Kamis, 20 Januari 2011

Chadidjah Toana : Pelindung Anak Terlantar


SITTI CHADIDJAH TOANA

Lahir : Palu, 31 Maret 1943
Suami : HM Djafar Amin (67)
Pendidikan :
- SD Negeri Parigi
- SMP Negeri 1 Palu
- SMA Kristen di Jakarta
- SarjanaMuda Ekonomi Universitas Tadulako
Pekerjaan : Pensiunan PNS Departemen Perdagangan dan Koperasi
Organisasi :
- Badan Kerjasama Wanita Islam Sulteng
- Forum Komunikasi Umat Beragama Sulteng
- Majelis Ulama Indonesia Sulteng
- Muhammadiyah Sulteng
- Himpunan Mahasiswa Islam
- Pelajar Islam Indonesia

Di usia yang beranjak senja, perempuan ini selalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar bagi siapa pun tanpa melihat latar belakang sosial, agama, dan ekonomi. Pintu rumahnya juga terbuka lebar untuk anak-anak telantar dan yatim piatu yang membutuhkan tempat berlindung. Semuanya gratis!

OLEH RENY SRI AYU

Sitti Chadidjah Toana (67) selalu membuka lebar pintu rumahnya di Jalan Hang Tuah, Palu, Sulawesi Tengah. Dia bersedia menerima siapa saja untuk belajar berbagai keterampilan atau sekadar berdiskusi soal perempuan dan reproduksi. atau menjadi teman curhat siapa pun yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Hampir separuh usianya sudah dihabiskan dengan berkutat pada urusan anak-anak telantar, yatim piatu, dan korban KDRT. Selama 28 tahun terakhir, Chadidjah seolah menjadi ibu bagi mereka. Ini pula yang membuatnya akrab dengan panggilan "Mama", "Ibu Ijah", atau "Bibi Ijah".
Chadidjah melakukan apa yang disebutnya pengabdian kepada Sang Pencipta, kepada sesama manusia, dan "panggilan jiwa". Dia tak peduli berapa banyak waktu dan materi yang dihabiskannya.
Satu hal yang menjadi inspirasinya adalah nasihat mendiang ayahnya, Abdul Wahid Toana, yang mengutip hadist Nabi Muhammad SAW, "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain".
Saat konflik di Kabupaten Poso, Sulteng, bergejolak tahun 1999, panggilan jiwa untuk bermanfaat bagi orang lain membuat Chadidjah mendirikan Posko Peduli Korban Konflik di rumahnya. Dia membuka tangan bagi siapa pun yang membutuhkan tempat berlindung. Ia tak peduli apa latar belakang konflik di Poso, agama, sosial, ataupun ekonomi orang-orang yang mendatanginya.
Mereka yang pernah ditampung di rumahnya pasti bisa mengenang bagaimana hidup dilakoni dengan prihatin tetapi berakhir indah. Puluhan, bahkan hampir ratusan, orang ditampung di rumah Chadijah saat itu. Ibaratnya, hanya satu ruangan yang tak terisi, yaitu kamar mandi.
Saat itu dia hanya berpikir, banyak korban akibat konflik dan mereka butuh pertolongan. Kebutuhan mereka tak sekadar urusan logistik, tetapi juga pemulihan trauma. Mereka perlu berdaya untuk kembali ke kehidupan seperti biasa.
"Sungguh sedih mengenang masa-masa itu, tetapi saya bersyukur sebagian besar berhasil indah. Indah dalam arti kami di posko betul-betul membantu mereka semampu yang kami bisa dan mereka keluar dengan bekal mental, spiritual, dan keterampilan memadai," katanya berkaca-kaca.
Tidak sedikit korban konflik yang waktu itu ditampung sudah pulang ke Poso dan kembali hidup normal. Umumnya mereka membuka usaha rumahan, seperti jahit-menjahit dan membuat kue. Sebagian di antara mereka dibantu menyelesaikan pendidikan dan sudah berkiprah di berbagai bidang profesi.
Jauh sebelum konflik Poso, tepatnya pada tahun 1983, Chadidjah sudah akrab dengan urusan tampung-menampung serta membekali anak-anak telantar dan yatim piatu. Di Yayasan Sitti Chadidjah yang didirikannya, ada anak-anak yang tidk pernah atau putus sekolah dididik sebagaimana layaknya orang bersekolah. Bahkan, tidak sedikit yang disekolahkan hingga perguruan tinggi.
Tiga prinsip Yayasan Sitti Chadidjah dalam mendidik dan membina anak-anak terlantar dan korban KDRT adalah head, heart, dan hand. "Kami isi kepalanya, kami sentuh hatinya, serta kami beri pendidikan dan keterampilan. Jika salah satunya tidak lengkap, hidup ini akan timpang," katanya.

Inspirasi

Chadidjah tertarik mengurusi anak-anak dan berkeinginan mendirikan panti asuhan mulai tahun 1983. Saat Chadidjah dirawat di sebuah rumah sakit di Surabaya, dia mengetahui para perawatnya ternyata berasal dari sebuah yayasan panti asuhan.
Dia pun terinspirasi, anak-anak panti asuhan bisa mandiri jika diberi bekal memadai. Kembali ke Palu, dia yang saat itu sebagai pengurus wilayah Nasyiatul Aisyiyah Sulteng melakukan survei untuk mendirikan panti asuhan.
Keinginannya sempat ditentang pengurus lain dengan aasan tidak ada biaya. Namun, Chadidjah mantap melaksanakan niatnya dengan dukungan keluarga, kerabat, dan beberapa rekan. bantuan dari keluarga, termasuk dana pribadi, serta dari sejumlah donatur mempercepat berdirinya sebuah panti asuhan bernama Aisyiyah. Tidak ada bantuan dana dari pemerintah.
Tahun berjalan, Chadidjah sedikit demi sedikit melengkapi panti asuhan dengan sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Kemudian ditambah fasilitas lain, seperti ruang keterampilan dana pos kesehatan. Tahun 2000, dengan alasan regenerasi, dia meninggalkan panti itu untuk mendirikan Yayasan Sitti Chadidjah.
Seiring dengan dinamika sosial-ekonomi-budaya, Chadidjah melihat persoalan yang ada di masyarakat pun kian beragam. Adam masalah KDRT dengan berbagai sumber pemicunya. Ada anak yang terusir dari rumah, istri ditinggal suami, hingga ada pula yang miskin tiba-tiba karena dirundung bencana.
"Saya meilhat kebanyakan korban adalah perempuan dan anak. Itulah mengapa di yayasan yang saya dirikan lebih konsentrasi untuk urusan perempuan, anak, dan remaja terlantar," ujar anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini.
Sejak dibuka tahun 2000, korban-korban KDRT serta anak dan remaja telantar silih berganti masuk keluar. Tidak sedikit yang datang dengan tubuh memar atau luka kena pukul. Dengan keibuan, Chadidjah menerima mereka dan mengajak bicara dari hati ke hati.
Berbagai masalah dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya dengan melibatkaan keluarga para korban. Tak jarang Chadidjah meminta izin suami-suami yang istrinya merasa menjadi korban KDRT, atau orangtua yang anaknya merasa diabaikan, agar mereka bisa tinggal di rumahnya beberapa saat.
Dari mana datangnya dana yang digunakan untuk operasional yayasan yang sudah berjalan 11 tahun ini? "Sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas selalu ada jalan rezekinya. Kadang kami kekurangan, kadang cukup. Tetapi, syukurlah, sampai saat ini belum pernah kami begitu sangat kekurangan hingga, misalnya, harus tidak makan. Ada-ada saja yang datang berbagi," katanya.

Dikutip dari KOMPAS, JUMAT, 21 JANUARI 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar