Kamis, 24 Mei 2012

Riri Fitri Sari: Kibarkan Merah Putih Melalui Teknologi Informasi

RIRI FITRI SARI
* Lahir: Bukittinggi, 7 Juli 1970
* Suami: Dr Ir Kusno Adi Sambowo
* Anak:
  1. Almira Lavina 
  2. Naufalia Brilianti
  3. Laura Sambowo Fawzia
* Pendidikan:
   - Sarjana Teknik Elektro UI
   - Magister Sumber Daya Manusia Universitas Atma Jaya Jakarta
   - MSc bidang software system and parallel processing dari Departmen  of
     computer Science, University of Sheffield, Inggris, dengan Chevening 
     Award dari British Council
   - PhD dari School of Computing, University of Leeds, Inggris
* Pekerjaan:
   Kepala Pengembangan dan Pelayanan Sistem Informasi UI
* Pencapaian:
   - Peringkat ke-3 Dosen berprestasi nasional dalam rangka peringatan Hari
     Kemerdekaan RI yang ke-64
   - Menerima penghargaan sebagai Most Inspiring Engineer Award di Kalkutta,
     India, Maret 2012, dari IEEE (organisasi profesi insinyur elektroteknik 
     dunia)
   - Mengikuti program studi dan magang di PBB Geneva  dan New York. 
     Pernah terlibat dalam riset di CERN (European Laboratory for Particle 
     Physics) Geneva serta mengikuti training ke Australia (UNESCO), Jepang 
     (JICA), dan menjadi invited speaker di Korea (KAIST)

Laksana cahaya, walaupun tak tersentuh, tapi selalu menerangi. Falsafah hidup ini melekat pada diri Riri Fitri Sari (41), perempuan dengan segudang prestasi. Melalui perannya, Universitas Indonesia sejak tahun 2008 meraih predikat kampus tercerdas di Indonesia versi PT Telkom. Riri berhasil mendesain digitalisasi informasi di internal kampus menjadi lebih canggih.

OLEH ANDY RIZA HIDAYAT

Dampaknya, semua urusan akademik sejak tahun 2006 menjadi lebih mudah. Semua informasi terkait kampus dapat diakses oleh mahasiswa ataupun dosen di mana pun mereka berada. Tidak heran jika UI memercayainya sebagai Kepala Pengembangan dan Pelayanan Sistem Informasi.
     Kepercayaan ini semakin memompa Riri untuk lebih kreatif. Dia merintis survei internasional mengenai kampus hijau di seluruh dunia. Survei yang bernama "UI GreenMetric: World University Ranking" ini berlangsung setiap tahun sejak tahun 2010. Akhir  tahun lalu terpilih 178 universitas dari 42 negara yang memenuhi standar penilaian tim UI GreenMetric pimpinan Riri Fitri Sari.
     Sistem pemeringkatan ini dilakukan berdasarkan lima indikator yaitu penataan infrastruktur kampus, penggunaan energi yang mendukung kampanye perubahan iklim, pengelolaan sampah, pengelolaan air, dan penggunaan transportasi kampus yang ramah lingkungan. Pemeringkatan ini sekaligus memosisikan Indonesia bukan lagi sebagai obyek pemeringkatan internasional, melainkan juga sebagai penyelenggara survei internasional.
     Setahun kemudian, UI GreenMetric diterima sebagai anggota International Ranking Expert Group (IREG) Observatory yang berpusat di Belgia dengan referensi dari US News Ranking, Higher Education Evaluation and Accreditation Council of Taiwan, serta Institute for Higher Education Policy Washington DC. "IREG adalah lembaga yang penting karena IREG melakukan program audit dan sertifikasi bagi lembaga pemeringkatan universitas sedunia," tutur Riri.
     Selain itu, peneliti Eropa dan Amerika telah menganggap UI GreenMetric sebagai salah satu pemeringkatan universitas sedunia yang inovatif. Hal ini sesuai dengan tema utama pengembangan masyarakat dunia mengantisipasi iklim global.

Terinspirasi Marie Curie
     Karena perannya inilah, pada Maret 2012 organisasi profesi insinyur elektroteknik dunia IEEE, memberikan penghargaan Most Inspiring Engineer Award kepada Riri di Kalkutta, India. Riri mengalahkan finalis dari lima negara di perhelatan itu. Bersama Riri, perwakilan Indonesia yang lain, Agne Irawanti, juga meraih penghargaan yang sama.
     Perjalanan hidup Riri penuh warna. Dia hampir tidak bisa menjawab ketika ditanya.  "Ibu ini orang mana". Riri terbiasa hidup berpindah mengikuti orangtuanya. Dia dilahirkan di Bukittinggi pada 7 Juli 1970. Lalu, ia menghabiskan masa kecil di Kota Manado , masa remaja di Lombok, Nusa Tenggara Barat, kemudian bermukim di Kota Depok, Jawa Barat. "Orang mana hayo, yang jelas orang Indonesia," katanya seraya melempar senyum.
    Setelah menjalani hidup di berbagai daerah, dia tahu banyak potensi positif di negeri ini yang bisa dibanggakan. Salah satu orang yang melecut semangatnya belajar adaah gurunya di  Sekolah Dasar Negeri 11, Jalan Sarapung, Manado, Sulawesi Utara, bernama Ibu Tomigolung. Ketika itu, gurunya mengenalkan sosok ilmuwan Marie Sklodowska-Curie kepada Riri kecil. Riri terkesima karena Marie Sklodowska-Curie merupakan sosok yang kuat dan istimewa. Perempuan Polandia itu adalah peraih dua kali Hadiah Nobel bidang radiologi.
     "Kalau saja Ibu Tomigolung tidak pernah bercerita tentang Madame Marie Curie, belum tentu saya berada di fakultas Teknik UI dan terus semangat memperbaiki paper untuk jurnal internasional," tulis Riri di blog pribadinya.

Bangkit

     Menurut Riri, perkembangan tekonologi informasi begitu cepat. Internet muncul menjadi jaringan untuk membentuk sinergi dan kohesi, kemudian diikuti dengan pertumbuhan industri teknologi informasi di seluruh dunia. Dalam lima tahun terakhir, peta pusat kekuatan teknologi informasi dan komunikasi dunia berpusat di Redmond, Silicon Valley California (Amerika Serikat), Shenzen (China), dan Bangalore (India).
     Dia mengagumi kebangkitan India sebagai pemain utama dalam peta teknologi informasi dunia. Dengan dukungan fasilitas yang baik, generasi muda India menghasilkan inovasi cemerlang dalam hal tekonologi informasi. Para pekerja teknologi informasi di India betah berkarya di Bangalore karena terkoneksi sambungan internet berkecepatan tinggi.
     Riri yakin, jika populasi dianggap bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai kekuatan, Indonesia mampu membangun dan menjadi kekuatan besar keempat dunia setelah China, India, dan AS. Tapal batas negara kini tidak ada lagi. Bandung dan Bundang di Korea (rumahnya Samsung Electronics) hanyalah nama, Bangalore dan Depok hanya terpisah oleh antusiasme dan etos kerja. Bekerja jarak jauh di tepi Pantai Senggigi, Lombok, yang indah tidak seberapa berbeda dengan duduk di kampus Microsoft di Redmond, Seattle.
     Dari mimpi, kata Riri, kita bergerak mengikuti perubahan dunia dan menyiapkan strategi untuk ikut berbagi menjadi bagian terhormat dari umat manusia. Usaha bersama yang tidak kenal lelah akan mengantarkan kita pada pencapaian visi untuk menjadi bangsa yang produktif dan bermartabat.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 24 MEI 2012

1 komentar: