Rabu, 05 Mei 2010

Bejo Wage Suu dan Seni Liping

Ditangan Bejo Wage Suu, limbah peti telur dapat menjadi kerajinan bernilai seni dan bernilai ekonomi yang relatif tinggi. Dari peti telur berbahan kayu pinus, dia membuat patung-patung mini setinggi 5 sentimeter. Dengan satu peti telur yang diperolehnya cuma-cuma dari para mbok bakul di pasar-pasar tradisional di Solo, Jawa Tengah, dapat dibuat 100 patung mini.


MARYONO ATAU BEJO WAGE SUU
Lahir : Sukoharjo, Jawa Tengah, 29 Juli 1974
Pendidikan : - SD Alas Ombo, kabupaten Sukoharjo
- SMP Mojolaban, Bekonang
- STM Warga, Solo
Istri : Titik Haryati
Anak : - Abiyasa (7)
- Kinkin (2)
Prestasi : - Merit Prize untuk kategori kayu dalam Inacraft Award 2009 atas karya "Catur
Bharatayudha".
- Juara Sayembara Suvenir Nasional tahun 2006 yang digelar Departemen
Kebudayaan dan Pariwisata.

Oleh SRI REJEKI

Namun, karena makin sedikit peti telur yang berbahan kayu pinus, Bejo kemudian beralih menggunakan lembar-lembar kayu pinus untuk bahan baku patung mininya. Dari satu lembar kayu pinus berukuran 100x10x1 sentimeter yang dibelinya seharga Rp.1.800,- misalnya, dapat dibuat 200 patung mini. Harga patung itu sekitar Rp.50.000,- perbuah.
Jika Bejo membuatnya menjadi papan catur berukuran 60x60 sentimeter dengan bidak-bidak catur berupa prajurit kerajaan kuno, karyanya dihargai hingga Rp.10 juta per satu set papan catur. Seiring dengan berjalannya waktu, nilai itu bertambah tinggi.
Untuk membuat patung itu, Bejo hanya perlu gergaji tripleks dan pisau pemotong (cutter). Selain kayu pinus lembaran, bahan penunjang adalah bubuk kayu, kulit jayu, perca kain batik dan sejenis tripleks.
Bejo menyebut karyanya sebagai "Patung". Patungnya diukir menjadi sosok orang tengah mengerjakan berbagai aktivitas yang belakangan ini- terutama bagi mereka yang tinggal dikota besar jarang ditemui, seperti menumbuk padi, kerokan, naik sepeda, membatik, menimba air, membajak sawah, atau main congklak. Sudah puluhan aktivitas ia rekam melalui patung-patung kecil yang ia "dandani" dengan kain dan kemben atau blengkon.
"Sementara ini, yang saya buat baru mengabadikan figur dengan busana khas Jawa Tengah, kedepan, saya ingin menggarap kegiatan tradisi lewat patung yang menggunakan busana khas setiap daerah di seluruh Nusantara," kata Bejo yang bernama asli Maryono.
Melalui karyanya, Bejo juga ingin berkisah tentang kekayaan warisan budaya bangsa yang hampir tak lagi dikenal kaum muda. Ia mengambil babad kuno sebagai sumber inspirasi sehingga terciptalah papan catur dengan buah catur yang diberi karakter bersumber dari cerita kuno, seperti perang Mataram dan Baratayudha.
Tentang kehidupan
Dari rekaman kehidupan yang diabadikan lewat patung-patung mini, karya Bejo lantas disebut orang "seni liping". "Awalnya, saat ditanya orang, opo iki mas, saya jawab living, maksudnya kehidupan. Lama-lama orang menyebutnya liping," katanya terkekeh.
Ia lalu mengabadikan istilah "liping" menjadi jargon usahanya, "The Liping Art of Indonesia". Karya Bejo terbaru bertajuk "Catur serumpun" menggambarkan kegundahannya terhadap pasang surut hubungan Indonesia dengan negara tetangga. Karya itu mengekspresikan sindirannya atas sejumlah klaim kepemilikan yang dilakukan oleh negara tetangga terhadap budaya Indonesia.
Sebelum ini, ia menciptakan "Catur Ramayana", "Catur Baratayudha" yang berisi kisah perang Baratayudha, serta "catur Mataram" yang mengisahkan pecahnya kerajaan Mataram. Bejo tengah merancang catur yang bercerita tentang proses pembuatan Candi Borobudur dengan papan berukuran 1x1 meter, serta ritual malam 1 Sura dengan papan berukuran 200x60 sentimeter.
Bejo masih bermimpi liping diakui sebagai fine art atau seni rupa murni, sejajar dengan lukisan. Dia tidak ingin menjadi tukang gergaji kayu pinus seumur hidup. Sejauh ini liping masih dinilai sebagai produk kerajinan atau kriya.
Dia butuh waktu bertahun-tahun bereksplorasi sebelum menemukan ide membuat patung-patung seni liping yang dimulai sejak tahun 1998. Lima tahun sebelumnya, selepas tamat STM, Bejo bekerja sebagai buruh di sejumlah pabrik di Pulau Sumatera, jakarta, Tangerang, dan Solo.
Karyanya, menurut Bejo, harus dapat dimanfaatkan untuk mengabadikan budaya yang terancam punah. Awalnya, karyanya berbentuk siluet orang yang tengah beraktivitas, misalnya bermain gitar. Karya yang dibuat dari bekas stik es krim ini lalu dijajakan di kampus-kampus di Solo, Salatiga, dan Yogyakarta.
Berbekal pengalaman itu, Bejo memutuskan menjadikan kayu pinus sebagai bahan baku utama kreativitasnya. Kelebihan lain kayu pinus, menurut dia, mudah diperoleh dan harganya murah.
"Detail bentuk dan aksesori akhirnya saya temukan pada tahun 2002," kata Bejo yang lahir di Dusun Tambangserut, Desa Alas Ombo, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo.
Tak suka diatur
Pengalaman hidup di desa ditambah pergulatan hidup yang tidak mudah memberikan ide dibenak Bejo yang selalu termotivasi bekerja keras. Karyanya yang unik mengundang ketertarikan orang. Tidak kurang seorang kepala daerah ingin menjadikan karya Bejo sebagai ikon kota yang dipimpinnya.
Bejo ditawari gaji tinggi, bengkel kerja, dan ruang pamer asal ia mau menggarap karakter-karakter sesuai pesanan sang kepala daerah yang sedang menggenjot pariwisata kota yang dipimpinnya.
"Saya tidak mnerima tawaran itu karena tidak suka diatur-atur," ujar Bejo yang juga menolak tawaran serupa dari seorang pengusaha.
Dia memilih berkarya secara mandiri di sebuah rumah sederhana milik kerabatnya di jalan Kencur, Tunggulsari, Laweyan, Solo. Kemerdekaan berkreasi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar bagi Bejo.
Tidak sia-sia kerja keras dan keteguhan sikap dia. Karyanya mulai dihargai orang. hal ini dibuktikan dengan penghargaan Merit Prize untuk kategori kayu dalam Inacraft Award 2009, atas karya dia bertajuk "Catur Baratayudha". karyanya, miniatur pertunjukan wayang kulit, juga memenangi Sayembara Suvenir Nasional tahun 2006.
Bercerita tentang karya caturnya yang berharga Rp.10 juta per set, kata Bejo, dulu hanya bernilai ratusan ribu rupiah. "Awalnya, catur itu dijual Rp.200.000,- saja tiddak laku," kata anak dari pasangan almarhum Dadi Widodo dan Sudarti ini mengenang.
Karya Bejo mulai dikenal masyarakat seiring dengan keaktifannya mengikuti pameran. Apresiasi pengunjung pameran membuat karyanya dihargai dengan nilai ekonomi yang relatif baik. Ini jauh berbeda dengan awal usaha pemasaran yang hanya menjamah pasar kakilima.
"Dulu, boro-boro dihargai mahal, (karya saya) laku saja tidak. Ternyata saya salah pasar," kata pria yang memilih memakai Bejo sebagai simbol pengharapannya agar selalu beroleh keberuntungan hidup.
Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 16 NOVEMBER 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar