Rabu, 28 September 2011

Mahmur Hadi Kusyanto, Penyelamat Sawah

MAHMUR HADI KUSYANTO
Usia : 37 tahun
Pekerjaan : Kepala Desa Kedung Jaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat,2009-kini 
Istri : Dewi Nasution (34)
Anak : Reva Maharani (14)
Pendidikan : Sekolah Teknik Menengah PGRI, Karawang 
Kenekatan Mahmur Hadi Kusyanto telah menyelamatkan ribuan hektar sawah di Kecamatan Cibuaya, Karawang, Jawa Barat, dari banjir dan kekeringan. Mahmur, Kepala Desa Kedung Jaya, Cibuaya, itu tidak sekadar berwacana dalam meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi.

OLEH BM LUKITA GRAHADYARINI & HERMAS E PRABOWO
Kenekatan Mahmur berawal dari kegundahannya melihat sentra produksi padi di 11 desa di Kecamatan Cibuaya yang tidak bisa berproduksi maksimal. Setiap tahun, air di saluran pembuangan Wiratma yang melintasi areal persawahan di Desa Kedung Jaya dan Desa Sedari meluber pada musim hujan dan kering saat kemarau.
     Tak berfungsinya kanal itu dipicu sedimentasi yang parah. Sedimentasi memicu kedalaman kanal hanya 30 sentimeter (cm) dari kedalaman normal 1 meter hingga 1,5 meter.Kedangkalan kanal diperparah dengan kondisi hulu kanal yang tersumbat eceng gondok, endapan ganggang di dasar kanal, dan kebocoran pada dinding saluran.
     Mahmur lantas mencari akal untuk membiayai perbaikan kanal. Pengajuan kucuran dana kepada pemerintah kabupaten berulang kali telah dia usulkan, tetapi tak kunjung berhasil.
     Ia tak menyerah. Ide pun muncul saat ia menonton program sosialisasi pertanian di stasiun televisi milik pemerintah, April2011. Dalam program itu tertera nomor call center Kementerian Pertanian untuk layanan pengaduan masyarakat. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Mahmur mengirim pesansingkat (SMS) ke noor tersebut.
     "Saya minta tolong dengan kendala saluran mampet di Desa Kedung Jaya, Kecamatan Cibuaya, pada musim hujan dan kemarau," ujarnya.

Tidak berharap

     Mahmur tak berharap banyak dengan SMS itu. namun, kenekatannya menuai hasil. Dua hari kemudian SMS-nya dibalas staf Menteri Pertanian. Tak lama berselang, pejabat Kementerian Pertanian datang meninjau kondisi kanal.
     Berdasarkan estimasi Bina Marga, pengerukan sedimentasi kanal itu membutuhkan biaya Rp 900 juta. Namun, berdasarkan rencana anggaran pembangunan, estimasinya Rp 650,03 juta. Itu setelah dilakukan pemangkasan rencana anggaran yang dianggap masih bisa dihemat.
     Mengandalkan dana swadaya petani semata jelas berat. Beruntung, setelah meninjau lokasi, Kementerian Pertanian sanggup memberikan dukungan dana berbentuk bantuan sosial sebesar Rp 449,4 juta untuk perbaikan kanal hingga tuntas.
     Dengan dana terbatas itu, Mahmur memutar strategi, di antaranya melobi pemilik alat berat untuk meringankan biaya pengerukan. Disepakatilah kontrak pengerukan sedimentasi 35.000 meter kubik (m3) dengan biaya Rp 17.000 per m3.
     Dari target pengerukan sedimentasi sebanyak 35.000 m3, setelah dikerjakan didapati volume pengerukan 100.000 m3 dengan biaya sama. Upaya itu menapat dukungan warga Desa Kedung Jaya yang secara sukarela ikut menyumbang dana Rp 30 juta.
     Dalam waktu dua bulan, perbaikan kanal bisa dilaksanakan sepanjang 6,5 kilometer (km), melintasi dua desa, yakni Desa Kedung Jaya dan Desa Sedari. Kanal juga diperlebar dari 8 m menjadi 12-15 m.
     Kegigihan Mahmur mendorong partisipasi warga lebh besar. dengan dukungan dana petambak, perbaikan saluran lain untuk memperbanyak cadangan air ditambah sepanjang 3 km, yang mengambil air dari kanal, serta pembuatan embung oenyimpan air dengan sudetan sepanjang 1 km.  
     Kanal itu kini tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh kedua desa yang dilintasi. Seluas 3.500 hektar (ha) sawah di 11 desa terbebas dari musibah banjir saat musim hujan serta mengairi 1.000 ha sawah sewaktu musim kemarau. sedikitnya 4.000 keluarga petani terbantu untuk berproduksi optimal.
     Kanal itu sekaligus memberikan manfaat pengairan dan pembuangan bagi kolam-kolam bandeng dan tambak udang di wilayah tersebut. Kiprah Mahmur yang tak kenal lelah memelopori normalisasi kanal (saluran pembuangan Wiratma) melahirkan julukan baru baginya, sebagai Lurah "Nackhoe".
     Meski pembenahan kanal membuahkan hasil, upaya itu bukannya tanpa hambatan. Mahmur sempat diganjal sejumlah tudingan miring yang dilakukan media massa lokal dan ancaman lembaga swadaya masyarakat yang meminta bagian dari proyek tersebut.
     Rintangan juga menghadangnya sewaktu memperluas saluran pembuangan pada kawasan milik Kementerian Kehutanan. ia mendapat ancaman hingga alat-alat berat sempat dilarang beroperasi. Padahal, pelebaran saluran pembuangan yang bermuara ke laut itu diperlukan untuk memperlancar pembuangan air ke laut.
     "Saya enggak mau merengek kayak anak kecil. Penyelesaian dengan kehutanan seharusnya urusan pejabat di atas," ujarnya.

Tak kebagian bengkok

     Menjadi kepala desa semula bukan cita-cita Mahmur. Sebelum menjadi kepala desa, tamatan sekolah teknik menengah jurusan teknik otomotif itu sempat bekerja menjadi karyawan swasta di pabrik ban di Cikarang.
     Sebagai kepala desa, ia dipilih warga secara langsung. Namun, hak yang diterima Mahmur sebagai kepala desa tak selalu mulus. hak sebagai kepala desa untuk mengelola sawah (bengkok) pupus. Sebab, bengkok yang menjadi haknya dijual oleh kepala desa sebelumnya.
     Berbagai kendala itu tak menyurutkan langkah Mahmur untuk membangun desanya yang potensial sebagai sentra produksi beras dengan 95 persen penduduk bekerja sebagai petani. Latar belakang dari keluarga petani pun mendorong tekadnya untuk mengembangkan wilayah pertanian itu.
     "Di sini masih banyak lahan potensial. Kalau saluran irigasi diperbaiki, optimalisasi lahan masih bisa dilakukan tanpa perlu mencetak sawah baru di luar Jawa," ujarnya.
     Salah satu angan Mahmur yang belum terwujud adalah membenahi penyumbatan saluran pembuangan di beberapa muara. Dengan perbaikan hingga muara, ekonomi desa bisa terdorong.
saluran di muara dapat juga dimanfaatkan oleh para nelayan untuk mendaratkan ikan dan melakukan transaksi jual-beli dengan masyarakat lokal.
     Angan-angan pembenahan infrastruktur pertanian secara menyeluruh itu pernah dia sampaikan kepada anggota DPRD Karawang dalam suatu pertemuan.
     Menurut Mahmur, daripada pembenahan kanal dan saluran irigasi dilakukan sewaktu kondisi sudah parah, lebih baik pemerintah daerah menganggarkan pembelian alat berat (backhoe) senilai Rp 1,5 miliar untuk pemeliharaan rutin jaringan irigasi bagi tiga kecamatan. Dana pemerintah akan menjadi lebih efisien.
     "(DPRD) jangan hanya bisa anggarkan baju dan makanan, tetapi anggarkan juga alat-alat rehabilitasi jaringan irigasi di sini," katanya memberi saran.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 28 SEPTEMBER 2011

1 komentar:

  1. luar biasa Pak Mahmur, saya jadi terinspirasi oleh Pak MAhmur untuk melakukan hal yg berguna untuk masyarakat

    BalasHapus