Minggu, 11 September 2011

Sarno dan Pohon Durian Bhineka Bawor

BIODATA

Nama : Sarno Ahmad Darsono
Lahir : 8 Juni 1965
Pendidikan : Strata 1 Bahasa dan Sastra IKIP PGRI Semarang
Istri : Nirah (42)
Anak :
- Kendali Eka Fitria (19)
- Panser Dwi Puspita (16)
- Radar Tri Sagita (6,5)

Instingnya terhadap durian begitu kuat. Cukup melihat bijinya, ia tahu jenis durian itu. Pengalamannya semasa kecil menemani sang ayah mencari durian hingga ke pelosok desa membuat Sarno Ahmad Darsono terobsesi pada durian. Ia lalu "menciptakan" pohon durian bhineka bawor, hasil okulasi 20 jenis durian varietas lokal dan luar. "Begitu banyak jenis durian di negeri ini, kenapa kita kalah dari Thaiand?" pikirnya.
Oleh MADINA NUSRAT

Permenungan itu menantang Sarno, petani durian dari Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten banyumas, Jawa Tengah, untuk mendapatkan kelebihan dan peningkatan produktivitas durian.
tahun 1996 ia berkeyakinan, pohon durian yang sebelumnya baru berbuah setelah berusia delapan tahun dapat dipersingkat menjadi empat tahun dengan okulasi.
Tetapi, ketika itu dia juga tak pernah berhenti berpikir, apakah okulasi adalah cara yang paling tepat? Sementara itu, ingatannya selalu kembali pada masa kecil, saat ia berjalan dari kebun satu ke kebun yang lain untuk mendapatkan buah durian berkualitas baik.
Pada usia tujuh tahun, Sarno sudah mampu membedakan durian berdasarkan jenisnya. Dengan memegang dan menimbangnya, ia tahu durian yang ada di tangannya telah matang atau belum, berkulit tebal atau tipis.
Ketajaman penciuman ikut membantu dia memilah durian yang puket (manis, berlemak, dan beralkohol) atau bukan. Dalam ingatan, dia menyimpan koleksi durian apa saja yang berkualitas baik. Sebut misalnya durian petruk, sunan, dan kuningmas. Kepekaannya itu telah membantu sang ayah mengumpulkan durian, dan menjualnya di pasar-pasar di Banyumas.
Namun, Sarno pun menyadari bahwa kepekaannya pada durian itu tak bisa menjawab pertanyaan yang selalu muncul di kepalanya, mengapa kita kalah dari Thailand? Ia lantas berusaha mendapatkan jawabnya, antara lain lewat buku-buku pertanian.
"Setelah memperoleh bahan informasi yang cukup, saya yakin okulasi bisa meningkatkan produktivitas durian," ucapnya.
Meskipun demikian, ia tak melakukan okulasi hanya pada dua pohon durian yang berbeda jenis. Pada percobaan pertama, Sarno langsung mencoba mengokulasi pohon durian montong oranye dengan 20 jenis durian lokal, seperti sunan, petruk, otong, cinimang, kereng, kuningmas, oneng, bluwuk, dan kumbakarna.
Dalam percobaannya itu, ia membagi pohon primer, sekunder, dan tersier. Pohon durian montong oranye dijadikan pohon primer. Tubuh pohon itu dilukai pada beberapa bagian untuk menempelkan 10 tunas pohon durian lokal  berkualitas baik, seperti petruk, kuningmas, dan kumbakarna, yang menjadi pohon sekunder.
Setelah berselang tiga-empat bulan, okulasi pohon primer dengan sekunder mulai melekat. Sarno lalu mencoba membuat okulasi lagi pada pohon-pohon sekunder, dengan melukai pohon-pohon itu untuk menempelkan pohon durian lokal berkualitas sedang sebagai pohon tersier.
banyaknya pohon durian yang digunakan untuk okulasi membuat pohon primernya tumbuh menyerupai pohon bakau yang akarnya mencuat dari tanah.
Menurut Sarno, tingkatan pada okulasi itu berguna untuk menjamin ketersediaan makanan yang lebih banyak untuk pohon primer. Adapun fungsi pohon sekunder adalah memengaruhi kualitas buah yang dihasilkan pohon primer.
Empat tahun kemudian atau tepatnya akhir tahun 2000, pohon hasil percobaannya sudah menghasilkan 30-40 buah durian montong oranye yang berbeda dari aslinya. Kulitnya tiis, daging lebih tebal, warna daging buah lebih merah seperti durian kuningmas, rasa lebih puket, dan beralkohol seperti durian petruk. Ukurannya sebesar durian kumbakarna dengan berat bisa lebih dari 10 kilogram.

Menjaga erosi tanah

Batang-batang okulasi yang ditempelkan pada pohon primer kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SD Negeri Manggungan 1 ini, juga berfungsi untuk menjaga erosi tanah. Oleh karena itu, lebih dari lima tahun ini dia juga giat mengimbau para petani durian di sekitar Kemranjen, yang umumnya bermukim di kawasan perbukitan, untuk menanam pohon durian "ciptaannya".
Kini, setip bulan Sarno tinggal menunggu pembeli dari Banyumas maupun Jakarta untuk mengambil durian dari pohon hasil "ciptaannya". Harga perkilogram sekitar Rp 17.000, sedangkan bobot per buah 6-12 kilogram.
"Beberapa hari lalu saya menjual durian montong oranye seharga Rp 200.000 karena bobotnya sampai 12 kiligram," ucapnya.
Tak hanya itu, setiap bulan Sarno juga memperoleh pesanan untuk memasok bibit okulasi bhineka bawor-nya ke Jawa Timur, Sumatera, dan Sulawesi.
Untuk satu kali pengiriman bisa sampai 200 bibit. Bibit pohon durian itu dijualnya seharga Rp 75.000-Rp 150.000 per pohon, tergantung julah tunas pohon durian yang digunakan untuk okulasi.
Tentang nama bhineka bawor untuk durian "ciptaannya", kata Sarno, "bhineka" diambil dari semboyan negeri ini, Bhineka Tungal Ika, yang bermakna keragaman budaya sseperti keragaman jenis durian lokal di Indonesia. "Bawor"diambilnya dari salah satu tokoh wayang yang menjadi simbol Kabupaten Banyumas, dengan ciri khas cablaka atau berbicara apa adanya.
Dengan semangat keragaman itu pula, pengurus Paguyuban Petani Durian Unggul Kemranjen ini menamakan duriannya Sarakapita yang merupakan akronim nama dirinya, sang istri, dan nama ketiga putrinya.
"Buah durian ini juga menjadi simbol kebersamaan keluarga kami," ucapnya.

Kelas transisi

Namun, masih ada masalah yang mengganjal dalam pikiran Sarno, yakni bagaimana mengupayakan pohon durian bisa berbuah di luar musim. Seeprti sekarang, petani durian di Kemranjen tak bisa memperoleh panen maksimal karena banyak buah yang rontok pada usia dini akibat curah hujan yang cukup tinggi.
"Untuk tahun depan, saya sedang mempersiapkan formulasi pupuk dan waktu yang tepat untuk memupuk pohon durian agar bisa berbuah sebelum bulan Nopember," ucapnya berharap.
Kompleksitas pemikiran Sarno tak hanya tercermin pada durian, tetapi juga pilihan lapangan tugasnya sebagai guru. Baginya, tak ada tantangan untuk mengajar siswa kelas tiga sampai lima karena siswa relatif sudah dalam kondisi stabil.
Kelas-kelas transisi bagi siswa merupakan pilihan dia, yakni kelas enam serta kelas satu dan kelas dua. Kelas enam, misalnya, menurut Sarno, merupakan lapangan tugas yang "tiada akhir" lelahnya bagi guru sebab harus mempersiapkan para siswa sampai matang agar bisa lulus SD. Oleh karena itulah, sejak diangkat sebagai guru tahun 1988 hingga 2004, ia menjadi guru kelas enam.
Baru empat tahun belakangan ini dia pindah menjadi guru kelas satu dan dua. Kedua kelas ini, menurut Sarno, juga memiliki tantangan yang tak kecil karena siswa umumnya mengalami peralihan dari dunia bermain ke dunia belajar.
"Pada garis-garis berisiko inilah saya menemukan kenikmatan berkarya," kata Sarno.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 19 NOVEMBER 2008

3 komentar:

  1. berikut no hp/telepon pak sarno
    Sarno Ahmad Darsono
    Tlp : 0815674044 atau 081328933448 atau 085747047530 (anak p sarno)
    PIN BB: 25D0F729
    Email : sarnoahmaddarsono@yahoo.co.id
    Facebook : sarnoahmaddarsono
    Sarno Junior (Anak Pak Sarno)
    Alamat : Desa Alasmalang RT 05 RW 07, Kec Kemranjen,
    Kab Banyumas, Jawa Tengah

    BalasHapus
  2. Untuk informasi lengkap tentang penyediaan bibit dan buah bhineka bawor yang terjamin keasliannya dari pak sarno ahmad darsono, silahkan kunjungi blog : sarnoahmaddarsono.blogspot.com

    BalasHapus
  3. Mohon maaf Moderator, ralat untuk no HP Pak Sarno Ahmad Darsono, nomor diatas kurang angka 9. Seharusnya tertulis 08156974044. Dengan demikian kami sudah koreksi untuk kemudahan pembaca. Alamat blogspot nya : http://sarnoahmaddarsono.blogspot.com/

    BalasHapus