Senin, 31 Januari 2011

Angwar, Tempe untuk Melawan Gizi Buruk


DATA DIRI

Nama : Mukhamad Angwar
Lahir : Cirebon, 27 September 1958
Istri : Cucu Herliami (45)
Anak :
- Nurmilawati (23)
- Nurlita Fadhilah (19)
- Muhamad Nur Fauzan (6)
Pendidikan :
- SD Klangenan Cirebon, Jawa Barat
- SMP Klangenan Cirebon
- Sekolah Analis Kimia Institut TeknologiBandung
- S1 Jurusan Teknologi Pangan Universitas Pasundan, Bandung

Sepuluh tahun berlalu, tetapi maket Pusat Tempe Nasional masih menghiasi sudut ruang tamu di Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Playen, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh MAWAR KUSUMA Rencana pembangunan Pusat Tempe nasional itu memang tenggelam seiring dengan tumbangnya rezim Orde baru. Tetapi, semangat para peneliti tempe di unit pelaksana teknis tersebut masih terus menyala.
Mukhamad Angwar, koordinator tim tempe di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI justru mampu menelurkan beragam inovasi tempe untuk mendongkrak intelegensia generasi muda.
Lewat inovasi tempe, Angwar dan timnya, yang terdiri dari Dini Ariani, Yuniar Khasanah, Ratnayani, dan Primadita Hardiyani, berhasil melawan serangan gizi buruk di berbagai kota.
Angwar juga terpilih sebagai salah satu dari 100 inovator untuk idenya yang tertuang pada produk sari tempe kental manis. Produk sari tempe dalam bentuk kalengan itu telah membawa Angwar menginjak Istana Negara, Jakarta, dan menerima penghargaan dari Presiden pada Hari Teknologi Nasional pad 8 Agustus 2008.
"Saya senang bisa menjalankan tanggung jawab saya sebagai peneliti," ungkap Angwar ketika ditemui di laboratorium UPT, beberapa waktu yang lalu.

Berusaha setia

Sebagai peneliti di UPT balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia yang pertama kali menekuni tempe, dia berusaha untuk terus setia. Angwar juga menginspirasi peneliti muda lain yang menjadi rekan sekerjanya untuk menggeluti penelitian pangan berbasis tempe.
Produk pertma inovasi tempe yang dihasilkan Angwar dan timnya diberi nama Bahan Makanan Campuran Tempe atau BMC Tempe. BMC Tempe berupa tepung dengan kadar tempe 30 persen itu dikemas dalam kardus kertas yang masing-masing berisi 200 gram.
BMCTempe inilah yang kemudian disebarluaskan untuk perbaikan gizi anak-anak usia sekolah ataupun balita. Pada tahun 2003, BMC Tempe diolah menjadi beraneka kue dan diberikan sebagai makanan tambahan bagi seluruh siswa SD di DKI Jakarta.
Ketika mendapat informasi dari departemen Kesehatan bahwa BMC Tempe secara signifikan telah memperbaiki gizi siswa dan memperoleh rekomendasi, Angwar mengaku sangat bahagia. Padahal, nama Angwar sebagai koordinator tim tempe sama sekali tidak disebut dalam keberhasilan itu.
"Kebahagiaan seorang peneliti adalah ketika rekomendasinya bisa diterima oleh masyarakat. Senang sekali rasanya karena kantor LIPI di Yogyakarta bisa menghasilkan produk memperbaiki gizi di DKI Jakarta," ujar Angwar dengan senyum lebar.

Inovasi

Keberhasilan BMC Tempe di DKI Jakarta kemudian mendorong pengembangan inovasibaru. Dengan mengubah komposisi formula tepung tenpe, Angwar dan timnya mulai membuat BMC Tempe bagi anak berusia dibawah lima tahun.
tahun 2005, BMC Tempe digunakan untuk pengentasan gizi buruk bagi anak usia balita di Sumba Timur dan Nusa Tenggara Timur, serta pada 2006 digunakan di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Bekerjasama dengan pemerintah kabupaten, UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia yang kini dipimpin oleh Suharwaji Sentana ini kemudian menyebarkan BMC Tempe hingga Magelang, Solo, Pacitan, Madiun, Kediri, dan Yogyakarta. LIPI terus aktif menawarkan BMC Tempe ke setiap daerah untuk mengatasi masalah gizi buruk.
Tempe memang bergizi dan berkhasiat memelihara kesehatan, bahkan juga bisa memperlambat datangnya menopause pada perempuan, atau menurunkan kolesterol. Namun, sering kali masyarakat justru tidak mendapat manfaat dari tempe.
Kandungan gizi dari tempe hanya bisa diperoleh dengan cara pengolahan yang benar, yaitu pada suhu 50-60 derajat celsius. jadi, untuk memperoleh khasiatnya, tempe sebaiknya hanya dikukus sekadar untuk menonaktifkan raginya.
Tempe juga dikenal sebagai satu-satunya produk nabati yang mengandung vitamin B12. Biasanya, vitamin itu banyak ditemukan pada produk ikan. Terdorong ingin menyediakan vitamin B12 dengan cara praktis bagi para vegetarian. Angwar lalu memproduksi sari tempe kental manis.
Proses penelitian itu, sejak ide ditemukan sampai bisa dinikmati masyarakat membutuhkan waktu panjang hingga lebih dari tiga tahun.

Makanan lewat pipa

Dalam satu tahun terakhir, Angwar dan tim tempe LIPI sedang mencoba membuat makanan lewat pipa atau MLP berbasis tempe. MLP diperuntukkan bagi pasien yang memiliki dayacerna sempurna, tetapi tidak bisa mengunyah makanan karena kecelakaan atau penyakit. Inovasi tempe yang disiapkan adalah berupa campuran tepung tempe dan air. Riset makanan lewat pipa ini bekerja sama dengan Akademi Gizi Kediri, yang sebelumnya pernah menguji coba pemanfaat tepung tempe dari LIPI untuk makanan lewat pipa di sebuah rumah sakit di Kediri.
"Selama ini MLP selalu diimpor dan relatif mahal harganya. MLP Tempe bisa lebih murah smpai 40 persen sehingga terjangkau pasien menengah ke bawah," kata Angwar.
Harga seluruh produk inovasi dari tempe LIPI ini memang diusahakan selalu terjangkau masyarakat. Satu bungkus BMC Tempe, misalnya, dijual seharga Rp.2.000. Padahal, selain mengandung tempe, tepung tempe ini juga kaya gizi dari sumber lain, seperti susu, telur, dan makanan lokal seperti umbi ganyong.

Mudah dicerna

Tempe menarik perhatian Angwar karena bahan pangan ini merupakan hasil temuandan makanan yamg telah akrab dalam menu masakan bangsa Indonesia.
Tempe termasuk zat yang mudah dicerna karena telah terfermentasi dan mengandung senyawa antioksidan berupa iso flavon. Inovasi tempe juga didorong oleh daya tahan tempe yang paling lama hanya tiga hari. Pengawetan aneka produk inovasi tempe itu dilakukan, antara lain, dengan proses pengalengan.
Hasil royalti produk inovasi tempe yang diperoleh dalam bentuk tunjangan fungsional tetap tidak bisa membuat Angwar menjadi kaya. Namun, itu tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap setia meneliti tempe.
Pria asal Cirebon, Jawa Barat, yang ditempatkan di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak 2001 ini menyatakan akan terus melakukan riset tentang tempe. Supaya tidk merasa sakit hati akibat pencurian hasil inovasi, Angwar pun telah memproses pematenan semua produk inovasi teMpe yang dilakukan oleh timnya.

Dikutip dari KOMPAS, RABU, 31 DESEMBER 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar