Senin, 05 Maret 2012

Rambu Meha dan Konda Ngguna: Penggerak Perempuan Sumba

MARLINA RAMBU MEHA
Lahir: Kananggar, Sumba Timur,14 Agustus 1971
Suami: Abas Hukung
Anak:
- Junaidin (20)
- Hidayat (18)
- Ayu Rahmatya (16)
Pekerjaan: Ibu rumah tangga dan Penasehat KWT Tapa Walla Badi

KONDA NGGUNA
Lahir: Wairinding, Sumba Timur, 14 Februari1971
Suami: Dicky Talu Ndewa
Anak:
- Dewiyanti (15)
- Arnaldus (10)
- Yudian (18 bulan)
Pekerjaan: Ketua KWT Tapa Walla Badi

Kelompok wanita tani (KWT) Tapa Walla Badi di Kambata, Desa Mbata Kapidu, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, tengah naik daun. Ini seiring berbagai langkah KWT untuk meningkatkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat.

OLEH FRANS SARONG DAN BRIGITTA ISWORO

Mereka berhasil menembus 16 nominasi peraih Kehati award ke-7 dari 100 peserta perseorangan/kelompok. Kelompok ini dimotori dua perempuan, Marlina Rambu Meha dan Konda Ngguna. Kehati adalah yayasan yang memberikan dukungan dan sumber daya guna memfasilitasi berbagai aktivitas, konservasi, dan penggunaan biodiversitas di Indonesia secara berkelanjutan.
     Puji Sumedi dari Kehati mengatakan, penghargaan kali ini difokuskan pada ketahanan pangan. Nominasi penghargaan ini adalah perseorangan atau kelompok yang dinilai serius mengupayakan ketahanan pangan terutama mengandalkan berbagai jenis pangan lokal.
     KWT Tapa Walla Badi adalah kelompok tani beranggota 21 perempuan sekaligus ibu rumah tangga. Didirikan pada tahun 2000, KWT menggeluti lima kegiatan utama, yakni usaha bersama simpan pinjam (USBP), tenun ikat, peternakan hewan kecil, arisan, dan usaha tanaman pekarangan.
     Usaha KWT mampu berperan sebagai penopang ketahanan pangan keluarga. Tahun lalu, misalnya, lebih dari 140 desa/kelurahan di Sumba Timur tertimpa rawan pangan. Ketika itu, umumnya warga mengonsumsi iwi (sejenis umbi hutan). Namun, keluarga anggota KWT tak mengonsumsi iwi karena stok pangan lain masih tersedia.
     "Itu karena hasil jagung dan ubi  dari kebun usaha para suami sepenuhnya untuk kebutuhan di rumah. Untuk biaya anak sekolah, kesehatan, minyak tanah, garam dapur, dan kebutuhan lain dipenuhi dari hasil usaha kami di KWT," kata Kona Ngguna, Ketua KWT Tapa Walla Badi, di Kambata, bulan lalu.
     Hal itu juga dikemukakan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kelautan (BP3K) Kecamatan Kota Waingapu Lukas R Malo dan John Pati Ndamu dari Yayasan Pahadang Manjuru, mitra Kehati di Waingapu.
     KWT juga berupaya mengatasi ketertinggalan pendidikan. Lewat kegiatan menenun, USBP, dan arisan, mereka secara teratur menyisihkan 25 persen dari penghasilan untuk tabungan biaya sekolah anak. Dari 21 anggota KWT, total tabungannya sekitar Rp 14 juta. Jumlah yang besar untuk kelompok masyarakat tertinggal di NTT.
     Belakangan ini, KWT juga mengusahakan tanaman pangan lokal. Di bawah bimbingan BP3K setempat mereka mengelola lahan kering di Jara Wula (4.200 meter persegi) dan di Wailinggang (1,5 hektar). Dua kebun di Desa Mbata Kapidu itu antara lain ditanami jagung, kacang-kacangan, sorgum, jawawut, umbi-umbian, dan pisang.
     Singkong mukibat, hasil persilangan antara jenis lokal dan singkong karet, juga ditanam di Jara Wula. "Dari uji coba tahun lalu, hasilnya luar biasa. dari satu pohon singkong mukibat menghasilkan sekitar 22 kg umbi segar. Bandingkan dengan singkong lokal yang hasilnya paling banyak 2 kg per pohon," kata Lukas R Malo.

Gagal sekolah

     Pencapaian KWT Tapa Walla Badi tak lepas dari peran penggerak utamanya, Marlina Rambu Meha dan Konda Ngguna, keduanya asli Sumba Timur. Masa lalu menjadi inspirasi mereka untuk memperbaiki kondisi setempat.
     Rambu Meha asal Kananggar, Kecamatan Paberiwai, mengaku hingga kini menyisakan rasa kesal karena gagal menamatkan SMA akibat kesulitan biaya Tak lagi bersekolah, ia menjadi pembantu rumah tangga (PRT) keluarga Angel Paul, penggerak bidang pertanian di Sumba Timur asal Australia.
    Dua tahun sebagai PRT, Rambu Meha kembali ke Kananggar dan bergabung dengan Yayasan Tana Nua. Di yayasan ini, dia belajar berorganisasi dan menikah dengan sesama anggota lembaga swadaya masyarakat, Abas Hukung. Mereka lalu menetap di Desa Mbata Kapidu.
     Di sini dia merintis pembentukan KWT Tapa Walla Badi. Awalnya, ia menangkap peluang pasar kain tenunan Sumba yang saat itu sedang tinggi permintaannya. Namun, warga tak bisa memanfaatkan kesempatan itu karena terbatasnya hasil tenunan.
    Di sisi lain, Konda Ngguna dan sejumlah perempuan warga kambata yang menjadi penenun sejak berusia belasan tahun tak bisa bekerja karena kesulitan bahan baku benang. Rambu Meha lalu mengajak onda Ngguna membentuk kelompok tenun. Usaha itu tidak mulus. Mereka berbenturan dengan budaya Sumba yang terkesan tak rela membiarkan kaum perempuan tampil.
     "Pada prinsipnya, Ibu Konda bersedia, tetapi harus disetujui suaminya. Saya lalu mendekati suaminya. Itu pun baru direstui setelah pendekatan keempat kalinya," cerita Rambu Meha.
     KWT awalnya hanya beranggota empat perempuan. Mereka adalah Rambu Meha, Konda Ngguna, Mbitu Njola, dan Tinggi Nahu. Modal awalnya dua bantal benang.
     Konda Ngguna lalu mengatur kelompok kecil ini menenun dengan mengandalkan pewarna alam, seperti mengkudu, nila, gaharu, buah kemiri, landu kaka, dan panetang. Hasilnya, empat kain kombu yang saat  itu terjual seharga Rp 150.000 per lembar atau total Rp 600.000. Hasil itu kemudian dijadikan modal lanjutan untuk membeli bahan baku, terutama benang. Usaha tenun pun terus berkembang.
    Seiring waktu, anggota KWT terus bertambah hingga puluhan perempuan. Sampai kini untuk kegiatan menenun, Konda Ngguna, tetap berperan sebagai tutor bagi penenun lainnya.
     "Saya sudah aktif menenun sejak tamat sekolah dasar, sekitar 30 tahun lalu," kata Konda Ngguna, yang juga menyisakan penyesalan karena tak bisa melanjutkan sekolahnya akibat kesulitan biaya. Karena itu, sejak awal mengusahakan KWT, ia dan Rambu Meha sepakat mesti menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan anak sekolah. Selebihnya, uang yang ada digunakan untuk mengokohkan ketahanan pangan keluarga.
     Aturan menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan anak sekolah itu mereka jalankan dengan disiplin. Setiap lembar kain tenunan mereka yang terjual, hasilnya langsung disisihkan 25 persen untuk tabungan anak sekolah.
     "Bahkan, kalau arisan siapa pun pemenangnya, 50 persen uang itu juga untuk tabungan anak sekolah," kata Konda.
     Melihat kiprah mereka, berbagai pihak di Waingapu tak keberatan memosisikan Rambu Meha dan Konda Ngguna sebagai penggerak perempuan Sumba. Alasan mereka, perempuan Sumba umumnya amat jarang berperan aktif dalam kegiatan kelompok seperti yang mereka lakukan lewat KWT Tapa Walla Badi.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 6 MARET 2012

Minggu, 04 Maret 2012

Satoto dan Kebahagiaan Seorang Peneliti

DR IR SATOTO MS
Lahir: Pekalongan, Jawa Tengah, 18 Agustus 1955
Istri: Purwastuti Sri Indrawati, dengan satu anak
Pendidikan:
- S-1 Agronomi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, lulus 1983
- S-2 Pemuliaan, Universitas Padjadjaran, Bandung, 1993
- S-3 Pemuliaan, Institut Pertanian Bogor, 2003
Aktivitas lain:
- Anggota Tim Penilai dan Pelepas Varietas Tanaman Pangan
- Anggota Perhimpunan Ilmu Permuliaan Indonesia (Peripi)
Publikasi Internasional dan nasional antara lain:
- Hipa 7 dan Hipa 8: Dua padi hibrida tahan penyakit hawar daun bakteri, 
  Jurnal Penelitian Pertanian, 20120
- The segregation pattern of insect resistance genes in the progenies and 
  crosses transgenic rojolele rice, Indonesian Journal of gricultural science, 
  2009
- Natural outcrossing of cytoplasmic male sterile line IR 54752A in Indonesia,
  International Rice Research Newsletter, 1989
Penghargaan:
- Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa, 2010
- Peneliti teladan tingkat nasional, 2009
- Bakrie Award untuk teknologi, 2007

Hamparan padi mengemas siang itu di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi, Jawa Barat. Sejauh mata memandang, pucuk-pucuk padi merunduk diberati bulir-bulirnya. Sejak pagi, Dr Ir Satoto MS sudah berkeliling di kawasan tersebut.

OLEH AGNES ARISTIARINI

Sebagai Kepala kelompok Peneliti Pemuliaan, Plasma Nutfah, dan Perbenihan lembaga penelitian itu, ia termasuk yang paling bahagia melihat padi-padi tumbuh sesuai prediksi.
     "Ini kantor saya," katanya menunjuk lahan percobaan seluas dua hektar itu.
     Suaranya penuh semangat saat menjelaskan jenis padi di setiap petak. "Yang tinggi-tinggi itu padi gogo, yang di sana plasma nutfah. Sebagian kekayaan Nusantara kami punya, jadi koleksi yang tidak ternilai harganya," paparnya.
     "Anak-anak" Satoto bisa dijumpai di sisi selatan. Februari itu sedang ditanam hipa 8, hipa 10, hipa 11, juga varietas awal hibrida BB Padi (Balai Besar Penelitian Tanaman  Padi): maro dan rokan. Hipa adalah sngkatan dari hibrida padi dan angka menunjukkan urutan pelepasan. Kalau ada tambahan kata, hipa 5 ceva, misalnya, berarti padi hibrida pelepasan kelima kerja sama dengan Central Java alias Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
     Sejak tahun 2008, varietas unggul baru yang dilepas tidak lagi menggunakan nama sungai, tetapi inpa atau inbrida padi plus keterangan ekosistem pada ujungnya. Inpara berarti inbrida padi daerah rawa, inpari untuk irigasi, dan inpago berarti gogo.

Buah kesederhanaan

     Hanya 120 kilometer dari riuh rendah metropolitan, peneliti itu jauh dari kemewahan para politikus tukang korupsi. Mereka bekerja dalam diam. Tak heran  kalau tidak banyak yang tahu bahwa lembaga ini sudah begitu banyak melepas varietas padi. Totalnya 244 varietas dan 90 persen ditanam petani.
     Jangan bayangkan kursi Badan Anggaran DPR yang harganya Rp 24 juta. Ruang kerja Satoto dan teman-temannya adalah bangunan lama yang disekat dengan lorong tak banyak kena sianr matahari. Klosetnya pun harus diguyur dengan air dari ember.
     Dibandingkan dengan China, BB Padi juga masih jauh. Tim pemuliaan Satoto terdiri dari lima peneliti dan enam teknisi. Sementara di China penelitinya saja 100 orng, itu baru di tingkat provinsi.
     Akan tetapi, lihatlah sorot mata mereka saat di lapangan. Mata rekan-rekan kerja Satoto yang pagi itu ke lapangan, ada Indrastuti Apri Ruwanti, Yuni Widyastuti, Sudibyo Tri Wahyu Utomo, Bayu Parmono, dan Nita Kartina, bersinar-sinar mengamati padi yang siap panen.
     Hasil pekerjaan bertahun-tahun itu-merakit padi hibrida setidaknya butuh enam tahun dan padi inbrida baru sembilan tahun-memang sudah tersebar ke berbagai pelosok Nusantara. Hal itu termasuk di anatranya 4 varietas padi ketan, 12 varietas padi gogo, 18 varietas padi rawa, 17 varietas padi hibrida, dan jenis padi yang tahan cuaca ekstrem mengantisipasi pemanasan global.

"Bapak" hibrida

     Satoto adalah "bapak" sebagian besar padi hibrida yang dihasilkan BB Padi. Lulus Jurusan Agronomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, ia bekerja di balai Penelitian Tanaman Sukamandi, cikal bakal BB Padi. Ia mulai dari calon pegawai negeri sipil (CPNS) penata muda dengan gaji Rp 64.000.
     Kesederhanaan masih juga melekat walau ia sudah golongan IVC. Sebutlah keengganannya untuk pindah ke rumah dinas yang lebih besar meski itu menjadi haknya.
     "Saya tinggal berdua dengan istri, anak sudah mandiri di Jawa Timur, dan tidak punya pembantu. Bagaimana nanti mengepel rumahnya?" ucapnya.
     Ketika para peneliti BB Padi mendapat Bakrie Award 2007 untuk teknologi, hadiah uang senilai Rp 250 juta juga tidak dibagi. Akan tetapi, dimanfaatkan untuk membangun balai pertemuan di komplek perumahan mereka.
     "Manfaatnya jadi lebih banyak," kata Satoto.
     Maka, 250 kepala keluarga yang tinggal di situ ikut menikmati hasilnya. Jadilah gedung serbaguna dengan segala aktivitas: pelatihan, halalbihalal, dan pesta perkawinan.
     Para penelitinya kembali pada keseharian, mengembangkan padi untuk mencukupi pangan rakyat. "Jadi peneliti itu menyenangkan lho, bebas berekspresi," katanya.
     Melihat padi hasil rakitan tumbuh, berkembang, kemudian menghasilkan merupakan kebahagiaan yang lain lagi. "Pemuliaan itu gabungan sains dan seni. Tak sekadar paham sifat-sifat baik tanaman, tetapi juga perlu tangan dingin dan ketajaman mata. Saya ingin seperti kolega saya yang sudah pensiun, apa pun yang dia sentuh, jadi," kata Satoto.
     Hanya saja,  menjadi pemulia perlu kesabaran ekstra. Kerja tahun ini baru kelihatan hasilnya bertahun-tahun kemudian. Kerja di sawah berarti juga berpanas-panas dan berlumur lumpur. "Saya memotivasi teman-teman muda untuk mencintai pekerjaan biar terasa ringan," ujarnya

Disalahpahami

     Padi hibrida adalah salah satu hasil pemuliaan. Hibrida sebenarnya turunan pertama suatu persilangan yang memanfaatkan gejala pertumbuhan dan kapasitas produksi tinggi akibat keragaman gen yang disebut heterositas.
     "Agar sifat heterositas ini muncul optimal, padi hibrida harus ditanam dan diperlakukan sesuai kebutuhannya. Sayang, kadang perlakuannya jauh dari prasyarat sehingga hasilnya tidak memuaskan," kata Satoto.
     Kalau sudah begini, teleponnya bisa terus berdering dan pesan singkat masuk bertubi-tubi. Untunglah, kabar menggembirakan juga sering datang. Seperti pesan singkat sseorang petani, "Pak, hipa 4 sudah merunduk."
     Tanpa pemberitahuan pun rasa bahagia membuncah tatkala Satoto ke lapangan, melihat varietas dari BB Padi bertumbuh kembang dengan baik di sawah petani.
     "Begitu mendekat, saya pasti kenal. Namanya juga 'anak'. Makanya, kalau saya ditanya mana varietas hibrida yang paling bagus, saya jawab semua bagus. Kan semua 'anak-anak' saya," ucap Satoto.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 5 MARET 2012

Kamis, 01 Maret 2012

Herbie Hancock: Menghormati Sesama Lewat Jazz

HERBIE HANCOCK
Nama lahir: Herbert Jeffrey Hancock
Lahir: Chicago, Amerika Serikat, 12 April 1940
Penghargaan: Menerima 14 Grammy, antara lain lewat:
- Album R&B Instrumental Terbaik untuk Rockit, 1984
- Album Jazz Instrumental Terbaik  untuk A Tribute to Miles, 1995
- Album Terbaik untuk River The Joni Letters, 2008
- Album Pop Kolaborasi untuk Imagine, 2011
- Penghargaan Oscar untuk Original Soundtrack lewat lagu "Round Midnight", 
  1986
Aktivitas:
- Duta Persahabatan untuk UNESCO
Diskografi: Membuat sekitar 50 album, anatra lain:
- Takin' Off, 1962
- Maiden Voyage, 1965
- Speak Like a Child, 1968
- Head Hunters, 1973
- An Evening with Herbie Hancock & Chick Corea: In Concert, 1978
- Future Shock, 1983
- Round Midnight (soundtrack), 1986
- A Tribute to Miles, 1994
- Dis Is Da Drum, 1994
- The New Standard, 1995
- Gershwin's World, 1998
- Possibilities, 2005
- River: The Joni Letters, 2007
- The Imagine Project, 2010

Jazz tak sekadar musik. "Jazz melatih kita untuk saling mendengar dan menghormati." Hal itu diungkapkan Herbie Hancock, legenda jazz yang akan tampil di Java Jazz pada Jumat (2/3) malam dan Sabtu besok.

OLEH FRANS SARTONO

Harian Kompas berbincang-bincang dengan Herbie Hancock di Ruang Lombok, Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu petang. Ia tampak ramah, cepat akrab, dan jauh lebih muda dari usia yang sudah 71 tahun. sepanjang 50 tahun kariernya, peran dia tercatat dalam sejarah penting jazz.
     Herbie, lelaki berdarah Afrika-Amerika itu, pada era 1960-an menjadi bagian dari kesegaran baru jazz ketika Miles Davis mengajaknya bergabung dalam Kuintet Miles Davis pada 1963. Miles dikenal sebagai seniman yang peka mengendus kegeniusan musisi.
     Para seniman muda yang digeret Miles itu adalah Herbie Hancock, Tony Williams (drum),   George Coleman dan Sam Rivers yang bergantian pada saksofon, serta  Ron Carter, tokoh penting bas yang juga tampil di Jakarta International Java Jazz Festival 2012 ini.
     Mereguk pengalaman penting dalam naungan Miles Davis, Herbie kemudian melintas sejarah jazz dengan terus berusaha memberikan kesegaran baru pada jazz. Kesegaran itu antara lain terdengar lewat komposisi karyanya, seperti "Cantaloupe Island", "Watermelon Man", "Maiden Voyage", dan "Chamoleon" yang menjadi lagu "wajib" jazz.
     Menapak era 2.000-an, Herbie dengan nyaman melintas genre bermain dengan John Mayer, Christina Aguilera, Sting, Annie Lennox, sampai Paul Simon lewat album Possibilities (2005). Ia melibatkan Joni Mitchel di album untuk menghormati sahabatnya itu dalam River: The Joni Letters (2007).
     "Saya ini orang yang selalu ingin tahu Rasa ingin tahu itu pula yang membuat saya banyak berkolaborasi dengan beragam genre," kata Herbie tentang proyek abum dengan musisi dari berbagai genre itu.
     "Saya selalu ingin tahu, akan menjadi seperti apa jika saya menggabungkan pengalaman saya di jazz dengan pop, atau genre apa pun. Selain itu, saya juga senang melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah saya lakukan."
     Tabiat ingin tahu dan ingin mencoba sesuatu yang baru itu sebenarnya sudah terlacak sejak dini pada Herbie. Ia adalah pianis klasik yang sempat disebut-sebut sebagai anak ajaib. Gara-garanya, ketika berumur tujuh tahun, Herbie dengan sangat terampil memainkan Konserto Piano No. 5 karya Mozart bersama Orkes Simfoni Chicago, umur 14 tahun ia mulai tertarik pada jazz.
     "Saya sudah mempunyai teknik (bermain piano), tapi saya tidak tahu bagaimana berimprovisasi. Sejak itu, saya belajar  mendengarkan improvisasi solo. Saya mentranskrip permainan solo dari musisi yang saya sukai dan saya analisis," kata Herbie.
     Ia menyebut nama George Shearing, Horace Silver, Oscar Peterson sebagai pianis jazz yang banyak ia dengar pada masa awal berkenalan dengan jazz.
     "Jazz itu seperti magnet dan ia menarik saya," kata Herbie tentang peralihannya dari klasik ke jazz.

Jazz itu mendengar

     Bergabung dengan Miles Davis, bagi Herbie Hancock seperti masuk "universitas" jazz dengan Miles Davis sebagai sang mahaguru. Satu hal yang pertma dipelajari dan akan selalu diingat Herbie dari Miles adalah kemampuan Miles dalam mendengar.
     "Miles mempunai kemampuan mendengarkan yang mengagumkan," kata Herbie.
"Pelajaran pertama yang saya dapat daari Miles adlaah mendengar. Sejak awal saya perhatikan, ketika Miles bermain solo, ternyata bentuk dari permainannya itu dipengaruhi oleh apa yang saya mainkan, atau apa yang dimainkan oleh Ron Carter dan Tony Williams. Itu hal yang saya pegang benar dalam cara saya bermusik selama ini," katanya.
     Herbie yang penganut Buddhisme Nichiren itu memetik pengalaman sebagai seniman jazz untuk kehidupan sehari-hari. Jazz mengajarkan dia untuk mendengar dan menghormati orang lain dalam rangka menciptakan keharmonisan kehidupan.
     Jazz baginya adalah dialog antar musisi. Dalam lingkaran dialog itu, jazz ia sebut sebagai musik yang nonjudgmental atau musik yang tidak menghakimi dan tak berprasangka buruk.
     "Artinya, jika kita main dengan band, Anda tidak bisa berpikir tentang apa yang Anda sukai atau tidak dari apa yang dimainkan orang lain. Apa pun yang  rekan Anda, itu menajdi tanggung jawab Anda untuk membuat permainan jalan terus dan bagus," katanya.
     Herbie memberikan contoh ketika suatu kali ia bermain dengan Miles Davis. Saat itu, Herbie merasa bermain salah. Miles tidak marah, tapi dengan cerdas menggunakan situasi yang menurut Herbie buruk itu menjadi keindahan, keharmonisan.
     "Buddhisme mempunyai spirit yang sama, yaitu mencari jalan untuk mengubah situasi apa pun menjadi peluang."
     Di pentas kehidupan, dialog semacam itu, menurut Herbie, seharusnya dilakukan. Dialog itu bukan saja untuk berbagi pengalaman, melainkan juga mencari cara terbaik dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan cara pandang seperti itu, musik sebenarnya bukan sekadar hiburan. Musik merupakan hidup itu sendiri.
     "Musik adalah jalan untuk berbagi pengalaman hidup dengan cara kreatif. Dunia memerlukan kehidupan kreatif, suatu kreativitas yang muncul dari bagian terdalam diri kita masing-masing. Kreativitas yang menumbuhkan kebijaksanaan, semangat hidup, dan kasih sayang," kata Herbie.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 2 MARET 2012

Rabu, 29 Februari 2012

Stevie Wonder: Buta Itu Anugerah

STEVIE WONDER 
Nama: Stevland Hardaway Judkins
Lahir: Detroit, Michigan, Amerika Serikat, 13 Mei 1950
Lagu Kondang:
- Part Time Lover
- I Just Called To Say I Love You
- Superstition
- My Cherry Amour
- Overjoyed
- Happy Birthday
- You Are The Sunshine Of My Life
- Living For The City
- Lately
- Redemption Song
- All in Love is Fair
- Don't You Worry 'Bout a Thing
- Ebony and Ivory (bersama Paul McCartney)

"Saya berharap lagu-lagu saya menginspirasi semangat perdamaian dan kerukunan dunia," kata Stevie Wonder yang dijadwalkan tampil pada perhelatan musik Java Jazz, Minggu (4/3) malam.

OLEH FRANS SARTONO

Stevie Wonder (61) mengatakan hal itu dalam wawancara lewat telepon dengan harian Kompas dan The Jakarta Post, selasa (28/2) pagi. Saat itu, kepada dia ditanyakan apakah lagu bisa memberikan sumbangsih pada kehidupan yang lebih baik.
     "Ya, saya berpikiran demikian," jawab Stevie di ujung telepon nun jauh dari Los Angeles, Amerika Serikat (AS).
"Yang menarik dari dalam hal ini adalah pengalaman saya sendiri dengan lagu yang saya tulis untuk The King Holiday," kata Stevie.
     Lagu yang dimaksud adalah "Happy Birthday" yang ditulis dan dinyanyikan Stevie pada tahun 1981. King Holiday adalah hari libur nasional di AS untuk memperingati hari lahir pejuang kemanusiaan Martin Luther king Jr.
     Stevie Wonder yang juga aktivis sosial terlibat aktif dalam memperjuangkan penetapan hari libur nasional tersebut. Dalam kampanye perjuangan itu, lagu "Happy Birthday" banyak dikumandangkan lewat konser-konser.
     Dalam salah satu baitnya, Stevie menulis: I just never understood/How a man who died for good/Could not have a day that would/Be set aside for his recognition...."
"dan saya sangat bahagia dengan hal itu karena The king Holiday akhirnya menjadi kenyataan," tutur Stevie.
     Hari libur nasional King Holiday akhirnya memang ditetapkan oleh Presiden AS Ronald Reagan pada 2 November 1983. Lagu tersebut juga dinyanyikan Stevie pada penutupan Olimpiade Atlanta tahun 1996.
     "Jadi saya yakin (musik) bisa. Saya kira dari waktu ke waktu musik akan membantu membawa perubahan. Musik membawa ketenangan pada manusia. Musik menjadikan orang lain mengerti akan apa yang Anda pikirkan," kata Stevie.
     "Musik merupakan ekspresi, alat atau kendaraan bagi hidup saya," katanya menambahkan.

Berharga

     Stevie Wonder terlahir dengan nama Stevland Hardaway Judkins pada 13 Mei 1950 di detroit, Michigan, AS. Stevie yang lahir prematur mengalami kebutaan sejak lahir. Namun, bakat musiknya membuka matabos perusahaan rekaman Motown, yaitu Berry Gordy, akan potensi seorang bocah difabel itu.
     Saat datang ke Motown, Stevie baru berumur 10 tahun. Motown saat itu sudah menaungi bintang-bintang besar yang lebih senior daripada Stevie. Kebanyakan mereka memang keturunan Afrika-Amerika, seperti otis Redding, Marvin Gaye, dan Smokey Robinson. Itu sebabnya Berry Gordy memberinya nama Little Stevie Wonder yang kemudian menjadi Stevie Wonder saja.
     Anda mengatakan kebutaan sebagai anugerah?
     "Oh ya, ini anugerah dari Tuhan. Saya kira saya benar-benar mendapat berkah. Tuhan begitu baik dengan saya selama hidup,"kata Stevie.
     Ia pernah mengatakan, mungkin hidupnya hanya berlangsung sekejap seandainya ia terlahir dengan mata bisa melihat.
    "Sejau yang saya percaya, Tuhan pasti mempunyai rencana tersendiri sehingga saya buta. Menjadi buta membuat saya mempunyai kesempatan agar bisa berbagi dan memberi semangat kepada mereka yang tuli, buta, dan mereka yang etrpinggirkan bahwa mereka berharga."
     Stevie membuktikan keberhargaan itu. Di belantika musik ia termasuk serba bisa. Ia penyanyi, penulis lagu, produser, dan instrumentalis. Ia memainkan keyboards, synthesizer, drum, harmonika, ia menulis tak kurang dari 390 lagu.
     Namanya tertatah di Rock and Roll Hall of Fame pada 1989. Ia telah menerima 26 penghargaan Grammy, termasuk Grammy untuk kesetiaan berkarya (lifetime achievement) pada 2005. Library of Congress pada 2008 mengumumkan nama Stevie Wonder sebagai penerima Penghargaan Gershwin untuk lagu-lagu populer.

"I Just Called to Say I Love You"

     Stevie ditunjuk sebagai Duta Besar Persserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Perdamaian pada Desember 2009. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon menilai, Stevie Wonder adalah seniman yang konsisten menggunakan suara dan lagunya untuk menciptakan dunia yang lebih baik.
     Lewat musik dia membela hak-hak asasi manusia serta mereka yang terpinggirkan. Ia terlibat aktif dalam konser-konser untuk menggalang dana bagi rakyat kelaparan di Etiopia, para korban AIDS, juga anak-anak dengan kebutuhan khusus di Amerika, termasuk Junior Blind of America.
     Sebagai  duta Perdamaian, bagaimana Anda melihat kondisi kaum muda saat ini?
     "Banyak anak muda yang menginginkan perdamaian. Mereka ingin melihat para pemegang kekuasaan berperan aktif menjaga perdamaian. Mereka ingin melihat para pemegang kekuasaan berhenti bicara tentang hal itu, tapi langsung melakukan sesuatu untuk perdamaian dunia. Saya harap lagu-lagu saya menginspirasi semangat perdamaian dan kerukunan itu," katanya.
     Lagu "I Just to Say Call I Love You", yang populer di berbagai negeri dan terkesan sebagai lagu cinta, sebenarnya memuat pesan universal akan nilai kemanusiaan. Itu adalah sikap untuk saling menyapa, berbagi kasih yang, menurut dia, menjadi kunci perdamaian.
     Ditambahkan Stevie, lagu yang dirilis tahun 1984 itu dibuat sebelum kemudian digunakan dalam film The Woman in Red.
     "Saya menulis lagu itu terutama untuk mengatakan bahwa dalam menyatakan cinta, Anda tidak perlu menunggu Tahun baru, atau hari raya. Tak peduli hari apa, setiap hari katakan, cinta saya masih selalu di sana.....," kata Stevie.
     Ketika mengakhiri perbincangan, Stevie bertanya bagaimana mengucapkan kata thank you dalam bahasa Indonesia. Ia dengan cepat menangkap maksud dan mencoba mengucapkan "terima kasih" dengan artikulasi sempurna.
     "Terima kasih! Saya ingin segera ke Jakarta...,"ujarnya.
     Dalam perhelatan bernama Java Jazz Festival itu, ia akan mengajak orang saling menyapa, berbagi kasih lewat lagu termasuk " I Just Called to Say I Love you".
     Ada baiknya kita kutip refrein lagu tersebut sebagai pengingat:
      "I just called to say i love you
     I just called to say how much I care,
     I just called to say I love you
     And I mean it from the bottom of my heart, of my heart....."

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 1 MARET 2012

Selasa, 28 Februari 2012

Meryl Streep and Jean Dujardin: Pesona Menjadi Tua dan Sang Flamboyan

MARY LOUISE (MERYL) STREEP
Lahir: New Jersey, AS, 22 Juni 1949
Penghargaan 1978-2012:
- 17 nominasi Academy Awards, memenangi tiga di antaranya
- 25 nominasi Golden Globe, memenangi delapan di antaranya 
- Tiga nominasi penghargaan Emmy, memenangi dua di antaranya
Filmografi antara lain:
- The Deer Hunter, 1978
- Out of Africa, 1985
- Adaptation, 2002
- Lion for Lambs, 2007
- Doubt, 2008
- Juliee & Julia, 2009
- It's Complicated, 2009 

JEAN DUJARDIN
Lahir: Rueil-Malmaison Hauts-de-Seine, Perancis, 19 Juni 1972
Penghargaan 2006-2012:
- Academy Award 2012, aktor pemeran utama terbaik, The Artist
- Cannes Film Festival 2011, aktor terbaik, The Artist
- Golden Globe 2012, aktor terbaik kategori komedi atau musikal, The Artist
- Etoiles d'Or 2007, aktor pemeran utama terbaik, OSS,117: Le Caire,
  nid d'espions
Filmografi antara lain:
- Les Infideles, 2012
- Lucky Luke, 2009
- Contre-enquete, 2007

Kodak Theater di Hollywood, Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (26/2) malam bergemuruh. Hadirin menyambut Meryl Streep sebagai penerima penghargaan Academy awards 2012 sebagai aktris pemeran utama terbaik dan Jean Dujardin sebagai aktor pemeran utama terbaik.

OLEH NUR HIDAYATI

Academy Awards, kerap disebut penghargaan Oscar, bagi Meryl Streep ini bukan saja membuktikan kematangan sebagai aktris, melainkan juga kematangannya sebagai perempuan. Menjadi aktris, bagi dia, juga berarti terus berusaha memahami diri sendiri.
     Peran sebagai mantan perdana menteri Inggris Margaret Thatcher dalam film Iron Lady mengantar penghargaan Oscar untuk ketiga kalinya bagi  Streep. Dua Oscar sebelumnya, dia dapat berkar Kramer vs Kramer (1980) dan Sophie's Choice (1983)
     "Penantian" Streep untuk sampai pada Oscar yang ketiga itu sungguh produktif. Dalam rentang 18 tahun, sejak tahun 2003, Streep, dua belas kali dinominasikan menerima Oscar, juga meraih delapan penghargaan Golden Globe dan dua Emmy.
     Dalam wawancara dengan majalah Vogue (Januari 2012), Streep menggambarkan, The Iron Lady berkisah tentang perempuan, kekuasaan, dan juga rekonsiliasi dengan diri sendiri ketika kekuasaan dan masa keemasan berlalu dalam kehidupan.
     Secara pribadi, ia mengaku selalu terpikat pada fakta bahwa setiap orang menjadi tua. Dalam perjalanan usia itu, selalu ada trauma, drama, dan cinta.
     Menjadi tua juga diperlihatkan Streep sebagai proses alami yang tak melunturkan kecantikannya. Tak heran, ia menjadi aktris tertua yang dipotret untuk sampul Vogue.
     Sebagai aktris, Streep dikenal sebagai perfeksionis yang selalu bekerja keras untuk mempersiapkan peran. Bukan sekadar riset dan latihan-untuk mengubah aksen dan bahasa tubuh misalnya-tetapi juga menjaga stamina fisik dan mentalnya.
     Streep punya alasan tersendiri untuk selalu memacu diri memberikan penampilan terbaik dalam setiap film. "Saya agak dogmatis dan itu bisa jadi sangat buruk. Kalau anda menyadari diri, seperti para aktor, banyak hal seperti terserap masuk, termasuk kritik. Saya tak suka dikritik," ujar Streep kepada The New York Times (23/12/2011).
     Sutradara The Iron Lady, Phylida Lloyd, menambahkan, begitu pun Thatcher. Pada masanya, perempuan perdana menteri itu tak bisa menunjukkan-dan mengakui-kelemahan di tengah sorotan publik yang masih patriarkis. Karena itu, kata Lloyd, memerankan Thatcher membutuhkan semua yang dipunyai Streep, yakni karisma, kehangatan, dan kematangan pribadi.
     Penampilan terbaik itu disuguhkan Streep untuk setiap perannya. Situs film IMDB, misalnya, mencatat, ia berlatih memainkan biola enam jam sehari selama delapan pekan untuk memerankan seorang guru musik dalam Music of the Heart (1999).
     Untuk film yang tak terlalu diperhitungkan dalam ajang Academy Awards, seperti Mamma Mia! (2008), pun, Streep membuktikan komitmen penuh. Ia membuat film itu lekat pada ingatan penggemarnya dengan totalitas bernyanyi dan menari secara begitu atraktif. Padahal, usianya hampir 60 tahun saat film itu dibuat.
     Dalam kehidupan pribadi, Streep dipandang langka di kalangan selebritas Hollywood. Ia adalah ibu empat anak, buah pernikahan yang bertahan lebih dari 33 tahun dengan Don Gummer, pematung. Dalam pidato penerimaan Oscar Minggu malam itu, kepada sang suami Streep mengalamatkan ucapan terima kasih yang pertama.

"Dicuri" Perancis

     Ajang penganugerahan penghargaan Oscar 2012 di jantung Hollywood seolah "dicuri" Perancis ketika penghargaan aktor pemeran utama terbaik diberikan kepada aktor Jean Dujardin lewat perannya dalam The Artist. Bahkan, The Artist, film hitam putih dan bisu itu pun kemudian diumumkan sebagai film terbaik tahun ini.
     Dujardin menjadi aktor Perancis pertama yang memenangi Oscar. Sebelumnya, Perancis hanya "diwakili" sejumlah aktrisnya, seperti Marion Cotillard dan Juliette Binoche, dalam kompetisi Oscar.
     Dujardin dikenal publik Perancis pada akhir tahun 1990-an. Ia memulai kariernya dari film seri televisi, Un gars et une fille, pada 1999-2003. Sebagai pekerja film, kepiawaiannya terbukti bukan hanya dalam ranah berakting, melainkan juga sebagai sutradara dan penulis skenario.
     Masyarakat film yang lebih luas mengenalnya ketika Dujardin berperan dalam Lucky Luke (2009) sebagai si jagoan yang menembak lebih cepat dari bayangannya itu.
     Sebagai aktor, ia lebih dikenal bergelut dalam genre komedi. Namun, The Artist, film arahan sutradara Perancis, Michel Hazanavicius, ini membuktikan bahwa Dujardin lebih dari sekadar jago mengocok perut atau mengundang decak kagum dengan keluwesan gerak tubuhnya menari.
     Memerankan George Valentin, aktor pada akhir era film hitam putih tahun 1920, Dujardin menyuguhkan deskripsi karakter dan emosi tanpa kata-kata. Kekuatan film ini mengikat perhatian penonton ditumpukan pada kepiawaian dia aberakting dengan gerak tubuh, mimik wajah, dan berekspresi lewat sorot mata.
     Lewat The Artist, Dujardin merefleksikan sosok yang dibayangkan publik sebagai pria flamboyan ala Perancis, lengkap dengan senyum dan kerlingan memikat.
     "Orang datang untuk melihat aku, bukan mendengarkanku bicara," begitu sosok Valentin dihadirkan Dujardin.
     Di panggung, ketika menerima penghargaan Oscar, Dujardin mengakhiri ucapan terima kasihnya dengan berseru, "Kalau George Valentine bisa bicara, dia akan bilang......Merci beaucoup!"

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 28 FEBRUARI 2012

Senin, 27 Februari 2012

Ridwan Alimuddin: Mendokumentasikan Maritim Mandar

MUHAMMAD RIDWAN ALIMUDDIN
Lahir: Tinambung, Polman, Sulawesi Barat, 23 Desember 1978
Istri: Hadijah Nurun (32)
Anak: Muhammad Nabigh Panritasagara
Pendidikan:
- SD Negeri 002 Tinambung, 1988
- MTsN Tinambung, 1991
- SMU Negeri Tinambung, 1994
- Jurusan Kelautan dan Perikanan Universitas Gadjah Mada, 1997-2001
Karya tulis:
- Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut, 2004
- Orang Mandar Orang Laut, 2005
- Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara, 2009
- Mandar Nol Kilometer, 2011
Penelitian:
- Riset Teknologi Roppo Mandar di Selat Makassar, 2001
- Riset Perahu Sandeq, 2002-2003
- Destructive Fishing di Segitiga Emas Nusantara dalam International 
  Proceeding Workshop on The Culture Ecological Dyinamic in Wallacea and 
  Establishing, 2004
- Pembicara pada Simposium Internasional Kebaharian di Universitas Kyoto, 
  Jepang, 2006

Dia tampil memaparkan konsep hukum dan pranata sosial nelayan Mandar, Sulawesi, pada simposium di Universitas Kyoto, Jepang, tahun 2006. Kini ia siap-siap mendampingi 12 nelayan Mandar mengikuti Festival Perahu layar Dunia di Brest, Perancis, Juli nanti.

OLEH ASWIN RIZAL HARAHAP DAN NASRULLAH NARA

Itu hanya salah satu dari banyak kegiatan yang dilakukan Muhammad Ridwan Alimuddin dalam mendokumentasikan budaya maritim Mandar. Empat buku tentang Mandar ditulisnya dalam 5-6 tahun terakhir.
     Dari segi jumlah, mungkin karyanya belum seberapa. Namun, karya intelektual Ridwan menjadi berbeda karena diperkaya dengan film dokumenter dan fotografi. Pantas jika ia menjadi rujukan bagi pemerhati kemaritiman Mandar, termasuk kalangan media dan akademisi mancanegara.
     Mandar adalah salah satu suku yang mendiami jazirah barat Pulau Sulawesi. Suku yang "kental" dengan laut ini tersebar di pesisir Sulawesi Barat, mencakup Kabupaten Polewali Mandar, Majene, Mamuju, dan Mamuju Utara.
     Suku yang berpopulasi sekitar 1 juta jiwa ini hidup berdampingan dengan tiga suku lainnya di provinsi tetangga, Sulawesi Selatan, yakni Bugis, MAkassar, dan Toraja. Sebagian orang Mandar juga berdiam di Ujunglero, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.
     Inisiatif meneliti budya Mandar berangkat dari keprihatinan Ridwan akan minimnya kepustakaan tentang budaya Mandar. Saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, dia sempat kesulitan mencari referensi untuk membuat skripsi.
     "Waktu itu, satu-satunya buku yang saya temukan di beberapa perpustakaan di Yogyakarta adalah Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan Sulawesi Selatan karya (almarhum) Baharuddin Lopa," kata Ridwan saat ditemui di rumahnya di Desa Pambusuang, Polewali Mandar, sulawesi Barat, dua pekan silam.
     Jika Lopa lebih mengedepankan teori hukum kemaritiman, Ridwan terdorong mendalami peranti teknis nelayan Mandar. Agar fokus pada proses penelitian, tahun 2001, di tengah kuliah yang telah dijalani empat tahun, ia cuti kuliah empat semester.
     Ia memulai penelitian di kampung halamannya, komunitas nelayan Pambusuang, Balanipa, dan Tangnga-tangnga, Tinambung. Ia turut  melaut bersama nelayan demi mendalami teknik penangkapan ikan dengan rumpon, tempat berkumpulnya ikan untuk berbiak yang sengaja dipasang nelayan di laut. Bahannya dirakit dari pelepah daun kelapa, ijuk dan sejenisnya, serta barang-barang bekas.

Mendalami "sandeq"

     Ridwan, putra pasangan Alimuddin dan Rahma Yasli, juga mendalami teknik penangkapan ikan dengan pukat cincin di Selat Makassar. Ia merasakan sensasi luar biasa saat ikut berburu ikan tuna dengan sandeq, perahu layar bercadik khas Mandar, yang dapat melaju hingga 40 kilometer per jam meski hanya digerakkan tenaga angin. Pengetahuan navigasi ia serap dari nelayan yang mengandalkan intuisi dan bintang di langit.
     Ridwan tertarik meneliti lebih jauh seluk-beluk perahu sandeq. Ia lantas berkenalan dengan Horst Liebner, peneliti maritim Nusantara asal Jerman yang menggagas festival Sandeq Race sejak tahun 1995.
     "Saya banyak berguru pada Horst, orang Eropa yang amat peduli pada kearifan lokal Mandar," kata anak kelima dari tujuh bersaudara itu.
     Sandeq Race adalah ajang balap sandeq dengan rute Mauju-Makassar. Peserta berlayar sejauh 300 mil laut (sekitar 540 kilometer) selama 10 hari.
     semakin hari, ia kian larut dan menikmati penelitiannya di laut. Ridwan lalu menetapkan hati untuk menjadi peneliti dan penulis agar kebudayaan Mandar mendunia.
     Setahun kemudian, buku pertama Ridwan, Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut? , diterbitkan penerbit Ombak, yogyakarta. Buku ini berisi hasil penelitiannya tentang penggunaan bom ikan di Selat Makassar, laut Jawa, dan Laut Banda yang disebutnya sebagai segitiga emas bahari Nusantara. Buku ini ia lengkapi film dokumenter Racun dan Bom Ikan, bekerja sama dengan Studio UMI Jepang.
     Lewat bukunya yang lain, Orang Mandar Orang Laut, ia kembali mengisahkan kemampuan orang Mandar beradaptasi dengan zaman. Buku setebal 143 halaman itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2005.
     Berkat ketekunannya, Ridwan pun diundang menjadi pembicara dalam simposium internasional di Universitas Kyoto, Jepang pada 2006. Dalam forum yang diikuti perwakilan lebih dari 20 negara itu, ia memaparkan hukum pranata sosial dalam teknik penangkapan ikan  rumpon di kalangan nelayan Mandar.
     Sepulang dari Jepang, Ridwan kian intens membantu Horst dalam menyelenggarakan Sandeq Race yang rutin digelar setiap tahun. Animo nelayan dalam ajang balapan perahu layar itu cukup besar. Dari semula diikuti 20 perahu, tahun 2011 ajang balapan ini menyedot lebih dari 50 peserta.
     Tahun 2008, Ridwan membantu stasiun televisi Jepang, NHK, membuat film dokumenter tentang perburuan telur ikan terbang. Telur ikan terbang merupakan komoditas ekspor selain ikan tuna.
     Setahun berselang, buku ketiga Ridwan, Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara, dikeluarkan penerbit Ombak bekerja sama dengan Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar serta Yayasan Ad Daras Matakali. Buku ini mengulas rinci bentuk dan filosofi sandeq.
     Ridwan lalu melengkapi informasi tentang kebudayaan Mandar dengan buku Mandar Nol Kilometer yang terbit tahun 2011. Buku setebal lebih dari 300 halaman itu berisi kumpulan esai yang menjelaskan serba-serbi kehidupan orang Mandar pada masa lalu sampai kini.
     Ketertarikan Ridwan pada kebaharian Mandar tak lepas dari pengalaman masa kecil hingga dewasanya. Meskipun sang ayah bekerja sebagai pandai emas, Ridwan hidup di perkampungan nelayan Mandar di Tinambung. Istrinya, hadijah, juga tinggal di kampung nelayan Pambusuang.
     Kini Ridwan tengah merampungkan buku Bingkai Sejarah Kabupaten Polewali Mandar: Alam, Budaya, Manusia, serta Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Mandar.
      Ridwan adalah satu di antara sedikit tokoh muda yang mau peduli pada budaya Mandar.
                                                                         (M FINAL DAENG)

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 24 FEBRUARI 2012

Minggu, 26 Februari 2012

Sukarman: "Lurah" Perjuangan untuk Rawagede

SUKARMAN
Lahir: Karawang, 1 November 1951
Istri: Euis Warnengsih (56)
Anak:
- Asep Kusmana (35)
- Sri Mulyaningsih (34)
Pendidikan:
-Sekolah Rakyat di Karawang, 1962
- Sekolah Menengah Ekonomi Pertama, 1965
- SMA Kesatuan Pelajar, ikut persamaan 1989
- Diploma III Manajemen di Jakarta, 1998
Pekerjaan:
- Kepala Desa Balongsari, 1977-1996
- Anggota DPRD Karawang, 1987-1996
Organisasi:
- Ketua Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat, 1981-kini
- Ketua Yayasan Rawagede, 1996-kini
- Ketua Ikatan Purnabakti

Warga Rawagede, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, punya pahlawan lokal. Dialah Sukarman, mantan lurah, anggota legislatif, ketua yayasan, sekaligus pekerja sosial yang memperjuangkan Rawagede-selain pengacara andal dari Leiden, Prof Liesbeth Zegveld, dan Ketua Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda atau Comite Nederlandse Ereschulden, Jeffry Marcel Pondaag. 

OLEH MUKHAMAD KURNIAWAN

Pada 14 September 2011 perjuangan itu menuai akhir, yakni memenangi gugatan di Pengadilan Den Haag, Belanda, atas peristiwa yang terjadi 64 tahun silam. Hakim memutuskan Pemerintah Belanda bersalah dan harus memebrikan kompensasi kepada para janda dan korban pembantaian Rawagede 1947.
     Selasa pagi, 9 Desember 1947, menjadi hari kelabu bagi warga Rawagede (sejak tahun 1950 Desa Rawagede dimekarkan menjadi empat desa, yaitu Balongsari, Mekarjaya, Purwamekar, dan Sekarwangi). Pasukan Belanda menyerbu desa  yang menjadi basis gerilya Kapten Lukas Kustarjo. Lukas diincar karena sering menyergap tentara Belanda. Karena tak ketemu, tentara Belanda mengumpulkan penduduk, menanyakan persembunyian Lukas dan memberondong mereka hingga tewas.
     Keputusan Pengadilan Den Haag yang memenangkan penggugat membuat Rawagede "terpompa". Monumen Perjuangan Rawagede yang berdiri di tengah permukiman mendadak riuh pengunjung. Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga, di belakang monumen itu, kebanjiran peziarah. Istri, anak, cucu, dan sanak korban rawagede 1947 menerima kompensasi jutaan rupiah.
     Nyonya Tijeng (85), satu dari sembilan janda itu, berniat mewujudkan cita-citanya membangun rumah. Setelah puluhan tahun hidup berhimpitan dengan anak, menantu, dan cucu, dia berkesempatan menambah luas rumahnya. Sementara keluarga Saih bin Sakam (almarhum) akan menggunakan dana kompensasi untuk modal usaha.

Tak tergantikan

     Bagi Sukarman, dana kompensasi tersebut hanya satu pencapaian. Jauh sebelum bolak-balik Indonesia-Belanda bersama para janda dan korban kekerasan Rawagede untuk mengikuti persidangan, ia telah berjuang memajukan desa. Sejak terpilih menjadi kepala desa tahun 1977, ia mencurahkan sebagian besar waktunya untuk Desa Balongsari.
     Sukarman terbilang dicintai warganya. Sejumlah terobosannya tak hanya membuat Balongsari menajdi terkenal, tetapi juga membuat posisinya sebagai kepala desa "tak tergantikan". Sukarman didaulat menjadi lurah beberapa periode pada kurun 1977-1996.
     Saat mengupayakan pengobatan gratis bagi warganya yangtak mampu, Sukarman memanfaatkan kemampuannya menggelar acara hiburan. Tahun 1980, misalnya, ia memuar dana sumbangan Rp 750.000 dari dermawan untuk memanggil pelawak Bokir. Acara itu menyedot pengunjung. Saldo dana sumbangan berlipat menjadi Rp 2 juta.
     Untuk program lain, Sukarman memanfaatkan trik serupa. Tahun 1982 ia mengundang pemain sepakbola saat itu, Ronny Pattinasarany, datang dan menghibur warga di lapangan sepakbola Desa Balongsari. 
Acara ini pun melipatgandakan dana kesehatan masyarakat lewat penjualan karcis dari Rp 2 juta menjadi Rp 7 juta.
     Hasil dari berbagai kegiatan kreatif itu digunakan untuk kesejahteraan warga. Selain menggratiskan biaya pengobatan kuli dan buruh di puskesmas desa, dana juga digunakan untuk keperluan lain, seperti kain kafan dan perlengkapan pemakaman.
     Saat menjabat kepala desa, Sukarman menggratiskan kebutuhan pemakaman bagi keluarga miskin. Kebijakan itu berawal dari keprihatinan akan penanganan jenazah warga miskin yang seadanya. Akibat, keterbatasan biaya, jenazah terkadang hanya ditutup kain seadanya.
     "Malu karena tidak punya biaya, warga miskin kadang tak mengabarkan kematian anggota keluarganya kepada warga desa. Pernah suatu ketika saya mendapati warga sudah beberapa bulan meninggal, tetapi saya (sebagai kepala desa) baru tahu saat berkunjung ke rumahnya," ceritanya.
     Atas sejumlah kiprah itu, Desa Balongsari menyabet sejumlah penghargaan dari pemerintah. Pada 1981-1983, misalnya, Balongsari menjadi Juara Gerakan Hidup Sehat dari Departemen Kesehatan. Balongsari juga menjadi juara nasional program Keluarga Berencana tahun 1983.

Telusuri sejarah

     Saat terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Karawang, Sukarman masih menjabat Kepala Desa Balongsari. Tugas sebagai lurah lalu dia lepaskan.
     Di luar kesibukannya sebagai lurah, lalu anggota legislatif, Sukarman menelusuri sejarah Desa Balongsari dan menuliskannya. Selain kegemarannya pada sejarah, penelusuran itu didasari keprihatinan akan minimnya pengetahuan kaum muda terhadap tragedi pembantaian di desanya.
     Dalam kurun 1990-1992, Sukarman merampungkan buku Riwayat Singkat Taman Pahlawan Rawagede, hasil penelusuran dan wawancaranya dengan korban dan  saksi tragedi Rawagede serta para tokoh. Tahun 1993 buku setebal 40 halaman itu dicetak dan diedarkan secara terbatas.
     Tanpa disadari Sukarman, bukunya melanglang buana hingga ke Belanda. Stasiun televisi komersial di Belanda, RTL-5, datang ke Rawagede untuk menelusuri jejak tragedi tahun 1947. "Entah dapat darimana, mereka (kru RTL-5) datang ke sini dengan membawa buku itu."
     Tahun 1995 RTL-5 menayangkan film dokumenter peritiwa pembantaian warga sipil di Rawagede. Dokumentasi itu antara lain melaporkan 431 warga Rawagede tewas akibat pembantaian pasukan Belanda pada 9 Desember 1947.
     Menurut Sukarman, buku yang sama juga dibawa Pangdam III Siliwangi saat itu, Mayor Jenderal Tayo Tarmadi, ke desanya tahun 1995. "Beliau menginisiasi pembangunan Monumen Rawagede, yang diresmikan pada 12 Juli 1996."
     Sukarman terlibat langsung dalam proses pencarian dana dan pembangunannya. Monumen dibangun sebagai gerbang masuk Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga. Yayasan Rawagede yang dia pimpin mengelola monumen yang menjadi obyek wisata sejarah itu.
     Ia juga aktif memperjuangkan para janda dan korban Tragedi Rawagede untuk mendapatkan haknya. Dia mencatat, jumlah janda korban yang masih hidup pada 1990 ada 51 orang, lalu 28 orang (tahun 2000), dan 9 orang saat gugatan dilayangkan kepada Pemerintah Belanda tanggal 15 April 2008.
     Pada 2008-2011, selain mengikuti persidangan di pengadilan Den Haag, Sukarman serta beberapa janda dan saksi hidup diundang untuk memberikan kesaksian dan menceritakan kisah pembantaian di beberapa perguruan tinggi di Belanda.
     "Vonis pengadilan Den Haag membuka mata, penanganan pelanggaran hak asasi manusia tak kenal kedaluwarsa meski peristiwanya terjadi 64 tahun lalu," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 27 FEBRUARI 2012