Minggu, 15 April 2012

Pujianto: Menyatukan Pembuat Logam Mayangan

PUJIANTO
Lahir: Kediri, Jawa Timur, 23 Januari 1969
Pendidikan: Sekolah menengah atas
Istri: Nur Inayah
Anak:
- M Khoirul Anwar
- M Latif Sarbini
- M Ikhsan Al Karomi
Kegiatan: Ketua Dewan Pengurus Pasindo, komunitas pelaku UKM logam di Mayangan, Pasuruan, Jawa Timur

Menjadi pengusaha logam bukan hal mudah. Persaingan dengan produk asing menyebabkan kualitas dan akurasi produk dalam negeri menjadi prioritas. Hal itu yang diusahakan Pujianto dan rekan-rekan dalam Para Amerta Sejahtera Indonesia, komunitas pelaku usaha kecil menengah logam di kelurahan Mayangan, Pasuruan, Jawa Timur.

OLEH DAHLIA IRAWATI 

Mereka harus mengusahakan akurasi dan kualitas produk lebih baik dibandingkan produk asing. Pengusaha logam pun berhimpun untuk berbagi informasi order kerja, info standar kualitas produk, pelatihan, dan upaya logam lainnya.
     Kampung logam Mayangan, Pasuruan, ada sejak zaman kolonial. Orang pribumi awalnya hanya bekerjadi PT Bosto, yang kala itu merupakan perusahaan pembuatan komponen dan onderdil dari besi. Saat sudah tak bekerja, penduduk membuat sendiri onderdil berbagai mesin dan peralatan. Kemampuan itu diturunkan dari generasi ke generasi hingga kini. Perajin logam itu jumlahnya ribuan orang. "Kami ingin pembuat logam punya posisi tawar di hadapan pembeli sehingga kami berhimpun untuk menghasilkan produk logam terbaik," ujar Pujianto yang menjadi Ketua Para Amerta Sejahtera Indonesia (Pasindo).
    Ia gencar mengajak pelaku usaha logam lain berbenah, baik dalam pembuatan produk agar mendekati standar nasional maupun manajemen usahanya. Selama ini perajin logam Mayangan menjalankan usaha secara tradisional.
"Usaha dikelola tak profesional, kadang mereka tak memikirkan kelangsungan usahanya," ujar pria yang akrab dengan usaha logam sejak tahun 1990-an itu.
     Manajemen usaha kala banyak order ataupun sepi pesanan ini perlu ditata. Biasanya apabila banyak order, perajin dengan mudah berbelanja berbagai produk tnpa memikirkan modal untuk order berikutnya. Dampaknya, kelangsungan kerja mereka berikutnya terkendala.
     Mengajak mereka berbenah diri tidaklah mudah. Sindiran negatif kerap diterima Pujianto. Namun, berkat ketekunannya, sekitar 310 perajin mau berhimpun dalam Pasindo.
    Dengan berhimpun, ia yakin posisi tawar perajin logam Mayangan lebih baik. "Berhimpun tak sekadar kumpul-kumpul, kami berusaha mendapat pengetahuan, baik mengenai produk, pelatihan, hinga mencari dan berbagi order.
     Perajin logam umumnya membuat produk yang sama. Mereka tak dibedakan dalam produk, tetapi dalam prosesnya. Ada di antara perajin yang khusus membuat produk dengan mesin bubut, dan ada pula yang melapisi dengan cairan antikarat.
     Kemampuan yang diperoleh turun-temurun itu membuat perajin piawai membuat onderdil mesin, seperti mesin tenun dan onderdil kendaraan bermotor, misalnya lampu spion, rem tangan, dan setang. Beragam onderdil itu dibuat dengan proses cor logam, kuningan, aluminium, besi atau menggunakan mesin bubut, pres, dan bor.
     Harga jual produk perajin bervariasi, mulai dari Rp 1.000 per buah seperti tutup pentil hingga jutaan rupiah untuk komponen mesin. Produk mereka dipasarkan ke sejumlah kota, seperti Banjarmasin, Makassar, Pati, Jakarta, dan Surabaya.

Sering tertipu

     Ide berhimpun dalam Pasindo berawal dari seringnya perajin tertipu oleh pembeli. "Beberapa kali pembeli membayar perajin dengan giro kosong. Dari pengalaman menyakitkan itu, kami sepakat mencegah penipuan itu terulang," katanya.
     Adanya Pasindo diharapkan bisa mengatasi penipuan tersebut. "Pembeli tak bisa main-main. Kalau seorang perajin tertiu, berarti semua perajin di sini tahu kasus itu. Kalau kami berjalan sendiri-sendiri, selain rawan tertipu, kekuatan tawar perajin relatif rendah," katanya.
     Awalnya Pasindo dibentuk sebagai pembaga berbagi pengalaman sesama perajin. Seiring dengan waktu, Pasindo berkembang menjadi lembaga untuk meningkatkan kapabilitas perajin. Sejumlah pelatihan keterampilan sampai manajemen pun diadakan.
     Pujianto bercerita, pada awalnya mengajak perajin untuk bergabung tak mudah. Tahun 2002 ia mulai mendekati para perajin. "Setiap hari saya mendatangi satu orang, mengobrol dan mendengar curhat mereka." Pada kunjungan-kunjungan berikutnya barulah dia mengajak perajin itu bergabung.
     Namun, tak jarang perajin curiga kepadanya. Ia dinilai mau memata-matai atau mencuri ilmu perajin lain.
Namun, karena perajin terus tertipu dan kesulitan mendapatkan akses modal perbankan, ajakan Pujianto pun dilirik.
     Dengan mengantongi akta organisasi perajin logam berbadan hukum, Pasindo bisa mengakses permodalan ke bank, diterima di beberapa perusahaan, dan memiliki posisi tawar lebih baik.

Kalah bersaing

     Namun, berbagai kendala menyebabkan produk perajin logam Mayangan belum menjadi tuan di negeri sendiri. Produk mereka kalah bersaing dengan produk impor dari China yang harganya lebih murah. Persoalan seperti keterbatasan modal, kesulitan bahan baku, dan belum terstandardisasinya produk menjadi persoalan yang mesti diatasi.
     "Saya ingin semua perajin Mayangan bersatu sesuai keahlian masing-masing. Kelebihan perajin yang satu bisa menutupi kekurangan perajin lainnya. Ini lebih efisien, membuat proses kerja lebih cepat," ujar pria yang membuka usaha logam sendiri tahun 1997 setelah sempat bekerja pada perajin logam lainnya.
     Persatuan perajin logam Mayangan diharapkan membawa kebaikan bersama. "Pengetahuan kami sebagai pengusaha kecil tentang standar produk agar sesuai spesifikasi pasar sangat kurang," katanya.
     Melalui Pasindo, perajin logam yang menjadi anggotanya bisa mendapatkan pelatihan teknis produk dan manajemen usaha. Misalnya, bagaimana mengelola usaha agar terus bertahan dan bagaimana menjadikan produk logam mendekati standar nasional.
     "Perajin logam umumnya bisa membuat produk karena terbiasa. Padahal, produknya tak sesuai standar teknis. Perajin juga melupakan akurasi waktu penyelesaian seperti yang dijanjikan. Dampaknya, order tak bertahan lama," katanya.
     Contohnya, ada perajin logam Mayangan memasok komponen otomotif kepada agen tunggal pemegang merek. Namun, order itu tak bertahan lama karena penyelesaian produk molor dari waktu yang disepakati. "Perajin logam harus profesional agar sentra logam ini bisa bertahan."
     Usaha Pujianto dan rekan-rekan di Pasindo tak sia-sia. Kini dengan mudah mereka mengakses berbagai lembaga untuk menawarkan produk. Saat gema mobil nasional tengah menghangat, misalnya, Pasindo bekerja sama dengan SMKN 2 Pasuruan untuk membuat onderdil otomotif yang dibutuhkan. Pasindo juga bekerja sama dengan PT Inka membuat mobil Gea versi PT Inka.
     "Semoga momentum mobil nasional ikut mengangkat perajin logam Mayangan," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 13 APRIL 2012

Kamis, 12 April 2012

Ida Ayu Rusmarini: Mengembalikan Bali ke Alam

IDA AYU RUSMARINI
Lahir: Denpasar, Bali, 9 Nopember 1960
Suami: I Wayan Damai
Anak:
- Agus Pradita Dalem
- Ayu Rosita Dewi Dalem
- Jimmy Darusman Dalem
Pendidikan: Program Magister Pertanian Lahan Kering Universitas Udayana
Pekerjaan:
- Anggota staf Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, 1985-2000
- Anggota staf Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2000-2007
- Anggota staf Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Gianyar, 2007-kini
Penghargaan: Kehati Award 2012 kategori Peduli Lestari bersama kelompok Putri Toga Turus Lumbung Puri damai

Sejak 20 tahun silam, Ida Ayu Rusmarini mulai mengumpulkan berbagai jenis tanaman di rumahnya. Bukan sekadar menghiasi dan menyejukkan pekarangan rumah, tanaman itu juga digunakan untuk mengobati orang sakit, membangkitkan perekonomian warga, sekaligus mendidik anak-anak.

OLEH HERPIN DEWANTO PUTRO

Rumah Ida Ayu Rusmarini, atau Dayu panggilannya, terletak di Banjar Tumon, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Rumah di lahan seluas sekitar 1 hektar itu dikelilingi sawah, khas suasana alam di Ubud yang sejuk. Untuk mencapai rumah itu, orang harus melewati jalan pedesaan yang hanya bisa dilalui satu mobil dan jalan tanah di tepi sawah.
     Di areal rumah itu terdapat beberapa bangunan, seperti rumah belajar, unit pengolahan tanaman, dan bangunan untuk terapi penyembuhan herbal. Di pekarangannya terdapat berbagai tanaman obat, seperti cakar ayam, rumput mutiara, dan keladi tikus. Ada pula tanaman untuk sarana upacara agama Hindu, seperti daun sirih, daun puring, dan bunga cempaka. Total di sini ada 387 jenis tanaman.
     Konsep rumah itu dibuat sedemikian rupa karena sejak 1997 Dayu membentuk kelompok Putri Toga Turus Lambung Puri Damai. Melalui kelompok itu, ia membina perempuan, terutama kaum ibu, untuk berlatih mengenali berbagai jenis tanaman obat.
     Mereka juga mempraktikkan teknik pemijatan dan mencoba mengembangkan usaha dalam bidang penyembuhan tradisional. Awalnya, Dayu melatih 37 perempuan, kini sudah berkembang menjadi 150 perempuan.
     "Saya melakukan upaya ini karena ingin Bali kembali ke alam," kata Dayu.
     Masyarakat Bali, ia melanjutkan, harus kembali diingatkan bahwa alam telah memberikan semuanya. Dengan merawat dan mengambil manfaat dari alam, manusia pun dapat menyejahterakan diri.
     Awalnya, para ibu di Desa Singakerta mengeluh, mereka umumnya tidak mempunyai uang. Anak-anak terancam putus sekolah. Melihat kondisi itu, Dayu mencoba memberdayakan kaum ibu dengan memanfaatkan sumber daya alam berupa tanaman obat yang dia miliki.
     Selain mengajarkan teknik memijat, dia juga mengajari mereka tentang berbagai tanaman yang bisa diolah untuk membantu penyembuhan.
     Seiring dengan waktu, sebagian besar anak didik Dayu pun sukses. "Ada ibu yang sudah punya spa sendiri dan ada pula yang sukses menjadi penjual bibit tanaman," katanya.

Pendidikan anak

     Kreativitas Dayu memberdayakan warga desa tidak berhenti di sini. Tahun 2010 dia membuka program pendidikan anak usia dini. Saat awal terbentuk hanya ada tujuh siswa. Kini sekitar 50 anak belajar di tempat ini.
     Keistimewaan proses belajar di tempat itu adalah anak-anak langsung belajar dari alam. Misalnya, untuk belajar berhitung anak-anak akan diajak berlari menuju ke sebuah tanaman dan mencoba menghitung daunnya. Mereka juga berlatih membaca dengan mengeja kata-kata sederhana seputar tanaman, seperti "daun", "akar', atau "kayu".
     "Anak-anak itu dengan cepat bisa menangkap pelajaran dengan cara seperti ini," katanya.
     Dalam program belajar-mengajar itu, Dayu dibantu enam sukarelawan. Di antara mereka ada yang berasal dari Amerika Serikat dan Inggris. Rencananya, anak-anak juga akan mendapat program belajar bahasa Inggris, tetap dengan media belajar alam.
     Untuk mendukung semua kegiatan tersebut, Dayu antara lain membuat fasilitas terapi pengobatan tradisional. Di tempat itu terdapat berbagai ramuan obat herbal yang sudah dikemas. Di sini Dayu dan suaminya I Wayan Damai, menangani pengobatan dengan cara pijat dan konsumsi ramuan obat herbal. Setiap minggu ada 60-70 orang yang mereka tangani.

Dari kegagalan

     Semua usaha Dayu tersebut bermula dari kegagalannya menjadi seorang dokter. Sejak kanak-kanak, Dayu begitu terobsesi menjadi dokter karena Cening Karana, ayahnya, adalah seorang dokter, sedangkan sang bunda Ida Ayu Kartika, berprofesi sebagai bidan. Saat Dayu remaja, orang tuanya memiliki klinik di Denpasar.
     Namun, Dayu tidak diterima saat mendaftar pada Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Dia lantas memilih belajar pada Fakultas Pertanian di universitas yang sama. Meski demikian, sang ayah tetap memberikan dukungan kepada Dayu.
     "Walaupun dari pertanian, jangan putus asa. kamu tetap bisa mengobati orang dengan ilmu pertanian yang kamu miliki," kata Dayu menirukan ucapan ayahnya ketika itu.
    Dukungan serupa datang dari sang ibu. Dayu mendapat pesan dari ibunya untuk terus mencintai dan selalu memperhatikan lingkungan sekitarnya.
     Setamat kuliah tahun 1985, Dayu bekerja sebagai anggota staf Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali. Sekitar satu tahun kemudian, Dayu diberi tantangan pimpinannya untuk menghijaukan kawasan Bukit Jimbaran, Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Pada waktu itu, kawasan tersebut merupakan bukit kapur yang tandus.
     Dayu lalu berusaha mengajak warga di Jimbaran untuk menghijaukan lahan mereka. Dia berusaha menularkan semangatnya kepada warga di Jimbaran dan meyakinkan mereka bahwa lahan tandus itu dapat diubah menjadi lahan hijau.
     Berbekal ilmu yang dimilikinya, Dayu mengajari warga setempat cara menanam pohon di bukit kapur dengan membuat lubang-lubang kecil yang selanjutnya diberi tanah. Tanaman untuk daerah kering pun disiapkannya, seperti albasia dan bidara laut.
     Dalam waktu sekitar lima tahun, lahan di Jimbaran tersebut menjadi hijau. Di kawasan itu sekarang, antara lain, terdapat gedung Kampus Universitas Udaya dan perumahan.
     Pada tahun 1997 Dayu juga diminta membantu mengembangkan tanaman jempiring sebagai maskot Kota Denpasar.
     Tahun 2000 Dayu berpindah tugas, dia menjadi anggota staf Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Di sini dia membidangi unit kesehatan tradisional. Sejak saat itulah Dayu mulai fokus mengembangkan dan memanfaatkan berbagai tanaman obat.
     Ketika merasa jenuh tinggal di kota (Denpasar), Dayu memutuskan kembali ke kampungnya, Gianyar, pada 2007. Sejak saat itu pula dia bekerja di Badan Lingkungan Hidup Gianyar sebagai Kepala Seksi Laboratorium Darat, sekaligus mengurus kelompok Putri Toga Turus Lumbung Puri Damai hingga kini.
     Berkat kerja kerasnya selama ini, Dayu bersama kelompoknya tersebut mendapat penghargaan untuk kategori Peduli Lestari dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) pada Februari 2012. Meski demikian, Dayu merasa usaha mereka untuk mengembalikan Bali ke alam masih panjang...

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 12 APRIL 2012

Rabu, 11 April 2012

Aurelien Brule: Program untuk Pelestarian Owa

AURELIEN BRULE
Nama panggilan: Chanee
Lahir: Frejus, Perancis, 2 Juli 1979
Istri: Nurpradawati (32)
Anak:
- Andrew Ananda Brule (8)
- Enzo Gandola Brule (2)
Pendidikan:
- SD Tourettes, Distrik Var, Perancis, 1985-1991
- SMP Fayence, Distrik Var, Perancis, 1991-1994
- SMA Saint Raphael, Distrik Var, Perancis, 1994-1997

Kecintaan Aurelien Brule pada Owa tumbuh sejak dia berusia 12 tahun. Pria yang akrab disapa Chanee ini tidak hanya mengobservasi dan menulis buku tentang owa, tetapi juga memutuskan untuk bermukim di Indonesia demi melestarikan owa.

OLEH DWI BAYU RADIUS

Pria berusia 32 tahun itu mengaku enggan bermukim kembali di negeri asalnya, Perancis, demi melestarikan owa di Indonesia. Sebelumnya, selama bertahun-tahun sejak berusia 12 tahun, ia kerap mengunjungi kebun binatang di kawasan tempat tinggalnya, Distrik Var, Perancis.
     Waktu libur sekolah digunakan Chanee untuk menghimpun berbagai informasi dan mencatat pengamatannya terhadap hewan primata, termasuk owa. Semua hal itu kemudian dibuatnya menjadi buku berjudul Le gibbon a mains blanches (Owa Tangan Putih).
     Penerbit pun terkagum-kagum ketika Chanee yang saat itu remaja berusia 16 tahun mengajukan naskah buku tersebut. Catatan itu dikumpulkannya dari observasi di kebun binatang yang dia lakukan sekitar tiga tahun.
     Ia bercerita, jarak kebun binatang dengan rumahnya sekitar 30 kilometer. Begitu asyiknya, Chanee bisa menghabiskan delapan jam mengamati aneka satwa sejak kebun binatang itu buka hingga tutup pukul 17.00.
     Di kebun binatang itulah kecintaan Chanee terhadap owa mulai tumbuh. Awalnya ia senang mengamati semua primata. Chanee mengenang, ia pertama kali melihat owa secara langsung pada Mei 1992.
     "Kenapa senang owa, saya pun tak tahu. Perasaan itu tumbuh dengan sendiri. Tetapi, saya memang terpana saat melihat langsung owa," ujarnya. Namun, antusiasmenya itu perlahan berubah menjadi rasa iba.
     Menurut dia, owa sering kali harus tinggal sendiri. Padahal, owa seharusnya punya pasangan. Oleh karena itulah, hasratnya untuk melihat langsung owa di hutan begitu besar.
     Sampai suatu hari aktris Muriel Robin membaca buku artikel mengenai buku karya Chanee. Robin terkesan dan bersedia menyokong dana agar Chanee bisa bertolak ke Thailand untuk melihat langsung owa di habitat asli. Di Thailand dia mendapatkan nama Chanee, yang artinya owa dalam bahasa Thailand.
     "Saya ke Thailand karena urusannya paling gampang. Senang sekali meilhat owa hidup di alam. Tiga bulan saya di sana," ujarnya.
     Chanee kemudian mengetahui bahwa jenis owa  paling banyak terdapat di Indonesia. Di dunia ada 17 jenis owa, dan Indonesia punya tujuh jenis di antaranya.
     "Semua jenis owa di dunia terancam punah. Saya lalu memutuskan pergi ke Indonesia," ujarnya.
Dalam perjalanan ke Indonesia, Chanee membaca berita tentang kebakaran hutan di Indonesia. Niatnya beraktivitas di Indonesia pun kian besar. Ia tiba pada Mei 1998 saat kerusuhan dan isu pergantian pemerintahan menghebat. Namun, tekadnya melestarikan owa menaklukkan kerisauan itu.

Kalaweit

     Chanee lalu mendirikan lembaga untuk melestarikan owa. Ia mengajukan izin membentuk yayasan bernama Kalaweit yang berbasis di Kalimantan Tengah. Kalaweit artinya owa dalam bahasa Dayak Ngaju.
     Proses mendirikan  yayasan memerlukan waktu sekitar sembilan bulan. Pegawai Kementerian Kehutanan pun terheran-heran melihat anak muda yang tak lancar berbahasa Indonesia ini mengurus izin tersebut.
     "Bahasa Inggris saja saya belum fasih. Apalagi waktu itu sedang pergantian presiden. Jadi proses perizinan cukup sulit," katanya.
     Chanee pergi ke berbagai tempat dengan transportasi umum karena keterbatasan dana. Setiap dua bulan dia juga harus bolak-balik ke Singapura untuk memperpanjang visa. Kegigihan itu membuahkan hasil.
     "Mungkin karena pegawai Kementerian Kehutanan bosan melihat saya hampir setiap hari, makanya izin diberikan, ha-ha-ha," ujarnya.
     Kini yayasan Kalaweit mempekerjakan 52 karyawan lokal. Selain owa, mereka juga tak menolak satwa lain, seperti kera, piton, kukang, buaya, bekantan, dan beruang madu.
     Kalaweit melakukan tiga aktivitas. Pertama, satwa yang dipelihara warga diusahakan kembali ke alam. Kedua, pelestarian habitat owa dengan mendirikan tempat perlindungan owa seluas 8 hektar di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.
     "Kami juga membantu apa pun yang bisa dikerjakan untuk menjaga Cagar Alam Pararawen seluas 5.300 hektar di Barito Utara," katanya.
     Ketiga, petugas Kalaweit berusaha mendekati pemilik satwa untuk melepaskan peliharaannya. Petugas mengimbau agar satwa liar tak ditangkap. Jika sedang berpatroli dan menemukan jerat, mereka mengancurkannya.
     Selain itu, Kalaweit yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Palangkaraya sejak tahun 2007 juga berupaya melestarikan kawasan konservasi Hampapak seluas 700 hektar.
     Tempat perlindungan owa juga dibuat di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, sembilan tahun lalu. Ini membuat program Kalaweit menjadi pelestarian owa terbesar di dunia. Total 250 owa hidup di tempat perlindungan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Barat.

Radio dan internet

     Tahun 2003 Chanee melakukan sosialisasi dengan mendirikan Radio Kalaweit berfrekuensi FM 99,1 di Palangkaraya. Ia juga berbagi informasi mengenai owa dan kegiatan yayasan lewat situs internet beralamat www.kalaweit.org.
     "Siaran radio kami tak melulu soal owa, karena tak ada lagu bisa membuat radio ini tidak ada pendengarnya. Siaran kami mengutamakan hiburan, dengan menyisipkan pesan menyayangi satwa," katanya.
     Pengaruh radio ternyata besar. Sebagian besar satwa yang diserahkan kepada Yayasan Kalaweit di Jalan Pinus, Palangkaraya, berasal dari pendengar.
    Chanee mengakui tugasnya tak ringan. Aktivitasnya membuat  waktu yang tersisa untuk keluarga terbatas. Apalagi aktivitas dan siaran Chanee demi mempertahankan kelestarian alam menimbulkan ketidaksukaan beberapa pihak yang merasa terganggu.
     "Ancaman saya terima lewat surat, telepon, sampai bertemu pelaku. Pernah ada orang datang ke kantor dengan membawa pisau," ujarnya.
     Namun, iming-iming imbalan agar kegiatan pelestarian itu dihentikan hingga ancaman pembunuhan tak menyurutkan Chanee melestarikan owa.
     Keinginan lainnya yang belum terpenuhi adalah menjaid warga negara Indonesia. "Saya juga ingin menjadi warga Indonesia. Sudah empat tahun saya mengurusnya, tapi belum berhasil, cukup susah," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 11 APRIL 2012

Selasa, 10 April 2012

Sidrotun Naim: Dari Virus Udang Menuju Harvard

SIDROTUN NAIM  
Lahir: Sukoharjo, JawaTengah, 27 Mei 1979 
Suami: Dedi Priadi (33)
Anak: Elhurr Muthahari (6)
Pendidikan:
- SD Makam Haji Sukoharjo
- SMP Negeri 9 Surakarta
- SMA Negeri 3 Surakarta 
- Jurusan Biologi, Sekolah Ilmu Teknologi dan Hayati, Institut Teknologi 
  Bandung 
- Program Master Studi Kelautan, Universitas Queensland
- Program Master Ilmu Lingkungan, Universitas Arizona

Rasa ingin tahu anak ketujuh dari 11 bersaudara ini sungguh besar. Hari-harinya semasa kecil dia habiskan dengan membaca berbagai buku yang berjejer di rak buku ayahnya. Kini, ibu satu anak ini sibuk menginvestigasi interaksi virus pada ternak udang.

OLEH MADINA NUSRAT

Sidrotun Naim pun akan melaksanakan investigasi pada udang dalam studi kedokteran di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Padahal, selazimnya studi itu dilaksanakan pada program studi biologi atau budidaya kelautan.
     "Kenapa saya malah diterima di studi kedokteran, padahal yang saya teliti hanya udang? Itu karena virus yang menginfeksi ternak udang memiliki anatomi sama dengan rotavirus yang menyebabkan 600.000 anak balita di dunia setiap tahun tewas dengan gejala diare," katanya.
     Penelitian itu dilakukan Naim atas keprihatinannya terhadap produksi udang yang terus merosot selama empat tahun terakhir di Indonesia akibat serangan virus. Padahal, Indonesia pernah menjadi produsen udang terbesar keempat di dunia. Penelitian ini terbilang jarang dilakukan karena memakan waktu lama dan perlu ketelatenan. ia memperoleh dukungan dana penelitian dari berbagai sponsor.
     Salah satunya L'Oreal-Unesco for Women in Science yang diperolehnya lewat proses seleksi ketat. Naim adalah salah satu dari 15 perempuan peneliti muda dunia yang memperoleh beasiswa 40.000 dollar AS dari internasional L'Oreal-Unesco for Women in Science, Paris, Perancis.
     Namun, junlah itu belum cukup untuk membiayai penelitiannya selama dua tahun karena syarat deposit pendidikan per tahun di Universitas Harvard sebesar 40.000 dollar AS.
     "Saya pikir Harvard hanya ingin menguji mental mahasiswa, bukan karena lembaga ini mau mencari keuntungan. Beruntung ada beasiswa dari Fullbright dan perusahaan pengeboran minyak Schlumberger," ujarnya.
     Ketertarikan Naim meneliti infeksi virus pada udang bermula tahun 2006 saat terjadi serangan infectious myonecrosis virus (IMNV) pada udang vaname (penaeus vannamei) di Indonesia. Padahal, saat itu virus tersebut baru ditemukan pada ternak udang vaname di Brasil.
     "Serangan virus IMNV itu menjadi pertanyaan saya sampai kini. Kenapa semula hanya di Brasil, kemudian muncul di Indonesia?" ujarnya.
     Dari pertanyaan itu, ia mulai mengamati interaksi virus IMNV pada udang. Dari hasil pengamatannya sementara ini, rasio serangan IMNV menyebabkan 70 persen udang mati dan 30 persen hidup. Udang yang bertahan hidup akan diamati. Di sisi lain, IMNV memiliki anatomi yang sama dengan rotavirus, penyebab kematian anak balita dengan gejala diare terus-menerus.
     Oleh karena itu, hasil investigasi ini akan berguna untuk memahami infeksi rotavirus pada anak balita. Itu pula sebabnya penelitiannya dijalani pada studi kedokteran di Harvard. Penelitian Naim akan melengkapi hasil penelitian sebelumnya tentang pengendalian penyakit white spot syindrome virus (WSSV) pada udang yang dialkukan di Universitas Arizona selama dua tahun terakhir.
     Dari hasil penelitiannya di Universitas Arizona, Naim menemukan infeksi WSSV pada udang dapat dikendalikan. Caranya, menerapkan sistem polikultur paa budidaya udang yang sudah diterapkan sebelumnya di salah satu lembaga penelitian di Jawa Timur. Ternak udang dipelihara dalam satu kolam bersama ikan nila, ditambah rumput laut untuk meningkatkan nilai ekonomi.
     "Temuan ini hasil observasi saya dibantu pembimbing saya, Profesor Kevin Fitzsimmons, ahli ikan nila di Universitas Arizona," katanya.

Ditolak menjadi dosen

     Perjalanan karier sebagai peneliti udang mulanya bukan obsesi Naim. Ia ingin menjadi dosen biologi di almamaternya ITB setelah lulus master of marine studies dari Universitas Queensland, Australia, tahun 2005. Namun, lamarannya ditolak karena saat itu posisi sebagai dosen di ITB sudah penuh. "Mau melamar menjadi dosen di Universitas Padjadjaran tak punya koneksi. saya banting setir menjadi guru SD dan SMA di Bandung," tuturnya.
     Hampir setahun profesi sbagai guru ditekuni Naim. PAda tahun berikutnya, ia diajak kawannya memberikan pendampingan kepada petambak udang korban tsunami di Aceh. Di sini Naim menemukan "jodohnya" dengan udang.
     Tahun 2007 ia bersama petambak setempat mengelola lahan tambak udang. Hasilnya lumayan dan bisa bertahan hingga tahun 2008. NAmun, tahun 2009 udang hasil budidaya mereka diserang penyakit WSSV sehingga produksinya anjlok.
     "Petani bertanya, ini harus diapakan? saya bingung jawabnya bagaimana. Kan penyakit datangnya di luar kontrol manusia," katanya.
     Seorang petambak meminta Naim mempelajari penyebab penularan penyakit pada udang. "Ibu kan pinter, tolong pelajari apa penyebab udang bisa terkena penyakit," kata Naim menirukan permintaan petambak.
     Sejumlah kolega dia hubungi untuk memperoleh rekomendasi terkait ahli yang dapat dimintai nasihat. Sampai Naim menemukan jalan melamar sebagai mahasiswa program master ilmu lingkungan di Universitas Arizona.
     "Lamaran saya sebagai mahasiswa di universitas itu langsung direspons Profesor Kevin Fitzsimmons, yang  menjadi pembimbing saya selama menempuh studi," katanya.
     Ia pergi ke Arizona bersama suami dan anaknya balita. Suaminya Dedi Priadi pun menempuh pendidikan strata II ilmu psikologi di Universitas Arizona.

Termotivasi

     Studinya di Harvard nanti dimaksudkan untuk meneliti virus, meningkatkan produksi petambak, juga untuk menghalau importir nakal yang mengimpor udang terkontaminasi virus. Hasil penelitian ini dia harapkan dapat melindungi spesies endemik biota laut di Indonesia sehingga tak mudah dibawa dan diteliti peneliti asing di luar negeri.
     "Meskipun waktu itu saya membawa udang dan virusnya dari Indonesia ke Arizona, tetap saya laporkan ke LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Ada surat kontraknya dari LIPI sehingga kalau ada peneliti di Arizona yang ingin menggunakan sampel yang saya bawa, harus izin LIPI lagi," ujarnya.
     Sebagai peneliti, penampilan Naim jauh dari wajah sosok yang serius. Dialognya segar, presentasinya komunikatif dan menghibur. Bahkan, para juri dan peserta beasiswa internasional L'Oreal-Unesco for Women in Science yang hadir di Paris, Perancis, bisa dia buat tertawa dengan candaannya.
     Semangat Naim menekuni ilmu pengetahuan berasal dari orangtua. Ayahnya, Abidullah, adalah guru agama Islam di Solo yang juga mengenyam pendidikan ekonomi di Inggris. "Selulus dari Inggris, ayah ditawari kerja di Departemen Agama. Ayah memilih mengajar," tambahnya.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 10 APRIL 2012

Rabu, 04 April 2012

Herawati Diah: Perempuan Jurnalis dan Perintis

HERAWATI DIAH
Lahir: Tanjung Pandan, Belitung, 3 April 1917
Pendidikan:
- Europeesche Lagere School (ELS)
- American High School, Tokyo
- Universitas Columbia, Amerika
Organisasi:
- Hasta Dasa Guna
- Women's International Club
- Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan
- Lingkar Budaya Indonesia
- Yayasan Bina Carita Indonesia
Penghargaan:
"Lifetime Achievement" atau "Prestasi Sepanjang Hayat" dari PWI Pusat.

Senyum ramah Herawati Diah mengembang di antara garis-garis usia di wajahnya, kemudian dia menyilahkan "Kompas" masuk kediamannya, sebuah apartemen di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (3/4). Langkahnya kecil dan mantap meski ditopang sebuah tongkat.

OLEH INDIRA PERMANASARI

Herawati, yang kini berusia 95 tahun, merupakan bagian dari sejarah pers Indonesia. Ia berada dalam satu masa dengan para tokoh jurnalistik, seperti Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, dan suaminya almarhum Burhanuddin Mohammad Diah.
     Herawati yang tumbuh di era jurnalistik bernapaskan perjuangan kemerdekaan melihat dunia pers Indonesia sudah begitu berubah. "Generasi saya mendirikan koran dengan idealisme kuat. Koran diterbitkan sebagai koran perjuangan. Pemodalnya tidak ada. Pendirinya mengorbankan apa yang dimiliki. Sekarang media menjadi industri. Untuk memulai koran perlu miliaran rupiah," ujar perempuan dengan 3 anak, 12 cucu, dan 13 cicit itu.
     "Saat itu kerja jurnalistik sama halnya dengan kepemimpinan, arahnya mewujudkan cita-cita kemerdekaan," kata Herawati.
      Ia merasa banyak cita-cita pendiri bangsa belum tercapai. Bangsa ini masih jauh dari sejahtera, pendidikan rakyat belum merata, dan masyarakat di pedalaman sering dilupakan.
     Keresahan itu mendorong dia menulis dalam bukunya, An Endless Journey: Reflections of an Indonesian Journalist: "Peran generasi 1945 itu menyalakan semangat dan roh kepada generasi sekarang karena ketidakadilan yang dulu dihadapi dan masa kini yang tengah dirayakan, masih segar dalam ingatan generasi itu."

Perjalanan panjang

     Lahir dari pasangan Raden Latip, seorang dokter yang bekerja di Biliton Maatschappij, dan Siti Alimah, Herawati berkesempatan mengecap pendidikan tinggi. Lepas dari Europee Lagere School (ELS) di Salemba, Jakarta, Herawati bersekolah ke Jepang di American High School di Tokyo. Setelah itu, atas dorongan ibunya, Herawati berangkat ke Amerika untuk belajar sosiologi di Universitas Columbia, New York.
     "Ayah saya tidak mau menyekolahkan ke Belanda karena dianggap sebagai negeri penjajah. Saya berangkat ke Amerika sendiri, menumpang kapal laut selama 20 hari," kata perempuan Indonesia pertama yang mendapatkan gelar dari universitas di Amerika. Herawati yang tertarik dunia tulis-menulis mengambil kuliah musim panas jurnalistik di Universitas Stanford, California.
     Garis hidup Herawati seakan tak jauh dari media. Ibunya mendapat didikan  pesantren mendirikan majalah perempuan Doenia Kita. Pamannya Subardjo, sempat menjadi wartawan sebelum menjabat sebagai menteri luar negeri (pertama) Indonesia. "Saat sekolah di Amerika, saya sering mengirim tulisan untuk Doenia Kita," kata perempuan yang menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Jepang itu.
     Pulang ke Indonesia tahun 1942, Herawati bekerja sebagai wartawan lepas kantor berita United Press International (UPI). Lalu ia bergabung sebagai penyiar di radio Hosokyoku.
     Herawati menikmati dunia jurnalistik. Saat itu hanya sedikit perempuan yang menggeluti bidang tersebut. "Sekarang sudah banyak perempuan menjadi jurnalis dan berpendidikan tinggi. Bahkan, ada yang ke medan perang. Saya kagum dengan keberanian mereka," ujarnya.
     Profesi kewartawanan memberinya kesempatan bertemu dengan pemimpin besar, seperti Mahatma Gandhi, ketika menjadi bagian dari delegasi Indonesia untuk menghadiri All India Women's Congress tahun 1948. Herawati semakin dekat dengan dunia pers begitu menikah dengan BM Diah, yang waktu itu bekerja di koran Asia Raya.
     BM Diah mendirikan koran Merdeka pada 1 Oktober 1945 guna mengisi ruang intelektual setelah Proklamasi.
     Tak hanya terlibat dalam pengembangan koran Merdeka, Herawati juga mendirikan dan memimpin The Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris pertama di Indonesia. Koran itu diterbitkan dan dibagikan pertama kali dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, tahun 1955. The Indonesian Observer  bertahan hingga tahun 2001, sedangkan koran Merdeka berganti tangan pada akhir tahun 1999.
     Saat BM Diah diangkat sebagai duta besar Cekoslowakia, Inggris, serta Thailand, kemudian menjabat sebagai Menteri Penerangan Kabinet Ampera (1968), kegiatan jurnalistik Herawati digantikan dengan tugas-tugas negara dalam peran sebagai istri pejabat.

Perintis sejati

     Kiprah Herawati Diah sebagai perintis tak redup hingga usia senjanya. Nama Herawati tercatat sebagai salah satu pendiri dari sederet organisasi yang memberikan dinamika dalam kehidupan sosial dan budaya Indonesia, seperti Komnas Perempuan, Lingkar Budaya Indonesia, dan Gerakan Perempuan Sadar Pemilu. Lantaran prihatin dengan tak meratanya pendidikan, Herawati membuka taman kanak-kanak bagi anak miskin di bawah naungan Yayasan Bina Carita Indonesia.
     Usia tak pernah menjadi penghalang untuk berkarya bagi perempuan yang ikut mendirikan Hasta Dasa Guna, organisasi yang beranggotakan sekitar 100 perempuan berusia di atas 80 tahun itu.
     Untuk menjaga ketajaman pikiran ia bermain bridge dua kali seminggu bersama teman-temannya di Women's International Club. "Bermain bridge mengajarkan saya mengingat kartu dan langkah teman bermain. Memori terasah terus," katanya sambil menunjukkan piala juara pertama turnamen Bridge Women's International Club baru-baru ini. Herawati menghayati benar "mantra hidupnya": "Keep Your Brain Alive".

Dikutip dari KOMAS, KAMIS, 5 APRIL 2012

Handiman Diratmasasmita: Menghidupkan Angklung

HANDIMAN DIRATMASASMITA
Lahir: Garut, 1939
Profesi: Seniman Angklung
Kegiatan:
- Komite Konsultasi Masyarakat Musik Angklung (MMA)
- Staf Ahli Saung Angklung Udjo, Bandung
- Melatih Perajin Angklung 

Pada tahun 1968, surat keputusan menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik di sekolah-sekolah. Sejak itu pula, angklung seharusnya sudah menjadi bahan pengajaran di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.

OLEH LUSIANA INDRIASARI

Namun, kini, 44 tahun kemudian, upaya menghidupkan kembali angklung sebagai alat musik bambu asli Indonesia belum menunjukkan hasil. Sekolah-sekolah masih sepi angklung. Bahkan, di Bandung, Jawa Barat, tempat asal muasal angklung di Indonesia, jumlah sekolah yang benar-benar mengajarkan alat musik itu bisa dihitung dengan jari.
     "Angklung adalah alat musik bambu asli Indonesia yang sudah dikenal sejak berabad-abad lalu. Upaya pelestarian angklung dengan cara menghidupkannya kembali sebagai alat musik tidak pernah terwujud. Angklung hanya dikomodifikasi sebagai alat pencitraan politik," kata Handiman Diratmasasmita (73) beberapa waktu lalu.
     Handiman pantas merasa khawatir. Sebagai satu-satunya penerus angklung hasil inovasi almarhum Pak Daeng, ia melihat tidak banyak lagi orang memainkan angklung. Di negerinya sendiri, angklung dianggap sebagai alat untuk sekadar bermain bunyi-bunyian, bukan sebagai alat musik yang serius dimainkan.
     Angklung Pak Daeng bermula tahun 1938 ketika Daeng Sutigna, guru di Sekolah rakyat Kuningan, Jawa Barat, menginovasi angklung berlaras pentatonik menjadi diatonik, angklung bisa dimainkan sebagai alat musik modern sesuai dengan komposisi lagu modern, seperti pop, keroncong, lagu klasik barat, dan rock.
     Handiman adalah satu-satunya murid Pak Daeng yang ahli membuat angklung. Di antara empat murid langsung Pak Daeng, termasuk almarhum Udjo Ngalagena pendiri Saung Angklung Udjo, hanya Handiman yang menekuni pembuatan angklung. Namun, angklung produksi Handiman berbeda dengan lainnya karena dibuat benar-benar untuk keperluan bermusik.
     Untuk keperluan itu, Handiman meriset nada-nada dari angklung ciptaannya. Setiap jenis lagu yang akan dimainkan, seperti lagu pop, rock, keroncong, atau lagu klasik, membutuhkan jenis bambu yang berbeda pula. Karena itu, riset sangat dibutuhkan.

Sebatas euforia

    Handiman melihat gerakan pemerintah untuk melestarikan angklung sebagai alat musik bambu asli Indonesia hanya euforia. Angklung dimainkan di mana-mana, tetapi sekadar sebagai alat demonstrasi cara bermain angklung. Tahun 2011, misalnya, sebanyak 5.000 angklung diterbangkan ke Washington DC, Amerika Serikat, untuk dimainkan secara massal demi memecahkan rekor dunia. Beberapa bulan kemudian, 10.000 angklung diproduksi oleh perajin angklung di Bandung dan dimainkan untuk kepentingan yang sama.
     "Tidak ada yang pernah menciptakan komposisi lagu menggunakan angklung, seperti halnya piano, gitar, keyboard, atau alat musik lainnya," kata Handiman. Di Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya, angklung sudah diteliti, kemudian dipelajari untuk menciptakan komposisi lagu.
     Handiman pernah didatangi seorang profesor musik dari Jepang yang meminta dibuatkan angklung. Ahli etnomusikolog itu kemudian meneliti dan mempelajari angklung buatan Handiman untuk menciptakan komposisi musik. Beberapa musikolog dari negara lain juga menggunakan angklung Handiman untuk bermusik.
     Kecintaan Handiman terhadap angklung dimulai sejak kecil. Ia mengenal angklung dari Pak Daeng ketika mengikuti kegiatan Kepanduan (Pramuka) tahun 1938. Pak Daeng tidak hanya mengajarkan bermusik dengan angklung, tetapi juga mengajarkan cara membuat angklung. "Pada waktu itu kami membuat angklung untuk kebutuhan sendiri (Pramuka)," kenangnya.
     Oleh gurunya, Handiman diajak keluar-masuk hutan bambu di berbagai pelosok daerah di Jawa Barat, untuk memilih jenis dan struktur bambu yang bagus untuk angklung. "Saya diajarkan bagaimana memilih bambu dan mengetahui ilmu tentang bambu sebelum membuat angklung," ujar Handiman.
     Proses membuat angklung alat musik tak mudah.  Dibutuhkan hampir satu tahun semenjak bambu ditebang, dijemur, lalu disimpan agar bambu kering. Penyimpanan ini sekaligus untuk menguji apakah bambu dimakan mikroorganisma yang bisa membuat bambu lapuk.
    Demi mempertahankan kualitas angklung buatannya, Handiman masih sering pergi ke daerah terpencil untuk mendapatkan bambu berkualitas. Seluruh daerah di pesisir pantai selatan Jawa Barat sudah habis dijelajahi. Demikian juga dengan kebun-kebun bambu milik masyarakat di daerah Cirebon, Tasikmalaya, Majalengka, Garut, Kuningan, dan Sumedang (seluruhnya di Jawa Barat).
     Karena proses produksi yang lama, dalam sebulan handiman hanya bisa membuat satu unit angklung terdiri dari 100-130 angklung melodi, akompanyemen (akord), dan ko-akompanyemen. Setiap hari ia ikut bekerja di bengkel kerja sekaligus rumahnya, di Jalan Surapati, Bandung.
     Selain menyetel nada pada tabung resonansi angklung, ia juga terus meneliti jenis-jenis nada tertentu, disesuaikan dengan jenis bambu. Pada beberapa produknya yang berkualitas sangat tinggi, ia membubuhkan tanda tangan.
     Tantangan yang dihadapi angklung, menurut Handiman, adalah tidak ada generasi penerus yang bisa membuat angklung sebagai alat musik. "Kalau sekadar dimainkan sih pembuatnya banyak. Namun, pembuat angklung untuk alat musik sangat jarang," kata Handiman.
     Keprihatinan ini membuat Handiman bergerak memberikan pelatihan-pelatihan cara memproduksi angklung sebagai alat musik di daerah Bandung, termasuk di Saung Angklung Udjo. Setiap tiga bulan sekali, ia juga membuat sarasehan tentang angklung untuk berbagi ilmu dengan perajin lainnya. Namun, ia belum mendapatkan penerus yang bisa dan mau benar-benar mempelajari cara membuat angklung dengan benar.
     Menurut Handiman, rata-rata perajin mengejar produksi angklung tanpa memperhatikan kualitas. Pembuat angklung alat musik sebaiknya perajin yang bisa memainkan angklung sehingga bisa menyetel nada dengan benar.
     Tantangan lainnya adalah semakin langkanya jenis bambu untuk angklung. Bambu terbaik untuk angklung antara lain bambu temen (Gigantochloa atter), bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea), bambu lengka (Gigantochloa hasskarliana), dan bambu tali (Gigantochloa apus Kurz).
     Sekarang ini, lanjutnya, tidak banyak petani bambu yang mau menanam jenis-jenis bambu untuk angklung. Mereka lebih memilih menanam jenis bambu lain untuk keperluan pembuatan sumpit, perabotan rumah, atau bangunan rumah karena pembelinya lebih banyak daripada produsen angklung.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 4 APRIL 2012

Senin, 02 April 2012

Samuel Ngongo Lewu: Sumber Air bagi Warga Empat Desa


SAMUEL NGONGO LEWU
Lahir: Tenggaba, 17 Maret 1948
Pendidikan:
- SR 6 tahun di Tenggaba (1960)
- Sempat bersekolah di SMP di Waingapu, Sumba Timur, tetapi hanya 3 bulan
Istri: Lusia Dairo Luru dan Bernadete Melu Lesa
Anak-anak:
- Herman Pata
- Oktaviana
- Selviana
- Ferdinand
- Melikianus 
- Adriana
- Pataki
- Yunita

Samuel Ngongo Lewu (64), sejak remaja sering meneteskan air mata ketika menyaksikan padang sabana dan pohon-pohon alam di sekitarnya lenyap dilalap api. Api membakar sabana dan isinya akibat tindakan negatif warga setempat. Ia tak punya kuasa melarangnya.

OLEH FRANS SARONG

Namun, dia tidak hanya berkeluh kesah dan menyerah. Dia pun bertindak nyata dengan menanami kawasan gersang di lingkungannya. Samuel menanam berbagai jenis pohon hingga pada akhirnya membuahkan sumber air baru dari kawasan yang tadinya gersang itu, tahun 1990-an.
     "Pekerjaan saya hanya bertani. Tetapi, juga senang menanam pohon. Dengan menanam pohon, saya sampai memperoleh penghargaan secara nasional," kata Samuel yang akrab disapa Ama Pata di kampungnya di We'e Tuaka, pertengahan Maret. Dia mengungkapkan hal itu dengan perasaan bangga. Namun, kebanggaan Samuel yang paling utama adalah karena usaha penghijauan yangdilakukan ternyata menghasilkan sumber air baru.
     Sumber air baru itu pun menjadi oase dan membebaskan warga sekitar yang selama ini kesulitan mendapatkan air bersih. Kesulitan memperoleh air bersih sudah sejak lama dialami warga.
     Kampung tempat Samuel tinggal-We'e Tuaka-adalah salah satu anak kampung Desa Tenggaba Kecamatan Wewewa Tengah, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 32 km dari Tambolaka (kota kabupaten SBD) atau lebih kurang 22 km sebelum Waikabubak di Kabupaten Sumba Barat. Jika bepergian dari Tambolaka atau Waikabubak, jaringan jalan beraspal hotmiks hanya sampai mulut persimpangan Tenggaba. Selanjutnya, kendaraan harus menyusuri jalan beraspal tipis, berlubang-lubang, dan sempit sejauh lebih kurang 10 km hingga We'e Tuaka.
     Keluarga Samuel sebenarnya memiliki dua rumah. Rumah utamanya di tepi jalan negara Tambolaka-Waikabubak, tepatnya di sekitar persimpangan Tenggaba. Satu rumah lainnya terletak di We'e Tuaka yang lebih dikenal sebagai rumah kebun. Rumah kedua ini bermakna khusus mendekatkan mereka dengan lahan usaha yang biasa ditanami padi dan jagung, termasuk 2 hektar sawah tadah hujan.
     Sejak belasan tahun lalu, Samuel bersama keluarganya lebih sering menetap di rumah kebunnya itu. "Kalau di rumah kebun, jelas lebih banyak waktu bekerja di ladang, sawah, atau menanam pohon. Alasan lain, karena sumber air di sekitarnya mulai mengalir sepanjang tahun sejak 1990-an," kenang ayah delapan anak tersebut.
     Menariknya, sumber air di We'e Tuaka itu tidak melulu hanya menjadi andalan Samuel dan keluarganya. Mata air tersebut sekaligus menjadi andalan sebagian warga empat desa, yakni Tenggaba dan Kanili di Kecamatan Wewewa Tengah. Dua desa tetangga lainnya adalah Totok dan We'e Nada dalam wilayah Kecamatan Loura.
     Warga merasakan pentingnya keberadaan sumber air itu. Karena itu, mereka merasa perlu menjaganya sedemikian rupa. Bahkan, belakangan ini warga membuat bak penampung air di sumber air tersebut.

Tidak serta-merta

     Kehadiran sumber air We'e Tuaka tentu saja bukan harta berharga yang tiba-tiba datang begitu saja. Siapa pun di Tenggaba dan juga warga lain di desa-desa sekitarnya mengakui, sumber air tersebut merupakan buah karya Samuel. Dialah orang yang sejak lama secara tekun menghijaukan kawasan gersang di sekitarnya dengan berbagai jenis pohon.
     Awalnya, Samuel "bermimpi" jika sawahnya yang seluas 2 hektar di We'e Tuaka suatu ketika terus digenangi air sampai puncak kemarau. Harapannya, dia bisa mengolah lahan sawahnya berproduksi atau bisa diolah 2-3 kali setahun. Dengan demikian, dia berharap penghasilannya dari sawah pun meningkat.
     Untuk mewujudkan mimpinya itu, Samuel giat menanami kawasan gersang di sekitarnya dengan pohon berbagai jenis, seperti kemiri, jati, mahoni, johar, dan meranti. Tanaman lainnya yang ditanam adalah berbagai kayu lokal, seperti lapale, ketaka, nga'a, manera, kasosa, mapedu, dan kedimbil. Samuel tidak hanya menanam jenis kayu biasa, tetapi juga berbagai jenis kayu mahal, seperti gaharu dan cendana.
     Usaha yang ditekuni sejak tahun 1970-an itu tersebar di We'e Tuaka, We'e Walu, dan Kawe Nggala, semuanya dalam wilayah Desa Tenggaba. "Luas kawasan penghijauan yang saya tanam seluruhnya sekitar 15 hektar, termasuk di dalamnya khusus ditanami cendana 3 hektar dan gaharu 2 hektar," kata Samuel mencoba merinci kawasan yang diolahnya.
     Perjuangannya yang tidak kenal lelah dan hasilnya yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar telah membuat Samuel berhasil mengoleksi penghargaan resmi dari pemerintah tingkat kabupaten hingga pusat. Sebut saja, penghargaan berupa Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan yang diterimanya langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, 12 Juni 2006.
     Walaupun telah meraih beberapa penghargaan tersebut, terutama Kalpataru, Samuel mengaku dirinya baru menyadari jika kegiatan yang ditekuninya sejak lama bukanlah pekerjaan sia-sia, apalagi hina. Dia kini merasakan apa yang dikerjakan sungguh luhur dan mulia.
     "Sungguh, saya tidak pernah bermimpi bisa naik pesawat sampai Jakarta. Apalagi, sampai bersalaman langsung dengan Bapak Presiden di Istana Negara, Jakarta. Ternyata ini semua berkat usaha menghijaukan kawasan gersang di Tenggaba," kenangnya.
     Tentu saja kebanggaan paling dalam adalah Samuel secara tidak langsung telah menjadi sumber air bagi warga empat desa di Kecamatan Wewewa Tengah dan Loura.
     Mimpinya yang belum terwujud adalah sawahnya yang masih tadah hujan karena sumber air We'e Tuaka muncul di bagian hilirnya....

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 3 APRIL 2012