Senin, 23 Januari 2012

Aminah Nombong: Populerkan Makassar Lewat Bumbu Dapur

AMINAH NOMBONG 
Lahir: Sungguminasa, Gowa, Sulsel, 21 Februari 1961
Pendidikan: 
- SD Negeri Limbung Putri, 1973
- Sekolah Kejuruan Kepandaian Putri Makassar, 1976
- Sekolah Menengah Kepandaian KeluargaMakassar, 1979
- Akademi Ilmu Gizi YPAG Makassar, 1982
- Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti, makassar, 2006
Pekerjaan: Anggota Staf Instalasi Gizi Rumah Sakit haji Makassar, 1983-kini
Penghargaan: Peraih UKM Award dari Kementerian Perdagangan kategori produk UKM bumbu terbaik dan pelestarian nilai tradisi, Bali, 2011

Aminah Nombong tak pernah mengikuti kursus ataupun kontes memasak yang tengah marak belakangan ini. Namun, aneka bumbu hidangan khas Sulawesi Selatan racikannya yang berlabel Al-Minah telah beredar di sejumlah toko swalayan.

OLEH ASWIN RIZAL HARAHAP

Bumbu yang dikemas dengan aluminium foil seberat 200 gram itu meliputi 11 jenis makanan khas Sulawesi Selatan (Sulsel), yakni konro, coto, sup saudara, toppa lada (sejenis rendang), pallu basa, pallu kaloa, kari, opor, lombok tumis (sambal tumis), sambal goreng, dan nasi goreng.
     Dalam sebulan, industri kecil yang dirintis Aminah sejak tahun 2003 ini mampu memproduksi 2.000 bungkus bumbu racikan.Sekitar 1.500 bungkus di antaranya dijual di toko swalayan. bahkan, di Baji Pamai, toko swalayan yang cukup dikenal di Makassar, sedikitnya 500 kemasan bumbu seharga Rp 20.000 per bungkus itu laku terjual setiap bulan.
     sekitar 300 bungkus bumbu dijual di sejumlah koperasi dan 200 bungkus sudah dipesan pembeli yang menjadi pelanggan sejak Aminah pertama kali menawarkan produknya, sembilan tahun silam.
     Kala itu, anak pertama dari enam bersaudara pasangan Aleyoran Nombong dan Najarah ini sering menawarkan aneka bumbu racikannya kepada rekan-rekan kerjanya di Instalasi Gizi Rumah Sakita Haji Makassar. Bumbu yang kal itu dibungkus dengan plastik kemasan 250 gram ini dijual Rp 2.500 per buah. 
     "Waktu itu saya cuma iseng menawarkan bumbu konro, coto, dan toppa lada. Ternyata banyak teman yang suka," katanya.
     Ketertarikan mereka tak lepas dari pemanfaatan bumbu yang relatif mudah. Untuk hidangan konro, misalnya, cukup mencampur bumbu kemasan 200 gram dengan 1 kilogram daging sapi, lalu ikuti petunjuk memasak di bagian belakang bungkus. 
     "Tak perlu ditambahkan apa pun karena bumbu diracik dengan komposisi rempah yang pas," kata Aminah yang hampir 30 tahun menjadi pegawai Instalasi Gizi Rumah Sakit Haji Makassar. Pengalaman yang membantu dia meracik bumbu enak tanpa penyedap rasa yang mengandung monosodium glutamate (MSG) ataupun bahan pengawet.
      Bumbu racikan Aminah dibuat dari rempah-rempah, seperti lengkuas, kunyit, serai, lada, dan cabai, yang dicampur dengan garam dan minyak goreng. Di sini ia menekankan pentingnya komposisi rempah-rempah dalam bumbu buatannya.
     "Takaran rempah-rempah itu saya dalami selama tiga tahun berkuliah, lalu dicoba berkali-kali hingga menemukan komposisi yang pas," ungkapnya. Sentuhan resep khusus peninggalan sang bunda menyempurnakan bumbu racikannya.

Penghargaan

    Upaya Aminah menjaga kualitas rasa bumbu makanan khas Sulsel ini berujung pada penghargaan UKM  Pangan Award 2011 dari Kementerian Perdagangan, November lalu di Bali. Dia mendapat penghargaan untuk dua kategori, yani produk UKM bumbu terbaik dan pelestarian nilai tradisi.
     Ia mengenang, promosi produknya berawal dari "mulut ke mulut". Respons positif dari teman sekantor membuat Aminah menetapkan hati membangun usaha dengan modal uang tabungan Rp 5 juta untuk membeli dua kompor gas, alat penggilingan sederhana, dan lemari pembeku (freezer).
     Ia dibantu 10 ibu rumah tangga untuk mengerjakan produk bumbu racikan itu di rumahnya, Jalan Ballalompoa, Kelurahan Limbung, Gowa, 25 kilometer arah selatan Kota Makassar.
     Dlam sehari rata-rata ia menghasilkan 50 bungkus bumbu dengan dua jenis rasa. Produksi itu bisa meningkat dua kali lipat menjelang bulan puasa dan Lebaran.
     Industri rumah tangga Al-Minah pun berkembang seiring dengan meningkatnya pesanan. Harga jualnya pun perlahan-lahan meningkat hingga Rp 10.000 per bungkus. Ia sempat menjual bumbu racikannya seharga Rp 30.000 saat mengganti kemasan dengan stoples plastik seberat 400 gram pada 2010.
   Namun, penjualan itu hanya bertahan beberapa bulan. Aminah lalu beralih pada kemasan aluminium foil hingga kini. Kemasan aluminium foil membuat bumbu yang diracik tanpa bahan pengawet itu bisa tahan hingga delapan bulan jika disimpan dalam freezer.
     Aminah lalu mendaftarkan produknya ke Balai Pendidikan Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel. Balai ini turut membimbing Aminah dan pekerjanya dalam mengembangkan usaha.
     Dengan bantuan Pemerintah Kabupaten Gowa, Aminah mendapat pinjaman lunak Rp 500 juta dari Bank Negara Indonesia pada Juni 2010. Dia juga diundang mengikuti Trade Expo Indonesia 2010 dan Pameran Pangan Nusa di Jakarta.
     "Waktu itu saya diminta memasak konro, pallu basa, coto, dan sup saudara di Istana Wakil Presiden Boediono," ceritanya seraya menunjukkan fotonya bersama sang wapres.

Semakin populer

     Bumbu racikan Aminah pun kian populer. Suntikan modal dari BNI dia gunakan untuk mengembangkan usaha. Pertengahan tahun lalu Aminah mengontrak rumah di depan tempat tinggalnya seharga Rp 10 juta setahun. Ia juga membeli peralatan untuk menggiling, memasak, dan mengemas bumbu seharga Rp 200 juta, dengan kapasitas produksi 700 bungkus per hari.
     Meski hampir semua proses dikerjakan mesin dan 10 ibu, Aminah tetap meracik sendiri setiap jenis bumbu. Para ibu itu bertugas mengiris rempah-rempah dan mengoperasikan alat penggilingan hingga pengemasan. Omzetnya sekitar Rp 40 juta per bulan.
     Kini, pegawai negeri sipil golongan III D ini menanti proses pembuatan sertifikat merek dagang (MD) dari Kementerian Perdagangan sebagai syarat untuk mengekspor produk. Setidaknya, Afrika Selatan, Etiopia, dan Uni Emirat Arab siap menampung bumbu racikan aminah hingga 10.000 bungkus per bulan.
Aminah pun memesan mesin pengering karena negara-negara itu menginginkan bumbu dalam kondisi kering agar lebih awet dan aman saat dikirim.
     Upaya pengembangan usaha tersebut tak semata-mata dilakukan Aminah untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
     "Saya ingin memberikan ruang berkarya seluas-luasnya bagi para ibu rumah tangga di kampung ini," ujar  Aminah yang memberikan upah Rp 600.000-Rp 750.000 per bulan bagi ibu rumah tangga yang membantu dia memproduksi bumbu racikannya.

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 24 JANUARI 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar