Minggu, 03 Maret 2013

Nanda dan Iswandi: Dua Sisi Songket

NANDA WIRAWAN 
Lahir: Padang, Sumatera Barat, 19 November 1982
Pendidikan:
- SD Negeri 24 Purus Baru, Padang
- SMP Negeri 7 Padang
- SMA Negeri 2 Padang
- S-1 Teknik Lingkungan, Universitas Andalas, Padang

ISWANDI
lahir: Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 13 Mei 1976
- SD Negeri 100, Canduang, Agam, Sumbar
- SMP Negeri Simpang Canduang
- SMSR Negeri Padang
- Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Padang
Anak: Mikshalmina Tulus Iswandi (3,5)

Nanda Wirawan dan Iswandi bak dua sisi helai-helai songket lama Minangkabau yang saling memberi harmoni. Pasangan itu adalah generasi kedua yang berkelindan dengan upaya revitalisasi songket-songket tersebut.

OLEH INGKI RINALDI

Sebagian dari songket Minangkabau yang selama ini tersimpan di tangan kolektor ataupun museum, bahkan yang tak lagi terlihat, kembali dibuat ulang. Songket lama itu dikerjakan dengan ketelitian tinggi seperti saat ditenun bertahun-tahun lalu.
   Tak heran jika akhir Desember lalu Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) memberi penghargaan kerajinan unggulan untuk songket Kotogadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, bermotif Sajamba Makan serta songket gabungan motif Saluak Laka dan Saik Ajik Babungo.
   Semua itu berawal pada 1996 ketika pria berkebangsaan Swiss, Bernhard Bart, bersama istrinya, Erika Dubler, merevitalisasi songket lama Minangkabau. Pasangan itu bertemu Nina Rianti dan almarhum Alda Wimar di Padang.
   Nina dan Alda adalah  orangtua Nanda. Bernhard, Erika, Nina, dan Alda kemudian bersama-sama mewujudkan keinginan besar mereka merevitalisasi songket lama Minangkabau.
   Upaya ini melelahkan karena songket lama Minangkabau tak bisa dipandang sebagai produk sandang belaka. Bernhard dalam buku Revitalisasi Songket Lama Minangkabau (2006) mengatakan, menatap songket berarti melihat sebuah tatanan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
   Songket Minangkabau menjadi pelengkap status sosial seseorang dalam masyarakat, selain sebagai fungsi yang melekat dalam sejumlah upacara adat. Motif dalam setiap lembarnya mengandung makna tersurat, tersirat, dan tersuruk (tersembunyi). Orang Minang menyebutnya alam takambang jadi guru atau alam yang terkembang adalah guru.
 Ketika Bernhard fokus pada detail teknis songket, Alda secara intens meneliti aspek filosofi dan budaya songket.
   Masa itu ditandai dengan perburuan dan percobaan membuat kembali songket lama pada sejumlah petenun. Eksperimen antara lain dilakukan di Tanjung Sungayang, Batusangkar, Kubang, Limapuluh Kota, dan Kotogadang, Agam. "Tak ada yang berhasil," kata Nanda.

Sempat vakum

   Pada 2004-2006 mereka bekerja sama dengan petenun di Payakumbuh yang bernaung dalam Studio Songket ErikaRianti. Mereka berpameran di Jakarta sebelum vakum lagi pada 2006. Tahun 2008, Studio Songket ErikaRianti berdiri di Jorong Panca, Nagari Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam.
   Namun, mendapatkan petenun tak mudah. Awalnya lima petenun asal Lintau, Tanah Datar, direkrut. Mereka diajari cara menggunakan alat penyimpan motif (karok motif) yang dibawa Bernhard dari Laos. Dari lima orang itu, hanya seorang yang menjadi petenun hingga kini.
   Lalu direkrutlah kaum muda di wilayah Nagari Batu Taba meski mereka bukan petenun. Tahun 2009, selama setahun tujuh anak muda itu diajari menenun songket. "Proses 'cuci otak' untuk menyamakan visi yang berlangsung sampai sekarang. Kami tanamkan pada mereka bahwa proses ini perlu keberlanjutan. Kita harus mencintai dan memiliki pekerjaan serta kebanggaan," kata Nanda.
   Alhasil ada 4 perempuan dan 4 pria petenun berusia 18-26 tahun. Mereka yang mengerjakan songket berukuran 190 cm x 55 cm. Sehelai kain selesai dalam waktu 1,5-2 bulan dan berharga mulai Rp 5 juta.
   Sebagian orang menganggap harga songket itu mahal. Namun, menurut Nanda dan Iswandi, harga itu sepadan mengingat kesulitan dan lamanya membuat songket. Oleh karena itu, selain mendidik petenun, mereka juga"mendidik" konsumen yang datang ke Studio Songket ErikaRianti untuk menghargai songket.
   "Kami memang masih kesulitan memasarkannya, baru tahun 2012 ada surplus. inilah yang membuat biaya produksi tinggi karena gaji petenun terus dibayar penuh," kata Nanda.

Realitas kini

   Belakangan ini Nanda dan Iswandi tak lagi menjadikan revitalisasi songket lama Minangkabau sebagai "isu utama". "Kami harus lebih terbuka melihat perkembangan dunia busana, perubahan yang terjadi setiap tahun, termasuk tren warnanya." kata ISwandi.
   Karena itu, dalam pembuatan songket mereka berusaha menyelaraskannya dengan realitas. Nanda berpandangan, tradisi dan adat merupakan sesuatu yang terus berkembang. "Kita hidup dengan nilai dalam konteks kekinian," ujarnya.
   Penyesuaian itu bisa berupa material yang lebih disukai orang dan sesuai dengan kondisi kini. Misalnya, benang emas yang cenderung dihindari sebagian orang karena gatal dan sulit perawatannya. Penyesuaian juga dilakukan pada ukuran songket, seperti membuatnya sesuai untuk tengkuluak (penutup kepala) sekaligus selendang ataupun syal.
   "Warna bisa sesuai tren, tetapi motif lama tetap kami pertahankan karena di sinilah filosofi songket itu," kata Nanda yang sejak 2010 memakai pewarna alami, seperti kayu manis, pinang, secang, dan lumpur. "Ternyata efek visual (songket) lebih bagus dengan pewarna alam," ujarnya.
   Perubahan itu juga memengaruhi konsumennya. Jika dulu pembeli songket lama umumnya berusia 40-60 tahun, kini konsumen berusia 30 tahun pun menyukainya.
   "Ke depan kami akan lebih menggarap pasar muda usia, juga membuat kampung songket di Canduang (Agam)," kata Iswandi. "Saya ingin anak muda pun merasa bangga memakai songket, tak hanya pada upacara adat," lanjut Nanda.
   Kampung songket ini merupakan cita-cita mereka untuk melanjutkan tradisi. "Dulu, setiap nagari punya hasil tenun yang spesifik. Namun, pada 1920-an hingga 1965 ada generasi pembuat songket yang putus. Akibatnya, banyak motif songket lama yang hialng," ujar Nanda.
   Meski banyak tantangan, keduanya bertekad terus bertahan. Mereka seakan menemukan harta karun setiap kali memperoleh songket lama dengan kisah yang tak terduga.
   "Selalu ada gairah yang meletup-letup. Misalnya ketika kami jalan-jalan ke suatu daerah, selalu ada motif songket 'baru' yang membuat kami berusaha mendalaminya. Selain motif, juga sejarahnya, tahun berapa dibuat, siapa pembuatnya, bahan yang digunakan," kata Iswandi.
   Iswandi pun merasa dititipi "wasiat" untuk merevitalisasi songket sejak menikahi Nanda pada 2008. Apalagi ia pun tak asing dengan tekstil dan motif karena saat belajar di Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri Padang mengambil jurusan kriya.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 4 MARET 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar