Kamis, 14 April 2011

Kadek Ari, Keteguhan Peneliti Ikan


DATA DIRI

Nama : Kadek Ari Wahyuni
lahir : Singaraja, Bali, 14 April 1966
Pendidikan :
- SMA Swasiastu, Bali, 1982-1985
- S-1 Jurusan Ekologi Akuatik Fakultas Biologi Universitas Satya Wacana, Salatiga, 1985-1990
Pekerjaan :
- Peneliti di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung, 1997-kini
- Karyawan Pembenihan Udang Swasta, 1993-1997

Ari Wahyuni atau biasa disapa Kadek semula tak berpikir untuk membiakkan spesies ikan laut yang jumlahnya mulai langka di alam. Namun, kecintaan pada dunia perikanan membuat dia tergerak membudidayakan beberapa jenis ikan yang populasinya terancam akibat terus diburu dalam jumlah besar.

Oleh BM LUKITA GRAHADYARINI dan HELENA F NABABAN

Salah satu buah ketekunannya adalah pengembanganbiakan kuda laut (Hippocampus spp) dan ikan nemo (Amphiprion sp) secara massal. Kuda laut yang dikembangkan ada dua jenis, yatu Hippocampus kuda dan Hippocampus comes.
Tahun 2008, total benih kuda laut yang dihasilkan 30.000 ekor dan benih ikan nemo sekitar 10.000 ekor.
Pergulatan Kadek membudidayakan ikan nemo atau ikan badut diawali pada 2003. Keinginan mengembangkan nemo muncul ketika seorang keponakan menggelitiknya dengan pertanyaan, "Bisakah ikan lucu itu dikembangbiakkan?"
Pertanyaan itu membuat sarjana biologi terpana. Kadek yang terbiasa berkecimpung dalam pembiakan ikan malah belum terpikir mengembangkan ikan hias semacam itu. Di tingkat pedagang, ikan nemo yang mengandalkan tangkapan di alam dijual relatif murah, Rp 3.500 per ekor. Ikan mungil itu memiliki penampilan yang lucu sehingga terus diburu dan semakin sulit ditemukan.
Ia lalu bereksperimen dengan membeli sepasang ikan nemo berwarna dasar oranye cerah dengan corak garis putih dihiasi siluet hitam (Amphipprion ocelaris). Ikan itu diambil dari perairan teluk Lampung, Provinsi Lampung. Percobaan awal tak berhasil. Sepasang nemo itu malah mati.
Kadek membeli lagi ratusan ikan nemo untuk dikembangbiakkan. Ia juga mencari konsep "rumah buatan" yang tepat sebagai pengganti terumbu karang untuk bersarang dan tempat bertelur ikan karang itu. Proses uji coba ini menyebabkan ratusan ikan nemo mati. Ia lalu menggunakan anemon laut untuk tempat induk nemo bersarang dan menciptakan modifikasi pipa bekas sebagai tempat tinggal benih nemo.
"Hal tersulit adalah mencari tempat tinggal, bersarang, danbertelur ikan itu. Jika perairan tercemar dan terumbu karang dirusak, populasi ikan ini di alam mudah terancam," kata Kadek yang bekerja sebagai peneliti di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.
Hampir berbarengan dengan budidaya nemo, ia juga berinovasi memijahkan kuda laut yang tergolong hewan langka. Kuda laut hasil pemijahan itu memiliki masa pertumbuhan relatif cepat sehingga butuh waktu pemeliharaan hanya 6-7 bulan untuk siap panen dengan ukuran di atas 10 cm. Pemijahan kuda laut di Indonesia pernah dirintis pada 1990-an oleh peneliti BBPBL Lampung, Sudaryanto.
Sebagai peneliti, Kadek tak ingin setengah-setengah. Ia juga mencari formula pakan yang tepat bagi nemo dan dan kuda laut melalui pemberian jenis pakan yang disesuaikan dengan umur spesies. Ikan nemo yang terbiasa mengandalkan pakan alam bisa mengonsumsi pakan buatan berupa pelet setelah berukuran 3 cm.
Pengembangbiakkan nemo dan kuda laut menuai hasil tahun 2008. Keturunan ikan nemo sudah menghasilkan generasi kedua, sedangkan kuda laut generasi keempat. Kuda laut yang merupakan bahan dasar obat-obatan itu produksinya mencapai 14.000 ekor, diantaranya dipasarkan ke Jepang dan Jerman.
Benih hasil budidaya juga memiliki daya tahan lebih baik ketimbang tangkapan alam dan bisa beradaptasi dengan pakan buatan, perubahan lingkungan, dan salinitas. Selain menekuni budidaya nemo dan kuda laut, Kadek bersamatim peneliti BBPBL Lampung juga mengembangkan budidaya kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dan rumput laut.

Modal sendiri

Lulusan Fakultas Biologi Universitas Satya Wacana, Salatiga, ini yakin perikanan laut adalah kekayaan hayati yang potensial dibudidayakan. Sebagai peneliti yang juga pegawai negeri sipil (PNS), Kadek menyadari penelitian selama ini kurang aplikatif untuk diterapkan masyarakat.
Lebih jauh ia mengkritik budidaya perikanan di negeri bahari ini belum maju, lantaran sikap peneliti yang cenderung enggan bekerja lebih keras memajukan dan mengungkap kekayaan perikanan Tanah Air.
Sebagai bukti keseriusan mengembangkan penelitian, Kadek merogoh kocek pribadi hingga jutaan rupiah untuk penelitian ikan nemo. Keteguhannya meneliti dan membiakkan nemo tanpa biaya pemerintah itu sempat menuai kecurigaan petugas pengawas PNS yang mengaudit BBPBL Lampung pada 2005.
Pengawas itu mencurigai Kadek menggunakan dana "gelap" dan secara sembunyi-sembunyi melakukan penelitian ikan nemo dan kuda laut. Setelah melalui proses interogasi, petugas itu berbalik mendukung penelitian yang dilakukan Kadek secara swadaya.

Terinspirasi nemo

Bergelut dengan budidaya satwa air membuat perempuan pemalu itu kerap terilhami sikap dan perilaku ikan. Ia terkesan saat mengetahui ikan nemo dan kuda laut adalah satwa air yang setia dan hanya mau dikawinkan dengan pasangannya.
"Kesetiaan nemo itu menginspirasi saya untuk terus setia pada (budidaya) ikan," ujar anak keenam dari tujuh bersaudara itu.
Kadek tak ingin menyimpan hasil karyanya. Ia bercita-cita menghidupkan kembali tempat pembenihan udang (hatchery) milik rakyat yang kolaps sejak 2003 dengan mengajak petambak membudidayakan nemo dan kuda laut.
Ia berkeyakinan, maraknya upaya pengeboman karang dan perburuan ikan hias tak bisa dihentikan semata-mata dengan larangan dan sanksi. Lingkaran setan perusakan biota perairan bisa diputus bila ada solusi berupa penghasilan alternatif bagi masyarakat.
Untuk mewujudkan harapan itu, Kadek mendaftarkan hasil temuannya ke Departemen Kehutanan guna mendapatkan sertifikasi budidaya kuda laut. Dengan sertifikasi itu langkahnya memperluas budidaya nemo dan kuda laut secara besar lebih mudah.
"Budidaya ikan diharapkan menjadi alternatif penghasilan baru bagi masyarakat. Ini lebih baik ketimbang mengebom karang dan merusak populasi ikan," katanya.
tahun ini dia bertekad memijahkan empat jenis nemo lain, yakni Amphiprion sabdaracinos, Amphiprion sebae, Amphiprion melanopus, dan Premnas epigrama. Di Indonesia terdapat 34 jenis ikan nemo yang tergolong ikan hias.
Menurut dia, salah satu kendala yang harus dipecahkan adalah rantai pemasaran yang serba tak pasti. Di antaranya harga ikan hasil budidaya yang relatif rendah atau dipatok sama dengan hasil tangkapan, kendati ikan hasil budidaya punya daya tahan hidup lebih baik.
Harga jual ikan nemo Rp 3.500 per ekor, jauh lebih rendah ketimbang harga ekspor yang 15 dollar AS per ekor. Sedangkan kuda laut Rp 10.000-Rp 15.000 per ekor, padahal harga ekspornya 20 dollar-25 dollar AS per ekor.
"Tanpa memecah persoalan pemasaran, upaya membangkitkan budidaya perikanan sulit tercapai," tuturnya.

Dikutip dari KOMPAS, RABU 11MARET 2009

Wanua Tangke, Refleksi dari Timur


ANDI WANUA TANGKE

Lahir : Soppeng, Sulawesi Selatan, 4 April 1964
Istri : Andi Farisna (41)
Anak :
- Andi Riswan Muhammad (14)
- Andi Pramudya Muhammad (11)
Pendidikan :
- SD Pising, Soppeng, 1976
- SMP Negeri Ta'juncu, Soppeng, 1979
- SMA Negeri 5 Makassar, 1983
- Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, 1992
Pekerjaan :
- Direktur Penelitian Pustaka Refleksi dan Arus Timur, 2001-kini
- Mantan Wartawan "Bina Baru"
- Mantan Redaktur Pelaksana "Berita Kota Makassar"
- Mantan Wartawan "Media Bisnis"

Sulawesi Selatan yang dihuni suku Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar menyimpan setumpuk mitos, legenda, serta sejarah lokal yang luput terakomodasi buku pelajaran sekolah. Lewat penerbit buku Pustaka Refleksi, Andi Wanua Tangke mencoba "melawan" sentralisasi konten buku pelajaran yang selama ini didominasi penerbit dari kota besar di Pulau Jawa.

OLEH MARIA S SINURAT DAN NASRULLAH NARA

Kelahiran Pustaka Refleksi paada 3 April 2001 bermula dari keresahan Wanua akan minimnya bahan kepustakaan tentang kisah-kisah Sulawesi Selatan (Sulsel).
Buku-buku yang terbit umumnya dikemas terlalu ilmiah sehingga tak menarik minat anak muda. Dia berupaya mewujudkan terbitnya buku yang bertalian secara emosional dengan pembacanya melalui bahasa yang ringan.
Mimpi itu dimulai dari rumah sederhana di gang sempit di Kota Makassar, Sulsel. Inilah "markas intelektual" Wanua dan rekannya, Anwar Nasyarudin (49), untuk menekuni naskah yang siap diterbitkan. Dalam rentang waktu 10 tahun, penerbit itu telah menelurkan 369 judul buku.
Terlepas dari lemahnya pengeditan dan kerancuan struktur bahasa Indonesia di sana sini, kehadiran buku-buku itu patut dimaknai sebagai upaya melestarikan cerita yang melegenda di masyarakat Sulsel.
Pustaka Refleksi mencoba memanggungkan roh kearifan lokal Sulsel. Buku yang diterbitkan umumnya memuat nilai, mitos, dan tradisi yang melekat pada akar budaya empat suku di Sulsel. Sebutlah kisah tentang silariang (kawin lari) sebagai hal yang tabu atau kasipalli (tradisi kepercayaan nenek moyang) dan romantika sawerigading serta We Tenriabeng (tokoh dalam epos I La Galigo).
Cerita rakyat hingga kekhasan suku dan komunitas di Sulsel dikisahkan dengan sederhana, seperti buku Kearifan Manusia Kajang, Manusia Bissu, dan Ammatoa Komunitas Berbaju Hitam. Begitu banyak kisah kearifan yang terserak di Sulsel dan luput dari perhatian penerbit.
"Kalau tidak dibukukan, bisa-bisa kisah itu menguap dan tak ada lagi orang yang mengingatnya," tutur Wanua.
Kisah para pejuang lokal pun mendapatkan panggungnya. Siapa yang mengenal Ranggong Daeng Romo? Bersama Usman Nukman, Wanua mengisahkan hikayat pahlawan nasional dari Takalar ini. Sosok yang ikut mengangkat senjata demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Liku-liku menghadapi serdadu Jepang dan Belanda diulas ringan di buku ini.
Salah satu terbitan yang melejitkan nama Pustaka Refleksi adalah kisah tentang Kahar Muzakkar. Pejuang kelahiran Luwu, Sulsel, ini lebih dikenal sebagai pemberontak melalu gerakan Darul Islam/Tenatara Islam Indonesia (DI/TII).
Padahal, di beberapa daerah seperti Palopo, sosok Kahar dikultuskan sebagai simbol perlawanan terhadap pemerintahan Soekarno yang mengabaikan peran penting tentara luar Jawa dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.
Misteri kematian Kahar, yang tak secara gamblang diceritakan, terus menyisakan teka-teki. Celah ini digunakan untuk menerbitkan kisah-kisah tentang Kahar, termasuk Misteri Kahar Muzakkar Masih Hidup, yang sudah dua kali dicetak.
Agar tak mengabaikan pendekatan ilmiah, Wanua berupaya menggali naskah dari kampus. Hasil penelitian dosen sejarah Universitas Negeri Makassar, Abdul Rahman Hamid, diterbitkan menjadi buku yang memberi perspektif luas. Buku itu mengungkap hubungan antara gerakan separatis Kartosuwirjo dan gerakan DI/TII Kahar Muzakkar tahun 1953 yang meluas dari Sulsel ke Sulawesi Tenggara, hingga Halmahera.
Hasil riset Sutiono Sinansari Ecip tentang sepak terjang pahlawan nasional Wolter Monginsidi yang digali dari museum di Belanda juga diterbitkan.
"Intrik" militer Jenderl M Jusuf (mantan Menteri Pertahanan dan Keamanan/ PAnglima ABRI) dengan Andi Selle pun diangkat dalam kisah ringan. Buku-buku itu terbit dengan ketebalan rata-rata 100 halaman.

Menjahit sejarah

Wanua berupaya menghadirkan penerbitan minimal dengan mimpi maksimal. Dia hanya dibantu Anwar untuk bertahan mengurusi penerbitan setelah tiga penggagas lainnya mundur karena kesibukan dan minat lain.
Mereka berdua menjemput sendiri naskah dari rumah ke rumah penulis, mengedit, bahkan, kadang menuliskannya kembali. Mimpi Wanua tak surut, yakni menjahit sejarah Sulsel melalui buku yang terjangkau masyarakat.
Kiprah Wanua setidaknya menggairahkan aktivitas kepenulisan di Sulsel dan daerah lain di kawasan timur Indonesia. Naskah baru yang diajukan para penulis muda mengalir deras. Masih ada 80 naskah yang menunggu diterbitkan.
Penulis-penulis dari Palu (Sulteng), Kendari (Sultra), Gorontalo, hingga Papua menguji diri memasukkan naskah mereka. Antusiasme para penulis muda ini menggugah Wanua untuk membentuk penerbitan baru yang mewadahi tema lebih umum.
Pada 1 Januari 2011 didirikanlah Arus Timur yang bernaung dalam satu manajemen dengan Pustaka Refleksi. Arus Timur adalah upaya lain menggiatkan dunia penerbitan di Indonesia Timur.
Dia sempat "cemburu" melihat betapa penerbitan bisa tumbuh subur di Yogyakarta meski berawal dengan modal terbatas. Sebaliknya di Makassar, penerbitan buku masih barang langka, apalagi yang mengangkat sejarah lokal.
Itu juga yang mendorong dia belajar ke Yogyakarta tahun 2000. Kala itu dia baru mengundurkan diri dari Redaktur Palaksana Harian Berita Kota Makassar, yang menangani berita kriminal. Sepuluh tahun di dunia jurnalistik memberi dia pengalaman dan wawasan tentang dunia penerbitan di Yogyakarta, dia belajar bahwa modal utama penerbitan adalah visi yang kuat.
Modal awal dia dapat setelah ditunjuk menerbitkan buku Takalar, Kini dan Esok: Paradigma Baru Bupati Zaenal. Buku ini dua kali dicetak pada 2001 dengan jumlah 4.000 eksemplar.
Uang pembayaran buku sebesar Rp 20 juta dia gunakan untuk menerbitkan tiga buku baru. Hingga kini modal penerbitan masih berasal dari dana patungan.
dengan harga buku Rp 25.000-Rp 30.000 per eksemplar. Penerbit berkewajiban memberikan royalti 10 persen dari harga jual itu kepada penulis, setelah dipotong rabat.

Tradisi intelektual

Wanua percaya, buku adalah penggerak peradaban. Pustaka Refleksi didirikan dengan harapan bisa menggenapi hal itu. Di tengah kuatnya stigma Makassar sebagai kota "keonaran", ia yakin penerbitan buku bisa menjadi media untuk menyampaikan aspirasi secara bermartabat dan elegan.
"Kalau memiliki argumen yang jelas, tumpahkanlah lewat buku. Jika ada yang tak setuju, silahkan bantah dengan karya buku. Itulah ruang dialog yang elegan," katanya.
Begitulah Wanua membangun tradisi intelektual. Ia memilih kata "Refleksi" untuk nama penerbitnya dengan tujuan agar sesuatu yang disampaikan bergema atau terpantulkan. Buku yang diterbitkan adalah gema dari sebuah zaman dan masyarakatnya. Ia berupaya menunjukkan bahwa kawasan timur Indonesia tak selamanya berbalut pesimisme dan keterbelakangan.
Wanua menggemakan Indonesia timur dengan "berwarna", santun, dan bermartabat. Produk yang dia hasilkan menambah khazanah kepustakaan tentang Indonesia timur.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 15 APRIL 2011

Rabu, 13 April 2011

Nasib Budiono : Peternak Bebek Bernasib Mujur


NASIB BUDIONO

Lahir : Mojokerto, 6 September 1972
Istri : Uswatun Hasanah (34)
Anak :
- Putri Riznanda Ramadani (12)
- Maulida Zakiyatus Zuhriyah (5)
Pendidikan :
- SDN Mojokerto III (1986)
- SMON I Pungging (1989)
Pekerjaan : Peternak itik/bebek

Krisis moneter tahun 1998 ternyata menjadi tonggak baru dalam sejarah Nasib Budiono, peternak itik/bebek asal Dusun Gedang, Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

OLEH ABDUL LATHIF

"Sebelum membuka usaha ternak sendiri, saya ikut Pak Suwardi, selama 12 tahun saya bekerja di peternakan milik beliau dan banyak belajar tentang bagaimana beternak bebek secara baik dan benar," kata Nasib Budiono.
Selama bekerja di peternakan milik tetangganya itu, Nasib tidak semata-mata mengharapkan imbalan uang alias gaji. Dia rupanya menimba ilmu beternak itik/bebek. "Yang penting ilmunya, bukan berapa saya dibayar," katanya.
Gonjang-ganjing krisis moneter tahun 1998 berdampak pada kehancuran ekonomi, termasuk gulung tikarnya sejumlah usaha kecil peternakan bebek. "Setelah tidak bekerja di peternakan Pak Suwardi, saya mencoba ussaha sendiri," katanya. Bermodalkan Rp 5 juta, Nasib membeli 3.000 itik.
Saat memulai usaha peternakan itik/bebek, Nasib memeliharanya dengan cara tradisional. Bebek-bebeknya dibiarkan mencari makan di sungai kecil dan sawah. Alasannya, tidak cukup modal untuk membeli pakan ternak yang kala itu sangat mahal. "Saya angon sendiri ke sungai dan sawah," katanya.
Seiring dengan berputarnya waktu, hasil usahanya berkembang pesat. Saat ini setidaknya ada 9.000 bebek di kandang miliknya dan 25.000-30.000 bebek di kandang milik mitra kerjanya yang tersebar di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Ketekunan, keuletan, dan kehati-hatian dalam menjalankan usaha ternaknya tak ayal mengantarkan Nasib menjadi peternak itik/bebek yang berhasil. Kehidupan keluarganya pun kini jauh lebih baik.
"Alhamdulillah, dari usaha ternak itik, saya bisa membeli rumah, tanah, sepeda motor, dan mobil. Namun, yang penting dalam hidup ini, ssaya bisa bermanfaat untuk orang lain," katanya.

Peternak binaan

Omzet hasil ternaknya sat ini berkisar Rp 50 juta- Rp 60 juta per bulan. Omzet sebesar itu belum termasuk hasil ternak dari 32 mitra usaha yang dia modali di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, dan di Kepanjen, Malang. Peternakan itik miliknya dengan lima karyawan menyediakan bibit itik/bebek untuk para mitranya.
Selain di desa tempat kelahirannya, kata Nasib menjelaskan, dia juga punya usaha ternak binaan di Kepanjen, Malang, yang mulai dikembangkan tahun 2003.
"Sekarang ini ada 15 peterrnak binaan saya yang sayamodali dengan bibit itik untuk dibesarkan," tutur Nasib seraya menekankan bahwa dia selalu mengedepankan kejujuran dan kepercayaan bagi para mitranya.
Soal penetasan telur, Nasib mengaku memiliki 35 oven penetasan yang keseluruhannya mampu menghasilkan lebih kurang 10.000 anak itik. Harga setiap itik (anak bebek) Rp 3.200 untuk pejantan dan Rp 5.000 untuk betina.
"Setiap hari rata-rata 2.500 bibit itik saya kirim ke Samarinda dan Tarakan, kalimantan Timur. Sebagian lainnya ke Makassar, Malang, dan Tulungagung. kalau untuk bebek potong lebih kurang 500 ekor per hari," katanya.
Usaha yang digeluti Nasib tidak hanya pembibitan itik dari proses penetasan oven,, tetapi juga bebek potong dan bebek siap telur. "Khusus untuk telur bebek, setiap hari saya bisa mengirim 9.000 butir untuk konsumsi, pembibitan, dan pabrik mi serta kerupuk," katanya.
Nasib, yang sejak berusia 2 tahun sudah yatim piatu karena orangtuanya (Madilan-Rukemi) meninggal, adalah potret anak keluarga miskin tetapi berhasil menggapai kehidupan layak dari beternak itik/bebek.
"Mbakyu saya, Ngatiing, yang membiayai sekolah saya sampai SMP. Karena tidak ada biaya untuk melanjutkan (sekolah), ya saya mau tidak mau harus mencari pekerjaan untuk hidup," tuturnya.
Sebagai peternak itik/bebek, Nasib hanya berharap pemerintah memerhatikan harga pakan ternak yang kini cenderung naik dan mahal. "Sekarang pakan ternak kosentrat 144 harganya Rp 290.000 per sak, katul Rp 2.500 per kilogram, dan kepala udang Rp 150.000 per blong," keluhnya.
Sebagai peternak itik/bebek yang terbilang sukses, Nasib tetap bersahaja dalam melakoni hidup. Jika ada waktu senggang, dia tak segan dan malu angon bebek ke sungai yang berada di belakang rumahnya.
"Sesekali saya masih angon bebek, dan di sungai ini saya dahulu memulai beternak itik serta memeliharanya sendiri," katanya sembari menunjuk puluhan bebek yang berlarian.
Kerinduan masa lalu saat angon itik dan melakoninya kembali tatkala dirinya sudah menapaki kesuksesan sebagai peternak tidak melarutkan Nasib dalam gemerlap kehidupan.. "Saya orangnya dari dahulu ya seperti ini, masih suka angon bebek," katanya.
Selama 13 tahun menjalankan usaha ternak itik/bebek, Nasib mengaku lancar-lancar saja. Walaupun demikian, kasus flu burung yang mencuat sekitar tahun 2004 berdampak pada penurunan omzet.
"Alhamdulillah, sampai sekarang ini aman-aman saja dan tidak ada ternak saya yang terserang flu burung. Namun, saat marak kasus flu burung, pengiriman itik dan telur bebek ke beberapa daerah, termasuk Bali, sempat tertunda. Hal ini berdampak pada penurunan omzet sampai 50 persen," tuturnya.
Menyoalkan dampak anomali cuaca terhadap pemeliharaan ternak itik/bebek, Nasib mengatakan, hal itu tak banyak berpengaruh. Namun, dia mengakui, produksi telur bebek menurun. "Cuaca mendung, hujan, dan dingin bisa membuat produksi telur bebek turun sampai 60-70 persen," katanya.
Sebagai orangtua yang hanya mengenyam pendidikan sampai bangku SMP, dia termotivasi untuk lebih memerhatikan masa depan dan pendidikan anak-anaknya. Dia ingin anak-anaknya menjadi orang yang sukses dengan keilmuannya.
"Saya ingin anak saya sukses dan kuliah peternakan serta mengerti nutrisi. Apakah nanti mau jadi peternak seperti bapaknya, saya tak tahu. Kalaupun memilih jadi peternak, mereka bisa mengamalkan ilmu nutrisi yang diperoleh dari kuliah," kata Nasib.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 14 APRIL 2011

Selasa, 12 April 2011

Triono Basuki : Pertanian Sehat Berwawasan Lingkungan


TRIONO BASUKI

Usia : 42 tahun
Istri : Murtinah
Anak : Dimas Sarung Wicaksono
Pendidikan : STM PGRI I Kediri Jurusan Teknik Otomotif

Penggunaan bahan kimia secar berlebihan dalam penatalaksanaan pertanian di Tanah Air mengundang keprihatinan Triono Basuki. Dampak bahan kimia itu merusak lingkungan dan mengancam kesselamatan jiwa manusia.kondisi ini memotivasi dia mengampanyekan pertanian sehat berwawasan lingkungan.

OLEH RUNIK SRI ASTUTI

Basuki, sapaannya, adalah petani di Desa Kaibon, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Di dunia pertanian, terutama bidang tanaman pangan, ia boleh dibilang pendatang baru. Persinggungan dia dengan tanaman pangan baru berbilang tahun.
Jadilah, ia sering dicemooh rekan-rekan sesama petani. Namun, dia tak patah arang mengajak mereka menerapkan pola tanam berwawasan lingkungan demi mendapat hasil yang sehat dikonsumsi orang.
Basuki percaya makanan yang tak banyak terkontaminasi bahan kimia terjaga kandungan gizinya. Makanan sehat hanya dihasilkan dari proses pertanian yang tidak banyak menggunakan bahan kimia.
dalam konsep Basuki, petani tidak boleh hanya mengeksploitasi sawah, tetapi juga bertangggung jawab menjaga kondisi tanah tetap subur. Dengan metode pertanian yang menggunakan pupuk kimia mencapai 750 kilogram (kg) hingga 1 ton per hektar, sawah tidak menjadi subur, justru kian tandus. Apalagi, ditambah pemakaian obat pembasmi hama dan penyakit berbahan kimia akan mengakibatkan pencemaran lingkungan.
Buktinya, produktivitas gabah terus merosot. Jika sebelumnya 7 ton per hektar, kini di Madiun rata-rata 5,4 ton per hektar. Di sisi lain, kebutuhan pemakaian pupuk anorganik semakin tinggi. Jika lima tahun lalu rata-rata per hektar sawah cukup dengan 300-500 kg pupuk anorganik, kini kebutuhan mencapai 1 ton per hektar. Adapun rekomendasi Kementerian Pertanian, satu hektar sawah idealnya hanya 250 kg.
"Ini karena tanah sawah kita miskin kandungan unsur hara. jika tidak dibarengi penggunaan bahan kimia yang berlebih, tidak mampu menghasilkan produksi tinggi. Di Madiun, misalnya, kandungan unsur hara rata-rata kurang dari 1 persen," katanya.
Untuk mengembalikan kesuburan tanah, petani harus mengurangi pupuk kimia dan memperbanyak pupuk organik. Seruan mengurangi pupuk kimia berkali-kali disampaikan pemerintah pusat dan daerah. Namun, seruan itu menjadi "pepesan kosong" karena tidak dibarengi pendampingan di lapangan dan pemberdayaan petani.
Basuki berusaha memberdayakan petani untuk memproduksi pupuk organik sendiri. Bahan bakunya tersedia di lingkungan sekitar dan murah. Sebagai contoh, memanfaatkan limbah yang terbuang, seperti kotoran dan urine sapi, abu hasil pembakaran pabrik gula, serta katul atau kulit ari padi.

Menghemat biaya

Setelah melakukan uji coba selama tiga tahun, Basuki menemukan formulasi untuk membuat pupuk organik. Setiap 50 persen kotoran sapi dia campur dengan 40 persen abu pabrik, 5 persen bekatul, 2,5 persen urine sapi yang telah diproses menjadi fermentor, serta 2,5 persen kalsium. Dengan pupuk organik ini, sehektar sawah hanya memerlukan maksimal 300 kg pupuk.
Sebagai gambaran, setiap hektar sawah yang dikelola secara kimia memerlukan minimal 300 kg pupuk urea, 300 kg ZA, 400 kg NPK, serta insektisida kimia. Total biaya minimal yang diperlukan mencapai Rp 3,5 juta.
Dengan pupuk organik, setiap hektar sawah yang menggunakan kombinasi pupukorganik dan pupuk kimia hanya memerlukan biaya maksimal Rp 1.750.000.
Hasilnya setiap hektar sawah yang menggunakan formulasi Basuki produktivitasnya hingga 7,5 ton gabah. Sementara sawah yang dipupuk 100 persen anorganik hanya menghasilkan maksimal 5,4 ton gabah. Perlakuan ini diterapkan pada varietas lokal Ciherang dan Pandanwangi.
Untuk gabah yang dihasilkan, Basuki mengklaim lebih sehat dibandingkan dengan gabah umumnya. Alasannya, proses penatalaksanaan tanaman dilakukan secara alami sehingga memperkecil kandungan bahan kimia dalam beras. Harga beras sehat Basuki dipatok Rp 7.000 per kg, diatas harga pasaran Rp 5.200 per kg di tingkat petani.
Manfaat sampingan dengan pupuk organik, petani memperbaiki kandungan unsur hara tanah. Pupuk organik merangsang tumbuhnya mikro organisme dan memproduksi unsur hara seperti cacing. Berpunggungan dengan pupuk organik, pupuk kimia membunuh mikro organisme dalam tanah. "Di sinilah konsep wawasan lingkungannya," tuturnya.
Sedikitnya empat kelompok tani menjadi binaan Basuki. Setiap kelompok beranggotakan 50-60 orang. Dia juga membina petani perorangan yang ingin belajar. Ia pun mendirikan forum diskusi bagi petani.

Proses sertifikasi

Basuki bercerita, formulasi pupuk organik dalam proses sertifikasi untuk mendapatkan Standar Nasional Indonesia. Bersamaan dengan itu, ia mengurus sertifikasi beras sehat yang dihasilkan.
Ia bermimpi dapat menerapkan penatalaksanaan pertanian yang 100 persen berwawasan lingkungan. Petani benar-benar zero pupuk dan pestisida kimia.
Kendati masih proses sertifikasi, Basuki sering diminta menjadi pemateri dalam berbagai acara pertanian. Berkat perjuangannya mengampanyekan pertanian sehat berwawasan lingkungan, Basuki terpilih menjadi petani berpotensi di Madiun.
"Saya memberikan materi secara gratis. Kadang saya diberi uang transport. Petani silahkan membuat pupuk sendiri. Kalau mau beli bisa menebus Rp 60 per kg sebagai pengganti ongkos transport. Itu pun uangnya diberikan kepada Kelompok Tani Sejahtera Desa Kaibon, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, ini.
Dari mana Basuki mendapatkan ilmu? selain pengalaman di sawah, dia juga belajar lewat buku yang dibeli di pasar loak. Hampir setiap minggu dia berburu buku di pasar loak Madiun. Dia juga sering berdiskusi dengan petani yang lebih senior.
Ia berasal dari keluarga petani dengan kepemilikan sawah kurang dari sehektar. Orangtuanya hanya mampu membiayai dia hingga tamat sekolah teknik menengah jurusan otomotif.
Selepas sekolah dia berharap mendapat pekerjaan di kantor. Namun, dia diterima sebagai sopir perusahaan jasa ekspedisi angkutan barang.
Menyadari sebagai sopir tak membuat dia sejahtera, Basuki menjadi pembudidaya tanaman hias. Berbagai ajang pameran dia ikuti demi mempromosikan tanaman hiasnya. Seiring dengan berlalunya kejayaan bisnis tanaman hias, meredup pula penghasilannya. dia lantas pulang kampung.
Basuki lalu menggarap sawah milik orangtuanya. Namun, sumber mata pencaharian satu-satunya ini pun produksinya merosot. Padahal, biaya produksi pertanian semakin tinggi. Setiap menjelang musim panen, dia dihantui ancaman kegagalan dan utang bertumpuk.
Kini, semua itu menjadi masa lalu. Basuki mampu mendongkrak kesejahteraan petani, membangun pola hidup sehat, dan memperbaiki lahan pertanian.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 13 APRIL 2011

Keteguhan Berkesenian Mbah Tjip


BIODATA

Nama : FX Sutjipto Wibagkso
Tempat, tanggal lahir : Klaten, Jawa Tengah, 10 November 1943
Pendidikan : Sekolah Rakyat Klaten (tidak tamat)
Istri : Tugiyati (meninggal tahun 1975), Sunarsih (meninggal tahun 1999)
Anak :
1. Budi Setyawati (36)
2. Ari Yuwono (33)
3. Mei Yuntarso (31)
4. Iin Fajar Indrati (28)
Cucu :
1. Rizki Agung (10)
2. Angga (4)
3. Satria Ramadhan (3,5)

Dunia kesenian Indonesia telah menghasilkan tokoh-tokoh besar. Namun, tidak sedikit pula "aktor" kecil yang sebenarnya juga banyak berjasa dalam membesarkan dan melestarikan kesenian bangsa. Dalam dunia kesenian Jawa,khususnya wayang orang, peran FX Sutjipto Wibagkso (65) tak bisa diremehkan.

Oleh MOHAMAD FINAL DAENG

Di salah satu pojok terkumuh di dalam kompleks Taman Hiburan Purawisata, Yogyakarta, "mutiara" kesenian itu bersinar terang. Sutjipto Wibagkso, atau yang lebih akrab disapa Mbah Tjip, telah menajdi penghuni tetap Purawisata sejak tahun 1975.
Ia adalah tertua kelompok seni wayang orang Ramayana Ballet yang pentas setiap hari tanpa henti di Purawisata sejak 32 tahun lalu.Meski rambut telah memutih dan gigi tak lagi utuh karena usia, Mbah Tjip masih tegar menjalani hidup berkesenian yang ditekuninya sejak berusia 10 tahun.
Di salah satu kamar berukuran 2 meter x 3 meter yang disediakan pengelola Purawisata, Mbah Tjip tinggal sejak 1975. Dalam kelompok Ramayana Ballet, Mbah Tjip sehari-hari bertugas sebagai koordinator dekorasi dan kostum yang menunjang penampilan 60 pemain sendratari. "Kalau jadi sutradara atau pemain, ya sudah tidak kuat lagi," katanya pekan terakhir Desember 2008.
Menjadi pemain dan sutradara wayang orang sudah kenyang ia lakoni sewaktu muda dulu. Beberapa kelompok kesenian wayang orang yang besar di zamannya, seperti Cipta Kandar Yogyakarta, Wayang Orang Edi budaya, dan Wayang Orang THR, pernah disinggahinya.
namun, sosok Mbah Tjip sebenarnya lebih dikenal sebagai pembuat dekorasi panggung seperti latar belakang keraton, pedesaan, tiang-tiang, dan alas. Berbagai ornamen penunjang pertunjukan lainnya juga menjadi ladang garapannya.
Karya-karyanya telah menghiasi panggung-panggung besar pementasan wayang orang pada dekade 1970-1990-an di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. Mbah Tjip juga menekuni bidang pembuatan kostum wayang orang. Dalam dua bidang tersebut, kakek empat cucu tersebut telah ikut membesarkan kesenian wayang orang, bahkan hingga ke luar negeri.

Darah seni

Darah seni dalam dirinya mengalir dari kedua orangtuanya yang pemain wayang orang Sriwedari Solo. Meninggalnya sang ayah pada 1953 membuat ibunya menjalankan kelompok seorang diri. "Awalnya saya tidak tertarik bermain wayang orang karena masih mau melanjutkan sekolah. Namun, saya kasihan sama ibu yang mengurusi kelompok wayang orang seorang diri. Jadi dari situ saya mulai belajar menari," katanya.
Dari situlah ia mulai menjadi pemain wayang orang dan sempa berpindah-pindah kelompok sebelum memutuskan masuk Yogyakarta pada 1975 dan bergabung dengan kelompok Wayang Orang THR.
Pada saat ekonomi sedang sulit, sekitar tahun 1975, datang tawaran dari seseorang di Temanggung yang meminta dibikinkan dekorasi panggung. "Tawaran itu saya ambil meski sebelumnya tak pernah melukis dekorasi," katanya.
Ternyata, hasil karya pertamanya itu disukai si pemesan. Sejak saat itu, pesanan datang dari kampung-kampung sekitar yang ingin mengadakan pertunjukan wayang orang. "Waktu pementasan masih ramai seperti dulu. Dalam satu bulan saya bisa mengerjakan tiga dekorasi panggung," katanya.
Bahkan, karyanya dipakai bukan hanya untuk wayang orang, melainkan meluas untuk berbagai seni pertunjukan lain, hingga dekorasi restoran. Kala itu, reputasi Mbah Tjip sudah melebar hingga ke luar Jawa, bahkan sampai di negeri Belanda.
Permintaan pembuatan dekorasi dan latar belakang panggung (backdrop) mulai surut seiring menyusutnya pertunjukan wayang orang. Terlebih lagi pada akhir tahun 1990 ketika komputer mulai mendominasi pembuatan latar belakang panggung. Perlahan tapi pasti, Mbah Tjip mulai tergusur.
Namun, ia tetap setia dan "keras kepala" menekuni kesenian. Dia mulai menekuni bidang lain, yakni pembuatan kostum wayang orang. Dalam bidang ini ia juga terbilang cukup "sukses". Dengan memodifikasi beragam bahan nonkulit yang dipadukan dengan kain dan manik-manik, hasil rancangan Mbah Tjip mendapat tempat di hati para penari.
Hasil karyanya itu juga merambah hingga ke luar negeri. "Pada tahun 1998, empat stel kostum buatan saya dipesan orang Kanada untuk sanggar tari di sana," katanya.

Bersahaja

Saat ini, dengan gaji Rp 700.000 sebulan yang diperoleh dari kelompok Ramayana Ballet, Mbah Tjip hanya bisa hidup pas-pasan. Penghasilan tambahan didapatnya dari order membuat backdrop dan kostum yang datang sesekali.
"Kalau ditotal-total, dalam sebulan paling hanya dapat Rp 1 juta. Sebenarnya tidak cukup, tetapi ya harus dicukup-cukupkan," katanya.
Jika order datang dari teman-teman sendiri, Mbah Tjip "enggan" memasang tarif, bahkan terkadang dia serahkan tanpa bayaran."Saya ini dari dulu tidak bakat kaya. Prinsip saya, kalau sering menolong orang, kita juga akan ditolong orang," katanya.
Satu filosofi hidup lain yang masih tetap dipegangnya hingga semangat berkeseniannya tetap menyala adalah pesan mendiang ayahnya yang mengutip petuah Jawa kuno, yakni luhuring bongso, margo budoyo, atau keluhuran suatu bangsa tak bisa lepas dari budayanya.
Karena filsafat itu pula, hingga kini Mbah Tjip tidak bosan-bosannya menularkan ilmu kepada generasi muda yang datang belajar kepadanya.
Ia menjadi rujukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di DIY, seperti Institut Seni Indonesia (ISI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang sering sowan kepadanya.
Ini pula yang menjadi salah satu alasan kenapa Mbah Tjip masih betah tinggal di Purawisata meski anak-anaknya sering meminta dia pensiun dan tinggal bersama mereka.
"Kalau saya tinggal di rumah anak, nanti orang-orang akan susah mencari saya kalau perlu apa-apa," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 7 JANUARI 2009

Senin, 11 April 2011

Jatnika, Pendekar Bambu Cimande


JATNIKA NANGGAMIHARJA

Lahir : Cikidang, Sukabumi, 2 Oktober 1956
Istri : Marsidah (33)
Anak :
1. Samsuri Fajri
2. Sundari (almarhumah)
3. Ratu Pertiwi
4. Karisma Nusanagara
5. Salmah Maksum
6. Banjar Kaspaya
Pendidikan :
- SD IV di Cibadak, Sukabumi
- SMP I Cibadak, Sukabumi
- SMA 424 Cibadak, Sukabumi
- Kuliah Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta
Pengalaman organisasi :
- Ketua Paguyuban Perajin Bambu Kidang Kencana (1974-sekarang)
- Pengelola atau Ketua Harian Yayasan Bambu Indonesia (1995-sekarang)
- Ketua Pembina Senam Pencak Silat Cimande Hijalah (2010-sekarang)
Penghargaan antara lain :
Pembuat rumah bambu tradisional terbanyak dari Ikatan Arsitek Indonesia (2009)

Tumbuh dan besar di hutan bambu, hidup Jatnika Nanggamiharja (54) tak terpisahkan dari tanaman itu. Ia telah membangun lebih dari 3.000 rumah bambu di dalam dan luar negeri. Ia sisihkan keuntungan bisnisnya untuk penghijauan tebing sungai.

OLEH MAWAR KUSUMA

Di lahan seluas 5.000 meter persegi milik Yayasan Bambu Indonesia di Bumi Cibinong Indah, Bogor, Jawa barat, Jatnika melatih tenaga ahli pembuatan rumah bambu. Mereka dibekali kemampuan olahraga bela diri pencak silat Cimande. Ilmu bela diri khas Jawa Barat ini memberi bekal kekuatan sehingga mereka mampu membangun rumah bambu yang ikatannya kuat dan tahan lama.
Jatnika telah melatih lebih dari 20 angkatan tenaga ahli bambu yang masing-masing terdiri atas 25 orang. Mereka dilatih untuk mampu mengikat kuat setiap bambu dengan sepuluh macam ikatan tali ijuk. Mereka sanggup merakit bambu betung, bambu gombong, bambu tali, hingga bambu hitam yang diameternya bisa mencapai 20 sentimeter.
Produk rumah bambu itu menjadi komoditas ekspor. Demi kualitas, jatnika hanya menyanggupi dua permintaan ekspor rakitan rumah bambu knock down (bongkar pasang) per tahun. Proses pembangunan rumah bambu di luar negeri juga hanya dilakukan dengan tenaga ahli yang sudah dididik Jatnika. Permintaan ekspor rumah bambu, antara lain berasal dari Malaysia, Brunei, dan Arab Saudi.
Pembangunan tiap rumah bambu biasanya memakan waktu tiga bulan. Sejak tahun 1985, kata Jatnika,pihaknya telah membangun lebih dari 3.000 rumah bambu.
Jatnika mematok biaya pembangunan rumah antara Rp 1,2 juta hingga Rp 2,5 juta per meter persegi dan luas satu rumah rata-rata 50 meter persegi.
Jatnika hidup sederhana di rumah bambu miliknya yang menyatu dengan kawasan Yayasan Bambu Indonesia. Keuntungan yang diperolehnya dari pembangunan rumah bambu juga dimanfaatkan untuk pengadaan bibit, yang kemudian ditanam sebagai upaya penghijauan. "Saya sebar kembali untuk penanaman. Kebahagiaan tidak selamanya terletak di materi," kata Jatnika.
Penghijauan terutama dilakukan di sekitar sungai sebagai penahan tebing. Bambu yang ditanamnya sudah merimbun di bantaran Sungai Ciliwung, Cisadane, dan Ciluwer. Di kampung halamannya, Jatnika menanam lebih dari 10hektar bambu di tepian sungai Cimande. Tanaman bambu tersebut tak sekadar mencegah erosi sungai, tapi juga memberi kesejahteraan bagi warga sekitar.
Selain rumah, Jatnika juga membangun pesantren miliknya dari bambu. Jika membangun 10 masjid atau mushala dari bambu, Jatnika menyumbangkan satu mushala secara gratis. Impiannya adalah menyaksikan rumah bambu menjadi ciri khas utama ketika orang memasuki wilayah Jawa Barat.

Prabu Haur Kuning

Jatnika meyakini, fatwa bambu yang dulu dilontarkan oleh Prabu Haur Kuning. Prabu Haur Kuning adalah putra Prabu Siliwangi dari istri ke-11. Prabu Haur Kuning yang hanya memiliki wilayah kekuasaan seluas 1.200 depa mampu mewujudkan kesejahteraan rakyatnya dari penanaman bambu.
Tiga fatwa bambu itu menyebutkan, Jika Nusantara ingin sejahtera, tidak dihinggapi penyakit menular, dan tidak dijajah, maka tiap keluarga minimal harus menananm 1.000 rumpun bambu. Melalui penanaman bambu, akan tercipta kesejahteraan, kesehatan, dan pertahanan negara.
Jatnika pribadi mengaku sangat merasakan buah kesejahteraan karena bambu. Dari penanaman 1.000 rumpun bambu betung berumur lima tahun, misalnya, dia bisa memanen 20.000 batang bambu. Dengan harga jual Rp 30.000 per batang, Jatnika sudah memperoleh Rp 600 juta per panen, setahun sekali.
Nilai jual tersebut akan semakin tinggi setelah disentuh dengan keahlian, seperti dibuat menjadi kipas, sangkar burung, dan beragam alat dapur.
Tiap tahun, kata Jatnika, minimal lima batang dari serumpun bambu harus ditebang agar pertumbuhan bambu tak terhambat.
Satu rumpun bambu yang terdiri dari 50 batang bambu menyimpan 2.000 liter air. Tak heran jika orang pedesaan biasa membuat sumur di dekat rumpun bambu.
Tinggal di rumah bambu, menurut Jatnika, juga mampu memberi kenyamanan. Resonansi dengung panjang berbunyi dari rongga bambu mampu menumbuhkan ketenangan bagi penghuninya.
"Kita ini bersaudara dengan bambu. Bunyi nggg...... yang sama bisa kita dengar ketika menutup telinga dengan tangan. Itulah kenapa sangat nyaman tidur di rumah bambu," ujar Jatnika.

Mulai sebagai penganyam

Sejak duduk di bangku SD, Jatnika sudah menganyam bambu untuk dijual. Orangtuanya berprofesi sebagai perajin bambu. Tiap malam, ketika masih memakai seragam SMP dan SMA, kepada teman-temannya Jatnika juga mengajar cara menganyam bambu serta melatih pencak silat Cimande.
Setelah kulianya selesai tahun 1981, Jatnika menekuni bisnis pembangunan rumah bambu sembari bekerja di perusahaan penerbitan.Ekspor kerajinan bambu mulai dijalaninya tahun 1985, ke Taiwan, dan sejak saat itu dia fokus menggeluti usaha bambu. Usaha kerajinan bambunya kala itu berkembang dengan lima sanggar di Jakarta.
Ketiak ikut pameran rumah bambu di Lapangan Banteng tahun 1995, Ketua Dewan Kerajinan Nasional kala itu, Nyonya Tri Sutrisno, mengajaknya mendirikan Yayasan Bambu Indonesia. Sejak itulah Jatnika melebarkan sayap ekspor rumah bambunya. Yayasan Bambu Indonesia hingga kini masih aktif mendidik para ahli pembuat rumah bambu.
Jatnika mengaku hingga kini sudah mengembangkan 41 model rumah tradisional bambu khas Jawa Barat. Bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II, dia telah mematenkan hak cipta untuk rumah bambu semi permanen pada 2006.
Indonesia kaya dengan 105spesies endemik asli bambu yang 95 persen diantaranya ditemukan di Jawa Barat. Namun, Jatnika merasa resah karena bambu masih dianggap tanaman liar, tanpa adanya penanaman yang terprogram.
Berdasar catatan Jatnika, hampir 1.000 hektar hutan bambu di Bogor ditebang dalam kurun lima tahun terakhir. Padahal, katanya, kehidupan masyarkat Indonesia tidak lepas dari budaya bambu, mulai dari keperluan bahan baku rumah hingga makanan.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 12 APRIL 2011

Junus Jahja dan Semangat Pembaruan


BIODATA

Nama : Junus Jahja
LAhir : Jakarta, 22 April 1927
Istri : Tjitjih Rukaesih
Anak : Yuli Purwanti
Pendidikan : Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam, Beland, 1956
Penghargaan : Bintang Mahaputera Utama
Karier antara lain :
- Ketua Umum Yayasan Haji Karim Oei
- Kepala Perwakilan Bank Jerman
- Direktur Lembaga Pengkajian Masalah Pembauran
- Pendiri Yayasan Ukhuwah Islamiyah
Beberapa karya buku :
- Garis Rasial Garis Usang
- Catatan Seorang WNI
- Nonpri di mata Pribumi
- Islam di mata WNI
- Peranakan Idealis

Dimaki bagai kacang lupa kulitnya dan dituduh sebagai pengkhianat bagi kaum Tionghoa, tak membuat langkah Junus Jahja menyebarkan semangat pembauran surut ke belakang. Baginya, nasionalisme adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Oleh DWI AS SETIANINGSIH

Pergulatan Junus Jahja meretas jalan pembauran di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia tak pernah berhenti. Pada usianya yang kini mencapai 82 tahun, Junus tetap tak bisa duduk diam.
Sebuah buku, Catatan Orang Indonesia, kembali lahir darinya. Buku setebal 160 halaman yang diterbitkan Komunitas Bambu itu merupakan kumpulan tulisan Junus tentang gagasannya mengenai pembauran dan proses keindonesiaan masyarakat Tionghoa peranakan di Indonesia.
Di antara rekan-rekannya yang hadir pada acara peluncuran bukunya, Rabu (19/8) di Jakarta, adalah Harry Tjan Silalahi, Kwik Kian Gie, Melly G Tan, Jacob Oetama, Rosihan Anwar, dan Hudiani Sutikna (istri almarhum K Sindhunata).
Junus yang bernama asli Lauw Chuan Tho, tmpak bangga. Ini adalah saat yang paling membahagiakan baginya, setelah bertahun-tahun tak bisa sering bertemu fisik dengan teman-teman seperjuangannya.
"Saya bangga bisa bertemu teman-teman lama," tutur Junus dengan suara lantang.
Meski duduk di atas kursi roda, suaranya yang lantang dan gaya bicaranya yang blak-blakan tak bisa menyembunyikan semangatnya yang menyala-nyala, terutama ketika ia berbicara tentang upaya membangun semangat keindonesiaan.
Menurut Junus, sebagai bangsa, sudah seharusnya Indonesia menghormati hari lahir Soempah Pemoeda yang jatuh tanggal 28 Oktober. Hal itu ditegaskan Junus dalam Catatan Orang Indonesia bahwa"kita semua (bangsa Indonesia) sejak 1928 telah menjadi satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, tanpa mengkotak-kotakkan bangsa Indonesia berdasar garis kesukuan, kedaerahan maupun ras".
Tentang upaya membangun semangat nasionalisme, utamanya di kalangan Tionghoa peranakan, Junus mengaku mendapat banyak dukungan dari rekan-rekannya, seperti K Sindhunata, Arifin Siregar, B Pasaribu, dan Hendro Priyanto, sehingga dia bisa memulainya dengan cara yang benar.
Junus memulainya dengan mempelajari bahasa Indonesia secara bak dan benar. "Saya belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan bahasa Indonesia yang menyebut lu orang, you orang, dan kita orang,' kata Junus yang belajar bahasa Indonesia dari koran Asia Raya yang kemudian disempurnakan rekannya, Engku Anwar.
Dengan mempelajari bahasa Indonesia secara baik dan benar itu, Junus yakin, secara otomatis membuatnya mencintai Tanah Air, Indonesia.
Junus yang bergerilya menyebarkan semangat pembauran di kalangan Tionghoa peranakan sejak tahun 1959, saat masih menjadi mahasiswa di Rotterdam, Belanda, ini mengatakan, tak mudah bagi dirinya yang notabene seorang peranakan Tionghoa berjuang menanamkan semangat keindonesiaan.
"Saya dibilang kacang lupa kulitnya, dibilang pengkhianat di depan umum," kenang Junus.
Tetapi, dia teguh. baginya, mutlak bagi setiap Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia untuk mencintai Indonesia sebagai tanah airnya.
"Saya memang radikal. Saya melawan arus. Tetapi bagi saya, kalau mau hidup di sini, cari makan di sini, mau mati di sini, ya harus mencintai Indonesia. Enggak perlu lagi kita melihat ke Tiongkok," tegas Junus yang memeluk agama Islam tahun 1979.
Seiring berjalannya waktu, jalan yang harus dilalui Junus untuk menyebarkan semangat pembaruan kian terbuka. Dia aktif dalam sejumlah yayasan yang Islam, di antaranya Muhammadiyah, mendirikan Yayasan Ukhuwah Islamiyah yang juga aktif menyebarkan Islam di berbagai kalangan.

Indonesia sejati

Di mata teman-teman seperjuangannya, Junus dikenal sebagai sosok yang total dalam memperjuangkan pembaruan di Indonesia. Harry Tjan menyebut dia sebagai orang Indonesia sejati.
"Dengan jiwa dan raga, dia memilih menjadi Indonesia dan kosekuen menjalankan pilihannya," kata Harry.
Ini termasuk meninggalkan segala sesuatu yang dia miliki, termasuk harta benda dan nilai-nilai yangdianutnya. Dia kemudian merangkak bersama rakyat biasa. Junus lahir dari pasangan Lauw Lok Soey dan Oey Ay Nio. Orang tuanya adalah pengusaha roti yang sukses.
Kwik Kian Gie, yang mengenal Junus sejak tahun 1956, mengatakan, Junus adalah sosok yang selalu total dalam menyelesaikan segala persoalan. Kwik juga melihat Junus sebagai sosok yang mau mempelajari apa saja agar menjadi lebih pintar.
"Istilah pembauran bagi Junus adalah living reality," kata Kwik.
Tak heran jika dulu, pada masa mudanya, Junus pergi dari satu kafe ke kafe lain, ngobrol dengan orang-orang Belanda hinga hapal guyonan ala pelaut Rotterdam.
Junus kini mengisi hari tuanya dengan penuh semangat. Setiap pagi, setelah sarapan, dia berjemur di bawah sinar matahari sambil sesekali bercengkrama dengan tetangga sebelah rumah. Junus juga bermain dengan kedua cucunya, Reynara Zafiraldo Sujiwo (3) dan Qays Rafa Yahya Sujiwo (9bulan). Cucu ini diberikan oleh anak semata wayang, Yuli Purwanti.
Junus tetap setia mengikuti perkembangan dunia dari televisi, majalah, dan surat kabar. Setiap hari, ada suster yang bertugas membacakan berita untuknya. Koran harus habis dibaca dalam satu hari, sedangkan majalah harus selesai dibaca dalam satu minggu.
Dia juga kerap kali minta dibacakan tulisan dari buku-buku karangannya. Untuk tayangan televisi, Junus bisa dibilang fanatik pada dua saluran, yakni Metro TV dan CNN.
Setelah melewati jalan panjang, Junus memang masih tidak puas dengan apa yang telah dilakukannya selama ini. Tetapi dia bisa berbangga hati, apa yang telah dirintisnya dengan susah payah selama bertahun-tahun relatif bisa diterima, dimengerti, dan berjalan cukup baik.
"Harapan saya, Indonesia harus maju. Tidak bisa tidak, negara yang begini kaya harus maju," tandasnya.
Kepada generasi muda, Junus berpesan agar terus berjuang untuk menemukan keindonesiaan mereka dengan berbaur.
"Etnis Tionghoa harus tahu diri. Mereka harus bersyukur mendapat Tanah Air yang begitu cantik. Mereka, semua suku dan keturunan apa pun yang hidup di Indonesia, harus mau berbaur dan berjuang bersama untuk maju," tegas Junus.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 20 AGUSTUS 2009