Selasa, 31 Januari 2012

Noorman Widjaja: Anak Medan yang Mendunia

NOORMAN WIDJAJA 
Lahir: Medan, 17 Desember 1949
Pekerjaan: Konduktor di Opera House di Dubrovnik, Kroasia, dan Seto Philharmonic Orchestra Jepang
Istri: Anna Barbara
Anak:
- Maximilian Widjaja
- Constantine Widjaja
Pendidikan:
- SMA Setia, Medan
- Music High School Berlin, Jerman

Seorang bocah mengenakan kemeja lengan pendek dan celana panjang. Keduanya bukan setelan mewah. Dengan penampilan yang tak bisa dibilang rapi, si bocah bernama Noorman Widjaja itu tampil memimpin orkestra di hadapan Presiden RI pertama Soekarno.

OLEH FABIOLA PONTO

Sejujurnya, ia belum sekali pun menjadi konduktor, baik dalam latihan maupun acara resmi. Satu-satunya bekal hanyalah pengamatan sehari-hari terhadap sang ayah, Udin Widjaja, selain belajar piano sejak berusia 5 tahun.
     Tak mengherankan bila pada menit-menit awal ia merasa tegang. Bagaimanapun, Noorman tampil di depan orang nomor satu Republik Indonesia.
     Ternyata putra dari musisi Medan itu mampu menyelesaikan tugas tanpa cela. Berbagai komposisi dia tampilkan dengan baik, termasuk lagu nasional favorit Soekarno, "Maju Tak Gentar".
     Darah seni mengalir dalam nadi  bocah yang kini telah mendunia. Bagi Noorman Widaja, kini 62 tahun, musik adalah hidupnya. Lebih dari 30 tahun, ia menjalani hari-hari memimpin orkestra.
     "Sekarang saya aktif di Opera House di Dubrovnik dan Seto philharmonic Orchestra Jepang," katanya.
     Sejak muda, Noorman melanglang buana mendalami musik. Tahun 1969 ia memperdalam ilmu piano di sekolah musik di Berlin bersama Profesor Gerhard Puchelt. Ilmu mengomposisi lagu ia peroleh dari Profesor I Song Jun, dan memimpin orkestra dari Profesor Hans Martin Rabenstein.
     Debut Noorman sebagi konduktor berlangsung pada Opera Tutti di aula konser Philharmonic Verona, Italia, tahun 1994. Penampilannya terbilang sukses  sehingga tahun 1997 ia diundang lagi ke Italia. Sampai kini, ia kerap diundang sebagai pianis atau[un konduktor.

Pulang

     Noorman yakin hampir semua orang Indonesia menyukai musik. Bukti paling kuat, dimana-mana banyak penjual CD bajakan. Mereka bertahan karena dagangannya laris. Ia mengasumsikan kondisi itu sebagai kecintaan masyarakat terhadap musik.
     Sayang kondisi itu tak didukung kehadiran pertunjukan-pertunjukan musik yang melibatkan orkestra. Sejauh ini, pertunjukan umumnya pentas-pentas musik yang populer.
     "Makanya, saya ingin menghadirkan orkestra di Indonesia," kata konduktor yang akan menggelar Ultimate Valentine Opera pada 12 Februari 2012 di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran.
     Sejak tahun 2010 Noorman meluangkan waktu pulang ke Indonesia dan menggelar konser. Bulan Oktober 2010 ia menyajikan Harmony Night di Jakarta. Saat itu ia menggandeng Andrei Pisarev, pemenang kompetisi piano Rachmaninoff dalam Kompetisi Internasional Mozart di Salzburg, Austria.
     Setahun kemudian, ia kembali menggelar konser. Kali ini di kota kelahirannya, Medan, Sumatera Utara. Mengingat Medan belum memiliki tempat representatif untuk konser, semula Noorman berencana mencari pabrik kosong yang akan disulap menjadi ruang konser dadakan. Namun, tak mudah menemukan pabrikkosong yang memenuhi kriteria.
     Bersama beberapa rekan, ia kemudian menemukan Kuil Maha Vihara Maitreya di Jalan Cemara, Medan. "Ternyata di dalam kuil ada patung Buddha. Wah, saya tak bisa main dengan patung Buddha di hadapan saya," ujarnya.
     Tanpa disangka, kuil itu memiliki ruang pertemuan dengan kapasitas 2.000 orang. Mereka akhirnya memutuskan menggelar konser di sini. "Dua hari menjelang hari-H, tiket yang terjual sudah 1.000 lebih. Pada hari-H yang nonton 2.000 orang lebih," cerita Noorman yang saat itu melibatkan 15 pemusik dari Indonesia.

Tularkan ilmu

     Usia Noorman tak lagi muda. Ia berencana pensiun sekitar  lima tahun lagi. Baginya sudah cukup, sepanjang bermusik, ia memimpin lebih dari 400 opera dan mementaskan repertoar, antara lain di Italia, Jerman, dan Perancis.
     "Kalau memimpin orkestra tak terhitung lagi, di Kroasia saja rata-rata 24 kali per tahun, di Macedonia 12 kali per tahun, tetapi di Indonesia baru satu kali setahun he-he-he," ujarnya terkekeh.
     Ia sama sekali bukan menyepelekan Indonesia, apalagi melupakannya. Selain berencana memainkan piano dalam konser pada Februari ini, dia juga akan menggelar konser besar, November 2012, yang melibatkan pemain orkestra dan balerina dari Macedonia. "Saya berharap pemerintah mau memberi dukungan agar konser itu terselenggara," katanya.
     Memang ia menghabiskan banyak waktunya di luar Indonesia, tetapi hal itu tak menghentikan pria yang rambutnya memutih itu untuk peduli kepada negaranya. Seperti ketika gempa bumi dan tsunami melanda Aceh pada 6 Desember 2004. Ia bersama beberapa temannya membuat konser amal di Jakarta, Italia, dan Jerman. Hasil konser amal itu digunakan untuk membangun sekolah di Aceh.
     Begitu pensiun, Noorman ingin pulang ke Indonesia. bagaimanapun ia tak lupa dengan negara asalnya. Bersyukur terlahir di Indonesia, ia bertekad mencari generasi muda yang berbakat. "Orang indonesia berkarakter dan banyak yang berkesempatan. Saya ingin memberi sedikit kesempatan dengan mengajar mereka," ujarnya.

Buka diri

     Segala kesuksesan yang Noorman rengkuh itu tak jatuh dari langit. Semua memerlukan kerja keras, dan ia mengingatkan generasi muda agar selalu membuka diri. "Jangan merasa orang Indonesia, lalu tak mau tahu pada budaya lain yang dianggap ke barat-baratan," pinta Noorman yang sembilan tahun berkarya di Opera House di Nuremberg, Jerman.
     Memahami budaya lain tak berarti menghapus identitas kita sebagai orang Indonesia. Ia lalu berkisah, sebagai orang Indonesia kelahiran Medan, ia punya karakter lugas yang tak terkikis meski puluhan tahun hidup di luar negeri. Misalnya, ia tak segan menegur pemusik yang dia rasa permainannya kurang pas.
     Banyak orang di Jerman yang heran melihat Noorman sebagai orang Asia bisa menjadi pemimpin orkestra. Ia berbagi kunci sukses, yaitu tak pernah menutup diri terhadap budaya asing. "Kita harus saling memahami. Kalau ingin orang lain mengerti, kita juga harus mau mengerti orang lain," ujarnya.
     Oleh karena itu, agar maju dan berhasil, pertukaran budaya dengan negara lain mutlak diperlukan. "Harapannya, dengan mengenal budaya lain, kita lebih menghargai budaya sendiri," tutur Noorman yang menganggap keterampilan dalam musik tak cukup bila dibawakan tanpa gairah dan ekspresi.
     Indonesia bukan sekadar negara kepulauan dengan pemandangan bagus di berbagai daerah. Bukan juga hanya patut dibanggakan dari keragaman kulinernya. "Indonesia memiliki kebudayaan yang luar biasa," ujarnya.
     Dari Medan, Noorman telah mendunia dan menjadi salah satu konduktor terbaik. Terlahir di negara yang memiliki keragaman, ia bercita-cita mendedikasikan sisa hidupnya dengan membagi ilmu bagi generasi muda yang berbakat.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 1 FEBRUARI 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar