Minggu, 16 Januari 2011

Gunawan, Gerakan Menularkan Ilmu Batik


BIO DATA
Nama : Gunawan Setiawan
Lahir : Solo, 19 Oktober 1971
Pendidikan : S-1 Manajemen Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
Istri : Dian Sari (36)
Anak-anak :
- Sofia Hasna Hamidah (11)
- Sabrina Qurrota Aini (9)
- Aisya Zakiyyah Ningrum (7)
- Khanza Putri Azizah (3)
Kegiatan organisasi/pelatihan :
- Ketua Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman
- Berbagai Pelatihan Membatik, seperti di Nanggroe Aceh Darussalam untuk korban Tsunami,
Festival Batik Nusantara (2007), dan bagi penerima bea siswa seni dan budaya Pemerintah
Indonesia dari negara-negara ASEAN (2006)

Batik itu bicara tentang proses, bukan hasil. Kata-kata ini sering kali diucapkan Gunawan Setiawan (38) saat bicara tentang batik. Pengusaha batik yang juga Ketua Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman, Solo. Jawa Tengah. ini berkeyakinan, orang yang mengetahui dan memahami bagaimana proses membatik akan menghargai batik.

Oleh SONYA HELLEN SINOMBOR

Sayangnya, sekarang ini banyak orang menikmati hasil daari batik, terutama lewt busana, tetapi tidak banyak yang mengetahui, apalagi mengerti/memahami proses membatik. Tak cuma itu, hanya sedikit yang bisa membedakan mana batik tulis halus, batik cap, dan tekstil bermotif batik (printing).
Padahal, di pasaran, tekstil bermotif batik kini mendominasi. Harganya pun jauh lebih murah dibandingkan batik tulis halus dan batik cap. Kecanggihan teknologi juga membuat tekstil bermotif batik semakin mirip sehingga orang makin susah membedakan dengan batik tulis halus dan batik cap.
"Tahun 1990-an orang Solo masih bisa bilang, ini printing, dengan cara membolak-balik kainnya. Cukup melihat motif bagian luar dan dalamnya. Kalau di luarnya bagus dan bagian dalam kelihatan tipis, dibilang itu printing," ujarnya.
Minimnya pengetahuan orang tentang pembuatan batik mendorong Gunawan untuk terus menyosialisasikan batik kepada semua kalangan, termasuk mendorong lahirnya perajin-perajin baru batik di Kampung Kauman yang dulu pernah memiliki saudagar-saudagar batik yang berjaya.
Sejak tahun 2006 pemilik Rumah batik Gunawan Setiawan ini, bersama beberapa pengusaha batik dan pemerhati batik, membentuk Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman untuk melestarikan dan mengembangkan batik.
Paguyuban ini memberikan pelatihan batik secara gratis kepada masyarakat sekitar Kampung Kauman yang berada di kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat. Pelatihan membatik diberikan dengan mengajarkan teknik-teknik membatik, mulai dari menggambar motif/corak batik, menggunakan peralatan membatik (canting), menggunakan malam (lilin untuk membatik), pewarnaan, hingga proses akhir membatik.
Pelatihan membatik gratis ini menggandeng karang taruna setempat, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, dan mitra bisnis pengusaha batik yang memiliki usaha garmen.
Untuk modal pelatihannya, Gunawan dan anggota paguyuban rela patungan menyediakan peralatan membatik, mulai dari kain, canting, pewarna, termasuk meminjamkan rumah batik untuk tempat pelatihan. Metode pelatihan pun sederhana. Sekali latihan, pesertanya lima sampai tujuh orang.
'Semuanya jalan bareng. bagi kami, kalau melatih tetangga dan mereka berhasil, Insya Allah itu bermanfaat buat kita semua. Ternyata niat kami menularkan ilmu batik tidak sia-sia,' ujar Gunawan.
Setelah tiga tahun berjalan, kini lebih dari 50 perajin/pedagang batik lahir di Kampung Batik Kauman. Bahkan, sekitar 50 pedagang memiliki ruang pamer yang cukup besar. Padahal sebelum tahun 2006 pedagang batik di Kampung batik Kauman yang memiliki ruang pamer kurang dari 10 orang.
"Selain punya ruang pamer, banyak yang pameran di mana-mana, bahkan sampai ke luar negeri. Ada yang dilirik menjadi mitra badan usaha milik negara," ujar Gunawan, yang baru-baru ini dianugerahi sebagai salah satu "Mutiara Bangsa" (aksi sosial Tembang Gesang-Tembang Kehidupan) karena mendedikasikan diri untuk orang lain.

Kampung wisata

Usaha untuk melestarikan dan mengembangkan batik mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Solo. Kampung Batik Kauman, bersama Kampoeng Batik Laweyan, kini menjadi salah satu ikon Kota Solo sebagai kampung wisata batik. "Pemkot Solo juga memberikan dukungan modal usaha dan bantuan mesin jahitnya," ujarnya.
Untuk mendukung kampung wisata batik, sejak 2006 didirikan museum batik di Kampung Batik Kauman. Di museum yang menempati rumah peninggalan salah satu saudagar batik yang berjaya pada masa lalu itu dipamerkan ratusan lembar kain batik berusia diatas 35 tahun dan berbagai peralatan membatik.
Selain pelatihan membatik secara gratis bagi tetangga di Kampung Batik Kauman, Gunawan juga aktif membagikan ilmu batik kepada berbagai kalangan. Tamu-tamu yang datang berbelanja di Rumah Batik Gunawan Setiawan selalu diajak menyaksikan proses membatik di tempat produksi batik yang juga rumahnya.
"Konsumen harus tahu proses membatik. Ini cara paling mudah untuk mengenalkan batik kepada semua orang," ujarnya. Kini dia membuka pintu rumah produksi batik untuk tempat belajar membatik bagi kalangan pendidikan, termasuk dari luar negeri.
Menyadari batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang terus mengalami perkembangan, Gunawan pun tak berhenti mengembangkan batik. Melengkapi kekayaan motif batik Indonesia, tahun 2008 Gunawan memperkenalkan motif baru batik yang diambil dari beberapa motif pamor keris yang diangkat dari pola pamor keris/pusaka.
Sekitar 12 motif pamor keris diproduksi rumah batiknya, yakni motif udan, pari sawuli, ron kendhuru sungsang, winengku, blarak sineret, pandhan iris, tunggul kukus, tritik, walang sinundukan, ron jagung, bendha segada, dan ron kendhuru sinebit. "Ternyata motif pamor keris yang sarat dengan arti dan filisofi bisa dikembangkan di kain," ujarnya.

Proses panjang

Lahir dari keluarga pembatik membuat Gunawan sangat paham dengan proses membatik. Sejak tahun 1981 dia bersama kakaknya, Muhyidin dan Uswatun Hasanah, melanjutkan usaha batik orangtua mereka, Muhammad dan Siti Badriyah.
Berdagang batik, menurut Gunawan, tidak sekadar berbisnis atau soal untung rugi. bagi Gunawan, batik merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan, dikembangkan, dan dilindungi sampai kapan pun.
Salah satu cara melindungi dan menghargai batik adalah menanamkan kebanggan menggunakan batik kepada setiap orang. Dengan demikian batik tidak lagi dipandang hanya sebatas busana yang dipakai pada momen tertentu, tetapi batik menjadi kebutuhan sehingga ada kewajiban mengenakannya setiap saat dalam berbagai aktivitas.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 12 OKTOBER 2009

Keutamaan Cinta Sintha Hidayat


SINTHA HIDAYAT

Lahir : Pekalongan, 7 Desember 1950
Pendidikan : Sempat kuliah di Jurusan Arsitektur, Universitas Diponegoro, Semarang

Seorang anak berusia sekitar 10 tahun berlari kencang di tengah hujan deras di depan pasar swalayan di daerah Jakarta Selatan. Dia menerobos kerumunan anak-anak pembawa payung yang mengerubungi Sintha Hidayat (60).

OLEH MARIA HARTININGSIH

"Jangan,,,,,jangan,,,,,itu temanku," anak itu berteriak, "Bu Sintha..Bu Sintha,,," Sintha menoleh, mencoba mengingat wajah anak yang menyodorkan payung itu. Tubuhnya yang kecil basah kuyup, tetapi ia tertawa ceria.
"Ternyata dia anak Jalan D," ujar Sintha sambil menyebut daerah kumuh tepat bermukim pemulung dan masyarakat miskin, suatu komunitas yang telah memberikan pelajaran hidup luar biasa kepadanya selama 22 tahun terakhir.
Anak itu menolak uang jasa yang diberikan Sintha dan baru mau menerima setelah dipaksa. "Di dalam mobil, perasaan saya seperti di aduk-aduk,"
Peristiwa siang itu hanya satu dari rangkaian pengalamannya bekerja dengan pemulung dan warga miskin,pengalaman yang mengantarkan Sintha pada permenungan sangat panjang tentang hidup.
"Saya kehilangan Pak Sidik," sambung ibu tiga anak, nenek dua cucu ini. Sebagai bagian dari Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT) di Indonesia, Sintha mengukuhi kebenaran ucapan Ibu Teresa dari Kolkatta, India-pendiri Misionaris Cinta Kasih (MC)- bahwa yang terpenting dari kerja kemanusiaan adalah bagaimana tetap setia untuk terus bekerja dan berupaya, bukan targetatau keberhasilan.
PakSidik sudah tua dan sebatang kara. Ketika diantar tetangga ke rumah transit KKIT di wilayah Jakarta Barat, ia sudah tiga bulan terbaring lemah di lapaknya. Pak Sidik mengaku dikhianati centeng pemulung yang berniat mengusirnya dari lapak dalam keadaan sakit karena dianggap sudah tidak produktif. Di rumah transit, Pak Sidik dirawat sampai kondisinya membaik sebelum kemudian pergi tanpa pamit.

Gelap dan sepi

Kurun waktu 22 tahun bukan waktu yang singkat. Meski tak relevan membandingkan dengan perjalanan spiritual Ibu Teresa yang terekam dalam buku Come be My Light (2007), bukan berarti Sintha tak mengalaminyanya. Ia sempat dibayangi penyangkalan dan hampir mundur karena merasa tak sanggup.
"Kalau melihat lagi ke belakang, saya sadar, tak ada yang kebetulan dalam hidup ini," kenang Sintha.
Semua bermula ketika ia terkesan membaca artikel tentang Ibu Teresa di Kolkatta di majalah Intisari tahun 1980-an. Namun, ketika diajak teman ke pertemuan kecil yang mendalami spiritualitas Ibu Teresa, awalnya ia enggan. Anak-anaknya maasih kecil dan banyak urusan di rumah. Ketika akhirnya ia mau pergi, hatinya tergetar oleh doa-doa indah Ibu Teresa dan mulai diusik pertanyaan, "Apa saya bisa menjalaninya?"
Dalam keraguan itu, ia diajak mengunjungi pasien miskin penderita kanker. Sintha menolak karena "Saya tidak tahan melihat orang sakit."
Ia terpaksa berangkat karena kehabisan alasan. "Di situ saya bertemu seorang anak dengan kanker di mata, Miris sekali. Waktu mau masuk ke kamar seorang ibu dengan kanker payudara yang sudah infeksi, saya mundur. Saya takut dan tidak tahan baunya."
Malamnya ia menceritakan pengalamannya kepada suaminya, Irwan Hidayat, pengusaha Jamu Sido Muncul. Namun, Sintha merasa Irwan tidak peduli. "Saya stress dan ngganjel karena tak tahu mesti cerita sama siapa."
Tahun 1985-an itu ia juga pernah coba ikut kegiatan di panti jompo, tetapi tak tahan juga. "Saya mulai putus asa. Saya merasa tak cocok berada di kelompok itu, tetapi mengapa saya terusik ya?"
Suatu malam, Irwan yang sedang membaca buku tentang Ibu Teresa bertanya kepadanya, "Siapa yang menyuruh kamu masuk KKIT?"
Pertanyaan itu membuat Sintha gelisah. "Pertanyaan 'siapa yang menyuruh' itu terus terngiang. Bukannya semua datang dari diri saya? Tiba-tiba semuanya terang benderang. Semua datang dari suara hati. Itu panggilan Yang Ilahi. Saya harus mampu melewati ini semua......."

Warung sehat

Ketika membantu kegiatan warung sehat KKIT di Jembatan Tomang, jakarta, ia terpana. "yang antre banyak sekali dan makanan habis dalam 30 menit, saya merasa saya bisa melakukan ini, tetapi Tomang kan cukup jauh."
Sintha dan teman-temannya menemukan suatu lokasi tempat bermukim pemulung dan kelompok masyarakat kelas bawah, tak jauh dari rumahnya. Setelah berhasil mendekati mereka, dan mulai membuka warung sehat, persoalan lain muncul. Mereka tak boleh menggalang dana. "Ibu Teresa mengatakan, kerja kemanusiaan bukan kerja sosial mengumpulkan dana. Ada pertanyaan yang harus dijawab: beranikah kita?"
Ia mulai dengan dana sendiri, empat kali sebulan "menjual" makanan sehat kepada mereka yang terpinggirkan di sekitar tempat tinggalnya. Kemudian bergantian dengan teman-temannya, lalu urunan mendanai kegiatan itu.
"Ketika tahu kami mengutip uang Rp. 50 per orang, MC protes. Kami jelaskan, orang miskin punya harga diri. MC tetap menolak karena jalan Ibu Teresa adalah memberi. Akhirnya kami menyerah, tetapi bingung bilangnya sama warga kenapa jadi gratis. Mulanya alasan ulang tahun, tetapi mosok ulang tahun terus."
Akhirnya ketemu juga jalannya. "Bayar Rp. 50 seperti biasa, tetapi uangnya ditabung, dari yang recehan, sekarang ada yang menabung sampai Rp.150.000 per minggu. Kami buat buku tabungan sederhana dengan foto, tanpa potongan, tanpa bunga, bisa diambil kapan saja. Ada 506 orang yang mengambil saat Lebaran kemarin."
Kegiatan itu juga memberikan bantuan obat-obat ringan yang dibutuhkan. "Seperti salep gatal karena kehidupannya memang seperti itu. Kami mengajari hidup bersih, tetapi tetap tak mudah," tutur Sintha.

Meretas prasangka

Kegiatan itu sempat harus berhadapan dengan prasangka. yang paling serius adalah tuduhan mengkristenkan warga. Prasangka itu gugur karena dalam KKIT ada banyak orang dari berbagai keyakinan.
Warung sehat dengan seluruh kegiatannya itu membuat Sintha memahami kemiskinan dalam bentuk paling telanjang dan menguatkan kepekaannya berbela rasa. Kegiatan yang dia katakan "kecil" itu ia tekuni sepenuh hati.
Kepasrahan total pada penyelenggaraan Ilahi membuat Sintha mengakrabi bau menyengat dan banyak hal lain terkait kekumuhan. Secara gradual, ia seperti terlahir kembali. tahun 1997, bersama rombongan dari Indonesia, Sintha menjadi relawan di Rumah MC untuk orang-orang sekarat di Kalighat, Kolkatta.
"Jalan D itu sekolahku," ujar Sintha. Kegiatan itu telah memberi inspirasi kepada banyak orang yang kemudian melakukan hal serupa pada lebih dari 100 lokasi.
Kerja kemanusiaan adalah labirin gelap dan sepi. Tak banyak orang berani memasukinya. Di situ Sintha bersimpuh dengan setia menjadi saksi bagi keutamaan cinta. Seperti di tuturkannya, "Saya tidak bisa lagi berhenti."

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 17 JANUARI 2011

Kamis, 13 Januari 2011

Lukman, Hutan dan Penjaga Kehidupan


LUKMAN HAKIM

Lahir : Kampung Dukuh, Mei 1958
Pekerjaan : Kepala Adat dan Kuncen Kampung Dukuh
Istri : Rohyati (47)
Anak :
1. Dewi
2. Zam Zam
3. Komar
4. Han Han
5. Her Her
6. Maziah
7. Ifan
8. Ipin
9. Neneng
10. Muti
11. Baban
12. Ihda
Cucu : 7 orang

"Sekali hutan boleh dibeli, semua hutan akan dibeli. Uang membuat orang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dibeli dan dimilikinya."

Oleh ANTON WISNU NUGROHO dan AGUSTINUS HANDOKO

Kesadaran itu yang membuat Lukman hakim dan warga Kampung Dukuh, Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mempertahankan kelestarian dan penguasaan atas hutan. Upaya itu dinyatakan dalam penamaan atas hutan itu sebagai hutan larangan dengan sisa luas sekitar 10 hektar.
Hutan menjadi jantung kehidupan warga. Berawal dari hutan yang utuh, air keluar dari tanah menjadi sumber kehidupan masyarakat. "Siapa yang tak butuh air?" tanyanya.
Ia mendapati kesadaran itu bukan dari bangku sekolah. Lukman tak tamat SD. Kesadaran yang menuntun pada sikap hidup itu didapat dari interaksinya dengan hutan yang menghidupi warga Kampung Dukuh sejak lama.
Dia menjadi pengawal kelestarian hutan larangan di Kampung Dukuh. Hutan itu membuat warga tetap dengan mudah mendapatkan air di beberapa mata air yang terjaga karena hutan yang lestari.
"Tinggal 10 hektar areal hutan yang bisa kami pertahankan, karena memang milik kampung adat. ratusan hektar tanah di ssekitar kampung ini sudah menjadi lahan pertanian atau perkebunan sejak penjajahan sampai sekarang," tutur Lukman yang sejak 10 tahun terakhir menjai Kepala Adat Kampung Dukuh.
Jabatan itu juga membuat dia menjadi kuncen (juru kunci) ke 14 Kampung Dukuh. Pria yang selalu memakai ikat kepala dengan "antena" itu menjadi kuncen menggantikan ayahnya, Mamak Bani, tahun 1997. Terpilih sebagai kuncen dia hayati sebagai "kecelakaan" karena dia tak ingin mengisi posisi itu.
Pencarian Lukman sebagai Kuncen Kampung Dukuh diawali saat ibunya meninggal tahun 1987. Ayahnya, Mamak Bani, lebih dulu meninggal. Lukman sebelumnya telah keluar kampung. Posisi kuncen selama tiga tahun dipegang kakaknya, tetapi karena sang kakak sakit stroke, Lukman dicari-cari untuk menggantikan.
"Saya sebetulnya tak sanggup. Kuncen itu juga harus menjadi pemimpin agama. Menjadi kuncen juga memegang masjid. Saya sudah mempersilahkan siapa yang mau dan mampu untuk itu," ujarnya.
Lukman yang sudah tinggal di luar kampung dukuh dan telah tersentuh modernisasi tetapdicari dan diminta menjadi kuncen. Apalagi sselama kepemimpinan kakaknya, banyak perselisihan dan keributan antarwarga. Untuk mencari penyebab, warga Kampung Dukuh bertanya kepada para tetua kampung yang menyarankan agar mencari kuncen baru.
Setelah satu bulan pencarian, Lukman ditemukan. Ia dibujuk menjadi kuncen. Tak lama ssetelah itu, Kampung Dukuh tenang. Lukman yang biasa berkebun dan memburubabi hutan pemakan hasil kebun tak paham mengapa. Namun, semua warga kampung Dukuh yang tua atau pun muda mematuhinya.

Kenapa dijual?

Menjadi kuncen membuatnya lebih menaruh perhatian pada kehidupan semua warga Kampung Dukuh. Sejumlah ritual keagamaan yang diturunkan sejak nenek moyang dipimpinnya. Diantara ritual itu adalah ziarah makam leluhur di hutan larangan, dan ritual "menanam" air di sumber air yang ditemukan sambil menanam pohon.
Lukman juga harus mampu menjabarkan sejarah berdirinya Kampung Dukuh untuk generasi penerus dan para tamu. Maka, buku pegangan turun-temurun dengan aksara Arab dan berbahasa Jawa dia pelajari. Buku itu juga yang akan diwariskan kepada kuncen berikutnya.
Dari buku itu, dia tahu bahwa hak ulayat masyarakat adat ketika komunitas itu terbentuk tahun 1689 mencapai 600 hektar lebih. Perlahan-lahan hutan adat itu beralih dan dikuasai perkebunan milik pemerintah kolonial, dilanjutkan pemerintah, dan perusahaan swasta.
"Dari cerita turun-temurun, saat Indonesia menyatakan kemerdekaan, hutan adat masih utuh. Setelah itu, perlahan-lahan hutan rusak bersamaan dengan peralihan kepemilikan," tuturnya.
Ia mendapati kawasan hutanyang kemudian dimiliki pemerintah dan perusahaan swasta itu rusak. Di sini ia mempertanyakan niat pemerintah untuk melestarikan hutan.
"Apa betul pemerintah ingin melestarikan hutan? kalau hendak melestarikan, kenapa dijual, Sekali dijual, semua akan terbeli," ujarnya.
Maka, setiap mendengar ada rencana penjualan lahan ke perkebunan, Lukman menentangnya. Jika pemerintah betul-betul ingin melestarikan, hutan tak seharusnya dijual. lahan yang gundul dan tandus sebaiknya dihijaukan kembali.
"Tak semua tanaman cocok di sini, apalagi kalau hanya mengejar tanaman produksi. Untuk menghijaukan kembali, tanaman lokal harus diutamakan, bukan tanaman daari luar," ujarnya.
Untuk rencana penghijauan itu,Lukman punya konsep. Kelestarian hutan larangan yang menjadisemacam oase di tengah kegersangan perbukitan di Garut adalah buktinya . Dari hutan larangan itu, Lukman dan beberapa warga Kampung Dukuh mengambil biji-bijian tanaman hutan untuk disemaikan.
Di sisi timur Kampung Dukuh, ada lahan persemaian bibit tanaman hutan. Zainuddin (52) sejak dua tahun ini khusus mengelolanya secara tradisional, dan berkembang dengan baik. Tanaman lokal yang berkembang di Garut adalah paria, kiara, gadog, bonteng, pete, jengkol, dan jati alam.
"Mari hijaukan lahan, tetapi kami jangan diabaikan. Bibit tanaman hutan yang dibawa dari luar itu tidak tahan. Kami punya bibit yang lebih tahan," katanya.
Kelestarian hutan larangan secara fisik dijaga dengan pagar bilah bambu. Tak seorang pun boleh masuk hutan larangan tanpa izinnya. Jika larangan itu dilanggar, orang itu akan mendapat masalah. "Kami tak tahu kenapa itu terjadi, dan hanya kuncen yang bisa menyembuhkannya," ujar Zainuddin.
Warga Kampung Dukuh memenuhi kebutuhan hidup dengan berladang. Mereka menanam padi setahun sekali, dan hasilnya mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Gabah hasil pertanian tak dijual, hanya dikonsumsi warga dan para tamu yang kerap datang dan bermalam untuk berziarah.
Dari ladang mereka pula warga mengambil kayu sebagai bahan bangunan utama rumah. Mereka tak mengambil kayu untuk bangunan rumah dari hutan larangan. Warga adat Kampung Dukuh hanya diperbolehkan tinggal di rumah panggung berdinding anyaman bambu, beratap anyaman ilalang, tanpa hiasan.
Lukman tetap berusaha memperjuangkan hak ulayat adat di sekitar hutan. "Ini sangat sulit, padahal kami tak bermaksud menguasai tanah itu. Kami hanya ingin menjadikan lahan sekitar hutan larangan juga terjaga kelestariannya."
Ia prihatin, makin banyak warga diluar Kampung Dukuh kesulitan mendapatkan air bersih, terutama pada musim kemarau. Semua tahu, jawabannya adalah menjaga kelestarian hutan. Tetapi ini pun tak dilakukan. Hutan makin hilang lantaran terus ditebang karena keserakahan.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 19 OKTOBER 2009

Oma Oya : Bertahan dengan Sempeh Saparua


OYA PELUPESSY

Lahir : Saparua, 1938
Alamat : Negeri Ouw (samping Baileo Ouw), Saparua, Maluku Tengah, Provinsi Maluku
Suami : Petrus Pelupessy (almarhum)
Orangtua : Paul Pelupessy dan Wehelmina Pelupessy
Anak : Yoti Pelupessy (41),Christian Pelupessy(40), Ivan Pelupessy (34), Merry Pelupessy (28),
Allen Pelupessy (27), David Pelupessy (25), Nona Pelupessy (17)

Inilah kerja tangan// Gadis lisa boli// Dari dahulu kala// Moyang moyang kami...

Itulah cupikan senandung Oya Pelupessy (72) sembari mengolah tanah liat menjadi sempeh atau gerabah di halaman rumahnya, di Negeri Ouw, Kecamatan Saparua, Maluku Tengah, Maluku.

OLEH A PONCO NUGROHO

Sudah 57 tahun perempuan renta itu melestarikan sempeh berikut lagu warisan nenek moyangnya tersebut.Lagu daerah Maluku itu berkisah tentang tata cara pembuatan sempeh dari tanah liat. Mulai dari proses mengambil tanah, merendam, mengadon, menjemur, hingga membakarnya sebelum dijual. Lagu itu diciptakan oleh nenek moyang orang Saparua agar sempeh tetap lestari.
Lagu itu pula yang menyertai Oma Oya, begitu kerap dia disapa, alam setiap pembuatan sempeh hingga diusianya yang sudah renta. Senandung lagu membuat hati ceria, sehingga pembuatan sempeh yang sulit dan menguras tenaga menjadi ringan dan mudah. "hati senang buat awet muda," tuturnya seraya tersenyum.
Sejak berusia 15 tahun, Oya remaja mulai mempelajari cara pembuatan sempeh dari orang tuanya Paul Pelupessy dan Wehelmina Pelupessy.
Bukan hal aneh memang. Ketika itu, hampir semua warga Ouw di jazirah tenggara Pulau Saparua bekerja sebagai perajin sempeh . Sempeh buatan perajin banyak dipakai oleh warga Saparua, bahkan warga pulau-pulau lain di sekitarnya,termasuk sampai ke Ambon, ibukota Maluku. Sempeh memang menjadi peralatan utama rumah tangga kala itu sehingga banyak dicari.
Oleh warga Saparua, sempeh digunakan untuk memasak papeda (sagu), sagu lempeng atau ikan, dan membuat obat-obatan tradisional. Biasa juga digunakan sebagai wadah suguhan, yang berfungsi seperti piring. Tidak itu saja, bahkan sempeh juga untuk kompor. Warga setempat menyebutnya kompor dari sempeh itu anglong. empeh bisa pula dibuat untuk belangan air, layaknya kendi.
Belangan air ini biasanya dijunjung di atas kepala dengan alas kain penggal. Lingkaran kain berguna untuk menjaga keseimbangan supaya belangan tidak jatuh dari kepala.
"Karena keperluan-keperluan inilah, waktu itu sempeh dibuat dalam ukuran besar," kata Oma Oya.

Pamor meredup

Namun, perjalanan waktu rupanya membuat cerita lain. Pamor sempeh mulai berkurang seiring maraknya peralatan rumah tangga buatan pabrikan, yang ini umumnya dibuat daari plastik atau logam. Satu per satu perajin sempeh di Ouw jadi "mati suri". kalaupun ada perajin yang masih membuat sempeh, itu hanya pekerjaan selingan, saat mereka tidak ada pekerjaan lain.
Namun tidak demikian halnya dengan Oma Oya. Setiap hari dia masih tetap setia membuat sempeh. Padahal, semua itu bukan pekerjaan mudah. Setiap hari dia masih berjalan kaki ke hutan sekitar satu kilometer jauhnya untuk mengambil tanah liat, mengolah dengan jari-jemarinya, menjemurnya, hingga membakarnya sebelum akhirnya dijual.
Oma Oya seperti tidak mau termakan zaman. Dia membuat sempeh masih dengan cara tradisional seperti yang diajarkan orangtuanya. Sempeh setengah jadi masih dibakar dengan gaba-gaba (pelepah pohon sagu), dengan cara menumpukkan sempeh diantara gaba-gaba. Damar yang diperoleh daari Kairatu, Pulau Seram pun masih digunakan untuk melicinkan sempeh setelah dibakar.
Karena menjadi satu-satunya perajin sempeh yang masih rajin membuat sempeh, nenek dari tiga cicit ini sering menjadi rujukan wisatawan asing yang berkunjung ke Ouw. Tanjung Ouw di Negeri Ouw, merupkan salah satu tempat wisata di Saparua. Keindahan Tanjung Ouw pernah dilukiskan penyanyi Bob Tutupoly dalam sebuah lagu.
Turis asing, umumnya warga Belanda, yang masih pnya keluarga atau kerabat di Saparua, ssenang melihat kepiawaian Oma Oya membuat sempeh. Tidak heran jika sejumlah agen perjalanan wisata masih sering membawa rombongan turis ke rumahnya.
Ternyata, semakin hari semakin banyak saja turis yang mendatanginya. Itu bisa jadi karena para turi tersebut menceritakan kepiawaian Oma kepada teman-temannya.
Pernah satu kali, seorang turis yang berkunjung ke Ouw menunjukkan foto Oma Oya kepada warga setempat. Rupanya, dia mencari Oma Oya untuk melihat kepiawaiannya membuat sempeh.
Dari kunjungan para wisatawan ini, Oma Oya memperoleh tambahan penghasilan. Rupanya, setiap turis yang datang selalu memberikan sumbangan sekitar Rp.20.000 - Rp.50.000 setelah melihat ketelatenan Oma Oya.
Namun demikian, semua itu diterimanya dengan lapang hati. bahkan, dia selalu menolak bantuan dari pemerintah karena khawatir dimanfaatkan oleh oknum-oknum pemerintah. Kini, dia juga mencoba membuat sempeh dalam ukuran kecil. Replika sempeh itu dibuat agar turis yang ingin membeli sempeh tidak kerepotan membawanya.
"Kalau besar, tentu mereka akan kesulitan membawanya sebagai oleh-oleh. Kalau kecil bisa mereka bawa dalam tas buat ditunjukkan pada ke teman-temannya," katanya.
Agar terlihat "berseni", Oma Oya menyisipkan sedikit ukiran di sempeh-sempeh mungil ini. Ukirannya sederhana: berbentuk titik, garis, dan segitiga, tetapi cukup membuat sempeh lebih "berwarna" dibandingkan dengan bentuk aslinya.
"Harus dengan perasaan, hati-hati, pelan-pelan,untuk membuat sempeh-sempeh kecil ini. Membuatnya lebih sulit dibandingkan dengan membuat sempeh dalam ukuran besar," katanya.
Kreativitas dan keuletan perempuan yang senang bernyanyi ini berbuah hasil. Setiap turis yang datang selalu membeli sempeh yang dihargainya Rp.15.000 itu. Sementara sempeh ukuran besar untuk keperluan rumah tangga, dijual Rp.25.000. Dalam sebulan, dia bisa menjual 50 sempeh mungil atau dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan penjualan sempeh berukuran besar.
Selain itu, dia juga memodifikasi sempeh sehingga bisa digunakan untuk pot bunga. Beraneka bentuk dan ukuran pot bunga dibuat dan dijual dengan harga sekitar Rp.25.000.
Dari kreativitas dan keuletannya inilah, hasil dari sempeh bisa digunakan untuk menyekolahkan ketujuh anaknya. Ketujuh anaknya kini sudah berkeluarga dan memiliki 40 anak atau cucu bagi Oma Oya.
"Jangan sampai anak-cucu tidak mengenal lagi sempeh. Sempeh warisan nenek moyang yang harus terus dilestarikan," tuturnya. Dia bertekad akan terus membuat sempeh hingga akhir hayat.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 14 JANUARI 2011

Rabu, 12 Januari 2011

KH Abdul Muhaimin: Merangkai Keberagaman


KH ABDUL MUHAIMIN

Lahir : Kotagede, Yogyakarta, 13 Maret 1953
Penghargaan :
- Tasrif Award
- Penghargaan dari Sultan Hamengkubuwono X sebagai Kiai Pemerhati Kebudayaan
Pekerjaan :
- Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat, Kotagede, Yogyakarta
Jabatan :
- Koordinator FPUB
- Ketua Konsorsium Toya Mili
- Ketua Konsorsium Palem
- Ketua Indonesia Conference on Religion and Peace
- Dewan Pembina Impulse
- Beberapa jabatan diorganisasi nirlaba lainnya

Lewat berbagai kegiatan kemanusiaan yang digelutinya, KH Abdul Muhaimin memiliki misi lebih luas. Dia berupaya merajut kedamaian lintas agama dalam bingkai kebinekaan bangsa.

OLEH IRENE SARWINDANINGRUM

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat di Kotagede, Yogyakarta, itu berusaha mewujudkan misinya dengan beragam cara. Pada masa tanggap darurat erupsi Gunung Merapi, November 2010, KH Abdul Muhaimin (57) mengunjungi 13 gereja di DI Yogyakarta yang menampung pengungsi beragama Islam.
Kunjungan itu dilakukan setiap hari menjelang magrib, selama hampir satu bulan. Di gereja-gereja itu KH Muhaimin memberikan siraman rohani kepada para pengungsi dan memimpin acara pengajian.
Sosok KH Muhaimin telah dikenal dalam berbagai gerakan perdamaian antaragama di Yogyakarta. Pada 24 Maret 1997, bersama 70 pemuka agama lainnya, KH Muhaimin mendeklarasikan berdirinya Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB). Deklarsi dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Ummahat yang didirikannya karena saat itu tidak ada yang berani menjadi tempat deklarasi FPUB.
Pendeklarasian FPUB berkaitan dengan seringnya terjadi kerusuhan yang mengatasnamakan agama. Hingga saat ini dia masih aktifsebagai koordinator FPUB yang terus mengkampanyekan perdamaian dalam keberagaman.
Kunjungan ke gereja-gereja yang dia lakukan saat erupsi Gunung Merapi merupakan salah satu upaya meredam konflik agama. Kegiatan ini dimulai menyusul peristiwa pengusiran 200 pengungsi Merapi dari Gereja Katolik Ganjuran, Bantul, DI Yogyakarta, oleh sekelompok orang.
"Kelompok ini mengusung isu Kristenisasi dan melarang pengungsi bernaung di gereja. Padahal, saya sama sekali tidak melihat adanya upaya Kristenisasi saat itu. Ulah kelompok ini justru menambah kekhawatiran pengungsi yang tengah gundah ddan membuat pihak gereja ketakutan," katanya.

Erat hubungan

KH Muhaimin menuturkan, Al Quran memberikan kisah-kisah dramatis mengenai eratnya hubungan Muslim-Kristiani pada zaman dahulu. hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak pernah ada masalah diantara agama-agama tersebut.
Menurut bapak delapan anak ini, meruncingnya konflik akibat perbedaan agama di Indonesia merupakan imbas dari politik internasional Amerika Serikat yang diskriminatif terhadap masyarakat Muslim. Kondisi ini juga dipicu oleh kebijakan yang menekan dari pemerintah Orde Baru.
"Masyarakat Indonesia sekarang ini sebenarnya korban dari semua keruwetan politik itu. Sebenarnya bangsa Indonesia dari dulu adalah bangsa yang rukun dan bisa menghargai perbedaan," tutrnya.
Keprihatinan akan meningkatnya permassalahan karena perbedaan agama ini membuat KH Muhaimin mengambil tindakan-tindakan yang sering mendapat kecaman dari rekan-rekannya sendiri.
Kecaman ini datang salah satunya karena dia sering menerima undangan untuk memberikan sambutan dalam peringatan Natal. Jumat pekan pertama tahun 2011, KH Muhaimin kembali diundang memberikan sambutan dalam peringatan Natal di sebuah institusi pemerintah.
Dari tempat memberikan sambutan pada perayaan Natal itu, KH Muhaimin langsung berangkat ke masjid untuk shalat Jumat. "Kegiatan saya di gereja atau memberikan sambutan pada peringatan Natal tak mengurangi keislaman saya. Toh, saya tidak pernah mengikuti ritus agama lain," tuturnya.

Persahabatan

namun, selain kecaman, keteguhan dan keterbukaannya dalam mengupayakan perdamaian lintas agama ini mendatangkan persahabatan dari bergam kalangan dan agama di seluruh dunia.
Sejak 1990-an, KH Muhaimin membuka pintu pondok pesantren asuhannya bagi semua pemeluk agama yang ingin mengetahui kehidupan masyarakat islam di Indonesia. Dalam buku tamu pondok pesantren yang berada di tengah perkampungan itu tercatat banyak pemeluk agama lain, seperti pemuka agama Budha, Katolik, Kristen, dan Hindu dari dalam dan luar negeri.
Chika Yoshida, mahasiswa Budha asal Universitas Chiba, Jepang, pernah tinggal di Pondok Pesantren Nurul Ummahat selama 1,5 bulan. "Satu-satunya komunitas Muslim yang tidak bisa ditembus globalisasi adalah komunitas pesantren," tulis Yoshida di buku tamu.
Pondok pesantren khusus putri itu telah dikunjungi tamu dari 70 negara,termasuk komunitas agama dari Palestina, utusan Presiden AS Barack Obama, dan para biksu Budha. Mereka meninggalkan kesan positif.
KH Muhaimin mengatakan, membuka pintu pondok pesantren adalah upaya memberikan jalan bagi masyarakat yang berbeda agama untuk belajar satu sama lain dan untuk saling menerima.
Kesadaran akan keberagaman itu tumbuh dari masa kanak-kanak. Muhaimin terlahir dalam keluarga Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat Muhammadiyah, Muhaimin telah mengenal perbedaan sejak kecil. "Saya selalu puasa dan merayakan Idul Fitri berbeda dengan para tetangga saya. Namun, bagi saya, perbedaan itu justru indah karena tetangga pun menghormati kami," tuturnya.
Erupsi Merapi meninggalkan beragam pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Dia kini tengah sibuk membantu pembangunan kembali saluran-saluran air serta penghijauan kembali hutan lereng Merapi yang rusak akibat lahar dan awan panas.
Misi untuk merajut perdamaian dalam keberagaman itu masih terus diusungnya. Untuk pemasangan pipa air, misalnya, dia bekerjasama dengan biarawati Katolik di kawasan tersebut . Dia juga berkoordinasi dengan Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr, pastor di Gereja Somohitan, Girikerto, Turi, Sleman. Koordinator Kampanye Damai FPUB yang juga tengah memasang pipa saluran air di bagian barat Sungai Boyong.
Untuk penghijauan, KH Muhaimin merancang penanaman pohon oleh anak-anak dari berbagai agama. Ditangannya, kemanusiaan pun menjadi alat untuk menggapai kemanusiaan yang lebih luas.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 13 JANUARI 2011

Selasa, 11 Januari 2011

Hariadi, Pengawal Perajin Patung


HARIADI

Lahir : Mojokerto, 1 Mei 1957
Istri : Liswiroh
Anak :
- Elfira Agustina
- Ervina Perwati
- Weda Nata Nara
Pendidikan :
- SDN Trowulan, Mojokerto
- STN Trowulan, Mojokerto
- STM Brawijaya, Mojokerto
Penghargaan :
- Anugerah Kebudayaan tahun 2009, kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya.
Penghargaan ini diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 15 Juni 2009

"Rumah saya sampai empat kali didatangi polisi. Mereka menanyakan foto-foto patung dan menanyakan, adakah patung buatan saya di situ? Saya jawab ada," kata Hariadi

Oleh INGKI RINALDI

Pematung cor kuningan dan perunggu asal Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu bercerita saat heboh seputar temuan sejumlah arca logam koleksi Museum Radya Pustaka, Solo, jawa Tengah, yang selama ini ternyata palsu. Arca aslinya raib entah kemana.
Polisi mendatangi Hariadi karena kepakarannya dalam pembuatan patung cor logam, berbahan kuningan ataupun perunggu.
"Saya bilang, ada patung bikinan saya dalam foto yang ditunjukkan itu. Tetapi saat ditanya siapa pembelinya, saya tidak tahu. Semua barang saya dibeli pedagang, lalu setelah itu tidak tahu lagi kemana,"katanya.
Menurut Hariadi, praktik pembuatan patung-patung cor logam yang dikesankan sebagai peninggalan kuno memang kerap dilakukan perajin karena adanya permintaan. Permintaan itu biasanya datang dari sejumlah kolektor di Brunei Darussalam dan Singapura.
Sejumlah perajin patung-patung tiruan, yang sebagian kerap disangka sebagai benda kuno itu, merupakan bekas murid Hariadi. Ia pun bisa mengenali patung-patung buatan siapa ssaja yang dicurigai sebagai barang palsu.

Generasi awal

Hariadi adalah generasi awal pembuatan patung cor logam di Bejijong. Ia mendapatkan ilmu patung cor logam itu dari Sabar, ayahnya.
Sabar adalah juru kunci Museum Trowulan (1949-1965) yang seskarang bernama Pusat Informasi Majapahit. Sabar merupakan asisten Maclaine Pont, yang bersama Bupati Mojokerto RAA Kromodjojo Adinegoro mendirikan Museum Trowulan pada tahun 1924.
"Pak Sabar belajar car membuat patung dari Pont. Waktu itu Pont sedang membikin patung Yesus, dan ayah saya (Sabar) menjadi pendampingnya. Saat itu Pont menyarankan agar bapak lebih baik membuat patung," cerita Hariadi.
Dari titik itulah Sabar memulai membuat patung yang kemudian diikuti sejumlah kerabatnya. Pada tahun 1972 baru sekitar lima orang-semuanya keluarga Sabar- yang memiliki kemampuan mematung.
Pada tahun 1984, jumlah itu bertambah menjadi 87 perajin. Sekarang, tidak kurang dari 196 lokasi pembuatan patung cor logam di desa itu.
"Tetapi dari jumlah tersebut, yang merupakan perajin asli dan bisa membikin model (patung) hanya 20 orang. Sisanya itu ada yang perajin, ada juga pengepul," tutur Hariadi.

Meniru relief

Hariadi yang merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara ini belajar membuat patung dari ayahnya sejak tahun 1970-an. Mulanya dia belajar teknik dasar mengukir bentuk-bentuk sederhana di bahan parafin, yang selanjutnya dibungkus adonan tanah liat, guna menghasilkan cetakan cor logam.
Patung-patung yang tidak memerlukan detil tinggi seperti bentuk-bentuk hewan, mengawali kepakaran Hariadi. Pada masa itu, ia bahkan sudah memenuhi biaya sekolah dan jajannya dari keterampilan membuat patung.
"Sampai tahun 1981 itulah yang saya kerjakan. Setelah itu saya baru belajar membuat patung-patung yang sesuai dengan peninggalan di museum," kata Hariadi.
Mengambil model-model patung dari relief peninggalan Kerajaan Majapahit, Hariadi baru merasa puas dan mandiri pada 1987. Ia terpaksa memendam keinginannya untuk kuliah pada jurusan seni rupa ASRI Yogyakarta karena ketiadaan biaya.
Keputusannya untuk mandiri dan serius menggeluti pekerjaan sebagai pematung cor logam juga disebabkan penolakan ketika Hariadi hendak melamar di Museum Trowulan.
Profesi sebagai guru SD di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, juga dia rasakan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan panggilan hatinya.
Selain itu, keputusan Hariadi untuk tekun pada pembuatan patung cor logam juga dipengaruhi pameran tunggalnya pada 1984 di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran itu membuat namanya dikenal sebagai maestro pembuatan patung cor logam.
Pasalnya, pada era sebelum itu, banyak ditemukan patung-patung cor logam baru yang di klaim sebagai benda cagar budaya. Salah satu pembuktian kepakaran hariadi ialah saat ia diminta datang ke rumah seorang kolektor seni di Solo yang meyakini seluruh koleksinya adalah benda-benda peninggalan Kerajaan Majapahit.
"Ini peninggalan Majapahit, saya beli semua," kata Hariadi menirukan omongan kolektor tersebut.
Hariadi lalu membuka mata kolektor itu dan memastikan bahwa benda-benda koleksinya adalah patung cor logam buatan masa kini yang dikesankan sebagai benda-benda kuno. Cara mengesankan patung baru sebagai benda kuno itu mudah saja, yakni denganmenambahkan larutan garam, HCL, dan urea disekujur patung yang dibungkus kain untuk selanjutnya dikubur dalam tanah hingga lima bulan lamanya. Setelah itu, ketika digali benda itu akan muncul sebagai "patung kuno".
"Sejak saat itu orderan yang datang pada saya banyak sekali," ujarnya.
Pada saat bersamaan ia juga menjadi "musuh bersama" kalangan pedagang yang menjual patung-patung buatan baru, tetapi diberi pengakuan sebagai benda-benda cagar budaya.

Tangan dan bibir

Karya Hariadi dipasang di Darwin, Australia, berupa sebuah patung Garuda dan patung Yesus di sebuah gereja di Singapura. Selain itu, ada pula patung ikan pesut buatannya di Samarinda, Kalimantan Timur; patung berbentuk lidah api di Jayapura, Papua; serta sejumlah patung dan logo beberapa daerah kabupaten/kota di Indonesia yang juga karyanya.
Harga patung karyanya bervariasi, tergantung ukuran dan kerumitan pengerjaannya. Sebuah patung Budha setinggi ssekitar 50 sentimeter misalnya, dihargai Rp.3 jutaan.
Menurutnya, membedakan patung-patung kuno dengan yang baru sesungguhnya mudah saja. "Patung-patung kuno yang berasal dari Kerajaan Majapahit dikerjakan dengan detail sangat tinggi," katanya.
Untuk bagian yang paling mudah diamati, Hariadi menyebutkan pada tangan dan bibir dari sebuah patung. Selain bagian punggung tangan yang simetris dan halus, telapak tangan biasanya dikerjakan dengan sangat detail hingga menampilkan pola guratan garis-garis tangan.
Hariadi mengakui, hingga saat ini dia sendiri belum bisa menemukan rahasia teknis di balik detail mengagumkan patung-patung cor logam dari zaman Kerajaan Majapahit itu.
"Teknik pembakaran dan teknik pembalutannya belum berhasil saya temukan," ujar Hariadi.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 3 DESEMBER 2009

Kortanius Sabeleake: Memandirikan Korban Tsunami


KORTANIUS SABELEAKE

Lahir : Tateburuk, Mentawai, 6 Januari 1966
Istri : Imer Ajaria Sapalakai
Anak : Gora Sabeleake, Sopit Sabeleake, Karoni Sabeleake
Pendidikan :
- SD Saumanganya, Mentawai
- SMP Sikakap, Mentawai
- Sekolah Pembangunan Pertanian Payakumbuh, Sumatera Barat
- Fakultas Pertanian Universitas Taman Siswa Padang
Pengalaman :
- Yayasan Laggai Simaeruk
- Yayasan Suku Mentawai
- Guru SPP-Padang
- Staf PPL Dinas Peternakan Provinsi Sumbar
- Direktur Yayasan Citra Mandiri, Mentawai
- Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Mentawai 2004-2009
- Petani

"Kortanius Sabeleake adalah inspirator kemandirian korban bencana tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat akhir Oktober 2010. Bersama sejumlah relawan Posko Lumbung Derma, Kortanius membangkitkan kepercayaan diri korban tsunami di dua dusun dari puluhan dusun terdampak. Mereka bangkit membangun kembali dusun mereka yang luluh lantak.

OLEH INGKI RINALDI

Dusun Tumalei, Desa Silabu, Kecamatan Pagai Utara di Pulau Pagai Utara dan Dusun Maonai, Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan di Pulau Pagai Selatan adalah dusun-dusun yang dipilih untuk dibangun kembali secara mandiri. Alasan Kortanius, karena kedua dusun itu merupakan yang terjauh dan relatif sulit dijangkau serta terdampak paling parah.
"Prinsipnya dasarnya, dua lokasi itu merupakan titik terjauh yang tidak diperhatikan pemerintah, sebab dusun-dusun yang dekat saja reltif tidak mendapat perhatian," kata Kortanius. Para relawan Posko Lumbung Derma menggunakan metode partisipatif dengan peran hanya sebagai fasilitator yang membantu, tanpa menggurui.
Selama lebih dari sebulan sejak tsunami menghantam, Kortanius bolak-balik menghadapi ganasnya badai untuk mendistribusikan bantuan ke sejumlah dusun. Dia membangkitkan kepercayaan diri wwarga di dua dusun itu agar membangun kembali kampung mereka. "Badai di laut itu tidak akan membunuh kita asalkan kita bisa berenang. Tidak seperti jika dihantam kayu," katanya.
Semangat menolong yang membuatnya lupa makan minum itu bertambah ketika dia akhirnya sampai di Dusun Maonai, Rabu (27/10/2010), yang luluh lantak. Sebanyak 39 orang dari 172 warga desa itu tewas. Selama setengah jam pertama, ia hanya menemukan pandangan kosong seorang korban yang terus-terusan menyalahkan diri sendiri, karena tidak mampu menyelamatkan istri dan anak-anaknya.
"Setelah setengah jam, baru dia bereaksi dan memeluk saya. Saya katakan, saat ini sudah selesai dan mereka yang meninggal sudah jadi urusan Tuhan. Sekarang bagaimana tanggung jawab kita yang masih hidup," ujar Kortanius.
Beberapa hari kemudian, dia bersama warga mencari lokasi permukiman baru di dataran yang lebih tinggi. Untuk membangkitkan semangat kerja, sejumlah relawan mesti menggunakan trik, misalnya untuk membuat tempat pendaratan helikopter.
"Semua warga ragu dan tidak percaya bahwa mereka bisa membangun sendiri, selama ini mereka berpikir hanya pemerintah yang bisa melakukan pembangunan," kata Kortanius yang bersama relawan dari Posko Lumbung Derma terus mendampingi.
Sejumlah warga di Dusun Tumalei, akhir Desember lalu, mengatakan mereka sepakat menyerahkan lahan dan tanaman di atasnya untuk permukiman baru. Kepala Dusun Tumalei, Albinus Saogo (43) menyatakan peran Kortanius relatif besar dalam menggugah kesadaran warga untuk mandiri.
Warga di dusun itu bekerja sukarela untuk membangun kembali kampung mereka. "Pekerjaan di perkampungan itu dibagi habis kepada seluruh warga," kata koordinator pembangunan hunian tetap di Dusun Tumalei, Reigen Sidarius Sakoikoi. Setiap hari Senin hingga Jumat, mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00 semua warga bergotong royong membangun perkampungan.
"Hari Sabtu kesempatan warga mencari tambahan penghasilan untuk keperluan makan keluarga, dan hari Minggu untuk ibadah," kata Reigen. Seluruh bahan kebutuhan untuk pembangunan rumah seperti kayu diambilkan dari lahan milik warga.

Banyak tantangan

Tantangan terus dihadapi Kortanius ketika mendampingi warga selama proses itu. Mulai dari ketidakpercayaan warga, hasutan, penolakan, hingga tidak sinkronnya pembangunan mandiri oleh korban bencana itu dengan pemerintah.
Pemerintah telah menetapkan sejumlah titik pembangunan hunian sementara bagi ribuan korban tsunami. Lokasinya ditetapkan secara sepihak oleh pemerintah di wialayah yang relatif jauh dari permukiman lama.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menetapkan jumlah hunian sementara sebanyak 1.632 unit dengan biaya pembangunan Rp.24 juta per unit. Lokasi-lokasi pembangunan hunian sementara itu akan berada di sejumlah dusun di Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan, dan Pulau Sipora.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno selalu mengatakan, korban tsunami yang sebelumnya tinggal terpisah disejumlah dusun harus di satukan permukimannya. Alasannya, penyatuan itu guna mendekatkan pelayanan pemerintah, seperti sekolah, puskesmas, dan sebagainya, termasuk pembangunan layanan telekomunikasi.
Kortanius tidak bisa menerima logika itu. Menurut dia, masyarakat Mentawai memiliki kekhususan karena tinggal di kepulauan. Kewajiban pemerintah melayani mereka, bukan sebaliknya. "Saya pikir, masyarakat bisa merencanakan masa depan mereka sendiri. Kita tidak bisa mendeklarasikan soal masa depan masyarakat," katanya.
Tantangan juga sempat datang dari warga. Tiga orang operator mesin pemotong kayu sempat mundur karena termakan hasutan, bahwa pembangunan di dusun dijatah uang yang banyak. Tetapi, akhirnya mereka bekerja kembali setelah melihat hampir semua warga ikut bergotong royong.
"Kalau dengan pola proyek, saya tidak mau, karena pasti semua orang akan menuntut bagian. Kami tumbuhkan gotong royong dan kami ikut di dalamnya sebagai bentuk keprihatinan," ujar Kortanius.
Menurut dia, apa yang dilakukannya bersama relawan Posko Lumbung Derma sesungguhnya relatif mudah, murah, dan bisa dilakukan oleh siapapun. Apalagi , negara memiliki kewajiban untuk membebaskan warganya dari masalah. " Karena kita sama-sama ingin masyarakat sejahtera dan keluar dari persoalan," kata bapak tiga anak itu.
Ia membayangkan, negara (pemerintah) dan sejumlah organisasi kemasyarakatan bisa duduk bersama dan berdiskusi secara terbuka mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing.
"Saya bayangkan, jika itu terjadi, alangkah indahnya hidup bernegara ini, ujar Kortanius.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 12 JANUARI 2011