Selasa, 12 Juni 2012

Iwan Abdulrachman: Senandung Alam dari Riung Bandung

IWAN ABDULRACHMAN, IR H
Lahir: Sumedang, 3 September 1947
Alumnus Universitas Padjadjaran, Fakultas Pertanian, angkatan 1965, kini Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran
Pendidikan Tambahan:
- Pendidikan dan latihan Long Range Patrol kualifikasi Recondo, di LR Patrol 
  School, Alabama, AS, 1986
- Close Combat Quarter Course, Nevada, AS, 1996
Karya lagu, antara lain:
- "Melati Jayagiri", Flamboyan", dibawakan oleh Bimbo
- "Burung Camar" bersama Aryono, dibawakan Vina Panduwinata
- Hymne Siliwangi
Penghargaan lain:
- Anugerah Kebudayaan dari negara, 2009
- Satyalancana Wirakarya dari Presiden Republik Indonesia, 2007
- Warga Kehormatan Kopassus,1996
- Penghargaan Kawakami Prize, World Song Festival di Tokyo, Jepang, untuk
  lirik lagu "Burung Camar", 1985

Aula Grha Sanusi Hardjadinata di Kampus Universitas Padjadjaran, Bandung, Minggu (20/5) malam, dipenuhi puluhan bibit pinus siap tanam dan gegap gempita suara kor, piano, dan gitar ketika Grup Pecinta Lagu Unpad berpentas.

OLEH JIMMY S HARIANTO

"Wooyow, wooyow, Yeaaaah....."
Lirik lagu Afrika "Tanggoyama" itu membahana memenuhi isi ruangan. dan tentunya juga memenuhi ruang hati penonton yang umumnya adalah mahasiswa, guru, dosen, alumni, dan tentu juga Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Dr Ganjar Kurnia.
     Ya, lagu-lagu pilihan Iwan Abdulrachman (65)-yang dulu dikenal sebagai salah satu personel grup musik asli Bandung, Bimbo, bersama Sam, Acil, Jaka, dan Iin Parlina-memang selalu gegap gempita, membahana, dan "jantan" jika bersama paaduan suara. Tak beda jauh dengan suasana membahana yang diciptakan Grup Pecinta Lagu Unpad (GPL Unpad) 40 tahun silam ketika mereka pertama lahir dan pentas di depan publik seperti di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
     Hanya sedikit penambahan warna. Jika pada dekade 1970-an dan 1980-an GPL Unpad tampil macho, cowok doang, dan menggelegar, kini geletarnya lebih berwarna-warni. Ada penyanyi perempuan serta anggota kor kampus kebanggaan Unpad kini.
     "Kami tampilkan adik-adik kami, Paduan Suara Mahasiswa Unpad, yang menjuarai berbagai festival dunia," ungkap Iwan Abdulrachman. Seperti biasa, penampilannya selalu diiringi dengan canda khas Sunda serta tutur cerita seputar pengalamannya bergaul dengan lagu, berkomunikasi dengan sesama melalui lagu, persis seperti kebiasaan GPL empat dasawarsa silam.
     "Akan tetapi, sungguh tidak mudah mengumpulkan mereka lagi," tambah Abah Iwan, panggilan akrabnya di kalangan teman-temannya. Bisa dibayangkan betapa sulitnya. Setelah 40 tahun bernyanyi, banyak di antara anggota GPL yang bergelut dengan profesi masing-maing.
     "Mestinya kami ini Grup Abah-abah Pencinta Lagu, GAPL..." kata Abah Iwan berseloroh tentang grup lamanya, yang kini anggotanya umumnya berusia 60 tahun keatas.
     Gitaris di samping abah Iwan, Atje M Darjan, misalnya, Alumnus Fakultas Eknomi Unpad ini sehari-hari adalah Direktur Utama PN Kertas Padalarang. Gitaris di sebelahnya lagi, Wawan Sukarya, adalah dokter spesialis kandungan yang tentu sehari-hari tak lagi memeluk gitar seperti dulu ketika masih mahasiswa di Unpad.
     Di sebelahnya lagi, bermain gitar sambil bernyanyi, ada psikolog Sony Yuwono. Ada juga Boentje Harbunangin, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta. 
     "Yudi berhalangan, sedang di Halmahera, dia menitipkan salam," ungkap Abah Iwan tentang salah seorang anggota grup yang tak bisa hadir. Yang juga absen adalah gitaris Albert Warnerin, rocker dan gitaris terkenal Indonesia di tahun 1980-an yang kini sibuk jadi pengacara di Jakarta. Juga tak hadir vokalis serta gitaris grup rock terkenal pada masanya, Benny Soebardja, yang tengah berada di Belanda.
     Akan tetapi, lagu-lagu berirama blues ciptaan Albert Warnerin, "Liar", dan "Babe", sempat dinyanyikan. Vokalis bluesnya adalah Erlan Effendi, lulusan Fakultas Pertanian angkatan 1979. Suaranya tidak kalah dengan penyanyi-penyanyi blues kondang.
     Di balik piano, ada alumnus Fakultas Ekonomi 1978, Indra Rivai, yang juga dikenal sebagai arranger lagu-lagu grup musik Bimbo.
     "Praktis kami hanya berlatih tiga minggu tiga kali pertemuan," tutur Iwan Abdulrachman, yang memakai baret merah ketika menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, "Balada Prajurit".
     Jika belakangan ini orang sering diusik dengan ulah kekerasan oknum prajurit, Iwan melihat hal lain. Dalam lagunya, ia coba mengangkat suasana hati seorang prajurit yang terkurung di dalam tank di padang pasir, melantunkan doanya kepada sang ibu, sebelum ia menemui ajal.
     "Abah Iwan orangnya konsisten dengan apa yang ia sampaikan. Disiplin, keras, tapi juga lembut dan selalu respek dengan orang lain. Ia melatih nilai-nilai kebersamaan dalam menyanyi di GPL," ungkap Eric Martialis, lulusan Fakultas Pertanian 1974 yang bertugas rangkap sebagai koordinator GPL sekaligus semacam event organizer (EO) untuk pentas "40 Tahun GPL Unpad" di Aula Grha Sanusi Hardjadinata, tempat pertama kali GPL 40 tahun silam berpentas.
     Sebanyak 13 lagu dilantunkan GPL dan PSM Unpad, mulai dari yang berbahasa Ibrani sampai lagu Afrika dan berbagai belahan dunia, seperti "Hine Ma Tov", "Hava Nagila", "Swing Low", "haben Ya kirli", dan lagu terkenal dalam album solo Iwan Abdulrachman, "Mentari".

Bergelut dengan alam

     Hampir sepanjang hidup Abah Iwan-yang pada masa mahasiswa dikenal dengan julukan Iwan Ompong karena giginya ompong akibat naik gunung- selalu bergulat dengan alam. Tak hanya suka mendaki gunung, ia juga sering membawa gitarnya sembari naik gunung. Misalnya, saat ikut tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Wanadri di Lembah Danau-danau, Pegunungan Jayawijaya, Papua, April 2010. Abah Iwan "berkonser" menyanyikan 13 lagu di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut.
     Tak kurang uniknya, pengalaman Abah Iwan di Kilimanjaro, Afrika, saat mengikuti ekspedisi yang sama.
     Seorang porter (pembawa barang, orang lokal) Afrika sampai menjulukinya "Suaramu seperti singa".
     Suatu ketika, April 2006, bersama tiga orang lain-termasuk Kompas-si Abah "berkonser" di depan padang rumput, pepohonan, serta awan dan kesunyian kaki gunung di antara Gunung Tangkuban Perahu dan Burangrang, Lembah Cicaruk-tempat kegemarannya saat menyendiri dan menyanyi-di kaki gunung yang semula ramai dengan kicauan burung pun senyap dalam kesepian. Mereka seperti mendengarkan Abah Iwan bernyanyi dengan gitarnya, duduk di atas sebuah dingklik (kursi kayu beralas persegi empat) yang ia bawa dari rumah.
     Awan yang menyelimuti pucuk Gunung Burangrang tiba-tiba turun seperti menyambut nyanyian dan gitar si Abah.
     "Saya menyanyi untuk rerumputan dan pepohonan di lembah," ungkap si abah mengenai konsernya, enam tahun silam.
     Tak heran jika di setiap akhir konsernya si pencinta alam ini pun membagi-bagikan bibit pohon pinus untuk ditanam para pengunjungnya. Seperti terjadi pada Minggu malam itu di Aula Unpad, puluhan bibit pohon pinus yang siap ditanam pun ramai diserbu pengunjung. Jika nanti pinus-pinus itu tumbuh tegap, mereka akan selalu ingat konser Abah Iwan.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 23 MEI 2012

Kristantina Indriastuti: Srikandi Megalitikum Basemah

KRISTANTINA INDRIASTUTI
Lahir: Magelang, Jawa Tengah, 1975
Suami: Rai Arsadana Putra (40)
 Anak:
- Dewa Bagus Odie (17)
-  Dewa Agung Yogie (16)
Pendidikan:
- SD Protobangsan 2 Magelang 
- SMPN I Magelang
- SMAN I Magelang
- Sarjana Arkeologi Universitas Gadjah Mada
Pekerjaan: Peneliti di Balai Arkeologi Palembang sejak 2008

Sejarah tak semestinya diabaikan karena di sini tersimpan nilai-nilai yang membentuk jati diri bangsa. Pemikiran ini menjadi semangat arkeolog Kristantina Indriastuti untuk bertualang pada era megalitikum di kawasan Basemah, Sumatera Selatan. Baginya, mengungkap masa lalu adalah upaya tak lekang waktu guna mengingat kembali nilai-nilai itu.

OLEH IRENE SARWINDANINGRUM

Dengan pemikiran itu pula, arkeolog yang akrab disapa Tanti ini mencoba memaknai tugasnya sebagai peneliti bidang prasejarah di Balai Arkeolog (Balar) Palembang. Sejak tahun 2009-2012, ia rutin meneliti ratusan peninggalan megalitikum di Basemah, sebutan untuk daerah kaki Gunung Dempo, Sumatera Selatan (Sumsel). Kawasan itu meliputi sebagian Kabupaten Lahat dan Kota Pagar Alam.
     Dalam penelitiannya, ia menemukan petualangan dalam arti sesungguhnya. Medan yang sulit mesti dia tempuh guna mencapai lokasi situs yang tersebar di antara kebun kopi, sayuran, sawah, dan perbukitan terjal. Konflik dengan warga lokal pun menjadi santapan "biasa" baginya.
     Salah satu konflik itu terekam pada malam terakhir ekskavasinya di Jangkarmas, Kota Pagar Alam, Mei. Pemilik lahan lokasi ekskavasi marah karena tim arkeolog mengangkat dua tempayan kubur yang telah sepekan mereka ekskavasi. Kemarahan itu diwujudkan lewat cacian dan tuduhan pencurian.
     Pemilik lahan menuntut tempayan dikembalikan. Dua tempayan yang diperkirakan berusia 1.000 tahun itu rencananya dibawa ke kantor Balar Palembang guna diteliti lebih lanjut. Meski sebelumnya si pemilik telah memberi izin, bahkan tampak antusias terhadap penelitian ini.
     Ketegangan itu berlangsung dari siang hingga malam hari. Sebagai ketua tim arkeolog, Tanti harus menghadapinya. Sepanjang kemarahan dilontarkan, ia lebih banyak diam, meminta maaf seraya memberi penjelasan tentang tujuan penelitian. Ia lalu menawarkan ganti rugi.
     Ketegangan pun reda setelah pemilik lahan bersedia menerima ganti rugi dan penjelasan Tanti. "Kami harus sabar menghadapi kejadian seperti ini, yang penting tempayan kuburnya bisa dibawa ke Palembang," ucap Tanti yang lega karena ekskavasi 10 hari itu tak sia-sia.

Pemahaman warga

     Kejadian itu hanya satu dari sejumlah kesulitan yang dihadapinya. Konflik dengan warga  sering timbul karena pemahaman warga akan pentingnya penelitian megalitikum masih terbatas. Untuk meredam konflik, membuka pemahaman warga akan pentingnya penelitian perlu dilakukan.
     "Sebagai arkeolog, kami harus pandai-pandai menjelaskan hal itu kepada mereka. Sebagian warga bisa menerimanya dan memberi dukungan. Mereka juga menghargai warisan leluhur itu," kata Tanti.
     Beragam upaya mendekati warga dicobanya. Hal itu, misalnya, Tanti dan tim menginap di rumah warga meski fasilitasnya jauh dari kenyamanan penginapan. Namun, cara ini memudahkan dia menularkan pengetahuan kepada warga. Ia juga tak melarang warga melihat ekskavasi dan menjawab pertanyaan mereka di sela-sela kegiatannya.
     Membuka akses pengetahuan megalitikum kepada warga diharapkan menumbuhkan penghargaan mereka terhadap peninggalan prasejarah di daerahnya dan kemauan untuk ikut melestarikannya.
     Tanti dan tim juga bertemu para kepala daerah guna memberi masukan terakhir temuan megalitikum. Tujuannya, menggugah perhatian pemerintah daerah terhadap situs-situs tersebut. Upayanya mendapat tanggapan positif dari Pemda Lahat dan Pagar Alam yang melihat situs megalitikum sebagai potensi wisata.

Terpukau masa lalu

     Detil kehidupan masa lalu di situs megalitikum Basemah membuat Tanti kagum. Di sini tersirat nilai-nilai bermasyarakat dan daya seni tinggi dari leluhur di sekitar kaki Gunung Dempo.
     "Secara kasat mata, peninggalan itu mencerminkan semangat kegotong- royongan dan kerja sama yang baik. Di sini terlihat betapa kebersamaan dan toleransi telah melandasi kehidupan masyarakat di Indonesia sejak lama," katanya.
     Tingginya rasa seni leluhur terlihat dari beragam pahatan arca megalitikum hingga goresan lukisan dinding di bilik-bilik batu di daerah itu. Guratan dan garis terlihat begitu ekspresif, padahal alat yang digunakan saat itu masih sederhana.
     Salah satu temuan terbaru adalah raut lelaki yang terpahat di dinding batu air terjun di perbukitan Pagar Alam. Sejumlah karya dan penempatannya terpusat pada Gunung Dempo. Ini memperlihatkan eratnya hubungan manusia dengan alam.
     Tanti yang selalu berbekal ikan asin saat perjalanan ekskavasi itu mulai meneliti megalitikum Basemah saat masih di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Jakarta pada 2004. Saat mulai di tempatkan di Balar Palembang tahun 2008, ia mengajukan penelitian megalitikum Basemah.
     Tahun 2009 hingga kini ia melakukan penelitian di Basemah secara rutin. Di bangku kuliah, ibu dua anak ini meneliti perkampungan megalitikum Ngada di Flores sebagai tugas akhir.
     Ketertarikan Tanti pada megalitikum di Basemah karena masih banyaknya teka-teki yang belum terjawab. "Megalitikum Basemah sudah banyak diteliti dan didokumentasikan ilmuwan Belanda sejak 1930-an, tapi masih banyak hal yang belum pasti. Selain itu, banyak juga temuan baru bermunculan dan ini butuh penelitian," katanya.
     Rangkaian penelitiannya di Basemah membuka sejumlah fakta baru. Salah satunya mengenai usia megalitikum  Basemah yang awalnya diduga sekitar 2.500 tahun karena disamakan dengan usia budaya megalitikum umumnya. Namun, uji penanggalan karbon pada beberapa arang yang ditemukan tahun 2011 menunjukkan usia yang "baru" 1.000-1.600 tahun.
     Hasil penanggalan karbon itu menimbulkan dugaan baru, kebudayaan megalitikum di Basemah berlangsung sekitar abad ke-6-10 Masehi atau bersamaan dengan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat sekitar 100 kilometer dari Gunung Dempo.
     "Jika memang benar, artinya saat itu di Sumsel berkembang dua budaya yang berbeda. Kebudayaan maritim Sriwijaya tumbuh di daerah sekitar aliran sungai, sedangkan budaya megalitikum bertahan di kawasan pegunungan," katanya.
     Penelitian itu juga mendata dan memetakan sebaran situs megalitikum Basemah yang mencapai 420 temuan. Temuan-temuan itu di antaranya bilik batu, arca, dolmen, lukisan dinding, lesung batu, dan tempayan kubur.
     Temuan-temuan baru pun masih dilaporkan warga. Banyaknya temuan itu membuat Basemah memiliki situs megalitikum terkaya di Indonesia. Ibarat Srikandi, Tanti tak gentar menghadapi petualangan-petualangan baru di situs megalitikum Basemah.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 12 JUNI 2012

Jumat, 08 Juni 2012

Cucu Sumiati-Gunawan: Bekal Hidup untuk Anak Putus Sekolah

GUNAWAN
Lahir: Ponorogo, 17 Februari 1975
Sekolah:
- SD Kedungbanteng (1986)
- SMPN Sukorejo (1989)
- SMA Katholik Taruna Jaya Sampit (1993)

CUCU SUMIATI
Lahir: Bogor, 23 Mei 1980
Anak:
- Riandito (12)
- Angelina Oktavia Kirana (5)
Pendidikan:
- SD Langensari (lulus 1992)
- SMP PGRI 214 Cijeruk (1995)
- SMEA Eka Prasetya (1998)
Organisasi:
- Ketua Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Desa Palasari (dari 2002)
- Ketua Pos Keluarga Berencana Desa Palasari
- Anggota Kaukus Politik Perempuan Indonesia  Kabupaten Bogor (dari 2009)
- Badan Khusus Perempuan Ekonomi, dan Koperasi Himpunan Kerukunan Tani 
  Indonesia Kabupaten Bogor (2010)
- Pengurus Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Bogor (2010)

Prihatin dengan banyak anak putus sekolah di lingkungannya, pasangan suami-istri Cucu Sumiati (32) dan Gunawan (37) tergerak untuk memperbaiki keadaan. Satu demi satu anak dan orangtuanya didatangi. Mereka dibujuk bersekolah dengan iming-iming gratis. Dari usaha itu, lahirlah sekolah gratis sejak pertengahan tahun 2011.

OLEH MUKHAMAD KURNIAWAN

Hanya berbekal survei kecil-kecilan, keduanya memberanikan diri mengajukan pendirian kelas jauh ke pengelola Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Cijeruk di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Cucu meyakinkan banyak siswa tak mampu melanjutkan sekolah karena faktor jarak dan ketiadaan biaya.
     "Kami survei di dua RT (rukun tetangga), yakni RT 4 dan 1 Desa Tajur Halang, Kecamatan Cijeruk, untuk membuktikan bahwa benar ada banyak anak putus sekolah. Hasilnya ada 35 anak putus sekolah atau sekitar 85 persen dari seluruh anak usia di bawah 15 tahun di daerah itu," kata Cucu.
     Cucu dan Gunawan kian termotivasi membujuk lebih banyak anak ketika Kepala SMP Negeri 1 Cijeruk Abdul Rozak merespons positif permohonan pendirian kelas jauh. Kepada orangtua calon siswa, Cucu berjanji menggratiskan biaya pendidikan. Selain itu, dia juga akan mengusahakan seragam, sepatu, dan alat tulis secara gratis.
     Usaha itu tak mudah meski Cucu dan Gunawan berulang menjanjikan gratis. Sebagian orangtua tak ingin anaknya bersekolah karena harus bekerja. Mereka antara lain harus membantu berdagang, menjadi pengasuh anak, dan pembantu rumah tangga. Sebagian ingin anaknya sekolah, tetapi tak mampu membayar ongkos transportasi, membeli sepatu dan seragam, serta keperluan lain. 
     Jarak dari rumah anak-anak itu ke SMP negeri terdekat, yakni SMP Negeri 1 Cijeruk, hanya beberapa kilometer. Namun, mereka harus mengeluarkan ongkos Rp 6.000-Rp 10.000 untuk sekali jalan dengan angkutan umum dan ojek. 
     "Jangankan mengeluarkan Rp 20.000 untuk biaya transportasi anak ke sekolah, kebutuhan sehari-hari saja kadang tak terpenuhi karena memang tak ada uang. Penghasilan orangtua sebagai buruh harian lepas, buruh tani, dan pedagang tak cukup," kata Cucu.

Kelas jauh
     Terhitung mulai Juli 2011, Cucu dan Gunawan diberi kepercayaan mengelola kelas jauh SMP Negeri 1 Cijeruk. Keduanya diizinkan menggunakan salah satu ruang kelas di SD Langensari untuk menggelar kegiatan belajar mengajar. Waktu belajar berlangsung pukul 12.30-17.00 setelah jam pelajaran SD Langensari berakhir.
     Demi menjawab kepercayaan itu, Cucu dan Gunawan bergerilya mencari calon siswa. Setiap hari, 2-3 rumah warga didatangi meski tak semuanya berhasil. "Kadang hanya satu anak (menyatakan siap sekolah) dari 'perburuan' sehari," ujarnya.
     Dari gerilya selama beberapa pekan, Cucu dan Gunawan berhasil merangkul 24 anak putus sekolah di sekitar tempat tinggalnya. Mereka antara lain dari Desa Palasari dan Desa Tajur Halang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, serta Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Ketiga desa dan kelurahan itu berdekatan.
     Para calon siswa yang terjaring adalah lulusan SD Langensari, Tajur Halang 2, Tajur halang 3, dan Palasari. Sebagian di antaranya telah 1-3 tahun berhenti sekolah dan telah bekerja. Ada beberapa yang diizinkan bersekolah oleh orangtuanya tetapi tetap bekerja pada pagi harinya.
     Dengan membuka kelas jauh di SD Langensari, jarak dari rumah siswa ke sekolah menjadi relatif dekat. Mayoritas siswa Cucu-Gunawan pun menjangkau sekolah dengan jalan kaki. Belakangan, SMP Negeri 1 Cijeruk kelas jauh itu disebut SMP Terbuka Cijeruk dengan dua guru tetap, yakni Cucu Sumiati dan Gunawan.
     Persoalan tak berhenti setelah kelas jauh berdiri. Cucu dan Gunawan harus menepati janji gratis yang ditawarkan kepada orangtua. Oleh karena itu, pada awal tahun ajaran, sebagian siswa yang tak mampu membeli seragam dan sepatu diizinkan memakai baju bebas dan tanpa sepatu.
     "Saya keliling ke tetangga-tetangga untuk mencari donatur dan meminta sumbangan seragam SMP pantas pakai. Alhamdulillah, semua siswa bisa berseragam dan bersepatu layaknya siswa SMP lain," kata Cucu.
     Ada beberapa siswa yang harus naik angkutan umum untuk pulang-pergi sekolah. Tak jarang, Cucu dan Gunawan harus menyumbang ongkos transpor karena ketiadaan biaya. "Asal bisa bersekolah, kami siap cari bantuan untuk transportasi," kata Cucu.
     Cucu dan Gunawan hanyalah lulusan sekolah menengah atas (SMA). Namun, keterbatasan itu tak menghalangi niat keduanya belajar secara otodidak dan menularkan ilmu kepada para siswanya . Buku pelajaran dan literatur pendukung Matematika, Fisika, Geografi dan Bahasa Inggris mereka pelajari untuk diajarkan kembali.
     Cucu dan Gunawan selalu berinovasi untuk menyiasati keterbatasan sarana sekolah. Untuk pelajaran praktik komputer, misalnya, keduanya menggalang dana patungan siswa untuk menyewa komputer di warung internet. Dengan modal Rp 500 per siswa, Cucu dan Gunawan bisa menyewa 5 unit komputer selama satu jam. Satu unit komputer untuk 4-5 siswa.
     Cucu dan Gunawan juga melobi pemilik renang agar bisa praktik renang berbiaya murah. Keduanya juga belajar menjahit, menyulam, dan merajut secara otodidak untuk kemudian ditularkan kepada 24 siswanya pada pelajaran keterampilan atau ekstrakurikuler.
   Meski berstatus guru pamong (sukarelawan) dengan honor Rp 200.000 per bulan, Cucu dan Gunawan selalu bersemangat menggelar kegiatan belajar-mengajar bagi para siswanya. Keduanya bahkan menggelar enam hari belajar dalam sepekan dengan lama belajar 4,5 jam per hari. Menurut Cucu, sebagian SMP terbuka hanya belajar 3-5 hari sepekan.
     Pada awal belajar, tak sedikit siswa minder karena bersekolah di kelas jauh atau siswa SMSP Terbuka. Namun, Cucu dan Gunawan selalu menyuntikkan motivasi dan beberapa prinsip, yakni berani, jujur, optimis, saling menghargai, dan mau bekerja keras.
     "Prinsip-prinsip itu bekal hidup. Kami tak ingin anak-anak itu terjebak dalam kebodohan dan kemiskinan lagi. Sudah miskin, tak mau sekolah (belajar ) lagi,' kata Gunawan.

Dikutip dari KOMPAS,SENIN, 28 MEI 2012

Kamis, 07 Juni 2012

Kristiono: Kesetiaan pada Perjuangan

KRISTIONO IMAN SANTOSO
Lahir: Yogyakarta, 11 September 1959
Pendidikan: SMA
Istri: Lanita Gusvini (53)
Anak:
- Indah Kusumaningrum (24)
- Dwi Putra Nugraha
Pekerjaan: Wiraswasta
Organisasi: Education Forum dan gereja, donor darah rutin

Kristiono Iman Santoso hanyalah orangtua biasa. Pada awalnya dia ingin memperjuangkan ketidakadilan yang menimpa putri sulungnya akibat kebijakan ujian nasional yang menentukan kelulusan siswa. Hingga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan bahwa pemerintah harus mengevaluasi pelaksanaan ujian nasional, Kristiono tetap setia untuk memperjuangkan ujian nasional yang adil bagi siswa.

OLEH ESTER LINCE NAPITUPULU

Putusan hakim kala itu spontan disambut sujud syukur Kristiono. Suasana haru dan tangis serta nyanyian "Indonesia Raya" memenuhi ruang sidang.
     Kristiono menolak jika dirinya disebut punya andil besar dalam perjuangan masyarakat yang menuntut pelaksanaan ujian nasional (UN) yang lebih memperhatikan hak anak. Dia hanya merasa terpanggil untuk ikut memperjuangkan keadilan. Hal itu dia buktikan dengan selalu hadir dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, rapat, pertemuan dengan pemerintah, DPR, Dewan Pertimbangan Presiden, Komisi Nasional HAM, dan Komisi Nasional Perlindungan Anak serta unjuk rasa di berbagai tempat.
     Mulai dari hiruk-pikuk gugatan atas UN di PN Jakarta Pusat pada tahun 2007 hingga dikuatkan putusan kasasi Mahkamah Agung tahun 2009, Kristiono setia hadir sebagai salah seorang penggugat utama. Ketika perjuangan untuk mendesak pemerintah serius mengevaluasi pelaksanaan UN mulai sayup-sayup terdengar, Kristiono tetap setia hadir ke PN Jakarta Pusat untuk memohonkan eksekusi keputusan soal UN yang telah berkekuatan hukum tetap.
     Kristiono bersama mantan guru Amir Hamzah yang terdaftar sebagai bagian dari 58 penggugat kebijakan UN, didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, hingga awal Mei 2012 tetap setia hadir di PN Jakarta Pusat. Mereka memonitor permohonan agar majelis hakim PN Jakarta Pusat menegur pemerintah yang mengabaikan keputusan hukum untuk menghentikan UN selama masih terjadi ketimpangan dalam sarana dan prasarana pendidikan, kondisi guru, serta akses informasi di seluruh sekolah di Indonesia.
    "Saya bertanggung jawab moral untuk mengawal sampai tuntas keputusan pengadilan. Ternyata kemenangan perjuangan masyarakat dan pemerhati pendidikan belum 'menang' sesungguhnya," kata Kristiono.

Pemerintah lalai

     Kesetiaan Kristiono dipertahankan sejak gugatan warga negara terhadap pemerintah terkait dengan kebijakan UN pada tahun 2006 oleh 58 orang yang mewakili berbagai komponen masyarakat didaftarkan ke PN Jakarta Pusat. Pada 21 Mei 2007, majelis hakim yang diketuai Adriani Nurdin memenangkan gugatan masyarakat.
     Pemerintah dinilai lalai dalam memenuhi dan melindungi hak asasi warga negara yang menjadi korban kebijakan UN. Majelis hakim mengabulkan gugatan subsider para penggugat yang memohon hakim untuk memutuskan kasus ini seadil-adilnya. Kala itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan Bambang Suhendro selaku tergugat I-IV dalam kasus ini dinyatakan lalai memberikan pemenuhan dan perlindungan HAM terhadap warga negara, khususnya hak atas pendidikan dan hak anak. Sistem pendidikan nasional juga perlu ditinjau.
     Berbekal keputusan PN Jakarta Pusat inilah kelompok pemerhati pendididkan yang tergabung dalam Tim Advokasi Korban UN (Tekun) menuntut pemerintah agar menghentikan UN sebagai penentu kelulusan siswa. Kondisi pendidikan di Indonesia masih timpang.

Terpukul

     Tidak pernah terbayang dalam benak bapak dua anak ini terlibat dalam gugatan kebijakan nasional pendidikan. Dia selama ini bekerja sebagai staf logistik di perusahaan kontraktor yang tidak banyak mengerti tentang pendidikan.
     Namun, hal ini berubah ketika anak pertamanya, Indah Kusumaningrum, siswa SMA swasta di Depok, pada 19 Mei 2006 tidak bisa mendapat ijazah SMA. Putrinya yang berprestasi baik, selalu masuk ranking 10 besar di sekolah, gagal di salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Nilai UN Matematika anaknya 4,00, padahal nilai minimal yang dipatok pemerintah 4,26. Dua mata pelajaran lain, yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, masing-masing 8,00.
     Sebagai orangtua, Kristiono dan istri merasa terpukul dengan ketidaklulusan anak mereka. Apalagi melihat anak lain yang nilainya 5,5,5 bisa lulus. "Rasanya kecewa. Kelulusan anak selama belajar tiga tahun ditentukan semata-mata hasil ujian 3 kali 2 jam. Saya cuma berharap ada perubahan supaya kelulusan siswa tidak semata-mata dilihat dari hasil UN," ujarnya.
     Kristiono dan istri mendampingi putrinya yang putus asa. Mereka membesarkan hati putrinya dengan mengatakan bahwa ketidaklulusan bukan akhir dari segalanya.
     Ternyata ketidaklulusan cukup banyak dialami anak-anak yang selama ini berprestasi baik di sekolah. Permintaan untuk UN ulangan tidak direstui pemerintah. Siswa yang tidak lulus disarankan ikut ujian Paket C atau setara SMA.
     Namun, kepasrahan Kristiono sampai pada batasnya ketika mendaftarkan anaknya ke sebuah perguruan tinggi negeri (PTN). Pihak kampus mengatakan belum ada instruksi kalau ijazah Paket C diterima.
     Dalam kebingungan menyiapkan masa depan anaknya, Kristiono datang ke LBH Jakarta. Ia berkonsultasi mengenai ketidakadilan yang menimpa anaknya. Banyaknya keluhan serupa membuat LBH Jakarta membuka pengaduan.
     Kristiono mengajak putrinya bersama anak-anak korban UN lainnya memperjuangkan perubahan UN. Ada siswa kelas III SMA yang sudah diterima di PTN favorit dan universitas ternama di luar negeri, tetapi tak bisa kuliah karena nilai pada satu mata pelajaran UN di bawah standar.
     "Anak saya yang tadinya tertekan jadi bangkit lagi. Akhirnya dia bisa kuliah di kampus swasta, tapi dengan syarat dalam satu tahun harus sudah ada ijazah Paket C," ujarnya.
     Kristiono pernah dicibir karena dianggap tidak menerima kenyataan anaknya  tidak lulus UN. "Saya bukan berjuang untuk anak saya saja. Tetapi harus ada keadilan supaya siswa jangan semata dinilai dari hasil UN," katanya.
     Bahkan, keterlibatan Kristiono dalam memperjuangkan perubahan UN kala itu membuat dia sering meminta izin meninggalkan pekerjaannya. Akhirnya, dia melepas pekerjaannya.
     Perjuangan Kristiono dan kawan-kawan membuahkan hasil. Tim Advokasi Korban UN yang mewadahi perjuangan ini bisa mendorong pemerintah untuk melakukan perubahan dalam pelaksanaan UN.
     Awalnya, pemerintah merestui adanya UN ulangan bagi siswa yang tidak lulus. Kemudian, diubah lagi dengan menambah penilaian sekolah dalam penentuan kelulusan. Setidaknya, hasil UN berkontribusi 60 persen dan nilai sekolah berkontribusi 40 persen.
     "Saya bukan ingin mencari nama. Saya hanya terikat dengan moral ingin mengawal keputusan pengadilan sampai akhir," kata Kristiono.

dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 7 JUNI 2012

Rabu, 06 Juni 2012

Yana Noviadi: Kades Terpencil dengan Teknologi Informasi

YANA NOVIADI
Lahir: Tasikmalaya, 4 November 1967
Istri: Neneng Rosmayani (44)
Anak:
- Gilang Asih (20)
- Muhammad Bentang (10)
Pendidikan:
- SD Cinunjang Tasikmalaya (1977)
- SMP 3 Tasikmalaya (1984)
- SMA Negeri 4 Tasikmalaya (1987)
Pencapaian: Pembicara pada REDD+Palangkaraya (2011); Sistem Informasi Desa Yogyakarta (2011) dan Kalimantan Barat (2011); Festival Teknologi Informasi untuk Rakyat di Bandung (2012)

Air adalah sumber kehidupan, kita semua sudah tahu. Bukan cuma kesulitan yang didapat, tetapi terbatasnya air juga bisa menjadi sumber perselisihan. Demikianlah pula kondisi Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Puluhan mata air mulai mengering. Air di sembilan mata air tak deras lagi dan puluhan hektar lahan tidur tak terurus.

OLEH CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Kondisi yang memprihatinkan seperti itu tidak serta-merta terjadi begitu saja. Ulah manusia yang tidak bersahabat dengan alam berbalas langsung dari alam itu sendiri, termasuk sulitnya air bersih. "Penebangan kayu tanpa aturan oleh sebagian anggota masyarakat atau pengusaha membuat banyak pohon besar di sekitar Desa Mandalamekar habis ditebang," kata Yana Noviadi (45), warga Mandalamekar.
     Yana mengatakan, aktivitas itu memicu banyak masalah. Sudah diduga, hilangnya pohon besar membuat daerah resapan air berkurang. Debit air yang terus menurun pun mulai menghantui masyarakat. Persediaan air bersih semakin menurun. Sebaliknya, hujan lebat pun menyimpan kekhawatiran akan membawa longsor dan mengancam sekitar 3.370 warga yang tinggal di kaki Pasir Bentang dan Pasir Badak di kawasan Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, itu.
     Tidak hanya itu, terbatasnya air juga sering kali memicu perselisihan horizontal antarmasyarakat. Tidak jarang petani merusak saluran air petani lainnya demi mendapatkan air lebih banyak untuk mengairi sawah atau ladangnya. Ironisnya, hal itu dilakukan tanpa rasa bersalah.

Mitra alam

     Desa Mandalamekar adalah salah satu wilayah terpencil di Kabupaten Tasikmalaya. Jaraknya sekitar   40 kilometer atau sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota. Untuk mencapai kawasan itu, kita harus melewati jalanan rusak dan berbukit-bukit. Desa tersebut dibentuk tahun 1978, dengan luas mencapai 709 hektar. Kini jumlah penduduk di kawasan itu tercatat 3.370 orang. Sebagian besar warga adalah petani kebun dan pembuat gula aren.
     Atas dasar keprihatinan yang melanda desa itu, 10 pemuda desa berkumpul untuk mencari cara bagaimana meminimalkan agar persoalan lingkungan di desa itu tidak semakin parah. Mereka lalu membentuk Kelompok Masyarakat Peduli Lingkungan "Mitra Alam Munggaran" dan mulai berbenah tahun 2002. Para anggotanya sepakat mendaulat Yana sebagai ketua.
     Mereka kemudian secara intens melakukan berbagai diskusi dan rembuk desa untuk mencari jalan keluar. Permasalahan dan masa depan desa jika hutan terus dirusak menjadi isu utama. Tidak berhenti pada wacana, para anggota Mitra Alam Munggaran pun mulai melakukan tindakan nyata. Mereka melakukan pemetaan lahan hijau, program bersih sungai, hingga penanaman pohon di lahan tidur. Melihat aksi mereka, banyak warga yang lantas peduli. Namun, ada juga yang mencibir dan tidak peduli.
     "Perlahan semakin banyak warga yang mau ikut terlibat. Bila tadinya harus diminta, kini warga secara sukarela menanam pohon. Mereka mulai sadar dengan bahaya dan manfaat terkait keberadaan pohon serta air," kata Yana.
      Kampanye pelestarian lingkungan semakin gencar dilakukan saat Yana terpilih sebagai Kepala Desa (Kades) Mandalamekar periode 2007-2013. Imbauan menanam pohon semakin sering ia sampaikan kepada warga dalam berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pembibitan pohon dengan menggunakan polybag. Pohon yang dikembangkan berasal dari jenis beringin, picung, dan mahoni.
     Tidak itu saja, Yana juga melarang warga desanya untuk melakukan jual beli pohon aren. Aren dinilai baik untuk menyimpan air dan pohonnya bisa disadap penduduk untuk diolah menjadi gula.
     Pertemuan Yana dengan Yossy Suparyo-penggiat teknologi informasi pedesaan dan penggiat kesejahteraan desa-menginspirasinya mengembangkan media literasi. Yana kemudian mengembangkan radio komunitas, blog, hingga website menggunakan peranti lunak bebas dan terbuka yang berbasis teknologi dan informasi.
     Radio komunitas yang menggunakan kanal 107,8 FM dan diberi nama Ruyuk FM itu dibuat tahun 2007. Dalam bahasa Sunda, ruyuk diartikan 'hutan kecil'. Ide besarnya, radio ini dijadikan sebagai sarana komunikasi warga desa di tengah hutan untuk melestarikan alam sekitarnya. Setiap hari, pukul 18.00-23.00, Ruyuk FM menyebarkan informasi pengetahuan dan keterampilan mengenai pengolahan sumber daya alam, penggunaan bahasa Sunda, kesenian, isu lingkungan, kesehatan, dan perempuan.
     "Warga juga dilatih menulis di www.mandalamekar.wordpress.com dan www.mandalamekar.or.id. Mereka bebas mengungkapkan aspirasi dan usulan bagi pembangunan desa," katanya.
     Perjuangannya bersama warga desa tidak sia-sia. Kini, 4 air terjun, 9 goa, dan 81 mata air berhasil diselamatkan. Lahan tidur seluas 81 hektar pun berhasil dihutankan.
     Pengembangan teknologi informasi juga membawa perbaikan bagi pelayanan publik dan pemerintahan bersih. Pengawasan dan pelayanan publik bisa dilakukan secara online dan dilihat di mana saja. Bahkan, aplikasi serupa dilakukan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, serta Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, dengan nama Gerakan Desa Membangun, sekitar setahun lalu.
     "Dari tiga desa, kini ada sekitar 200 desa dari Jabar, Jateng, dan Yogyakarta yang tertarik pada gerakan itu. Untuk memfasilitasinya, kami menggelar Festival Jawa Selatan yang membicarakan pentingnya teknologi informasi di daerah terpencil pada 2-5 Juni 2012," katanya.
     Kemandirian Mandalamekar menjadi perhatian banyak pihak. Tahun 2009 dan 2010 Desa Mandalamekar menjadi juara Konservasi Alam dan Penghijauan Tingkat Kabupaten Tasikmalaya. Provinsi Jabar juga menetapkan Mandalamekar pada posisi terbaik kedua dalam lomba konservasi tingkat Jabar. Bahkan, Irman Meilandi, salah seorang warga mandalamekar, berhasil mendapatkan Seacology Award 2011 dari Seacology, lembaga nirlaba bidang lingkungan dari Amerika Serikat.
     "Saya bersama warga Desa Mandalamekar berharap kiprah kami bisa memberi semangat pada daerah lainnya. Khusus bagi desa terpencil di selatan Jawa, sudah saatnya kita maju dan menghentikan marjinalisasi yang terjadi," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 6 JUNI 2012

Selasa, 05 Juni 2012

Agnes Irwanti: Perjuangan untuk Mengurangi "Digital Gap"

AGNES IRWANTI
Lahir: Yogyakarta, 13 Agustus 1971
Pendidikan:
- Departemen Teknik Elektro IKIP Negeri Yogyakarta, 1992
- Diploma Program Profesional Universitas Indonesia (UI),1999
- Jurusan Manajemen Pemasaran FakultasEkonomi UI, 2005
- Program Master Fakultas Psikologi UI, 2010 
Suami: Rudy Marianto Kaharmen (51)
Anak: Cleossa Lydwina Agdy Putri (16)
Pekerjaan:
- Direktur Multikom Global Mediatama, Jakarta
- CEO Providensia Solusindo, Jakarta
Pencapaian:
- Delegasi Indonesia dalam Women in Economy APEC Meeting 2011 di San
  Francisco, Amerika Serikat
- Penghargaan sebagai Most Inspiring Engineer Award di Kalkutta, India, 
  Maret 2012 dari IEEE (organisasi profesi insinyur elektroteknik dunia)

Sampai sekarang Agnes Irwanti masih terkesan dengan peristiwa yang terjadi sekitar 20 tahun silam. Ketika itu, dia melihat seorang ibu menerima telepon sambil melayani klien bisnisnya. "Baik, dua ekor ayam kampung. Dikirim kemana nih?" ujar ibu itu sambil mengempit telepon di antara kepala dan bahunya.

OLEH ANDY RIZA HIDAYAT

Pada saat yang sama, tangan kirinya menggendong bocah berusia dua tahun. Sementara tangan kanannya menulis alamat sang pemesan ayam. semua anggota tubuhnya aktif, bergerak serentak, harmonis bagaikan sedang menari.
     Peristiwa itu berlangsung saat Agnes masih kuliah di Departemen Teknik Elektro Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (kini Universitas Negeri Yogyakarta). "Ibu itu tangguh, selain bertanggung jawab pada urusan domestik rumah tangga, dia juga mampu menjalankan bisnis. Perempuan sekarang harus mampu lebih dari itu sebab tekologi informasi dan komunikasi sudah berkembang," katanya.
    Pada peristiwa yang terjadi di warung ayam goreng itu, kata Agnes, sang ibu menjalankan peran multitasking, meloncat melintasi kuadran ruang dan waktu dengan bantuan teknologi telekomunikasi telepon.
     Peristiwa itu menginspirasi hidupnya hingga di kemudian hari membuatnya yakin perempuan dapat menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Keyakinan ini mendorong Agnes memelopori pengenalan TIK pada perempuan di daerah.
     Dua dekade setelah peristiwa itu, TIK memasuki era konvergensi. Komunikasi bisa dilakukan di mana pun, melalui telepon seluler, video conference, share view, files, bahkan menyunting dokumen bersamaan.
     lalu apa yang bisa dilakukan kaum hawa kini? Seharusnya perempuan dapat melakukan lebih banyak hal karena TIK menawarkan beragam kemudahan. Sayangnya, digital gap masih terjadi seiring kemajuan TIK.
     "Di kota besar, seperti Jakarta dan sekitarnya, digital gap antara perempuan dan lelaki tak terlalu kelihatan. Namun, di daerah pedalaman dan pedesaan, digital gap sangat tajam," katanya.

Kaum marjinal

     Di banyak daerah, perempuan masih menjadi kaum marjinal dalam hal teknologi. Mereka tak punya akses luas untuk menguasai TIK. Kaum ibu terjebak urusan domestik, mengurus anak dan rumah. Padahal, kemampuan mereka menguasai TIK sama dengan laki-laki.
     Menurut Agnes, jika perempuan punya kemampuan menguasai TIK, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi mereka untuk produktif secara ekonomi. Mengingat jumlah perempuan di Indonesia lebih banyak dibandingkan lelaki, secara tak langsung peningkatan kemampuan perempuan dalam TIK pun dapat meningkatkan kesejahteraan nasional.
     Berangkat dari kenyataan itu, dia memperjuangkan kemampuan perempuan di daerah tertinggal. Bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perindungan Anak, Agnes memberikan pelatihan kepada mereka agar produktif.
    Pelatihan itu diawali lima tahun lalu dengan memperkenalkan internet, membuat blog, ataupun e-mail kepada pelaku usaha, pegawai negeri sipil, dan ibu rumah tangga. Ia meneruskan pelatihan dengan program digital marketing untuk pengusaha kecil. Kegiatan yang sudah berlangsung di 15 provinsi ini berdampak positif.
     "Bagi mereka, hal sederhana ini terasa luar biasa, sebab, teknologi informasi sering dipahami sebagai bukan wilayah perempuan. Jangankan warga pedalaman, pejabat pemerintah pun sering tak bisa membuat e-mail sendiri," katanya.
     Jadilah perempuan pelaku usaha di wilayah tertinggal dapat menjalin hubugan bisnis dengan orang yang berlokasi jauh dari mereka. Contohnya, petani organik di Sragen, Jawa Tengah. Sebelumnya, mereka kesulitan memasarkan produknya, tetapi kemudian mereka berhasil menjalin hubungan bisnis dengan orang Jepang.
     Contoh lainnya, nelayan di Pekalongan, Jawa Tengah. Dengan bantuan teknologi, biaya pemasaran bisa berkurang, produk mereka pun dapat dipasarkan secara global.
     Ia juga memimpin tim untuk pelatihan serupa bagi guru-guru di daerah. Ia juga menggelar kegiatan yang mendorong minat para mahasiswi menekuni TIK di fakultas teknik sejumlah perguruan tinggi di Pulau Jawa.
     Agnes bercerita, awal memperkenalkan perangkat keras TIK kepada kaum marjinal bukan hal mudah. Mereka enggan memegang komputer karena takut rusak. Ia mesti memberi pengertian, menggunakan komputer jauh lebih  mudah daripada buku tulis atau mesin ketik. Jika ada kesalahan, misalnya, pengguna TIK tak perlu repot mencari penghapus, tinggal delete atau tekan undo. Lewat pengertian yang sederhana pada awal pelatihan, membuat mereka percaya diri dan bersemangat menguasai TIK.

Dampak berlipat

     Ia mengibaratkan perempuan yang menguasai teknologi bagaikan penari dodakado, tarian rakyat Alor, Nusa Tenggara Timur. Tarian muda-mudi ini dilakukan sambil berlompatan di antara bambu yang dimainkan. Lompatan-lompatan mereka tak kalah gesit dibandingkan lompatan kaki para pemuda.
     Kepeloporan Agnes diakui organisasi profesi insinyur elektroteknik dunia atau Institute of Electrical and Electronic Engineers (IEEE). Atas upayanya mengenalkan TIK kepada perempuan marjinal, ia mendapat penghargaan Most Inspiring Engineer Award, Maret 2012.
     "Penghargaan ini bonus dari apa yang telah kami kerjakan lima tahun lalu. Saya tak pernah berpikir akan mendapatkan penghargaan ini," kata Agnes yang juga blogger kompasiana.
     Perjuangannya belum selesai. Dia ingin terus memperkenalkan TIK kepada perempuan di berbagai daerah. Alasannya, pemberdayaan kepada mereka memberi dampak berlipat. Selain bisa menyejahterakan keluarga, juga dapat menghambat arus urbanisasi orang ke kota besar.
    Jakarta,misalnya, didatangi banyak orang karena di Ibu Kota segalanya serba ada. Orang daerah menjadi malas tinggal di kampungnya sendiri sebab di daerah arus informasi berjalan lambat.
     Agnes berharap kaum perempuan tidak sekadar menerima pembagian gaji dari sang suami, tetapi juga mampu berkelakuan produktif guna menyokong kesejahteraan keluarga dengan bantuan TIK.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 5 JUNI 2012

Senin, 04 Juni 2012

Suyudi: Sekolah Alam di Tepi Bengawan Solo

SUYUDI
Lahir: Klaten, Jawa Tengah, 17 April 1965
Pendidikan:
- SDN Gondangsari 2, Klaten
- SMPN 1 Juwiring, Klaten
- SMAN1 Sukoharjo, Jawa Tengah 
- S-1 Jurusan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas 
  Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah 
Istri: Maryati
Anak: Surya Nur Indrawan

Terdengar suara tawa bocah-bocah mungil yang tangannya menggenggam potongan pepaya. Buah itu berasal dari kebun tempat mereka sehari-hari bermain. Buah itu menjadi "pencuci mulut" seusai mereka makan siang, selepas waktu sekolah. Begitulah suasana sehari-hari Sekolah Alam Bengawan Solo di Dusun Panjangan, Desa Gondangsari, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

OLEH SRI REJEKI

Tak ada kelas dengan bangunan permanen, yang ada hanya deretan saung berbahan bambu dan kayu, atapnya dari daun kelapa. Ini untuk menanamkan pemahaman kepada anak, belajar bisa dilakukan di mana saja. Ada 10 saung di lahan yang berlokasi di bantaran Sungai Bengawan Solo ini.
     Di antara saung itu dibuat kolam ikan terasering mengikuti kontur tanah bantaran yang menurun. Ada pula kebun yang ditanami pepaya, cabai, terung, singkong, tanaman hias, dan aneka tumbuhan lain, juga ayunan dari bambu dan kayu.
     "Membaca berita tentang korupsi yang merajalela, saya ngeri. Saya ingin mengubah bangsa ini, tetapi tidak bisa. Saya realistis saja, mencoba membangun sekolah alam dengan harapan menghasilkan generasi penerus yang mampu mengubah bangsa ini menjadi lebih baik," kata Suyudi, pendiri Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS).
     Dia membangun SABS sebagai pengembangan pendidikan anak usia dini (PAUD) Taruna Teladan yang dirintisnya sejak tahun 2005. Ada 16 siswa SABS di kelas 1 SD, sedangkan siswa PAUD mencapai 120 orang yang terbagi dalam kelompok bermain, taman kanak-kanak (TK) A dan TK B.
     Dibantu sembilan guru yang mengajar di PAUD dan tujuh orang yang mengajar di SABS, Suyudi mengolaborasikan idealismenya dan kurikulum pemerintah menjadi kurikulum akhlak, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan kewirausahaan. Ia juga menonjolkan muatan lokal, seperti pertanian dalam arti luas dan pertukangan.
     Desa Gondangsari berbatasan dengan sentra mebel Serenan, Klaten, dan Bulakan, Sukoharjo. Produksi mebel itu merambah mancanegara. Selain mebel, warga juga mengandalkan pertanian sebagai sumber penghasilan. Kepada siswa juga di diajarkan mengenal dunia pertanian dengan menanam dan memelihara tanaman, menyirami, memberi pupuk yang dibuat sendiri, serta memanen dan menyantap hasil panen.
     "Generasi muda kita tidak akrab dengan pertanian karena tak dikenalkan sejak kecil," katanya.
    Bagi Suyudi, bercocok tanam harus dilandasi keikhlasan agar mampu mengikis mental koruptif seseorang. "Mentalitas antikorupsi itu dasarnya keikhlasan," tegasnya.
    Untuk biaya operasional PAUD, Suyudi mencukupinya dari iuran pendidikan siswa Rp 80.000 per anak setiap bulan. Sedangkan biaya operasional SABS masih disubsidi kantong pribadinya meski siswa pun membayar Rp 100.000 per bulan, termasuk makan siang, makanan ringan, dan buletin sekolah.
     Pada dua tahun awal operasional PAUD, Suyudi mengaku harus menjual mobil guna menutupi biaya penyelenggaraan pendidikan yang saat itu digratiskan. "Kini setiap bulan subsidi saya Rp 2 juta-Rp 3 juta."
     Sebagai sumber pembiayaan, Suyudi memproduksi alat peraga edukatif (APE). Ia dibantu enam tukang dan tengah mengerjakan 400 set APE pesanan sebuah bank. APE akan dibagikan ke sekolah-sekolah sebagai wujud tanggung jawab sosial bank itu.
     Mampu membuat sendiri APE juga membuat PAUD dan SABS yang dikelola Suyudi tak perlu mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhan alat peraga. Bahkan, untuk bangunan SABS dan perpustakaan pun dikerjakan sendiri dibantu para tukang.

Masa bermain

     Bukan hal mudah memperkenalkan paradigma pendidikan yang dianutnya, seperti tugas guru adalah membimbing dan memfasilitasi siswa, bukan memaksa dan "menyeragamkan" mereka. Suyudi bercerita, orangtua siswa di PAUD dan SABS kerap mempertanyakan perkembangan anak mereka dalam membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Mereka merasa anaknya tak mampu calistung secepat siswa di sekolah formal.
     Di sisi lain, Suyudi dan para guru berpendapat, siswa pada usia PAUD, bahkan sampai kelas III SD, hendaknya tak dibebani materi pembelajaran yang berat, seperti calistung.
     "Ini masa anak bermain sepuasnya sehingga kami lebih menekankan aspek afektif dan psikomotor. Kami juga meniadakan tinggal kelas untuk siswa kelas I-III," ujarnya.
     Penilaian orangtua tentang metode belajar, hasil pendidikan, dan biaya sekolah dituangkan dalam rapor orangtua untuk sekolah. SABS menerapkan waktu sekolah hingga pukul 15.30. Seusai mengunyah materi formal sampai pukul 12.00, siswa diajarkan bercocok tanam, membuat pupuk, atau materi kewirausahaan. Setelah itu, siswa tidur siang. Alam dijadikan media belajar pembentukan karakter anak.
     "Pendidikan karakter itu kuncinya pembiasaan, jadi kita harus mempraktikkannya sehari-hari. Kita tak cukup hanya bicara materi di kelas," kata Suyudi.
     Meski berlokasi di bantaran sungai, fasilitas SABS dan PAUD relatif lengkap, mulai kolam renang sederhana, gazebo, mandi bola, hingga perlengkapan drumband, komputer, dan internet.
     Tak hanya  menggarap pendidikan siswa, tetapi ia juga ingin mengembangkan keterampilan dan pengetahuan orangtua lewat kegiatan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Taruna Teladan yang didirikannya tahun 2006. Beberapa kegiatan di PKBM adalah pelatihan pembuatan APE, batik kayu, kelompok belajar paket C, dan PAUD.
     Kolam ikan yang dibuat di tengah area SABS juga digunakan untuk memelihara ikan lele, nila merah, dan gurame. Suyudi berharap, adanya ikan di kolam itu mengubah kebiasaan warga menyebar racun di sungai untuk memperoleh ikan. Mereka bisa mengambil ikan di kolam.
     Sedangkan di daratan yang muncul saat musim kemarau ditanami sayuran. Warga diberi pelatihan cara beternak ikan dan menanam sayuran. Selain sebagai sarana belajar siswa dan pemberdayaan warga, keberadaan kolam ikan dan kebun sayur pun menambah penghasilan guru yang sebagian besar berijazah S-1.
     Meski berlatar belakang perajin mebel, Suyudi menyenangi dunia pendidikan. Hasrat dan semangat itulah yang membuat dia membuka sekolah ia bercerita, sebelumnya, selama tiga tahun, ia bekerja di perusahaan mebel milik orang asing. Dia lalu memutuskan mendirikan usaha mebel sendiri, dan produknya sempat diekspor ke Jerman. Belakangan, ia berusaha memenuhi kebutuhan pasar domestik dan APE.
     "Saya ingin menunjukkan, pendidikan itu tak harus menunggu bantuan pemerintah atau orang yang punya uang. PKBM juga bisa menyelenggarakan pendidikan jika diberi kesempatan, justru tujuannya tidak berorientasi keuntungan materi," kata Suyudi menegaskan.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 4 JUNI 2012