Selasa, 02 Maret 2010

Akom, Insprasi Petani Otodidak

Hasil panen gabah 12 ton-18 ton per hektar bagi Akom Kartim (45) awalnya terdengar mustahil. Bertahun-tahun menekuni profesi petani padi, produksinya mentok 6 ton per hektar. Namun, rasa penasarannya terjawab setelah mencoba pola budidaya system of rice intensification atau SRI.
AKOM KARTIM
Lahir : Karawang, 10 Mei 1964
Pendidikan : - SD Cariumulya (1976)
- SMP PGRI Telagasari (1979)
- SMA PGRI Karawang (1982)
Istri : Iyat Nurhayati (35)
Anak : Nur Aini (19)
Muhidin (11)
Prestasi : Petani Teladan Tingkat Nasional 2009
Oleh MUKHAMAD KURNIAWAN
Sejak pertama kali menguji coba SRI, pada musim gadu tahun 2006, Akom langsung mendapat "jawaban". Ganjalan hatinya sedikit bergeser ketika mendapati hasil panen yang tak terduga jumlahnya. Dari lahan uji coba seluas 1.000 meter persegi, Akom memanen 1,2 ton gabah kering panen (GKP). Itu berarti 12 ton per hektar! jauh diatas pencapaian sebelumnya yang berkisar 5 ton - 6 ton per hektar.
Pada musim kedua, dia menetapkan hati untuk menanami seluruh sawahnya seluas 0,5 hektar di Desa Cariumulya, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang, jawa Barat, dengan pola SRI. Hasil uji coba itu mempertegas keyakinannya yang masih samar ketika itu, bahwa panen di atas 10 ton per hektar bukan isapan jempol. Namun dia percaya, dengan doa dan usaha sungguh-sungguh, tidak ada yang tidak mungkin terjadi.
Dengan asumsi hasil 1,2 ton per 1.000 meter persegi, Akom membayangkan hasil panen dari sawahnya mencapai 6 ton pada musim kedua. Namun kenyataannya lain. Hasil panen kedua dengan pola SRI hanya 3,75 ton atau 62,5 persen dari perkiraan Akom.
"Rupanya, tidak gampang berharap pada lahan yang telah lama 'sakit' akibat pemakaian pupuk kimia bertahun-tahun. tanah butuh perlakuan khusus agar pulih kembali," kenangnya menyimpulkan hasil panen kedua.
Hasil 3,75 ton menjadi prestasi tersendiri bagi Akom. hasil itu setidaknya lebih tinggi dari pencapaian sebelumnya sebesar 2,5 ton - 3 ton. Akom pun terus mengasah kemampuannya untuk memacu produksi. Dia memanfaatkan penyuluh pertanian untuk bertanya, atau minimal menitipkan pertanyaan untuk disampaikan ke ahli serta meminjam buku tentang pertanian.
Teladan
Pada musim tanam ketiga dengan pola SRI. Akom mendapat "pengikut". Mereka tak lain adalah petani tetangganya sendiri di Kampung Kedunggalih, Desa Cariumulya, yang menilai Akom sukses menerapkan SRI. Mereka tertarik mencoba sekaligus beerharap hasil panennya meningkat dengan menerapkan cara-cara Akom.
Akom yang terus memperkaya diri dengan ilmu baru rupanya menjadi inspirasi. Padinya yang tampak lebih subur, lebih tinggi, serta memiliki rumpun dan malai lebih banyak, membuat hati petani-petani sekitarnya kepincut. Mereka pun menimba ilmu dari Akom.
Hasilnya sedikit demi sedikit, petani yang menerapkan SRI bertambah. Sawah yang digarap pun meluas menjadi 10 hektar, 20 hektar, 22 hektar, dan terakhir 30 hektar pada musim rendeng 2009/2010 ini. Dari Akom yang seorang diri pada tahun 2006, kini ada 36 petani SRI di Kampung Kedunggalih.
Menurut Akom, pola budidaya SRI berdasarkan buku yang dia baca memiliki beberapa aturan. Ada tiga aturan yang menurut dia pokok, yakni menggunakan sedikit air, menanam bibit muda (umur 7-12 hari atau lebih muda daripada sistem sistem biasa yang berusia 25-28 hari), tidak terlalu dalam menancapkan bibit ketanah (sekitar 1 sentimeter), serta satu batang bibit untuk satu titik tanam (biasanya lebih dari satu). semua itu mempengaruhi pertumbuhan, perbanyakan rumpun, serta pengisian bulir padi.
Akom melengkapi pola SRI dengan sistem organik. namun, dia tidak frontal dengan serta merta meninggalkan pupuk kimia, khawatir hasil panennya anjlok, Akom mengurangi dosis urea serta NPK dan mencampurnya dengan kompos. Kini petani Cariumulya umumnya menggunakan 1,5 kuintal campuran pupuk urea dan NPK perhektar, lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya yang mencapai 3 kuintal-4,5 kuintal per hektar, serta pupuk kandang dan kompos dari sisa tumbuhan.
Sadar bahwa jumlah ternak yang dapat dimanfaatkan kotorannya terbatas, Akom membentuk Kelompok Tani "Dewi Sri", juga berkonsultasi dan bermitra dengan petani peternak lain. Kini ada sekitar 40 anggota aktif yang rutin berkumpul di "markas besar" di belakang rumah Akom.
Mereka bertukar informasi dimana bisa mendapatkan kotoran ternak, jerami, dan bahan baku kompos lain di luar kampung. sesama anggota kelompok juga berbagi mikroorganisme pengurai untuk membantu pembusukan bahan kompos, atau bertukar pendapat dan pengetahuan tentang aneka hal.
Atas keberhasilan itu, Akom diganjar pemerintah pusat dengan predikat Petani Teladan tahun 2009. Bersama dengan 32 petani lain dari seluruh Indonesia, Akom berkesempatan bersalaman dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menerima sertifikat penghargaan di Istana Presiden, Jakarta, Agustus tahun lalu.
kini Akom tidak hanya ditodong untuk "berdakwah" soal SRI oleh anggotanya sendiri, tetapi juga oleh petani dari kecamatan lain, kabupaten lain, juga petugas penyuluh pertanian dan staf dinas pertanian.
Buku pinjaman
Akom tidak pernah menduga usahanya meminjam buku SRI ke seorang Pengamat Organisasi Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Telagasari tahun 2006 akan berakhir seperti sekarang. Niat awalnya sebenarnya hanya ingin memupus rasa penasaran soal hasil panen yang tinggi.
"Di buku itu tertulis bahwa usaha SRI di Thailand bisa menghasilkan 14 ton per hektar, di Taiwan 18 ton per hektar, dan beberapa negara Asia lain hingga 12 ton per hektar. Awalnya seperti tidak mungkin, saya penasaran dan mencobanya, ternyata bisa meski belum optimal," ujarnya
Buku itu kemudian menjadi "kitab" yang sering dia bolakbalik saat menemukan masalah di lapangan. Ibarat obat yang mujarab, buku itu lantas menjadi rebutan. Beberapa petani meminjamnya secara bergantian.
Tidak hanya pada tanaman padi, Akom juga mengaplikasikan sistem organik pada komoditas lain yang dia tanam seperti, jambu biji, pisang, kacang panjang dan labu. Komoditas non padi ini menjadi sumber penghasilan tambahan diluar padi yang rutin dia tanam dua kali setahun.
Akom memang tidak pernah berhenti mengeksplorasi ide. dari hasil utak-atiknya, dia menciptakan teknologi tepat guna, emposan tikus elektrik , alat pengembus asap (warga setempat menyebutnya emposan) belerang ciptaannya biasa dipakai untuk mengusir tikus dari lubang-lubangnya, bahkan telah dipamerkan saat kunjungan pejabat ke Karawang. Terakhir, Dinas Pertanian Karawang memesannya ratusan unit, belum termasuk pesanan petani dari luar Cariumulya.
Akom merasa usahanya belum seberapa. Dia masih menyimpan energi untuk mewujudkan ide-ide yang lain. harapannya sederhana, menginspirasi petani di desanya agar peka perubahan, dengan terus belajar dan bergerak maju.
Dikutip dari KOMPAS, RABU, 3 MARET 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar