Senin, 16 Januari 2012

Frans Duli Poli : Ibarat Terang dalam Kegelapan

FRANS DULI POLI

Lahir : Demondel, Flores, Nusa Tenggara Timur, 15 Januari 1952
Pendidikan : Sekolah Guru Bawah
Pekerjaan : Guru Sekolah Dasar
Istri : Maria Fernandes
Anak : Johni, Lin, Etus, Yoris, Serli dan Meli
Usianya memang tidak lagi muda, tetapi semangat pengabdiannya tetap tinggi. Dia ikut terlibat dalam pembangunan enam sekolah dasar swasta di desa terpencil yang terletak di pulau terluar di wilayah Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Frans Duli Poli tidak hanya mengajar, tetapi dia terlibat hampir di semua sektor kemasyarakatan warga setempat.

OLEH KORNELIS KEWA AMA

Pada Januari 2012 ini, Frans memasuki masa pensiun. Meski begitu, dia tetap penuh semangat. Dia terlibat dalam pembangunan tiga sekolah taman kanak-kanak. Frans sekaligus menjadi pembimbing di sekolah itu, meski   untuk tugasnya tersebut, dia tidak digaji.
     Selama ini Frans Duli Poli dikenal sebagai guru Sekolah Dasar (SD) Inpres Mewet, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketika ditemui akhir tahun 2011, Frans sibuk mempersiapkan sejumlah lagu untuk para siswa taman kanak-kanak (TK) tersebut.
     Buku kumpulan lagu itu disalinnya dari buku-buku yang ada di Toko Buku Gramedia di Kota Kupang , ibu kota NTT. Frans tidak punya cukup uang untuk membeli buku-buku tersebut, tetapi dia tidak kehilangan akal untuk mendapatkan informasi tentang lagu-lagu untuk anak-anak.
     Demi kelancaran kegiatan belajar-mengajar anak didiknya di Flores Timur,  Frans harus pergi ke Kupang dengan perahu motor. Dia tidak keberatan melakukan semua itu meski hanya untuk mencari buku nyanyian yang sesuai bagi siswa TK.
     Profesi sebagai guru telah dijalaninya sejak Juni 1969. Ketika itu, Frans bercerita, masyarakat di Desa Demondel, Adonara, Flores Timur, meminta dia  mengajar anak-anak setempat sekaligus membangun SD di kampung ini.
     "Ketika itu tidak ada guru di Demondei. Saya baru lulus dari Sekolah Guru Bawah dan belum punya hak mengajar. Mereka yang boleh mengajar adalah lulusan Sekolah guru Atas," kata Frans yang telah mengabdi sebagai guru selama 43 tahun.
     "Tetapi, kondisi warga di Demondei waktu itu sangat membutuhkan tenaga guru. Di Pulau Adonara bagian barat itu tak ada guru sama sekali. Anak-anak usia sekolah tidak bisa belajar karena tak ada sekolah. Desa-desa di pedalaman itu belum mengenal sekolah dasar," kata Frans mengenang.

Beralih status

     Tahun 1969 itu, Frans membuka sebuah SD swasta yang dinamakan SD Don Bosco di Desa Demondei. Sekolah ini terletak di kawasan pegunungan. Untuk menuju desa ini, orang harus berjalan kaki 15 kilometer dari ibu kota Kecamatan Adonara Timur, Waiwerang.
     Setelah sekitar dua tahun SD Don Bosco beroperasi, tahun 1971 dia diminta masyarakat Desa Rianpadu, 5 kilometer dari Demondei, untuk mendirikan SD di wilayah itu. Kemudian tahun 1973-1976 Frans mendirikan SD swasta di Ritawolo, Watodei, Beludua, dan SD swasta Leter. Kini, sekolah-sekolah tersebut telah beralih status menjadi SD negeri.
     "Lulusan sekolah dasar kelas tiga dari Demondei yang saya nilai bisa membaca, menulis, dan menghitung lalu saya minta untuk membantu mengajar. Tiga tahun kemudian tujuh lulusan Sekolah Guru Atas dari Larantuka datang membantu saya mengajar di sekolah-sekolah itu," ujarnya.
     Meski kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah tersebut serba terbatas, seiring berjalannya waktu, pencapaian para siswanya pun menunjukkan kenajuan.
     "Semua itu berkat dukungan orangtua, semangat belajar siswa, dan keinginan mereka untuk bisa membaca, menulis, berhitung dan berbahasa Indonesia, yang tinggi," kata Frans merendah.
     Frans pun kemudian menapat honor sekadarnya dari warga setempat. Terkadang ia tak mendapat uang, tetapi diberi celana dan baju hasil tenunan warga. Ada pula orangtua murid yang "membayarnya" dengan pisang, ubi, jagung dan padi.
     "Bisa dibilang rumah guru itu serba ada. Air bersih, kayu bakar, sayur, dan makanan untuk tiga kali sehari sudah disiapkan warga ha-ha-ha," katanya.

Masa depan

     Frans menyadari, ketiadaan ijazah guru akan membuat masa depannya tak menjanjikan. Tahun 1975 ia mengikuti semacam kursus guru atau sekolah persamaan yang diadakan beberapa rekan guru lulusan Sekolah Guru Atas dan sekolah Pendidikan Guru di Desa Demondei. Ia berhasil mendapat ijazah Sekolah Guru Atas pada 1976, dan diangkat menjadi guru negeri.
     "Jadi guru di pedalaman itu artinya kita bekerja ganda. Selain mengajar, masih ada tugas melatih koor untuk gereja, membimbing pasangan muda yang mau menikah, mengajari orang tua yang buta huruf agar tahu tulis-baca," katanya.
      Guru di daerah pedalaman juga mesti membantu aparat desa menata administrasi desa dan mengamankan warga yang sering bertengkar. "Semua masalah warga bisa dikatakan melibatkan guru karena hanya guru yang mereka segani, selain pastor."
     Sejumlah lagu dan tarian daerah yang terancam punah pun dia hidupkan kembali lewat pentas kesenian desa. Pentas ini melibatkan para siswa SDdan anak muda desa. Pentas ini pun menjadi satu-satunya hiburan bagi warga yang jauh dari pusat keramaian dan televisi.
     Berbagai perhelatan masyarakat setempat pun melibatkan Frans,mulai dari pernikahan, hari raya keagamaan, sampai pemilihan umum (pemilu). Dalam kegiatan pemilu, dia seakan menjadi perpanjangan tangan pemerintah yang memberi informasi kepada warga tentang partai politik  dan bagaimana cara warga mencoblos.
     "Guru di pedalaman itu ibarat terang di tengah kegelapan. Ini sungguh terjadi sejak tahun 1970-an sampai hari ini. Kami di sini bisa dikatakan masih miskin dan terbelakang," tuturnya.
     Setelah 43 tahun mengabdi, Frans pensiun dengan gaji terakhir Rp 2,5 juta per bulan. Dia mengisi hari-hari awal masa pensiunnya dengan bertugas di tiga sekolah TK di Desa Mewet, Desa Demondei, dan Desa Watodei.
     "Sebelum anak-anak masuk SD, kami ingin mempersiapkan mereka agar nantinya mudah menyesuaikan diri. Seluruh SD di pulau dan desa terpencil ini tidak punya taman kanak-kanak," ujar Frans menegaskan.
     Apalagi minat masyarakat untuk memasukkan anaknya ke TK relatif tinggi. Meski baru dibuka, jumlah murid TK di setiap desa mencapai 60-100 anak. Untuk tugasnya membimbing siswa TK, Frans tidak digaji. Sedangkan delapan guru TK lainnya mendapat honor yang uangnya berasal dari para orangtua murid.
    "Setiap guru itu mendapat honor Rp 250.000 per bulan," kata Frans yang di sela-sela kesibukannya masih sempat mengajari para guru TK cara membaca dan mengajarkan musik kepada anak-anak.
     "Lulusan SMA atau SMK sekarang umumnya tidak tahu bagaimana membaca not angka," tambahnya.
     Setelah Frans membimbing anak-anak yang belajar di tiga TK tersebut, tugas mengajar para siswa SD dilanjutkan para lulusan SMA atau SMK dari desa setempat.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 5 JANUARI 2012

Jumat, 13 Januari 2012

Membaca Pesan Dagpo Rinpoche

Kiamat akan terjadi suatu hari, tetapi tak ada yang tahu kapan waktunya. Buddhisme tak menyebut tahun 2012, tak ada prediksi atau apa pun. Begitu diungkapkan Dagpo Rinpoche (80), Guru Buddhisme Tibet yang sangat dihormati.

OLEH MARIA HARTININGSIH DAN NINA SUSILO

"Dunia akan menjadi lebih baik tahun 2012 kalau kemarahan dan keserakahan berkurang," ujarnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
     Ditemui di sebuah rumah di bilangan selatan Jakarta , suatu pagi pekan lalu, Lobsang Jampel Jhampa Gyatso-nama lengkapnya-didampingi Rosemary Patton, penerjemah sekaligus muridnya sejak tahun 1980-an.
     Ia menerima kami dengan hangat dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia menjawab pertanyaan kami dalam bahasa Tibet, dengan sesekali menambahkan terjemahan Rosemary dalam bahasa Inggris dan Perancis.
     Rinpoche, dalam bahasa Tibet artinya 'Yang Mulia', ditambahkan di belakang nama seorang guru dalam tradisi Buddha yang mengalami pencapaian luar biasa.
     "Masalah terbesar saat ini adalah keserakahan. Banyak orang mengumbar keinginan, terlalu egoistis, hanya memikirkan diri sendiri, kelompok sendiri, bangsa sendiri,"  ujarnya.
     Keserakahan menyebabkan perebutan kekuasaan dan upaya mempertahankan dengan cara apapun. Padahal, satu-satunya bagi mereka yang berada di puncak adalah turun. Kekuasaan tidak abadi. Meski begitu, tidak mudah memberikan pemahaman itu kepada mereka yang berkuasa, kecuali mereka mengalami persoalan besar dan mulai berpikir apa yang terjadi.
     Ia mengingatkan, "Keserakahan membuat orang tidak bahagia karena tak ada yang benar-benar bisa memuaskan. Selalu mau lebih dan lebih tak pernah ada batasnya. Anda akan terus khawatir dan menderita."
     Keserakahan bersama kemarahan dan kebodohan batin adalah racun mental, penyebab berbagai persoalan besar di dunia, seperti perang dan ketidakadilan.

Sumber kebahagiaan

     Menurut Dagpo Rinpoche, setiap orang menginginkan kebahagiaan dan menghindari penderitaan, tetapi tak tahu caranya. "Banyak yang mengira, dengan menumpuk kekayaan dan menguasai yang lain, mereka bisa bahagia. Sebenarnya itu adalah kualitas buruk dalam diri dan hasilnya adalah masalah bagi diri sendiri."
     Meski begitu, bukan berarti kekayaan dan kekuasaan adalah hal tabu, tetapi kebahagiaan tak bisa di sandarkan pada apa pun yang bersifat material, apa pun wujudnya.
     Kebahagiaan ditemukan secara perlahan seiring peningkatan kualitas baik di dalam diri, seperti kesabaran, pengertian, penghargaan, cinta, welas asih, dan meminimalkan faktor mental yang mengganggu, termasuk kecemburuan, iri hati, dan ketidakpedulian. Latihannya seumur hidup, "Karena tingkat pencapaian berbeda-beda, tergantung seberapa besar kehendak melakukannya."
     Ia melihat kondisi masyarakat tidak begitu kondusif karena cenderung lebih keras, lebih kompetitif, dan berhasrat besar menguasai yang lebih lemah. "Akan tetapi, manusia adalah makhluk  paling mulia yang memiliki kapasitas jauh lebih baik untuk mencapai kebahagiaan."
     Menurut Rinpoche, kebahagiaan dipahami bersamaan dengan pemahaman mengenai akar penderitaan, yaitu "ego" atau pandangan keliru tentang diri. Adalah suatu keutamaan kalau mau terus berlatih memahami nir-ego atau selflesness; bagaimana sebenarnya diri ini ada dan mengada, disertai kemampuan mengontrol pikiran.
     "Mari mengembangkan sikap altruisme," begitu ajakan Dagpo Rinponce. Dalam Buddhisme, altruisme didefinisikan sebagai batin pencerahan atau dalam bahasa Sanskerta, Bodhicitta.
     Berbuat bajik dan melakukan hal-hal yang memberi manfaat bagi semua makhluk hidup adalah jalan menuju kebahagiaan. Itulah prinsip etika hidup. Ia berpesan, "Mari meningkatkan sikap dan tingkah laku lebih menghargai, lebih mencintai, dan lebih welas asih terhadap sesama dan semua makhluk hidup."

Paling dihormati

     Dagpo Rinpoche adalah pendiri aliran filsafat Buddhis Gelukpa di Perancis. Ia mulai mengajar Buddhisme tahun 1977, setahun sebelum mendirikan Pusat Dharma, Ganden Ling Institute di Paris, yang mengajarkan Buddha Dharma, berdoa, dan meditasi.
     Saat invasi China memorakporandakan Tibet tahun 1959, Dagpo Rinpoche bersama pendampingnya, Thupten Puntchog, akrab disapa Geshela, lolos ke India, menempuh bahaya untuk mengikuti Dalai Lama XIV demi menjaga Buddhisme dan kebudayaan Tibet dari kepunahan.
     Ia berangkat ke Paris, tahun 1960, untuk membantu penelitian tentang kitab dan budaya Tibet, lalu mengajar bahasa Tibet dan sejarah Buddha Dharma di Lembaga Nasional Bahasa dan Peradaban Timur Universitas Sorbonne sampai pensiun pada tahun 1992.
     Dagpo Rinpoche dikenal sebagai salah satu Guru Buddhisme Tibet paling dihormati untuk pelajaran "Lamrin" (Tahapan jalan Menuju Pencerahan); Ia memberi ceramah di pusat-pusat Dharma di Italia, Swiss, Belanda, dan kota-kota lain di Perancis.
     Sejak tahun 1989 ia berkeliling ke beberapa negara di Asia dan memberi pelajaran terstruktur di Indonesia setiap tahun, kecuali tahun 1998. tahun ini ia diundang membimbing retret di Bandung dan ceramah umum di Jakarta, akhir pekan lalu.
     Ia juga dikenal sebagai satu dari sedikit guru yang mewarisi sebagian besar ajaran Sang Buddha tentang Bodhicitta. Komunitasnya meyakini dia sebagai reinkarnasi Dharmakirti. Pengakuan Dalai Lama XIII (11876-1933) diberikan saat ia berusia 12 bulan.
     Dharmakirti (bahasa Tibet: Serlingpa), pangeran dari Wangsa Syailendra di Suwarnadwipa (Sumatera), adalah pemegang ajaran itu pada abad ke-10. Kebudayaan Buddha berkembang pesat di Nusantara pada abad ke-7 sampai ke-10 di bawah Kerajaan Sriwijaya. Pada masa itulah Candi Borobudur dibangun. Pergurun Tinggi Agama Buddha-nya dikenal di seluruh dunia.
     Guru Buddhis dari India, Atisha, yang kemudian mengajar Buddhisme di Tibet, beroleh pelajaran lengkap mengenai Bodhicitta dari Mahaguru Dharmakirti.
     Namun, Dagpo Rinpoche tak pernah membicarakan silsilah reinkarnasi. Alasan memenuhi undangan ke Indonesia tahun 1989 adalah, "Ingin mengenal negeri ini besar dan indah dengan kebudayaan yang sangat kaya."
     Ketika ditanya apakah ia tahu alasan Bhante Pannyavaro Mahathera, anggota Dewan Sesepuh Sangha Theravada Indonesia, memberi sebagian relik (abu) Atisha kepadanya, Dagpo Rinpoche hanya mengatakan, "Beliau tak bicara apa-apa."
     Rinpoche lahir 1 Februari 1932 di Kongpo, tenggara kota Lhasa, Tibet, sebagai anak ketiga pasangan Tsering Dondrup dan Drolma Tsering. Meski menjalani pendidikan sangat keras, dalam biografi yang ditulis Jean-Philippe Caudron, Le Lama Venu du Tibet, dikisahkan masa kecil yang gembira bersama dua kakak perempuannya, Yeche La dan Mungyur La.
     Ia masuk Biara Bamcho (berdiri tahun 1070) pada usia enam tahun, ditahbiskan menjadi calon biksu setahun kemudian. Pada usia 13 tahun, ia belajar filsafat Buddhis di Biara Dagpo Dratsang dan ditahbiskan menjadi biksu oleh Dalai Lama XIV tahun 1959 di Bodhgaya, India.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 11 JANUARI 2012

Selasa, 10 Januari 2012

Eko Nugroho : Gairahkan Permainan Papan

EKO NUGROHO

Lahir : Karawang, Jawa Barat, 23 April 1980
Istri : Kanty Kusmayanty
Pendidikan :
- S-1 Statistika Universitas Padjadjaran, Bandung
- S-2 Ilmu Matematika Kaiserslautern University of Technology, Jerman
Penghargaan :
Termasuk 100 Youth, Women, dan Netizen Berpengaruh di Indonesia 2011 dari Komunitas Marketeers

Seringai Sultan Solo membuat pengusaha dari Sumatera Utara itu sadar telah membuat kesalahan. Rupanya dia membayar terlalu banyak untuk menggabungkan usaha pengolahan karet miliknya dengan kebun karet milik Sultan yang luas. Masalah berikutnya muncul saat tidak ada satu kapal pun di wilayah itu yang bisa mengangkut karet ke kota-kota yang sedang tumbuh di Pulau Jawa...."

OLEH DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Itulah deskripsi permainan papan (board game)  berjudul Indonesia yang diterbitkan tahun 2005 oleh Splotter Spellen dari Belanda. Deskripsi yang janggal segera terjawab setelah mengetahui bahwa pengarang board game ini bukan orang Indonesia, melainkan orang Belanda bernama Jeroen Doumen dan joris Wiersinga. Tak ada orang Indonesia dalam pembuatan permainan tersebut.
      Tidak berhenti sampai di sini, rupanya sudah banyak permainan papan menggunakan nama-nama di Indonesia yang diproduksi di luar negeri. Sayangnya, tidak satu pun yang mempromosikan keindahan pariwisata, kekayaan budaya, ataupun kuliner tanah air.
     Ambil contoh permainan papan berjudul Expedition Sumatera. Diterbitkan tahun 2010, permainan papan ini menempatkan  pemain sebagai pemburu dari dunia Barat yang berusaha menyelamatkan satwa nyaris punah dari Sumatera, dengan cara membabat hutan demi membuat jalan guna mencari satwa langka tersebut. Pemburu kemudian membawa satwa itu ke kapal dan membawanya pulang ke tempat asalnya.
     Hampir sama dengan judul-judul permainan papan lainnya, ada lagi permainan yang menggunakan nama seperti Borneo, Papua, ataupun Batavia.
     Kenyataan itu membuat Eko Nugroho sedih karena seharusnya permainan tersebut bisa membuat persepsi tentang Indonesia melenceng jauh dari kenyataan. Menurut dia, permainan papan berpotensi untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia dengan cara yang paling disukai banyak orang, yakni bermain.
     Itulah sebabnya, dia bersama Kummara, sebuah badan yang getol mempromosikan permainan papan di Indonesia, membuat sendiri permainan papan yang bercita rasa Indonesia, seperti Simpang Dago, Gelut Marmut, Mahardika, Kucing Sumput, ataupun Punakawan. Dalam dua tahun terakhir, sudah 12 judul permainan papan yang dikerjakan Eko bersama rekan-rekannya di Kummara.
     Eko menjelaskan, permainan papan merupakan permainan yang kebanyakan dilakukan di atas permukaan datar, biasanya meja. Permainan papan melibatkan papan permainan, token, kartu, dan komponen pendukung lainnya.
     Indonesia sebetulnya sudah lama mengenal permainan papan, seperti catur, monopoli, dan ular tangga. Padahal, selain itu, masih banyak jenis permainan papan yang bisa dimainkan dengan cara berbeda, baik menggunakan dadu maupun bergiliran.

Keprihatinan

     Eko mulai terjun dalam dunia permainan papan saat dia kembali dari pendidikan pascasarjana Ilmu Matematika di Kaiserslautern University of Technology, Jerman, pada 2009.
Dia sudah akrab dengan permainan papan di Indonesia sewaktu belajar di Jerman.
     Saat pulang, ia menyadari minat bermain papan di Indonesia harus ditumbuhkan. Jadilah ia membuka kafe Kummara (yang berarti berkumpul, bermain, dan bergembira) di daerah Ciumbuleuit, Bandung.
"Sambil menunggu, pelanggan kafe bisa bermain board game. Sayangnya, waktu itu kami menggunakan board game impor, katanya.
     Respons yang didapatkan ternyata positif, pelanggan pun membeludak. Dari merekalah usulan membuat permainan papan sendiri muncul. Tantangan itu ditanggapinya dengan membuat papan permainan Simpang Dago (2010), yang dikemas ala kadarnya pada versi perdana. Kotak kemasan menggunakan plastik prakarya, tokennya dari kancing baju berwarna-warni.
     Simpang Dago adalah persimpangan antara Jalan Dago (kini Ir H Djuanda) dan Jalan Dipatiukur. Di sini ada Pasar Simpang Dago. Pada saat itu,  Simpang Dago dikenal dengan tumpukan sampahnya sebagai akibat darurat sampah setelah longsornya Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah.
     Eko justru menggunakan kekayaan kuliner di Pasar Simpang Dago, berupa makanan rakyat, sebagai daya tarik pemainnya. Selain itu, lalu lalang angkutan umum juga menjadi corak yang khas. "Permainan itu bisa mengubah persepsi pemainnya," kata Eko.
     Proyek berikutnya adalah Mahardika, permainan papan yang mengambil tema sejarah Indonesia tahun 1928-1950. Eko dan Kummara menggarap permainan ini secara serius. Mereka melakukan riset agar pemain mendapat pengetahuan sembari bermain.
     Dalam acara WordcampID 2011, Kummara bahkan memperkenalkan Wordpress Board Game, permainan papan berbasis alat membuat blog dan Content Management System (CMS). Pemain adalah seorang pengembang web yang harus memilih 70 plugin serta 18 themes website mereka.
     Dengan kesibukan studio permainan papan yang terus meningkat, Eko lalu memutuskan menutup kafe Kummara demi mencurahkan segenap perhatian pada permainan papan. Badan hukum pun disiapkan dengan nama PT Arka Buana Kummara.

Serbuan

     Salah satu alasan Eko merasa harus menggairahkan kembali permainan papan adalah kekhawatiran Indonesia sudah dikepung oleh produsen dunia. Ia mengungkapkan, produsen besar seperti Hasbro, Mattel, dan Lego sudah memperkenalkan permainan papan mereka di Indonesia, menggunakan jaringan distribusi toko buku. Tinggal menunggu waktu, promosi produsen besar ini menjadi agresif.
     Selain itu, serbuan permainan papan dari China juga terjadi. Dengan harga yang lebih terjangkau, permainan papan dari China bisa dibeli dengan harga Rp 50.000-Rp 100.000 per buah.
     "Pertanyaan selanjutnya, bagaimana produsen Indonesia bisa tumbuh dengan iklim tersebut?" ujarnya.
     Solusi yang dia ambil adalah memperkuat produksi dari sisi konten. Berkaca dari munculnya permainan papan pulau yang sesungguhnya miskin konten. Eko membalik kerjanya dengan mengangkat konten lewat permainan.
     Misalnya dengan membuat permainan papan Punakawan yang cocok dimainkan anak kecil karena melatih ingatan. Permainan ini diperkenalkan dalam acara Indonesia Bermain 2011. Sebanyak 100 papan seharga Rp 195.000 per buah langsung ludes dalam waktu 2,5 bulan.
     Eko memperkirakan permainan papan bakal menjadi alternatif hiburan bagi keluarga menengah Indonesia yang ingin memberi anak mereka permainan yang sehat dan mendidik. Tak seperti permainan elektronik, permainan papan umumnya tak membuat pemain kecanduan atau berefek buruk lainnya. Permainan papan justru meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan bersosialisasi seseorang dengan pemain lainnya.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 10 JANUARI 2012.

Senin, 09 Januari 2012

Liang Kaspe : "Bidan" di Kebun Binatang Surabaya

LIANG KASPE

Lahir : Surabaya, 24 November 1954
Pendidikan :
- SD sampai SMA Yayasan  Dapena, Surabaya, 1960-1972
- S-1 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, 1973-1981
Pekerjaan :
- Dokter hewan Kebun binatang Surabaya, 1981-kini
- Berturut-turut sebagai kepala kesehatan satwa, kepala penelitian dan 
  pengembangan, kepala nutrisi, kepala kesehatan hewandi Kebun Binatang
  Surabaya,1984-2003
- Kepala konservasi Kebun Binatang Surabaya, 2003-2006
- Kepala unit kesehatan hewan, 2006-Juni 2011
- Kepala Bagian Rumah Sakit Hewan Setail Kebun Binatang Surabaya, Juni 
  2011-kini
  
Menemani persalinan induk satwa liar, seperti singa, harimau, jerapah, kuda nil, babi rusa, orangutan, gajah, dan beruang madu, atau ketika melakukan operasi caesar bagi bayi anoa, merupakan momentum paling membahagiakan bagi Liang Kaspe. Hal itu dialaminya selama menjadi dokter hewan di Kebun Binatang Surabaya sejak 1981 sampai kini.

OLEH IDHA SARASWATI DAN NAWA TUNGGAL

"Persalinan satwa liar selalu membutuhkan ketenangan. Satwa liar selalu melahirkan pada malam hari," kata Liang Kaspe, ketika ditemui di ruang kerjanya sebagai Kepala Bagian Rumah Sakit Hewan Setail, yang menjadi salah satu bagian usaha Kebun Binatang Surabaya (KBS).
     Ketenangan itu kini juga menjadi "barang mahal" bagi  para karyawan KBS. Sejak tahun 2000, kebun binatang itu dilanda konflik di antara para pemimpin pengelolanya.
     Hingga kini konflik masih berujung pada hal yang menyedihkan. Publik pun mendengar kuatnya rencana penutupan kebun binatang itu untuk dialihkan menjadi hotel atau bangunan pusat keramaian kota lainnya.
     Lokasi KBS ini memang strategis di tengah Kota Surabaya. Tepatnya di Jalan Setail No 1, Kecamatan Wonokromo, di jalur lalu lintas utama tengah Kota Surabaya.
     KBS didirikan pada 31 Agustus 1916 dengan nama Soerabaiasche Planten-en Dierentuin (Kebun Botani dan Binatang Surabaya). Kini KBS memiliki koleksi sekitar 4.000 satwa dengan 351 jenis di area seluas 153.560 meter persegi.
     Menurut Liang Kaspe, sertifikat tanah KBS sejak lama menjadi milik Pemerintah Kota Surabaya. "Semoga Wali Kota Surabaya, didukung sepenuhnya warga Surabaya dapat segera mengambil alih kebun binatang ini, dan segera menyelamatkan satwa-satwa yang semakin tergganggu. Bahkan, di antara satwa itu banyak yang mati," ujar Liang. Ia enggan lebih jauh membahas soal konflik itu.

Bayi jerapah

     Liang Kaspe menjadi dokter hewan KBS selulus kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya, tahun 1981. Pada  masa awal bekerja, yang paling berkesan antara lain saat menunggu proses persalinan induk jerapah (Giraffa camelopordalis) dan risiko yang harus diterima Liang untuk merawat bayinya hingga dewasa.
     "Proses persalinannya lama, sampai 1,5 jam. Pertama-tama kaki bayi jerapah keluar, disusul kepala, hingga seluruh badannya," katanya.
     Ia takjub, mengapa proses kelahiran bayi jerapah sangat pelan. Ada peristiwa mengagumkan ketika posisi kepala keluar. Pertama kali bagian mulut keluar, lidahnya tampak menjulur ingin menjilat-jilat.
     "Ketika seluruh badan keluar, bayi jerapah terjatuh di tanah. Tetapi, tiba-tiba saja induknya berlari meninggalkan bayinya hampir selama 30 menit," ceritanya.
     dengan handuk Liang mengusap-usap bayi jerapah yang ditinggalkan induknya itu. Di situlah terjadi kesalahan pertamanya memperlakukan bayi satwa liar.
     "Setelah bayinya saya sentuh, induk jerapah tidak mau menyentuh dan menyusui bayinya. Saya kemudian yang harus merawat bayi jerapah itu hingga dewasa," katanya.
     Ia tertawa saat mengenang betapa tingginya bayi jerapah, melampaui tinggi badannya. Pada saat menyusuinya, ia harus menyeret kursi atau bangku untuk dinaiki sambil menjulurkan dot susu ke mulut bayi jerapah itu. Saat terlahir, tinggi bayi jerapah mencapai 155 sentimeter, hampir sama dengan tinggi badan Liang.
     Ia lalu mempelajari perilaku induk jerapah. Induk jerapah akan berlari meninggalkan bayinya yang baru lahir untuk mengamankan wilayah di sekitarnya. Sekitar 30 menit kemudian, asalkan belum ada makhluk lain yang menyentuh bayinya, induk itu akan kembali untuk menjilat-jilat dan menyusui bayinya.
     Persalinan kuda nil (Hipopotamus amphibius) juga menjadi pengalaman mengesnkan bagi Liang. Ia mengatakan, ilmu pengetahuan yang dipelajarinya selama di bangku kuliah terasa sangat kurang.
     "Di tengah malam saya menunggui induk kuda nil yang akan melahirkan. Saya cemas ketika induk kuda nil terlihat akan melahirkan, tetapi tiba-tiba saja ia masuk ke dalam kolam," katanya.
     Liang pun khawatir soal keselamatan bayi kuda nil di dalam air. Ia menyaksikan saat induk kuda nil merejang. Bayinya keluar melesat seperti roket air hingga terlempar smpai dua meter di dalam air.
     induk kuda nil buru-buru berbalik arah dan berenang mencari bayinya. Dengan kepalanya, induk kuda nil kemudian "membopong" bayinya hingga menyembul ke permukaan air sehingga bayinya bisa bernapas dengan baik.
     "Sungguh, ini suatu pengalaman sangat berharga menyaksikan kelahiran satwa liar yang tidak mudah dilihat setiap orang," katanya.

Tertumpuk di gudang

    Liang tak bisa menghapal tahun-tahun kelahiran puluhan, bahkan seratus lebih, satwa liar yang telah "dibidaninya". Tetapi, dia menuliskan semuanya dalam berkas laporan yang kini masih tertumpuk di gudang KBS.
     Seperti pengalaman persalinan anoa (Bubalus depressicornis) yang harus dioperasi caesar. Ketika itu bobot bayi anoa dalam kandungan berlebih sehingga menyulitkan proses kelahirannya sehingga diputuskan untuk mengoperasi caesar induk anoa. Induk dan bayi anoa pun selamat.
     Liang juga terkenang saat tiga tahun pertama bekerja. Ia selalu ditemani bayi singa dari hasil persalinan satwa liar yang dialami pertama kalinya ketika masuk KBS tahun 1981.
     "Bayi singa itu diberi nama Winggo, selalu menemani ke mana pun saya pergi selama di kebun binatang. Winggo layaknya anjing yang lucu dan setia," katanya.
     Literatur perilaku dan pakan satwa liar di KBS sangatlah minim. Ketika kuliah pun yang dipelajari Liang bukanlah perihal satwa liar, tetapi satwa domestik seperti hewan ternak untuk konsumsi manusia.
     Liang tak seperti orang buta yang meraba-raba. Dia memanfaatkan literatur "berjalan", yaitu para keeper atau perawat satwa. Dari situlah dia belajar banyak mengenai satwa-satwa liar.
     KBS, bagi Liang, merupakan gudang pengetahuan perilaku satwa liar. masyarakat luas pun berhak mengetahuinya.
     Keberadaan KBS di tegah Kota Surabaya justru mendekatkan pengetahuan itu kepada masyarakat. Bagi Liang Kaspe, mengetahui banyak pengetahuan tentang satwa liar menambah bijak sikap manusia.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 9 JANUARI 2012

Kamis, 05 Januari 2012

Roesina : Menjaga Tarian Dayak Deyah dari Kepunahan

ROESINA

Lahir : 3 Mei 1950
Suami : Solehan (68)
Anak :
- Heriya Martalina (40), menjadi guru SMA dan mantan penari
- Sri Norpiani (38), penari 
- Novariani (36), penari
- Agustinus (34), pegawai swasta dan penari
- Eman Istanto (28), pegawai swasta dan penari 

Pada usia sembilan tahun, Roesina mulai mempelajari tari. Sekitar 33 tahun kemudian, dia mendirikan sanggar tari di kampung halamannya dan bertahan sampai sekarang. Tujuan utamanya, melestarikan kesenian asli Dayak di Kalimantan, khususnya Dayak Deyah dari kepunahan.

OLEH DEFRI WERDIONO
 
Dalam suatu kesempatan pada November 2011, wajah Roesina menyiratkan rasa bahagia seusai menyaksikan rekannya, Hasan (50) berhasil memanjat batang manau, sejenis pohon berduri.
     Pagi itu Roesina banyak mengumbar senyum. Dia bersama timnya tampil sebaga pengisi kegiatan tahunan Festival Budaya Pasar Apung 2011 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
      Hasan, laki-laki bertubuh kekar itu, mampu memanjat batang manau yang penuh duri dengan telanjang kaki dan dada. Tidak tampak luka gores atau luka tusuk sedikit pun di tubuhnya.Senyum Hasan juga mengembang ketika sejumlah penonton yang dipenuhi rasa heran mendekat dan menyapanya.
  Bagi Roesina, tari Balian Bawo Panjat Manau hanyalah salah satu kekayaan budaya Dayak yang sudah ada sejak dia bisa mengingatnya. Awalnya, masyarakat penganut Kaharingan menggunaakn tarian ini sebagai media penyembuhan pada orang yang sakit.
     Di samping itu, tarian Balian Bawo Panjat Manau juga kerap ditampilkan untuk membayar nazar masyarakat setempat. kegiatan tersebut biasanya diselenggarakan sehabis merayakan panen.
     Dalam perkembangannya sekarang tari Balian Bawo Panjat Manau tidak lagi terpaku pada waktu dan keperluan ritual tertentu. Aksi yang bisa membuat bulu kuduk bergidik itu belakangan ini dapat ditampilkan di muka umum, kapan saja dan untuk kesempatan apa saja, mulai dari hajatan sunatan sampai pesta pernikahan.
     Menurut Roesina, tari Balian Bawo Panjat Manau hanya salah satu dari tari tradisi warga Dayak Deyah. Selain tarian itu, setidaknya ada juga lima jenis tarian Dayak Deyah lainnya, yakni tari Balian Dadas, Gintur, Mengundang, Nande, dan tari Balian Bukit.
     Tarian pada masyarakat Dayak Deyah memiliki sedikit perbedaan dengan tari-tarian pada sub suku Dayak lainnya, yakni pada penggunaan alat. tari-tarian Dayak  Deyah umumnya lebih menekankan pada  (bambu).
     Pemakaian gintur dalam tradisi Dayak Deyah bukannya tapa sebab. Konon, bambu merupakan alat yang menjadi andalan nenek moyang Dayak Deyah untuk bergerilya melawan penjajah.
     "Jadi penggunaan gintur tidak bisa digantikan," ujar Roesina menegaskan.

Kaya bersuluh emas

     Hampir selama 20 tahun. terakhir ini, tari-tarian Dayak Deyah diajarkan Roesina kepada generasi  muda setempat. Dia mengajarkan tari-tarian tradisi itu melalui sanggar Tatau Silu Bulau di Desa Pengelak, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.
     Sanggar Tatau Silu Bulau berdiri pada tahun 1992. Kata "tatau silu bulau" mengandung arti "kaya bersuluh emas". tatau berarti kaya, silu artinya suluh, dan bulau sama dengan emas.
     Lewat nama tersebut, Roesina berharap sanggar Tatau Silu Bulau bisa seperti emas yang tidak akan luntur selamanya. "Semoga demikian pula dengan kesenian Dayak, tidak akan luntur selamanya" ujarnya.
     Maksud dia seperti emas  yang tidak akan luntur, begitulah kesenian Dayak di mata Roesina. Meski seni budaya dari luar budaya Dayak  masuk ke wilayah tersebut, masyarakat tetap menjaga dan memelihara tradisi itu. "Kesenian  peninggalan leluhur kami bisa tetap bertahan, tidak lalu menjadi tergeser."
     Roesina lalu bercerita tentang awal didirikannya sanggar Tatau Silu Bulau. "Modal utamanya adalah semangat melestarikan tari-tarian Dayak Deyah," ujarnya.
     Untuk melengkapi peralatan menari, ia upayakan secara swadaya. Sebuah babun, semacam gendang, ia beli seharga Rp 750.000. Ia kembali merogoh kocek untuk melengkapinya dengan tiga babun kecil seharga Rp 750.000.
     Sedangkan untuk kelengkapan instrumen lainnya, seperti kenong, Roesina mencari pinjaman. "Tahun 1992-1994 kami meminjamnya sebelum ada bantuan dari pemerintah kabupaten. Begitu pula untuk kostum penari, tahun 2006 kami berinisiatif mengirim proposal ke perusahaan tambang untuk mendapatkan bantuan," ujarnya.

Tentang inovasi

     Sejak berdirinya hingga kini, empat kali Roesina mengirim proposal kepada pemerintah daerah dan perusahaan tambang batubara di daerah setempat. Sebagian uang itu dibelikan peralatan dan sebagian lainnya disimpan untuk keperluan sanggar di kemudian hari.
     Cara ini ditempuh karena dia tak menarik iuran dari anak didiknya. Ia juga tak menyisihkan uang hasil pentas karena honor itu dibagi habis untuk anggota. Tak ada hasil pentas yang masuk kas operasional sanggar. Dalam setahun anggota sanggar bisa tampil hingga lima kali.
     Bagi Roesina,  menampilkan tarian tradisi kepada publik relatif tak ada kesulitan, termasuk saat ia melakukan ritual khusus sebelum memulai pertunjukan.
     "Tahun 2009 rombongan kami pernah mengalami kecelakaan di jalan," cerita mantan guru sekolah dasar itu tentang musibah yang pernah mereka alami berkaitan dengan pertunjukan.
     Sejauh ini, lanjut Roesina, hanya tari Nande yang sulit ditampilkan sebab tarian ini harus dilakukan pada tengah malam. Apalagi dalam pertunjukan tari Nande, nyaris tidak ada penerangan. Penari bergerak dengan mengandalkan tali yang di pegangnya.
     Meski permintaan naik panggung cukup banyak, sampai sekarang Roesina tetap mengandalkan gerakan-gerakan asli tari tradisi dalam pengajaran di sanggarnya.
     "Kami sebenarnya terbuka untuk melakukan inovasi asal tidak meninggalkan gerakan-gerakan asli tarian warisan nenek moyang. Tetapi kendalanya justru dari pelatih yang punya kemampuan dan mau melakukan inovasi tersebut," katanya.
     Roesina keberatan bila untuk keperluan inovasi gerakan tari itu, dia harus mengambil pelatih dari luar sanggar. Masalahnya, dia tidak punya cukup dana untuk membayar honor bagi pelatih tari tersebut.
     Lewat pengabdiannya pada kesenian tradisi Dayak Deyah pula, Roesina dikenal masyarakat. Kesungguhannya melestarikan tarian tradisi itu juga membuat dia mendapatkan penghargaan dari pemerintah kabupaten sebagai pelestari budaya.
    Penghargaan pertama diterima Roesina tahun 1990 seusai dia berpentas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Penghargaan berikutnya diterima pada tahun 2006.
     "Satu hal yang membuat saya senang, kelima anak saya semuanya bisa menarikan tarian tradisi Dayak Deyah," ujar Roesina bangga.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 3 JANUARI 2012

Selasa, 03 Januari 2012

Marandus Sirait : Lahan Keluarga untuk Lingkungan

MARANDUS SIRAIT

Lahir : Lumbanrang, Lumban Julu, Toba Samosir, 1 Juni 1967
Ayah : Lea Sirait (75)
Ibu : Tyasa Sitorus (70)
Istri : Ernalem Johana Sitepu
Anak : Sharon Maeryo Sirait (4)
Pendidikan :
- SD: SDN Lumbanrang Lulus (1980)
- SMP: SMPN Lumban Julu Lulus (1983)
- SMA: SMAN Narumonda/Porsea (tak tamat)
Kursus Musik: Medan Musik dan Irama musik (1986-1987)
Penghargaan :
- Kalpataru (2005)
- Wahana Lestari (2010)
- Danau toba Award (2010)
- Penghargaan Penanaman pohon Dinas Kehutanan Sumut (2011)

Marandus Sirait (44) menyimpan obsesi membangun hutan lindung yang dapat menghidupi masyarakat sekitar. Dia rela meninggalkan kenyamanan hidup di kota, kembali kekampung halaman, dan mengubah tanah tak terawat menjadi hutan produktif.

OLEH MOHAMMAD HILMI FAIQ

Taman Eden 100. Begitu Marandus memberi nama hutan yang terletak 6 kilometer dari bibir Danau Toba itu. Ia mengutip istilah kitab suci tentang gambaran surga. "Saya ingin hutan ini menjadi surga karena bermanfaat bagi banyak orang," ujar Marandus, akhir Desember.
     Di hutan seluas 40 hektar di Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, ini tumbuh 100 jenis pohon produktif. Pohon durian, jambu biji, mangga, dan pohon avokad tumbuh subur. Di pangkal pohon-pohon itu tertulis masing-masing nama dan instansi pemilik pohon. Marandus mempersilahkan pengunjung menanam pohon dengan membayar Rp 100.000 sampai Rp 300.000 per pohon untuk biaya perawatan pohon.
     Marandus berharap hutan itu mampu menghidupi banyak orang, baik dari buah yang dihasilkan maupun ramainya pengunjung. Ia tengah berupaya menambah fasilitas menginap, berkemah, dan wahana permainan.

Tersindir kitab suci

   Sejak remaja, Marandus seperti tersindir kitab suci yang mewajibkan umat manusia melestarikan bumi. Ia menangkap pesan, Tuhan menciptakan alam dan isinya agar manusia bisa hidup sejahtera dan menjaganya dengan melestarikan bumi.
    Dalam berbagai kesempatan, ia selalu menyuarakan pentingnya melestarikan alam, terutama saat mengisi acara gereja. Selain sebagai guru musik, Marandus menjadi penyanyi gereja dalam kurun 1988-1998. Dia pun kerap mengikuti seminar, diskusi, dan lokakarya tentang menjaga lingkungan hidup yang marak pada tahun 1990-an di Medan.
     Namun, Marandus merasakan bahwa segala kampanye, dialog, atau diskusi hanya aktivitas kosong. Tak ada perwujudan nyata dari diskusi panjang di hotel berbintang itu.
      Pada saat yang sama, Marandus membaca berita bahwa rakyat di Toba Samosir-dulu masih Tapanuli sebelum dimekarkan-kampung kelahirannya, termasuk rakyat miskin. Dia tersentak karena ironisme tersebut. Mereka hidup di tepi Danau Toba yang memiliki sumber daya alam luar biasa. Air melimpah, ikan berjuta-juta, dan tanah subur. "Danau toba ini kan raja dari segala danau. Tanahnya begitu subur sampai tongkat kayu pun jadi tanaman," kata Marandus mengutip istilah Koes Plus dalam lagu "Kolam Susu".
     Tahun 1999 dia memutuskan pulang kampung, meninggalkan kenyamanan hidup di Kota Medan yang berlimpah uang dan kawan. Dia pun menulis besar-besar kalimat penyemangat di kamar kosnya. "Meninggalkan rupiah di kota untuk menuai dollar di desa."  
     Begitu pulang kampung, ibunda Marandus, Tyasa Sitorus (70), menangis. Dalam masyarakat Batak ada anggapan, jika pemuda merantau dan kembali ke kampung, berarti dia gagal menaklukkan kota dan stres. Itu pula anggapan Tyasa, saudara-saudara Marandus, dan tetangga.  
     Apalagi, sehari-hari Marandus hanya menghabiskan waktunya di lahan keluarga seluas 40 hektar di perbukitan yang lama tak terawat karena tidak produktif. Di situ hanya pohon pinus tua yang ditanam ayahnya di sebagian lahan. Tak tahan dengan sikap keluarga, Marandus memilih tinggal di bekas kandang kerbau di tengah lahan itu.
     Marandus kemudian menyurvei kondisi lahan. Oleh karena tidak memahami alam, ia mengajak beberapa pecinta alam menyusuri lahan keluarga yang berdampingan dengan hutan lindung pemerintah itu. Rupanya aktivitas ini membuat Michael Sirait, salah satu adik Marandus, tertarik membantu. Dari survei itu, mereka menjadikan goa kelelawar dan air terjun sebagai potensi yang bisa menarik pengunjung.
     Lelaki yang tak lulus SMA ini mulai belajar tentang bercocok tanam dari berbagai bacaan dan berguru ke Berastagi, akro, sentra sayuran di Sumatera Utara. Dia pun menjual berbagai peralatan musiknya, seperti gitar, keyboard, dan seperangkat drum, untuk membeli bibit dan membayar pekerja membersihkan lahan.
     Tahun 2002 Marandus hampir menyerah. Semua uang ludes, tetapi hutan yang dia bangun belum menghasilkan. Jangankan untuk menutupi biaya operasional, untuk pembibitan saja tak cukup. Dia kembali ke Medan mengajar musik. Tetapi, tiga bulan kemudian dia kembali ke kampung karena tidak menemukan ketenangan batin di kota. "Hidup mati saya di kampung," tekadnya.
     Dia kembali berjibaku menyejahterakan hutan dengan sumber daya sangat terbatas. Akhir  2004, Marandus masuk rumah sakit. Dia kekurangan gizi. Setelah sembuh, ganti terserang tipus, kemudian mag. Dokter mengatakan, sumber penyakitnya adalah stres yang bersumber dari hutan.Untuk itu dia harus menjauh dari hutan.
     Setelah tiga bulan keluar masuk rumah sakit, Marandus kembali ke Medan. Di sana dia bertemu dengan kenalan lama yang juga dokter di Rumah Sakit Deli. "Dia meminta saya main ke rumahnya dan bermain musik di sana," kenangnya.
     hari-hari dia isi dengan bermain  musik dan mengikuti berbagai penghiburan di gereja ataupun rumah warga. Pada pertengahan 2005, saat merasa kondisi mentalnya membaik, Marandus mendapat kabar gembira. Hasil kerja kerasnya diganjar penghargaan Kalpataru. Ini membuat semangat Marandus kembali memuncak.
     Dia sempat berpikir semua rencanya lancar setelah Kalpataru di tangan. upanya tidak. Tetap saja dia kesulitan dana untuk mengembangkan hutannya.
     Sempat dia melelang piala Kalpataru itu ke DPRD Toba Samosir. "Bagi saya, lebih baik Bapak tukar piala ini dengan sekarung polybag daripada saya pajang di rumah tetapi tidak bermanfaat bagi lingkungan," kata Marandus kepada para anggota DPRD Toba Samosir kala itu. Dia bermaksud menggugah kesadaran para wakil rakyat dan pemerintah agar lebih peduli pada pelestarian lingkungan.
     Para wakil rakyat itu meminta Marandus membuat proposal permohonan bantuan dana. Tetapi, sampai mereka lengser, tak pernah ada jawaban atas proposal itu. Sampai sekarang, Marandus tak pernah bersedia membuat proposal untuk siapapun. Ia mengandalkan kerja keras dan kedermawanan pengunjung Taman Eden untuk menutupi biaya operasional.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 4 JANUARI 2012

Senin, 02 Januari 2012

Henry Saragih: Petani Paling Berpengaruh Sedunia

HENRY SARAGIH

Lahir : Petumbukan, kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, 11 April 1964
Istri : Mazdalifah
Anak :
- Izzah Dinillah Saragih
- Mujahid Widyan Saragih
Pendidikan :
- SDN Sukaluwe, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, 1976
- SMPN Bangun Purba, Kabupaten Deli Serdang, 1980
- SMAN Berastagi, kabupaten Karo, Sumut, 1980-1982
- SMAN Lubukpakam, Sumut,lulus 1983
- Jurusan Administrasi Negara, FISIP Universitas Sumatera Utara, 1983-1988
Publikasi buku, antara lain :
- "Advokasi Lingkungan, Kasus Pengalaman Advokasi LSM Sumut VS PT Inti 
  Indorayon Utama", terbitan Kelompok Kerja Daerah/KKD-Walhi, 1991
- "PIR: Anugerah atau Bencana", terbitan Wahana Informasi Masyarakat/WIM,
  Medan, 1995
- "Melawan Neoliberalisme", penerbit Federasi Serikat Petani Indonesia, 
  Jakarta, 2003
Henry Saragih memperjuangkan tanah bagi petani sejak ia berstatus mahasiswa. Anak petani itu kini memimpin Gerakan Petani Internasional (La Via Campesina) dengan lebih dari 200 juta anggota di 70 negara.

OLEH INGKI RINALDI
Bersama sejumlah rekannya, Henry mengusung Deklarasi Hak Asasi Manusia bagi petani sejak 2001 untuk dijadikan salah satu kovenan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perjuangan itu memasuki titik terang dan tinggal menunggu sikap Amerika Serikat serta sejumlah negara di Eropa.
     Agenda kedaulatan pangan dengan konsep agroekologi yang diperjuangkan membuat dia dikukuhkan sebagai satu di antara 50 orang yang bisa menyelamatkan bumi oleh harian Inggris  pada 2008. Ia sejajar, di antaranya, dengan politikus Al gore dan aktor Leonardo Di Caprio, pilihan anggota panel yang terdiri dari para ilmuwan, sastrawan, aktivis, birokrat, politikus, pemenang Nobel, dan kolumnis internasional.
     Tahun 2011, surat kabar mingguan Inggris, The Observer, menjadikan Henry sebagai alah satu tokoh dunia yang dianggap sebagai tokoh-tokoh yang bakal menjadi penentu agenda penyelamatan lingkungan dunia hingga beberapa tahun mendatang. Dia, antara lain, bersanding dengan Presiden Bolivia Evo Morales, Pangeran Charles, dan mantan Gubernur California Arnold Schwarzenegger.
     Ketua Umum Serikat Petani indonesia (SPI) itu memulai segalanya dengan integritas dan strategi. Ini pula yang membuat dia terus bisa bergerak sekalipun masa Orde Baru dinilai banyak orang sebagai masa suram bagi gerakan pengorganisasian sosial. Apalagi pengorganisasian petani dengan isu reformasi agraria yang kompleks. Henry menilai persoalan itu sudah dibawa pada arah yang bertentangan dengan konstitusi sejak mulanya.
     Semangat melawan sistem yang semena-mena dengan tema liberalisasi pertanian itu pernah berwujud ketika ketika Henry bersama ribuan aktivis dari sejumlah negara menduduki Hongkong pada Desember 2005. Selama sepekan, Henry beserta ribuan demonstran berupaya membatalkan pertemuan tingkat menteri Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Hal itu membuat dia dipenjara selama beberapa hari.

Perjuangan lama

     Sejak mulai kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU), Henry sudah berhadapan dengan kerasnya dunia pergerakan. Setelah aktif dalam komisariat Himpunan Mahasiswa Islam, ia aktif pada forum-forum diskusi dan berbagai lomba karya tulis ilmiah.
     Hingga 1987, beragam diskusi tak memuaskan dahaganya. Apalagi setelah ia melihat kenyataan pelaksanaan proyek Nucleus Estate Smallholder Participation (NESP) Ophir yang saat itu berada di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
     NESP Ophir adalah proyek perkebunan yang kini menjadi unit usaha di bawah PTP Nusantara VI (Persero). Usaha ini dikembangkan pemerintah dengan pola inti dan plasma.
     "Kalau kata media waktu itu kan bagus, sekalipun secara teoritis sebetulnya jelek," katanya.
     Pada tahun yang sama, ia turut membela rakyat di kawasan Danau Toba , Sumatera Utara  yang dirugikan PT Indorayon Utama. Hal sama dia lakukan dengan warga di seputar Sungai Asahan yang tercemar akibat  pembangunan pabrik bubur kertas di Porsea.
     Ia lalu mengorganisasi petani di sepanjang Sungai Asahan. Membuat konstruksi pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) generasi kedua yang sempat dilarang beroperasi oleh pemerintah. Namun, ia nekat dan PLTMH dengan daya 20 kilowatt beroperasi untuk tiga dusun bagi 150 keluarga.
     Di sela-sela itu, banyak petani ternyata mengadukan persoalan agraria yang membelit mereka. Henry bersama sejumlah rekannya pada 1992 memutuskan bahwa soal itu tak bisa ditangani parsial.
     "karena itulah, kita formulasikan perjuangan nasional untuk reforma agraria," kata Henry.
     Inilah cikal bakal berdirinya SPI. tahun 1996, gerakan itu ikut serta dalam La Via Campesina yang berdiri sejak 1993. Pada 8 Juli 1998, Federasi Serikat Petani Indonesia dideklarasikan dengan kantor pusat di Kota Medan.
     Setelah menjadi perwakilan Asia Tenggara dan Asia Timur di La Via Campesina pada 2000, sejak tahun 2004 ia diangkat sebagai koordinator umum gerakan tersebut.

Pulang tak menentu
 
    Namun, di tengah kesibukan luar biasa, Henry justru tampil biasa. Hanya komputer tablet dan telepon pintar yang menandakan dia sebagai pengendali ratusan juta petani. Nyaris setiap tahun ia diundang sebagai pembicara dalam forum Organisasi Pangan Dunia (FAO). Untuk mengendalikan La Via Campesina, setiap tahun ia menghadiri setidaknya dua pertemuan yang berpindah-pindah tempat.
     Ia pulang ke Medan, tempat istri dan kedua anaknya berdomisili, dalam periode tak menentu. Ia bisa pulang seminggu sekali, dua pekan sekali, sebulan sekali, atau setelah beberapa bulan melanglang buana.
     Henry menikahi Mazdalifah, aktivis sekaligus dosen di USU. "Tentu yang menerima beban terbesar dari kegiatan saya adalah istri. Namun, ia juga seorang aktivis. Dia memiliki yayasan yang peduli kepada para pedagang jamu," katanya.
     Henry terlahir dari ibu yang seorang petani dan ayah yang bekerja sebagai pegawai perkebunan. Rupanya ia belajar banyak dari kesenjangan antara upah buruh perkebunan dan pejabat perusahaan perkebunan. Ia sempat bekerja sebagai penyadap getah karet dan buruh pengangkut pasir.
     Pemahaman itu membuat dia tak terlalu silau pada penghargaan. Sejumlah tawaran penghargaan dari berbagai lembaga ditolak karena hadiah yang mengikuti penghargaan tersebut berasal dari berbagai pihak yang selama ini ia tentang.
    Dia sempat menolak menjadi narasumber tetap selama satu tahun di jaringan televisi internasional, sebagai salah satu di antara 50 tokoh dunia paling berpengaruh versi The Guardian. Pasalnya, acara itu disponsori perusahaan minyak multinasional yang metode bisnisnya ditentang Henry.
     bagaimana anggapannya soal penghargaan dari The Guardian dan The Observer? "Itu memang tidak bisa ditolak karena mereka kan pakai panelis dan mereka nilai sendiri tanpa tawaran. Bagi saya, itu sebetulnya penghargaan buat semua teman yang berjuang. Perjuangan pergerakan secara sendiri, itu sifatnya kolektif," kata Henry.

Dikutip dari KOMPAS, RABU 28 DESEMBER 2011