Selasa, 09 Oktober 2012

Yesaya Talan: Mengurus Penyu di Menipo

YESAYA TALAN

Lahir: Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, 3 Juli 1961
Istri: Yakomina Haumena
Anak:
- Yotran (24)
- Yerubeam (22)
- Yaner (17)
Pendidikan:
- SD Enoraen, Kabupaten Kupang, NTT, 1976
- SMP Oekabiti, Kabupaten Kupang, NTT, 1980 
- SMA Persamaan di Kupang, 1994
Pendidikan dan pelatihan:
- Polisi Kehutanan, 1983
- Pengelolaan Konservasi Alam Tingkat 2, 1994
- Inventarisasi Biota Laut, 1995
- Penyegaran Kepala Resor, 1998 
- Teknik Pencegahan Kebakaran hutan, 2002
Penghargaan: Pengabdi Lingkungan tingkat Provinsi NTT, 1988

Taman Wisata Alam Menipo memiliki garis pantai yang berpasir putih lembut, sekaligus menjadi tempat penyu bertelur. Musim penyu bertelur berlangsung terutama sekitar bulan Juni-Juli. Kepakan dada sang induk untuk memadatkan pasir penutup lubang kumpulan telurnya terdengar jelas dari sejumlah titik. Jika akhirnya menetaskan tukik hidup dalam jumlah maksimal, keberhasilan itu tidak bisa dipisahkan dari pengabdian Yesaya Talan.

OLEH FRANS SARONG

Kawasan cagar alam Menipo seluas sekitar 2.449 hektar secara administratif merupakan bagian dari wilayah Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya dari Kota Kupang sekitar 119 kilometer, melalui Oekabiti.
   Bila anda memilih jalur melewati Batuputih jaraknya sekitar 124 kilometer. Batuputih merupakan wilayah kabupaten tetangga, Timor Tengah Selatan. Kawasan Menipo telah berstatus taman wisata alam (TWA) sejak 20 tahun lalu. Ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada 28 Desember 1992.
   "Kalau memasuki musimnya, selama Juni-Juli, setidaknya 10 induk penyu bertelur setiap hari. Sebaliknya, selama bulan-bulan lainnya tidak menentu, kadang hanya satu-dua induk penyu yang bertelur," tutur Yesaya, Kepala Resor TWA Menipo, di pantai Menipo, pertengahan September lalu.
   Sesungguhnya tekad melestarikan penyu mengharuskan para petugas memberikan pengabdian jauh di luar batas tugas "standar" sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Betapa tidak, waktu penyu bertelur biasanya berlangsung larut malam hingga dini hari. Sesaat kemudian langsung terdengar bunyi dari kepakan dada induk penyu untuk memadatkan permukaan pasir, penutup sarang kumpulan telurnya.
   Kumpulan telur itu, meski sudah terkubur dalam lubang sarangnya, dipastikan akan rusak sehingga gagal menetas jika terkena rembesan air laut dari empasan ombak.
   Guna menyelamatkan kumpulan telur dari ancaman itulah Yesaya bersama tim penjelajah kawasan harus terus berjaga-jaga di sekitar bibir pantai. Tugas itu mereka lakukan sejak larut malam hingga pagi dini hari, terutama selama musim penyu bertelur.
   "Bunyi kepakan dada induk penyu adalah pertanda proses bertelurnya sudah selesai. Saat itu juga kami harus segera 'merapat' untuk dua tugas sekaligus. Pertama, menandai induknya sebelum dilepasliarkan kembali. Kedua, menyelamatkan kumpulan telurnya dari empasan ombak laut," kata dia.
   Pada malam itu, Yesaya dan tim penjelajah melepasliarkan 405 tukik atau anakan penyu ke Laut Timor. Kegiatan itu juga diikuti oleh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT Wiratno bersama sejumlah staf.

Ancaman yang menghantui

   Yesaya yang berasal dari desa setempat mencatat, setidaknya ada dua ancaman yang selalu menghantui proses penetasan telur penyu secara alamiah. Selain ancaman terkena empasan ombak, juga tidak sedikit tukik yang mati hanya karena tidak mampu keluar dari lapisan pasir penutup sarangnya.
   "Proses penetasan tukik hanya akan berhasil maksimal jika ada campur tangan manusia. Saya bersama teman-teman dari TWA Menipo merasa terpanggil untuk menyelamatkannya. Meski untuk itu kami harus bekerja hingga larut malam, bahkan sampai pagi," tutur ayah empat anak itu.
   Biasanya kumpulan telur yang baru diambil dari lubangnya langsung dipindahkan ke dalam bokor yang sudah ditata mirip sarang aslinya. Bokor itu lalu diletakkan dalam pondok atau tenda khusus.
   Kumpulan telur tersebut lazimnya mulai menetas setelah melewati masa pengeraman selama sekitar dua bulan. Tepat pada waktunya petugas harus berada di tempat itu agar bisa membantu proses pengeluaran tukik dari lapisan pasir sarangnya.
   Yesaya mencatat, proses penetasan secara alamiah dengan tingkat keberhasilan tukik hidup bisa mencapai 50 persen dari jumlah telurnya.
    "Kalau dengan campur tangan petugas tingkat keberhasilan itu bisa mencapai sekitar 85-90 persen," katanya.
   Sebanyak 405 tukik yang dilepasliarkan pada pertengahan September lalu itu adalah hasil penetasan dari 475 butir telur. Fakta itu menunjukkan, keberhasilan penetasan telur penyu mencapai sekitar 87 persen hidup dan 70 butir telur lainnya rusak.

Penyayang satwa

   Khusus upaya pelestarian penyu di Menipo, secara resmi baru berlangsung sejak tahun 2010. Total anakan penyu yang sudah berhasil dilepasliarkan hingga kini berjumlah 11.155 ekor, termasuk 1.302 ekor di antaranya dalam periode Januari-pertengahan September 2012. Sedangkan induk penyu yang dilepasliarkan kembali, setelah diberi tanda khusus berjumlah 14 ekor. Pelepasliaran induk penyu pun dilakukan pada malam hingga dini hari.
   Meski tugasnya tak mudah, Yesaya tidak mengeluh. Sejak kecil ia menyayangi satwa, termasuk penyu. "Ketika masih SD saya sering memarahi teman-teman yang biasa fiti (menembak) burung dengan katapel. Sikap itu bertambah kuat sejak saya menjadi PNS konservasi sumber daya alam."
  Bagi Yesaya dan tim, keunikan TWA Menipo membuat mereka rela menghabiskan banyak waktu di kawasan ini. "TWA Menipo perlu dijaga karena punya banyak keunikan, seperti keberadaan penyu. Tempat ini juga berpotensi menjadi obyek wisata berdaya tarik tinggi," ujarnya.
   Selain penyu, kawasan itu pun menjadi habitat sekitar 250 rusa timor (cervus timorensis), kakaktua kecil jambul kuning (cacatua sulphurea), buaya muara (crocodylus porosus), dan kalong (Pteropus vampyrus).
   Jika cuaca di Menipo cerah, dengan teropong kita bisa melihat cahaya lampu malam di pantai utara Benua Australia. Kawasan TWA Menipo menjadi pulau tersendiri saat pasang naik dan menyatu dengan daratan Timor saat pasang surut.
   Permukaan  daerah ini berbalut sabana dan ditumbuhi ribuan lontar (Borassus flabellifer), cemara laut (Casuarina equisetifolia) serta mangrove jenis Rhizophora mucronata dan Bruguiera spp.
   Meski berpotensi sebagai obyek wisata, TWA Menipo belum banyak dilirik turis. Salah satunya karena infrastruktur jalan menuju kawasan ini amat buruk.


Dikutip dari KOMPAS, RABU, 3 OKTOBER 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar