Rabu, 02 November 2011

Muhammad Arasy: Memajukan Sekolah Pinggiran

MUHAMMAD ARASY

Lahir: Barru, 12 Juli 1958
Istri : Hj Nila Djanggola
Anak : Nurkholis
Pendidikan :
- S-1 Jurusan Pendidikan Sejarah dan Kebudayaan IAIN Makassar
- S-2 Administrasi Publik Universitas Tadulako, Palu
Organisasi :
- Ketua Umum Asosiasi Guru Mata Pelajaran PGRI
- Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMA/MA Kota Palu
- Ketua Umum Kerukunan Keluarga Daerah barru
Penghargaan :
- Satya Lencana 10 dan 20 tahun
- Penghargaan Sekolah Berwawasan Lingkungan dari Depdiknas, 2005

Suasana hijau dari pepohonan dan tanaman hias di sekeliling sekolah diyakini Muhammad Arasy memberikan ketenangan, kesejukan, dan semangat belajar para siswa dan guru. Semangat penghijauan itulah yang   dia embuskan untuk membangkitkan keterpurukan SMAN 3 Palu, Sulawesi Tengah, yang mengalami kebakaran pada Maret 2002.

OLEH ESTER LINCE NAPITUPULU

Arasy menjadi Kepala SMAN 3 Palu tak lama setelah sekolah tersebut mengalami kebakaran. Para guru dan siswa terpaksa belajar di antara  puing-puing bekas kebakaran karena pemerintah daerah tak segera mengucurkan dana pembangunannya.
     Suasana sekolah pinggiran yang awalnya tak masuk kategori sekolah favorit di Kota Palu itu, dalam pandangannya, terasa "muram". Arasy yang pencinta tanaman ini lalu membawa ide menghijaukan sekolah.
    Kepada para guru, ia membagi ide menghijaukan sekeliling sekolah sambil menunggu kepastian pembangunan ruangan belajar baru. Alasannya, tanaman dapat membuat suasana sekolah sejuk dan nyaman. Ini penting untuk membantu siswa kembali fokus belajar meski belum mempunyai ruang kelas permanen.
     Penghijauan yang digalakkan Arasy di sekolah itu mendapat perhatian pemerintah. Tahun 2003, pemerintah daerah mulai membangun ruangan untuk belajar.
     Kegiatan penghijauan terus dilakukan. Sepanjang lorong sekolah di lantai satu dan dua penuh pot-pot berisi tanaman hias. Pohon cemara, pohon ekor tupai, pisang, dan beragam tanaman lain menyemarakkan sekolah yang luas lahannya sekitar 2 hektar ini, mulai dari gerbang sekolah hingga halaman belakang.
     Pembiasaan mencintai lingkungan dengan kegiatan penghijauan itu ditanamkan kepada siswa. Arasy meminta siswa juga menanam pepohonan di rumah. Para orangtua siswa pun diajak menerapkan penghijauan di rumah masing-masing untuk mewujudkan Kota Palu yang hijau.
     Seiring berjalannya waktu, penghijauan di SMAN 3 Palu pun menjadi buah bibir. Apalagi Arasy melanjutkan semangat penghijauan di sekolah tersebut menjadi mata pelajaran muatan lokal. 
     Ia memotivasi guru untuk memakai penghijauan sebagai pintu masuk memperkuat pendidikan karakter siswa yang cinta lingkungan. Sekolah juga menerapkan tata tertib yang membangun karakter siswa.
     Sekolah mendorong guru dan siswa melaksanakan ajaran agama masing-masing dengan baik dan penuh toleransi. Arasy pun menerapkan keberagaman dan toleransi dengan memberikan ruang untuk ibadah siswa dari pemeluk agama yang berbeda.
     "Sekolah ini semula tak dipandang. Soalnya, siswa yang sekolah di sini kebanyakan dari kalangan bawah. Saya mencoba mencari cara untuk membuat sekolah pinggiran ini 'terbaca'. Saya pakai penghijauan dan penguatan karakter untuk jadi unggulan," katanya.
     Kepemimpinan Arasy yang mampu memotivasi guru dan siswa untuk memajukan sekolah mendapat penghargaan. Pemerintah Kota Palu  memberinya kesempatan studi banding ke sekolah-sekolah di Malaysia dan Singapura. Ia juga ikut rombongan kepala sekolah yang dibiayai Kementerian Pendidikan Nasional studi banding ke London, Inggris.

Sekolah percontohan

    Kegigihannya memajukan sekolah pinggiran bersama para guru membuahkan hasil. Sekolah ini juga mendapat perhatian dari Direktorat SMA Kemdiknas.
     SMAN 3 Palu menjadi "kiblat" sekolah berwawasan lingkungan di Sulawesi Tengah. Pendidikan karakter yang kuat di sekolah ini membuat SMAN 3 Palu menjadi sekolah percontohan karakter tingkat provinsi. Di tingkat pusat, Badan Narkotika Nasional menjadikan SMAN 3 Palu sebagai percontohan bebas narkotika.
     Pada 2006-2007 sekolah ini dirintis menjadi sekolah kategori mandiri karena mempunyai keunggulan sebagai sekolah hijau. SMAN 3 Palu telah memperkenalkan siswa dari bercocok tanam hias hingga pengolahan kompos. Sekolah ini juga ditetapkan sebagai sekolah standar nasional (SSN).
     SMAN 3 Palu terus naik daun karena mempunyai "karakter". Tahun  2009-2010, SMAN 3 Palu diberi predikat sekolah model. Artinya, sekolah ini memenuhi standar nasional serta mampu mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan lokal.
     SMAN 3 Palu juga dijadikan sekolah model penuh, dan dapat mengembangkan pusat sumber belajar dengan penguatan pendidikan teknologi informasi dan komunikasi. Di sini juga tersedia hot spot yang membuat siswa mudah mengakses internet.
     Prestasi yang dicapai SMAN 3 Palu membuat sekolah ini diminati. Pada pendaftaran siswa baru tahun lalu, misalnya, peminat mencapai 1.000 orang, meskipun daya tampungnya hanya sekitar 400 siswa.
     "Bisa saja sekolah menambah daya tampung, tetapi kami tak mau mengejar itu. Ini, kan, berarti pendapatan. Saya tidak mau. Saya mau menjaga standar yang ada," kata Arasy yang awalnya adalah dosen, lalu berpindah  haluan menjadi guru sejarah.

Menolak RSBI

     Kemajuan SMAN 3 Palu juga menarik perhatian Direktorat SMA Kemdiknas. Instansi ini menawari SMAN 3 Palu naik status menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Dengan status ini, SMAN 3 Palu bisa mendapat bantuan dana untuk mempercepat pembangunan sejumlah sarana dan prasarana yang memang dibutuhkan.
     Sebagai RSBI, pihak sekolah dan komite sekolah bisa menaikkan pungutan uang sekolah. bagi SMAN 3 Palu tentu tak sulit mencari calon siswa karena sudah menjadi salah satu sekolah favorit.
     "Saya tidak mau mengubah SMAN 3 Palu jadi RSBI. Di sini banyak anak dari keluarga ekonomi lemah. Bahkan, ada banyak anak yang digratiskan. Biarkan saja sekolah ini maju tanpa status RSBI," ujarnya.
     Arasy menambahkan, banyak persyaratan yang mesti diikuti untuk menjadi RSBI, termasuk jumlah guru yang berpendidikan S-2.
     "Saya tak terlalu berambisi untuk menjadikan sekolah ini RSBI. Saya tidak mau rekayasa soal guru karena memang di sini guru-gurunya tidak banyak yang S-2," katanya.
     Keputusan Arasy menolak tawaran dari pemerintah pusat menjadikan SMAN 3 Palu berstatus RSBI mungkin terasa aneh. Pasalnya, justru banyak sekolah yang berbondong-bondong mengajukan diri menjadi RSBI.
     "Saya jelaskan pemikiran saya kepada guru dan komite sekolah. Mereka bisa memahami dan mendukung," ujar pria yang memang bercita-cita menjadi guru ini.
     Bagi Arasy, bukan status sekolah yang dikejarnya. Ia berupaya memotivasi guru menjadi pendidik yang membentuk karakter siswa lewat penghijauan dan penguatan nilai-nilai keagamaan yang saling menghormati.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 2 NOPEMBER 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar