Selasa, 30 Maret 2010

Thio, Potehi dan Ihwal Asimilasi

Panggung mini serupa teras rumah yang disebut Pheliauw, ukuran 120 sentimeter x 100 sentimeter berwarna dominan merah itu, mendadak menjadi "dunia" yang hidup begitu dalang Thio Tiong Gie menyeruakkan sosok boneka potehi. Didahului "suluk" berbahasa China Hokian dan musik dari instrumen gembreng, kecer, kendang, dan pentung kecil tiak ko yang ditabuh riuh, boneka potehi pria itu memperkenalkan diri dan pentas wayang dimulai.
THIO TIONG GIE
Nama lain : Teguh Chandra Irawan
Lahir : Demak, jawa Tengah, 9 januari 1933
Istri : Hoo Sian Nio
Pendidikan : Kelas V Sekolah Dasar Chu Hoo Kong Sie, Semarang
Debut dalang : 1958
Usaha : Bengkel las "Bintara" Semarang
Anak : 7 orang, cucu 22 orang, cicit 1 orang
oleh ARDUS M SAWEGA
Sebelum pentas, Thio membuat ritual membakar uang kertas kimcoa dipanggung disertai mantera. "Maksudnya buat membersihkan roh jahat agar tak mengganggu pementasan" ujar Thio yang petang itu berbusana Yongkai merah. Ritual yang sama dia ulang di akhir pekan.
Pentas wayang potehi berbahasa Indonesia itu berlangsung di sebuah rumah yang luas dan indah bergaya China di kawasan Kebagusan, jakarta Selatan, akhir februari lalu. lakonnya "Jenderal Perang Angkatan Kedua Shie Teng San Memimpin Bala bantuan ke Kerajaan Sie Liang". Ini produksi perdana Unima (Perhimpunan Internasional Seni Marionet) Indonesia dalam bentuk kolaborasi wayang potehi dengan koreograpi tari.
Pertunjukan wayang potehi ini lebih beraroma nostalgia bagi mereka yang pernah menontonnya pada 1950-1960 an. bagi sebagian warga di Jawa, tradisi wayang potehi memberi makna berarti.
Tradisi wayang potehi dari Poo Thay Hie yang berarti kantong tangan dari kain, di Tiongkok lahir di kota Chuan Chiu, Hokian. Itulah tanah leluhur Thio Thiam Soe, ayah Thio Tiong Gie. Konon, tradisi ini lahir dari lima narapidana pada masa Dinasti Shang Tiao, 3.000 tahun lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar