Selasa, 26 April 2011

Asep Sukarsa : Fondasi Perikanan Kabupaten Bandung


ASEP SUKARSA

Pendidikan Terakhir : SMA Karya Pembangunan
Istri : Lilis Sumartini
Anak :
- Deli Agustiana
- Sonny M Ramdani
-Yuni Purnamawati
- Firman Purnama
- Astri Andrian
- Taufik Muhammad Fauzi

Tangan Asep Sukarsa (42) menunjuk ke gemericik air di tengah kolam miliknya di Ciparay, Kabupaten Bandung. Di sana terdapat jutaan benih ikan mas yang siap dibesarkan di berbagai daerah. Dia berperan sebagai pembenih, sebuah fondasi dari rantai panjang produksi perikanan darat.

OLEH DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

"Benih yang baik tentunya menghasilkan ikan yang memiliki daging yang banyak. Pembenih sebetulnya bisa meraih untung dengan benih tidak berkualitas karena pengaruhnya baru terlihat pada proses pembesaran," ujar asep, di kediamannya awal April lalu.
Pembenihan ikan dimulai dari proses pemijahan, yakni mengawinkan induk betina dengan induk jantan. Setelah kawin, induk betina secara naluriah akan mencari ijuk untuk meletakkan telurnya. Telur itu ditetaskan untuk mendapatkan benih ikan. Induk seberat 3,5 kilogram bisa menghasilkan 100.000 lebih telur meski tidak semuanya menetas.
Kualitas benih bukanlah satu-satunya yang menghantui perikanan darat. Mulai dari pencemaran air di tempat pendederan maupun pembesaran hingga rasio pakan dengan daging yang kian jauh dari angka ideal. Para peternak ikan yang ada di Waduk Cirata maupun Waduk Saguling bergantung pada kuantitas daging yang dihasilkan ikan sehingga berimbas pada keuntungan penjualan.
Memimpin kelompok pembenih "Mina Perkasa", Asep menawarkan teknik pembenihan yang menelurkan hasil yang berkualitas dan memberikan keuntungan. Mulai dari teknik pemijahan menggunakan ijuk, penetasan, hingga pemeliharaan kolam. Dia beberapa kali mengungkapkan bahwa persiapan kolam adalah segalanya. Upaya setengah hati juga memberikan hasil yang setengah-setengah.
Berbekal pendidikan sekolah menengah tingkat atas, Asep memahami konsep pengelolaan tanah yang harus mendapat prioritas pertama. Untuk itu, dia sangat menegaskan pentingnya membolak-balik tanah agar bakteri yang ada di tanah bisa mati. Bila tidak diantisipasi, bakteri bisa mengakibatkan benih mati dan berujung pada hasil yang tidak optimal sewaktu dipanen.
Ada sepuluh pembenih yang resmi tergabung dalam kelompok Mina Perkasa meski yang tidak resmi lebih dari itu. Produksinya selama setahun bisa mencapai 10.000 gelas. Satu gelas bisa berisi 1.000-1.500 ekor. "Kami punya pekerjaan yang lebih penting daripada menghitung jumlah benih yang dijual," ujarnya diringi tawa.

Dikejar uang

Kiprah Asep di pembenihan ikan dimulai tahun 1991. Menikahi Lilis Sumartini, Asep diberi lahan sawah oleh mertuanya seluas 150 tumbak atau sekitar 2.100 meter persegi dan kemudian dibagi menjadi empat petak. Namun, tidak semuanya ditanami padi oleh Asep. Dia justru menanam dua petak dengan padi dan dua petak lainnya dibuat menjadi kolam ikan.
Meski hanya lulusan SMA, Asep ternyata belajar teknik memijahkan ikan dari kakeknya. "Saya ingin menjadikan dua petak itu sebagai percontohan. Masyarakat lebih suka melihat contohnya secara langsung daripada diceramahi," ujarnya.
Terbukti memang, dua petak kolam ikan miliknya bisa menghasilkan tiga kali lipat dari dua petak sawah dalam setahun. Dengan hasil 75 gelas benih ikan tiap kolam, dia bisa menjualnya Rp 2.500 per gelas. Benih ikan juga bisa dipanen lebih cepat atau setiap 20 hari.
Dalam setahun, upayanya langsung membuahkan hasil. Petak-petak sawah yang ada di sekitar rumahnya langsung berubah menjadi kolam ikan. Asep kian agresif menekuni usaha pembenihan ikan mas miliknya. Seluruh sawah milik mertuanya seluas 3.000 tumbak atau sekitar 4 hektar dijadikan kolam ikan. Dia juga menyewa kolam di tiga kecamatan, yaitu Majalaya, Ciparay, dan Pacet.
Dia tidak segan meminjamkan kolamnya begitu saja kepada setiap petani yang masih ragu-ragu tanpa harus membayar apa pun. Begitu merasakan sendiri hasilnya, sang petani pun beralih menjadi pembenih ikan.
Meroketnya usaha pembenihan ikan juga didukung usaha pendederan ikan yang ada di wilyah Bojongsoang. Benih dari Ciparay dimasukkan ke sana untuk proses pendederan selama dua minggu dan kemudian dibesarkan di Waduk Saguling, Cirata, maupun Jatiluhur hingga menjadi ikan yang siap dikonsumsi. Dari proses itulah muncul istilah "Segi Tiga Emas Perikanan Darat".
Permintaan akan benih ikan yang tinggi membuat Asep dikejar-kejar para pemilik kolam di Bojongsoang. Telepon maupun tamu yang datang tanpa henti mencarinya bahkan sempat membuat dia harus bersembunyi. "Saat itu, bisa dikatakan saya dikejar-kejar uang," kenang Asep.

Kembali merayap

Krisis moneter yang terjadi tahun 1998 merobohkan kisah manis yang sedang dikecap Asep. Produksi ikan morat-marit dengan harga jual melorot di segala lini, baik pembenihan, pendederan, maupun pembesaran. Asep juga terpaksa menghentikan usahanya selama dua tahun sambil menunggu kondisi membaik.
"Menjual motor maupun modal kerja yang lain bukanlah cerita yang aneh," kenangnya.
Tahun 2000, Asep kembali merintis usaha pembenihan dengan kondisi yang tidak lagi ramah. Beberapa masalah harus dihadapi, seperti harga jual benih yang melorot, harga indukan yang kian melonjak, serta daya serap peternak ikan yang tidak setinggi sebelumnya.
Daerah pendederan ikan, Bojongsoang, juga kian tergerus perumahan. Begitu pula jaring apung di Waduk Saguling, melorot akibat penurunan kualitas air. Nama Ciparay sebagai penghasil benih ikan kemudian tercoreng akibat sebagian pembenih memilih jalan pintas, menjual benih berkualitas rendah.
Asep tidak menyerah. Dia konsisten bertahan di dunia pembenihan ikan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Istilah sunda adalah bakat ku butuh. "Hanya keterampilan memijahkan ikan saja yang saya kuasai. Dari sana saya bisa memiliki rumah dan menyekolahkan enam anak saya," ujarnya.
Beberapa upaya dia lakukan, seperti mengalihkan benih-benih untuk dibesarkan melalui mina padi atau ditanam di lahan persawahan. Dengan sistem bagi hasil, petani mendapatkan penghasilan tambahan, sementara pembenih mendapat untung karena benih ikan bisa terserap.
Begitu pula dengan kualitas indukan. Asep memahami indukan yang berkualitas bakal menghasilkan benih yang berkualitas pula. Dia menghindari mengawinkan induk jantan dan betina melalui inbreeding, atau perkawinan sekerabat dengan mendapatkan induk jantan dari Tasikmalaya dan induk betina dari Subang.
Saat ini harga jual benih ikan mencapai Rp 8.000 per gelas. Menurut dia, harga tersebut sudah mencapai harga yang sama-sama menguntungkan pembenih, petani mina padi, maupun peternak ikan.
Ditanya rencana masa mendatang, Asep menjawab singkat, tapi mantap, "Tetap di pembenihan ikan."

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 27 APRIL 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar