Selasa, 10 April 2012

Sidrotun Naim: Dari Virus Udang Menuju Harvard

SIDROTUN NAIM  
Lahir: Sukoharjo, JawaTengah, 27 Mei 1979 
Suami: Dedi Priadi (33)
Anak: Elhurr Muthahari (6)
Pendidikan:
- SD Makam Haji Sukoharjo
- SMP Negeri 9 Surakarta
- SMA Negeri 3 Surakarta 
- Jurusan Biologi, Sekolah Ilmu Teknologi dan Hayati, Institut Teknologi 
  Bandung 
- Program Master Studi Kelautan, Universitas Queensland
- Program Master Ilmu Lingkungan, Universitas Arizona

Rasa ingin tahu anak ketujuh dari 11 bersaudara ini sungguh besar. Hari-harinya semasa kecil dia habiskan dengan membaca berbagai buku yang berjejer di rak buku ayahnya. Kini, ibu satu anak ini sibuk menginvestigasi interaksi virus pada ternak udang.

OLEH MADINA NUSRAT

Sidrotun Naim pun akan melaksanakan investigasi pada udang dalam studi kedokteran di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Padahal, selazimnya studi itu dilaksanakan pada program studi biologi atau budidaya kelautan.
     "Kenapa saya malah diterima di studi kedokteran, padahal yang saya teliti hanya udang? Itu karena virus yang menginfeksi ternak udang memiliki anatomi sama dengan rotavirus yang menyebabkan 600.000 anak balita di dunia setiap tahun tewas dengan gejala diare," katanya.
     Penelitian itu dilakukan Naim atas keprihatinannya terhadap produksi udang yang terus merosot selama empat tahun terakhir di Indonesia akibat serangan virus. Padahal, Indonesia pernah menjadi produsen udang terbesar keempat di dunia. Penelitian ini terbilang jarang dilakukan karena memakan waktu lama dan perlu ketelatenan. ia memperoleh dukungan dana penelitian dari berbagai sponsor.
     Salah satunya L'Oreal-Unesco for Women in Science yang diperolehnya lewat proses seleksi ketat. Naim adalah salah satu dari 15 perempuan peneliti muda dunia yang memperoleh beasiswa 40.000 dollar AS dari internasional L'Oreal-Unesco for Women in Science, Paris, Perancis.
     Namun, junlah itu belum cukup untuk membiayai penelitiannya selama dua tahun karena syarat deposit pendidikan per tahun di Universitas Harvard sebesar 40.000 dollar AS.
     "Saya pikir Harvard hanya ingin menguji mental mahasiswa, bukan karena lembaga ini mau mencari keuntungan. Beruntung ada beasiswa dari Fullbright dan perusahaan pengeboran minyak Schlumberger," ujarnya.
     Ketertarikan Naim meneliti infeksi virus pada udang bermula tahun 2006 saat terjadi serangan infectious myonecrosis virus (IMNV) pada udang vaname (penaeus vannamei) di Indonesia. Padahal, saat itu virus tersebut baru ditemukan pada ternak udang vaname di Brasil.
     "Serangan virus IMNV itu menjadi pertanyaan saya sampai kini. Kenapa semula hanya di Brasil, kemudian muncul di Indonesia?" ujarnya.
     Dari pertanyaan itu, ia mulai mengamati interaksi virus IMNV pada udang. Dari hasil pengamatannya sementara ini, rasio serangan IMNV menyebabkan 70 persen udang mati dan 30 persen hidup. Udang yang bertahan hidup akan diamati. Di sisi lain, IMNV memiliki anatomi yang sama dengan rotavirus, penyebab kematian anak balita dengan gejala diare terus-menerus.
     Oleh karena itu, hasil investigasi ini akan berguna untuk memahami infeksi rotavirus pada anak balita. Itu pula sebabnya penelitiannya dijalani pada studi kedokteran di Harvard. Penelitian Naim akan melengkapi hasil penelitian sebelumnya tentang pengendalian penyakit white spot syindrome virus (WSSV) pada udang yang dialkukan di Universitas Arizona selama dua tahun terakhir.
     Dari hasil penelitiannya di Universitas Arizona, Naim menemukan infeksi WSSV pada udang dapat dikendalikan. Caranya, menerapkan sistem polikultur paa budidaya udang yang sudah diterapkan sebelumnya di salah satu lembaga penelitian di Jawa Timur. Ternak udang dipelihara dalam satu kolam bersama ikan nila, ditambah rumput laut untuk meningkatkan nilai ekonomi.
     "Temuan ini hasil observasi saya dibantu pembimbing saya, Profesor Kevin Fitzsimmons, ahli ikan nila di Universitas Arizona," katanya.

Ditolak menjadi dosen

     Perjalanan karier sebagai peneliti udang mulanya bukan obsesi Naim. Ia ingin menjadi dosen biologi di almamaternya ITB setelah lulus master of marine studies dari Universitas Queensland, Australia, tahun 2005. Namun, lamarannya ditolak karena saat itu posisi sebagai dosen di ITB sudah penuh. "Mau melamar menjadi dosen di Universitas Padjadjaran tak punya koneksi. saya banting setir menjadi guru SD dan SMA di Bandung," tuturnya.
     Hampir setahun profesi sbagai guru ditekuni Naim. PAda tahun berikutnya, ia diajak kawannya memberikan pendampingan kepada petambak udang korban tsunami di Aceh. Di sini Naim menemukan "jodohnya" dengan udang.
     Tahun 2007 ia bersama petambak setempat mengelola lahan tambak udang. Hasilnya lumayan dan bisa bertahan hingga tahun 2008. NAmun, tahun 2009 udang hasil budidaya mereka diserang penyakit WSSV sehingga produksinya anjlok.
     "Petani bertanya, ini harus diapakan? saya bingung jawabnya bagaimana. Kan penyakit datangnya di luar kontrol manusia," katanya.
     Seorang petambak meminta Naim mempelajari penyebab penularan penyakit pada udang. "Ibu kan pinter, tolong pelajari apa penyebab udang bisa terkena penyakit," kata Naim menirukan permintaan petambak.
     Sejumlah kolega dia hubungi untuk memperoleh rekomendasi terkait ahli yang dapat dimintai nasihat. Sampai Naim menemukan jalan melamar sebagai mahasiswa program master ilmu lingkungan di Universitas Arizona.
     "Lamaran saya sebagai mahasiswa di universitas itu langsung direspons Profesor Kevin Fitzsimmons, yang  menjadi pembimbing saya selama menempuh studi," katanya.
     Ia pergi ke Arizona bersama suami dan anaknya balita. Suaminya Dedi Priadi pun menempuh pendidikan strata II ilmu psikologi di Universitas Arizona.

Termotivasi

     Studinya di Harvard nanti dimaksudkan untuk meneliti virus, meningkatkan produksi petambak, juga untuk menghalau importir nakal yang mengimpor udang terkontaminasi virus. Hasil penelitian ini dia harapkan dapat melindungi spesies endemik biota laut di Indonesia sehingga tak mudah dibawa dan diteliti peneliti asing di luar negeri.
     "Meskipun waktu itu saya membawa udang dan virusnya dari Indonesia ke Arizona, tetap saya laporkan ke LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Ada surat kontraknya dari LIPI sehingga kalau ada peneliti di Arizona yang ingin menggunakan sampel yang saya bawa, harus izin LIPI lagi," ujarnya.
     Sebagai peneliti, penampilan Naim jauh dari wajah sosok yang serius. Dialognya segar, presentasinya komunikatif dan menghibur. Bahkan, para juri dan peserta beasiswa internasional L'Oreal-Unesco for Women in Science yang hadir di Paris, Perancis, bisa dia buat tertawa dengan candaannya.
     Semangat Naim menekuni ilmu pengetahuan berasal dari orangtua. Ayahnya, Abidullah, adalah guru agama Islam di Solo yang juga mengenyam pendidikan ekonomi di Inggris. "Selulus dari Inggris, ayah ditawari kerja di Departemen Agama. Ayah memilih mengajar," tambahnya.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 10 APRIL 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar