Jumat, 05 Juli 2013

Suno: Dari Tukang Sol Sepatu Menjadi Produsen

SUNO
Lahir: Mojokerto, Jawa Timur, 8 Februari 1955
Istri: Lilik (48)
Anak:
- Rudiyanto (33)
- Irawati (29)
- Ahmad Yusuf (27)
- Sugianto (23)
Pendidikan: Tidak tamat SD
Pencapaian: Pemilik usaha sandal Expo di Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto

Sejak masih jejaka, Suno (58), warga Desa Krang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sudah akrab dengan usaha persepatuan walau kala itu "sekadar" sebagai tukang sol sepatu. Kini, ia menjadi salah satu pelaku usaha kecil dan menengah dengan produksi sampai 70 kodi sandal per hari.

OLEH ABDUL LATHIF

Sebagai tukang sol sepatu, Suno yang memulaimembuka usaha sendiri pembuatan sandal dengan merek Expo, enam tahun silam, telah malang melintang dari satu tempat kerja pembuatan sepatu ke tempat pembuatan sepatu lain.
   "Awalnya saya bekerja menjadi tukang sol sepatu di Surabaya, tepatnya di Petemon, lalu pindah ke Rangkah, dan terakhir kerja di pabrik sepatu di Sukomanunggal," katanya.
   Suno adalah salah satu dari sekitar 1.300 pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di wilayah krja Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Cabang Mojokerto yang menjadi nasabah sekaligus binaan bank ini.
   Sejak tahun 2010 Suno mendapat kucuran kredit Rp 30 juta untuk tambahan modal sekaligus pengembangan usahanya. Setahun berikutnya, Suno kembali mendapat kucuran kredit Rp 60 juta. Pada 2012, dia mendapat kredit lagi sebesar Rp 98 juta.
   "Sebelum kucuran kredit dari BTPN sampai tiga kali, modal awal untuk membuka usaha sandal ini saya pinjam dari koperasi sebesar Rp 10 juta," kata Suno.
   Setelah menjadi binaan BTPN dan mendapat pelatihan, khususnya menyangkut manajemen keuangan dalam pengelolaan usaha kecil, usaha sandal Suno berkembang cepat.

Rugi

   Suno bercerita, awal memulai usaha, dia sering menyerahkan pengerjaan pembuatan sandal kepada orang lain. "Istilahnya, saya men-sub-kan pesanan ini kepada perajin sandal lain," ujarnya.
   Namun, hasilnya justru tak menguntungkan, bahkan Suno menelan kerugian. "Saya sempat tak mengerjakan sendiri pesanan sandal itu. Hasilnya dalam dua bulan saya rugi sekitar Rp 3,5 juta."
   Pengalaman pahit itulah yang memaksa Suno mengerjakan sendiri produk sandal Expo miliknya. Seiring berjalannya waktu, usahanya tumbuhdan berkembang. Pesanan dari pedagang grosir di Pasar Turi, Surabaya, misalnya, terus meningkat.
   "Sekarang saya sudah bisa membayar orang. Di sini ada tujuh karyawan dari tukang sol, tukang kap, dan seorang sekretaris," kata Suno.
   Dibantu anaknya yang masih lajang, Sugianto, untuk memasarkan produknya, Suno bangga bisa memberikan lapangan pekerjaan kepada orang lain.
   "Rata-rata setiap hari usaha saya ini bisa memproduksi 30 sampai 50 kodi sandal. Kalau pesanan sedang ramai, dalam sehari bisa mencapai 70 kodi. Kalau sudah begini, saya juga menyerahkan pengerjaan pembuatan sandal kepada enam tukang sol, tukang kap, dan tukang katokan di rumah. Mereka mengerjakan pesanan itu di rumah masing-masing, saya mengontrol hasilnya," kata Suno.

Pedagang grosir

  Sekarang, usaha skala kecil yang digeluti Suno dengan produk sandal untuk dewasa dan anak-anak serta sandal perempuan ini tak hanya dipasarkan di Surabaya dan sekitarnya, tetapi juga sudha sampai ke Tulungagung, Jawa Timur, hingga Solo, Jawa Tengah.
   "Selain melayani pedagang bedak (eceran di pasar atau kaki lima), saya juga mendapat pesanan dari para pedagang grosir," kata Suno.
   Seminggu sekali ditemani Sugianto, salah satu anaknya, dengan mobil boks, Suno membawa ribuan pasang sandal menyusuri jalur tengah antara Jawa Timur dan Jawa Tengah.
   Sebagai mitra usaha kecil dan menengah, BTPN Mojokerto telah menyalurkan kredit usaha kecil dan menengah sejak tahun 2009 hingga 2012. Kredit yang disalurkan itu mencapai lebih dari Rp 110 miliar.
   "Ada 30 sampai 40 debitor UKM sepatu dan sandal yang menerima kucuran kredit kami, salah satunya yang berhasil, ya, usaha sandal milik Suno," kata Mashudi, Area Daya Spesialis BTPN Cabang Mojokerto.
   Suno mengakui, sebelum mendapat pelatihan manajemen keuangan dari BTPN, usahanya sekadar berjalan saja. Suno yang tak sempat menamatkan sekolah dasar (SD) itu sama sekali tak mempunyai pengetahuan soal pengelolaan keuangan usaha.
   "Dulu, manajemennya campur aduk tidak karuan, tetapi sekarang pembukuan usaha ini sudah mulai rapi," kata Suno.

Ketangguhan

   Usaha sandal yang digeluti Suno adalah potret ketangguhan lapisan wong cilik yang berhasil dalam mengembangkan usaha. Walau dalam skala kecil, dia bisa memberikan sumber penghasilan dan penghidupan bagi orang lain.
   "Saya masih punya impian untuk memiliki atau setidaknya membuka toko sandal dan sepatu di Pasar Klewer, Solo. Di toko itu tidak hanya menjual hasil produksi saya, tetapi juga hasil produksi perajin lain," tutur Suno tentang harapannya.
   "Keinginan saya ke depan menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja untuk orang-orang kecil dan susah," katanya.
   Soal keuntungan dari hasil usahanya itu, Suno mengaku masih sangat bergantung pada permintaan pasar, selain kelancaran pembayaran dari grosir ataupun pedagang bedak. "Setidaknya dalam setahun saya masih bisa menikmati keuntungan bersih sekitar Rp 20 juta untuk ditabung. Itu kalau semuanya berjalan lancar. Namun, sering pembayarannya molor, bahkan ada yang bayar 50 persen di muka, sisanya baru dibayar satu-dua bulan," tuturnya.
   Suno, sang juragan sandal yang lahir di tanah Majapahit itu, kini bisa bernapas lega walau setiap hari harus berpikir keras untuk menjaga agar usahanya tetap berdenyut dalam situasi politik dan ekonomi yang kurang memihak kepada wong cilik ini.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 5 JUNI 2013

Mesak Keluanan : Pupuk Organik untuk Petani NTT

MESAK KELUANAN
Lahir: Rote, Nusa Tenggara Timur, 19 Februari 1957
Istri: Mety Mesak Keluanan
Anak:
- Heny (34)
- Delfi (32)
- Lidya (30)
- Amran (23)
- Novi (20)
- Asty (15)
Pendidikan: Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Surabaya
Pencapaian: Pemilik dan Pemimpin Lembaga Pertanian Sehat Agrolestari Kupang, Nusa Tenggara Timur

Sekitar dua juta hektar lahan yang kekeringan di Nusa Tenggara Timur antara lain berdampak pada gagal panen. Upaya petani dengan membeli pupuk kimia dan memperluas lahan pun sulit mendapatkan hasil maksimal. Tantangan alam itu mendorong Mesak Keluanan berusaha menemukan jalan keluar dengan pupuk organik.

OLEH KORNELIS KEWA AMA

Pupuk organik yang dia beri nama Bio-Pem itu sudah digunakan ribuan petani di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pupuk tersebut telah beredar di 21 kabupaten atau kota di wilayah NTT. Sekitar 2.750 dari total 8.700 kelompok tani yang ada di NTT telah memanfaatkan pupuk itu.
   Petani begitu antusias karena berbagai jenis pupuk kimia dan obat kimia pembasmi hama yang mereka gunakan selama ini justru tak memberikan hasil optimal.
   Ditemui di Kupang, Mesak Keluanan bercerita, pada tahun 2007, dia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan pembuatan pupukorganik di Yogyakarta sesuai dengan karakter tanah dan iklim daerah tersebut. Dia kemudian memperdalam pengetahuan yang diperolehnya itu melalui internet.
   Setelah melalui berbagai percobaan, dia menemukan pupuk yang bersumber dari berbagai tumbuh-tumbuhan. Pupuk tersebut ternyata sangat efektif untuk membasmi hama dan menyuburkan tanaman.Pupuk itu dia beri nama Bio-Pem, yang berasal dari kata "bio" (artinya tumbuhan) dan "pem" yang merupakan kepanjangan dari pupuk efektif mikroorganisme.
   Bio-Pem berguna sebagai pupuk hayati untuk memperbaiki kondisi tanah, penyubur tanah ddan tanaman. Pupuk tersebut mampu mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan penyerapan unsur hara dalam tanah.
   Pupuk ini dibuat Mesak dengan teknologi agriculture growth promoting inoculants, yakni suatu inokulum campuran berbentuk cair, mengandung hormon tumbuhan organik serta mikroba indigenos (mikroba tanah asli NTT) yang sangat dibutuhkan dalam penyuburan tanah secara  biologis. Fungsinya untuk meningkatkan produktivitas tanaman, memberikan nutrisi bagi tanaman, dan menekan serangan hama. Konsep yang dikembangkan adalah memberi makan tanah sekaligus tanaman.
   Sebagai bioaktivator, pupuk itu meningkatkan ketersediaan unsur hara dan kelarutan deposit dalam tanah sehingga mengurangi penggunaan pupuk NPK dan berguna untuk rekondisi fungsi ekosistem tanah. Pupuk juga menjadi agen pengendali hayati, zat perangsang tumbuh, juga sebagai bakteri pengurai dalam septic tank.

Uji coba

   Hampir 50 persen lahan di NTT berbahan organik di bawah 5 persen, padahal kandungan bahan organik yang baik harus di atas 10 persen.
   Kondisi itu membuat tanah tak subur, meski sudah puluhan tahun diolah, tetapi tanpa pemberian mikroba di dalam tanah.
   "Saya melakukan uji coba bersama staf dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT di laboratorium milik mereka. Pupuk ini meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan organisme tanah yang menguntungkan tanaman, yakni bakteri pengurai, penambat N, pupuk fosfat, dan penghasil hormon," kata Mesak.
   Bahan dasar pupuk tersebut, antara lain, berupa bakteri asam laktat, bakteri fotosintesis, dan bakteri acetobacter. Pupuk ini pun telah disahkan Kementerian Pertanian pada 31 Januari 2011.
   Menurut Mesak, pupuk tersebut cocok untuk pertanian lahan kering seperti pada kondisi tanah di NTT.
   Sifat pupuk itu mampu menembus kedalaman tanah mengikuti alur akar tanaman sambil memberikan kemampuan akar untuk menyerap lebih banyak unsur hara di dalam tanah.
   Pupuk ini mulai diperkenalkan kepada petani tahun 2009. Kini, 50.000-100.000 hektar lahan kering telah dikelola dengan menggunakan pupuk tersebut, baik untuk penyubur tanaman maupun pembasmi hama. Total lahan kering di NTT mencapai 2 juta hektar, sedangkan lahan basah sekitar 800.000 hektar.
   "Saya masih kesulitan mendapatkan wadah untuk pupuk 1-4 liter. Untuk pupuk 5 liter ada jeriken sebagai tempatnya, ini pun tak mudah mendapatkannya," ucapnya.
   Mesak mencoba memesan kemasan dari Surabaya, tetapi harga wadah itu relatif mahal. Untuk ukuran 1 liter, misalnya, harganya Rp 8.000, belum termasuk biaya pengiriman. Jika harga jeriken dibebankan kepada petani, harga jual pupuk menjadi Rp 40.000 per kemasan. "Terlalu mahal untuk petani, saya batal memesan kemasan itu,"ujarnya.
   Ia lalu memakai jeriken atau kaleng bekas untuk pupuk setelah disterilkan terlebih dahulu. Akan tetapi, wadah ini pun jumlahnya terbatas. Selain itu, ia juga harus membayar tenaga khusus sebagai pengumpul kemasan bekas tersebut.

Mengusir hama

   Permintaan pupuk itu 40.000-45.000 liter per tahun. Sebagian besar pesanan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT untuk kelompok tani dan binaan unit pengelolaan tenis Dinas Pertanian dan Perkebunan. Setiap kelompok memerlukan 100-1.000 liter pupuk per musim tanam.
   Untuk 1 hektar lahan diperlukan 10-15 liter pupuk. Untuk memenuhinya, pupuk sebanyak satu gelas kemasan air mineral (200 mililiter) dicampur dengan 10 liter air, lalu disemprotkan pada tanaman guna mengusir hama. Untuk menyuburkan tanaman, pupuk yang sudah dicampur dengan air disiramkan ke lubang dengan kedalaman 4 sentimeter mengelilingi batang pohon.
   Pencegahan hama dilakukan dengan menyemprotkan pupuk ke daun saat tanaman berusia sekitar dua pekan atau menjelang berbuah. Jika hama penggerek sudah merusak daun, untuk mengendalikannya dilakukan dengan penyemprotan setiap pekan pada hari yang sama.
   Sebelum menggunakan pupuk, produksi jagung petani hanya sekitar 500 kilogram per hektar. Dengan pupuk tersebut, petani bisa menghasilkan 1,2 ton jagung pipilan.
   Untuk memperlancar produksi, Mesak dibantu 10 karyawan. Mereka sekaligus membantu mengirimkan pupuk tersebut ke Flores, Sumba, Timor Barat, Rote, dan Alor.
   "Kami ingin semakin banyak pupuk organik yang bisa digunakan petani agar mereka tidak lagi menggunakan pupuk kimia. Pupuk kimia harganya mahal, juga bisa membahayakan kesehatan konsumen dan tak baik untuk 'kesehatan' tanah kami," katanya.
   Pupuk Bio-Pem relatif ramah lingkungan. Jika orang terpercik pupuk tersebut, termasuk pada anak-anak, hal itu tak membahayakan kesehatan. Bahkan, pupuk jenis ini bisa dimanfaatkan untuk campuran minuman sapi atau jenis ternak besar.
   Mesak yang juga pendiri Lembaga Pertanian Sehat  Agrolestari mengatakan, permintaan pupuk jenis ini relatif tinggi. Ini, antara lain, karena pupuk tersebut mampu mendorong akar menerobos batu karang, kerikil, dan tanah tandus.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 2 JULI 2013

Senin, 17 Juni 2013

Bambang Haryono: Memuliakan Pohon Asam

BAMBANG HARYONO
Lahir: Surabaya, 19 Mei 1967
Pendidikan:
- SMA Katolik Hikmah Mandala Banyuwangi (tamat 1987)
- Universitas 17 Agustus (tamat 1991)
Istri: Ni Made Uttari Dwijawati (44)
Anak:
- Afriska Sari Khorina (24)
- Irena Yoga Bergosa (21)
- Andreas Gio Arghanta (7)
- Orva Rena Felesia (4)
Aktivitas:
- Membina UKM dan mengikuti pameran kerajinan di dalam dan luar negeri
Penghargaan:
- Tahun 2007-2010, dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
  dianggap berjasa merintis lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan
- Tahun 2008-2010, Smesco Award dari Kementerian Koperasi dan UKM
- Tahun 2011-2012, Prabaswara Award dari Kementerian Koperasi dan UKM
- Tahun 2012, Award of Excellence for Handicrafts dari UNESCO atas 
  inovasinya mengembangkan usaha berbasis lokalitas

Ditangan Bambang Haryono (40), batang pohon asam ("Tamarindus indica") bernilai ekonomi. Berkat kretivitasnya, batang pohon asam tak lagi teronggok sekadar sebagai kayu bakar. Sejumlah produk kerajinan berupa perabot dan aksesori rumah tangga dihasikan dari batang pohon ini.

OLEH NASRULLAH NARA

Kini, hasil karyanya berupa perabotan serta dekorasi, seperti cangkir, gelas, piring, mangkuk, baki, tatatkan buah, dan serbet di atas meja makan berupa pot bunga, telah menembus pasarmancanegara. Dua-tiga tahun terakhir, permintaan dari negara-negara Timur Tengah terus mengalir. Belakangan ia sibuk juga melayani pesanan dari Eropa dan tengah menjajal Amerika.
   Di bawah bendera usaha Oesing Craft yang berbasis di Banyuwangi, Jawa Timur, Bambang giat memamerkan produknya di luar negeri, seperti di Kuala Lumpur (Malaysia), Singapura, dan Dubai (Uni Emirat Arab). Akhir Februari-Maret lalu, ia bersama sekitar 200 pengusaha Indonesia mengikuti pameran dagang di Basel, Swiss.
   "Biaya ikut pameran di luar negeri bisa sampai Rp 100 juta, tetapi itu saya anggap sebagai investasi sekaligus upaya mempromosikan produk unggulan kita di kancah internasional," ujar Bambang kepada Kompas di arena pameran dagang Basel, Swiss, beberapa waktu lalu.
   Terakhir, pada pameran kerajinan terbesar di Indonesia, International Handicraft Trade Fair (Inacraft) di JCC Senayan, Jakarta, akhir April lalu, pria yang murah senyum ini didaulat menjadi koordinator kontingen Jawa Timur, khususnya untuk usaha kecil menengah (UKM).
   Tentu bukan tanpa alasan jika Pemerintah Provinsi Jatim menjadikan Bambang sebagai ikon usaha kecil-menengah di daerahnya. Selain sudah teruji sebagai pengusaha yang ulet dan tangguh, Bambang juga dikenal lihai membuat produk khas.
   Ayah dari empat anak ini konsisten menekuni usaha kerajinan tangan dari batang pohon asam (Tamarindus indica). Ia tertarik dengan kulit dan struktur batang pohon asam yang berlekuk-lekuk indah.

Budidaya pohon asam

   Untuk kesinambungan ketersediaan bahan baku, pohon asam yang selama ini tumbuh liar di pesisir jatim coba dibudidayakan oleh bambang bersama warga sekitar. Pohon yang ditebang berusia 7-10 tahun dengan diameter 30-40 sentimeter.
   "Jadi, jangan menganggap saya suka menebang pohon asam di tepi jalan, lho. Bahan bakunya hasil dari budidaya," ujarnya.
   Bambang juga punya "alibi" mengapa batang pohon  di sisi jalan tidak diliriknya sebagai bahan baku. Entah karena faktor polusi asap kendaraan atau faktor lain, umumnya pohon asam di tepi jalan berongga dan rapuh sehingga tidak cocok dijadikan bahan baku kerajinan.
   Mempekerjakan sekitar 100 orang, Bambang juga merambah usaha kuliner melalui bendera Pelangi Sari. Usaha ini berupa pusat oleh-oleh khas Banyuwangi yang memasarkan produk kerajinan dan kuliner Banyuwangi.
   Di atas lahan 3.050 meter persegi di Rest Area Kilometer 7 Jalan Raya Jember-Dadap, Banyuwangi, ia juga mendirikan Istana Gandrung. Pusat gerai ini juga memasarkan beragam jenis hasil kerajinan dan kuliner khas Banyuwangi dan sekitarnya.
   Sohor sebagai usahawan yang ulet membuat dia diminta untuk membina 250 mitra UKM di sejumlah kabupaten/kota lain di Jatim, seperti Jember, Probolinggo, Malang, Batu, Pasuruan, dan Lumajang. Bahkan, Bambang turut membina UKM di Bali dan Kalimantan Selatan.
   Jika setiap UKM mitranya rata-rata mempekerjakan 5-10 orang, sudah lebih dari 2.000 pekerja ia bina. Sebagian waktu ia luangkan pula untuk membimbing penghuni Lembaga Pemasyarakatan Banyuwangi.
   Sukses yang diraihnya tentu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Pada awal merintis usaha, dia sempat mengalami kesulitan permodalan, seperti yang lazim dihadapi pengusaha pemula. Kala merintis usaha tahun 1990-an, tidak semua bank memandang optimis pada usaha kerajinan. Permohonan kredit Rp 10 juta yang diajukan ke sebuah bank tidak diluluskan.
   Kini, setelah usahanya berkibar, giliran bank yang menawarinya kredit. Sejumlah bank bahkan siap memberikan pinjaman sampai Rp 1 miliar.

Masa pahit

   Kepeduliannya membina mitra UKM tak lepas dari masa-masa pahit yang menempanya sejak masa kanak-kanak. sang ayah (Soedarsono) meninggal sejak dia masih anak balita. Bambang diasuh dan dibesarkan oleh sang bunda, Dewi Kartika (82). Untuk membiayai sekolahnya, Bambang harus berkeliling menjual es dan manisan mangga.
   Manisan mangga kemudian menginspirasi dirinya merintis usaha kuliner berbahan lokal. Waktu itu, setamat SMA tahun 1988, dia memutar modal Rp 10.000 dengan membeli mangga muda, gula, dan plastik. Manisan mangganya dijual ke warung-warung kecil, termasuk di kantin sekolah SD, SMP, dan SMA. "Pagi dikirim, siang sudah bisa diambil uangnya," kenang Bambang.
   Setahun kemudian, ia mengembangkan usaha itu dengan membuat minuman temulawak dan sari buah. Sebagian hasil usaha itu digunakan untuk membiayai kuliah.
   Atas kreativitas dan keuletannya, sederet penghargaan skala nasional dan internasional ia raih. "Saya hanya terpanggil memberikan nilai tambah pada alam ciptaan Tuhan sembari memberdayakan sesama. Rupanya Tuhan punya rencana indah," ujarnya. Berbicara soal usaha kerajinan di Jatim, sepertinya tidak lengkap jika tak menyebut nama Bambang Haryono.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 13 MEI 2013

Jumat, 24 Mei 2013

Sapto Sopawiro: Dalang Semata Wayang Suriname

SAPTO SOPAWIRO 
Lahir: Kampung Jumal, Distrik Saramacca, Suriname, 15 Juli 1940
Istri: Wagirah
Anak:
- Edi Sukarman
- Hartini Judy
- Haryati Jenny
Pekerjaan:
- Dalang wayang kulit
- Dosen Sejarah di Universitas Suriname

... Please release me, let me go. For I don't love you anymore. To waste our lives would be a sin. Release me, and let me love again....

Lirik lagu "Please Release Me" yang dipopulerkan penyanyi asal Inggris, Engelbert Humperdinck, itu mengalun lewat suara Sapto Sopawiro (73). Dia adalah dalang kelahiran Kampung Jumal, Distrik Saramacca, Suriname, 15 Juli 1940.

OLEH ALOYSIUS B KURNIAWAN

 Bagi Sapto, menyanyikan lagu pop bukan hal tabu bagi seorang dalang. Sebab, di Suriname yang sangat plural itu, dia harus mampu membawakan cerita pewayangan dengan berbagai sudut pendekatan.
   Sapto memang baru terjun total di dunia pedalangan lima tahun terakhir. Meski demikian, sejak kecil dia sudah akrab dengan pewayangan karena ayahnya, almarhum Ponco Sadeyo, adalah seorang dalang.
   Dulu waktu masih kecil Sapto selalu ikut ayahnya mendalang di mana-mana. Kalau sudah mengantuk, biasanya Sapto tidur di samping kotak wayang.
   Sapto adalah generasi kedua keturunan Jawa yang dikirim pemerintah kolonial Belanda ke Suriname pada periode 1890-1939 sebagai buruh perkebunan. Meski hidup di daerah dan negara baru, mereka tetap memelihara tradisi dan seni budaya Jawa.
   Ayahnya, Ponco Sadeyo, adalah dalang asal Sleman yang diangkut Pemerintah Belanda menggunakan sebuah kapal bernama Jember ke Suriname. Sementara itu ibunya, Jumiyem, adalah warga Solo yang juga menggunakan kapal yang sama.
   Bersama ribuan orang, mereka dibawa ke Suriname dalam perjalanan selama lima bulan melalui jalur laut. Selang dua tahun kemudian, Ponco dan Jumiyem menikah pada tahun 1932 di Suriname. Mereka pun hidup sebagai buruh di perkebunan buah-buahan,kopi, tebu, dan kakao di tempat baru itu.
   Dari pasangan asal Pulau Jawa inilah lahir Sapto Sopawiro, bayi laki-laki kelahiran Suriname, yang pada kemudian hari mewarisi keterampilan ayahnya mendalang.
   Sebelum aktif di dunia pewayangan, Sapto bekerja pada sebuah perusahaan kapal dan perusahaan tambang.

Akrab dengan wayang

   Sejak pensiun sebagai karyawan mekanik pada sebuah perusahaan tambang di Suriname tahun 2000, Sapto mulai menekuni kembali seni wayang dan pedalangan. Pada 2000 dan 2005, ia menyempatkan diri belajar mendalang kepada Parjoyo, dalang asal Magelang yang singgah di Suriname selama beberapa bulan.
   sejak tahun 2008, Sapto, bapak tiga anak ini, akhirnya total mendalang. "Beberapa waktu lalu di Suriname masih ada empat dalang selain saya, yaitu Pak Mintokaryo, Sukiban, Suliyo, dan Giman," ujarnya.
   "Akan tetapi, mereka kemudian meninggal dan sekarang tinggal tersisa saya, satu-satunya dalang di Suriname," tutur Sapto dalam bahasa Jawa ngoko menambahkan.
   Situasi inilah yang memunculkan kegelisahan dalam benaknya. Ia tidak ingin Suriname yang dihuni sekitar 40.000 warga keturunan Jawa itu harus kepaten atau kehilangan dalang. Apalagi, anak-anak muda di Suriname belakangan ini cenderung enggan belajar mendalang.
   Oleh karena itulah, Sapto menyempatkan diri mudik ke kampung halamannya di Beran, Sleman, DI Yogyakarta, Sapto berharap bisa menimba sebanyak-banyaknya semangat seni serta motivasi untuk menumbuhkan kembali seni pewayangan di Suriname.
   Kegelisahan ini pernah diungkapkan Sapto kepada Kepala Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudhaningrat saat dia berkunjung ke Yogyakarta.
   Dalam pembicaraan itu muncul dua opsi, yaitu mengirim dalang dari Yogyakarta untuk memberikan semacam kursus di Suriname. Kemungkinan kedua, Pemerintah Suriname mengirim calon-calon dalang ke Yogyakarta untuk menjalani kursus pedalangan.
   "Kesimpulan pasti dari pembicaraan tersebut belum ada, tetapi minimal sudah ada jembatan untuk mengatasi persoalan regenerasi dalang di Suriname," papar Sapto.

Modifikasi

   Meski minim dalang, antusiasme masyarakat Suriname terhadap seni wayang sangat besar. Setiap pementasan wayang disaksikan setidaknya 400-500 penonton. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan penonton wayang di beberapa tempat di indonesia.
   Adapun penikmat wayang di Suriname tidak hanya warga keturunan Jawa, tetapi juga sejumlah etnis lain, seperti Tionghoa, India, inggris, Belanda, dan mereka yang berasal dari Afrika.
   Agar mudah diterima berbagai kalangan masyarakat Suriname, sapto pun memodifikasi penampilannya dengan lagu-lagu di sela-sela kisah pewayangan. Ia juga menggunakan sejumlah bahasa, mulai bahasa Inggris, Hindustan, Jawa, hingga Sranan Tongo, bahasa khas Suriname setelah Belanda.
   Meski ada modifikasi, dia tetap mempertahankan cerita pewayangan baku pada pementasan. Seperti dalang pada umunya, bagian babak pewayangan di mana dia bisa bebas berekspresi dan melakukan modifikasi adalah pada segmen goro-goro.
   Seperti kebiasaan masyarakat Jawa pentas wayang kulit rutin pada upacara adat, mulai dari tujuh bulanan dan kelahiran bayi, pernikahan, sunatan, ulang tahun, sampai bersih desa. September mendatang, Sapto tampil sebulan penuh berkeliling Suriname untuk merayakan tradisi bersih desa.
   Tak hanya mendalang, Sapto juga aktif memotivasi kaum muda keturunan Jawa di Suriname agar tak melupakan budaya dan tradisi Jawa.
Pesan-pesan budaya itu dia sampaikan dalam acara khusus di stasiun televisi lokal Suriname, Mustika, dalam rubrik Gumelaring Jagat.
   Haus akan khazanah budaya Jawa, tahun 2000 Sapto menelusuri naskah kuno Jawa di perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) di Belanda. Selama dua minggu dia mempelajari manuskrip kuno Jawa yang ditulis dalam huruf Jawa. Pada masa penjajahan, naskah itu diangkut dari Indonesia ke Belanda.
   "Saya tak bosan belajar dan memberi ajaran adat istiadat Jawa kepada siapa pun. Jika tak ada lagi yang melestarikan, kami yang berada di tanah perantauan akan lupa asal-usul dan adat istiadat leluhur," ungkap Sapto yang tinggal di Boxel Paraweg 15, Distrik Wanica, Suriname, ini.
   Selain berusaha menarik minat kaum muda pada dunia pedalangan, Sapto juga berharap dirinya bukanlah dalang terakhir di Suriname.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 24 MEI 2013

Jumat, 12 April 2013

Dewi Kusmianti dan Tonton Paryono: Hidup Sejahtera bersama Sampah

TONTON PARYONO
Lahir: Bandung, 31 Juli 1973
Pendidikan:
- SD Gumuruh 2, Bandung, lulus 1989
- SMP Muslimin 2 Bandung, 1992

DEWI KUSMIANTI
Lahir: Bandung, 20 Juni 1975
Pendidikan:
- SD Bandung Raya, 1988
- SMP Pasundan 7 Bandung, 1991
- SMA Muslimin 1 Pagi Bandung, 1994
Anak:
- Ayu Dwi Yanti (17)
- Muhammad Yusuf Mauliawan (14)
- Tri Septiani (11)
Penghargaan:
- Pengelola sampah Konsep 3 R Hari Lingkungan Sedunia Kota Bandung untuk 
  My Darling, 2011
- Penghargaan Msyarakat Peduli Lingkungan 2012
- Tokoh Dewi Sartika sebagai Ibu Teladan Lingkungan 2012 Jabar
- Pikiran Rakyat Award Kategori Lingkungan, 2013

Suatu hari delapan tahun lalu, corat-coret sisa rapat tentang pemilahan sampah di papan tulis di lembaga swadaya masyarakat Studi Mitra Lingkungan membuat Dewi Kusmianti (38) penasaran. Sebelum dihapus, ia membacanya sampai tuntas. Beberapa inti tulisan dicatatnya.

OLEH CORNELIUS HELMY

Pikiran Dewi lantas melayang pada keluhan suaminya, Tonton Paryono (40). Pengangkut sampah di RW 011 Kelurahan Cibangkong, Kota Bandung, itu kewalahan mengelola timbunan sampah seorang diri.
   "Sampah plastik dipilah dan dibuat kerajinan tangan. Selain meringankan beban suami, juga bisa memberi keuntungan ekonomi," pikir Dewi yang kala itu bekerja sebagai petugas kebersihan di Studi Mitra Lingkungan.
   Setelah dibicarakan dengan suaminya, konsep itu mulai mereka kerjakan pada April 2005. Saat itu, di tempat pembuangan sampah (TPS), timbunan sampah mencapai 4 meter. Sampah berasal dari sekitar 9.000 warga RW 011 yang tak pernah diangkut sejak tahun 1996.
   Selain memilah plastik di TPS RW 011, mereka juga membeli langsung dari warga. Modal untuk itu disisihkan dari penghasilan keduanya sekitar Rp 600.000 per bulan. Sampah anorganik dibeli Rp 400 per kilogram dan sampah plastik bermotif Rp 50-Rp 100 per lembar. Pembayaran dilakukan saat tagihan mencapai Rp 50.000 per orang.
   Cara itu membuahkan hasil manis. Kemampuannya menganyam dari bahan bungkus plastik bekas memberikan penghasilan tambahan. Dalam sebulan Dewi bisa menjual 30 dompet atau tas kecil Rp 5.000-Rp 10.000 per buah. Kerja suaminya sebagai pengangkut sampah juga lebih ringan karena volume sampah berkurang hingga 40 persen setiap hari.
   Peluang ekonomi itu juga dilirik oleh 12 ibu tetangganya di RW 011. Tahun 2009, mereka lantas bergabung dan menamakan diri Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling) untuk memudahkan pembelian sampah dan pemasaran hasil kerajinan.
   "Kelompok My darling terus berkembang. Saat pertama berdiri, keuntungannya hanya Rp 800.000 per 12 orang per tahun. Sekarang setiap anggota bisa untung Rp 500.000 per tahun," ujar Dewi.
   Tak lama kemudian My Darling mendaftar menjadi peserta program Bandung Clean and Green yang digagas Pemerintah Kota Bandung pada 2010. Awalnya hanya ingin memperkenalkan diri, tak disangka konsep My Darling dinobatkan menjadi 15 peserta terbaik.
   Sukses itu membuat Yayasan Sumbangsih Nuansa Indonesia kepincut. Dana bantuan Rp 15 juta digelontorkan untuk memilah sampah. Namun, karena minim pengalaman, uang itu hanya digunakan untuk mengangkut sampah dari TPS.
   Oleh karena tak ada mobil khusus pengangkut sampah, Dewi dan Tonton harus mengeluarkan Rp 450.000 sekali angkut. Sampah masih menggunung, sedangkan uang bantuan ludes dalam enam bulan.
   "Saya banyak belajar. Banyak uang tanpa program yang benar tidak akan menghasilkan apa-apa," katanya.
   Kesempatan kedua datang. Beragam tawaran bantuan mengalir kembali untuk mereka. Tak ingin mengulang kesalahan, anggota My Darling kali ini menolak uang tunai. Mereka meminta bantuan ilmu teknologi dan alat pendukungnya.
   "Sikap itu mendapat apresiasi pemerintah dan kalangan swasta. Kami diberi ilmu pembuatan kompos, energi sampah, hingga mengurangi residu sampah bersama alat pendukung. Total mungkin Rp 100 juta. Tumpukan sampah setinggi 3 meter itu diangkut gratis," kata Dewi yang juga menjadi tukang ojek.

Berbagi

   Bumi seperti runtuh saat Dewi dan Tonton dipecat dari perusahaan konfeksi tahun 2003. Padahal, saat itu mereka butuh biaya besar untuk pengobatan tiga  anaknya. Anak sulungnya sakit diabetes, anak kedua menderita autis, dan si bungsu digerogoti radang otak.
   "Istri saya mengamen di lampu merah. Lamaran kerja yang saya ajukan tidak ada yang mau terima. Bahkan, untuk kontrak rumah saja saya tidak mampu. Kami sering tidur di jalan," kata tonton mengenang.
   Titik balik terjadi saat orang tak dikenal membayar biaya perawatan rumah sakit untuk anak Dewi sebesar Rp 1 juta. Dermawan itu hanya mengatakan, saling membantu adalah kewajiban semua makhluk Tuhan.
   "Saya lantas berpikir, kalau selama ini hanya meminta, suatu saat saya harus bisa memberi. Sampah ternyata jalan yang diberikan Tuhan agar saya bisa berbagi. Tak lama kemudian kami bekerja sebagai petugas kebersihan dan pengangkut sampah," ujar Tonton.

Teladan

   Sukses bersama My Darling tak membuat Dewi dan Tonton berpuas diri. Mereka yakin, semangat ibu-ibu di RW 011 masih bisa dikembangkan.
   Lewat perkenalan dengan beberapa orang dari berbagai disiplin ilmu, Dewi menggagas sekolah ibu pada 2011.
   Sekolah ini menjadi rumah pelatihan bagi ibu-ibu RW 011 mengelola keuangan, penataan lingkungan, pola hidup sehat, dan pelatihan usaha.
   "Gurunya pakar lingkungan, dokter, hingga analis keuangan. Mereka mau datang tanpa dibayar dan membagi ilmu dengan 12 murid sekolah ibu," ujar Dewi.
   Harapan mereka tak bertepuk sebelah tangan. Semangat ibu-ibu RW 011 membuat keberadaan sekolah ibu menjadi berarti. Tak sedikit ibu-ibu itu mulai membuka usaha pembuatan bakso sehat, penjualan baju, hingga tahu pentingnya hidup sehat dan higienis.
   "Dari sebelumnya menganggur, mereka punya kegiatan positif yang menghasilkan uang untuk keluarga," ujarnya.
   Keringat dan air mata Dewi dan Tonton perlahan menjadi teladan. Kini, ada empat kawasan di Kota Bandung yang sudah menerapkan konsep bank sampah. Ada pula kelompok masyarakat di Kepulauan Riau, Bali, dan Kalimantan Tengah yang juga tertarik mengembangkan hal serupa.
   Puluhan skripsi dan tesis mahasiswa berbagai perguruan tinggi juga lahir dari sampah. Mahasiswa menilai konsep My Darling dan sekolah ibu itu sebagai kemandirian yang menyelamatkan Bandung dari lautan sampah.
   Tak jarang mahasiswa pun menginap di rumah kontrakan Dewi dan Tonton yang berjarak sekitar 200 meter dari TPS selama mereka menyelesaikan tugas. Jarak rumah yang dekat dengan TPS memudahkan penelitian mereka pada My Darling dan sekolah ibu.
   "Kami belum tahu apakah tahun depan masih di sini atau tidak. Pemiliknya mengatakan, saya harus membayar Rp 40 juta atau  pindah karena rumah mau dijual. Mungkin saya belum punya uang saat ini, tetapi kalau mau berusaha pasti ada jalan," kata Dewi.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 11 APRIL 2013

Kamis, 11 April 2013

Saripuddin: Gerakan Pertanian Organik dari Tarakan

SARIPUDDIN 
Lahir: Sulawesi Selatan, 3 Mei 1977
Istri: Hapita (34)
Anak:
- Rahmat (7)
- Ahmad Setiar (4)
Pendidikan:
- Madrasah Tsanawiyah Kalimbua, Sulawesi Selatan
- Madrasah Aliyah Ak Khairat, Tarakan, Kalimantan Timur

Melakoni pekerjaan sebagai petani barangkali tidak menarik jika kondisi tanahnya kurang cocok, seperti di Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Namun, bagi Saripuddin (35), bekerja keras untuk mencari solusi dari keterbatasan tersebut justru menjadi tantangan tersendiri. Hasilnya, sekarang dia menjadi petani organik dan bangga dengan pekerjaannya.

OLEH LUKAS ADI PRASETYA

"Memang jika dirasa-rasa, awalnya pekerjaan ini, ya berat. Namun, ketika kita ada keinginan untuk maju, entah bagaimana, kesempatan itu selalu terbuka dan tinggal bagaimana menjalaninya. Hal yang penting, jangan sampai kita patah semangat," ujar Saripuddin.
   Tidak berbeda dengan petani-petani lain, Saripuddin, warga RT 007 Kelurahan Mamburungan, Tarakan Timur, Kota Tarakan, Kalimantan Timur, itu dulu juga petani konvensional. Dia mengikuti jejak orangtuanya yang juga bermata pencarian sebagai petani konvensional.
   Bertahun-tahun mereka bergantung pada pupuk kimia buatan pabrik. Mereka pun selalu menghadapi kondisi tanah yang kesuburannya terus menurun tanpa tahu apa sebabnya.
   Saripuddin dan teman-teman sesama petani pun hanya bisa saling berkeluh kesah tentang nasib mereka yang tak kunjung membaik. Tanah garapan mereka semakin bantat, hasil panenan pun terus menurun.
   Di sisi lain, harga pupuk semakin mahal dan semakin banyak pula jumlah pupuk yang harus mereka beli. Cacing di dalam tanah sebagai penanda kesuburan juga semakin menghilang dari tanah garapan mereka.
   "Sekitar 50 karung urea sudah cukup untuk sekali tanam. Namun, untuk masa tanam berikutnya, jumlah pupuk itu sudah tidak cukup lagi. Cacing di tanah kami menghilang, sementara hama justru bertambah banyak. Tanah kami sedang sekarat. Kami berpikir, ada apa dengan tanah kami? Padahal, setiap musim tanam, kami harus mengeluarkan biaya banyak. Uang diperlukan untuk membeli pupuk sampai obat tanaman," cerita Saripuddin.
   Tanah di Kelurahan Mamburungan, seperti umumnya tanah di Tarakan, juga berupa lempung berpasir. Menurut Saripuddin, kondisi tanah itu sebenarnya kurang bagus untuk padi. Tingkat PH-nya pun 4,1.
   "Di (Pulau) Jawa, tanah yang dipakai untuk pertanian juga berupa lempung, tetapi PH-nya ideal, yakni 6-7.
Jadi, tanah itu cocok untuk bertanam padi dan sayur-mayur. Saya lalu berpikir, tanah di sini (Tarakan) semestinya juga bisa dibuat agar cocok untuk bertanam (padi dan sayur), tentunya dengan perlakuan yang berbeda (dengan tanah di Pulau Jawa)," katanya.

Mencari tahu

   Pengetahuan itu membuat Saripuddin mengetahui ada yang salah dari cara bertani mereka selama ini. Dia kemudian mulai berusaha mencari tahu tentang bagaimana memperlakukan tanah lempung berpasir agar bisa mereka gunakan untuk pertanian.
   Setelah emncari informasi ke berbagai pihak, sampailah Saripuddin pada kesimpulan bahwa penggunaan pupuk kimia harus dihentikan. Namun, tak semua temannya sesama petani sekaligus anggota Kelompok Tani Mapan Sejahtera sepakat dengan kesimpulannya itu. Dia lalu memilih melakukan sendiri.
   "Saya bertanya kepada aparat pemerintah daerah dan disarankan untuk meminta bantuan kepada perusahaan migas (minyak dan gas) yang ada di Tarakan," katanya.
   Saripuddin kemudian mendatangi salah satu perusahaan migas itu dan dia diterima dengan baik. Dari perusahaan migas tersebut, dia malah diberi bantuan bibit dan pupuk kandang.
   "Namun, bukan bantuan seperti itu yang kami inginkan. Petani menginginkan ada pelatihan dan pendampingan agar kami mampu mandiri dengan menerapkan pertanian organik," ujar Saripuddin.
   Keinginannya itu kemudian terwujud. Pada 2008, petani setempat mendapatkan pelatihan cara bercocok tanam secara organik. Meski begitu, seusai pelatihan, masih banyak petani yang merasa ragu menerapkan pertanian organik.
   Sementara itu, Saripuddin langsung menerapkan apa yang diperolehnya selama pelatihan. Pupuk dari pabrik berangsur-angsur dihilangkan. Dia merasa mantap menanam padi dan sayuran secara organik.
   "Sekarang padi dan sayuran saya sudah bebas dari pupuk kimia," katanya meyakinkan.

Ragu-ragu

   Di satu sisi, Saripuddin bisa memahami jika sebagian petani rekannya tidak yakin dengan cara bertanam organik. Sebab, pada awal menerapkan pertanian organik, umumnya terjadi penurunan hasil panen.
   "Hal itulah yang membuat banyak petani di sini (Tarakan) ragu-ragu menerapkan pertanian organik. Saya coba meyakinkan mereka, kondisi itu hanya terjadi pada awal kita memulai (pertanian organik). Namun, setelah itu, hasil panen kita akan lebih baik. Istilahnya, kita rugi dulu, untungnya nanti," kata lelaki yang merantau ke Tarakan selepas tamat dari madrasah tsanawiyah di Sulawesi Selatan ini.
   Kini, Saripuddin bisa panen padi tiga kali setahun, padahal sebelumnya hanya satu hingga dua kali. Awalnya per hektar tanah hanya menghasilkan 2 ton padi sekali panen, tetapi lalu meningkat menjadi 4 ton dan kini 8 ton. Tanahnya mulai kembali gembur, cacing-cacing datang, dan hama mulai enggan datang.
   "Dulu, untuk 1 hektar lahan sekali musim tanam, kami mengeluarkan sampai Rp 7 juta. Sekarang biaya itu bisa dipangkas lebih dari 40 persen. Dalam setahun kami panen 2-3 kai, tak lagi hanya sekali. hasil panen kami meningkat 2-3 kali dari sebelumnya," tuturnya.
   Dulu, ia membutuhkan modal Rp 5 juta untuk menanam cabai dan membeli pupuk, dengan hasil panen Rp 12 juta. Kini, ia hanya butuh modal Rp 300.000 dan hasil panennya Rp 17 juta.
   "Cabai dan sayuran yang kami tanam juga lebih sehat dan enak rasanya," kata Saripuddin sambil menunjukkan hamparan sawahnya.
   Apa yang dicapai Saripuddin itu membuat anggota lain Kelompok Tani Mapan Sejahtera penasaran. Mereka mulai tertarik, jadilah Saripuddin dan sejumlah teman mendirikan Pusat Studi Organik Terpadu.
   "Awalnya, kami tak terpikir membuat semacam pusat studi. Namun, ini bisa menjadi tempat bagi mereka yang ingin mempelajari pertanian organik. ada lahan milik kelompok di sini, mari kita sama-sama belajar.
Melihat semakin banyak petani yang mau menerapkan pertanian organik, saya ssenang," ujarnya.
   Di pusat studi itu, sejumlah petani, antara lain, mengolah kotoran dan urine sapi serta kambing dan dedaunan untuk pupuk. Mereka juga membuat pupuk cair dan pestisida cair alami berbahan buah-buahan, dedaunan, dan gula merah.
   Saripuddin mengakui, tak mudah mengajak semua petani mau menerapkan pertanian organik. "Saya dan teman-teman yang sudah mencoba (pertanian organik) tak bisa memaksakannya. Namun, saya yakin, gerakan pertanian organik ini akan menyebar. Satu per satu petani akan beralih pada pertanian organik jika mereka tahu keuntungannya," ujarnya.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 28 FEBRUARI 2013

Senin, 08 April 2013

Cak Fu Menerjang Keterbatasan

BAHRUL FUAD 
Lahir: Kediri, 17 Agustus 1975
Pendidikan:
- S-1 Psikologi dari Universitas Darul Ulum, Jombang
- Master of Humanitarian Assistance, universitas Groningen, Belanda
Kegiatan, antara lain: Riset terkait disabilitas, menulis di media massa, merawat blog www.cakfu.info, fasilitator berbagai pelatihan komunitas inklusif, dan membangun koperasi kaum difabel, Paguyuban Daya Mandiri, Surabaya.

Siang itu, seorang jemaah shalat Jumat di Masjid Raya Al-Mashun, Medan, Sumatera Utara, menyodorkan selembar uang Rp 20.000 kepada Bahrul Fuad, MA (37). Bahrul menerima dengan senyum. Setelah si pemberi berlalu, uang itu dia berikan kepada yang dikatakannya lebih berhak.

OLEH MARIA HARTININGSIH

"Saya berikan kepada teman difabel tunanetra di halaman masjid," kata Cak Fu, sapaan Bahrul, di depan teman-temannya, anggota The Indonesian Social Justice Network (ISJN). Sebanyak 25 alumnus-dari 361 alumus dari fellows asal Indonesia-penerima beasiswa International Fellowship Programme (IFP) The Ford Foundation berkumpul di Medan untuk merumuskan langkah ISJN ke depan.
   Sebagai difabel dan pemakai alat penopang untuk berjalan, Cak Fu terbiasa menerima perlakuan seperti itu.
   Pernah, suatu hari saat menunggui istri belanja, oleh pemilik toko ia diberi uang Rp 2.000. Pernah pula teman-temannya anggota Koperasi Paguyuban Daya Mandiri di Surabaya dipaksa menerima Rp 200.000 dari seorang pengendara motor. Untuk sedekah, katanya. Mereka menolak, tetapi si pengendara motor terus memaksa.
   "Saya melarang teman-teman menengadahkan tangan agar stigma ketidakberdayaan bisa ditipiskan," ujar Cak Fu. "Namun, dalam kasus itu, saya bilang terima saja untuk koperasi," ungkapnya.

Stigma itu....

   "Tak mudah menjadi difabel di negeri ini," kata Cak Fu. Kekurangan atau perbedaan yang dimiliki difabel sering diartikan sebagai ketidaksempurnaan oleh mayoritas manusia yang merasa dirinya sempurna. "Akibatnya, perlakuan mereka terhadap kami di bawah standar."
   Ia melanjutkan, "Hampir seluruh sistem tak ramah terhadap difabel. Infrastruktur dan bangunan, termasuk rumah ibadah, tidak akomodatif dan terasa diskriminatif pada kaum difabel. Di sini, orang seperti kami menjadi tontonan, dianggap tak berdaya."
   Persoalan itu menjadi salah satu bahasan dalam Asian People Forum on Defending Rights of Development, di Bangkok, 10-12 Maret 2013. Pertemuan yang diselenggarakan Bank Information Center (BIC) Amerika Serikat itu mengkritisi Safeguard Policies Bank Dunia.
   "Bank Dunia lebih banyak membantu proyek   pembangunan yang justru menutup akses kaum marjinal, melanggar hak-hak mereka, dan semakin memarjinalkannya," ujar Cak Fu yang berangkat sebagai wakil kaum difabel Indonesia.
   Penghargaan kkepada kaum difabel justru ia dapatkan saat menempuh pendidikan lanjutan di Universitas Groningen, Belanda. "Pembimbing saya, Prof Joost Herman, selalu mengantar saya sampai keluar lift untuk memastikan semua baik-baik saja."
   Banyak pengalaman berkesan selama 20 bulan ia belajar di Belanda. "Kalau saya mau keluar kota, telepon stasiun kereta api, kasih tahu jam keberangkatan. Tepat jam itu, gerbong dengan fasilitas khusus tiba. Semua akses mudah dan nyaman," kenangnya.
   Padahal, orangtuanya sempat khawatir ketika dia hendak berangkat ke Belanda. "Ibu takut saya diapa-apain orang. Ibu bilang, itu kan negara bekas penjajah, he-he-he..."

"Nrima ing pandum"

   Cak Fu dilahirkan di Desa Klenderan, Plosoklaten, Kediri, Jawa Timur, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dari keluarga guru madrasah. Ia adalah bayi yang sehat, sebelum terserang demam tinggi pada usia setahun. Panasnya turun setelah disuntik, tetapi lalu tak bisa jalan. Sampai usia delapan tahun, ia hanya merangkak.
   Orangtuanya melakukan berbagai upaya, medis dan nonmedis, agar Cak Fu sembuh. "Pernah ada 'orang pintar' nyuruh orangtua kasih saya minum gotri sepeda setiap hari. Dukun lain menyuruh saya minum   pala sampai saya lemas. Ada pula dukun yang mengikat kaki saya dengan kayu dan bambu, digantung di tempat tidur, katanya supaya lurus."
   Cak Fu bisa berjalan ketika main hujan-hujanan dengan sang adik. Tanpa disadari, gandengan adiknya terlepas dan ia tertatih-tatih melangkah. Sang ayah terus menyemangatinya.
   Meski sempat berontak, Cak Fu tak mau meratapi nasib. Perjalanan memaknai konsep Jawa, nrima ing pandum, dalam hidupnya, dimulai. Masa belajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, dikenang sebagai periode paling kritis dalam pergulatan spiritualnya.
   "Itulah masa transisi dari penolakan kondisi difabel ke penerimaan," tuturnya.
   Inspirasi sang kiai tentang konsep syukur yang bersifat dinamis dan progresif mengantar dia memahami konsep nrima ing pandum sebagai penerimaan tulus atas semua anugerah dan karunia-Nya, selalu bergerak maju untuk mencapai keadaan lebih baik dengan keterbatasan.
   "Tubuh yang difabel ini adalah pandum yang diberikan Tuhan kepada sya," tuturnya. "dengan kondisi fisik seperti ini, saya berusaha semaksimal mungkin menjalani hidup, berbagi dengan sesama, bekerja menafkahi keluarga, berkarya untuk membantu mewujudkan kebahagiaan orang lain, dan beribadah untuk memelihara rasa syukur atas karunia-Nya."

Penuh berkah

   Dari pesantren, Cak Fu memutuskan kuliah. "Banyak suara yang bilang, orang normal lulus sarjana belum tentu bisa kerja, apalagi cacat. Ayah saya bergeming."
   Saat kuliah, Cak Fu aktif dalam organisasi kaum difabel, banyak ikut pertemuan dan pelatihan yang kaadang diadakan di hotel mewah. "Namun, naik pesawat pertama kali, ya, waktu ke Belanda," ungkapnya.
   Kesempatan mendapat beasiswa yang memberi akses studi lanjutan ke luar negeri-setelah melamar berbagai program beasiswa tetapi ditolak karena cacat-dia dapat dari pengumuman di televisi.
   "Ibu Irid Agoes dari The Indonesian International Education Foundation, IIEF, menjelaskan tentang program beasiswa IFP,"kenang Cak Fu.
   "Beasiswa itu berbeda," ujarnya. "Prinsipnya, memperluas akses ke perguruan tinggi, khususnya bagi kelompok yang aksesnya ke pendidikan lanjutan sangat kecil, menjunjung nilai keberagaman dan mengembangkan pengetahuan yang menuju pada keadilan sosial."
   Cak Fu lalu menulis surat ke IIEF,menceritakan tentang keluarganya, kondisinya, aktivitasnya, dan cita-citanya. "IIEF merespons dengan mengirim formulir pendaftaran. Setelah melalui beberapa tes, saya lolos."
   Beasiswa itu membuka banyak akses untuk menerjang keterbatasan. "Tuhan Mahaadil. Justru karena cacat, saya sampai pada kondisi sekarang."
   Cak Fu yang hobi membaca, berkebun, traveling, dan tekun mendalami teologi kecacatan itu terus aktif dalam upaya pemberdayaan dan perjuangan hak-hak kaum difabel. Ia juga menjadi konsultan pada program disabilitas dan rehabilitas Netherlands Leprosy Relief.
   Didampingi istrinya, Ulfa Azimatul Khoitiyah, dan putri mereka, Ameera Ayesa (2,5), Cak Fu merasakan hidup yang penuh. "I'm so blessed," gumamnya.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 22 MARET 2013.