Senin, 15 Agustus 2011

Kak Idik Sulaeman : Merindukan Roh Pandu Indonesia


IDIK SULAEMAN NATAATMADJA

Lahir :Kuningan, Jawa Barat, 20Juli 1933
Pendidikan :
- Sekolah Rakyat di Tasikmalaya
- SMP Tasikmalaya dan Purwakarta
- SMA Boedi Oetomo Jakarta
- Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, 1954-1960
Istri : Aisah Martalogawa
Anak :
- Isandra Matin ahmad
- Isantia Dita Aslah
- Isanilda Dea Latifah
Pekerjaan :
- Desainer tekstil di Balai Penelitian Tekstil Bandung, 1960-1964
- Kepala Biro Menteri Perindustrian dan Kerajinan, 1965-1967
- Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan Direktorat Jenderal Urusan Pemuda dan
Pramuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1967-1975
- Kepala Sub Direktorat Pembinaan dan Pelatihan, 1975-1977
- Pelaksana Harian Direktur Pembinaan Generasi Muda Direktorat Jenderal
Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga, 1977-1979
- Direktur Pembinaan Kesiswaan Ditjen Pebinaan Dasar dan Menengah, 1979-1983
- Dosen Fakultas Teknik Universitas Trisakti , 1985-2003
- Pembantu Rektor III Universitas Trisakti, 1989
Riwayat kepanduan :
- Pandu perintis di Pandu Rakyat tasikmalaya, 1946
- Pandu pawang di Purwakarta, 1950
- Pandu penuntun di Jakarta
- Andalan Nasional Pengurus Himpunan Pandu dan Pramuka Werda, 1998
Penghargaan :
- Wibawa Seroja Nusantara
- Bintang Jasa Pratama Karya Satya XXX

Sederhana dan mengabdi tanpa pamrih. Sifat-sifat itu tergambar jelas dalam diri Idik Sulaeman Nataatmadja. Sifat seperti itu sungguh sulit dicari pada sosok pemimpin masa kini.

OLEH NINA SUSILO

Kendati sudah berusia 78 tahun, Idik yang aktif dalam gerakan kepanduan dan merancang kurikulum latihan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada awal kemerdekaan RI, tetap dipanggil "Kak Idik". Semangatnya terasa. Jabat tangannya hangat dan bertenaga, pancaran matanya lembut meski Kak Idik tak leluasa berbicara setelah terserang stroke pada 2006 dan akhir tahun lalu didera kanker usus.
Tak banyak orang yang paham siapa sebenarnya Idik Sulaeman. Namun, namanya tertera sebagai penulis puluhan buku tentang gerakan Pramuka, seperti Menempuh Kecakapan Siaga Mula, Penolong Pembina Siaga, Gagasan Latihan untuk Penegak, Perkemahan Regu dan Pasukan, Nayati Siaga Putri, Upacara dalam Kesiagaan, Metode Kesiagaan, dan Kursus Kader Pemimpin Regu.
Ilustrasi sosok anggota yang menghiasi sampul depan buku-bukunya juga digambarkanya sendiri. Idik memang gemar menggambar dan seorang sarjana Seni Rupa dan Desain dari Institut Teknologi Bandung. Atribut pramuka siaga, penggalang, dan penegak pun Idik yang merancangnya.
Karya Idik yang juga digunakan jutaan anak Indonesia adalah badge pada seragam sekolah, baik taman kanak-kanak, sekolah dasar, maupun sekolah menengah pertama serta badge OSIS untuk siswa sekolah menengah atas.
Pada badge TK, misalnya, tampak dua siswa putra dan putri menjunjung Sang Merah Putih sebagai harapan generasi muda, simbol penanaman cinta Tanah Air sejak dini. Sementara bunga yang belum mekar berdaun lima menunjukkan siswa muda usia harapan bangsa yang perlu diisi jiwa Pancasila untuk kelak dihayati dan diamalkan.
Sekitar tahun 1980, Idik merancang badge itu atas permintaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef. Saat itu Idik menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan Ditjen Pembinaan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Idik pula yang menciptakan lambang dan atribut yang dikenakan Paskibraka, mulai dari lambang korps, lambang anggota, tanda pengukuhan, seperti lencana MerahPutih Garuda, hingga kendit kecakapan. Untuk semua rancangan itu, tak sepeser pun Idik mengantongi bayaran.
Ketika ditanya apakah menyesal karena tak pernah mendapat honor atas karyanya yang digunakan banyak warga Indonesia, Idik tegas menjawab, "Tidak". Ia menganggap hal itu sebagai pengabdian.

Sukarela

Kesukarelaan dan pengabdian tanpa pamrih merasuk kuat dalam nadi Idik. Ini pula, menurut dia, yang membedakan gerakan kepanduan dengan gerkan pramuka.
Dahulu, seseorang masuk gerakan kepanduan karena sukarela. Namun, setelah menjadi gerakan pramuka, siswa diwajibkan mengikuti kegiatan ini di sekolah. Bahkan, belakangan ini ada daerah yang mengharuskan sekolah mengadakan ekstrakurikuler pramuka. Akhirnya keterpaksaan muncul dan gerakan pramuka tidak bisa berkembang.
Semestinya, menurut Idik, seorang pandu memiliki semangat persatuan, kemandirian, kesederhanaan, pengabdian, kesukarelaan, dan kecintaan kepada tanah air. Ini membentuk watak seseorang menjadi baik.
Karena itu, ketika Idik bersama Husein Mutahar (kala itu Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) membidani Paskibraka, konsepnya adalah pembekalan generasi muda untuk menjadi pemimpin masa depan. Ibaratnya, seorang anggota Paskibraka harus seperti pisau bermata dua yang tajam di kedua sisinya dan runcing. Paskibraka dipersiapkan untuk tugas jagka pendek, mengibarkan bendera pusaka dalam puncak peringatan hari jadi Indonesia.
Adapun tujuan jangka panjangnya adalah membentuk karakter generasi penerus bangsa.
Kurikulum latihan Paskibraka pun tak melulu baris berbaris. Sebaliknya, penyiapan mental, ideologi, etika, dan kepemimpinan disampaikan juga dengan suasana pembinaan yang disebut Desa Bahagia.
Hubungan pembina dan calon anggota Paskibraka adalah kakak-beradik, dilandasi persaudaraan dan cinta kasih, bukan senior dan yunior.

Bersahaja

Berbincang dengan Kak Idik di rumahnya di kawasan Kemanggisan Ilir, Jakarta, hanya kesederhanaan yang melingkupi. Rumahnya berukuran sekitar 100 meter persegi, ruang tamunya diisi seperangkat kursi kayu tanpa ukiran. Lampu penerangannya pun seperlunya, tak ada lampu gantung yang terkesan mewah.
Aisah Martalogawa, istri Idik yang mendampinginya saat itu, bersama seorang alumnus Paskibraka 1978, Budiharjo Winarno, menceritakan peluang untuk mendapatkan kekayaan sesungguhnya terbuka. Ketika Idik menjabat sebagai Direktur Pembianaan Kesiswaan Ditjen Pembinaan Dasar dan Menengah, kata Aisah, banyak pengusaha yang berusaha menemuinya, Mereka berharap bisa mendapatkan hak monopoli pengadaan bahan seragam sekolah.
Idik tak pernah menemui mereka. Idik lebih menginginkan pengadaan seragam ditangani koperasi-koperasi di sekolah. Dengan demikian, sumber ekonomi bisa lebih menyebar kendati tidak dalam jumlah besar.
Karena itu, jangankan menginginkan baYaran atas rancangannya atau penghargaan, Idik menganggap semua karyanya sebagai pengabdian tanpa pamrih.
Namun, apakah layak pemerintah dan masyarakat berdiam diri dan tak menghargai karya Idik? Tak hanya itu, Idik pun bisa menjadi tempat bertanya dan belajar segala sifat baik seorang pandu indonesia sejati.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 16 AGUSTUS 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar