun, kami harus lebih tekun mencatat konsep dan metode tanamnya," katanya.
Ke depan, Ede berharap apa yang dilakukan bisa menginspirasi petani vetiver lainnya. Alasannya, jika menggunakan metode yang tepat, dengan sendirinya vetiver bisa memberikan keuntungan ekonomi yang tinggi.
"Dengan menjaga agar lahan selalu subur dan konsumsi pasar tetap terjaga, petani tentunya sudah mewariskan 'emas' yang berharga bagi anak cucu kita kelak," katanya.

dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 5 AGUSTUS 2011

Rabu, 03 Agustus 2011

Kegelisahan Ujang dan Nasib Petani


Data Diri

Nama : Ujang Ahmad Zaenal Muttaqin
Lahir : Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, 3 April 1970
Istri : Imas Nurhayati (32)
Anak :
- Elva Latifah (7)
- Gina Samsiah (4)
Pendidikan :
- Sekolah Dasar Negeri Jambenenggang, Kabupaten Sukabumi
- Madrasah Tsanawiyah Negeri Sukabumi
- Madrasah Aliyah Negeri Syamsul Ullum Sukabumi

Petani konvensional di tanah Sunda umumnya mengenal falsafah "kadenge, kadeuleu, karampa, karasa" atau mendengar, melihat, meraba, dan merasakan. Bagi Ujang Ahmad Zaenal Muttaqin, falsafah yang dianut oleh para petani tradisional tersebut menjadi hambatan serius ketika dia ingin mengajak mereka untuk bertani organik.

Oleh AGUSTINUS HANDOKO

Para petani konvensional harus mendengar, melihat, dan meraba dulu baru mereka percaya terhadap teknologi baru dalam bertani. Susahnya minta ampun untuk meyakinkan petani konvensional bahwa bertani organik dengan cara budidaya baru itu merupakan cara terbaik guna meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Ujang, ayah dua anak ini.
Kegelisahan Ujang terhadap nasib petani di desanya Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai muncul sekitar akhir tahun 2000. Ketika itu Ujang baru kembali dari Jepang, setelah bekerja di sebuah pabrik sejak tahun 1997.
Ketika di Jepang, setiap akhir pekan Ujang menyempatkan diri magang di sebuah sentra pertanian. Ini bisa dia lakukan dengan rekomendasi dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukabumi. Di sini dia melihat pertanian yang sudah sistematis dikerjakan mesin. Petani di Jepang hanya menjadi operator sejak membajak sawah, menyemai, menanam, hingga memanen.
"Produktivitas lahan mereka tinggi, mencapai 11 ton per hektar waktu itu," ceritanya.
Pulang ke Indonesia, Ujang membuang mimpinya untuk melihat petani di kampungnya mengoperasikan mesin di sawah. Namun, muncul keyakinannya bahwa petani bisa meningkatkan taraf hidup jika mereka mau.
"Dari teknologi, jelas kita ketinggalan (dari Jepang). Tapi, kalau petani mau mengubah pola bertaninya, saya yakin mereka bisa meningkatkan taraf hidup," kata Ujang.

Petani miskin

Lulusan Madrasah Aliyah Negeri Syamsul Ullum Sukabumi itu mendapati petani di sekitarnya sebagai petani miskin yang penghasilannya amat kecil.
"Di lahan seluas 1 hektar, petani penyewa hanya mendapat pemasukkan sebesar Rp 2 juta selama satu musim, atau sekitar Rp 500.000 per bulan," kata Ujang.
Penghasilan itu dihitung dari ongkos produksi,mulai dari pupuk dan pengolahan lahan sebesar Rp 2,2 juta per hektar serta sewa lahan Rp 7 juta per hektar per musim.
hasil panen mereka hanya 5,6 ton per hektar dan dijual dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Dengan demikian, panen semusim hanya memberi hasil Rp 11,2 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi dan sewa lahan, petani hanya memperoleh Rp 2 juta per musim.
"Kami mengenal istilah, petani hanya timbul daki setelah bertani karena mereka memang tidak mendapat apa-apa," kata Ujang.
Dengan falsafah yang dianut oleh para petani konvensional itu, dia harus memulai lebih dulu bagaimana bertani organik dan budidaya yang baik hingga bisa memberikan keuntungan.
Ketika memulai cara bertani organik, banyak petani konvensional yang mencemooh Ujang. Apalagi, di masih termasuk "anak kemarin sore" di kampung Kebonpedes.
banyak petani yang mengatakan bahwa mereka lebih dulu bertani dripada saya, jadi tentunya merasa lebih tahu. Saya diam saja, tetapi tetap yakin ketika melihat hasilnya, mereka akan percaya," katanya.
Ujang kemudian memulainya dengan mengganti pupuk pabrik dengan pupuk kompos dari tumbuh-tumbuhan hijau dan granole (pupuk dari kotoran hewan yang dicampur dengan dekomposer). Ujang memerlukan waktu tiga musim untuk mengakhiri penggunaan pupuk pabrik karena kondisi tanah belum terbiasa.
Dia memproduksi sendiri granole dengan maksud agar tak bergantung pada pihak manapun. Dia mendapatkan kotoran hewan dari warga yang beternak sapi dan para tetangga yang memiliki kambing dan ayam.
Apabila menggunakan kompos, sawah seluas 1 hektar memerlukan sekitar 5-7 ton. Adapun dengan granole, sawah luas yang sama hanya memerlukan 500 kilogram sampai 1 ton. Kebutuhan ini tergantung dari kondisi keasaman tanah.

Beralih ke organik

Selain beralih ke pertanian organik, Ujang juga memulai budidaya bertani yang baru, yakni dengan mengurangi penggunaan benih padi.
"Petani konvensional biasanya menggunakan hingga delapan bibit dalam satu lubang. Ketika tumbuh maksimal hanya 18 anakan yang jadi karena bibit sulit tumbuh," katanya.
Adapun cara yang dilakukan Uajng adalah dengan menggunakan satu-dua bibit saja per lubang. Ternyata setelah tumbuh, tanaman itu bisa menghasilkan 25 anakan per lubang.
Dengan cara itu, dia hanya memerlukan paling banyak 8 kilogram benih per hektar. Bandingkan dengan petani konvensional yang memerlukan benih sampai 35 kilogram per hektar.
Masih belum puas, Ujang berusaha menambah pengetahuan bertaninya dengan mengikuti Sekolah Lapangan Pengelola Tanaman Terpadu (SLPTT) di Kebonpedes.
Terbukti, Ujang bisa mendongkrak produktivitas tanaman padinya menjadi 8 ton lebih per hektar.
Adapun ongkos produksi yang diperlukan Ujang untuk mengolah 1 hektar lahan hanya Rp 2,1 juta. Ditambah sewa lahan Rp 7 juta, dia hanya menghabiskan biaya ssebanyak Rp 9,1 juta. Namun, hasil panen dan harganya bisa naik signifikan.
Dengan hasil panen padi organik pada musim terakhir sebanyak 8,82 ton per hektar dan harga gabah basah Rp 2.400 per kilogram, Ujang memperoleh penghasilan Rp 21,168 juta. Jumlah itu, setelah dikurangi modal kerja, masih bersisa Rp 12,068 juta dalam semusim, atau Rp 3 juta per bulan.
Melihat keberhasilan Ujang, puluhan petani konvensional dan pemuda pengangguran di Kebonpedes mulai tertarik menekuni pertanian organik.
Dalam satu musim terakhir, delapan kelompok tani setempat meminta Ujang mendampingi mereka mempraktikkan cara bertani organik. Setiap kelompok tani itu mempunyai anggota 20-25 petani.
Seiring dengan makin banyaknya petani konvensional yang menerapkan pertanian organik dan cara budidaya baru itu, Ujang yakin petani di Kebonpedes akan mandiri.
"Apa lagi yang mau dibantah? Pupuk sudah bisa kami produksi sendiri dan harga gabah padi organik juga jauh di atas harga padi nonorganik. Kalau ada kemauan, sebenarnya tidak sulit menjadi petani mandiri," kata Ujang.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 27 JULI 2009


Selasa, 02 Agustus 2011

Azhar MJ : Modifikasi Musik Lawas Kerinci


AZHAR MJ

Usia : 48 tahun
Istri : Letna Wilis (39)
Anak :
- Mesy Juliza (20)
- Bela (13)
Pendidikan : Akademi Seni Drama dan Film Yogyakarta, lulus 1984
Pencapaian :
- Album "Musik Tradisi Kerinci Mindulahin"
- Mendirikan Sanggar Seni "Mindulahin" di Kerinci, 1979, dan mengembangkan
hingga ke Kota Jambi (1992). Mereka berlatih di Taman Budaya Jambi.
- Menciptakan sejumlah alat musik tradisi modifikasi dan menghidupkan kembali
penggunaan sejumlah alat musik yang hampir punah.

Dalam budaya modern yang dinamis dan saling melebur, musik tradisi kian ditinggalkan. Anak muda seolah tak berminat dengan warisan tempo dulu. Musik tradisi terdengar monoton, lamban, dan bikin mengantuk.

OLEH IRMA TAMBUNAN

Apa yang salah? " tak ada yang salah," ujar Azhar MJ yang ditemui di Taman Budaya Jambi, Kota Jambi.
Azhar menyadari, kegandrungan akan sesuatu itu selalu berubah-ubah. Anak muda tak bisa dipaksa menikmati musik tradisi. Kini, anak muda lebih menyukai musik pop. Itu tak salah. Namun, ada yang perlu ditata kembali pada musik tradisi.
Kesadaran itu mendorong Azhar mengaransemen musik asal Kerinci dan mengolaborasikan alat-alat musik tradisi untuk menghasikan karya yang lebih dinamis. Rangkaian proses itu dimulainya sejak tahun 1979.
Azhar mendirikan Sanggar Seni Mindulahin yang bermakna kerinduan pada seni tempo dulu.Mindulahin waktu itu beranggota tujuh orang tua. Mereka memiliki emosi serupa, melihat anak muda semakin enggan bermain musik tradisi. Para orang tua ini, kecuali Azhar yang saat itu berusia 16 tahun, bertekad menghidupkan kembali musik khas Kerinci.
Mereka menginventaris semua alat musik milik Kerinci yang sebagian besar berupa tabuhan dan ala musik tiup. Ada kelintang, cangar, gendang, serdam, sekdu, seruni, seruling, dan katete. Ada juga beduk, gambus, akordion, gendang dua sisi, dan gendang sikke. Dari hasil mengumpulkan jenis alat musik itu, mereka menyadari betapa kayanya alat musik Kerinci.
namun, alunan alat-alat musik yang unik itu terdengar kurang menarik karena cenderung dimainkan sendiri-sendiri. Misalnya, katete, alat musik tiup yang terbuat dari batang padi dikelilingi daun kelapa, menghasilkan bentuk seperti corong dengan suara mirip terompet. Katete hanya dimainkan saat petani dan anak-anak berada di sawah menunggu padi siap panen.
Kini, suara unik katete terasa monoton jika diperdengarkan secara tunggal. namun, jika suara katete berpadu dengan sejumlah alat musik tradisi lain, akan muncul musik yang membuat kita suka mendengarnya.
Tak hanya memadukan, Azhar juga melakukan modifikasi. Kelintang, misalnya, selama ini dibuat untuk dimainkan dengan kaki berselonjor. Ia lalu memodifikasi bentuk kelintang sehingga bisa dimainkan anak-anak sambil menari di panggung.
Azhar memperbaharui alat-alat musik sakral yang hanya boleh digunakan pada ritual tertentu, seperti aalt musik magis Torawai-Tirawak, bentuk aslinya menyatu dengan tanah. Pada dua lubang di tanah, dibentangkan kencang senar-senar dari rotan.
Senar yang terbuat dari rotan tersebut tak dimainkan dengan teknik memetik atau menggesek. Senar dipukul atau dilecut dengan tongkat kayu manau. Pukulan iramanya terasa magis, menghasilkan bunyi luar biasa menggetarkan alam sekitar.
Namun, Torawai-Tirawak tak bisa dibawa ke mana-mana karena menyatu dengan tanah. Azhar lalu membuat alat musik serupa berupa senar yang direkatkan pada sejenis tabung seperti drum. Hasilnya, Torawai-Tirawak versi baru, yang dapat dibawa-bawa walaupun suara dan kemagisan yang dihasilkan berbeda.
Azhar juga memanfaatkan tradisi petani Kerinci sebagai musik yang bisa dinikmati umum. Ia kerap melihat keseharian petani di kebun. Dari jarak yang berjauhan, para petani tetap bisa saling berkomunikasi dengan kentungan.
Setiap ketukan kentungan punya makna berbeda yang dapat dimengerti di anatra mereka. Dari situ, ia menciptakan alt musik versi baru yang dibuat dari tujuh kentungan. Alat yang kemudian disebutnya Ketuk 7 ini dapat dikolaborasikan dengan alat musik lainnya.

Masuk hutan

Aktivitas Sanggar Mindulahin dengan cepat menghidupkan seni tradisi Kerinci yang sempat tenggelam. Para penggiatnya rela masuk-keluar hutan mencari sejumlah jenis kayu tertentu yang cocok untuk diolah menjadi alat musik beruara indah, misalnya kayu mahang, kayu terab, dan kayu manau.
Akan tetapi, kegairahan itu tak berlangsung lama. Tahun 1980 Azhar meninggalkan Kerinci untuk kuliah di Akademi Seni Drama dan Film, Yogyakarta. empat tahun kemudian, ia lulus. Saat pulang ke Kerinci, ia mendapati Sanggar Mindulahin tak lagi hidup.
Azhar lalu mengumpulkan semua anggota sanggar dan mengajak mereka rekaman di Kota Padang, Sumatera Barat. Tujuannya agar mereka kembali bersemangat. Album pertama ini berjudul Musik Tradisi Kerinci Mindulahin, berisi suguhan musik tradisi yang dimodifikasi dengan berbagai jenis alat musik. Kegiatan rekaman rupanya berhasil menghidupkan semangat para anggota sanggar.
Tahun 1992, Azhar menjadi pegawai negeri sipil dan ditempatkan di Kota Jambi. Di tempat baru ini ia juga menggerakkan seni tradisi Melayu Kerinci. Banyak anak-anak dan remaja tertarik berlatih musik dan menari. Kegiatan latihan berlangsung setiap Jumat hinggaMinggu sore di Taman Budaya Jambi, Jambi. "Anggotanya sekitar 25 orang," ujarnya.
Menurut Azhar, Kerinci memiliki kekayaan seni budaya. Ia mencatat, ada sekitar 140 jenis musik, tari, dan seni sastra khas daerah Kerinci yang beragam mengisyaratkan peradaban Proto Melayu hingga Melayu Muda.
Namun, baru sekitar 20 jenis yang terangkat. Artinya, masih banyak potensi budaya belum dimanfaatkan, termasuk untuk kepentingan aset wisata Kerinci. "Padahal, inilah lumbung Kerinci," ujarnya.
Selain tidak maksimal memanfaatkan seni budayanya, Azhar menilai, orang Kerinci kurang melestarikan aset yang dimiliki. Kini, sejumlah pembuat alat musik lokal telah meninggal sehingga ada jenis alat musik tertentu yang sampai harus dipesan ke Kota Medan, Sumatera Utara.
Ia berharap pemerintah daerah juga lebih peduli melindungi seni budaya Kerinci, termasuk dalam upaya mematenkannya. "Kami sudah sebarkan seni budaya Kerinci ke mana-mana, tetapi belum dapat mematenkan apa yang kita miliki karena keterbatasan dana. Kalau tiba-tiba ada yang mengklaim budaya milik Kerinci, kita mau bilang apa?" kata Azhar.
Jangan sampai hasil keringat para penggiat seni budaya Kerinci tersebut menjadi sia-sia. Inilah saatnya membangunkan seluruh karya yang terpendam dan melestarikan yang telah ada.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 3 AGUSTUS 2011