Minggu, 11 Maret 2012

Herlin Susilowati: Merengkuh Dunia dari Kursi Roda

HERLIN SUSILOWATI
Lahir: Madiun, Jawa Timur, 11 September 1979
Suami: Didit Juniawan (29)
Pendidikan:
- SDN Klegen 5 Kota Madiun
- SMPN 3 Kota Madiun
- SMAN 5 Kota Madiun

Tumpukan kertas bekas, cat air, dan kuas berserakan di meja di teras sebuah rumah di Gang Jati Subur, Jalan Imam Bonjol, Kota Madiun, Jawa Timur. Menempel  di samping meja seorang perempuan berkursi roda dengan posisi tangan sibuk menatah kulit sapi. Dialah Herlin Susilowati, perajin wayang kulit mini yang karyanya melanglang buana antara lain ke Amerika Serikat dan Perancis. 

OLEH RUNIK SRI ASTUTI

Sebagai perajin, Herli bangga karyanya diterima masyarakat. Apalagi kerajinan yang ditekuninya tergolong tak populer. Bahkan seni kerajinan ini cenderung ditinggalkan perajin karena dinilai kurang prospektif sebagai mesin uang.
     Kelesuan pasar wayang kulit itu melecut semangat Herlin melakukan inovasi produk agar pasar yang sebelumnya terbatas pada dalang dan pencinta seni wayang kulit bisa meluas. "Alhamdulillah, permintaan di sanggar kami terus mengalir. Semoga ini pertanda baik. Masih banyak orang tertarik dengan seni wayang kulit," katanya.
     Setiap hari Herlin menghasilkan 5-10 wayang kulit mini. Beragam tokoh cerita pewayangan dia ciptakan. Sebut beberapa yang populer, seperti Rama, Shinta, Arjuna, Srikandi, serta tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
     Dikatakan mini karena panjang wayang kulit karya Herlin seukuran kartu nama atau sekitar 10 sentimeter hingga setinggi penggaris mika (sekitar 30 sentimeter). Ukuran ini berbeda dengan wayang kulit biasa yang pajangnya hampir setengah badan orang dewasa. Setidaknya ada dua bentuk wayang yang ia tawarkan sebagai gantungan kunci dan wayang garanan.
     Wayang garanan berpenyangga kayu. Fungsi kayu untuk menancapkan di batang pisang agar mudah dimainkan sang dalang. Kayu juga digunakan untuk menggerakkan wayang sehingga pementasan menjadi atraktif karena tokoh yang diperankan seakan hidup.
     Herlin juga membuat wayang kertas, berbahan baku kertas bekas, karton, dan  kardus. Untuk endapatkan bahan bakunya, dia memanfaatkan limbah perajin wayang kulit dan kertas dari tukang loak.
     Dari kertas bekas yang dia beli Rp 3.000 per kilogram, ia menghasilkan 10 wayang kertas seharga Rp 100.000. Rata-rata wayang kertas karyanya dijual Rp 10.000 per tokoh dengan ukuran setinggi penggaris mika. Bisa dibayangkan nilai tambah yang diberikan Herlin pada kertas bekas tersebut.
     Namun, harga itu tak berlaku untuk wayang kulit mini karena bahan yang dipakai kulit asli sapi atau kambing. Harga wayang kulit mini kayanya Rp 30.000-Rp 100.000 perwayang tergantung dari besar kecilnya. Wayang yang berbentuk gantungan kunci harganya Rp 3.000-Rp 5.000 per wayang.
     Harga wayang buatan Herlin relatif tak mahal. Nominal itu bisa dikatakan tak sebanding dengan nilai kreativitas dan kerja kerasnya.
"Ini karena tujuan saya tak semata-mata uang, tetapi bagaimana melestarikan wayang di tengah arus modernisasi agar generasi muda khususnya tak asing dengan budayanya sendiri," kata Herlin yang belajar membuat kerajinan secara otodidak.

Menjual aksesori

     Meski harus bergerak dari kursi roda, ia tak rendah diri. Sikap itu tercermin dari kegigihan menapaki kehidupan dengan keterbatasannya. Putri pasangan Sujito (67) dan Suwarsini (50) ini mengalami kelumpuhan saat berusia 16 bulan karena serangan polio.
     Dia lumpuh pada kedua kakinya. Ini membuat Herlin tak bisa berjalan tanpa kursi roda. Untuk berpindah tempat, ia digendong ayahnya. Pun ketika Herlin bersekolah, mulai SD hingga SMA, Sujitolah yang menggendongnya setiap pergi dan pulang sekolah.
     Selama 12 tahun itu pula Herlin dengan sabar menghadapi cibiran sebagian temannya. Baginya, pandangan negatif yang didasarkan pada kekurangan fisik  menjadi cambuk untuk giat berusaha. Ketika masih pelajar SMA, bukannya rendah diri, Herlin malah berjualan aksesori di sela-sela waktu belajar.
     Semangat pantang menyerah juga ia perlihatkan saat lulus SMA tahun 2000. Dengan tegas ia menolak meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Alasannya, sang ayah sudah berusia lanjut. Ia tak tega membuat ayahnya harus menggendong dan mengantarkannya ke kampus. Penyuka seni lukis ini memilih berwirausaha untuk membangun masa depannya.
     Ide membuat wayang kulit mini muncul saat ia melihat potongan kulit sapi dan kambing terbuang setiap hari. Kulit hewan itu adalah isa  industri kerajinan wayang kulit yang ditekuni ayahnya. Sejak pensiun dari Dinas Pengairan Kabupaten Madiun, Sujito "banting setir" sebagai perajin wayang kulit untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
     Limbah kulit hewan itu dirangkai Herlin menjadi wayang kulit mini. Untuk mencuri perhatian pembeli, ia membubuhkan cat minyak dan cat air sebagai hiasan pada tokoh wayangnya. Dengan beragam hiasan itu, karakter tokoh yang ditampilkan semakin kuat.
     "Kesulitan saya biasanya sewaktu membuat detail seperti mata, hidung, mulut, dan gelungan rambut wayang. Karena media pahat dan media lukisnya kecil, tingkat kesulitan untuk menonjolkan detail juga tinggi.  Saya suka dikritik orang karena alis wayangnya kurang pas," ceritanya.
     Sampai kini, Herlin sering mendapat pesanan membuat wayang kulit mini untuk suvenir siswa berprestasi yang mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri. Di samping itu, sejumlah pengusaha juga memesan karyanya dan digunakan sebagai cendera mata. Jadilah wayang kulit mini karya Herlin sampai keluar Madiun, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, bahkan Singapura, Malaysia, dan Amerika Serikat.
     Belakangan ini banyak wisatawan asing yang berkunjung ke rumahnya, melihat langsung proses pembuatan wayang kulit mini, lalu membeli sejumlah karya Herlin. Untuk memperluas pemasaran, Didit Juniawan, suami yang menikahinya pada 24 November 2010, turut berpromosi lewat jejaring sosial bekerja sama dengan biro perjalanan wisata.
     "Saya ingin membesarkan usaha ini. Bukan hanya karena bisa mengubah limbah menjadi rupiah dan setidaknya ikut melestarikan budaya bangsa Indonesia, tetapi usaha ini juga bisa membuka lapangan kerja," tambah Herlin.
     Dia berharap, lewat wayang kulit mini, terutama rekan-rekannya sesama penyandang cacat fisik punya kesempatan bekerja dan mandiri. "Penyandang cacat di negeri ini masih sulit mendapatkan pekerjaan. Kami tak diterima di sektor formal. Padahal, kami punya kemampuan yang hampir setara dengan orang biasa."
     "Saya ingin memperluas pemasaran dan memperkuat modal usaha biar bisa membuka lapangan kerja. Sampai sekarang saya masih berinovasi, berusaha memperbanyak varian produk, seperti wayang lukis kaca, wayang melamin, dan boneka dari kain perca," kata Herlin menegaskan tekadnya.

Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 12 MARET 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar