Minggu, 14 Juli 2013

Bibong Widyarti Djaprie: Hidup Selaras dengan Alam

BIBONG WIDYARTI DJAPRIE 
Lahir: Bandung, 13 Juli 1964
Suami: Prakoso Sudarman (51)
Anak:
- Dipa Raditya (23)
- Diaz Adhikatama (21)
Pendidikan: Jurusan Budidaya Perairan, Institut Pertanian Bogor, lulus 1984
Kegiatan: Ketua Yayasan Alifa dan pegiat Aliansi Organis Indonesia

Bibong Widyarti Djaprie menjalani aktivitas sehari-hari hampir tanpa bersentuhan dengan bahan kimia sintetis. Sebagai gantinya, dia mendayagunakan berbagai bahan organik. Rumahnya di Depok, Jawa Barat, pun dia kelola sedemikian rupa supaya selaras dengan alam.

Ketertarikan Bibong pada produk organik bermula ketika dia membaca artikel di sebuah majalah tentang Agatho Elsener, seorang pastor asal Swiss yang mengembangkan pertanian organik di Desa Tugu Selatan, Cisarua, Bogor, Jabar, sejak tahun 1984.
   Agatho Elsener dikenal sebagai salah seorang pemula pertanian organik di Indonesia. Selain bercocok tanam, dia juga mengadakan pelatihan pertanian organik secara rutin. Kiprahnya yang panjang dalam budidaya tanaman tanpa bahan kimia membuat dia dihormati kalangan petani organik dan para akademisi pertanian.
   Hal itu pula yang tampaknya memikat Bibong. Kebetulan saat itu dia sedang gelisah karena menemukan residu pestisida dalam sayuran yang sering dibelinya di pasar. "Salah satu anak saya suka sekali makan brokoli, tetapi saya mulai curiga karena brokolinya, kok berbau obat," ungkap Bibong, ibu dua anak itu.
  Merasa ada yang tak beres, Bibong lalu memutuskan beralih ke sayuran organik. Sesudah itu, secara bertahap dia kemudian "berburu" berbagai bahan makanan organik lainnya. Mula-mula dia memilih mengonsumsi beras dan buah-buahan, lalu tempe, telur, dan tepung organik. Belakangan, Bibong juga mengonsumsi teh, kopi, dan gula organik.
   Ketika Kompas mengunjungi rumahnya, Bibong menyuguhkan semangkuk spageti, yang dicampur wortel, jagung, dan keju, serta segelas teh. "Semua bahan makanan ini organik, termasuk garam, cabai, dan spagetinya," kata lulusan Institut Pertanian Bogor itu.
   Sejak tahun 2001, makanan, minuman, dan aneka bumbu di rumah Bibong hampir semuanyaorganik. Dia memang belum mengonsumsi daging sapi dan minyak goreng organik secara rutin karena harganya sangat mahal.
   "Kalau minyak goreng, saya memakai yang bahannya dari kelapa, bukan kelapa sawit, karena lebih ramah lingkungan," kata Bibong memberikan alasan.
   Untuk mendapatkan berbagai jenis bahan makanan organik tersebut, bibong "bergerilya" sampai ke banyak tempat. Ia berkenalan dengan komunitas petani organik di sejumlah wilayah, dari yogyakarta, Bali, Tangerang, sampai Padang, sumatera Barat.
  Dari pengalamannya, Bibong menyimpulkan bahwa harga produk organik tidak selalu mahal seperti yang dipersepsikan masyarakat selama ini. "Kalau kita membeli langsung (produk organik) ke petani, selisih harganya tidak terlalu banyak dengan produk pertanian biasa," ungkapnya.
   Hal yang unik, kadang kala Bibong menjadi "kelinci percobaan" untuk berbagai komunitas petani kenalannya. "Misalnya ada komunitas yang  ngeluarin kecap organik, saya menjadi konsumen yang nyoba, lalu memebri mereka saran, ini kurang manis atau asin," ujarnya sambil tertawa.

Eksperimen

   Sejak tahun 2005, Bibong bergerak lebih jauh dengan memakai bahan organik dalam berbagai aktivitas. Untuk kosmetik, misalnya, dia memilih sejumlah bahan alami seperti minyak kelapa segar (VCO) dan shea butter (sari buah shea), serta produk tabir surya organik.
   Ketika mandi, dia memilih memakai sampo dan sabun organik yang dibeli dari satu komunitas di Bali. Dari komunitas itu pula Bibong membeli detergen khusus yang rendah busa untuk mencuci pakaian berwarna putih.
   Untuk pakaian yang tak berwarna putih, Bibong bereksperimen dengan membuat sabun cuci dari sari buah lerak. Eksperimen juga dilakukannya dengan membuat cairan pembersih lantai dari sari minyak serai, mimba, dan cengkeh.
   Untuk membersihkan kaca, misalnya, Bibong mencampurkan cuka yang sudah dimasak atau sari buah lerak dengan air. "Hasilnya ternyata memuaskan," ucapnya.
   Berbagai eksperimen itu dituturkan Bibong dalam buku Hidup Organik: Panduan Ringkas Berperilaku Selaras Alam yang diterbitkan Aliansi Organis Indonesia pada 2010. Melalui buku itu, dia membagi sejumlah tips praktis dalam mengelola rumah agar selaras dengan alam.
   Selain memakai bahan alamiah dalam aktivitas makan, mandi, dan mencuci, kiat lainnya adalah memisahkan sampah organik dan non organik serta menggunakan peralatan listrik yang hemat energi.
   Bibong juga memelihara berbagai jenis tanaman di rumahnya, antara lain tomat, seledri, dan cabai. Untuk pupuk, dia memakai sampah organik di rumahnya, semisal ampas sisa jus buah. Sebagian dari hasil panen dari kebun kecilnya itu dia konsumsi bersama keluarganya.
   Bagi Bibong, pemakaian bahan organik dalam berbagai aktivitas keluarga sehari-hari bukan hanya demi kesehatan pribadi, melainkan juga untuk pelestarian alam.
   "Kalau kita memakai bahan organik saat mandi dan mencuci, tentu limbah rumah tangga yang dihasilkan juga lebih ramah pada lingkungan," ungkap Bibong.

Nilai-nilai

   Sejak mengonsumsi produk organik beberapa tahun lalu, Bibong juga rajin menularkan gaya hidup organik kepada orang-orang di sekitarnya. Suami dan kedua anaknya jelas tidak luput dari pengaruh itu, demikian pula tetangga dan para kenalannya.
   "Saya dan teman-teman sering membeli produk organik secara berkelompok supaya lebih murah," tutur Bibong.
   Sekarang Bibong bukan sekadar konsumen produk organik. selain aktif dalam Aliansi Organis Indonesia, dia juga sering menjadi narasumber untuk berbagai diskusi berkaitan dengan produk organik, menulis di sejumlah media massa, serta tampil di beberapa acara televisi.
   Pada berbagai kesempatan itu, Bibong selalu menegaskan bahwa mengonsumsi produk organik merupakan laku dalam menghayati nilai-nilai tertentu.
   "Menjadi konsumen organik bukan sebatas gaya hidup yang temporer, tetapi mencakup nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, kesederhanaan, dan saling menghargai," ujarnya.
   Bibong mengaku belajar dari banyak pihak tentang nilai-nilai yang terkandung dalam produk organik. Dari Pastor Agatho Elsener, misalnya, dia belajar bahwa pertanian organik menampik sikap egois dan menganjurkan penyesuaian diri seseorang dengan alam.
   Hal itu, misalnya, tercermin dalam siklus alami tumbuhan yang diikuti petani organik. Petani organik tidak membudidayakan tanaman pada musim yang tak sesuai dengan kondisi alami tanaman itu.
   "Sebagai konsumen, kalau pada satu musim kita enggak bisa makan tomat karena memang lagi enggak bisa tumbuh, ya kita harus terima kondisi itu," kata Bibong. (K02)

Dikutip dari KOMPAS, SELASA 9 JULI 2013

Kamis, 11 Juli 2013

Guntur Kadarusman: Memandirikan Anak-anak Luar Biasa

GUNTUR KADARUSMAN
Lahir: Pamekasan, Jawa Timur, 27 Juni 1968
Istri: Idawati
Pendidikan:
- SDN 1 Bagandan, Pamekasan 
- SMPN 1 Gorang Gareng, Magetan
- SMAN 1 Gorang Gareng, Magetan
- SGPLB Surabaya
Penghargaan:
- Juara I Guru Berdedikasi Kabupaten Madiun, Jawa Timur, 2013
- Juara I Guru Berdedikasi Provinsi Jawa timur, 2013

Dunia kerja di sektor formal yang tak memberikan banyak peluang bagi anak berkebutuhan khusus membuat Guntur Kadarusman prihatin. Ia bertekad menularkan pendidikan keterampilan dan kewirausahaan kepada anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka mampu mengukir masa depannya sendiri.

OLEH RUNIK SRI ASTUTI

Hari menjelang siang ketika kami bertemu guntur (45) di tempatnya mengajar, Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wanita di Desa Jiwan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Dengan santun dan ramah, dia menyapa tamu.
   Di ruang kelas yang kosong, kami mengobrol. Perbincangan mengalir meski ditingkahi suara keras murid-murid yang tengah belajar menyanyi dan bermain musik di kelas sebelah.
   "Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus tak pernah membosankan. Sebaliknya, setiap hari penuh kejutan karena ada saja tingkah mereka yang membuat kita tersenyum," ujarnya.
   Guntur seperti umumnya guru yang bekerja dan mengharap gaji untuk bekal menapaki kehidupan. Bahkan, motivasinya memilih belajar di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa di Surabaya pun dilandasi keinginan mendapatkan lapangan pekerjaan.
   Dasar pemikirannya sederhana. Guru sekolah umum pasti banyak peminat sehingga persaingannya ketat.Menjadi guru SLB relatif kurang peminat sehingga kesempatan berkarier lebih terbuka.
   Namun, seiring dengan berjalannya waktu, makin sering berinteraksi dengan anak-anak luar biasa, ia makin jatuh hati. Tak sekadar menularkan ilmu akademik, guntur pun tergerak memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi penyandang tunarungu, autis, dan tunagrahita.
   Keinginan itu memuncak saat dia memperhatikan murid-murid yang lulus sekolah. Dari tahun ke tahun tak banyak lulusan SLB yang bisa bekerja di sektor formal. Ini sekalipun para guru telah berupaya keras mencarikan mereka pekerjaan, bahkan mendampingi saat seleksi.
   "Padahal, pihak sekolah sudah kerja sama dengan sejumlah perusahaan. Tetapi, yang diterima itu 1:100, artinya dari 100 anak yang lulus, hanya satu yang bekerja di perusahaan," katanya.
   Hati guru mana yang tidak pilu melihat murid-muridnya menganggur. Kalaupun bekerja, mereka menjadi buruh tani dan kuli bangunan. Pekerjaan itu tak setara dengan pendidikan yang telah mereka jalani.
   Apalagi mengingat perjuangan anak-anak untuk bersekolah menengah atas. Hampir semuanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Orangtua mereka membantung tulang demi memenuhi biaya mereka.

Semakin gelisah

   Guntur kerap bertanya sendiri mengapa pemerintah tak menyediakan sekolah kejuruan untuk anak-anak luar biasa? Mereka juga membutuhkan pendidikan keterampilan seperti anak-anak biasa.
   Ia tak jua menemukan jawaban walaupun telah bertahun-tahun menjadi pengajar di SLB. Sebaliknya, Guntur semakin gelisah melihat  masa depan murid yang makin suram. Mereka  tak mampu melanjutkan pendidikan tinggi karena ekonomi orangtuanya terbatas.
   Dari kegelisahan itu, Guntur lalu mengjari para murid berwirausaha, mulai dari beternak ayam kampung, beternak lele, hingga budidaya hortikultura. Ternyata usaha itu terlalu rumit bagi anak berkebutuhan khusus.
   Suatu ketika, Guntur bertemu dengan petani jamur tiram di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Setelah melihat proses budidayanya, dia merasa usaha ini cocok untuk mereka. Selain perawatannya mudah, nilai ekonomisnya tinggi.
   Petani itu kemudian datang ke sekolah agar siswa dapat menyerap ilmunya secara langsung. Apalagi anak berkebutuhan khusus lebih suka ilmu terapan dibandingkan teori. Guntur lalu membangun laboratorium jamur tiram mini di sekolah sebagai tempat praktik. Sekitar 300 baglog sebagai media tumbuh bibit jamur tiram ditata di rak.
   Baglog siap tumbuh banyak dipasarkan. Ini memudahkan anak berkebutuhan khusus membudidayakan jamur tiram. Baglog berisi campuran serbuk kayu, bekatul halus, kalsium, dan glukosa. Pemeliharaannya sederhana. Mereka tinggal menyiram bagian bawahnya agar pertumbuhan jamur lebih maksimal.
   Selain perawatan yang mudah, pemasaran jamur tiram pun relatif tak terkendala. Banyak pedagang yang membeli jamur tiram dari rumah-rumah pembudidaya. Industri rumah tangga di Madiun juga mau menyerap jamur tiram. Mereka mengolahnya menjadi aneka makanan, seperti keripik jamur, pepes jamur, botok jamur, sop jamur, dan oseng jamur.
   Harga di tingkat petani cukup kompetitif, sekitar Rp 10.000 per kilogram. Jamur ini bisa dipanen setiap hari selama 3-4 bulan. Sebagai gambaran, setiap 2.000 baglog bisa menghasilkan 10-15 kilogram jamur.'

Kendala

   "Kalaupun harga turun, biasanya masih sekitar Rp 9.000per kilogram. Harga itu tergolong ekonomis karena memberi margin yang cukup untuk petani. Mereka tidak sampai merugi," kata Guntur.
   Sebagai gambaran, petani harus membudidayakan minimal 2.000 baglog. Jika membeli jadi, harganya Rp 2.500 per baglog atau butuh modal Rp 5 juta. dengan asumsi per hari menghasilkan 8-10 kilogram dan harga jual Rp 10.000, pendapatan kotor petani selama empat bulan Rp 12 juta-Rp 15 juta.
   Singkat cerita, pendapatan bersih petani per bulan Rp 1 juta-Rp 2juta. Angka penghasilan tersebut melebihi upah buruh tani yang besarnya sekitar Rp 600.000 per bulan. Apalagi kalau mereka hanya mengandalkan diri dari bantuan langsung tunai masyarakat yang disalurkan pemerintah sebesar Rp 150.000 per bulan.
   Mudahnya pemeliharaan jamur tiram membuat petani bisa bekerja sambilan, seperti menjadi buruh tani di sawah atau kuli bangunan. Petani jamur juga berpeluang menciptakan industri makanan olahan berbahan baku jamur.
   Namun, di balik keberhasilannya menciptakan lapangan kerja bagi anak berkebutuhan khusus, ada kegelisahan yang menyelimuti Guntur. ganjalan itu adalah permodalan. "Sebab, modal jadi syarat wajib untuk memulai usaha bagi siswa kelak."
   Namun, mengingat kemampuan mereka terbatas, akan sulit untuk mengakses pinjaman keuangan di bank. Dengan mudah pihak bank akan menyatakan mereka sebagai pihak yang tak memenuhi kriteria sebagai kreditor perbankan.
   "Kami berharap ada pihak, baik pemerintah maupun perusahaan swasta, yang bersedia membantu permodalan anak-anak berkebutuhan  khusus. Tentunya bantuan itu disertai dengan beragam kemudahan," ucapnya.
   Atas perhatiannya terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, Guntur mendapat penghargaan sebagai guru berdedikasi. Tak hanya di tingkat Kabupaten Madiun, dia juga menjadi juara pertama untuk tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2013.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 12 JULI 2013

Jumat, 05 Juli 2013

Suno: Dari Tukang Sol Sepatu Menjadi Produsen

SUNO
Lahir: Mojokerto, Jawa Timur, 8 Februari 1955
Istri: Lilik (48)
Anak:
- Rudiyanto (33)
- Irawati (29)
- Ahmad Yusuf (27)
- Sugianto (23)
Pendidikan: Tidak tamat SD
Pencapaian: Pemilik usaha sandal Expo di Desa Karang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto

Sejak masih jejaka, Suno (58), warga Desa Krang Kedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sudah akrab dengan usaha persepatuan walau kala itu "sekadar" sebagai tukang sol sepatu. Kini, ia menjadi salah satu pelaku usaha kecil dan menengah dengan produksi sampai 70 kodi sandal per hari.

OLEH ABDUL LATHIF

Sebagai tukang sol sepatu, Suno yang memulaimembuka usaha sendiri pembuatan sandal dengan merek Expo, enam tahun silam, telah malang melintang dari satu tempat kerja pembuatan sepatu ke tempat pembuatan sepatu lain.
   "Awalnya saya bekerja menjadi tukang sol sepatu di Surabaya, tepatnya di Petemon, lalu pindah ke Rangkah, dan terakhir kerja di pabrik sepatu di Sukomanunggal," katanya.
   Suno adalah salah satu dari sekitar 1.300 pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di wilayah krja Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Cabang Mojokerto yang menjadi nasabah sekaligus binaan bank ini.
   Sejak tahun 2010 Suno mendapat kucuran kredit Rp 30 juta untuk tambahan modal sekaligus pengembangan usahanya. Setahun berikutnya, Suno kembali mendapat kucuran kredit Rp 60 juta. Pada 2012, dia mendapat kredit lagi sebesar Rp 98 juta.
   "Sebelum kucuran kredit dari BTPN sampai tiga kali, modal awal untuk membuka usaha sandal ini saya pinjam dari koperasi sebesar Rp 10 juta," kata Suno.
   Setelah menjadi binaan BTPN dan mendapat pelatihan, khususnya menyangkut manajemen keuangan dalam pengelolaan usaha kecil, usaha sandal Suno berkembang cepat.

Rugi

   Suno bercerita, awal memulai usaha, dia sering menyerahkan pengerjaan pembuatan sandal kepada orang lain. "Istilahnya, saya men-sub-kan pesanan ini kepada perajin sandal lain," ujarnya.
   Namun, hasilnya justru tak menguntungkan, bahkan Suno menelan kerugian. "Saya sempat tak mengerjakan sendiri pesanan sandal itu. Hasilnya dalam dua bulan saya rugi sekitar Rp 3,5 juta."
   Pengalaman pahit itulah yang memaksa Suno mengerjakan sendiri produk sandal Expo miliknya. Seiring berjalannya waktu, usahanya tumbuhdan berkembang. Pesanan dari pedagang grosir di Pasar Turi, Surabaya, misalnya, terus meningkat.
   "Sekarang saya sudah bisa membayar orang. Di sini ada tujuh karyawan dari tukang sol, tukang kap, dan seorang sekretaris," kata Suno.
   Dibantu anaknya yang masih lajang, Sugianto, untuk memasarkan produknya, Suno bangga bisa memberikan lapangan pekerjaan kepada orang lain.
   "Rata-rata setiap hari usaha saya ini bisa memproduksi 30 sampai 50 kodi sandal. Kalau pesanan sedang ramai, dalam sehari bisa mencapai 70 kodi. Kalau sudah begini, saya juga menyerahkan pengerjaan pembuatan sandal kepada enam tukang sol, tukang kap, dan tukang katokan di rumah. Mereka mengerjakan pesanan itu di rumah masing-masing, saya mengontrol hasilnya," kata Suno.

Pedagang grosir

  Sekarang, usaha skala kecil yang digeluti Suno dengan produk sandal untuk dewasa dan anak-anak serta sandal perempuan ini tak hanya dipasarkan di Surabaya dan sekitarnya, tetapi juga sudha sampai ke Tulungagung, Jawa Timur, hingga Solo, Jawa Tengah.
   "Selain melayani pedagang bedak (eceran di pasar atau kaki lima), saya juga mendapat pesanan dari para pedagang grosir," kata Suno.
   Seminggu sekali ditemani Sugianto, salah satu anaknya, dengan mobil boks, Suno membawa ribuan pasang sandal menyusuri jalur tengah antara Jawa Timur dan Jawa Tengah.
   Sebagai mitra usaha kecil dan menengah, BTPN Mojokerto telah menyalurkan kredit usaha kecil dan menengah sejak tahun 2009 hingga 2012. Kredit yang disalurkan itu mencapai lebih dari Rp 110 miliar.
   "Ada 30 sampai 40 debitor UKM sepatu dan sandal yang menerima kucuran kredit kami, salah satunya yang berhasil, ya, usaha sandal milik Suno," kata Mashudi, Area Daya Spesialis BTPN Cabang Mojokerto.
   Suno mengakui, sebelum mendapat pelatihan manajemen keuangan dari BTPN, usahanya sekadar berjalan saja. Suno yang tak sempat menamatkan sekolah dasar (SD) itu sama sekali tak mempunyai pengetahuan soal pengelolaan keuangan usaha.
   "Dulu, manajemennya campur aduk tidak karuan, tetapi sekarang pembukuan usaha ini sudah mulai rapi," kata Suno.

Ketangguhan

   Usaha sandal yang digeluti Suno adalah potret ketangguhan lapisan wong cilik yang berhasil dalam mengembangkan usaha. Walau dalam skala kecil, dia bisa memberikan sumber penghasilan dan penghidupan bagi orang lain.
   "Saya masih punya impian untuk memiliki atau setidaknya membuka toko sandal dan sepatu di Pasar Klewer, Solo. Di toko itu tidak hanya menjual hasil produksi saya, tetapi juga hasil produksi perajin lain," tutur Suno tentang harapannya.
   "Keinginan saya ke depan menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja untuk orang-orang kecil dan susah," katanya.
   Soal keuntungan dari hasil usahanya itu, Suno mengaku masih sangat bergantung pada permintaan pasar, selain kelancaran pembayaran dari grosir ataupun pedagang bedak. "Setidaknya dalam setahun saya masih bisa menikmati keuntungan bersih sekitar Rp 20 juta untuk ditabung. Itu kalau semuanya berjalan lancar. Namun, sering pembayarannya molor, bahkan ada yang bayar 50 persen di muka, sisanya baru dibayar satu-dua bulan," tuturnya.
   Suno, sang juragan sandal yang lahir di tanah Majapahit itu, kini bisa bernapas lega walau setiap hari harus berpikir keras untuk menjaga agar usahanya tetap berdenyut dalam situasi politik dan ekonomi yang kurang memihak kepada wong cilik ini.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 5 JUNI 2013

Mesak Keluanan : Pupuk Organik untuk Petani NTT

MESAK KELUANAN
Lahir: Rote, Nusa Tenggara Timur, 19 Februari 1957
Istri: Mety Mesak Keluanan
Anak:
- Heny (34)
- Delfi (32)
- Lidya (30)
- Amran (23)
- Novi (20)
- Asty (15)
Pendidikan: Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Surabaya
Pencapaian: Pemilik dan Pemimpin Lembaga Pertanian Sehat Agrolestari Kupang, Nusa Tenggara Timur

Sekitar dua juta hektar lahan yang kekeringan di Nusa Tenggara Timur antara lain berdampak pada gagal panen. Upaya petani dengan membeli pupuk kimia dan memperluas lahan pun sulit mendapatkan hasil maksimal. Tantangan alam itu mendorong Mesak Keluanan berusaha menemukan jalan keluar dengan pupuk organik.

OLEH KORNELIS KEWA AMA

Pupuk organik yang dia beri nama Bio-Pem itu sudah digunakan ribuan petani di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pupuk tersebut telah beredar di 21 kabupaten atau kota di wilayah NTT. Sekitar 2.750 dari total 8.700 kelompok tani yang ada di NTT telah memanfaatkan pupuk itu.
   Petani begitu antusias karena berbagai jenis pupuk kimia dan obat kimia pembasmi hama yang mereka gunakan selama ini justru tak memberikan hasil optimal.
   Ditemui di Kupang, Mesak Keluanan bercerita, pada tahun 2007, dia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan pembuatan pupukorganik di Yogyakarta sesuai dengan karakter tanah dan iklim daerah tersebut. Dia kemudian memperdalam pengetahuan yang diperolehnya itu melalui internet.
   Setelah melalui berbagai percobaan, dia menemukan pupuk yang bersumber dari berbagai tumbuh-tumbuhan. Pupuk tersebut ternyata sangat efektif untuk membasmi hama dan menyuburkan tanaman.Pupuk itu dia beri nama Bio-Pem, yang berasal dari kata "bio" (artinya tumbuhan) dan "pem" yang merupakan kepanjangan dari pupuk efektif mikroorganisme.
   Bio-Pem berguna sebagai pupuk hayati untuk memperbaiki kondisi tanah, penyubur tanah ddan tanaman. Pupuk tersebut mampu mempercepat proses fermentasi pupuk kompos dan penyerapan unsur hara dalam tanah.
   Pupuk ini dibuat Mesak dengan teknologi agriculture growth promoting inoculants, yakni suatu inokulum campuran berbentuk cair, mengandung hormon tumbuhan organik serta mikroba indigenos (mikroba tanah asli NTT) yang sangat dibutuhkan dalam penyuburan tanah secara  biologis. Fungsinya untuk meningkatkan produktivitas tanaman, memberikan nutrisi bagi tanaman, dan menekan serangan hama. Konsep yang dikembangkan adalah memberi makan tanah sekaligus tanaman.
   Sebagai bioaktivator, pupuk itu meningkatkan ketersediaan unsur hara dan kelarutan deposit dalam tanah sehingga mengurangi penggunaan pupuk NPK dan berguna untuk rekondisi fungsi ekosistem tanah. Pupuk juga menjadi agen pengendali hayati, zat perangsang tumbuh, juga sebagai bakteri pengurai dalam septic tank.

Uji coba

   Hampir 50 persen lahan di NTT berbahan organik di bawah 5 persen, padahal kandungan bahan organik yang baik harus di atas 10 persen.
   Kondisi itu membuat tanah tak subur, meski sudah puluhan tahun diolah, tetapi tanpa pemberian mikroba di dalam tanah.
   "Saya melakukan uji coba bersama staf dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT di laboratorium milik mereka. Pupuk ini meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan organisme tanah yang menguntungkan tanaman, yakni bakteri pengurai, penambat N, pupuk fosfat, dan penghasil hormon," kata Mesak.
   Bahan dasar pupuk tersebut, antara lain, berupa bakteri asam laktat, bakteri fotosintesis, dan bakteri acetobacter. Pupuk ini pun telah disahkan Kementerian Pertanian pada 31 Januari 2011.
   Menurut Mesak, pupuk tersebut cocok untuk pertanian lahan kering seperti pada kondisi tanah di NTT.
   Sifat pupuk itu mampu menembus kedalaman tanah mengikuti alur akar tanaman sambil memberikan kemampuan akar untuk menyerap lebih banyak unsur hara di dalam tanah.
   Pupuk ini mulai diperkenalkan kepada petani tahun 2009. Kini, 50.000-100.000 hektar lahan kering telah dikelola dengan menggunakan pupuk tersebut, baik untuk penyubur tanaman maupun pembasmi hama. Total lahan kering di NTT mencapai 2 juta hektar, sedangkan lahan basah sekitar 800.000 hektar.
   "Saya masih kesulitan mendapatkan wadah untuk pupuk 1-4 liter. Untuk pupuk 5 liter ada jeriken sebagai tempatnya, ini pun tak mudah mendapatkannya," ucapnya.
   Mesak mencoba memesan kemasan dari Surabaya, tetapi harga wadah itu relatif mahal. Untuk ukuran 1 liter, misalnya, harganya Rp 8.000, belum termasuk biaya pengiriman. Jika harga jeriken dibebankan kepada petani, harga jual pupuk menjadi Rp 40.000 per kemasan. "Terlalu mahal untuk petani, saya batal memesan kemasan itu,"ujarnya.
   Ia lalu memakai jeriken atau kaleng bekas untuk pupuk setelah disterilkan terlebih dahulu. Akan tetapi, wadah ini pun jumlahnya terbatas. Selain itu, ia juga harus membayar tenaga khusus sebagai pengumpul kemasan bekas tersebut.

Mengusir hama

   Permintaan pupuk itu 40.000-45.000 liter per tahun. Sebagian besar pesanan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT untuk kelompok tani dan binaan unit pengelolaan tenis Dinas Pertanian dan Perkebunan. Setiap kelompok memerlukan 100-1.000 liter pupuk per musim tanam.
   Untuk 1 hektar lahan diperlukan 10-15 liter pupuk. Untuk memenuhinya, pupuk sebanyak satu gelas kemasan air mineral (200 mililiter) dicampur dengan 10 liter air, lalu disemprotkan pada tanaman guna mengusir hama. Untuk menyuburkan tanaman, pupuk yang sudah dicampur dengan air disiramkan ke lubang dengan kedalaman 4 sentimeter mengelilingi batang pohon.
   Pencegahan hama dilakukan dengan menyemprotkan pupuk ke daun saat tanaman berusia sekitar dua pekan atau menjelang berbuah. Jika hama penggerek sudah merusak daun, untuk mengendalikannya dilakukan dengan penyemprotan setiap pekan pada hari yang sama.
   Sebelum menggunakan pupuk, produksi jagung petani hanya sekitar 500 kilogram per hektar. Dengan pupuk tersebut, petani bisa menghasilkan 1,2 ton jagung pipilan.
   Untuk memperlancar produksi, Mesak dibantu 10 karyawan. Mereka sekaligus membantu mengirimkan pupuk tersebut ke Flores, Sumba, Timor Barat, Rote, dan Alor.
   "Kami ingin semakin banyak pupuk organik yang bisa digunakan petani agar mereka tidak lagi menggunakan pupuk kimia. Pupuk kimia harganya mahal, juga bisa membahayakan kesehatan konsumen dan tak baik untuk 'kesehatan' tanah kami," katanya.
   Pupuk Bio-Pem relatif ramah lingkungan. Jika orang terpercik pupuk tersebut, termasuk pada anak-anak, hal itu tak membahayakan kesehatan. Bahkan, pupuk jenis ini bisa dimanfaatkan untuk campuran minuman sapi atau jenis ternak besar.
   Mesak yang juga pendiri Lembaga Pertanian Sehat  Agrolestari mengatakan, permintaan pupuk jenis ini relatif tinggi. Ini, antara lain, karena pupuk tersebut mampu mendorong akar menerobos batu karang, kerikil, dan tanah tandus.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 2 JULI 2013

Senin, 17 Juni 2013

Bambang Haryono: Memuliakan Pohon Asam

BAMBANG HARYONO
Lahir: Surabaya, 19 Mei 1967
Pendidikan:
- SMA Katolik Hikmah Mandala Banyuwangi (tamat 1987)
- Universitas 17 Agustus (tamat 1991)
Istri: Ni Made Uttari Dwijawati (44)
Anak:
- Afriska Sari Khorina (24)
- Irena Yoga Bergosa (21)
- Andreas Gio Arghanta (7)
- Orva Rena Felesia (4)
Aktivitas:
- Membina UKM dan mengikuti pameran kerajinan di dalam dan luar negeri
Penghargaan:
- Tahun 2007-2010, dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
  dianggap berjasa merintis lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan
- Tahun 2008-2010, Smesco Award dari Kementerian Koperasi dan UKM
- Tahun 2011-2012, Prabaswara Award dari Kementerian Koperasi dan UKM
- Tahun 2012, Award of Excellence for Handicrafts dari UNESCO atas 
  inovasinya mengembangkan usaha berbasis lokalitas

Ditangan Bambang Haryono (40), batang pohon asam ("Tamarindus indica") bernilai ekonomi. Berkat kretivitasnya, batang pohon asam tak lagi teronggok sekadar sebagai kayu bakar. Sejumlah produk kerajinan berupa perabot dan aksesori rumah tangga dihasikan dari batang pohon ini.

OLEH NASRULLAH NARA

Kini, hasil karyanya berupa perabotan serta dekorasi, seperti cangkir, gelas, piring, mangkuk, baki, tatatkan buah, dan serbet di atas meja makan berupa pot bunga, telah menembus pasarmancanegara. Dua-tiga tahun terakhir, permintaan dari negara-negara Timur Tengah terus mengalir. Belakangan ia sibuk juga melayani pesanan dari Eropa dan tengah menjajal Amerika.
   Di bawah bendera usaha Oesing Craft yang berbasis di Banyuwangi, Jawa Timur, Bambang giat memamerkan produknya di luar negeri, seperti di Kuala Lumpur (Malaysia), Singapura, dan Dubai (Uni Emirat Arab). Akhir Februari-Maret lalu, ia bersama sekitar 200 pengusaha Indonesia mengikuti pameran dagang di Basel, Swiss.
   "Biaya ikut pameran di luar negeri bisa sampai Rp 100 juta, tetapi itu saya anggap sebagai investasi sekaligus upaya mempromosikan produk unggulan kita di kancah internasional," ujar Bambang kepada Kompas di arena pameran dagang Basel, Swiss, beberapa waktu lalu.
   Terakhir, pada pameran kerajinan terbesar di Indonesia, International Handicraft Trade Fair (Inacraft) di JCC Senayan, Jakarta, akhir April lalu, pria yang murah senyum ini didaulat menjadi koordinator kontingen Jawa Timur, khususnya untuk usaha kecil menengah (UKM).
   Tentu bukan tanpa alasan jika Pemerintah Provinsi Jatim menjadikan Bambang sebagai ikon usaha kecil-menengah di daerahnya. Selain sudah teruji sebagai pengusaha yang ulet dan tangguh, Bambang juga dikenal lihai membuat produk khas.
   Ayah dari empat anak ini konsisten menekuni usaha kerajinan tangan dari batang pohon asam (Tamarindus indica). Ia tertarik dengan kulit dan struktur batang pohon asam yang berlekuk-lekuk indah.

Budidaya pohon asam

   Untuk kesinambungan ketersediaan bahan baku, pohon asam yang selama ini tumbuh liar di pesisir jatim coba dibudidayakan oleh bambang bersama warga sekitar. Pohon yang ditebang berusia 7-10 tahun dengan diameter 30-40 sentimeter.
   "Jadi, jangan menganggap saya suka menebang pohon asam di tepi jalan, lho. Bahan bakunya hasil dari budidaya," ujarnya.
   Bambang juga punya "alibi" mengapa batang pohon  di sisi jalan tidak diliriknya sebagai bahan baku. Entah karena faktor polusi asap kendaraan atau faktor lain, umumnya pohon asam di tepi jalan berongga dan rapuh sehingga tidak cocok dijadikan bahan baku kerajinan.
   Mempekerjakan sekitar 100 orang, Bambang juga merambah usaha kuliner melalui bendera Pelangi Sari. Usaha ini berupa pusat oleh-oleh khas Banyuwangi yang memasarkan produk kerajinan dan kuliner Banyuwangi.
   Di atas lahan 3.050 meter persegi di Rest Area Kilometer 7 Jalan Raya Jember-Dadap, Banyuwangi, ia juga mendirikan Istana Gandrung. Pusat gerai ini juga memasarkan beragam jenis hasil kerajinan dan kuliner khas Banyuwangi dan sekitarnya.
   Sohor sebagai usahawan yang ulet membuat dia diminta untuk membina 250 mitra UKM di sejumlah kabupaten/kota lain di Jatim, seperti Jember, Probolinggo, Malang, Batu, Pasuruan, dan Lumajang. Bahkan, Bambang turut membina UKM di Bali dan Kalimantan Selatan.
   Jika setiap UKM mitranya rata-rata mempekerjakan 5-10 orang, sudah lebih dari 2.000 pekerja ia bina. Sebagian waktu ia luangkan pula untuk membimbing penghuni Lembaga Pemasyarakatan Banyuwangi.
   Sukses yang diraihnya tentu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Pada awal merintis usaha, dia sempat mengalami kesulitan permodalan, seperti yang lazim dihadapi pengusaha pemula. Kala merintis usaha tahun 1990-an, tidak semua bank memandang optimis pada usaha kerajinan. Permohonan kredit Rp 10 juta yang diajukan ke sebuah bank tidak diluluskan.
   Kini, setelah usahanya berkibar, giliran bank yang menawarinya kredit. Sejumlah bank bahkan siap memberikan pinjaman sampai Rp 1 miliar.

Masa pahit

   Kepeduliannya membina mitra UKM tak lepas dari masa-masa pahit yang menempanya sejak masa kanak-kanak. sang ayah (Soedarsono) meninggal sejak dia masih anak balita. Bambang diasuh dan dibesarkan oleh sang bunda, Dewi Kartika (82). Untuk membiayai sekolahnya, Bambang harus berkeliling menjual es dan manisan mangga.
   Manisan mangga kemudian menginspirasi dirinya merintis usaha kuliner berbahan lokal. Waktu itu, setamat SMA tahun 1988, dia memutar modal Rp 10.000 dengan membeli mangga muda, gula, dan plastik. Manisan mangganya dijual ke warung-warung kecil, termasuk di kantin sekolah SD, SMP, dan SMA. "Pagi dikirim, siang sudah bisa diambil uangnya," kenang Bambang.
   Setahun kemudian, ia mengembangkan usaha itu dengan membuat minuman temulawak dan sari buah. Sebagian hasil usaha itu digunakan untuk membiayai kuliah.
   Atas kreativitas dan keuletannya, sederet penghargaan skala nasional dan internasional ia raih. "Saya hanya terpanggil memberikan nilai tambah pada alam ciptaan Tuhan sembari memberdayakan sesama. Rupanya Tuhan punya rencana indah," ujarnya. Berbicara soal usaha kerajinan di Jatim, sepertinya tidak lengkap jika tak menyebut nama Bambang Haryono.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 13 MEI 2013

Jumat, 24 Mei 2013

Sapto Sopawiro: Dalang Semata Wayang Suriname

SAPTO SOPAWIRO 
Lahir: Kampung Jumal, Distrik Saramacca, Suriname, 15 Juli 1940
Istri: Wagirah
Anak:
- Edi Sukarman
- Hartini Judy
- Haryati Jenny
Pekerjaan:
- Dalang wayang kulit
- Dosen Sejarah di Universitas Suriname

... Please release me, let me go. For I don't love you anymore. To waste our lives would be a sin. Release me, and let me love again....

Lirik lagu "Please Release Me" yang dipopulerkan penyanyi asal Inggris, Engelbert Humperdinck, itu mengalun lewat suara Sapto Sopawiro (73). Dia adalah dalang kelahiran Kampung Jumal, Distrik Saramacca, Suriname, 15 Juli 1940.

OLEH ALOYSIUS B KURNIAWAN

 Bagi Sapto, menyanyikan lagu pop bukan hal tabu bagi seorang dalang. Sebab, di Suriname yang sangat plural itu, dia harus mampu membawakan cerita pewayangan dengan berbagai sudut pendekatan.
   Sapto memang baru terjun total di dunia pedalangan lima tahun terakhir. Meski demikian, sejak kecil dia sudah akrab dengan pewayangan karena ayahnya, almarhum Ponco Sadeyo, adalah seorang dalang.
   Dulu waktu masih kecil Sapto selalu ikut ayahnya mendalang di mana-mana. Kalau sudah mengantuk, biasanya Sapto tidur di samping kotak wayang.
   Sapto adalah generasi kedua keturunan Jawa yang dikirim pemerintah kolonial Belanda ke Suriname pada periode 1890-1939 sebagai buruh perkebunan. Meski hidup di daerah dan negara baru, mereka tetap memelihara tradisi dan seni budaya Jawa.
   Ayahnya, Ponco Sadeyo, adalah dalang asal Sleman yang diangkut Pemerintah Belanda menggunakan sebuah kapal bernama Jember ke Suriname. Sementara itu ibunya, Jumiyem, adalah warga Solo yang juga menggunakan kapal yang sama.
   Bersama ribuan orang, mereka dibawa ke Suriname dalam perjalanan selama lima bulan melalui jalur laut. Selang dua tahun kemudian, Ponco dan Jumiyem menikah pada tahun 1932 di Suriname. Mereka pun hidup sebagai buruh di perkebunan buah-buahan,kopi, tebu, dan kakao di tempat baru itu.
   Dari pasangan asal Pulau Jawa inilah lahir Sapto Sopawiro, bayi laki-laki kelahiran Suriname, yang pada kemudian hari mewarisi keterampilan ayahnya mendalang.
   Sebelum aktif di dunia pewayangan, Sapto bekerja pada sebuah perusahaan kapal dan perusahaan tambang.

Akrab dengan wayang

   Sejak pensiun sebagai karyawan mekanik pada sebuah perusahaan tambang di Suriname tahun 2000, Sapto mulai menekuni kembali seni wayang dan pedalangan. Pada 2000 dan 2005, ia menyempatkan diri belajar mendalang kepada Parjoyo, dalang asal Magelang yang singgah di Suriname selama beberapa bulan.
   sejak tahun 2008, Sapto, bapak tiga anak ini, akhirnya total mendalang. "Beberapa waktu lalu di Suriname masih ada empat dalang selain saya, yaitu Pak Mintokaryo, Sukiban, Suliyo, dan Giman," ujarnya.
   "Akan tetapi, mereka kemudian meninggal dan sekarang tinggal tersisa saya, satu-satunya dalang di Suriname," tutur Sapto dalam bahasa Jawa ngoko menambahkan.
   Situasi inilah yang memunculkan kegelisahan dalam benaknya. Ia tidak ingin Suriname yang dihuni sekitar 40.000 warga keturunan Jawa itu harus kepaten atau kehilangan dalang. Apalagi, anak-anak muda di Suriname belakangan ini cenderung enggan belajar mendalang.
   Oleh karena itulah, Sapto menyempatkan diri mudik ke kampung halamannya di Beran, Sleman, DI Yogyakarta, Sapto berharap bisa menimba sebanyak-banyaknya semangat seni serta motivasi untuk menumbuhkan kembali seni pewayangan di Suriname.
   Kegelisahan ini pernah diungkapkan Sapto kepada Kepala Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta Gusti Bendoro Pangeran Haryo Yudhaningrat saat dia berkunjung ke Yogyakarta.
   Dalam pembicaraan itu muncul dua opsi, yaitu mengirim dalang dari Yogyakarta untuk memberikan semacam kursus di Suriname. Kemungkinan kedua, Pemerintah Suriname mengirim calon-calon dalang ke Yogyakarta untuk menjalani kursus pedalangan.
   "Kesimpulan pasti dari pembicaraan tersebut belum ada, tetapi minimal sudah ada jembatan untuk mengatasi persoalan regenerasi dalang di Suriname," papar Sapto.

Modifikasi

   Meski minim dalang, antusiasme masyarakat Suriname terhadap seni wayang sangat besar. Setiap pementasan wayang disaksikan setidaknya 400-500 penonton. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan penonton wayang di beberapa tempat di indonesia.
   Adapun penikmat wayang di Suriname tidak hanya warga keturunan Jawa, tetapi juga sejumlah etnis lain, seperti Tionghoa, India, inggris, Belanda, dan mereka yang berasal dari Afrika.
   Agar mudah diterima berbagai kalangan masyarakat Suriname, sapto pun memodifikasi penampilannya dengan lagu-lagu di sela-sela kisah pewayangan. Ia juga menggunakan sejumlah bahasa, mulai bahasa Inggris, Hindustan, Jawa, hingga Sranan Tongo, bahasa khas Suriname setelah Belanda.
   Meski ada modifikasi, dia tetap mempertahankan cerita pewayangan baku pada pementasan. Seperti dalang pada umunya, bagian babak pewayangan di mana dia bisa bebas berekspresi dan melakukan modifikasi adalah pada segmen goro-goro.
   Seperti kebiasaan masyarakat Jawa pentas wayang kulit rutin pada upacara adat, mulai dari tujuh bulanan dan kelahiran bayi, pernikahan, sunatan, ulang tahun, sampai bersih desa. September mendatang, Sapto tampil sebulan penuh berkeliling Suriname untuk merayakan tradisi bersih desa.
   Tak hanya mendalang, Sapto juga aktif memotivasi kaum muda keturunan Jawa di Suriname agar tak melupakan budaya dan tradisi Jawa.
Pesan-pesan budaya itu dia sampaikan dalam acara khusus di stasiun televisi lokal Suriname, Mustika, dalam rubrik Gumelaring Jagat.
   Haus akan khazanah budaya Jawa, tahun 2000 Sapto menelusuri naskah kuno Jawa di perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) di Belanda. Selama dua minggu dia mempelajari manuskrip kuno Jawa yang ditulis dalam huruf Jawa. Pada masa penjajahan, naskah itu diangkut dari Indonesia ke Belanda.
   "Saya tak bosan belajar dan memberi ajaran adat istiadat Jawa kepada siapa pun. Jika tak ada lagi yang melestarikan, kami yang berada di tanah perantauan akan lupa asal-usul dan adat istiadat leluhur," ungkap Sapto yang tinggal di Boxel Paraweg 15, Distrik Wanica, Suriname, ini.
   Selain berusaha menarik minat kaum muda pada dunia pedalangan, Sapto juga berharap dirinya bukanlah dalang terakhir di Suriname.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 24 MEI 2013

Jumat, 12 April 2013

Dewi Kusmianti dan Tonton Paryono: Hidup Sejahtera bersama Sampah

TONTON PARYONO
Lahir: Bandung, 31 Juli 1973
Pendidikan:
- SD Gumuruh 2, Bandung, lulus 1989
- SMP Muslimin 2 Bandung, 1992

DEWI KUSMIANTI
Lahir: Bandung, 20 Juni 1975
Pendidikan:
- SD Bandung Raya, 1988
- SMP Pasundan 7 Bandung, 1991
- SMA Muslimin 1 Pagi Bandung, 1994
Anak:
- Ayu Dwi Yanti (17)
- Muhammad Yusuf Mauliawan (14)
- Tri Septiani (11)
Penghargaan:
- Pengelola sampah Konsep 3 R Hari Lingkungan Sedunia Kota Bandung untuk 
  My Darling, 2011
- Penghargaan Msyarakat Peduli Lingkungan 2012
- Tokoh Dewi Sartika sebagai Ibu Teladan Lingkungan 2012 Jabar
- Pikiran Rakyat Award Kategori Lingkungan, 2013

Suatu hari delapan tahun lalu, corat-coret sisa rapat tentang pemilahan sampah di papan tulis di lembaga swadaya masyarakat Studi Mitra Lingkungan membuat Dewi Kusmianti (38) penasaran. Sebelum dihapus, ia membacanya sampai tuntas. Beberapa inti tulisan dicatatnya.

OLEH CORNELIUS HELMY

Pikiran Dewi lantas melayang pada keluhan suaminya, Tonton Paryono (40). Pengangkut sampah di RW 011 Kelurahan Cibangkong, Kota Bandung, itu kewalahan mengelola timbunan sampah seorang diri.
   "Sampah plastik dipilah dan dibuat kerajinan tangan. Selain meringankan beban suami, juga bisa memberi keuntungan ekonomi," pikir Dewi yang kala itu bekerja sebagai petugas kebersihan di Studi Mitra Lingkungan.
   Setelah dibicarakan dengan suaminya, konsep itu mulai mereka kerjakan pada April 2005. Saat itu, di tempat pembuangan sampah (TPS), timbunan sampah mencapai 4 meter. Sampah berasal dari sekitar 9.000 warga RW 011 yang tak pernah diangkut sejak tahun 1996.
   Selain memilah plastik di TPS RW 011, mereka juga membeli langsung dari warga. Modal untuk itu disisihkan dari penghasilan keduanya sekitar Rp 600.000 per bulan. Sampah anorganik dibeli Rp 400 per kilogram dan sampah plastik bermotif Rp 50-Rp 100 per lembar. Pembayaran dilakukan saat tagihan mencapai Rp 50.000 per orang.
   Cara itu membuahkan hasil manis. Kemampuannya menganyam dari bahan bungkus plastik bekas memberikan penghasilan tambahan. Dalam sebulan Dewi bisa menjual 30 dompet atau tas kecil Rp 5.000-Rp 10.000 per buah. Kerja suaminya sebagai pengangkut sampah juga lebih ringan karena volume sampah berkurang hingga 40 persen setiap hari.
   Peluang ekonomi itu juga dilirik oleh 12 ibu tetangganya di RW 011. Tahun 2009, mereka lantas bergabung dan menamakan diri Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling) untuk memudahkan pembelian sampah dan pemasaran hasil kerajinan.
   "Kelompok My darling terus berkembang. Saat pertama berdiri, keuntungannya hanya Rp 800.000 per 12 orang per tahun. Sekarang setiap anggota bisa untung Rp 500.000 per tahun," ujar Dewi.
   Tak lama kemudian My Darling mendaftar menjadi peserta program Bandung Clean and Green yang digagas Pemerintah Kota Bandung pada 2010. Awalnya hanya ingin memperkenalkan diri, tak disangka konsep My Darling dinobatkan menjadi 15 peserta terbaik.
   Sukses itu membuat Yayasan Sumbangsih Nuansa Indonesia kepincut. Dana bantuan Rp 15 juta digelontorkan untuk memilah sampah. Namun, karena minim pengalaman, uang itu hanya digunakan untuk mengangkut sampah dari TPS.
   Oleh karena tak ada mobil khusus pengangkut sampah, Dewi dan Tonton harus mengeluarkan Rp 450.000 sekali angkut. Sampah masih menggunung, sedangkan uang bantuan ludes dalam enam bulan.
   "Saya banyak belajar. Banyak uang tanpa program yang benar tidak akan menghasilkan apa-apa," katanya.
   Kesempatan kedua datang. Beragam tawaran bantuan mengalir kembali untuk mereka. Tak ingin mengulang kesalahan, anggota My Darling kali ini menolak uang tunai. Mereka meminta bantuan ilmu teknologi dan alat pendukungnya.
   "Sikap itu mendapat apresiasi pemerintah dan kalangan swasta. Kami diberi ilmu pembuatan kompos, energi sampah, hingga mengurangi residu sampah bersama alat pendukung. Total mungkin Rp 100 juta. Tumpukan sampah setinggi 3 meter itu diangkut gratis," kata Dewi yang juga menjadi tukang ojek.

Berbagi

   Bumi seperti runtuh saat Dewi dan Tonton dipecat dari perusahaan konfeksi tahun 2003. Padahal, saat itu mereka butuh biaya besar untuk pengobatan tiga  anaknya. Anak sulungnya sakit diabetes, anak kedua menderita autis, dan si bungsu digerogoti radang otak.
   "Istri saya mengamen di lampu merah. Lamaran kerja yang saya ajukan tidak ada yang mau terima. Bahkan, untuk kontrak rumah saja saya tidak mampu. Kami sering tidur di jalan," kata tonton mengenang.
   Titik balik terjadi saat orang tak dikenal membayar biaya perawatan rumah sakit untuk anak Dewi sebesar Rp 1 juta. Dermawan itu hanya mengatakan, saling membantu adalah kewajiban semua makhluk Tuhan.
   "Saya lantas berpikir, kalau selama ini hanya meminta, suatu saat saya harus bisa memberi. Sampah ternyata jalan yang diberikan Tuhan agar saya bisa berbagi. Tak lama kemudian kami bekerja sebagai petugas kebersihan dan pengangkut sampah," ujar Tonton.

Teladan

   Sukses bersama My Darling tak membuat Dewi dan Tonton berpuas diri. Mereka yakin, semangat ibu-ibu di RW 011 masih bisa dikembangkan.
   Lewat perkenalan dengan beberapa orang dari berbagai disiplin ilmu, Dewi menggagas sekolah ibu pada 2011.
   Sekolah ini menjadi rumah pelatihan bagi ibu-ibu RW 011 mengelola keuangan, penataan lingkungan, pola hidup sehat, dan pelatihan usaha.
   "Gurunya pakar lingkungan, dokter, hingga analis keuangan. Mereka mau datang tanpa dibayar dan membagi ilmu dengan 12 murid sekolah ibu," ujar Dewi.
   Harapan mereka tak bertepuk sebelah tangan. Semangat ibu-ibu RW 011 membuat keberadaan sekolah ibu menjadi berarti. Tak sedikit ibu-ibu itu mulai membuka usaha pembuatan bakso sehat, penjualan baju, hingga tahu pentingnya hidup sehat dan higienis.
   "Dari sebelumnya menganggur, mereka punya kegiatan positif yang menghasilkan uang untuk keluarga," ujarnya.
   Keringat dan air mata Dewi dan Tonton perlahan menjadi teladan. Kini, ada empat kawasan di Kota Bandung yang sudah menerapkan konsep bank sampah. Ada pula kelompok masyarakat di Kepulauan Riau, Bali, dan Kalimantan Tengah yang juga tertarik mengembangkan hal serupa.
   Puluhan skripsi dan tesis mahasiswa berbagai perguruan tinggi juga lahir dari sampah. Mahasiswa menilai konsep My Darling dan sekolah ibu itu sebagai kemandirian yang menyelamatkan Bandung dari lautan sampah.
   Tak jarang mahasiswa pun menginap di rumah kontrakan Dewi dan Tonton yang berjarak sekitar 200 meter dari TPS selama mereka menyelesaikan tugas. Jarak rumah yang dekat dengan TPS memudahkan penelitian mereka pada My Darling dan sekolah ibu.
   "Kami belum tahu apakah tahun depan masih di sini atau tidak. Pemiliknya mengatakan, saya harus membayar Rp 40 juta atau  pindah karena rumah mau dijual. Mungkin saya belum punya uang saat ini, tetapi kalau mau berusaha pasti ada jalan," kata Dewi.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 11 APRIL 2013