Rabu, 15 Februari 2012

Sunarman: Keberpihakan kepada Difabel

SUNARMAN
Lahir: 7 Februari 1974
Istri: Siti Karimah (35)
Anak: 
- Christoforus Rana Irvan Katrin (11)
- Katarina Rani Katrin (8)
Pendidikan:
- Diploma I English Teacher Training Course0f Prawira Marta (Oxford Course
  Indonesia) (1999-2000)
- Diploma III Jurusan Bahasa Inggris Akademi Bahasa Asing St Pignatelli 
  Surakarta (2000-2003)
- S-1 fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (2008-2010)
- Program Studi Bahasa Inggris Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Pekerjaan (antara lain):
- Koperasi Penyandang Cacat "Harapan" Surakarta (1997-1998)
- PPRBM Prof Dr R Soeharso Solo (1999-sekarang)
- BEAT (Barriers-Free and Accessible Transformation) Malaysia-Indonesia-
  Thailand: Resource Person dan Country Coordinator Indonesia (2009-
  sekarang)   
- Wakil Ketua Aliansi  RBM Indonesia (2010-sekarang)
- CBR Asia Pasific Network: Country Representative Indonesia, Executive 
  Comittee Member (2010-2015)
- Inclusive Caritas Asia Network (I-CAN): Core Committee (2009-sekarang)
- Advisor/Konsultan WHO SEARO bidang RBM (2011-sekarang)
Keahlian:
- Narasumber Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (RBM)
- Community Based Inclusive Development (CBID)
- Advokasi dan Hak-hak Difabel
- Manajemen dan Kepemimpinan Organisasi Difabel
- Kewirausahaan dan Pemberdayaan Sosial-Ekonomi Difabel, Perempuan dan
  Anak Difabel

"Mimpi saya simpel saja, difabel bisa hidup, tumbuh, dan berkembang dengan perlakuan dan kualitas setara dengan warga negara lainnya. Tidak menjadi 'out group', baik di tingkat keluarga, masyarakat, maupun negara," kata Sunarman, Direktur Pusat Pengembangan Pelatihan Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat Prof Dr R SoeharsoSolo.

OLEH SONYA HELLEN SINOMBOR

Pusat Pengembangan Pelatihan Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (PPRBM) adalah lembaga nonpemerintah yang memberikan pelatihan dan berbagai program untuk masyarakat luas tentang masalah kecacatan. Visinya, mewujudkan persamaan hak dan peluang untuk meningkatkan kualitas kehidupan difabel dalam semua aspek kehidupan.
     Bagi Sunarman. memiliki keterbatasan fisik sejak usia 8,5 tahun membuat dia memahami dan mengetahui  persis apa yang dirasakan para difabel. Mewujudkan kesetaraan difabel dalam memperoleh hak dan kesempatan di segala aspek kehidupan adalah misinya.
Kesetaraan itu termasuk kebijakan dan program pembangunan di segala bidang yang berpihak kepada difabel. Jika itu terpenuhi, dia yakin kualitas hidup difabel mencapai taraf optimal dari potensi yang dimilikinya.
     Sunarman menegaskan, harapan itu akan tercapai jika ada "revolusi keberpihakan" kepada para difabel, termasuk pola pikir pengambil kebijakan terhadap difabel. Selama ini, keberpihakan yang ditunjukkan kepada difabel hanya sebatas di atas kertas, ala kadarnya. Buktinya, hingga kini, dari sekitar 500 kabupaten/kota di Tanah Air, baru sekitar 20 kabupaten/kota yang mempunyai program khusus untuk difabel. Sebagian besar program tentang difabel di pemerintahan kabupaten/ kota hanya ditangani satu instansi, yakni dinas sosial. Padahal, program yang terkait dengan difabel tidak semata-mata masalah sosial.
     "Ironisnya lagi, hingga kini pemerintah tidak punya data lengkap tentang jumlah difabel di Tanah Air," ujarnya. Bukannya meningkatkan kapasitas dan karakter difabel, sejumlah lembaga dan instansi malah terkesan "menciptakan rintangan" bagi difabel untuk mendapatkan haknya.
     Cara pandang terhadap difabel pun tidak banyak berubah. "Sejak kecil sampai tua, difabel hidup di panti. Difabel akhirnya dikebiri, nyaman di zona rehabilitasi dan cara berpikir tidak bebas," katanya. Padahal, kini isu kecacatan bukan lagi isu rehabilitasi, melainkan isu pembangunan yang harus berpihak kepada difabel.

Gerakan mandiri difabel

     Sebelum terjun mengadvokasi difabel, Sunarman bekerja di beberapa tempat, termasuk di Koperasi Penyandang Cacat "Harapan". Ia pernah ikut membentuk komunitas difabel untuk memperjuangkan hak-haknya, seperti kelompok penyandang cacat Sehati di Sukoharjo.
     Ia juga ikut mendirikan Himpunan Mahasiswa Penyandang Cacat (Himapenca) Solo dan terlibat membentuk kelompok studi masalah Gender dan Kecacatan (GenCatan) di UNS.
     Sejak saat itu, Sunarman terbiasa berdiskusi dan menilai situasi sosial ekonomi difabel serta mengenal kampanye, advokasi, pendampingan, hak asasi, masyarakat marjinal, serta rehabilitasi berbasis institusi dan rehabilitasi bersumber daya masyarakat (RBM).
     Awal tahun 1999, Sunarman ditawari menjadi pekerja lapangan di PPRBM. Dia memperkuat kelompok  yang dirintis bersama teman-temannya dan diminta membentuk kelompok baru di Kabupaten Boyolali dan Kota Solo.
     Ketekunan dan keuletan bekerja membawa Sunarman pada posisi kepala divisi di PPRBM pada 2007, hingga menjadi direktur di PPRBM pada 2009. "Saya belajar sejarah tentang PPRBM, konsep serta aplikasi RBM, baik di tingkat nasional maupun Asia Pasifik. Saya juga mengenal konsep rehabilitasi total yang dicetuskan tokoh ortopedi, Prof Dr R Soeharso," ujarnya.
     Sunarman mengagumi langkah Soeharso yang sejak tahun 1954 merintis program rehabilitasi total yang harus diikuti dengan delabelisasi penyandang cacat. "Tidak ada manusia cacat di dunia ini, yang ada manusia' itulah kata bijak Prof Dr R Soeharso yang masih bergaung sampai sekarang di kalangan aktivis difabel," paparnya.
    Pada 2004 Sunarman dikirim ke Nagoya, Jepang, mengikuti International Leadership and Development Course. Setelah itu, dia sering diundang ke luar negeri menjadi pelatih ataupun pembicara tentang RBM, seperti ke Thailand, Malaysia, dan Timor Leste.
     Sunarman juga pernah menjadi anggota Country Advisory Team dalam program DREAM-IT (Disability Right for Empowerment,Accessibility, and Mobility-in Indonesia and Thailand) selama tiga tahun.
     "Saya mempelajari laporan-laporan yang ada, sekaligus kelebihan dan kelemahan program selama ini. Ketika menjadi direktur PPRBM, memberi peluang bagi saya untuk mengembangkan program yang lebih berpihak kepada difabel," ujarnya.
     Kepada komunitas difabel di Kota Solo dan sekitarnya, Sunarman selalu menanamkan prinsip orang Jawa yang harus ajining raga ana busana dan ajining diri ana ing lathi (kepribadian yang murni ada di dalam hati, penampilan mencerminkan kepribadian). "Meski kita ini secara fisik ada kekurangan yang langsung terlihat, jika kita mampu menampilkan diri secara rapi lahir batin, kita akan menjadi seperti apa yang kita kehendaki," paparnya.
     Dia berharap difabel tidak begitu saja setuju dengan kata orang yang memberi definisi cacat secara negatif. Hal itu termasuk mengikuti penggiringan difabel ke panti rehabilitasi tanpa proses tawar-menawar dan pilihan atas dasar kebebasan dan kesetaraan hak.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 13 JANUARI 2012

Selasa, 14 Februari 2012

Sukirno: Merawat Masyarakat di Perbatasan

SUKIRNO
Lahir: Balikpapan, Kalimantan Timur,10November 1964
Istri: Mince Yunus (46)
Anak:
- Wahyu Rahmat Haryadi (23)
- Winda Ayu Bestari (19)
- Wisnu Satrio Wibowo (18)
Pekerjaan: Kepala Puskesmas Krayan, Kalimantan Timur
Pendidikan: Sekolah Perawat Balikpapan, 1982-1985
Pencapaian: 
- Perawat teladan se-Propinsi kalimantan Timur dalam program  Pemilihan 
  Perawat Teladan Tingkat Nasional, 1991
- Terpilih sebagai tenaga kesehatan haji di Kabupaten Nunukan, 2000

Sudah 25 tahun Sukirno mengabdi sebagai perawat di dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia. Suka-duka menguatkan dirinya untuk terus merawat warga di perbatasan.

OLEH HARRY SUSILO

Dibangunkan pada tengah malam, berjalan belasan kilometer, serta dibayar dengan beras dan ayam pernah dia rasakan. Malamitu, sekitar pukul 19.00 Wita, seorang nenek keluar dari rumah Sukirno, dipapah cucu perempuannya. Tak lama, giliran Mince Pengeran (40) masuk ke rumah itu. Ia menggendong putranya, Fabio (4).
     "Saya kerap menggedor rumah Pak Kirno jam sepuluh malam (pukul 22.00 Wita) karena anak saya sakit perut dan sakit gigi. Lagi pula, kami sudah cocok dengan Pak Kirno," kata Mince yang datang dengan suaminya, Yuwel (37).
     Hampir setiap hari rumah Sukirno kedatangan banyak warga. "Orang sakit itu tidak kenal waktu," ujar Sukirno yang menyadari risiko menjadi petugas medis di daerah pedalaman.
     Krayan, dengan luas sekitar 1.837 kilometer persegi, terletak di Kalimantan Timur bagian utara, berbatasan dengan Serawak. Dengan kondisi topografis berbukit-bukit dan dikelilingi kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang, tak ada akses darat yang menghubungkan Krayan dengan wilayah lain di Indonesia.
     Satu-satunya alat transportasi yang menjangkau Krayan aadalah pesawat perintis jenis Cessna Grand Caravan atau Pilatus Porter berkapasitas 6-9 orang. Biayanya mencapai Rp 900.000 untuk sekali terbang dari Tarakan ataupun Nunukan. 
     Sukirno, Kepala Puskesmas Krayan, adalah satu-satunya perawat di Kabupaten Nunukan. Ia dipercaya memegang jabatan strategis karena pengalamannya menangani pasien di pedalaman.
     Acap kali ia mesti merelakan waktu istirahatnya demi mengobati pasien yang tempat tinggalnya berjarak belasan kilometer. Padahal, akses antardesa kadang harus ditempuh dengan berjalan kaki.
     Warga yang datang ke rumahnya pada tengah malam biasanya membutuhkan penanganan darurat. Ia memahami situasi itu tanpa mengeluh. "Ada warga yang sakit perut, demam tinggi, atau muntaber. Kita harus siap karena tenaga kesehatan terbatas," katanya.
     Pernah suatu tengah malam, pintu kontrakan Sukirno digedor sejumlah orang dari desa lain yang panik karena saudara mereka terkena parang di kaki. Ia lalu ke rumah si pasien dan menjahit luka di kaki itu. "Saya terpaksa menginap di sana karena sudah terlalu larut untuk pulang," kata pria yang beristrikan Mince Yunus, perempuan Dayak Lundayeh, ini.
     Tak semua warga yang meminta pertolongannya bisa membayar karena miskin. Jika tidak ada uang, sebagian warga memberinya beras, lauk-pauk, atau seekor ayam sebagai bentuk terima kasih. Padahal, tarif sekali berobat di Krayan Rp 30.000. Ini termasuk obat jika penyakit yang diderita warga tergolong ringan. Biaya rawat inap Rp 20.000 per malam.

Melawan sepi

    Bagi Sukirno, tugas di daerah pedalaman dan perbatasan seperti Krayan menguji kesabaran dan menantang pengabdian. Sejak ditugaskan sebagai perawatdi Puskesmas Pembantu Desa Terang Baru, Kecamatan Krayan, September 1986, ia telah mengalami suka-duka petugas medis dengan keterbatasan alat dan sumber daya manusia."Saat itu, sepeda motor pun belum ada," ujarnya.
     Krayan pun belum tersentuh listrik dan komunikasi hanya lewat surat. Untuk mengirimkan surat kepada keluarga, ia menitipkan kepada pilot penerbangan perintis ke Tarakan karena kantor pos belum beroperasi.
     Dengan gaji Rp 44.000 per bulan pada masa awal ia bekerja, tak cukup bagi Sukirno untuk membeli tiket pesawat yang saat itu Rp 48.000 untuk sekali terbang ke Tarakan. Tak ada pilihan selain harus memendam rindu kepada keluarga hingga bertahun-tahun.
     Kondisi ini sempat membuat Sukirno nyaris putus asa. Sejak pertama kali ditempatkan di sana, lima kali ia mengajukan pindah tugas, tetapi tak dikabulkan Pemerintah Kabupaten Bulungan (sebelum dimekarkan menjadi Kabupaten Nunukan).
     Keputusan mengajukan pindah itu dilakukan karena ia merasa berat harus hidup sendiri, berjuang melawan sepi. Rasa sepi itu sedikit terkikis setelah bertemu Mince Yunus, yang lalu menjadi istrinya.
     Dia kembali mengajukan pindah karena ingin membesarkan anaknya di luar Krayan yang kondisinya serba terbatas. Ia mengajukan pindah tugas ke Balikpapan, tarakan, dan Nunukan, tetapi semuanya tak terwujud.
     Pada tahun 1995, barulah Sukirno memutuskan menikmati tugasnya. Dengan peralatan medis seadanya, ia mengunjungi pasien yang tersebar di Krayan.

Warga patungan

     Hampir semua warga Krayan mengenal Sukirno. Jika sang perawat tak ada di puskesmas, mereka mendatangi rumahnya. banyak warga merasa cocok dengan diagnosis dan cara dia memperlakukan pasien.
     Sukirno tak sembrono. Jika ada pasien terkena penyakit yang membutuhkan perlakuakn khusus, seperti pendarahan atau bedah, langsung dirujuknya ke Kota Tarakan agar secepatnya ditangani dengan peralatan yang lebih baik.
     Sejak awal berada di Krayan, ia menyadari hanya sebagian penyakit yang dapat langsung ditanganinya, dengan keterbatasan peralatan dan tenaga medis di Puskesmas Krayan. Namun, ia tetap bertindak hat-hati.
     "Daripada harus ditahan-tahan (pasiennya), nanti malah kita yang disalahkan. Di Tarakan, mereka bisa dirontgen dan mendapat perawatan lebih lanjut," katanya.
     Di sisi lain, merujuk pasien ke Tarakan berarti warga harus mengeluarkan uang lebih banyak dengan mengangkut si pasien menggunakan pesawat terbang. Untuk itu, kata Sukirno, semestinya biaya berobat bagi warga perbatasan ditanggung pemerintah.
     "Kadang warga patungan untuk mengobati tetangganya yang sakit keras. Tapi, warga juga tahu, sebagai tenaga medis, saya tidak bisa ambil risiko," ujar Sukirno yang menjadi perawat teladan se-Kalimantan Timur tahun 1991.
     Sebagai kepala puskesmas, dia mencanangkan program "Krayan Sehat" yang berharap dapat dicapai pada 2015. Sukirno memimpikan keberadaan tenaga medis disetiap lokasi (terdiri atas 3-4 desa).
     Kini, baru sekitar 60 persen dari 21 lokasi (65 desa) di Krayan yang memiliki tenaga kesehatan. Kondisi ini membuat warga kerap mesti ditandu untuk dibawa ke Long Bawan, ibu kota kecamatan.
    Sukirno telah menikmati apa yang dilakukannya selama lebih 25 tahun. bagi dia, bekerja tanpa harus dijadikan beban akan membuat diri merasa lebih berarti bagi masyarakat.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 9 FEBRUARI 2012

Senin, 13 Februari 2012

Sanamo: "Empu" Perajin Keris Aengtongtong

SANAMO
Lahir: Aengtongtong, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, 25 Mei 1971
Istri: Lutfiah (41)
Anak:
- Selfi (22)
- Emilia (16)
Pendidikan:
- SDN Talang I Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep
- SMPN I Saronggi
- SMA Pesantren Sumenep
Pekerjaan:
- Perajin dan pengepul kerajinan keris
- Bendahara Paguyuban (Perajin Keris) Megaremeng, Aengtongtong
- Ketua Paguyuban Musik Rabana Desa Aengtongtong
- Ketua Persatuan Karjeh (semacam arisan hajatan) Desa Aengtongtong

Desa Aengtongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kondang dengan produk kerisnya. Karya para perajin di desa itu sudah melanglang buana, tetapi nasib mereka masih jauh dari sejahtera. Minimnya perhatian bagi para perajin itu tak menyurutkan semangat Sanamo, satu dari ratusan perajin keris, untuk terus mengembangkan usaha ini.

OLEH RUNIK SRI ASTUTI/AGNES SWETTA PANDIA

Jalan menuju Desa Aengtongtong yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil ini relatif sepi. Namun, dibalik kesunyian itu, warga setempat sibuk menggarap keris pusaka. Warga desa ini seakan dilahirkan untuk mahir mereparasi keris pusaka lama dan terampil membuat keris baru.
     Sanamo mengklaim, perajin di desanya tak hanya pintar membuat keris jawa, tetapi mereka juga mahir membuat keris bugis dan melayu. "Kami mendapatkan keahlian ini secara otodidak, turun-temurun."
     Sebagian besar warga di Desa Aengtongtong tak hanya menguasai teknik pembuatan keris, tetapi mereka juga paham pakem dari hampir semua pamor keris Nusantara. Contohnya, pamor melati rinonce, beras wutah, bulu ayam, hujan emas, dan junjung drajat.
     Keahlian itu menjadi salah satu pertahanan bagi industri kerajinan keris pusaka di desa yang berjarak 18 kilometer dari Kota Sumenep, atau 19 kilometer dari Surabaya, tersebut. Namun, industri kecil ini nyaris tak mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sumenep meski kerajinan pusaka itu menjadi mesin uang, selain pekerjaan pokok warga sebagai petani.
     Hampir 1.000 jiwa dari sekitar 1.300 jiwa penduduk Desa Aengtongtong menjadi perajin keris pusaka. Mereka menangani industri hulu hingga proses penghalusan keris. Di sini juga berlangsung industri pembuatan aksesoris keris, seperti warangka atau tempat keris dan sarung keris.

Bersatu

     Sayang, perajin keris di desa ini seakan dibiarkan berjalan sendiri tanpa pembinaan. Saat mereka kesulitan modal usaha, pemerintah daerah pun relatif tak peduli termasuk ketika para perajin dipermainkan tengkulak sehingga mereka merugi.
     Melihat kondisi itu, Sanamo tak tinggal diam. Ia menghampiri satu persatu perajin, menggandeng mereka untuk bersatu. Menurut dia, hanya dengan bersatu, segala persoalan yang membelit perajin selama ini bisa dicarikan jalan keluar.
     Sebagai contoh, kata ayah dari dua putri ini, dulu perajin saling sikut dalam memasarkan produk karena tak ada standar harga dasar. Mereka jual rugi karena terdesak kebutuhan hidup.
     Situasi itu berubah total saat Sanamo berhasil mendirikan Paguyuban Perajin Keris Aengtongtong Megaremeng. Harga keris bentuk kasar, hasil karya perajin, dipatok Rp 400.000- Rp 500.000 per bilah. Harga itu bisa berkembang hingga jutaan rupiah, bahkan puluhan juta rupiah, jika telah disempurnakan menjadi keris lengkap dengan ukiran dan pamornya.
     Usaha Sanamo memajukan perajin keris di desaanya tak pernah berhenti. Satu persatu masalah perajin diurai, termasuk keterbatasan akses mendapatkan modal kerja dan pemasaran. Perajin umumnya mengandalkan modal sendiri dan pinjaman dari rentenir. Perbankan dan lembaga keuangan belum melirik usaha yang rata-rata setiap pekan menghasilkan sedikitnya 1.000 bilah keris ini.
     Melihat ketidakadilan itu, Sanamo "berontak". Ia menggalang kekuatan modal dari perajin dan membentuk koperasi. Meski belum berbadan hukum, koperasi ini telah memiliki usaha simpan pinjam yang produktif dengan jumlah dana yang dikelola ratusan juta rupiah.
     "Perajin butuh modal kerja tinggal pinjam kepada koperasi. Mereka bisa mencicil pinjamannya dengan nilai cicilan yang tidak memberatkan karena disesuaikan dengan kemampuan perajin," ujarnya.
     Ketika ada perajin gagal bayar, koperasi tak membebani anggotanya yang kesulitan, caranya, perajin diberi kesempatan membangkitkan kembali usahanya sampai ia mampu mencicil utang. Selama masa menunggu pelunasan, perajin lain ikut membimbing agar usaha itu berkembang.

Akses pasar

     Sanamo juga berusaha membuka akses pasar. ia menampung semua karya perajin dan dibeli tunai sesuai dengan standar harga sehingga perajin bisa untung. Dia kemudian memasarkan keris-keris itu ke berbagai penjuru Nusantara.
     Dari pasar tradisional di empat kabupaten di Pulau Madura, dia melebarkan sayap ke kota-kota besar, seperti Surabaya, Bali, dan Jakarta. Beragam metode penjualan dia tempuh, mulai dari berdagang secara konvensional dengan menggelar lapak di pasar sampai membuka jaringan pemasaran dengan memajangnya lewat internet.
     Sanamo mempromosikan keris dari Aengtongtong lewat beragam jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter. Hasilnya, keris melayu buatan anak Desa Aengtongtong pun "berlayar" hingga Malaysia.
     Ibarat perahu yang berlayar mengarungi samudra bisnis, terpaan badai pada industri kerajinan keris di Aengtongtong tak pernah berhenti. Salah satunya, perajin sering ditangkap polisi karena membawa keris pusaka untuk dijual. Aparat beralasan, keris termasuk senjata tajam yang bisa membahayakan keselamatan jiwa masyarakat.
     Tindakan ini jelas menghambat bisnis kerajinan keris. Apalagi, perajin harus mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah supaya tak ditahan. Meskipun sudah jelas keris itu warisan budaya yang dilindungi," cetusnya.
     Sanamo kian sedih karena banyak perajin tak cakap saat adu argumentasi dengan aparat keamanan yang menahan mereka. Kendalanya, tingkat pendidikan mereka relatif rendah sehingga saat berhadapan dengan polisi biasanya mereka langsung takut. Dampak dari kondisi ini, perajin tak berani memasarkan sendiri karya kerisnya. Mereka memilih menjual kepada tengkulak meski dengan harga murah.
     Kondisi yang demikian membuat Sanamo terus berjuang demi melindungi perajin dari aparat keamanan.
     Meski ada koperasi, "empu" keris di Desa Aengtongtong ini masih berupaya mencari terobosan guna mendapatkan modal usaha bagi perajin. Misinya, kerajinan keris di Desa Aengtongtong meningkat pamornya seiring dengan pamor keris yang dihasilkan warganya.
     Tak hanya modal, berbagai perizinan terkait usaha kerajinan keris pun terus dia upayakan agar lebih mudah. Sang "empu" ingin agar keris yang sarat dengan nilai seni ini tak lagi dipandang setara dengan senjata tajam. Di Aengtongtong, Madura, ribuan orang menggantungkan nasibnya pada usaha kerajinan keris ini.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 7 FEBRUARI 2012

Encim Masnah: Sinden Gambang Keromong Klasik Terakhir

MASNAH ALIAS PANG TJIN NIO
Lahir: Banten Lama, Tangerang, 1924
Suami: almarhum Oen Oen Hok
Rekaman: Smithsonian Folkways, Amerika Serikat, 1991
Pentas: Esplanade, Singapura, 2006
Penghargaan: Piagam Seniman Senior Indonesia (Maestro) dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, 2007

Kesenian gambang keromong adalah jembatan budaya Betawi, Sunda, dan peranakan Tionghoa yang berkembang sejak medio abad ke-19. Encim Masnah alias Pang Tjin Nio adalah satu-satunya sinden lagu-lagu klasik gambang keromong yang tersisa.

OLEH IWAN SANTOSA/IRWAN JULIANTO

Masnah, peranakan Tionghoa kelahiran Banten Lama, dekat kelenteng Avalokiteswara, dari pasangan Tionghoa dan Jawa itu, mulai berkiprah sebagai penyanyi gambang keromong dan penari cokek pada usia 14 tahun.
     "Awalnya, gara-gara ditinggal mati suami dan anak. Ditinggal orangtua pasti sedih. Kehilangan suami dan anak bisa hilang akal. Kalau ada yang ngajak nyanyi atau menari, ya (saya) ngikut," ujar Masnah saat masih segar dalam film dokumenter Anak Naga Beranak Naga tahun 2006.
     Dalam film itu, ia menceritakan keterlibatannya menjadi penyanyi dan penari gambang keromong. Dia juga membintangi film dokumenter lainnya, Dua Perempuan.
     Ketika ditemui pekan lalu, Masnah tersengal-sengal saat berbicara dan telinganya tak lagi tajam mendengar. Dia berkali-kali menghela napas dan setengah berteriak saat berbicara. Berjalan jauh pun ia susah karena kedua kakinya sudah lemah.

Primadona

    Pada masa silam, sebagai primadona gambang keromong, Masnah bebas mengikuti kelompok manapun yang mau menanggapnya. Berbeda dengan situasi kini yang mengharuskan sinden punya kelompok gambang keromong sendiri.
     Kini, seorang sinden bisa bermain dengan kelompok lain, tetapi syaratnya sedang tidak ada permintaan pentas yang ditangani grup gambang keromong yang menaunginya. Dulu, pada masa jaya, Masnah menjadi bintang panggung di pekalangan (acara hajatan), pernikahan, ulang tahun, dan pelbagai acara masyarakat lainnya.
     Bisa menyanyi bersama grup gambang keromong yang laris ditanggap memang menyenangkan. Sauw Ong Kian, pemimpin grup Sinar Gemilang, tempat Masnah terakhir kali bergabung, menceritakan, uang sawer dari pertunjukkan dikumpulkan dan bisa memenuhi kotak gambang.
     "Setelah penuh, barulah uang sawer dan penghasilan dibagi untuk para anggota kelompok gambang keromong," ujar Ong Kian yang sejak zaman orangtuanya pun sudah kerap manggung bersama Masnah, sang primadona.
     Kehidupan Masnah menjadi sedikit susah saat Perang Dunia II dan militer Jepang menyerbu Pulau Jawa pada 1 Maret 1942. Dia bersama beberapa sanak keluarga mengungsi ke Batavia menumpang perahu dari Banten, dan tiba di Pelabuhan Pasar Ikan.
     "Saya bersama beberapa teman dan kerabat bergabung dengan grup gambang keromong di Gang Songsi, Jembatan Lima, Jakarta. Saya sempat lama bergabung dengan gambang keromong Cabe Rawit-Irama Persatuan di daerah Pecah Kulit (kini Jalan Pangeran Jayakarta)," ujar nenek yang suaranya lantang jika diminta membawakan lagu-lagu klasik gambang keromong ini.
     Penyanyi kesohor itu melanjutkan, pada masa silam, seorang gadis yang tak bisa menyanyi tak bisa menjadi anak cokek (penari). Kini, asal bisa menari dancantik, seseorang bisa menajdi cokek.
     Meski buta huruf dan tak pernah bersekolah, Masnah mengaku mengenal hitung-hitungan, termasuk soal honornya menyanyi. Dia tidak mematok berapa harga yang harus dikeluarkan untuk mengundangnya hadir dalam hajatan.
     Saat diwawancarai Warisan Indonesia disebutkan, untuk menyanyi tiga lagu, dia dibayar Rp 500.000. Bila berikut uang sawer, dia bisa membawa pulang Rp 1 juta.
    Walau sakit-sakitan, bulan lalu dia masih diajak menyanyidua kali di kelenteng dekat rumah, di bilangan Sewan (Rawa Kucing), Tangerang. Ia kini tinggal di rumah anak angkatnya, Endang Winata alias Ojit, yang berdinding bata semen tanpa diplester.
     Setahun yang lalu, Masnah menjual rumah warisan dari suami terakhirnya dan kini ditempati Goyong (60), anak kandung sang suami dari istri pertama. Goyong mewarisi bakat dari ayah kandungnya yang fasih memainkan alat-alat musik, membuat peralatan gambang, dan dua jenis rebab khusus untuk gambang keromong.
     Kesetiaan Masnah pada jalur gambang keromong mendapatkan pengakuan dari berbagai lembaga. Smithsonian Institute dari Amerika Serikat secara khusus merekam gambang keromong dengan Masnah menyanyikan lagu klasik. Ketika itu Masnah masih menyanyi diiringi suaminya yang terakhir, Oen Oen Hok.
     Foto Masnah muda bersama almarhum suaminya itu terpajang di samping foto besar suaminya, di atas meja sembahyang. Ada juga sampul CD Music from the Outskirt of Jakarta-Gambang Kromong yang diproduksi Smithsonian Folkways tahun 1991.
     Ia juga memasang foto suaminya dengan dua rekannya pemain rebab serta foto Masnah sekitar 20 tahun lalu. Masnah pun masih mengingat lagu-lagu gambang keromong, seperti Cente Manis Berdiri, Stambul Rusak, Sereh Wangi, Langkuan, dan Jali-Jali.

Manggung di Singapura

     Pemerhati budaya peranakan Tionghoa di Tangerang, David Kwa berharap ada yang secara khusus mendokumentasikan dalam bentuk digital rekaman-rekaman lagu Masnah.
     "Penyanyi sekarang tak ada yang punya kemampuan seperti Encim Masnah. Mereka hanya mengenal lagu-lagu sayur. Lagu dalem atau disebut juga lagu klasik hanya Encim Masnah yang mengerti," kata David Kwa yang pernah tampil bersama Encim Masnah pada acara televisi Kick Andy beberapa tahun silam.
     Masnah mengatakan, kalau kondisinya sehat, ia selalu siap berangkat untuk menyanyi gambang keromong meski penghasilan dari menyanyi itu tak seberapa dan habis untuk keutuhan sehari-hari, terutama biaya berobat.
     Walaupun gambang keromong musik pemersatu Betawi, Tionghoa dan Sunda itu, semakin tersisih, Masnah tetap setia pada dunia yang membesarkannya. Dia banggapernah manggung di "Gedung Durian", Esplanade, Singapura, 18-21 September 2006, diiringi grup gambang keromong Sinar Gemilang pimpinan Sauw Ong Kian.
      Masnah tampil anggun di Esplanade. Ia berkebaya dan mengenakan sarung batik yang disediakan warga Singapura. Itulah puncak pengakuan karier Masnah yang justru dia peroleh di Singapura.
     Memang setahun kemudian, tepatnya 28 Desember 2007, ia mendapat penghargaan dari Menteri Kebudayaan  dan Pariwisata Jero Wacik atas kesetiaannya melestarikan lagu-lagu klasik gambang keromong. Ia menapat uang penghargaan Rp 7,5 juta, yang segera habis digunakan untuk berobat.
     Saat Bentara Budaya Jakarta menggelar Pameran Budaya Peranakan Tionghoa, Senin (6/2), Masnah dengan antusias menyatakan siap menyanyi ketika mengetahui gambang keromong pimpinan Sauw Ong Kian akan tampil.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 6 FEBRUARI 2012

Senin, 06 Februari 2012

Samtuwo Jaya: "Pendekar" Infrastruktur Pelosok Sinjai

SAMTUWO JAYA
Lahir: Sinjai, 29 September 1963
Istri: Rafida (44)
Anak: Surya Akbar Samid (22) dan Samsuryanidar (20)
Pendidikan:
- SD Negeri 70 Arango Sinjai
- MTs Negeri arango Sinjai
- SMA Cokroaminoto Makassar
Pengaaman kerja:
- Ketua Perkumpulan Petani Pengguna Air "Soba" (1989-2001)
- Koordinator Pengembangan Prasarana Desa (2001-2008)
- Koordinator Program Penanggulangan Kemiskinan Pedesaan (2005)
- Koordinator Program nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan
  (2008-sekarang)
- Pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (2009-2010)
- Koordinator Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara Sarana Prasarana Desa 
  (2010-sekarang)
Penghargaan:
- Pengelola Pembangkit Tenaga Mikrohodrao Terbaik Tingkat Nasional (2009)
- Koordinator Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara Sarana Prasarana Desa 
  Terbaik Tingkat Nasional (2011)

Samtuwo Jaya (48) tak pernah belajar manajemen. Namun, upayanya mendorong partisipasi warga selama 22 tahun terakhir bermanfaat banyak bagi kehidupan di pelosok Sinjai Barat, Sulawesi Selatan. Pembanguna jembatan gantung yang diprakarsainya membuka keterisolasian warga di tiga kabupaten sekaligus, yakni Sinjai, Bone, dan Gowa.

OLEH ASWIN RIZAL HARAHAP & NASRULLAH NARA

Jembatan yang beroperasi sejak Oktober 2011 itu tk lepas dari kegigihan Samtuwo meyakinkan warga di Desa Arabika, Kecamatan Sinjai barat, sekitar 250 kilometer arah timur Kota Makassar. Ia sukses melobi warga di empat dusun sehingga mau menggabungkan bantuan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri tahun ini sebesar Rp 180 juta untuk membangun jembatan.
     Warga menyadari pentingnya jembatan untuk mempermudah mobilitas mereka. Ketika pada akhirnya biaya pembangunan membengkak hingga Rp 208 juta, Samtuwo yang dipercaya sebagai koordinator Kelompok Pemanfaatan dan Pemelihara (KPP) Sarana Prasarana Desa pun dengan mudah mendorong warga agar bahu-membahu menutupi kekuranganRp 28 juta.
     Jembatan gantung sepanjang 83 meter itu membentang di atas Sungai Tangka yang berlokasi di Dusun Tonro, Desa Terasa, Sinjai Barat. Dengan lebar 1,7 meter, warga yang menggunakan sepeda motor atau kuda bisa leluasa menyeberang.
     Jembatan tersebut memeprsingkat perjalanan warga Desa Arabika, Terasa, dan Turungan Baji menuju Pasar Bontosalama yang berada di seberang sungai.
     Kini, warga bisa berbelanja kebutuhan pokok di pasar yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari desa mereka itu. Sebelum jembatan dibangun, warga harus mengitari Desa Terasa sejauh  20 km untuk sampai ke Pasar Bontosalama. Tarif ojek tujuan pasar yang semula Rp 50.000 pun kini turun menjadi Rp 10.000.
     "Jalan dan jembatan itu memperlancar mobilitas penduduk untuk memasarkan hasil bumi, bahan pokok, dan produk industri rumah tangga," kata Bupati Sinjai Andi Rudiyanto.
     Begitu pula dengan pusat kesehatan masyarakat di Desa Bontosalama. Kini hanya berjarak tempuh 8 km dari Desa Arabika, Terasa, dan Turungan Baji. Jembatan turut mempersingkat rute yang harus ditempuh siswa SD dan SMP setempat dari semula 20 km menjadi 5 km.
     Rupanya tidak hanya warga di Sinjai Barat yang diuntungkan dengan adanya jembatan tersebut. Jembatan itu juga menjadi akses bagi warga Desa Ta'binjai, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, dan Desa Bana, Kecamatan Botocani (Bone). Warga Gowa dan Bone-dua kabupaten tetangga Sinjai-tak lagi menempuh perjalanan 5-6 jam untuk mencapai pusat kota  SInjai. Begitu pula sebaliknya.
     "Fungsi yang tak kalah pentingnya, jembatan amat membantu wargadi Sinjai Barat yang wilayahnya sering dilanda longsor," kata Samtuwo. Topografi Sinjai Barat yang umumnya berbukit-bukit membuat warga kerap terisolir akibat longsor, terutama saat musim hujan tiba.
     Vitalnya fungsi jembatan bagi warga Sinjai Barat berujung pada penghargaan yang diraih ayah dua anak itu sebagai KPP terbaik tingkat nasional tahun 2011. Penghargaan dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat diperoleh Samtuwo akhir November lalu bersama 17 KPP terbaik lainnya di Tanah Air.
     Apresiasi itu seolah menjadi puncak dari pengorbanan Samtuwo sejak tahun 1989.Kala itu, suami dari Rafida (44) ini dipercaya sebagai Ketua Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Soba. Ia bertanggung jawab memelihara jaringan irigasi desa dan membagikannya secara merata untuk sawah seluas 124 hektar di Dusun Bondo, Desa Arabika.

Memelihara irigasi

     Samtuwo sukses menerapkan sistem subak seperti yang lazim di Bali. Dia tak hanya menjatuhkan sanksi dan memungut iuran saat pascapanen, tetapi juga membentuk tim pemelihara jaringan irigasi. Putra pasangan Pali dan Suhe itu membagi 117 petani di dusunnya dalam beberapa kelompok. Kelompok itu secara bergiliran bertugas memeriksa kondisi jaringan irigasi setiap enam bulan sebelum masa tanam.
     Warga harus punya rasa memiliki agar segala fasilitas yang ada awet dan bermanfaat secara optimal," kata Samtuwo. Pemeliharaan infrastruktur pertanian secara rutin telah meningkatkan produktivitas padi dari 3,5 ton per hektar menjadi 5-6 ton per hektar dengan dua kali panen setahun.
     Setelah 10 tahun lebih mengelola jaringan irigasi desa, Samtuwo dipercaya mengatur kebutuhan air bersih warga. Pada 2001, ia menggerakkan pembangunan delapan bak penampungan air bersih memakia dana bantuan Pengembangan Prasarana Desa (P2D).
     Samtuwo membentuk lembaga pengelola air bersih yang bertanggung jawab membangun jaringan ke rumah warga. Saat ini pipa telah terpasang di 90 persen dari 200 rumah penduduk Desa Arabika. Kesibukannya kian bertambah ketika P2D setahun kemudian difokuskan pada infrastruktur, seperti pembangunan jembatan kecil dan jalan usaha tani.
     Pemeliharaan, menurut Samtuwo, menjadi kunci kelanggengan suatu produk. "Kami tak boleh menyia-nyiakan bantuan yang diberikan karena uluran tangan orang belum tentu hadir setiap," ujar lelaki yang menjabat sebagai Kepala Dusun Bondo sejak 2008 ini.
      Selama lebih dari dua dekade, bungsu dari delapan bersaudara ini menjalani amanah tanpa bayaran sepeser pun. Samtuwo justru merelakan sawah dan kebun kakao seluas 2,5 hektar miliknya dikelola orang lain dengan sistem bagi hasil. Jika ada waktu luang, ia mengunjungi kedua buah hatinya yang tengah berkuliah di Kota Makassar.
     Putra sulungnya, Surya Akbar Samid (22), mengambil Jurusan Sejarah di Universitas Negeri Makassar. Sang adik, Samsuryanidar (20), memilih Jurusan Analis Kesehatan di Universitas Indonesia Timur.
     Meski lahir dari kalangan keluarga petani, niat Samtuwo untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi tak pernah surut. Tekadnya pun tak pernah luntur untuk terus bekerja tanpa pamrih demi kemaslahatan bersama warga kampung.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 20 DESEMBER 2011

Jumat, 03 Februari 2012

Urfiah Syanty: Memberi "Kail" Kemandirian Perempuan


URFIAH SYANTY 
Lahir: Makassar, Sulawesi Selatan, 30 Juni 1965
Ayah: Syamsur Thalib (alm)
Ibu: Nesty (61)
Adik: Nurcholis (39)
Anak: Ayu Sinta Nugraha (18)
Pendidikan:
- SD Muhammadiyah VII Makassar (1971-1977)
- SMP Negeri VII Makassar (1978-1981)
- SMA UMI Makassar (1981-1984)
- S-1 Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (1984-1990)
- S-2 Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (2007-2009)
Kegiatan, antara lain:
- Ketua Yayasan Cipta Diri, lembaga  pendidikan nonformal dan keterampilan,
  Sejak 2001
- Ketua Makassar Sampulo, perkumpulan perajin, desainer, dan pengusaha
  sutra Sulawesi Selatan, 2011
- Pembicara pada berbagai seminar tentang etika

Urfiah Syanty menyadari, kerapuhan ekonomi dengan  mudah menghancurkan kehidupan perempuan. Satu-satunya pilihan adalah membekali perempuan miskin agar mampu berdikari. Untuk itu, dia pun membentuk Yayasan Cipta Diri.

OLEH MARIA SERENADE SINURAT

"Ibu saya membiayai saya sampai kuliah dengan menjahit dan membuat kue," ujar Urfiah mengenang sosok ibunya Nesty (61), yang menjanda setelah sang suami meninggal. Urfiah baru saja selesai mengajar di kelas sulam pita yang dihadiri 25 perempuan. Mereka semua ibu rumah tangga yang bersuamikan buruh harian.
     Dari kisah ibunya, Urfiah belajar dua hal, yakni ketidak berdayaan ekonomi bisa mengikis daya hidup dan ikatan keluarga. Satu pelajaran lagi yang terus dipegangnya sampai saat ini, beri kaum miskin "kail" dan mereka akan memberdayakan dirinya. Dengan semangat itulah, Yayasan Cipta Diri (YCD) dibentuk tahun 2001.
     Kail bagi Urfiah adalah keterampilan. Berdiri pada Juli 2001, YCD menjadi wadah terutama bagi kaum miskin kota di Makassar, Sulawesi Selatan, untu belajar keterampilan seperti menjahit, menyulam, desain busana, menari, hingga olah vokal secara gratis. Menyewa sebuah rumah di Jalan Rappocini, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, YCD membuka pintunya bagi anak muda putus sekolah, penganggur, waria, juga mantan pekeerja seks komersial.
     YCD bermula dari sebuah pengalaman yang tak terduga. Urfiah mendirikan salon kecantikan di Makassar satu dekade silam. Bisnis ini mempertemukannya dengan para waria yang antusias mengikuti kursus tata rias. Urfiah menyadari para waria ini tidak mampu membiayai kursus. Dia pun mengajak kawan-kawannya untuk memberikan kursus tata rias gratis.
     Kegiatan ini membukakan mata Urfiah bahwa manusia berketerampilan akan menemukan jalan untuk memperbaiki hidupnya. Para waria yang dulu dia ajar kini berani bekerja, bahkan membuka salon.
     Urfiah pun memberanika diri membangun YCD. Dia menggandeng para pengajar keterampilan tangan untuk memberikan pelatihan kepada kaum miskin. Awalnya semua berjalan dengan dana pribadi. Pada tahun ketiga, kegiatan ini direspons Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan dan Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, yang bersedia mendukung anggaran.
     Dengan organisasi dan dana yang lebih solid, kelas-kelas yang ditawarkan ebih beragam. YCD pun membuka kelas bakat istimewa grtais untuk anak berusia 7-18 tahun. Pendaftar datang dari berbagai lapisan masyarakat. "Kami fokuskan kepada yang tidak mampu karena merekalah yang perlu disentuh," katanya.
     Dengan memberikan kail, kaum miskin bisa berupaya mencari ikan. Dari YCD inilah mereka yang pernah belajar menemukan pegangan hidup. Akmal Khapoor (33), waria yang belajar tata rias dan menyanyi, kini membentuk grup menyanyi dan tak lagi kembali ke jalanan.

Perempuan

     Tidaklah kebetulan jika kegiatan di YCD melibatkan banyak perempuan. Urfiah menyadari, permasalahan ekonomi menjadi pemicu utama perselisihan dalam keluarga. Bagi keluarga miskin, itu lebih memberatkan karena mereka tidak punya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak. Perempuan miskin tanpa pendidikan dan pekerjaan rentan terhadap kekerasan rumah tangga. "Keterampilan adalah ruang bagi mereka mengembangkan diri," ujar Urfiah.
     atas dasar itu, kelas di YCD tidak semata mengajarkan keterampilan teknis, tapi juga keterampilan hidup. Kelas sulam pita, misalnya, dilengkapi materi tentang etika. Mengapa etika? "Saya ingin mereka bisa  menghargai diri mereka, dengan begitu menghargai lingkungan sekitar mereka," kata Urfiah tegas.
     Pelajaran etika sebenarnya sederhana saja. Urfiah membagikan pemahaman tentang bagaimana perempuan harus memberdayakan diri, berkomunikasi dengan orang lain, membangun jaringan, dan memperlakukan orang lain. Urfiah percaya, perempuan ini tidak selamanya akan miskin. "Tahunan mendatang, mereka bisa membagi pengalaman itu kepada perempuan lain," katanya.
     Muara dari semua pelatihan ini adalah perempuan memiliki harga diri dan mengambil peran aktif, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Daya hidup

     Dari para perempuan yang dia temui di YCD, Urfiah belajar bahwa dalam kekurangan dan keterbatasan, manusia justru menemukan daya hidup. Urfiah seakan berkaca tentang hidupnya jika menengok keuletan perempuan yang dia temui.
    Ayahnya meninggal saat Urfiah berusia 7 tahun. Tersisalah ibu dan adik lelakinya yang bertahan berkat kemampuan sang ibu menjahit pakaian dan membuat kue kering. Urfiah muda tertarik mempelajari keterampilan berbusana dan tata rias. Namun, dia justru memilih belajar di Jurusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin.
     Memasuki semester III, Urfiah terpilih mewakili Indonesia dalam program pertukaran pemuda ke Jepang selama  setahun. Sekembalinya ke Indonesia, kehidupan berlangsung mulus, hingga dia lulus, bekerja di sebuah bank, dan menikah tahun 1991.
     Dia meninggalkan pekerjaannya, dan pernikahannya kandas tiga tahun berselang. Dia seperti terlempar ke masa lalu ibunya, sendirian tanpa harta apa pun. Kala itu, putrinya, Ayu Sinta Nugraha (18) belum genap 2 tahun. Pilihan yang paling masuk akal bagi Urfiah ialah kembali ke rumah ibu untuk memberikan ASI eksklusif untuk bayinya.
     Masa transisi itu menguatkan tekad Urfiah untuk bisa mandiri. Dia mencoba apa pun yang bisa dilakukan, mulai dari menjadi agen asuransi hingga penjual cengkeh. Dia melibatkan diri dalam banyak organisasi untuk memperluas jaringan. Pelan tetapi pasti, dia mampu berdiri di kaki sendiri.
     Salon Ayu yang dia rintis akhirnya ditutup tahun 2004 karena waktunya dicurahkan untuk YCD. Tahun 2011 dia mendirikan Makassar Sampulo, wadah bagi perajin, desainer, dan pengusaha sutra di Sulawesi Selatan. Untuk pertama kalinya ada asosiasi para pegiat sutra yang secara aktif mempromosikan sutra alam ke pasar internasional.
     Dengan Makassar Sampulo, Urfiah berharap dunia menengok Indonesia sebagai salah satu produsen sutra alam. Hal ini akan memperbaiki kehidupan perempuan di desa-desa Sulawesi Selatan yang menggantungkan hidup pada usaha tenun sutra yang digeluti setiap hari.
     Urfiah terus menularkan semangatnya di YCD yang sampai saat ini tetap menjadi lembaga nonprofit. Dia juga terus berjuang agar suatu saat sutra Sulawesi Selatan bisa menjadi tuan di rumah sendiri. Untuk semua yang telah berhasil dilaluinya, dia berterima kasih kepada ibu dan para perempuan miskin yang memberinya daya hidup.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 3 FEBRUARI 2012

Kamis, 02 Februari 2012

Ridwan Gustiana: Mengabdi Lewat Rumah Solusi

RIDWAN GUSTIANA 
Nama panggilan: Jack
Lahir: Bandung, 4 September 1976
Istri: Filla Refiani (27)
Anak: Gerhana Putra Gustiana (2)
Pendidikan:
- SD Nenon Ciwideuy, Jawa Barat, lulus 1988
- SMP Pasirjambu, Kabupaten Bandung, 1991
- SMA 4 Bandung, 1994
- Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, 2002
- Liverpool School Tropical Medicine, Jurusan Public Health in Humanitarian, 
  2011
  
Ridwan Gustiana terbangun mendengar ketukan pintu berulang-ulang saat menginap di rumah tanpa listrik  milik warga Kampung Kosai Baru, Desa Cinaka, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Pulau Mentawai, Sumatera Barat, pertengahan September 2011. Ketika itu jarum jam menunjukkan pukul 04.30. Tamunya warga setempat yang kebingungan saat istrinya hendak melahirkan anak pertama.

OLEH CORNELIUS HELMY

"Tolong bantu istri saya melahirkan, Dokter. Jarak dari rumah ke Puskesmas Pagai Selatan terlalu jauh, sekitar enam jam perjalanan perahu. Saya khawatir nyawa anak dan istri saya tidak selamat," ujar si bapak waaktu itu.
     Ridwan yang kerap disapa Jack itu bergegas menuju rumah lelaki yang membutuhkan pertolongan tersebut. Ia hanya membawa sarung tangan karet untuk membantu persalinan karena kehadirannya di daerah itu bukan untuk tugas kesehatan umum. Ia berada di Kampung Kosai Baru untuk survei pembuatan jamban di Kepulauan Mentawai.
     Sampai di lokasi, Ridwan melihat si ibu kesakitan, sementara jabang bayi seperti sudah tidak sabar ingin keluar. Berbekal pengetahuan dasar di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, ia membantu sebisanya. Bayi perempuan dan ibunya selamat setelah menjalani lima jam persalinan.
     "Bapak itu sempat meminta saya memberi nama bagi anaknya, tetapi saya tolak. Bisa membantu saja sudah sangat berarti bagi saya," ujar Ridwan.
     Baginya, pengalaman itu kembali menjadi pengingat tugasnya sebagai dokter. Pada saat citra dokter biasanya berbaju putih, hidup berkecukupan, dan bekerja hanya di rumah sakit, sesungguhnya masih banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan akses kesehatan memadai, terutama di daerah-daerah.

Masa depan kesehatan

     Fakta itu sebenarnya sudah disadari di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ketika Ridwan berada di permukiman masyarakat suku Bajo tahun 2003. Minimnya akses pendidikan kesehatan membuat mereka masih menerapkan metode kesehatan atas dasar  kepercayaan setempat meski kurang tepat dan berpotensi berakibat fatal. Salah satunya saat warga setempat melarang anak yang terkena diare diberi minum.
     "Saya berada sebagai dokter di Wakatobi, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sepenuhnya tidak salah karena sebenarnya belum mengetahui pendidikan kesehatan  yang tepat," katanya.
     Ridwan menyebut dirinya hiperaktif karena memilih terlibat dalam berbagai macam kegiatan sejak masih kuliah hingga kini. Sewaktu masih mahasiswa, ia antara lain terlibat dalam kegiatan pencinta alam dan menjadi relawan.
     Berbagai pengalaman itu, mendorongnya untuk mencoba memberikan pendidikan hingga penyediaan layanan kesehatan dasar bagi masyarakat. Tidak perlu teori bertele-tele karena kunci utamanya adalah kehadiran kita di tengah masyarakat yang membutuhkan.
     Atas dasar itu, Ridwan berinisiatif mendirikan Yayasan Ibu tahun 2005. yayasan ini fokus pada pendidikan kesehatan hingga pendampingan pascabencana alam di berbagai daerah. Lewat yayasan ini, masyarakat hingga relawan yang belum berpengalaman diberi pendidikan penanganan kesehatan dan bencana alam.
     "Relawan yang terlibat berasal dari berbagai disiplin ilmu. Mereka sudah aktif terjun di berbagai daerah bencana alam, seperti Aceh, Garut, Mentawai, dan Pangandaran," katanya.
     Pada perkembangannya, sosialisasi pendidikan dasar yang dilakukan Yayasan Ibu berkembang lebih luas. Salah satunyaadalah pendampingan pendidikan anak usia dini (PAUD). Kini sebanyak 26 PAUD berstatus baik sudah didirikan di Kecamatan Pangelaran, daerah rawan longsor di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
     Tahun 2012-2016 targetnya adalah membangun 20 PAUD baru di kecamatan yang sama. "Anak-anak adalah kunci utama pendidikan. Bila sedari dini sudah mendapatkan pendidikan yang tepat, mereka akan menjalani masa depan yang ideal," katanya.
     Akan tetapi, di tengah berbagai kegiatan kemanusiaannya itu, Ridwan gelisah karena kerap kali terbentur masalah dana. Untuk meminimalkan kegelisahannya, bersama beberapa rekan, dia menggagas terobosan pembiayaan program kemanusiaan di Indonesia.
     Terobosan itu berupa pembuatan unit bisnis komersial, di mana semua laba diberikan bagi warga miskin dan korban bencana alam. di bawah bendera Rumah Solusi, dia membangun warung kopi volunter, toko amal (charity shop), penjualan kaki palsu, dan lembaga konsultasi profesional.
     Pada prinsipnya, ada kegiatan bisnis yang dijalankan Rumah Solusi. Tetapi, semua keuntungannya diberikan bagi warga miskin yang membutuhkan. Seperti inilah cita-cita bisnis kesehatan masa depan. Semuanya dari rakyat dan kembali untuk rakyat," katanya.

Pesan Dalai Lama

     Beragam kegiatan kemanusiaan pun dilakukan Ridwan lewat dana yang didapatkan Rumah Solusi, dan dibantu dana dari para donatur. Di antaranya, pemberian kaki palsu untuk 53 penyandang cacat di jawa barat, September 2011. Selain itu, tengah diupayakan juga pemberian 1.000 kacamata gratis bagi anak-anak di Bandung Raya. Pembiayaan PAUD di Cianjur pun sebagian dibiayai dari bisnis Rumah Solusi.
     "Yang paling membanggakan saat melihat banyak orang menjadi relawan untuk Rumah Solusi. Jumlahnya sekitar 200 orang. Ada yang mencari baju bekas atau baju baru sumbangan dan mendapatkan biji kopi dari berbagai daerah guna dijual di warung kopi," katanya.
     Atas kiprahnya itu, Ridwan mendapatkan penghargaan "Architect of the Future" dari Waldzell Institute Austria tahun 2007. Bersama 10 orang dari berbagai negara, ia dinobatkan sebagai tokoh inspiratif. Penilaian utamanya adalah tugas dan kiprah yang dilakukannya saat mendampingi pendirian PAUD di Meulaboh, Aceh Barat.
     Siswanya adalah anak-anak korban bencana alam dan konflik bersenjata. Ridwan juga dianggap mampu memberikan pelatihan dan pemahaman serta membina hubungan baik dengan para donatur untuk program kemanusiaan.
     Dalam kesempatan itu, ia diberi kesempatan berbicara di depan para peraih penghargaan Nobel, salah satunya Dalai Lama, peraih Nobel Perdamaian tahun 1989. Ridwan pun sampai kini tetap ingat pesan Dalai Lama, dan menjadikannya semangat untuk tetap mengabdikan diri pada kemanusiaan.
     "Syukuri apa yang telah kamu lakukan dan dapatkan. Buatlah hal itu berguna bagi semua orang di sekitarmua," pesan Dalai Lama yang ditirukan Ridwan.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 2 FEBRUARI 2012