Rabu, 25 Juli 2012

Edi Diana: Hidup Baru Bersama Ayam Sentul

EDI DIANA
Lahir: Ciamis, Jawa Barat, 1 September 1968
Istri: Imas Siti (43)
Anak:
- Muhammad Lukman (15)
- Asisyah Sarah Azahra (7)
Pendidikan:
- SD gayam Ciamis, lulus 1982
- SMP 1 Ciamis, 1985
- SMA PGRI Ciamis, 1988
- Fakultas Olahraga, Universitas Pasundan, Bandung, 1993

Tahun 2004 menjadi masa suram dalam hidup Edi Diana, peternak ayam asal Kampung Karang, Desa Ciamis, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ratusan ayam arab miliknya mati akibat imbas munculnya flu burung. Bukan tertular virus avian influensa, ayam arab miliknya mati karena kekurangan makanan. 

OLEH CORNELIUS HELMY

"Adanya flu burung membuat pembeli ayam turun drastis. Akibatnya, saya tidak punya uang untuk membeli pakan. Dari 2.600 ekor ayam saya, hanya tersisa 40 ekor. Bahkan, saking kesalnya pernah saya pecahkan sekitar 650 telur ayam yang tidak laku dijual. Saya bangkrut dengan utang Rp 80 juta," kata Edi.
     Roda kehidupan Edi tidak pasti pascabangkrut. Ia mencoba berjualan rumput laut hingga panci penggorengan. Tidak ada satupun dari usaha yang digelutinya itu membuat dia berpenghasilan ideal dan mampu memberi semangat hidup.
     "Susah dan pahit kalau mengingat kehidupan waktu itu," kata Edi dengan mata berkaca-kaca. 
     Sampai dia kemudian mengenal ayam sentul sekitar tahun 2007 dari Yanto Supriyanto, rekannya yang bekerja pada Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis. Ayam sentul adalah turunan ayam hutan asal Ciamis yang telah didomestifikasi. Ciri khasnya, dominasi abu-abu dengan postur mirip ayam petarung.
     Tercatat ada lima jenis ayam sentul, yaitu sentul batu, abu, debu, emas, dan sentul geni. Seekor ayam sentul bisa mencapai bobot 9,5 kilogram dalam tiga bulan, dengan produktivitas telur 12-30 butir.
     Akan tetapi, Edi sempat ragu dan takut pengalaman buruknya saat memelihara ayam arab bakal terulang. Apalagi dia belum mengenal seluk-beluk budidaya ayam sentul.
     Tetapi, semangat yang diberikan Pak Yanto membuat saya tertantang. Saya melihat ada potensi yang belum dikembangkan dari ayam sentul," katanya.

Permintaan melonjak

     Ketika itu, untuk mendapatkan induk atau bibit ayam sentul bukan pekerjaan mudah karena jenis ayam itu belum menjadi primadona. Pada tahun 2007, selama berbulan-bulan Edi harus mendatangi berbagai pelosok Ciamis. Namun, upayanya itu hanya menghasilkan 40 ekor ayam sentul.
     Akan tetapi, pengalaman itu memberikan pelajaran baru bagi Edi. Hasil diskusi dengan beberapa pakar unggas membuat dia bisa menyimpulkan bahwa ayam sentul berada di ambang kepunahan karena minimnya perhatian semua pihak.
     Data Dinas Peternakan Jawa Barat menyebutkan, ayam sentul jumlahnya hanya 1 persen dari total ayam kampung di Ciamis yang populasinya sekitar 2,7 juta ekor.
     Namun, fakta itu justru membuat Edi semakin tertantang. Belajar dari buku dan para peternak senior, dia mengatakan pembudidayaan ayam sentul tidak berbeda dengan ayam kampung lain pada umumnya.
     Salah satu pembedanya adalah kandang ayam sentul sebaiknya dengan suhu hangat, sekitar 36 derajat celsius. Untuk mendapatkan bobot ideal dalam waktu tiga bulan, ia memberikan konsentrat dicampur dengan dedak dan jagung.
     Selain makanan pokok, "senjata rahasianya" adalah pemberian ramuan organik guna meningkatkan nafsu makan dan stamina ayam. Bahan seperti jahe, bawang putih, bawang merah, dan kunir diracik menjadi minuman bergizi. Cara itu disebut Edi sebagai pencegahan berbagai penyakit.
    "Pengelolaan kandang juga dilakukan intensif dengan fokus memperhatikan kesehatan dan kebersihan kandang. Peternak lainnya juga ikut diajak dan diperkenalkan pada budidaya ayam ini," kata Edi.
     Akan tetapi, usahanya untuk membangkitkan potensi ayam sentul ternyata tidak lepas dari nada sumbang. Beberapa peternak hingga pejabat Dinas Peternakan Ciamis meragukan usahanya. Kerugian yang dialami Edi saat mengelola ayam arab pun diungkit kembali.
     Tak putus asa, hal itu justru digunakan Edi sebagai penyemangat untuk maju. Ia bahkan menggagas pendirian Gabungan Kelompok Ternak Ayam (Gapoktan) Sentul Ciung Wanara.
     Gapoktan tersebut menjadi rumah bagi sekitar 30 peternak ayam sentul di Ciamis, baik untuk membicarakan cara budidaya maupun meningkatkan kesejahteraan petani dan budidaya berkelanjutan.
     Usahanya itu membuahkan hasil. Memasuki tahun 2009 permintaan ayam sentul melonjak drastis. Pesanan datang dari Aceh, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Kalimantan Barat, hingga Papua. Banyak pesanan terpaksa mereka tolak karena keterbatasan ayam.
     Peternak hanya mampu memenuhi permintaan sekitar 2.000 ekor per bulan, dengan harga ayam dewasa Rp 23.000-Rp 30.000 per ekor. Kondisi itu jauh dari permintaan konsumen yang mencapai sekitar 1.000 ekor per hari.
     "Mayoritas ayam sentul masuk ke restoran hingga supermarket di Jakarta dan Bandung," kata Edi.

Mengajak generasi muda

     Sukses mengembangkan ayam sentul, Edi tidak ingin berlari sendiri. Berkaca pada pengalaman pernah susah, dia berinisiatif mengajak anak muda yang duduk di bangku SMA atau sedang menganggur untuk turut memelihara ayam sentul.
     Ia melihat masih banyak anak muda Ciamis yang memilih hijrah ke Jakarta atau Bandung selepas SMA. Bekerja di pabrik atau sektor informal dengan gaji kecil di kota besar masih menjadi pilihan mereka di tengah terbatasnya kesempatan kerja di Ciamis.
     Pendampingan intensif pun dia lakukan. Selain memberikan bibit, ia juga menyediakan diri sebagai tempat bertanya seputar pemeliharaan ayam senntul. Edi mengklaim, dari 30 pemuda yang dia ajak, sekitar 50 persen kini menekuni budidaya ayam sentul.
     "Bahkan, ada anak muda yang lalu melanjutkan pendidikan ke Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran agar semakin mahir mengembangbiakkan ayam sentul," katanya.
     Beragam kalangan juga mengakui keberhasilan Edi bersama Gapoktan Ciung Wanara. Kiprahnya dijadikan bahan penelitian, skripsi, disertasi, hingga tesis mahasiswa dari dalam dan luar negeri.
     Penghargaan tingkat provinsi dan nasional pun datang silih berganti diterima Edi. Penghargaan itu antara lain sebagai Juara 1 Lomba Kelompok Agrobisnis Peternakan Jawa Barat tahun 2009, Juara 1 Lomba Kelompok  Agrobisnis Peternak Komoditas Ayam Buras Tahun 2009, dan Juara 1 Ketahanan Pangan melalui Pengembangan Agrobisnis Pangan tahun 2009.
     "Kami tidak ingin berhenti sebelum ayam sentul menjadi raja di tempat asalnya Ciamis. Penambahan populasi ayam sentul pasti akan memberikan penghasilan lebih besar bagi penduduk Ciamis," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, KAMIS, 26 JULI 2012

3 komentar:

  1. saya sangat tertarik dengan perjuangan Bpk. Edi,kegigihannya memebri inspirasi dan motivasi saya, untuk itu saya berharap dapat diskusi dengan Bpk. Edi, sekiranya ada alamat di Ciamis yang bisa sy tuju.
    terima kasih

    BalasHapus
  2. saya sangat tertarik dengan bisnis bapak,dan ingin berlangganan dengan bisnis yang bpk tekuni selama in.
    kau ad info tolong kirim pesan lewat email www satrahunowu@yahoo.co.id.

    BalasHapus
  3. Sukses untuk peternakannya pak

    BalasHapus